Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[80] Antara malam dan fajar (Part 01)


__ADS_3

Keheningan untuk sesaat menyelimuti ruangan, tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut mereka dan udara dingin yang masuk melaui sela-sela dinding seakan menambah kesan tegang yang ada. Baik Odo ataupun Magda, mereka hanya menatap satu sama lain dan saling mencari tahu apa yang sedang dipikirkan masing-masing.


Kalimat yang Odo ucapkan sebelumnya tentang Tangan Kanan memang memberikan petunjuk besar untuk Magda, membuatnya paham alasan mengapa Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut tampak tenang meski tahu Kota Mylta bisa saja lenyap kapan oleh paparan sihir Parva Nuclear milik Laura Sam’kloi yang telah bersiap di tempat lain.


“Tangan Kanan yang kamu maksud, apa itu Putra Sulung Keluarga Rein? Apa kamu sebelum ke sini telah memerintahkannya untuk mengalahkan Letnan?”


Tidak menjawab atau bahkan memedulikan pertanyaan tersebut, Odo malah berbalik ke arah para pegawainya yang terkapar di atas lantai dan tampak sekarat karena sebelumnya terkena serangan para Prajurit Peri. Menghentakkan kaki kanan ke lantai sekali, pemuda rambut hitam tersebut dengan lantang berkata, “Matius! Keluarlah dan bantu aku!”


Meski berada di dalam dimensi semu dan Matius tidak bisa mendengar suara Odo, ia dengan jelas paham perintah Tuannya melalui gerak bibir yang tampak. Membuat akses berupa genangan air bercahaya di atas permukaan lantai, perlahan pria rambut pirang tersebut merangkak keluar dari dimensi semu.


“Syukurlah Anda datang tepat waktu …. Kalau tidak, kami semua pasti mati di tangan mereka berdua.”


Odo sama sekali tidak memedulikan perkataan Matius, ia malah melihat sekeliling dan mencari satu lagi pegawainya yang tidak ada di dalam bangunan toko. Menghela napas sejenak dan menggelengkan kepala, pemuda rambut hitam tersebut kembali menatap Matius dan dengan sedikit ketus bertanya, “Apa Totto kabur lebih dulu untuk mencari bantuan?”


“Itu …, saya rasa dia masih berada di depan bangunan. Sebelumnya ia tampak gemetar dan sama sekali tidak mau masuk ke dalam bangunan. Apa tadi Anda tidak melihatnya di depan?”


“Berarti dia memang kabur ….” Odo mengucapkan itu sembari berjalan ke arah Matius. Mengaktifkan dimensi penyimpanan dan mengambil Potion, ia membuka penyumbat botolnya dan kembali bertanya, “Apa kedua tanganmu yang patah masih bisa diangkat?”


“Eh? Ya …. Akh ….”


Sembari menahan rasa sakit, Matius berusaha mengangkat kedua tangannya yang patah pada bagian siku. Wajahnya semakin memucat dan keringat dingin bercucuran. Melihat hal tersebut, Odo sesaat menyipitkan mata dan segera menyiramkan Potion ke kedua tangan pria rambut pirang tersebut.


Memasukkan botol kosong kembali ke dalam dimensi penyimpanan, Odo memegang tangan kanan Matius dengan kedua tangan dan berkata, “Tahan sebentar, ini sedikit sakit.”


“Eh? AKHH⸻!!”


Dengan paksa, Odo langsung menekan tangan Matius yang belok ke arah yang salah dan memperbaiki posisi tulangnya. Rasa sakit yang dirasakan pria rambut pirang itu membuatnya hampir kehilangan kesadaran, berteriak keras dan kedua matanya terbuka lebar. Namun beberapa detik kemudian, rasa sakit tersebut dengan cepat hilang dan tangan kanannya kembali normal meski masih tampak sedikit memar pada bagian siku.


“Potion yang aku berikan sedikit memiliki efek anestesi instan, jadi jangan memaksakan tanganmu dulu. Sini, tangan kirimu ….”


Dengan cara yang sama, Odo memperbaiki posisi tulang tangan kiri Matius. Bukan hanya itu saja, ia juga menarik semua jemari yang patah dan mengembalikan posisinya seperti semula. Memang ada beberapa tulang yang patah parah dan tidak bisa disembuhkan hanya dengan ditarik kembali ke posisi awal, namun berkat Potion dengan efek Anestesi kuat, itu membuat Matius tidak merasakan sakit yang begitu parah untuk beberapa jam ke depan.


