Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[84] Dekadensi Kota Rockfield I (Part 02)


__ADS_3

 


 


 


 


.


.


.


.


 


 


Gerbang Utama Kota Rockfield.


 


 


Tempat tersebut tidaklah terlalu ramai jika dibandingkan dengan teritorial kota lain. Bahkan sebelum insiden yang terjadi pada musim dingin tahun lalu, Rockfield memang tergolong sebagai tempat yang tidak banyak didatangi pedagang ataupun pelancong.


 


 


Selain karena letaknya yang sulit diakses, produk di sana sangatlah terbatas dan kebanyakan orang yang datang hanya untuk membeli bijih logam ataupun memasok senjata.


 


 


Pada gerbang utama Kota terlihat sekelompok pedagang yang baru saja sampai. Lambang timbangan yang menempel di penutup wagon, lalu warna biru tua yang dominan pada pakaian mereka. Dari penampilan dan simbol yang ada, para pedagang tersebut tampak seperti orang-orang dari Kota Angra Lotma, Wilayah Rein.


 


 


Mereka berbincang panjang dengan penjaga gerbang, menunjukkan izin dagang dan surat tanda kependudukan untuk membuktikan identitas. Setelah membuktikan bahwa mereka adalah pedagang yang tergabung secara resmi dalam suatu kelompok dagang, orang-orang tersebut membayar visa dan masuk melewati gerbang bersama barang-barang dagangan mereka.


 


 


Para penjaga yang berada di gerbang tidak mengenakan zirah tebal, melainkan zirah kulit dengan bulu lebat sebagai penghangat. Selain itu, mereka pun membawa tombak sebagai senjata utama. Untuk beberapa alasan, para penjaga hanya memakai pedang sebagai senjata sekunder di pinggang mereka.


 


 


Untuk bagian kepala, para penjaga di Rockfield mengenakan topi trapper sebagai penghangat. Namun, tentu saja di dalam topi tersebut pun telah dilapisi besi ringan yang berfungsi sebagai pelindung layaknya helm perang.


 


 


Setelah pedagang dari Angra Lotma masuk ke dalam, Odo Luke dan rombongannya pun melangkah ke depan. Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut tentu saja tidak membawa alat transportasi ataupun barang-barang layaknya seorang pedagang, hanya berjalan kaki tanpa membawa apa-apa bersama empat orang di belakangnya.


 


 


Kemeja putih dirangkap rompi merah serta sarung tangan hitam, lalu celana panjang hitam dengan sepatu kulit. Meski Odo bukanlah tipe orang yang peduli dengan penampilan, ia tentu saja paham harus berpenampilan rapi untuk bisa masuk ke kota. Jika dirinya datang dengan mengenakan pakaian kumuh, hampir dipastikan ia akan langsung ditendang pergi mengingat kondisi yang ada di Rockfield sekarang.


 


 


Karena itulah, pemuda rambut hitam itu pun meminjamkan persediaan pakaian miliknya kepada keempat orang lain dan menyuruh mereka berganti saat akan sampai di gerbang masuk.


 


 


Kemeja putih, celana hitam, dan sepatu kulit, itulah yang dikenakan Lian An. Untuk Canna dan Opium, mereka mengenakan pakaian yang serupa namun dengan tambahan topi kerucut di kepala. Sedangkan untuk Huang sendiri, Demi-human tipe serigala tersebut hanya mengenakan celana hitam dan telanjang dada karena tidak ada kemeja milik Odo yang muat dengan tubuhnya.


 


 


Melihat penampilan mereka yang tampak seragam, penjaga gerbang sempat memberikan tatapan heran dan merasa kalau mereka berlima berada dalam satu kelompok pedagang. Namun saat mengetahui tidak ada satu pun barang dagangan yang dibawa ataupun alat transportasi yang dikenakan, para penjaga semakin heran.


 


 


Odo menghampiri salah satu prajurit yang bertugas pada bagian pemeriksaan, lalu sembari melempar senyum ramah bertanya, “Apa boleh kami masuk ke kota?”


 


 


Tentu saja pertanyaan itu terdengar aneh bagi mereka yang berada di sana. Prajurit yang ditanyai memasang ekspresi bingung, lalu menoleh ke rekannya di belakang seakan meminta bantuan untuk menangani pendatang tersebut.


