Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[110] Serpent X – Fionnuala (Part 01)


__ADS_3

Suara aliran sungai yang menangkan, diiringi kicauan merdu burung-burung liar. Pada hamparan bukit kecil, beragam jenis Dusty Miller tumbuh layaknya salju. Menghiasi tempat tersebut dengan warna putih gading, menjadi sarang beragam serangga musim semi.


Saat dilewati oleh seorang pemuda, puluhan kupu-kupu Morpho mengepakkan sayap mereka secara serempak. Mewarnai hamparan putih dengan biru tua, seakan ingin memberikan kesan elegan dan mulia. Namun, pada saat bersamaan terasa sangat menyedihkan.


Pemuda itu terhenti. Di antara hamparan Dusty Miller dan kegelapan putih yang menyelimuti, dia hanya berdiri sembari menatap seorang perempuan di puncak bukit. Memberikan tatapan sedih, lalu mengulurkan tangan seakan ingin mengajaknya pergi.


“Apakah engkau ingin berpisah dengan keabadian di tempat seperti ini?” Perempuan rambut ungu tersebut menoleh. Melempar senyum tipis, lalu memperlihatkan mimik wajah sedih sembari lanjut bertanya, “Meninggalkan nama kami, lalu kabur menuju kehampaan untuk merasa nyaman sendiri? Bukankah engkau akan membawa kami semua menuju akhir yang dijanjikan?”


Sang pemuda tidak bisa menjawab. Berhenti mengulurkan tangan, dia sejenak menarik napas dalam-dalam dan menatap balik dengan sorot mata kosong. Tidak berkata apa-apa, hanya membalas dengan senyap.


“Begitu, ya ….” Perempuan rambut ungu tersebut berbalik. Telinganya yang panjang sedikit berkedut, kedua alis perlahan turun, dan bibirnya sedikit mengerut seakan ingin menyampaikan kegelisahan. Melebarkan senyum sayu, dia perlahan mengambil langkah mendekat sembari lanjut berkata, “Tempat ini memang terlalu indah untuk mengucapkan perpisahan. Dalam beberapa waktu ke depan kita mungkin takkan bisa lagi merasakan kehangatan mentari, bahkan musim semi ini pun sudah dihiasi salju kelabu dari awan-awan hitam. Dingin ….”


“Kalau dingin, seharusnya kau tidak mengenakan gaun tipis seperti itu ….” Dari seluruh topik pembicaraan yang ada, pemuda itu malah membahas hal tersebut. Seakan ingin menghindari sesuatu, dirinya perlahan memalingkan pandangan dan kembali berkata, “Kita harus segera kembali. Planet ini sudah di ujung tanduk, sebentar lagi akan meledak bersama seluruh isi tata surya. Kita harus pergi mencari tempat berikutnya ….”


“Sampai kapan engkau ingin melakukannya? Berkelana tanpa tujuan, membuang waktu dan kehidupan untuk mencari tempat pelarian ….” Perempuan itu berdiri di hadapan sang pemuda. Bersama tatapan tajam, senyuman sedih perlahan lenyap dari wajahnya yang pucat.


“Entahlah, diriku juga tidak tahu ….” Pemuda itu enggan untuk menatap balik. Memperlihatkan mimik wajah penuh rasa bersalah, dia tidak berani menjawab dengan tegas. Hanya mengulur pembicaraan dengan mengelak dan pura-pura tidak tahu. “Namun, pasti perjalanan kita akan segera berakhir. Kita harus menikmatinya sampai itu tiba,” tambahnya dengan penuh keraguan.


“Bukankah engkau sudah menghabiskan banyak waktu untuk menemukan tempat ini? Mau berapa lama lagi?” Perempuan itu terlihat muak. Menyentuh pipi sang pemuda dengan lembut dan membelai, dia perlahan mendekatkan wajah dan kembali bertanya, “Berapa banyak lagi kehidupan yang ingin engkau gunakan? Apakah ini masih belum cukup?”


“Masih belum ….” Pemuda meraih tangan kanan kecil perempuan itu. Menggenggam erat dan merasakan kehangatannya, dia perlahan memejamkan mata dan menyampaikan, “Dunia ini terus bergerak menuju kehancuran dan kehampaan. Namun, diriku sangat bersyukur karena masih bisa menemukan secercah kebahagiaan. Momen ini adalah berkah, lalu dirimu adalah keajaiban itu sendiri.”


