
Prajurit kekaisaran yang menyamar mulai kesal, ia kehabisan kesabaran karena kepalanya ditepuk semakin keras. Sembari berbalik dengan cepat dan mengayunkan tangan kanan, pria itu menggerakkan jari telunjuk untuk mengaktifkan mekanisme tersembunyi.
Dari dalam pergelangan zirah, sebuah senjata rahasia berupa pelontar bilah langsung muncul. Penyamar segera mengarahkan ujungnya ke leher Odo, berniat menghabisi pemuda itu dalam sekali tusuk.
Saat sang Penyamar kembali menggerakkan telunjuk, mekanisme pelontar langsung aktif dan bilah kecil pun melesat keluar. Berlumur racun mematikan, benda tajam itu dengan cepat menunjam leher kanan Odo.
Bilah besi menembus kulitnya, mengoyak daging, dan masuk sampai beberapa sentimeter. Meski saraf tidak terpotong, senjata rahasia itu tidak bisa langsung lepas. Karena bentuknya yang mirip seperti mata anak panah, itu menempel di leher dan tersangkut.
Racun mulai masuk ke dalam tubuh Odo, membuat saraf dan ototnya menjadi tegang. Berubah kehijauan, lalu mengeluarkan nanah berwarna kuning bening pada tempat luka.
Namun, dalam hitungan detik racun tersebut diubah menjadi larutan protein. Odo mengatur komposisi cairan beracun menggunakan Aitisal Almaelumat, lalu menyusun ulang zat berbahaya di dalamnya supaya dikeluarkan bersama keringat.
Nanah yang mengalir keluar berubah dari kuning bening menjadi kecoklatan, tanda bahwa proses detoksifikasi telah berhasil dilakukan. Saraf dan otot pun kembali rileks dalam hitungan detik.
Ingin membuat celah, Odo pura-pura lemas dan menjatuhkan pedangnya. Meletakkan tangan kanan ke wajah, lalu bangun dan membuka celah untuk diserang. Sengaja tidak mencabut bilah yang masih tertancap supaya tampak lemah di mata musuh.
“Mati!” Penyamar kembali menyerang.
“Senjata yang menarik ….” Saat akan ditusuk dari depan, Odo langsung menghindar dan mencekik sang Penyamar dengan kencang. “Ini beracun?” tanyanya seraya mencengkeram pergelangan tangan kanan pria itu, ditahan supaya tidak menggunakan senjata rahasia.
“AKH!!! Si-Sialan! Lepaskan!”
“Diamlah sebentar …!” Sembari menahan sang Penyamar dengan kedua tangan, Odo perlahan menarik kepala ke belakang dan berancang-ancang. Menyelimuti kening dengan lapisan Mana tipis, lalu langsung menyundul kepala pria itu dengan keras. “Sialan!!” teriaknya dengan lantang.
“Ugh⸻!! Keras sekali …!”
Helm besi yang dikenakan sang Penyamar seketika penyok, kepalanya pun berdarah. Namun, sundulan itu tidak cukup untuk membuatnya pingsan. Penglihatan pria itu perlahan memudar, kemudian mengalami pusing dan mual layaknya gejala mabuk laut.
Odo melepaskan sang Penyamar, lalu segera melucuti senjata rahasia miliknya dan dibuang ke arah pintu utama.
Berdiri tegak, pemuda rambut hitam tersebut langsung menjambak pria itu dengan kasar. Tanpa belas kasihan, ia menyeretnya menuju Yue Ying.
“Orang ini yang kau gunakan, bukan?” ujarnya seraya melempar Penyamar itu ke hadapan sang Jenderal. Sembari melebarkan senyum tipis, pemuda rambut hitam tersebut lanjut mengintimidasi, “Membuat laporan palsu, lalu membodohi Jonatan! Memojokkan dia supaya mengambil keputusan konyol!”
Yue Ying gemetar, berusaha menatap lawan bicaranya dengan mata berkaca-kaca. Tidak ingin mengakui hal tersebut, ia dengan tergagap membantah, “A-Apa yang kamu bicarakan⸻?!”
“Penyerbuan kalian baru saja dimulai,” sela Odo seraya memalingkan pandangan. Melihat keluar Mansion, lalu tersenyum ringan seraya menambahkan, “Kalian hanya membuat omong kosong! Ini … hanyalah taktik perang.”