 


 


“Maaf, Tuan. Dia anak baru. Hmm, sepertinya Anda sedikit berbeda dari pedagang sebelumnya.” Penjaga yang tampak paling senior keluar dari pos jaga gerbang, ia menghampiri Odo dan balik bertanya, “Sebelum kita bicara lebih lanjut, bisa tolong katakan dulu keperluan Anda datang ke Rockfield?”


 


 


“Hmm, Anda tidak mengenal saya?”


 


 


Odo memasang mimik wajah sedikit kecewa, memalingkan pandangan dengan resah dan berpura-pura bahwa dirinya adalah seorang pengusaha yang sering datang ke Rockfield untuk berdagang.


 


 

__ADS_1


Mengetahui kejadian tentang Insiden Raja Iblis Kuno dan obrolan mereka dengan kelompok pedagang yang pertama masuk, Putra Tunggal Keluarga Luke itu paham bawah para penjaga yang ada di gerbang adalah orang-orang yang baru saja ditugaskan di bagian pemeriksaan. Bahkan untuk penjaga paling senior yang sekarang ini berbicara dengan Odo sekalipun.


 


 


“Eh?”


 


 


Penjaga tersebut seketika tampak bingung. Bagi mereka yang tidak pernah datang ke Kediaman Luke, tentu saja mereka tidak berpikir bahwa pemuda rambut hitam tersebut adalah seorang Viscount yang baru saja dilantik dan juga merupakan tunangan Tuan Putri Arteria.


 


 


“Ini sangat disayangkan ….” Odo menghela napas kecil, kembali memasang wajah kecewa dan berkata, “Dalam perjalanan kami sempat diserang oleh para monster. Kami memang berhasil menyelamatkan nyawa …, namun barang dagangan dan surat-surat penting kami hilang. Seperti yang Tuan lihat, kami bahkan tidak membawa kereta ataupun kuda. Semua harta kami benar-benar lenyap karena monster-monster sialan itu!”


 


 


“Te-Tetap saja, Anda harus memperlihatkan surat bukti berdagang dan kependudukan. Jika tidak ada, kami tidak bisa memberikan izin masuk.”


 


 


Penjaga tersebut mulai panik. Dalam benaknya, perkataan pemuda rambut hitam itu terdengar meyakinkan. Namun, pada saat yang sama dirinya juga harus menerapkan prosedur pemerintah dengan tanpa pengecualian.


 


 


Di saat bingung, penjaga tersebut sekilas melirik ke arah An yang datang bersama Odo. Mengamati perempuan dengan wajah khas perempuan dari kekaisaran, penjaga itu pun semakin yakin dengan cerita yang diberikan.


 


 


Wajah pucat pasi, tubuh yang gemetar, dan ekspresi yang tersirat rasa takut dalam tatapan. Meski hanya perempuan itu yang memperlihatkan tanda-tanda takut layaknya baru saja diserang monster, hati nurani sang penjaga merasa iba kepada mereka.


 


 


“Apa Anda tidak percaya?” Odo memberikan tekanan, ia mulai memasang wajah memelas dan kembali membual, “Kami sudah susah-susah datang ke sini dari Mylta! Mustahil bagi kami kembali tanpa alat transportasi ataupun pengawal selama perjalanan! Tolong biarkan kami masuk! Kalau soal uang, kami masih punya beberapa koin untuk visa! Paling tidak biarkan kami menetap satu atau dua hari saja!”


 


 


“Mylta, ya? Tunggu sebentar ….”


 


 


Penjaga tersebut memasang mimik wajah seakan telah mengerti situasi yang ada, lalu setelah menyandarkan tombak ke dinding ia kembali ke pos jaga untuk mengambil sesuatu.


 


 


 


 


“Hmm, itu benar!” Odo menjawab dengan tegas.


 


 


“Ah, kalau begitu baiklah ….” Penjaga tersebut menggulung perkamen, lalu menghela napas dan memasang mimik wajah iba. Ia menatap ke arah Odo, lalu dengan penuh mengasihani kembali berkata, “Kenapa Anda tidak bilang dari tadi? Beberapa hari lalu ada juga beberapa orang Kekaisaran yang bernasib sial seperti kalian ⸻ Tidak, kurasa kalian tidak terlalu sial jika dibandingkan dengan mereka.”


 


 


“Hmm? Apa yang maksud Anda?”