“Diriku juga merasa demikian, wahai pencipta kami ….” Perempuan itu langsung memeluknya dengan erat. Perlahan meneteskan air mata dan tersedu-sedu, dengan isak tangis dirinya menyampaikan, “Kami juga bersyukur telah dilahirkan ke dunia ini bersama engkau! Hidup dalam zaman, tempat, dan momen yang sama! Kami merasa bahagia ketika engkau mengajari kami banyak hal!! Kami juga tidak ingin semuanya berakhir! Namun …! Namun …! Rasanya sangat sakit saat melihat engkau terus menderita seperti itu!!”


“Maafkan aku, Korwa ….” Pemuda itu tidak memeluk balik, dalam dekapan sang perempuan hanya memperlihatkan mimik wajah kosong. Benak tersiksa dalam kesedihan, tetapi tubuh dengan cepat menghapus semua ini dan membuatnya hampa. “Ini masih belum cukup. Jauh dari kata cukup,” tambahnya dengan tegas.


Perempuan itu terus menangis, merasa tidak berdaya dan jatuh dalam keputusasaan. Dalam hidupnya yang panjang, untuk pertama kalinya dia mengutuk takdir dan membenci dirinya sendiri karena tidak mampu melakukan apa-apa.


“Andai saja engkau menciptakan kami seperti mesin-mesin itu, tidak memiliki perasaan dan hanya mematuhi perintah. Andai saja engkau tidak membekali kami dengan perasaan menyakitkan seperti ini ….” Korwa berhenti memeluk, lalu menatap lurus dengan wajah berlinang air mata. Dalam senyap yang muncul ketika suara tangis terhenti, perempuan itu perlahan melebarkan senyum kaku sembari berkata, “Pasti! Pasti …! Anak-anakmu ini akan terus setia menemani engkau sampai akhir perjalanan, Ayahanda ….”


.


.


.


.


Menertawakan diri sendiri, tersenyum menyimpang dengan wajah pasrah. Layaknya permukaan koin, tragedi dapat berubah menjadi komedi jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Karena itulah, pemuda itu tertawa kecil ketika teringat masa lalu.


Keputusasaan yang dulu pernah membuatnya pasrah dan bertekuk lutut, sekarang malah tampak menggelikan di mata sang pemuda. Begitu menyedihkan, namun sangat bermakna karena menjadi fondasi yang kini membentuk dirinya.


Terlalu indah untuk menjadi lelucon, berkilau indah dalam kegelapan putih abadi layaknya permata hitam. Membawakan sebuah perasaan nostalgia, membuatnya teringat kembali dengan seseorang yang sudah tidak bisa ditemui.


Angin menerpa dari belakang, membuat rambut hitam berkibar tanpa mampu menggoyahkan tubuhnya sedikit pun. Kabut putih menyusuri kulitnya bersama hawa dingin dan lembap, melayang di udara dengan lembut, lalu ditelan oleh kegelapan putih pada sisi lain jurang.


“Indah sekali ….” Itu terucap dari mulutnya dengan suara pelan. Seakan dipenuhi rasa lega dan secercah kebahagiaan, perlahan Odo merentangkan kedua tangannya sembari berkata, “Pusat kehidupan, kegelapan putih abadi yang berjalan menuju kehampaan.”


“Indah apanya?!” Leviathan mendekat. Memegang pundak pemuda itu dari belakang, Putri Naga langsung menariknya dan membentak, “Tadi kami hampir jatuh ke dalam tempat mengertikan itu! Apa-apaan sih engkau ini?!”

__ADS_1


Odo berbalik dengan tatapan heran. Beberapa detik melamun, pikirannya pun kembali setelah tenggelam dalam rasa kagum. Mengingat kembali kejadian sebelumnya, pemuda itu perlahan tersenyum tipis dan mulai tertawa.


“Maaf, aku tadi hanya ingin sedikit menjaili kalian.” Odo menurunkan tangan Leviathan dari pundak. Menarik napas ringan seakan meremehkan, pemuda itu perlahan memalingkan tatapan dan berkata, “Tidak aku sangka kau akan ikut lelucon itu dan marah seperti ini.”


“Lelucon?” Leviathan semakin kesal. Menarik kerah pemuda itu dan menatapnya dari dekat, Putri Naga dengan kasar membentak, “Apanya yang lucu! Kalau Alyssum tidak kuat menggenggam tanganmu, kami semua sudah terlempar ke dalam sana!”


“Ah, bukan itu yang aku maksud.” Odo kembali menatapnya. Sembari berusaha melepaskan tangan Leviathan, pemuda itu kembali memasang senyum ringan dan berkata, “Ini soal kegelapan putih di sisi lain jurang. Meski terlempar, kalian takkan jatuh ke dalam sana.”


