Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[83] Keturunan ular tua (Part 03)


__ADS_3

 


 


 


Malam tanpa bintang. Awan mendung sepenuhnya menutupi langit petang, seakan seorang pembawa kegelapan nyata kepada mereka. Beberapa api unggun menyala di atas tanah berbatu, tak jauh dari jalan yang merupakan rute perdagangan. Sumber cahaya tersebut dikelilingi orang-orang yang mencari kehangatan, digunakan juga sebagai tempat memasak makan malam.


 


 


Di dalam hutan yang tidak terlalu jauh dari dataran tinggi Pegunungan Perbatasan, pasukan ekspedisi Kota Mylta membangun perkemahan sementara. Mereka mendirikan tenda-tenda untuk tempat istirahat setelah seharian membasmi monster dan melakukan perjalanan panjang. Tenda yang mereka didirikan berjejer rapi pada tanah lapang yang dikelilingi pepohonan, menjadikan tiga api unggun sebagai pusat berkumpul dan sumber cahaya utama di rombongan mereka.


 


 


Pada salah satu tenda terpasang lentera berbahan bakar kristal sihir sebagai sumber cahaya untuk bagian administrasi logistik yang masih bekerja di dalamnya, sedangkan beberapa tenda lain tampak gelap karena hanya akan digunakan sebagai tempat istirahat. Pada salah satu sudut perkemahan mereka, tampak beberapa kuda, wagon, dan gerobak yang digunakan sebagai alat transportasi terparkir dengan rapi dan dijaga oleh beberapa prajurit.


 


 


Pada pasukan yang secara keseluruhan berjumlah 40 orang tersebut, terlihat beberapa prajurit yang terluka dan sampai harus berbaring di dekat tenda dengan tubuh penuh perban. Mereka kebanyakan adalah kadet yang baru saja lulus, prajurit yang masuk ke dalam militer melalui koneksi orang tua mereka.


 


 


Selain para kadet yang terluka parah, ada juga beberapa prajurit veteran yang mendapatkan luka ringan dan harus diperban pada bagian kepala serta tangan. Pada zirah yang dikenakan mereka pun tampak lecet penuh bekas sayatan benda tajam, lalu ada yang sedikit peyot, dan bahkan di sudut perkemahan banyak senjata serta peralatan yang sudah rusak.


 


 


Meski mereka baru menyelesaikan kurang dari sepertiga rencana ekspedisi pembasmian para monster, kondisi yang ada di pasukan tersebut bisa dikatakan sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan ekspedisi dengan risiko ringan. Baik Lisiathus ataupun Argo, mereka paham hal tersebut dengan sangat baik. Namun, kedua orang Keluarga Mylta itu juga sadar tidak bisa kembali ke kota sebelum menyelesaikan ekspedisi sampai ke perbatasan.


 


 


Di dekat salah satu api unggun pada perkemahan sementara tersebut, ketiga orang yang memimpin pasukan berkumpul untuk mendiskusikan kembali kondisi yang ada. Mempertimbangkan apakah masih ada kemungkinan untuk mereka menyelesaikan ekspedisi meski harus memberi beberapa pengorbanan.


 


 


Pada kursi kayu kecil, Lisia duduk bersebelahan dengan Iitla Lots, sedangkan di seberang api unggun duduk mantan Walikota Myta, Argo. Selain mereka bertiga, prajurit lain tidak ada yang mendekat dan tampak berkumpul menunggu makan malam matang di dekat dua api unggun lain.


 


 


“Tuan Argo, kalau boleh jujur, ini terlalu aneh. Banyak sekali sarang monster di sepanjang rute. Selama satu hari saja alat sihir pendeteksi buatan Nyonya Hulla berbunyi sampai lima kali. Awalnya saya pikir kalau di sekitar rute saja sudah banyak, bagaimana dengan di bagian dalam hutan? Namun, saat kita memeriksanya ….”


 


 


Mendengar perkataan Iitla, Argo hanya terdiam dan meletakkan tangan kanan ke dagu. Berpikir matang-matang sembari menatap ke arah kobaran api, ia juga merasakan kejanggalan tersebut sejak hari kedua ekspedisi.


 


 


Selama ekspedisi pembasmian para berlangsung, jumlah para monster yang mereka temui memang lebih banyak dari perkiraan. Namun, bukan hal tersebut yang membuat pria tua rambut merah gelap tersebut merasa tidak menyaman.


 


 


Sarang yang sudah hancur, lebih tepatnya terbakar habis dan hanya menyisakan mayat-mayat monster yang telah hangus. Hal tersebut sering rombongan temukan selama pembasmian, meninggalkan tanda tanya besar siapa yang telah melakukannya.


