
Namun, takdir seakan ingin berkata hal yang berbeda.
Pada momen di mana aku benar-benar ingin tetap hidup, unsur Native Overhoul dalam diriku bangkit.
Saat itu aku teringat perkataan yang disampaikan Ibunda, tentang diriku yang tidak memiliki bakat sihir ataupun melakukan manipulasi Mana.
Berbeda dengan yang lain, pada dasarnya aku terlahir dengan cara yang sedikit berbeda.
Layaknya seorang Native Overhoul, aku langsung paham bagaimana cara menggunakan kekuatan tersebut. Mengerti esensi yang ada di dalamnya, lalu merasa tidak asing dengan bentuk tersebut.
Buku Perang 36 Belli, itulah Gremory pertama yang berhasil aku ambil dari The Ritman Library. Muncul dari partikel-partikel cahaya yang berkumpul, lalu membentuk sebuah buku utuh.
Saat pertama kali menyentuhnya, aku langsung paham cara menggunakan buku tersebut. Segera memejamkan mata, lalu menyalurkan Mana kepada buku tersebut layaknya sedang memberikan minum seekor serigala liar.
Setelah itu, aku tidak terlalu ingat dengan apa yang terjadi.
Namun, yang jelas diriku tahu bahwa Gremory tersebut mengendalikan tubuhku. Memanggil satu peleton manifestasi Morning Rein, Pasukan Suci Pertama Kerajaan Felixa.
Terbentuk dari debu dan tanah, lalu memiliki bentuk fisik untuk menghabisi semua pembunuh bayaran yang menyerang tempatku.
Saat sadar, aku berdiri di antara mayat-mayat. Dengan memegang Gremory yang masih terbuka lebar.
Melihat manifestasi pasukan dari tanah dan debu berbasis di hadapan, aku langsung terkejut dan menjatuhkan buku sihir.
Membuatnya tertutup dan menghilangkan semua bentuk manifestasi kekuatan yang ada. Pada saat itulah, aku sepenuhnya sadar telah terlahir sebagai Native Overhoul.
Rasa senang saat mendapatkan kekuatan dengan jelas terasa pada dada, membuatku melebarkan senyum gelap di antara mayat-mayat di dalam ruangan.
Anehnya, rasa kehilangan sama sekali tidak terasa meski orang-orang ku telah dibantai habis. Hanya ada haus aneh dalam benak, seakan-akan menginginkan sesuatu yang tidak jelas.
Tidak kembali ke Kediaman Rein, aku malah memilih untuk melanjutkan tugas yang diberikan oleh Ayahanda. Mengumpulkan semua barang yang bisa diambil, melaporkan kejadian itu kepada pemerintah setempat, lalu kembali mencari orang lain untuk dipekerjakan.
Tak butuh waktu sebulan, aku siap untuk membalas pedagang yang telah memerintahkan penyerangan waktu itu. Menemukan tempatnya, lalu melacak siapa saja yang terlibat.
Kekuatan Native Overhoul sangatlah praktis. Meski aku tidak terlalu kuat secara fisik, namun The Ritman Library bisa menyediakan semua hal yang diriku perlukan untuk membalas mereka dengan tanganku sendiri.
Layaknya apa yang para pedagang itu lakukan, aku menyerang saat malam hari. Membantai satu persatu kelompok yang terlibat, sembari mengembangkan usaha dan menyingkirkan pesaing yang mengganggu.
Selama melakukan hal tersebut, aku mengetahui fakta mengejutkan.
Dari awal hal tersebut memang sangat aneh, untuk para pedagang berani menyerang diriku yang merupakan pewaris Keluarga Rein.
Saat menginterogasi seorang pedagang yang baru saja aku hancurkan kelompoknya, aku tahu bahwa perintah penyerangan itu datang dari Elisa, Ibu Tiriku sendiri.
Itu benar-benar membuatku senang karena mendapatkan alasan untuk menundukkan wanita itu. Sebuah kesempatan emas yang selama ini aku tunggu-tunggu akhirnya datang.