“Huh?! Apa yang kau bicarakan⸻?!”


“Kalau tidak percaya, coba saja sendiri!”


Tanpa pikir panjang Odo langsung mencengkeram pergelangan tangan kanan Leviathan. Setelah menekan titik saraf Putri Naga untuk memberikan kejutan dan membuat celah, pemuda itu dengan cekatan bergerak memunggungi dan menjegal kakinya.


“Hey! Apa yang⸻?!”


Leviathan tidak bisa memberikan perlawanan yang sesuai. Refleks tubuh terganggu karena stimulasi pada titik saraf, lalu kesemutan pun mengikuti dan membuat penglihatannya buram untuk sesaat. Hal tersebut membuat Putri Naga tidak bisa langsung mengembalikan keseimbangan setelah dijegal, membuatnya perlahan ambruk ke depan.


Odo sedikit membungkuk, bersiap untuk melempar Leviathan ke arah jurang kegelapan putih abadi. Meski dalam kemampuan fisik pemuda itu kalah jauh darinya, teknik lempar yang dikombinasikan dengan Aitisal Almaelumat sudah cukup untuk mengungguli Putri Naga.


Leviathan dengan mudah terangkat dari permukaan, lalu dilempar di udara menggunakan teknik sederhana itu. Sebelum tubuh terhempas angin kencang dan terlempar, Leviathan langsung mencengkeram balik pergelangan tangan Odo.


Menariknya dengan kencang, lalu berniat membawa pemuda itu jatuh bersama ke dalam jurang. Namun, pemuda itu sama sekali tidak bergerak dari tempat.


“Apa yang terjadi?” ujar Leviathan dengan bingung dan cemas. Merasakan suatu kejanggalan, Leviathan langsung menyadari trik yang pemuda itu gunakan selama ini. “Begitu rupanya! Selama ini engkau menggunakan itu supaya tidak terhempas!” bentaknya seraya berusaha menapak ke permukaan.


“Hmm?” Leviathan langsung tercengang, gemetar ketakutan dan melangkah mundur sampai ke ujung tebing. Dengan mimik wajah tidak percaya dirinya memastikan, “Sebentar! Semuanya benar-benar hanya gurauan? Itu hanya lelucon?!  Berarti …, waktu itu engkau⸻?!”


“Tepat!” Odo bertepuk tangan sekali. Sedikit memiringkan kepala, pemuda itu dengan ceria menjelaskan, “Kalian terhempas ke udara bukan karena angin yang semakin kuat. Melalui Alyssum sebagai perantara awal, aku mengurangi massa kalian sampai seringan daun. Karena itulah, saat melewati dinding kabut kalian langsung terangkat.”


“Kenapa?”


Leviathan semakin bingung, kedua mata perlahan terbuka lebar dan mulut pun sedikit menganga. Ingin memastikannya, Putri Naga langsung melihat ke arah Alyssum dan yang lain. Entah itu Roh Agung maupun Elf, mereka semua berdiri tanpa masalah di tengah paparan badai kabut. Padahal kecepatan angin sama sekali tidak berubah, malah terasa lebih kencang dari sebelumnya.


“Kenapa apanya?” Odo balik bertanya. Berhenti memiringkan kepala, pemuda itu menatap sayu dan kembali berkata, “Sungguh pertanyaan yang aneh.”


“Kenapa engkau harus bercanda seperti itu?!” Leviathan membentak. Setelah menghentakkan kaki dengan risau, Putri Naga menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. “Engkau masih tersinggung, ya? Karena diriku menyela nyanyian itu, kau ingin membahasnya dengan lelucon mengerikan seperti ini?” tanyanya untuk memastikan.


“Nyanyian?” Odo memalingkan pandangan dengan bingung, sesaat lupa dengan hal tersebut dan tidak terlalu memedulikannya. “Bukan, kok. Aku tidak marah karena itu,” jawabnya sembari mendekat.


“Lalu, untuk apa?!” Leviathan semakin ketakutan. Bukan karena kekuatan atau kehadirannya, namun oleh ketidaktahuan yang didatangkan pemuda itu. “Engkau bukan orang yang suka bercanda, ‘kan?! Memangnya untuk apa⸻?!”


Sebelum Leviathan menyelesaikan pertanyaan, tiba-tiba Odo langsung menghilang dari tepat. Menggunakan teknik langkah kaki, pemuda itu menyelinap masuk melalui kesadaran Putri Naga dan langsung berdiri di hadapannya.