 


 


“Banyak sarang yang sudah dibinasakan saat kita sampai ke titik-titik yang berpotensi terhadap banyak monster ….” Argo menurunkan tangan ke pangkuan, duduk dengan tegak dan setelah menghela napas kembali berkata, “Kalau itu dilakukan dengan sengaja, mengapa tidak ada kristal monster yang diambil? Memang ada juga kemungkinan kalau itu disebabkan oleh kawanan monster yang saling menyerang satu sama lain. Namun, memangnya monster jenis apa yang bisa membakar sarang sampai seperti itu?”


 


 


“Hatuibwari,” ujar Lisia. Perkataan tersebut membuat kedua pria di dekatnya menoleh, menatap serius dan menunggu penjelasan lebih lanjut dari perempuan rambut merah tersebut. Lisia sekilas memalingkan pandangan dan sedikit merasa bersalah karena harus membohongi mereka. Namun, setelah menghela napas ia pun tetap melakukannya dan berkata, “Sekitar satu minggu lalu Kota Mylta juga diserang oleh mereka. Monster yang seharusnya hanya berdiam di sarang tiba-tiba aktif menyerang ke sana kemari, tidak hanya tempat tinggal manusia namun juga para monster lain. Menurut Anda sekalian, apakah mungkin kalau monster jenis Khimaira itu yang melakukannya?”


 


 


“Hatuibwari, ya?”


 


 


Iitla tampak ragu dengan hal tersebut. Meski Hatuibwari bisa menggunakan sihir api, namun akan sangat aneh kalau beberapa sarang yang telah mereka temukan hancur terbakar. Dalam buku tentang para monster yang ditulis oleh para Penyihir Miquator, monster jenis tersebut bisa menggunakan berbagai jenis atribut sihir dan tidak memiliki kecenderungan untuk terpaku pada sihir api.


 


 


“Kalau memang itu ulah kawanan Hatuibwari, berarti sarang yang terbakar juga merupakan perubahan perilaku mereka, ya?” gumam Argo.


 


 


Ia sejenak menarik napas dalam-dalam dan mulai gemetar, firasatnya seakan memperingatkan tubuhnya akan bahaya yang sangat besar jika terus melanjutkan ekspedisi. Dalam benak ia merasa, kalau di Pegunungan Perbatasan akan menemui banyak monster dengan perubahan perilaku alami seperti itu.


 

__ADS_1


 


Sedikit tersentak, Argo tiba-tiba mengingat tentang cerita dari putrinya soal Aliran Sesat dan kemunculan Raja Iblis Kuno pada musim dingin tahun lalu. Pria tua tersebut merasa kalau perubahan perilaku para monster ada kaitannya dengan hal itu.


 


 


“Hmm…, perubahan perilaku? Perilaku menyimpang para monster yang menjadi gejala mutasi. Selama pembasmian para bandit saya tidak melihat monster mutasi yang aneh. ” Iitla menoleh ke arah Lisia, lalu sembari mengacungkan jarinya bertanya, “Kira-kira Nona tahu penyebabnya? Selama melakukan ekspedisi pembasmian para bandit, apa Anda melihat sesuatu yang janggal pada para monster?”


 


 


“Saya rasa … tidak ada.” Lisia berpura-pura sedang berpikir, berusaha untuk membuat kedua pria di dekatnya tidak menyadari ulah siapa yang membumihanguskan sarang-sarang monster. Sembari menatap ayahnya, perempuan rambut merah tersebut pun berkata, “Mungkin ada kaitannya dengan para Iblis?”


 


 


“Ah …?” Argo terkejut karena Lisia memikirkan hal yang sama, ia segera menunjuk putrinya tersebut dan berkata, “Itu benar! Ayah juga sedang memikirkan itu! Mungkin saja … karena kemunculan Raja Iblis Kuno, ada sesuatu aura atau kekuatan tidak diketahui yang mempengaruhi perilaku monster. Ayah pernah mendengar ada kasus dimana Iblis yang dipanggil oleh Aliran Sesat memiliki kekuatan untuk mengendalikan para monster.”


 


 


“Sa-Saya juga berpikir demikian,” ujar Lisia dengan sedikit canggung.


 


 


Agro menoleh ke arah Iitla, saling menatap satu sama lain dan mengangguk seakan telah memutuskan sesuatu. Kembali memikirkan lebih lanjut hal tersebut, mereka menurunkan tangan dan kembali memilah kemungkinan. Memperkirakan apakah hal itu disebabkan oleh sisa-sisa kekuatan Raja Iblis Kuno atau malah Iblis lain yang sekarang ini masih berada di Teritorial Mylta.