 


 


“Ada juga pedagang lain dari kekaisaran yang berhasil meloloskan diri dari serangan para monster.” Penjaga tersebut menyerahkan perkamen kepada rekannya, lalu kembali mengambil tombak dan mulai menjelaskan, “Belakangan ini banyak orang seperti itu yang datang ke kota ini. Dari penjelasan mereka, di daerah perbatasan antara Rockfield dan Mylta sepertinya banyak monster mutasi. Rombongan pedagang kebanyakan diserang monster seperti itu dan berakhir mengenaskan. Bahkan, orang-orang yang berhasil melarikan diri dan sampai di sini kebanyakan sudah cacat. Ada yang kehilangan tangan, matanya buta, dan ⸻ Ah, maaf. Tidak sepatutnya saya bicara hal seperti itu di depan Anda.”


 


 


Odo sesaat terdiam, ia samar-samar sudah menduga bahwa kejadian seperti itu bisa saja terjadi. Pada kurun waktu sekitar satu bulan yang lalu, tidak sedikit pedagang dari kekaisaran yang memutuskan untuk pergi dari Mylta. Selain karena merasa tidak cocok dengan pasar yang ada di kota pelabuhan, sebagian dari pedagang yang pergi bertujuan untuk mengajak pedagang lain untuk datang ke Mylta setelah mendapatkan kursi di pasaran.


 


 


Membayangkan para pedagang tersebut bernasib naas seperti yang diceritakan oleh sang penjaga gerbang, Putra Tunggal Keluarga Luke hanya bisa tertegun tanpa bisa berkata-kata. Ia sempat menoleh ke arah An, lalu kembali terkejut setelah melihat mimik wajah perempuan itu yang tampak terpukul setelah mendengar kabar yang ada.


 


 


Odo kembali menatap lawan bicaranya, lalu dengan sedikit cemas bertanya, “Ngomong-omong, kelompok dagang siapa saja yang berhasil sampai di kota ini?”


 


 


“Entahlah, saya hanya seorang penjaga. Saya tidak hafal hal semacam itu ….” Penjaga gerbang meletakkan tangan kiri ke dagu, matanya berputar ke kanan dan berusaha mengingat-ingat sesuatu. Kembali menatap lurus Odo, ia dengan sedikit ragu menyampaikan, “Selain pedagang dari Kekaisaran, beberapa pedagang dari Wilayah Rein juga ada yang menjadi korban. Anda lihat rombongan yang masuk tadi, bukan? Mereka datang untuk menjemput orang yang selamat.”


 


 


“Sebentar, berarti itu sudah lama ya kejadiannya?” tanya Odo memastikan.


 

__ADS_1


 


“Hmm, saya rasa sudah lama.” Penjaga tersebut memasang wajah muram, lalu sedikit menggertakkan gigi dan kembali berkata, “Memang tidak sampai sesering sekarang, namun korban pertama jatuh pada akhir musim semi lalu. Sebenarnya pihak Rockfield juga ingin segera menangani masalah ini sebelum tambah parah, namun kondisi politik di sini sedang ….”


 


 


“Memangnya kondisi politik di sini kenapa?”


 


 


“Enggak, tidak apa-apa.” Penjaga tersebut memalingkan pandangan, tertawa kaku dan dengan nada muram kembali berkata, “Maaf, Tuan …. Saya tidak bisa membicarakan itu kepada para pedagang.”


 


 


Odo terdiam, dalam percakapan tersebut ia mendapatkan hampir semua informasi yang diperlukan untuk melakukan Spekulasi Persepsi secara luas terhadap kondisi Kota Rockfield. Kornea mata Putra Tunggal Keluarga Luke sekilas berubah hijau, lalu kesimpulan pun didapat dan itu bukanlah hal yang baik menurutnya. Setelah menghela napas, ia merasa kalau tiap kota juga memiliki masalahnya sendiri.


 


 


“Baiklah, saya paham dengan tugas Anda.” Odo menarik napas dalam-dalam, lalu kembali memasang senyum ramah dan memastikan, “Kalau begitu, apakah boleh kami masuk?”


 


 


“Tentu saja!” Penjaga tersebut mengangguk, lalu menurunkan tangan dari dagu dan kembali berkata, “Namun, sebelum itu bisakah Anda menulis nama dan tanda tangan dulu?”