Sesudah menyembuhkan kedua tangan Matius sampai pada tingkat dimana pria tersebut bisa memegang sesuatu, dari dimensi penyimpanan Odo mengambil beberapa botol Potion yang memiliki efek untuk menambah sel darah dan memberikannya kepada Matius. Sembari mengangkat jari telunjuk pemuda itu berkata, “Biarkan mereka semua meminum ramuan itu. Tetapi ingat! Jangan sampai botolnya pecah. Kalau sampai pecah, kau akan aku hajar seperti Arca!”


“Ba-Baik ….”


Saat Matius mulai memberikan ramuan kepada para pegawai toko, Odo sendiri berjalan menuju Canna yang kondisinya terlihat paling parah di antara semua pegawainya. Darah penyihir tersebut terkuras keluar sangat banyak, berceceran dan bahkan sampai membuatnya tidak sadarkan diri serta tampak pucat seperti mayat. Melihatnya masih bernapas lemah, untuk sesaat Odo lega tidak jatuh korban di pihaknya dalam serangan kali ini.


Mengambil Potion dengan warna merah darah dari dimensi penyimpanan pada sarung tangan, Odo berlutut di dekat Canna yang terkapar. Sembari membuka tutupnya, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Sepertinya kau bahkan tidak bisa meminum ini dengan baik kurasa? Sungguh …. Kalau saja aku tidak ada kepentingan dengan para Elf itu, pasti mereka sudah menjadi gumpalan daging sekarang.”


Odo meminum Potion di tangannya sampai habis, lalu mengangkat tubuh Canna dan memangku kepalanya. Sembari sedikit membungkuk, pemuda itu langsung mencium bibir sang penyihir dan memasukkan cairan ramuan langsung ke dalam mulutnya. Satu teguk demi satu teguk, bercampur dengan air liur dan masuk ke dalam tubuhnya secara langsung.


Setelah selesai, Odo berhenti menciumnya dan sesaat terdiam. Tidak melihat efeknya langsung, sesaat ia menghela napas ringan dan paham kalau ramuan tersebut tidak cukup untuk mengembalikan kesadaran Canna setelah kehilangan banyak darah.


Setelah meletakkan botol ke lantai, tanpa ragu sama sekali Odo menggigit pergelangan tangannya sendiri sampai berdarah dan membiarkannya menetes masuk ke dalam mulut Canna sebanyak beberapa puluh mililiter. Setelah dianggap cukup Odo menjilat lukanya sendiri, lalu dengan perlahan itu tertutup dan darah pun berhenti keluar. Meski tidak sempurna dan meninggalkan bekas jelas pada pergelangan, namun memang kekuatan regenerasi dari Auto Senses masih tertinggal lemah di dalam tubuhnya.

__ADS_1


Meletakkan telapak tangan ke dada Canna, Odo perlahan meningkatkan sirkulasi darah sang penyihir menggunakan Aitisal Almaelumat. Memanipulasi darah yang masuk ke dalam tubuh sang penyihir berambut putih tersebut, Odo secara perlahan mengakses cairan Potion yang telah masuk terlebih dulu dan meningkatkan efeknya.


Pemulihan sel, peningkatan antibodi, memicu detak jantung dan sirkulasi darah, pembuatan sel darah merah dan darah putih, serta meningkatkan metabolisme tubuh. Dengan berbagai efek dari ramuan tersebut yang ditingkatkan, Odo memaksa tubuh Canna melewati masa kritisnya.


Napas penyihir rambut putih uban tersebut pun perlahan normal, detak jantungnya kembali dan secara perlahan luka-luka luar tertutup meski tidak sempurna dan beberapa pembuluh darahnya yang pecah masih sedikit tampak pada pori-pori.


Di tengah proses pemulihan yang berlangsung secara bertahap tersebut, Odo paham bahwa masih ada proyektil yang bersarang pada tubuh Canna. Sedikit melirik ke arah Magda yang tidak bergerak dari tempat, Odo segera paham siapa yang telah menembak salah satu pegawainya.


“Begitu, ya …. Jadi yang Elf yang di sana juga menyerangmu? Aku kira hanya satunya yang bersalah.”


Dari dimensi penyimpanan, Odo mengambil belati dan bohlam yang merupakan alat penyuplai energi sihir serta berisi struktur sihir unik. Menyerap struktur sihir yang ada di dalam bohlam menggunakan Aitisal Almaelumat, Odo memulihkan kemampuan sihirnya untuk sementara sampai tingkat tertentu. Bohlam pun pecah sampai menjadi abu karena unsurnya diserap habis.