Menawarkan pengampunan kepada pedagang yang aku interogasi itu, diriku memerintahkan beberapa hal kepadanya. Untuk membuat panggung pembalasan dan benar-benar menundukkan wanita itu.
Aku menyuruh pedagang tersebut menulis pesan palsu kepada Elisa. Melaporkan bahwa diriku berhasil dibunuh, lalu menuntut imbalan lebih jika tidak ingin perbuatannya terbongkar, kurang lebih seperti itulah isinya.
Layaknya ikan yang kelaparan, kali ini Elisa dengan mudah terpancing. Pada sebuah tempat di salah satu kota Wilayah Rein, ia membuat pertemuan rahasia dengan pedagang tersebut.
Lalu, dengan angkuh melakukan transaksi tanpa tahu telah masuk ke dalam sangkar yang telah aku buat.
Tepat di tengah transaksi, aku keluar dan mengejutkan wanita jalang itu.
Mengeluarkan Gremory Buku Perang 36 Belli, lalu mengepung tempat tersebut dengan manifestasi satu batalion Morning Rein.
Dia benar-benar terkejut saat melihatku masih hidup, terlebih lagi saat tahu diriku menjadi seorang Native Overhoul dengan kemampuan tidak masuk akal.
Tentu saja terkejut, aku juga baru menyadari hal tersebut beberapa bulan lalu.
Sungguh, Ibunda memang selalu menyembunyikan sesuatu yang tidak aku duga. Pasti fakta seperti itu dirinya siapkan untuk situasi terburuk, untuk senjata bagi putranya ini.
Saat menyudutkan Elisa, hal pertama yang aku lakukan adalah memerintahkan manifestasi pasukan untuk membunuh prajurit yang mengawal Elisa.
Lalu, menghabisi juga pedagang yang aku pakai untuk menjebak si jalang.
Baru setelah itulah diriku mengajaknya duduk pada satu meja, di antara mayat-mayat dan kolam darah. Dikelilingi manifestasi pasukan yang bisa saja memengang kepalanya kapan pun aku mau.
Dia tidak memahami kemampuan ku sebagai Native Overhoul secara penuh. Memanfaatkan hal tersebut, aku membuat kebohongan besar.
Memerintahkan salah satu manifestasi menyentuh perempuan tersebut, lalu menanamkan kebohongan bawah kutukan sudah diberikan kepadanya dan akan mati dalam waktu jika berani mencari masalah denganku lagi.
Itu bukan sepenuhnya kebohongan. Di antara manifestasi pasukan Morning Rein, ada beberapa penyihir perwujudan penyihir. Ia bisa menggunakan sihir semacam kutukan kepada makhluk hidup.
Namun, tentu saja efeknya akan hilang saat aku menutup buku sihir yang mewujudkannya.
Karena itulah, untuk membuat kebohongan terlihat nyata, aku memerintahkan manifestasi penyihir tersebut mengaktifkan kutukan.
__ADS_1
Seketika Elisa muntah darah, jatuh dari tempat duduk dan mulai memelas layaknya anjing jalan. Merangkak ke kakiku, lalu memohon maaf dan merengek.
Itu seharusnya benar-benar memuaskan. Hal tersebut seharusnya benar-benar menyenangkan.
Namun, anehnya aku tidak merasakan semua itu. Hanya ada hampa.
Tidak seperti waktu aku menundukkan Irwati, kali ini terasa sangat kosong.
Untuk sesaat, aku berpikir untuk membunuh Elisa saja. Daripada wanita sialan itu membuat masalah di kemudian hari.
Tiba-tiba, perasaan aneh malam muncul dalam benak. Membuat dada sakit, bahkan sulit sampai sulit untuk bernapas.
Hal tersebut membuatku tidak membunuh Elisa, lalu malah memilih untuk mengekang wanita itu saja.
Keputusan tersebut memang naif, aku memahami itu secara penuh.