 


 


“Iital, Lisia, apa kalian sudah memastikan kalau Raja Iblis Kuno itu telah dihabisi Nona Fiola?” tanya Agro memastikan.


 


 


“Itu sudah dipastikan, Tuan Argo.” Iitla bangun dari tempat duduk, lalu sembari meletakkan telapak tangan ke depan dada berkata, “Saya dan pasukan saya sudah memastikan hal tersebut. Puing-puing kerangka tubuh Raja Iblis Kuno juga telah kami awasi sampai benar-benar menghilang.”


 


 


Setelah mendengar penjelasan tersebut Argo bergumam kembali memikirkan kemungkinan yang ada, lalu dengan suara lirih pun bergumam, “Menghilang, ya?”


 


 


“Apa itu aneh, Tuanku?”


 


 


 


 


“Saya juga melihatnya. Terlebih lagi, waktu itu Pihak Religi Kota Mylta dan Rockfield juga sudah membersihkan sisa-sisa kekuatan yang tersisa dengan sihir suci. Pihak Religi dari Ibukota juga telah memastikan kalau Raja Iblis Kuno itu sudah lenyap. Jadi, saya rasa hal seperti Raja Iblis Kuno masih berkeliaran di Teritorial Mylta sangat tidak mungkin terjadi.”


 


 


“Begitu, ya.” Kemungkinan yang ada Argo persempit, ia kembali menundukkan kepala dan bergumam, “Berarti kemungkinan paling tinggi adalah ulah Iblis lain yang ikut datang saat Raja Iblis Kuno dipanggil, atau … Aliran Sesat yang mungkin saja masih tersisa dan berkeliaran sampai saat ini.”


 


 


“Iblis lainnya?” Iitla tampak cemas, ia dalam benak merasa sedikit takut karena tidak mengira kalau ekspedisi kali ini akan kembali berurusan dengan bangsa Iblis. “Memangnya iblis macam apa yang bisa melakukan hal semacam itu?” tanya pria rambut pirang tersebut.


 


 


“Entahlah …, diriku juga tidak tahu. Kita …, daratan ini terlalu sedikit yang tahu tentang mereka.”


 


 


Untuk sesaat pembicaraan terhenti, rasa cemas dan takut mulai menghantui kedua pria tersebut saat membayangkan ancaman tak terduga seperti iblis. Bagi kedua pria yang hidup dan merasakan langsung masa Perang Besar, ancaman dan ulah para Iblis tertanam sebagai ketakutan pada diri mereka.


 


 


Sebelum sang Ahli Pedang dan Penyihir Cahaya ikut serta dalam pembasmian para Iblis secara langsung, hampir tidak ada negeri yang bisa menangani Aliran Sesat. Setiap pemanggilan Iblis berhasil dilakukan, pasti akan jatuh korban paling tidak seratus sampai ribuan nyawa. Bahkan, satu kota lenyap dan sebuah wilayah bangsawan besar hancur pun pernah terjadi karena Invoke yang dilakukan Aliran Sesat.


 


 


Meski Argo dan Iitla tidak pernah melihat langsung kengerian yang disebabkan iblis, namun dengan jelas rasa takut memang tertanam jelas dalam diri mereka. Layaknya sebuah dongeng yang diceritakan oleh orang tua kepada anak-anak, itu menjadi pantangan dan doktrin bahwa Iblis adalah sosok jahat yang mengerikan. Bahkan untuk orang tua seperti mereka, rasa takut masihlah tersisa kuat sampai-sampai membuat tubuh gemetar.


 


 


“Tuan, Agro. Untuk ekspedisi ini …, apakah kita akan tetap melanjutkannya?” tanya Iitla dengan cemas.


 

__ADS_1


 


Argo tidak langsung menjawab. Bagi pria tua yang baru saja pulih dari penyakit kurang dari sebulan yang lalu, ia sangat paham bahwa nyawa sangatlah berharga dan tidak ingin membuang itu begitu saja setelah diberikan kesempatan kedua untuk hidup dengan layak.


 


 


Namun, tanggung jawab terhadap tugas sebagai seorang bangsawan membuatnya tidak bisa mengambil keputusan. Ia tidak bisa menjadi pengecut dan memberikan perintah untuk segera kembali hanya karena ancaman Iblis yang masih belum terbukti kenyataannya.