Memegang pedang dengan tangan kanan, Odo perlahan menyalurkan Mana dan menggunakan salah satu cabang dari sihir api, yaitu meningkatkan suhu. Membuat suhu mata belati meningkat sampai melebihi tingkat didih, ia pun mulai mencongkel proyektil-proyektil yang bersarang di tubuh Canna.


Butuh waktu sekitar seperempat jam lebih hanya untuk mengeluarkan semua proyektil karena beberapa ada yang bersarang pada bagian yang sulit dikeluarkan. Setelah selesai, Odo pun mengambil kain kasa dari dimensi penyimpanan dan membalutkan perban untuk menutup lukanya.


“Baiklah, maaf menunggu ….” Odo berdiri setelah membaringkan Canna ke lantai. Menatap Magda yang sama sekali tidak bisa bergerak dari tempat sejak Odo mengacuhkannya, pemuda itu menyipitkan mata ke arahnya. Sembari menunjuk mayat Ul’ma ia pun bertanya, “Kita harus memulai pembicaraan dari mana? Apa perlu aku menyingkirkan daging itu sebelum kita memulai pembicaraan?”


Tatapan Odo sama sekali tidak melihat Elf sebagai individu, hanya sebatas Objek dan tidak menghargai nyawa mereka. Baik itu Magda yang masih hidup ataupun Ul’ma yang sudah terkapar menjadi mayat, pemuda itu menatap dengan sorot mata gelap seakan dipenuhi murka.


“Bagaimana … kalau kita mulai tentang ucapanmu sebelumnya? Kenapa bisa kau sangat tenang sekarang? Padahal kota⸻”


“Sebentar lagi kau akan paham. Meski kebanyakan orang menilainya menyebalkan, secara pribadi aku menilai Acara sebagai orang yang bisa diandalkan. Aku bertaruh padanya …. Karena itu, mari kita mulai bicara soal alasan kalian menyerang orang-orangku.”


Meski hari sudah semakin malam, namun ramainya orang-orang di Mylta yang membicarakan insiden penyerangan para monster ke kota tidak kunjung reda. Entah mereka yang sedang lalu-lalang di jalan utama ataupun mereka para pelancong yang sedang berada di dalam penginapan, kabar tersebut menjadi simpang-siur dan perlahan mengalami perubahan terhadap isinya dan menjadi semakin tidak akurat setelah tersebar dari mulut ke mulut.


Layaknya seekor serangga yang mengerumuni pusat cahaya di malam hari dan tidak sadar bahwa itu hanyalah pantulan cahaya pada genangan air, mereka terlalu fokus pada insiden yang talah terjadi dan sama sekali tidak tak tahu-menahu tantang apa yang sebenarnya sedang mengincar Kota mereka.


Berjalan di antara kerumunan orang di awal malam, Arca Rein memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan sekilas melihat ke arah langit. Sorot matanya berubah datar saat tahu satu titik cahaya di antara gugusan bintang semakin terang, lalu menghela napas ringan dan kembali menatap ke depan.


Sembari melangkahkan kaki menuju kompleks Gereja Utama, Putra Sulung Keluarga Rein itu sejenak bergumam, “Jujur aku sedikit lega karena dia mau mengandalkan diriku, tapi ….”


Sekilas ia melirik ke kanan dan melihat kedua Butler pribadinya, Ligh dan Logi. Dari mimik wajah mereka berdua, Arca paham bahwa mereka sedang dipenuhi kecemasan. Namun sebagai Tuan dari kedua pria tersebut, Putra Sulung Keluarga Rein itu tidak berkata apa-apa untuk meredakan kecemasan mereka dan hanya menghela napas ringan.


“Tuan Arca, apa benar cahaya di atas sana itu bersumber dari sihir Elf?” tanya Ligh sembari sesekali mendongak, menatap penuh gelisah pijar cahaya di langit yang tampak semakin janggal di antara gugusan bintang.


Lebih cemas dari rekannya, Logi tidak bisa berhenti melihat ke atas dan bahkan sampai sesekali menabrak orang lain saat berjalan. Mendekat ke Tuannya, Logi pun dengan cemas ikut bertanya, “Kenapa Tuan Odo tiba-tiba memasrahkan hal ini kepada kita? Lagi pula, kalau memang itu sihir yang bisa meratakan kota ini dan membinasakan semua orang, kenapa beliau tidak segera turun tangan sendiri?”