Tetapi, tetap saja aku tidak bisa membunuhnya karena wanita itu juga telah memberikan warna dalam hidupku ini. Membuatku mengambil keputusan untuk membiarkannya pergi.
Setelahnya persis seperti yang diriku duga, tindakan naif itu memberikan dampak balik.
Wanita itu menyebarkan kabar tersebut kepada para bangsawan, lalu sampai ke telinga Ayahanda dan Ibunda. Tentang apa yang diriku lakukan selama satu tahun terakhir, tentu dengan kebohongan untuk mengamankan dirinya sendiri.
Pada akhirnya, diriku ditarik pulang. Tanpa bisa menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Ayahanda.
Bahkan setelah kembali ke Kediaman Rein, aku masih merasa hampa. Seakan-akan ada sesuatu yang lepas dari kepala, lalu hati terasa berlubang.
Menginjak usia 12 tahun, aku dibaptis dan benar-benar masuk ke dalam dunia politik secara utuh.
Tidak butuh lama untuk memulai debut. Tepat setelah diberikan dibebaskan untuk masuk ke ranah politik, aku langsung membongkar sebuah kota penuh koruptor dan memenjarakan banyak orang dalam waktu singkat.
Itu sebuah pencapaian yang positif. Namun, di mata bangsawan lain apa yang aku lakukan hanya memporak-porandakan sistem pemerintah yang sudah ada.
Menghancurkan hierarki, dengan tanpa pikir panjang dan benar-benar tanpa etika.
Mengeksekusi para koruptor beserta para pedagang yang menjadi komplotan, lalu merusak hierarki koruptor yang mengakar sampai kota-kota lain.
Mempekerjakan pembunuh bayaran yang pernah mencoba membunuh diriku, lalu memerintahkan mereka untuk membunuh sang penyewa sebelumnya.
Merombak pemerintahan kota secara penuh, lalu mengobrak-abrik Keluarga Bangsawan yang memimpin kota tersebut.
Karena semua hal tersebut, diriku, Arca Rein dikenal sebagai anak bangsawan yang mulai ditakuti oleh para bangsawan di wilayahnya sendiri.
Entah bagaimana cara mereka memandang hal yang terjadi, namun apa yang aku lakukan memang jelas menjadi sebuah kontribusi positif untuk Wilayah Rein.
Diberikan sebuah tanah untuk dikelola, layaknya bangsawan pada umumnya.
Namun, semua itu tetap saja tidak bisa mengisi kekosongan hatiku. Tepat setelah kekuatan Native Overhoul bangkit, sejak malam itu rasanya ada sesuatu yang hilang.
Meski sebelumnya aku suka menundukkan orang lain, hal seperti itu tidak lagi terasa dalam diri ini. Membuat kehidupan terasa hampa dan kosong.
Tetapi, semua itu berubah seketika saat aku mendengar kabar tentang Odo Luke.
Putra Tunggal Keluarga Luke, anak dari Keluarga Pedang Kerajaan yang berhasil mengalahkan Naga Hitam. Pencapai yang tidak bisa dilakukan oleh sang Ahli Pedang, ayahnya sendiri.
Odo sendiri bukanlah nama yang asing di telingaku. Sejak kecil, diriku pernah beberapa kali mendengar cerita Ibunda tentang Keluarga Luke.
Baik itu tentang sang Ahli Pedang, Penyihir Cahaya, para Shieal, lalu tentu anak bernama Odo Luke tersebut.
Ibunda bukanlah tipe wanita yang suka membicarakan orang lain atau bahkan memberikan pujian. Beliau cenderung dingin, lalu sangat jarang menyampaikan pendapat tentang orang-orang di sekitarnya.
Namun, entah mengapa Ibunda sering membicarakan Keluarga Luke. Tampak senang dan menikmati momen saat bercerita, terutama ketika membahas kisah kepahlawanan Penyihir Cahaya.
Tentu saja, nama Odo Luke pun sering disebut dalam ceritanya. Sejak Putra Tunggal Keluarga Luke lahir, Ibunda sering membicarakan anak itu dengan penuh semangat. Seakan-akan Odo adalah anak kerabatnya sendiri.