 


 


“Bicara apa, Tuan Iital! Tentu saja kita akan melanjutkannya!” ujar Lisia tanpa menunggu ayahnya menjawab. Perempuan rambut merah itu langsung bangun dari tempat duduk, menatap tajam ayahnya dan dengan tegas menyampaikan, “Saat kita memulai ekspedisi seharusnya Ayahanda sudah paham! Kita memulai ini bukan karena ingin, namun keharusan!! Kita juga sangat mengerti bahwa selama ekspedisi akan ada korban! Lantas, apa yang membuat Ayahanda takut?!”


 


 


“Putriku ….” Argo tidak menyangka putri semata wayangnya akan mengatakan hal seperti itu. Sedikit menundukkan wajah dan memasang senyum kecil, pria tua itu  merasa malu pada diri sendiri karena telah kalah dalam hal semangat dari anak muda. Dengan suara lemas mantan Walikota Mylta tersebut pun berkata, “Sepertinya diriku ini memang sudah tua ….”


 


 


“Tuan Argo, Anda ….” Iitla sedikit cemas mendengar keluhan tersebut.


 


 


“Baiklah!” Argo kembali mengangkat wajah, menatap lurus putrinya dan dengan tegas berkata, “Sekarang ini engkaulah pemimpin pasukan, semua keputusan di tangan engkau, Putriku! Jika engkau ingin terus maju maka pria tua ini akan menemani!”


 


 


Iitla bertambah cemas mendengar keputusan tanpa pertimbangan tersebut. Ia berjalan ke dekat Tuannya, lalu dengan sedikit keringat dingin mencucur bertanya, “Apa Anda yakin, Tuan Argo? Tolong pertimbangkan lagi ….”


 


 


“Hmm, tidak usah dipertimbangkan lagi! Meskipun kita kembali sekarang, jika rute perdagangan belum terbuka kita hanya akan mendapatkan malu. Sebagai salah satu keluarga yang melayani Luke, kita harus bisa membuktikan bahwa kita bukanlah kumpulan orang-orang lemah! Masalah di teritorial kita adalah tanggung jawab kita sendiri!”


 


 


Iitla langsung tersentak, wajahnya terpana untuk sesaat. Merasa malu pada diri sendiri karena berpikir untuk kabur dari tanggung jawab meski tuannya telah membulatkan tekad, Kepala Prajurit yang berada di ujung masa jabatannya tersebut segera berlutut dengan penuh rasa hormat.


 


 


“Saya, Iitla Lots, sampai penghujung tugas dan kewajiban, raga ini akan terus melayani Anda. Tuanku, tolong maafkanlah perkataan pengecut yang telah saya ucapkan sebelumnya,” ujar Kepala Prajurit tersebut dengan loyalitas penuh.


 


 


“Tak masalah, setiap orang punya rasa takut. Bahkan bagi kita yang sudah tua, hal itu pun tidak masuk dalam pengecualian ….” Argo perlahan menoleh ke arah Lisia, lalu bangun dari tempat duduk dan dengan lembut melempar senyum untuk putrinya tersebut. “Sekarang adalah giliran orang-orang muda. Sebagai generasi tua, kita harus percaya kepada mereka,” ujarnya dengan penuh harapan.


 


 


Mendengar ucapan tersebut sama sekali tidak membuat Lisia senang. Meski seharusnya ia merasa puas karena telah diakui ayahnya, hati perempuan rambut merah tersebut malah diisi dengan rasa bersalah. Itu membuatnya terdiam, bahkan tidak bisa membalas senyuman Argo.


 


 


Menggelengkan kepala dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa nasi sudah menjadi bubur, Lisia menatap balik dengan sorot mata penuh semangat. Ia mengepalkan tangan ke depan, menarik napas dalam-dalam dan dengan suara tegas berkata, “Kalau begitu, sebaiknya kita segera menyusun ulang formasi penyerangan untuk menggempur sarang-sarang monster nanti! Melihat gelagat dan reaksi para monster yang sudah kita binasakan, kita bisa memanfaatkan reaksi sederhana mereka dan memberikan tipuan untuk menjebak.”


 


 


“Tunggu dulu!” Argo menghentikan pembicaraan, menoleh ke belakang dan dengan nada sedikit santai berkata, “Sebaiknya kita makan dulu. Semangat memang baik untuk kaum muda, namun jika malah jatuh sakit kamu tidak bisa memimpin pasukan dengan baik, ‘kan? Setelah makan, kita baru adakan rapat dengan semua prajurit tentang perubahan formasi itu.”


 


 


“Ta-Tapi, Ayahanda …!”


 


 


“Lisia, jagalah kesehatanmu. Kalau sudah sakit seperti ayah dulu nanti malah susah, loh.”


 


 


“Hmm …, baiklah.”


 


 


ↈↈↈ


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2