“Tentu saja untuk ini ….” Odo langsung mendorong wanita muda itu ke jurang, jatuh dalam pelukan kegelapan putih abadi tanpa bisa melakukan perlawanan.


Dalam momen tersebut, tiba-tiba kesadaran Leviathan mengalami akselerasi yang sangat tidak wajar. Memikirkan alasan mengapa Odo mendorongnya, langkah supaya tidak terjatuh, dan cara untuk membalas pemuda itu. Namun, semua itu terhenti tanpa menghasilkan jawaban.


Sebagai gantinya, kilas balik mulai memasuki kesadaran Leviathan. Membuatnya kembali mengingat masa kecil, kedua orang tua, kakak dan adik perempuan, lalu momen latihan bersama para guru dan orang terdekat.

__ADS_1


Di antara semua kilas balik tersebut, penyesalan menjadi sesuatu yang paling dominan. Sebuah kenangan penuh rasa bersalah, fondasi masa lalu yang membentuknya sekarang.


“Ah, apakah diriku akan berakhir di sini? Oleh hal konyol ini?” benak Leviathan sembari memejamkan mata, pasrah menerima keadaan dan sedikit merasa lega karena hal tersebut.


Sebelum tubuhnya ditelan lenyap oleh kegelapan putih abadi, Odo langsung meraih tangan Leviathan. “Sudah mulai akrab dengan keputusasaan?” tanyanya seraya menarik Putri Naga ke atas, dengan mudah karena berat massanya dikurangi untuk sesaat.


Leviathan menatap bingung, mulutnya sedikit terbuka seakan ingin mengatakan sesuatu. Namun, wanita itu hanya gemetar tanpa bisa menyampaikan apa-apa. Terdiam membisu, lalu berusaha memahami situasi dengan memeriksa tubuhnya sendiri.


“Apa yang terjadi? Kenapa tadi⸻?”


“Tidak ada yang terjadi,” sela Odo dengan cepat. Menepuk pundak Leviathan dengan keras, pemuda rambut hitam tersebut lekas menjelaskan, “Tidak ada hal buruk yang terjadi, tadi aku hanya ingin menyadarkan kau saja.”


“Eh?” Leviathan tersentak heran, lalu mulai menatap bengong dengan mulut tertutup rapat. Tidak bisa memahami perkataan pemuda itu, Putri Naga lekas mengerutkan kening dengan kencang dan balik bertanya, “Menyadarkan diriku dari apa? Ilusi? Atau ini hanya akal-akalan yang engkau buat?”


“Bukan itu yang aku maksud.” Odo mengangkat tangan kanannya ke depan, menunjuk lurus dengan tatapan tajam. Sembari melempar senyum ringan, pemuda itu perlahan mendekat dan menyentuh kening Leviathan. “Kau masih berpegang pada harapan, ‘kan?” tanyanya dengan nada ketus.


“Apa … yang engkau bicarakan, Odo?” Leviathan terdiam. Memegang tangan pemuda itu dan menyingkirkannya dari kening, Putri Naga dengan tegas langsung menjawab, “Tentu saja diriku masih berpegang teguh pada harapan! Kalau tidak, mana mungkin kita bisa terus melangkah maju?!”


“Meski kau telah melakukan banyak dosa?” Odo kembali memberi tekanan. Setelah menurunkan tangannya, pemuda itu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Sedikit mendongak dan menatap dinding kabut yang menyelimuti, dengan suara pelan dirinya kembali berkata, “Kita adalah pendosa. Namun, kau malah ingin lari dan bahagia sendiri. Memangnya mereka akan menerimanya? Orang-orang yang kau binasakan mau memaafkanmu? Tentu saja tidak!”


“Me-Memangnya apa yang salahnya dengan itu?!”


Leviathan bersikukuh. Seakan perkataan pemuda itu berhasil menusuk hatinya yang terdalam, Putri Naga tiba-tiba merasakan sesak napas dan mulai terengah-engah. Metabolisme tubuhnya sedikit terganggu karena stres, lalu pusing pun menyusul setelah kinerja sistem pernapasan turun drastis.


“Itu yang salah darimu, menganggap kesalahan bisa diperbaiki dengan mudah dan melarikan diri tanpa mau melakukan penebusan.” Odo kembali menatap lurus. Berhenti menahan diri dan benar-benar ingin menyudutkan, pemuda itu tanpa ragu langsung menekan, “Harapan dan keputusasaan merupakan dua hal yang sama! Itu hanyalah alat untuk membuat kita teguh pada keputusan, antara menerima atau menolak keadaan ….”