Memiliki kemiripan, itulah yang diriku rasakan saat mendengar cerita tentang Odo Luke. Entah itu dalam segi keluarga, pencapaian yang didapat, lalu sama-sama memiliki Ibunda yang sedikit unik.
Ketika berumur baru menginjak 15 tahun, aku baru tahu bahwa diriku dikandung selama 17 bulan. Waktu yang bisa dikatakan tidak normal untuk seorang wanita mengandung anak.
Meski sebenarnya aku sudah sering mendengar rumor tentang fakta tersebut dari pelayan yang bekerja di Kediaman Rein.
Di sisi lain, sejauh yang aku tahu Odo Luke juga dikandung dengan cara yang tidak normal. Kurang dari sembilan bulan, lalu lahir dari wanita yang seharusnya dikatakan rahimnya telah rusak.
Jujur saja, diriku bahkan sampai merasakan empati yang sangat kuat kepada Odo Luke. Meski belum pernah bertemu dengannya secara langsung, aku merasa dia sangat mirip denganku dan bisa memahami kekosongan dalam hati ini.
Seakan menjadikan anak yang bahkan belum diriku temui sebagai taruhan, aku memutuskan untuk mencari lebih dalam tentang sang Pembunuh Naga tersebut.
Mengesampingkan rasa hormat yang Ibunda berikan kepada Keluarga Luke, diriku berusaha menilai seperti apa anak bernama Odo itu.
Mengirimkan mata-mata, mengintai dari jauh, dan menguak identitasnya.
Setelah melakukan semua itu, entah mengapa diriku dengan cepat semakin tertarik dengan anak itu. Membuatku ingin menguak Odo lebih dalam, secara langsung dengan mata kepalaku sendiri.
__ADS_1
Karena itulah, aku memutuskan untuk pergi ke Wilayah Luke dan menyelidikinya. Mencari tahu sifat, tindakan, lingkungan, kegiatan, rekan-rekan, bahkan sampai rahasia yang anak itu sembunyikan dari keluarganya sendiri.
Kesan pertama yang Odo berikan saat aku pertama kali melihatnya adalah mengejutkan.
Sebab rupa dan penampilan yang terlihat sangat berbeda dari anak-anak pada umumnya. Tampak seperti pemuda yang beranjak dewasa, menginjak usia 20 tahunan.
Meski setelahnya diriku tahu bahwa penampilan itu adalah sihir transformasi, hal tersebut malah menjadi hal mengejutkan tersendiri. Terutama bagiku yang pernah belajar sihir, namun ditetapkan tidak memiliki bakat dalam hal tersebut karena seorang Native.
Setelah menilai dan mencari tahu dari dekat, aku mulai tidak puas dengan hal tersebut. Semakin ingin mengetahui, mengerti, dan memahami Putra Tunggal Keluarga Luke.
Ingin terlibat dengannya! Ingin berbicara langsung dengannya! Dan membuatnya menatap diriku untuk bisa saling memahami!!
Tanpa sadar, dorongan seperti itu membuatku melewati batas untuk hanya sekadar mengamati.
Aku menyadari ada sesuatu yang mulai menyimpang. Namun, tetap saja semua dorongan tersebut sudah tidak bisa diriku hentikan.
Memanfaatkan situasi di mana anak itu sering datang ke Mylta, diriku pun berpikir untuk mengusiknya secara langsung. Membuatnya kesusahan, lalu mulai terlibat dengan kehidupannya.
Namun, entah sejak kapan rasa ingin menundukkan malah menjadi lebih dominan. Karena itulah, aku malah memojokkan, mengintimidasi, dan pada akhirnya menjebak Odo dalam sebuah duel.
Tetapi, diriku malah dikalahkannya.
Pada sebuah panggung yang telah aku siapkan, di hadapan orang-orang yang diriku kumpulkan, Putra Tunggal Keluarga Luke mengalahkan ku.
