Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[108] Serpent VIII – Buhul Dependensi (Part 05)


__ADS_3

“Sudahlah, kita lanjutkan pembicaraannya.” Odo bertepuk tangan untuk menarik perhatian mereka. Menghela napas sejenak dan memperlihatkan wajah serius, pemuda rambut hitam itu lanjut menyampaikan, “Intinya! Aku bisa melakukan kontrak dengan setiap Roh Agung dan menanamkan unsur perkembangbiakan. Dengan begitu, meskipun akan memerlukan waktu yang lebih lama, siklus bisa berjalan lagi dan Roh Tingkat Rendah dapat terlahir pada tiap ekosistem.”


Sedikit tertarik dengan hal tersebut, Vil lekas memberikan tatapan penuh antusias dan bertanya, “Konsepnya sama seperti kontrak yang engkau buat dengan Reyah?”


“Kurang lebih mirip,” jawab Odo dengan singkat. Menjentikkan jari sebagai tanda tanpa makna, pemuda rambut hitam itu lanjut menjelaskan, “Daripada kualitas, kontrak akan berfokus pada kuantitas. Kalau hanya untuk menjaga siklus, seharusnya itu tidak masalah karena mereka bisa berkembang seiring berjalannya waktu.”


“Hmm, masuk akal juga.” Leviathan cukup memahami hal tersebut. Jika memang hanya untuk mempertahankan suatu ras, perkembangbiakan memang harus mengutamakan kuantitas terlebih dahulu sebelum kualitas. Menatap satu persatu Roh Agung yang mendengarkan pembicaraan tersebut, Putri Naga itu dengan nada sedikit ragu bertanya, “Apakah kalian setuju? Sebagai perwakilan masing-masing ekosistem, apa tidak keberatan jika unsur keberadaan pemuda mesum ini ditanamkan pada diri kalian?”


“Woy!” Odo terkejut dengan satu kata yang seharusnya tidak perlu diselipkan.


“Sebentar, boleh diriku meluruskan sesuatu dulu?” Vil menyela dengan tatapan sedikit cemas. Setelah mempertimbangkan beberapa hal penting terkait alternatif yang sedang dibahas, Roh Agung tersebut lekas memastikan, “Seperti yang telah Odo sampaikan, menanamkan itu mirip seperti kontrak yang dirinya dan Reyah lakukan, bukan? Meskipun tidak memerlukan hubungan intim, bukankah itu hanya bisa berlaku antara unsur perempuan dan laki-laki? Bagaimana dengan Ifrit? Unsurnya itu⸻?”


“Bukannya Ifrit enggak punya jenis kelamin tetap?” sela Diana dalam pembicaraan. Seakan dirinya tidak merasa keberatan dengan saran tersebut, Empusa itu berjalan mendekat sembari lanjut menyampaikan, “Dia seorang Vermilion, sosok Roh Agung yang lahir dan hidup kembali dari kobaran api. Seharusnya tidak ada ketetapan dalam jenis kelamin Ifrit.”


“Ah, benar juga.” Sekilas kedua mata Vil terbuka lebar setelah dirinya menyadari sesuatu. Namun, tatapannya tampak gelap seakan tidak melihat pembicaraan dengan akal sehat. Setelah melempar senyum suram, tanpa ragu perempuan rambut biru tersebut lekas menyarankan, “Kita bisa menyuruhnya mati dan terlahir kembali menjadi perempuan.”


Perkataannya membuat semua orang terkejut, merasa bahwa Roh Agung itu benar-benar telah menyimpang dalam artian yang lebih kelam. Baik dalam akal sehat, cara pandang, maupun perilaku yang cenderung destruktif.


“Nona Vil ….” Alyssum yang sedari tadi diam kembali ikut bicara. Memberikan tatapan takut dan memegang erat lengan Odo, dengan wajah pucat Roh Kecil tersebut berkata, “Padahal Nona kelihatannya kalem, namun kalau bicara seram sekali.”


“Hmm?” Vil menoleh dengan tatapan gelap, sedikit memancarkan kebencian saat melihat Alyssum dekat-dekat dengan pemuda itu.


“Apa kepalamu kebentur?” Odo menatap datar, paham bahwa ada sesuatu yang janggal dari Siren tersebut. Menghela napas dan memutuskan untuk tidak membahasnya, pemuda rambut hitam itu lanjut berkata, “Sudahlah! Kalian tidak perlu memusatkannya sekarang! Apapun itu, semuanya akan ditentukan saat kita tahu perubahan yang terjadi pada Realm ini.”


