Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[116] Flamboyan Akhir Zaman V – Komitmen dan Loyalitas (Part 02)


__ADS_3

Tepat setelah pilar cahaya menyamar permukaan, kepulan asap dan debu memenuhi bagian depan Gerbang Utama layaknya sebuah tabir. Menghalangi jarak pandang, mengeluarkan aroma gosong yang bercampur dengan bau metana.


Meski angin pegunungan berhembus kuat, kepulan asap hitam tidak kunjung hilang. Keluar dari tempat pilar cahaya menyambar, tanpa ada kobaran api ataupun kilatan petir. Murni mengepulkan asap layaknya batang kayu gosong.


Tempat itu porak-poranda, gelombang kejut yang tercipta dari sambaran pilar cahaya menimbulkan kerusakan berat. Menghempaskan semua objek di sekitar pusat ledakan.


Ada beberapa Prajurit Kekaisaran yang menjadi korban. Saat berlindung di dekat dinding Gerbang Utama, serpihan pagar pasak dan senjata terlempar ke arah mereka. Ada yang mengenai tangan, perut, kaki, dan bahkan menancap ke kepala sampai tembus.


Odo telah mengaktifkan dinding tak kasatmata, menciptakan tekanan udara untuk menghalau gelombang ledakan. Berlindung dari lusinan objek yang terhempas kencang layaknya proyektil.


“Luar biasa!” Odo Luke tersenyum kecut, perlahan menurunkan tangan kiri dan menonaktifkan dinding tak kasatmata. Sejenak menghela napas, ia dengan nada resah lanjut berkata, “Kau mampu menahan serangan Ifrit dengan sihir barikade semacam itu!?”


“Tak perlu menyindir, sialan!” Dari dalam tabir asap, Jenderal Fai perlahan bangun dengan tubuh penuh luka. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, terkapar penyu hitam yang sebelumnya dipanggil melalui ritual sihir. “Engkau memaksa diriku mengorbankan wujud astral! Sialan!” tambahnya sembari menyeka noda gosong dan darah pada pipi.


“Sungguh, tadi keputusan yang luar biasa!” Odo menancapkan pedang hitam ke tanah. Sembari mengangkat wajah dan berdecak, ia perlahan memberikan tatapan tajam sembari lanjut memuji, “Tidak aku sangka kau bisa meresap masuk ke dalam tempurung! Memasang sihir barikade berlapis dari dalam, kemudian meningkatkan ketahanan tubuh penyu pada saat bersamaan!”


“Diamlah!” Jenderal Fai melepaskan zirah ringan, ada beberapa bagian yang meleleh karena terpapar suhu tinggi. Badan pria rambut hitam itu penuh luka bakar, terutama pada bagian dada sampai bahu kiri. Sembari mengaktifkan sihir pemulihan untuk mempercepat kemampuan regenerasi, ia dengan nada kesal lanjut berkata, “Kenapa engkau tidak menyerang!? Diriku sekarang sedang lemah! Ingin mengasihani, hah?!”


“Kau sedang menghasut?” Odo melirik ke arah bangkai penyu yang gosong. Sadar itu tidak menghilang atau terurai menjadi partikel Ether, ia langsung tahu bahwa ada semacam jebakan di dalamnya. Kembali menatap lawan bicara, pemuda rambut hitam tersebut lanjut bertanya, “Struktur eksplosif? Ingin melakukan serangan bunuh diri? Atau kau hanya percaya diri dengan kemampuan pemulihan itu?”


“Tch! Engkau sangat jeli ….”


Jenderal Fai berjalan menuju penyu hitam, kemudian menendangnya dengan cukup keras sampai terbalik ke atas. Tidak bergerak, benar-benar telah kehilangan koneksi dan mati.


Berjongkok di dekatnya dan merapatkan jemari, pria rambut hitam itu langsung menusuk bagian bawah penyu dengan tangan kanan. Menyerap sisa-sisa esensi kekuatan yang ada pada bangkai tersebut.