“Itu tidak benar!” Mao Lie membantah. Karena panik, tanpa pikir panjang pria gendut itu melepaskan Ri’aima. Menjatuhkan perempuan rambut biru pudar tersebut ke lantai, lalu berjalan mendekat sembari membentak, “Pasukan kami sudah menerobos kota! Jenderal Fai memimpin mereka di lini depan!!”
“Bodoh!” Yue Ying seketika panik. Ia lekas berbalik sembari berteriak, “Kenapa kamu malah melepaskannya⸻!?”
Odo tidak membuang kesempatan itu. Setelah mencabut belati yang tertancap pada leher dan membuangnya, ia langsung memungut pedang hitam dan berlari. Menggunakan teknik langkah kaki untuk mempercepat mobilitas, lalu memasang kuda-kuda dan bersiap menusuk.
“Teknik Pedang ….” Odo mengentakkan kaki kanannya dengan tegas, lalu memantapkan pijakan dan menarik pedang hitam ke belakang. Tepat setelah ujung bilah hitam selesai diarahkan, ia langsung melesat cepat layaknya sebuah tombak. Melewati Yue Ying yang baru saja berbalik, lalu menunjam dada kiri Mao Lie dengan kencang. “Tanduk Tunggal!” teriaknya seraya memutar pergelangan, mengoyak jantung pria gendut itu sampai hancur.
Saat pedang hitam ditarik, sebuah lubang yang menganga lebar terbentuk pada dada Mao Lie. Sebongkah daging dan fragmen tulang pun jatuh ke lantai pada saat bersamaan. Darah mengalir deras dari tempat tersebut, lalu mulai menggenang di lantai dan membuat wajah pria itu memucat.
“Maafkan saya, Nona Ying …!” Pria bertubuh gempal itu ambruk ke belakang, ia langsung sekarat tanpa bisa melakukan perlawanan. Terkapar di atas genangan darah miliknya sendiri, lalu menatap langit-langit Mansion dengan ekspresi pasrah. Penuh ketakutan, penyesalan, dan kesedihan. “Seharusnya diriku tidak memaksakan diri,” ujarnya seraya perlahan memejamkan mata, menjadi kalimat terakhir Mao Lie.
“Mao …?” Yue Ying tersentak dengan wajah memucat, emosinya langsung kacau berantakan layaknya tinta hitam yang tumpah. Tanpa pikir panjang ia kembali mengeluarkan talisman, berusaha menggunakan sihir sembari berteriak, “Dasar bedebah!! Beraninya kau membunuhnya!!”
Namun, kemarahan tidak bisa mengubah apa-apa. Inti Sihir perempuan itu tetap tidak bisa diaktifkan, dikunci oleh sirkuit sihir merah yang sempat Odo alirkan sebelumnya.
Saat teriakan Yue Ying terputus, keheningan langsung menyelimuti mereka layaknya kegelapan pekat. Tidak ada kebaikan dalam tatapan pemuda itu, senyum ramah yang sering dirinya perlihatkan pun lenyap tanpa jejak. Berganti dengan wajah muram, terasa kosong dan dingin.
“Ini sudah selesai, Odo ….” Vil segera mengambil tongkat Veränderung, lalu bangun sembari menatap ke arah Jenderal Selatan. “Apa dia perlu diriku habisi juga?” tanya Roh Agung tersebut dengan nada ringan, seolah-olah itu bukanlah masalah besar untuknya.
“Eh …? Sudah selesai?” Yue Ying segera menoleh, menatap Roh Agung tersebut dengan wajah bingung. Melihat istri Walikota yang terbaring di lantai, perempuan rambut merah darah tersebut langsung tertegun membisu. “Kamu hanya mengulur waktu?” tanyanya untuk memastikan.
“Itu benar!” Odo kembali menancapkan pedang ke lantai. Berjalan menuju Ri’aima, ia segera membopong perempuan itu layaknya seorang Tuan Putri. “Dari awal, aku tidak berniat untuk ikut dengan kalian!” tambahnya dengan nada tegas.
“Kamu hanya membodohi kami?” Mimik wajah Yue Ying semakin terlihat suram. Tatapan perempuan rambut merah darah itu berubah gelap, dipenuhi kebencian dan amarah yang berkobar membakar hatinya. “Dasar iblis! Beraninya kau mempermainkan diriku!” pekiknya seraya mengentakkan kaki.