 


 


Rekan penjaga tersebut menghampiri, menyerahkan papan dengan perkamen dan pena di atasnya. Saat Odo menerima papan dan mengamati nama-nama serta serikat dagang yang tertulis pada perkamen, ia segera paham kalau dampak yang disebabkan dari serangan monster bermutasi cukuplah besar dan bisa memberikan pengaruh yang lebih besar daripada saat bandit merajalela.


 


 


Meskipun ekspedisi pembasmian sedang dilakukan oleh pihak Kota Mylta dan Odo juga ikut membantu secara diam-diam, tetap saja efek negatif yang telah timbul tidak akan hilang begitu saja.


 


 


Odo memperkirakan, nanti saat para pedagang dari kekaisaran dijemput kelompok dagang mereka dan kembali, rumor bawah rute perdagangan di Wilayah Luke sangatlah berbahaya akan tersebar. Cepat atau lambat itu akan mempengaruhi pola pikir para pedagang dari luar, lalu menanamkan stigma bahwa berdagang di Teritorial Mylta dan Rockfield sangatlah berbahaya.


“Tunggu sebentar, saya akan meminta bos saya tanda tangan dulu ….” Odo berusaha menyingkirkan pemikiran keruh yang ada. Sembari membawa perkamen yang diterimanya dari penjaga, pemuda rambut hitam itu berjalan menuju An dan berkata, “Nona An, tolong isi daftar ini ….”


 


 


Mewakili sang Nona, Huang menerima kertas serta pena. Sembari menyerahkannya kepada Lian An untuk diisi, Demi-human tersebut pun memastikan, “Berarti bukan kami saja yang menjadi korban, ya?”


 


 


“Hmm, seperti yang kau dengar.” Odo sekilas mengangkat kedua sisi pundak, lalu mulai memasang ekspresi datar dan kembali berkata, “Setelah ini kalian mau apa? Aku hanya akan mengantar kalian saja sampai di sini saja, selebihnya kalian harus mencari sendiri metode untuk melewati perbatasan.”


 


 


“Aku tahu itu!”


 


 


Huang menggerung, menghela napas dengan resah dan tampak kesal. Ia memang sangat paham tentang kendala yang ada sekarang, metode untuk melewati perbatasan tidaklah mudah untuk ditemukan. Terutama dalam kondisi tanpa surat-surat penting sebagai syarat perdagangan antar negeri. Jika dirinya melakukan kesalahan selama komunikasi, tidak aneh jika kurungan menjadi tempat menginap mereka.


 


 


“Tch!” Membunyikan lidah dengan kesal, Odo menarik bulu janggut Demi-human itu dan memaksanya untuk membungkuk. Ia mendekatkan wajah, lalu dari dekat dengan jelas memperingatkan, “Berengsek, sopan sedikit kau …. Aku melakukan ini bukan untuk kalian, ingat itu baik-baik.”


 


 


“Kau tak perlu mengatakannya langsung!”


 


 


Huang melepaskan tangan Odo dengan paksa, melangkah mundur dan sedikit gemetar karena ancaman itu. Setelah menghela napas ringan untuk menangkan diri, ia pun menerima papan perkamen yang telah diisi oleh An Lian dan menyerahkannya kepada Odo dengan kasar.


 


 


“Padahal sudah tahu, tapi sikapmu tetap sama seperti bocah.” Odo menerima papan berisi perkamen dan pena tersebut, lalu menatap datar lawan bicaranya dan dengan nada kesal menambahkan, “Dasar bebal …, karena sikap seperti itu rekan-rekanmu banyak yang mati. Kecerobohan dan sifat kekanak-kanakan itu mengundang kematian. Kenapa kau tidak berusaha untuk lebih dewasa? Bertingkah lah sesuai umurmu!”


 


 


Setelah mengatakan hal tersebut, Odo segera berbalik dan berjalan menuju ke tempat penjaga untuk menyerahkan perkamen. Ia kembali berbincang dengan mereka, mengutarakan kebohongan untuk menyembunyikan identitasnya dan mengeruk beberapa informasi lain yang bisa dimanfaatkan.


Huang hanya bisa terdiam melihat ke arah Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut, merasa ada sesuatu yang aneh muncul dalam benak dan kepala mulai dipenuhi dengan pertanyaan. Dalam perasaan yang bercampur aduk sampai-sampai mulut sedikit menganga, pria berbulu tersebut tanpa sadar bergumam, “Apa … dia tahu? Kenapa bisa … dia tahu masa lalu⸻?


 


 


“Huang?” panggil An Lian sembari menarik lengannya.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2