“Kau memisah Aeons dari Daath? Kreatif sekali ….” Odo sekali lagi dibuat kagum. Melihat kemampuan adaptasi makhluk astral tersebut, ia dengan penuh rasa hormat bertepuk tangan dan berkata, “Meski bukan seorang peneliti, kau mampu melewati batasan itu! Membuang nilai, moral, dan identitas asli! Berani mengutak-atik bentuk kehidupan untuk bertahan hidup!”


“Hah!? Apa yang engkau bicarakan?!” Jenderal Fai mencabut tangannya dari tubuh penyu hitam. Pada saat itu juga, bangkai tersebut mulai terurai menjadi partikel Ether dan lenyap dalam hitungan detik. Segera bangun, pria rambut hitam tersebut lekas memberikan tatapan tajam sembari meluruskan, “Diriku tidak pernah mengubah bentuk kehidupan, namun diubah! Telah mati, kemudian terlahir kembali sebagai siluman!”


“Ah, jadi spekulasi itu memang benar!” Odo mengangguk ringan, kembali memalingkan pandangan dan lanjut bergumam, “Siluman bersumber dari Kaisar! Berarti hal itu juga ada kaitannya dengan Fiola dan Julia! Kalau begitu …, bahan yang digunakan dalam prosesnya adalah⸻!”


Jenderal Fai tiba-tiba langsung berlari menuju Odo, menerjang dinding asap sembari mengaktifkan Inti Sihir. Ia dengan cepat menyalurkan aura pada lengan kanan, memperkuat otot dan mengepalkan tinju. Berniat menyerang pemuda itu saat lengah.


“Engkau terlalu meremehkan pertarungan ini, Putra Luke!”

__ADS_1


“Tidak juga ….” Odo mengayunkan telunjuk ke atas, mengaktifkan dinding tak kasatmata dan menghalau tinju lawannya. “Diriku dari awal tidak menganggap ini sebagai pertarungan,” tambahnya seraya mencabut pedang hitam dan lekas memasang kuda-kuda.


“Sialan! Lagi-lagi sihir aneh ini!”


Jenderal Fai terdorong mundur, segera menjaga jarak dan kembali memusatkan Mana pada lengan kanan. Tidak menunjukkan gelagat menyerah, ia dengan cepat berlari mengitari lawannya untuk mencari celah.


“Bisakah kau berhenti? Ini sudah berakhir!”


Odo menurunkan posisi tubuh, sedikit melebarkan kaki kiri dan meningkatkan pertahanan. Menarik pedang masuk sampai bilah menempel pinggang kiri, bersiap melancarkan tebasan pendek untuk menghalau serangan cepat.


“Jangan sombong!”


Sembari mencari celah, Jenderal Fai kembali meningkatkan kemampuan regenerasi. Asap putih keluar dari tubuhnya, sedikit beraroma seperti lumut kering.


Ia dengan cepat memulihkan beberapa tulang kaki yang retak, kemudian dilanjutkan dengan luka bakar pada dada dan bahu kiri. Memulihkan mobilitas dan akurasi gerakan.


“Meski instingnya tidak terlalu tajam, dia punya pengalaman yang luar biasa ….”


Odo menghela napas dalam-dalam, paham bahwa lawannya mulai bertarung sembari mempertimbangkan jarak untuk membelenggu serangan Ifrit. Berusaha tidak terlalu jauh ataupun dekat, terus bergerak supaya tidak dibidik dari udara.


“Cih! Engkau memang pengecut!” Jenderal Fai berhenti berlari. Memukul permukaan tanah dengan kesal, ia dengan suara lantang menghina, “Lihat! Diriku sudah dipojokkan seperti ini! Kenapa engkau tidak lengah?! Paling tidak tunjukkan satu atau dua celah, sialan!”


“A⸻!” Jenderal Fai seketika membisu, memperlihatkan ekspresi bingung dan mulai kehilangan niat bertarung. “Ra-Rasanya ada yang aneh! Ngomong-ngomong, kenapa diriku ngotot sekali ingin membunuhmu? Bukannya diriku diperintahkan Kaisar untuk menangkap engkau?” tanyanya dengan penuh keraguan. Sekilas ia memalingkan pandangan, kemudian menjentikkan jari dan meletakkan tangan ke depan mulut.