“Entahlah, Odo hanya menjelaskan seperti itu dan memerintahkan kita untuk menanganinya. Dia bilang juga dengan segala cara harus menghentikan ancaman itu ….” Arca tidak terlalu memikirkan pertanyaan kedua Butler pribadinya, ia sejenak memalingkan pandangan dan memikirkan kembali pesan yang diberikan oleh Odo dengan terburu-buru. Paham bahwa Putra Tunggal Luke tersebut memiliki hal mendesak lainnya, Arca pun sedikit menyimpulkan, “Apa ada Elf lain yang masuk ke Mylta? Dari gelagatnya tadi, aku rasa hal ini mulai masuk akal kenapa dia memasrahkan ini kepadaku ….”


Arca berpapasan dengan Odo sekitar 10 menit lalu di persimpangan. Awalnya Putra Sulung Keluarga Rein tersebut ingin kembali ke toko setelah melakukan rapat dengan beberapa petinggi serikat dagang terkait tindakan yang perlu diambil pasca insiden penyerangan monster. Namun setelah mendapat pemberitahuan dan perintah dari Odo Luke, ia mengurungkan niatnya untuk menyusun rencana dan fokus pada ancaman yang sekarang harus diatasi.


“Huh, jujur beberapa hari ini aku sempat tenggelam dalam pekerjaan dan sampai lupa siapa diriku yang sebenarnya.” Di antara lalu-lalang keramaian, Putra Sulung Keluarga Rein mengangkat tangan setinggi dada dan membuka telapaknya. Dalam hitungan detik, partikel cahaya sekilas berkumpul dan sebuah buku dengan sampul merah darah yang tampak antik muncul. Sembari membuka halaman buku ia pun berkata, “Mengaktifkan The Ritman Library …. Buku Penguasa, Et in Caelesti, diaktifkan.”


Aura merah tua seperti daun pada musim gugur terpancar tipis dari tubuh Arca, menandakan salah satu Grimoire dari Perpustakaan Ritman tersebut telah aktif dan wewenang kekuasannya tersebar. Seperti namanya, Buku Penguasa adalah salah satu perwujudan kemampuan Arca yang membuatnya bisa menguasai sesuatu yang bersentuhan langsung dengan tubuhnya.

__ADS_1


Syarat khusus pengaktifan Et in Caelesti sendiri tidak ada, namun untuk kemampuannya hanya bisa berfungsi pada objek yang bersentuhan dengan kulitnya dan terbatas durasi 24 jam sekali aktif. Dengan kata lain, jika Arca menonaktifkan kemampuan tersebut maka ia baru bisa mengaktifkannya kembali pada durasi 24 jam setelahnya.


Logi sesaat berhenti mengikuti ketika melihat Arca mengaktifkan buku sihir tersebut. Meski dirinya jarang melihat Tuannya mengaktifkan buku tersebut karena bisa dikatakan tidak cocok untuk pertarungan secara frontal, namun ia tahu kalau Et in Caelesti cukup efektif dalam mobilitas tergantung dalam penggunaannya. “Tuan …, Grimoire itu? Apa Anda berniat menyerangnya dari sini?” tanyanya dengan sedikit bingung.


“Meski dengan Grimoire tersebut memungkinkan Tuan bisa mengatasi musuh yang terbang, namun bukan berarti yang di atas sana tidak akan menyerang Anda. Apa … itu tidak masalah, Tuan Arca?” tanya Ligh mencemaskan. Ia ikut menghentikan langkah, lalu memalingkan pandangan ke langit tempat cahaya tak wajar bersinar.


“Tak masalah ….” Arca menghentikan langkah setelah keluar dari keramaian dan naik ke anak tangga menuju Gereja Utama. Ia perlahan menoleh ke arah mereka berdua, lalu sembari menyeringai kecil berkata, “Aku punya ide. Aku butuh bantuan kalian. Untuk sekarang, kalian berdua harus mengikuti arahan dariku …. Mari kira beri pelajaran serangga di atas sana …, supaya tahu di mana tempat mereka seharusnya.”


Melihat ekspresi Tuan mereka, Logi dan Ligh sekilas terperangah. Awalnya mereka mengira bawah Arca Rein telah berubah setelah bertemu dengan Odo. Namun setelah melihat ekspresi yang sering pemuda rambut pirang itu perlihatkan saat merencanakan hal licik, Logi dan Ligh paham bahwa sifat seseorang memang tidak bisa berubah semudah yang mereka kira.


Anehnya, dalam benak kedua Butler tersebut malah diisi oleh rasa senang dan lega. “Seperti itulah Tuan kami! Seperti itulah seharusnya Arca Rein!” itulah yang mereka rasakan saat melihat senyum licik Arca.