“Maaf menyela pembicaraan kalian, boleh saya bertanya sesuatu?” Diana kembali masuk ke dalam pembicaraan. Seakan dirinya telah menunggu perkataan itu, Roh Agung berkulit gelap tersebut lanjut meminta, “Mungkin ini terdengar sangat wajar. Namun, sepertinya kalian tidak ingin membahas hal ini. Apakah boleh saya menyinggungnya?”


“Tentang apa?” Odo sedikit mengerutkan kening karena perkataan Diana yang terkesan berkelit. Memasang senyum kaku, pemuda itu langsung menjawab, “Silahkan ditanyakan saja.”


“Metode, tepatnya cara Tuan Odo mengetahui perubahan Realm ini merupakan Restorasi Dunia atau bukan⸻?”


“Sederhana ….” Odo langsung menyela tanpa membuang waktu. Melebarkan senyum penuh percaya diri, pemuda rambut hitam tersebut lekas menyampaikan, “Kita tunggu Reyah dan yang lain datang. Kalau mereka menemukan aliran Ether dan membuahkan hasil, berarti ini murni Restorasi Dunia.”


“Kenapa begitu?” tanya Diana bingung.


“Itu karena Vil!” Odo lekas menunjuk ke arah sang Siren. Tanpa membuang ekspresi penuh rasa percaya diri, pemuda itu dengan suara lantang menjawab, “Tadi setelah menyelam dan memeriksa Laut Utara, dia tidak menemukan apa-apa kecuali aliran Ether yang tipis!”


“Hubungannya apa?”


“Hubungannya?”


Vil dan Diana bertanya secara bersamaan, sangat penasaran dangan kausalitas yang ada pada kedua hal tersebut. Serempak menatap Odo dengan serius, merasa bahwa pemuda itu lebih paham tentang Dunia Astral daripada mereka sendiri.


“Kalau dijelaskan rumit.” Saat ditatap seperti itu, Odo Luke langsung enggan untuk menjelaskan secara rinci. Sedikit menjaga jarak dan tersenyum kaku, pemuda itu lekas menyampaikan, “Intinya, kalau ada alirannya berarti Core Realm berada pada tempat yang bisa dijangkau. Kalau masih bisa dijangkau, berarti itu tidak dimanipulasi dan murni Rekonstruksi Dunia.”


“Sebentar!” Leviathan menyela dengan bingung. Lekas menarik tangan Odo untuk membuatnya mendekat, Putri Naga tersebut dengan wajah serius bertanya, “Bukannya tadi engkau bilang sudah melacak Core Realm-nya?”

__ADS_1


“Hmm ….” Odo menangguk pelan. Memperlihatkan wajah bingung saat melihat reaksi Leviathan, pemuda itu mengacungkan telunjuk kirinya ke depan dan menegaskan, “Memang sudah ketemu.”


“Berarti sudah tahu kalau itu terjangkau atau tidak, bukan?” tanya Leviathan sekali lagi, dengan nada tegas dan mendekatkan wajah.


“Meski tahu letaknya, aku belum bisa memastikan itu terjangkau atau tidak.” Odo menarik tangannya dari Leviathan, melangkah mundur dan menjauh karena sedikit cemas dengan tatapan Vil yang semakin suram. Seraya memalingkan pandangan, pemuda itu dengan nada sedikit gemetar menyampaikan, “Lagi pula, diriku ini makhluk Dunia Nyata. Bukan penduduk Dunia Astral …. Ada beberapa tempat yang tidak bisa ku dijamah.”


“A⸻!” Leviathan langsung menyadarinya. Meletakkan tangan kanan ke dagu dan berbalik dari lawan bicara, Putri Naga tersebut lekas bergumam, “Letak Core itu berada pada tingkat dimensi yang berbeda, jelas saja tidak bisa dilacak jika menggunakan metode biasa.”


“Tepat ….” Odo bertepuk tangan sekali. Memang senyum lembut, pemuda itu dengan mimik wajah penuh rasa percaya diri menyampaikan, “Makanya, kita harus menunggu mereka sebelum mengambil langkah.”


“Tapi ….” Leviathan balik menghadap, memperlihatkan mimik wajah bimbang karena masih ada beberapa hal yang mengganjal.


“Kenapa?” Odo bingung melihat reaksi seperti itu. Mendekatkan wajah dan menatap dari dekat, pemuda rambut hitam tersebut lekas bertanya, “Apa saranku terlalu memberatkan?”