“Sungguh? Apa kau sudah pikun?” Odo menunjuk ke arah Pasukan Kekaisaran yang tersisa di dekat dinding gerbang, dilanjutkan dengan memperlihatkan puluhan mayat yang tergeletak di dalam parit. “Lihat? Kau marah karena aku membunuh mereka!” ujarnya dengan nada kesal, merasa sedang dipermainkan.


“Itu benar, diriku marah karena itu ….” Jenderal Fai memperlihatkan gelagat aneh. Ia menonaktifkan Inti Sihir, menurunkan kewaspadaan dan mula bengong. Tatapannya berubah hampa, tidak lagi memancarkan amarah seperti sebelumnya. “Namun, bukankah diriku datang kemari untuk memenuhi tugas yang Kaisar limpahkan?” tanyanya dengan bingung.


“Ah, itu benar! Kau datang untuk memenuhi tugas itu ….” Odo tertegun, kembali menghela napas dan bergumam, “Daath miliknya mengalami galat? Kalau dipikir-pikir, tidak mungkin dia mampu mempertahankan kepribadiannya selama itu tanpa risiko.”


“Daath?” Jenderal Fai memperlihatkan mimik wajah penasaran, sedikit memiringkan kepala dan lanjut bertanya, “Sebelumnya engkau juga membicarakan hal tersebut? Apa itu ada kaitannya dengan kehendak Kaisar?”


“Ah, itu⸻! Entahlah …!” Odo seketika tergemap, memalingkan pandangan dan mulai gugup. Melihat lawannya tiba-tiba menunjukkan sikap kooperatif, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. “Kalau tidak salah, Fiola juga punya siklus aneh semacam itu. Bedanya dia kehilangan ingatan, bukan ganti kepribadian,” gumam pemuda itu sembari melangkah mundur.


“Oh, Keturunan Luke! Odo Luke!” Jenderal Fai memperlihatkan sikap ramah. Ia sekilas membungkuk hormat, kemudian melempar senyum ramah sembari meminta, “Supaya tidak ada kesalahpahaman, tolong izinkan saya menjelaskan ini kepada engkau!”

__ADS_1


“Pergeseran kepribadian?” tebak Odo dengan kesal. Ia sekilas melirik ke arah Canna dan Opium, kemudian mengangkat tangan kiri dan memberikan tanda. Meminta mereka untuk pergi ke tempat lain, menyelamatkan penduduk kota yang masih dalam bahaya. “Siklus kepribadian yang dipicu oleh batasan tertentu? Waktu? Atau mungkin luka?” lanjutnya untuk mengalihkan perhatian, merasa bahwa perubahan sikap Jenderal Fai terlalu janggal.


“Kaisar benar! Engkau memiliki kemampuan deduksi yang luar biasa!” Jenderal Fai merentangkan kedua tangannya, kemudian berjalan mendekat sembari lanjut berkata, “Putra Luke! Ikutlah bersama kami! Kaisar mengharapkan kehadiran engkau! Kemampuan dan kekuatan itu pasti akan sangat berguna untuk Kekaisaran⸻!”


“Baiklah, aku ikut!” Odo langsung menjawab. Seakan telah mempertimbangkan keputusan itu matang-matang, ia dengan tegas lanjut menyampaikan, “Kita tidak perlu berselisih lagi! Meski tujuan kita berbeda, Kaisar memiliki musuh yang sama denganku!”


“Apa⸻!? Tuan Odo! Apa yang Anda bicarakan?!” Canna terkejut saat mendengar itu. Langkah kakinya seketika terhenti, kemudian lekas berbalik sembari berteriak, “Dia musuh!! Kenapa?! Kita bisa mengalahkan mereka! Masih ada kesempatan!”


“Tuan Odo …!” Lisia ikut terkejut. Tidak menuntut dan ingin percaya, perempuan rambut merah cerah itu hanya memberikan tatapan bingung. Ia sedikit memasang wajah murung sembari bertanya, “Anda sungguh ingin memihak mereka? Kenapa?”


“Viscount!” Berbeda dengan Putrinya yang cenderung menghormati pemuda itu, Baron Argo dengan tegas memperlihatkan sikap memaksa. Ia segera mengambil beberapa langkah mendekat, kemudian langsung menunjuk lurus sembari berteriak, “Jika itu didengar oleh bangsawan lain, Anda bisa dinyatakan sebagai pengkhianat!! Tolong jaga perkataan Anda!”