__ADS_1
Partikel kemerahan mulai menyelimuti tubuh Yue Ying, tampak seperti pancaran batu bara yang mulai terbakar dari dalam. Udara dingin berhembus dari arahnya, dalam hitungan detik berubah menjadi panas dan mulai mendistorsi visual.
“Tekanan sihir? Dia berhasil merusak struktur pengacau yang aku tanamkan?” Melihat aliran Ether di udara, Odo langsung tertegun dengan mata terbuka lebar. Tidak ingin Ri’aima terluka, Ia segera mundur sembari bergumam, “Dia menggunakan suplai Mana eksternal? Jangan bilang …!”
“Odo! Dia pengguna roh!” teriak Vil dengan lantang. Ia segera menyeret Agathe menjauh sampai ke dekat pintu utama. Sembari kembali untuk menyeret Oma, perempuan rambut biru laut tersebut dengan lantang menambahkan, “Dia seorang Kontraktor! Dalam pemahaman kalian, dia disebut Pengguna Roh!”
“Pengguna Roh? Bukankah⸻? Ah, benar juga! Konsep itu tidak bisa aku hapus karena terhubung langsung dengan formula lain! Terikat dengan Dunia Nyata ….” Odo melebarkan senyum kecut. Ingin bereksperimen, pemuda itu lekas mendekat sembari berkata, “Baiklah! Mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya!”
“Berhenti meremehkan ku!!”
Yue Ying semakin murka, ia lekas membentuk Mudra dengan kedua tangan untuk mempercepat proses pemanggilan. Secara bergantian dari Harmoni, Kekuatan, Intuisi, dan Kesadaran, lalu diakhiri dengan Penciptaan.
Tanpa menggunakan lingkaran sihir, Yue Ying memakai tubuhnya sendiri sebagai katalis dan medium ritual. Daripada disebut sihir pemanggilan, itu lebih cenderung mirip seperti proses Semi-Invokasi. Berbagi kesadaran dalam satu raga, membiarkan makhluk astral menguasai tubuhnya dalam jangka waktu tertentu.
“Aku tidak pernah meremehkanmu!” Odo segera menurunkan Ri’aima, lalu membaringkannya di dekat anak tangga. Sembari mengacungkan pedang ke depan, pemuda rambut hitam tersebut lanjut menegaskan, “Semua muslihat yang aku gunakan adalah taktik untuk mengalahkan kalian! Itu bukanlah hal remeh!”
“Diam! Dasar licik!” Yue Ying menyatukan kedua telapak tangan, memusatkan partikel kemerahan dan aliran Ether menuju satu titik. Sembari menyempurnakan ritual pemanggilan, perempuan rambut merah darah tersebut lanjut memaki, “Keturunan Pedang Kerajaan, huh?! Kau hanyalah seorang pengecut!”
Yue Ying bertepuk tangan sekali, sepenuhnya menyelesaikan proses Semi-Invokasi. Partikel yang berkumpul pada satu titik mulai memperoleh wujud, membentuk tubuh humanoid layaknya kobaran bara api yang menyala merah.
Makhluk astral tersebut memiliki eksistensi independen, ter-manifestasi secara utuh dan terpisah dari Yue Ying. Berbentuk humanoid, memiliki kulit merah menyala, memancarkan udara panas, dan mempunyai kobaran api biru di kepala layaknya rambut.
Meski bisa dikatakan sebagai makhluk independen, eksistensi Roh itu sangat terikat dengan Yue Ying. Tidak bisa lepas layaknya kayu bakar dan kobaran api, mereka saling mengisi supaya bisa terus menyala.
“Huh?” Dari proses manifestasi tersebut, Odo langsung menyadari sesuatu yang menarik. Tanpa pikir panjang, pemuda rambut hitam itu menurunkan pedangnya sembari memastikan, “Roh Agung? Sebentar! Makhluk astral yang kau panggil itu adalah Roh Agung?”
“Itu Benar! Dia adalah Ifrit! Penguasa Lembah Api! Vermilion yang Kekal!” jawab Yue Ying dengan nada merendahkan. Ia mulai meletakkan tangan kanan ke pinggang, lalu memperlihatkan ekspresi angkuh layaknya sudah menang. “Sosok perkasa yang Kaisar percayakan kepada diriku!” tambahnya seraya melebarkan senyum penuh percaya diri.