Leviathan tersentak dengan wajah pucat pasi. Memahami perkataan Odo dan tidak bisa mengelak lagi, Putri Naga benar-benar diingatkan kembali dengan masa lalu yang ingin dirinya lupakan.


Akhir dari sebuah peradaban, kehancuran kota-kota yang disapu lautan dan badai, serta ribuan nyawa yang melayang ditelan gelombang. Kehancuran mutlak yang pernah dirinya antarkan kepada jutaan makhluk, rentetan momen keputusasaan yang membuat Leviathan sampai disebut sebagai Pemusnah Peradaban.


Lalu, sebuah penyesalan terbesar yang telah ada jauh sebelum semua itu terjadi. Sesuatu yang telah merusaknya dari dalam, mendorong batin Leviathan sampai ke ujung jurang kerusakan.


“Ma-Mau bagaimana lagi?! Diriku saat itu masih berada di bawah kendali Dewi Helena!” Leviathan tetap bersikukuh, tidak ingin mengakui dosanya dan mengelak, “Diriku harus tetap hidup dengan harapan! Itu satu-satunya wasiat yang ditinggalkan Ibunda! Lagi pula! Diriku juga tidak bermaksud untuk memusnahkan peradaban mereka! Itu ulahnya!”


“Hmm ….” Odo menatap dingin. Tidak memedulikan alasannya, pemuda itu dengan kejam langsung menghakimi, “Memang lebih mudah menyalahkan orang lain daripada mengakuinya kesalahan. Lagi pula, mereka bahkan tidak bisa menuntut apa-apa saat ditenggelamkan ke dalam lautan.”


“Kenapa engkau malah membahasnya sekarang?!” Leviathan mendorong pemuda itu menggunakan lengannya, untuk beberapa alasan menghindari kontak kulit secara langsung. Terhenti karena rasa bersalah dan lemas, Putri Naga dengan gemetar kembali membantah, “Untuk apa engkau membahasnya sekarang? Jika ingin mengadili, lakukan saja itu nanti setelah⸻!”


“Keputusasaan dan harapan ….” Odo menyela tanpa ragu. Memegang pundak Leviathan dan sedikit menariknya mendekat, pemuda itu dengan tegas menatap lurus sembari menyampaikan, “Dari kedua hal tersebut, di mataku yang benar-benar merusak adalah harapan.”


“Ke-Kenapa?” Leviathan menatap buyar. Seakan persepsinya dibantah mentah-mentah, air mata mulai mengalir dan membuatnya berkaca-kaca. “Bukankah harapan itu lebih baik dari keputusasaan?” tanyanya dengan kacau.


“Kau tahu, Leviathan ….” Semakin erat memegang tubuh Leviathan, pemuda itu mendekatkan wajah dan menjawab, “Harapan itu membuat kita mampu mengambil keputusan keji demi masa depan, sedangkan keputusasaan merupakan sikap yang diambil untuk menerima kenyataan.”


“A-Apa yang engkau bicarakan?!” Leviathan menyingkirkan tangan Odo. Menatap murka dan menolak persepsi tersebut, Putri Naga menunjuk lurus dengan penuh frustrasi. “Tidak masuk akal! Itu tidak sama! Saat masih mampu melangkah, mengapa diriku harus jatuh dalam keputusasaan?!” bentaknya dengan gemetar.


“Aku hanya ingin mengajak kau untuk akrab dengan keputusasaan, bukan menolaknya.” Odo menarik napas dalam-dalam. Paham Leviathan tidak cocok untuk hal tersebut, pemuda itu mengambil keputusan secara sepihak dan kembali menyudutkan. “Sebagai pembuka, mari kita berkenalan dengan sumber pembawa keputusasaan sejati, kegelapan putih abadi,” ujarnya seraya mengulurkan tangan kanan, melempar senyum tipis penuh rasa percaya diri.


“Kegelapan putih abadi? Maksudmu kabut ini?” Leviathan semakin menjaga jarak. Memperlihatkan mimik wajah penuh ketakutan, Putri Naga lekas berlari memutari pemuda itu dan menghampiri Alyssum. Menggandengnya seakan ingin mengajak Roh Kecil itu lari, wanita rambut perak keabu-abuan tersebut menegaskan, “Engkau aneh, Odo! Engkau berniat memanipulasi diriku, bukan? Dengan mulut busukmu itu, dirimu pasti bisa menipu Dewi Helena! Bahkan! Mungkin engkau mampu mengelabui seisi dunia ini!”

__ADS_1


__ADS_2