Meski dari awal sudah bersungguh-sungguh dan melawannya dengan kekuatan penuh, aku tetap tidak bisa mengalahkannya.
Pada saat itu, diriku serasa ditampar oleh fakta. Diingatkan kembali dengan rasa takut, lalu paham bahwa nama kedua Odo sebagai Pembunuh Naga bukanlah sekadar pajangan.
Hasilnya, diriku pun benar-benar kalah dalam taruhan sendiri dan menjadi kacung Putra Tunggal Keluarga Luke. Diperintahkan untuk melakukan ini dan itu tanpa bisa menolak, jatuh layaknya pecundang.
Tetapi, sekali lagi hal aneh mengisi diriku.
Jangankan dendam atas perlakuan buruk tersebut, merasa terhina saja sama sekali tidak muncul ke permukaan.
Meski terkadang Putra Tunggal Keluarga Luke itu membuatku kesal, hal tersebut tidak pernah sampai mendorong diriku untuk membalasnya.
Tanpa sadar, rasa betah merasuki jiwa dan raga ini. Membuat diriku enggan untuk pulang ke rumah, lebih nyaman bekerja untuk sosok yang menjelma sebagai pemuda ternama dalam waktu singkat.
Mungkin ini adalah insting Keluarga Rein, untuk melayani orang yang diakui dan memberikan loyalitas penuh kepadanya. Sebuah sifat alami untuk keluarga yang ada hanya untuk melayani orang-orang penting.
Jika memang seperti itu, diriku tidak keberatan untuk mendukung Odo Luke.
Dia memang sering sekali membuatku kesal, geram, dan bahkan naik pitam sampai-sampai ingin menghajarnya.
Namun, semua yang pemuda itu berikan terasa sangat berarti. Meski hal tersebut tidak memiliki bentuk dan hanya bisa dirasakan.
Odo Luke adalah orang yang membuatku terlahir kembali menjadi manusia, mengisi hati ini dengan sebuah perasaan. Melunturkan sifat Native yang hanya mementingkan logika dalam setiap tindakan.
Meskipun semua itu terasa menjengkelkan, tetap saja aku bersyukur telah bertemu dengannya.
.
.
.
.
Sekarang, bahkan sampai sekarang ini aku menikmati semua hal tersebut.
Stress memang menguasai, kepalaku pusing sangat pusing memikirkan semua pekerjaan yang ada, dan semua ini membuatku letih.
Tetapi, semua itu terasa berarti bagiku. Memiliki makna tersendiri, memberikan sebuah perasaan layaknya manusia yang utuh.
Mungkin, Ayahanda dan Ibunda juga merasakan hal mirip denganku. Terus bekerja meski sampai kelelahan, sebab menikmati proses yang ada di dalamnya dan bisa memberikan makna dalam kehidupan.
Aku sangat menghormati Odo Luke.
Namun, aku tidak akan mengatakan hal tersebut kepadanya. Itu terlalu memalukan, lalu pemuda itu pasti hanya akan memasang wajah jijik dan tidak memedulikan hal tersebut.
Karena itulah, diriku hanya akan menikmati momen yang ada sekarang. Melampiaskan kesal jika sudah tidak tertahankan, tertawa jika merasa senang, lalu terkadang meluapkan sifat buruk layaknya orang licik.
Itulah diriku, begitulah kehidupan Arca Rein.
Tidak ada yang boleh membantahnya, bahkan diriku sendiri tidak izinkan membelokkan sifat tersebut. Aku takkan peduli dengan pendapat orang lain dalam menjalani kehidupan.
Namun, terkadang aku bertanya-tanya tentang dirinya.
Bagaimana pemuda itu melihat dunia ini? Lalu, apa yang sebenarnya dirinya dambakan di ujung semua kerja keras ini?
\============================
Catatan :
See You Next Time!!
Akhirnya Arca dapat juga dapat kisah masa lalu!
Padahal karakter penting, tapi baru sempat buat.
__ADS_1