Sembari menunjuk lurus, perempuan rambut merah darah tersebut dengan lantang langsung memerintahkan, “Atas nama kontrak yang telah terjalin, diriku, Yue menitahkan engkau untuk menghabisinya! Bakar! Hangus ‘kan! Kobarkan suluh milikmu dan ubah dia menjadi abu! Lenyap sampai tak tersisa!”
“Raja Luke …?” Ifrit tidak memedulikan perintah tersebut. Daripada mematuhi perkataan sang Pemanggil, sosok berselimut hawa panas tersebut malah melangkah maju tanpa niat memusuhi. Mendekati Odo sembari berusaha menahan pancaran panas, lalu dengan ekspresi bingung bertanya, “Mengapa engkau berseteru dengan Nona Kecil itu? Apakah dia musuh kita?”
“Huh?” Yue Ying tercengang, ekspresi penuh rasa percaya dirinya pun langsung lenyap. Digantikan wajah pucat, gemetar ketakutan saat mendengar perkataan Ifrit. “Ra-Raja?! Kenapa dirimu memanggil dia begitu, wahai sosok perkasa?” tanyanya memastikan, lalu melangkah mundur karena ketakutan.
“Nona Muda …!” Penyamar segera bangun. Setelah melepas helm yang penyok karena sundulan sebelumnya, pria dengan perawakan sedikit kurus itu segera mendekat sembari berkata, “Saya tahu Anda sedang murka! Tapi, sihir itu menguras energi kehidupan Anda! Cepat kembalikan Ifrit sebelum terlambat!”
“Huh?” Penyamar menatap bingung. Menyipitkan mata karena tekanan panas, pria kurus tersebut dengan nada heran berkata, “Tidak mungkin! Kenapa seorang manusia ….”
“Kaisar tidak melebih-lebihkan hal tersebut ….” Yue Ying langsung menutup mulutnya rapat-rapat, lalu menelan air liur dengan berat dan tertegun. Segera berlutut, perempuan rambut merah darah tersebut tanpa ragu menundukkan kepalanya sembari berkata, “Ia adalah Penguasa Sejati. Sosok yang dijanjikan oleh sang Pendiri.”
“Huh?” Sang Penyamar tidak percaya dengan hal semacam itu. Setelah menyeka darah yang mengalir keluar dari kepala, ia segera memungut senjata rahasia yang tergeletak di lantai. Diutak-atik, kembali memasang bagian yang terlepas dan memperbaikinya. “Apanya yang Penguasa Sejati! Dia hanya bajingan!” ujar pria kurus itu seraya kembali memakai senjata rahasia pada lengan kanan.
Selesai menyiapkan mekanisme pelontar, sang Penyamar langsung membidik ke depan. Berancang-ancang dengan menurunkan posisi tubuh, lalu mengincar Odo tanpa memedulikan Ifrit yang berdiri di hadapannya.
“Raja Luke, diriku akan bertanya sekali lagi ….” Ifrit menghadap ke arah mereka berdua. Sembari memperlihatkan ekspresi sedih, perwujudan api kehidupan itu kembali bertanya, “Apakah mereka musuh?”
“Bukan ….” Odo menjawab dengan singkat. Sejenak menghela napas, pemuda rambut hitam tersebut perlahan mengangkat tangan kirinya dan menunjuk. Memperlihatkan senyum kaku, lalu dengan nada resah berkata, “Namun, mereka pengganggu! Lindungi aku!”
“Jika engkau ingin, diriku bisa menghabisi mereka ….” Ifrit mengangkat tangannya ke depan. Menyiapkan sihir api tingkat lanjut, lalu berniat membakar kedua orang itu sampai hangus. “Raja Luke, tolong beri perintah engkau!” pintanya dengan ragu.
“Jangan!” Odo melarang. Sedikit menyipitkan mata, ia lekas memperingatkan, “Jika kau menyerangnya, efek Karma dari Kontrak Sihir akan menghancurkan kau dari dalam.”
Pemuda rambut hitam itu segera mengangkat pedang, lalu menggores telapak tangan kirinya sendiri. Membiarkan darah mengalir membasahi pergelangan, kemudian menciptakan susunan informasi rekonstruksi menggunakan kemampuan Aitisal Almaelumat.
“Ini mengejutkan, ternyata Anda benar-benar peduli ….” Ifrit menurunkan tangan. Sekilas menoleh, sosok berselimut hawa panas tersebut sedikit menyindir, “Saya kira perkataan itu hanya bualan untuk mendapatkan hati para makhluk astral.”