“Bukan, hanya saja ....” Leviathan menggelengkan kepala dengan pelan. Mempertimbangkan beberapa hal lain terkait kepentingan lawan bicaranya, Putri Naga dengan cemas lekas mengingatkan, “Bukankah engkau punya urusan lain di Dunia Nyata? Apa tidak masalah kalau engkau berlama-lama di tempat ini? Kalau strukturnya berubah, seharusnya perbedaan waktu Realm ini juga mengalami perubahan. Bisa saja waktunya malah setara dengan Dunia Nyata.”


“Prioritas ku berubah.” Odo tanpa ragu mengambil keputusan. Seakan telah menemukan pion yang lebih meyakinkan daripada orang-orang di Dunia Nyata, pemuda rambut hitam itu langsung menegaskan, “Meskipun akan menghadapi peperangan, seharusnya itu tidak masalah mengingat kondisi Rockfield yang sudah mulai stabil. Selama tidak ada faktor bias, seharusnya mereka dapat bertahan sampai dua minggu lebih.”


“Dua minggu? Kenapa bisa tahu waktunya secara spesifik begitu?” Leviathan memiringkan kepala dengan bingung.


“Sebelum pergi ke Dunia Astral ini, aku sudah mempertimbangkan berbagai macam kemungkinan ….” Odo menunjuk ke bawah. Melebarkan senyum seakan dirinya telah mengetahui segala peristiwa, pemuda rambut hitam itu dengan nada angkuh lanjut berkata, “Pembicaraan ini juga masuk dalam rentetan kemungkinan itu.”


“Eh?” Leviathan terkejut, memperlihatkan ekspresi tidak percaya dan mulai menjaga jarak.


“Meski saran yang kau ajukan cukup mengejutkan, namun aku sudah memperkirakan intinya. Karena itulah, aku tahu apa yang kau incar sekarang.” Odo berhenti menunjuk. Sekilas mengangkat kedua sisi pundak, pemuda itu dengan remeh lanjut menyampaikan, “Lagi pula, tidak mungkin seorang Putri Naga mau meminjamkan kekuatannya begitu saja. Pasti ada syarat yang menyusahkan.”


“Itu hanya batas waktu awal,” sela Odo dengan tegas. Pemuda itu mengangkat tiga jari tangan kanan, lalu sembari menurunkannya satu persatu menyebutkan, “Batas alternatif, batas prioritas, lalu batas tenggat waktu akhir. Secara keseluruhan, aku punya empat waktu yang bisa diulur.”


“Kenapa tidak bilang dari awal?! Diriku sangat pusing saat menyusun rencana untuk membujuk engkau, loh!”


“Hmm …” Odo memalingkan pandangan. Dengan mimik wajah sedikit resah, ia dengan sedikit ragu menyampaikan, “Pada setiap batas waktu tersebut, nyawa orang-orang dipertaruhkan. Alangkah baiknya kalau aku langsung mendapatkan Azure El Mar dan kembali sekarang juga.”


“Eh? Sebentar? Nyawa?” Wajah Leviathan langsung memucat saat mendengar itu.


“Dalam perang tidak ada yang pasti, korban akan jatuh saat anak panah melesat dan pedang diayunkan.” Odo menatap dengan tajam. Seakan dirinya tidak peduli dengan semua itu, ia dengan nada dingin menyampaikan, “Aku menentukan tenggat waktu hanya berdasarkan prioritas sampai perang berakhir, bukan korban jiwa maupun dampak kerusakan.”


“Apa engkau tidak⸻?”


“Tidak peduli dengan nyawa mereka?” Odo tersenyum dingin. Merasa sedikit muak dengan pertanyaan yang terkesan munafik, pemuda itu lekas menunjuk lurus dan dengan tegas menjawab, “Kalau tidak peduli, mana mungkin aku berdiri di sini untuk melakukan pembicaraan menyusahkan!”


“Itu … benar juga.”


Leviathan memalingkan wajah dengan berat. Meski dirinya merupakan makhluk berumur panjang dan telah melihat berbagai macam kematian, namun tetap perkara itu bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan dengan jawaban singkat.


Sebagai makhluk primal, Leviathan masih memiliki hati nurani dan keterikatan yang kuat dengan manusia di Dunia Nyata. Karena itulah, Putri Naga tersebut tidak bisa langsung menetapkan prioritasnya setelah mendengar perkataan Odo.