“Lihat! Lihat mereka!” Jenderal Fai mengendus senang, memperlihatkan wajah penuh percaya diri sembari berbalik. Menjentikkan jari sekali, pria rambut hitam itu dengan niat memprovokasi berkata, “Ketika engkau ingin berganti pihak, orang-orang rendahan itu langsung merengek! Menyedihkan sekali, bukan? Jika memihak⸻!”


“Diamlah, kau tidak perlu ikut-ikutan!” Odo menggunakan teknik Langkah Dewa. Menghilangkan jarak, kemudian dalam sekejap langsung berdiri di sebelah Jenderal Fai.


Ia sekilas melihat ke arah Canna dan yang lain, kemudian melirik lawan bicaranya sembari memperingatkan, “Kekacauan ini salah kalian! Seharusnya kau bisa menggunakan cara yang lebih halus seperti penculikan!”


“Anda benar, ini kesalahan kami ….” Jenderal Fai tidak memperlihatkan ekspresi menyesal, ia malah tersenyum tipis sembari lanjut berkata, “Namun, ini tidak bisa dihindari! Karena perang sipil berkelanjutan, diriku harus menggunakan kepribadian agresif sebagai wajah depan! Keputusan ini saya ambil atas persetujuan Kaisar!”


“Syarat pergeseran kepribadian milikmu itu ….!”


Odo sedikit mengerutkan kening, merasa kesal dengan sifat Jenderal Fai yang cenderung apatis. Terutama jika itu tidak ada kaitannya dengan Kekaisaran.


“Regenerasi! Saya memiliki satu kepribadian utama, namun dikelilingi oleh beberapa cadangan untuk mempertahankan akal sehat ….” Jenderal Fai mulai menjelaskan. Memperlihatkan ekspresi tidak yakin dengan perkataannya sendiri, ia sekilas memalingkan pandangan sembari lanjut menyampaikan, “Jika kepribadian yang aktif menggunakan kemampuan regenerasi sampai batas tertentu, ia akan terhapus dan digantikan yang lain.”


“Terhapus?” Odo menoleh. Berusaha untuk tidak memedulikan tatapan tajam dari Argo dan Canna, ia sekilas menghela napas sembari lanjut bertanya, “Tidak digantikan, namun terhapus sepenuhnya?”


“Benar! Terhapus!” Jenderal Fai sekilas mengangguk, kemudian mengacungkan telunjuk sembari menegaskan, “Hanya satu yang asli!”


“Berarti tunggul, ‘kan?” Odo sekilas memalingkan pandangan. Membandingkan itu dengan konsep kehidupan yang dimiliki Roh Agung seperti Diana, kemudian mencocokkan hal tersebut dengan lusinan informasi lainnya. Kembali menatap lawan bicara, ia dengan penasaran lanjut memastikan, “Apa itu berlaku untuk kepribadian utama juga?”


“Tepat! Itu juga berlaku untuk kepribadian utama! Ini merupakan risiko yang harus ditanggung oleh makhluk seperti kami!” Jenderal Fai perlahan menurunkan telunjuk, lalu sekilas memperlihatkan senyum suram sembari balik bertanya, “Engkau sudah tahu, bukan? Huli Jing itu seharusnya juga menanggung risiko serupa ....”


“Eh?” Odo terkejut, merasa telah melewatkan informasi yang sangat penting. Sembari menjauh, ia dengan tatapan cemas kembali bertanya, “Engkau kenal Fiola?”

__ADS_1


“Tentu! Mungkin engkau tidak tahu, dia dulunya adalah Roh Agung seperti diriku! Ah! Diriku juga sudah bukan Roh Agung lagi, sih!” Jenderal Fai sedikit menghela napas. Memperlihatkan ekspresi sedih, pria rambut hitam itu lanjut menjelaskan, “Awalnya kami datang kemari untuk mencari rekan-rekan yang hilang! Namun, karena siklus yang dirinya tanggung⸻!”


“Dia bahkan tidak ingat identitasnya sendiri?”


__ADS_2