“Kau tidak sepenuhnya salah ….” Odo menyalurkan Mana ke dalam pedang hitam, lalu meningkatkan resistensi tubuh terhadap suhu panas. Sembari melangkah maju, pemuda rambut hitam tersebut menambahkan, “Pokoknya jangan bergerak dulu. Kau sedang tidak stabil⸻!”
“Tch! Kalian benar-benar meremehkan kami!”
Tidak memedulikan suasana, sang Penyamar tanpa ragu langsung mengaktifkan mekanisme pelontar pada senjata rahasia. Melepaskan belati beracun, melesat cepat ke arah Odo dan tepat mengincar lehernya.
Menyadari serangan tersebut dari pergerakan udara yang berubah, Ifrit dengan cekatan menangkap belati itu saat masih melayang di udara. Seketika lebur dalam genggaman, lalu berubah menjadi cairan logam panas dan menetes ke lantai.
__ADS_1
“Sepertinya manusia itu tidak ingin diajak berkompromi,” ujar Ifrit seraya membuka telapak tangan ke depan. Mengumpulkan partikel cahaya kemerahan pada satu titik, ia bersiap menembakkan meriam sihir sembari berkata, “Sebelum mengacau, sebaiknya dia segera dihabisi!”
“Berhenti! Ifrit⸻!”
Odo sedikit terlambat. Karena struktur Karma dalam Kontrak Sihir yang terjalin, sosok manifestasi api kehidupan tersebut mendapatkan penalti dari tindakannya sendiri.
Layaknya objek fisik, partikel cahaya yang seharusnya terkumpul di tangan perlahan berubah bentuk menjadi tali. Satu ujung mengikat leher Ifrit, sedangkan ujung lainnya melilit pergelangan tangan kanan Yue Ying.
“A-Apa yang terjadi? Kenapa ini⸻! Ugh!”
Ifrit berusaha melepaskan ikatan tersebut. Namun, itu bertambah kencang dan mulai mencekiknya. Meski tubuh manifestasi api kehidupan itu terbuat dari api murni, tali yang mengikat lehernya adalah Karma dari Kontrak Sihir
Terbentuk dari tatanan fundamental Dunia Nyata, tidak bisa dilanggar oleh makhluk astral dan bersifat mengekang. Dapat dikatakan mutlak, namun memiliki banyak celah karena juga terikat dengan Dunia Astral.
Tidak membuang kesempatan tersebut, sang Penyamar langsung melesat melewati Ifrit. Kembali mengatur mekanisme pelontar pada senjata rahasia, lalu bersiap menghabisi Odo dari jarak dekat.
“Fu! Hentikan!” teriak Yue Ying.
Peringatan itu tidak diindahkan. Tenggelam dalam kebencian, sang Penyamar langsung mengulurkan tangan kanannya ke depan dan bersiap melontarkan belati beracun. Namun, pada saat yang sama tiba-tiba tubuhnya terhempas ke dinding.
Angin panas berhembus kencang dari arah Ifrit, menciptakan dinding udara dan membuat zat cair di sekitarnya langsung menguap. Jika tekanan udara dipusatkan, itu dapat menciptakan gelombang kejut yang cukup kuat untuk menerbangkan orang dewasa.
“Akh! Sialan ….!”
Penyamar tidak bisa langsung bangun, ia sepenuhnya tertahan di pojok ruangan. Kulit mulai melepuh karena panas, mata tidak bisa dibuka, dan keringat pun langsung menguap setelah keluar dari pori-pori. Dalam hitungan detik, pria itu langsung mengalami dehidrasi parah.
Yue Ying tidak terpapar tekanan angin panas tersebut. Meski ia berlutut tidak jauh dari Ifrit, efek Karma pada Kontrak Sihir melindungi perempuan itu. “Apa yang terjadi?” ujarnya dengan bingung, perlahan melihat tali keemasan yang melilit tangan kanannya.
“Jangan bergerak!”
Odo memperingatkan. Sembari berjalan mendekat, ia mengangkat pedang hitam ke depan untuk menahan hembusan angin panas. Bilah hitam menghisap pancaran panas, lalu mengubahnya menjadi Mana untuk digunakan olehnya.
Namun, sekali lagi peringatan itu sedikit terlambat. Yue Ying sudah bangun, tanpa sengaja menarik tali yang melilit tangan kanannya.