“Kalian tak perlu cemas, rencananya sudah aku pikirkan. Hanya tinggal kita liat serangga di atas sana akan terpancing atau tidak ….” Arca melepaskan kedua sepatunya, lalu membuangnya tanpa berpikir dua kali. Sembari membuka salah satu halaman Et in Caelesti, ia dengan seringai lebar kembali berkata, “Kalian jangan sampai mengacaukan ini. Jujur saja, aku tak terlalu tahu tingkatan sihir Elf. Meski dari Moloia dan memiliki kapasitas Mana mereka lebih sedikit dari yang ada Kerajaan kita, seharusnya Elf adalah ras yang memiliki kemampuan pengendalian sihir yang tinggi. Karena itu, kita sebaiknya menghindari pertarungan jangka panjang ….”


.


.


.


.


Di langit kota Mylta. Layaknya jelmaan makhluk mistis dalam cerita dongeng tentang keajaiban dari hutan yang dalam, perempuan rambut pirang tersebut terbang dengan begitu indah. Ether berkumpul menuju tubuhnya dan diubah menjadi Mana dalam kekuasaannya, tertarik manifestasi sayap kupu-kupu dari partikel cahaya tujuh warna yang terhubung dengan Dunia Astral.


Di langit malam  Kota Mylta, ialah sang Letnan Dua Prajurit Peri, Laura Sam’kloi, menyiapkan sihirnya dan menyusun beberapa lapisan struktur dengan senapan M1 Garand sebagai perantara.


Tidak seperti rekan-rekannya yang menyusup untuk menyerang Odo di toko, Laura mengenakan pakaian tempur lengkap dengan desain ketat hitam. Pada pinggangnya melingkar sabuk berisi beberapa tabung bahan peledak, lalu ia juga mengenakan rompi dengan saku yang berisi beberapa alat sihir pembantu lainnya.


Sembari melayang dengan stabil, partikel tujuh warna yang berkumpul di sekitar tubuhnya secara bertahap memusat ke moncong senapan, memadat dan menciptakan bola plasma yang perlahan mengalami proses pemadatan menjadi matahari mini dengan radiasi tinggi. Suhu mulai naik, perisai dari partikel cahaya pun terbentang di sekitar tubuhnya untuk menghalau efek suhu tersebut.


Rune penstabil mulai terbentang, keluar dan melingkar di sekitar sepanjang selongsong senjatanya. Lingkaran sihir koordinasi ruang dibentuk di sekitar mata kanan Laura, berfungsi sebagai media analisis distorsi ruang dari proses pengaktifan sihir Parva Nuclear.


Di saat perapalan Sihir Peledak Radiasi tersebut baru memasuki tahap awal pembentukan matahari mini, sihir sensor milik Laura tiba-tiba mendeteksi hal lain selain perubahan distorsi ruang di sekitar ujung senapannya. Itu bergerak dengan cepat dari ketinggian di bawahnya, mengarah lurus menuju tempatnya yang melayang di ketinggian lebih dari 1.200 meter.


“Apa itu? Seorang penyihir? Bukan⸻!!”


Dalam jarak kurang dari 300 meter dari tempatnya melayang, dengan jelas Laura melihat sosok yang melesat cepat ke arahnya. Dia bukanlah seorang penyihir yang bisa menggunakan sapu terbang atau sihir semacamnya, melainkan seorang pemuda rambut pirang yang melesat dengan berlari menendang udara.


Dengan tanpa alas kaki, Arca Rein berlari di udara dengan memanfaatkan kemampuan Grimoire miliknya. Et in Caelesti secara garis besar memiliki fungsi untuk mengendalikan apa saja yang memiliki kontak fisik dengan tubuhnya, tentu saja itu juga bisa berlaku untuk zat tak kasatmata seperti udara sekalipun.


Memanipulasi dan mengendalikan udara yang bersentuhan dengan telapak kakinya, Arca menggunakan itu untuk berlari di udara dan melesat menuju tempat Laura berada. Tentu saja cara tersebut memiliki banyak kekurangan, terutama dalam hal stamina karena Arca harus berlari dan menggunakan stamina secara langsung.


Laura yang mengenali Putra Sulung Keluarga Rein itu seketika terbelalak. Meski dirinya tahu bahwa Arca berada di Kota Mylta, namun dirinya tidak mengira bahwa yang akan menghadangnya adalah pemuda tersebut.


“Tch! Dasar bangsawan keparat ….”

__ADS_1


__ADS_2