Layaknya sumbu peledak⸻ Pada detik itu juga, tali keemasan tersebut mulai terbakar. Menyala dari pergelangan tangan kanan Yue Ying, lalu dengan cepat menjalar menuju leher Ifrit.
“Raja Luke, diriku rasa ini ….”
Ifrit merasakan firasat buruk, ia kembali berusaha melepaskan tali yang menjerat lehernya. Namun, usaha itu sia-sia. Ikatan itu tidak bisa dilepas secara fisik.
Tepat sebelum tali terbakar habis, tubuh Ifrit mulai memancarkan cahaya putih terang. Layaknya matahari yang akan menemui ajalnya, proses tersebut mirip seperti tanda-tanda sebelum ledakan supernova.
“Vil! Lempar tongkatmu!!”
Odo langsung berlari menerjang badai angin panas yang semakin kuat. Menyiapkan struktur rekonstruksi pada tangan kiri, lalu meloncat ke arah Ifrit.
Tanpa mempertanyakan permintaan tersebut, Vil segera melemparkan tongkat Veränderung. Ditangkap oleh Odo, lalu ujung bawahnya langsung ditusukkan ke dada Ifrit. Tepat di tengah, tembus sampai punggung. Hembusan angin panas seketika lenyap.
“A-Apa yang engkau lakukan?!” Ifrit terkejut. Namun, pada saat yang sama dirinya tidak merasa kesakitan.
“Diamlah sebentar!” Setelah mendarat, Odo segera mengalirkan darahnya melalui tongkat. Perlahan masuk ke dalam tubuh Ifrit, lalu merusak Kontrak Sihir yang tertanam pada struktur jiwanya. “Ini akan berakhir cepat!” tambah pemuda itu seraya mencabut tongkat.
“Ugh! Ini …!” Ifrit baru merasa sakit saat prosesnya selesai. Meski sekejap, itu membuat tubuhnya merinding. Kesadarannya pun sempat memudar, bahkan api biru di atas kepala hampir padam karena hal tersebut. “Apa … yang barusan engkau lakukan padaku?” tanyanya dengan gemetar.
Pancaran cahaya putih pada tubuh Ifrit perlahan padam. Tali keemasan yang mengikat lehernya pun hancur, berubah menjadi partikel cahaya dan lenyap. Karma sepenuhnya menghilang, begitu pula Kontrak Sihir yang tertanam pada jiwa Ifrit.
“Aku menghapus kontrak kalian! Dasar sialan!” Odo menjatuhkan tongkat dan pedangnya karena lemas. Setelah menarik napas dalam-dalam, ia langsung menghajar wajah Ifrit dengan tangan kosong. “Bedebah! Kalau kau punya kontrak semacam itu …, kenapa tidak bilang?!” bentaknya dengan kesal.
“Eh?” Ifrit terkejut. Meski pukulan itu sama sekali tidak menyakitkan, amarah yang diarahkan Odo sedikit menggores hatinya. “Kenapa engkau marah seperti itu, Raja Luke? Diriku adalah Vermilion. Meski binasa, diriku bisa bangkit kembali dari abu,” ujarnya dengan tatapan berkaca-kaca.
“Tch!” Odo berdecak kesal. Sembari mengambil tongkat dan pedang, pemuda rambut hitam tersebut mulai menggerutu, “Karena inilah aku benci makhluk berumur panjang! Berlagak tak terkalahkan! Mengira dirinya abadi! Bertindak seenaknya tanpa berusaha memahami situasi!”
“Maaf ….” Ifrit sedikit tersentak. Segera berlutut, sosok berselimut hawa panas tersebut lekas menundukkan kepala dengan hormat. “Jika diriku telah menyinggung Anda, sekali lagi hamba mohon maaf yang sebesar-besarnya,” lanjutnya dengan menyesal.
__ADS_1
“Sudahlah!” Odo menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan marah sembari menjelaskan, “Ingat ini! Saat berada di Dunia Nyata, manifestasi-mu itu masih tidak stabil! Jangan memaksakan diri! Meski karma dan Kontrak Sihir sudah dihapus, kau perlu waktu untuk beradaptasi!”
“Saya memahami hal tersebut ….” Ifrit mengangkat wajahnya, menatap kagum sembari lanjut berkata, “Terima kasih atas kebaikan Anda.”