__ADS_1


“Apapun pilihannya, aku akan mengikuti keputusanmu.” Layaknya seorang induk singa yang mendorong anaknya ke jurang, pemuda rambut hitam itu membuka telapak tangan dan menawarkan, “Untuk rencana biarkan diriku yang menyusun, pelaksaannya pun biarkan diriku yang melakukannya. Entah itu hal kejam maupun merepotkan, biarkan pemuda ini yang mengurus semuanya. Namun, pengambilan keputusan dan tanggung jawab harus dengan kehendakmu sendiri.”


“Itu ….?”


Wajah Leviathan langsung memucat, tidak bisa langsung menjawab dan terdiam membisu dalam rasa cemas. Bimbang mengisi benak, namun pada saat yang sama dirinya paham bahwa tawaran tersebut sangatlah masuk akal.


Tidak ada pembebanan. Baik itu tentang pengambilan keputusan maupun tanggung jawab yang ada di dalamnya, semua hal tersebut merupakan sesuatu yang harus ditanggung pemberi gagasan. Dalam pembahasan tersebut, kedua hal itu harus dipegang oleh Leviathan yang ingin mendirikan negeri di Dunia Astral.


Odo membuka tangan kirinya ke depan untuk kembali mendesak. Seraya memberikan tatapan kosong, pemuda itu dengan nada tegas menyampaikan, “Ingin fokus melakukan pembangunan negeri di Dunia Astral seperti yang kau dan Seliari harapan, atau pergi menuju Dunia Nyata terlebih dulu untuk menyelesaikan permasalahan di sana? Silakan pilih, wahai Putri Naga Leviathan?”


Leviathan merasa enggan untuk memilih, samar-samar paham dengan konsekuensi yang ada pada kedua pilihan tersebut. Itu membuatnya melangkah mundur, memberikan tatapan bingung sampai-sampai wajahnya semakin memucat.


Setelah mempertimbangkan banyak faktor dan kemungkinan, nurani dalam hati Leviathan lebih unggul daripada pemikiran rasional. Hal tersebut membuatnya memberikan kompromi terhadap rencana yang telah dibicarakan. Memutuskan untuk menunda, Putri Naga itu mengangkat tangannya dan hendak meraih tangan kiri Odo.


“Kalau boleh jujur, aku lebih suka pilihan pertama ….” Seakan ingin mencegah pilihan tersebut, Odo melebarkan senyum tipis dan kembali menghasut, “Meskipun pergi ke sana, korban jiwa akan tetap ada dan kita tidak melakukan apa-apa. Kita hanya bisa mengurangi dampak peperangan, tidak bisa mencegah atau bahkan meniadakan prosesnya.”


“Kenapa?”  Leviathan menghentikan tangannya dan gemetar, kembali ragu untuk memilih dan goyah dengan mudah.


“Loh, kenapa malah balik tanya?” Odo sedikit memiringkan kepala. Benar-benar merepresentasikan sifat Iblis yang sering disampaikan dalam dongeng, pemuda itu dengan mimik wajah tidak peduli menjawab, “Ini hanya masalah efektivitas dan efisiensi, mencari langkah paling optimal untuk mencapai tujuan kita⸻”


“Bukan itu!” Leviathan membentak. Dalam terpaan angin laut yang terasa lengket dan dingin di kulitnya, dengan wajah dipenuhi ketakutan Putri Naga lanjut bertanya, “Yang ingin diriku tahu, kenapa kita tidak bisa melakukan apa-apa meski datang ke tempat perang? Bisa saja diriku menunjukkan kekuatan dan melerai mereka?! Atau melakukan negosiasi supaya kedua pihak tidak melanjutkan konflik!”


“Itu bisa saja, namun terlalu indah untuk jadi kenyataan. Sangat naif dan busuk ….” Odo berhenti mengulurkan kedua tangan. Paham bahwa Leviathan lemah terhadap pilihan semacam itu, pemuda rambut hitam tersebut sejenak menundukkan wajah dan menyampaikan, “Apa yang kau lakukan hanya akan mengubah haluan perang, dari saling menghancurkan menjadi menjatuhkan kau sebagai musuh utama.”


“Apa … yang engkau bicarakan?” Leviathan semakin cemas. Dalam pikiran paham dengan pokok yang ingin disampaikan pemuda itu, tetapi benak tidak ingin menerimanya.


“Apa Seliari tidak pernah cerita?” Odo menarik napas pelan, tampak lelah dengan pembicaraan yang terlalu berkelit dan membosankan. Sejenak mendongak dan menatap awan cerah, pemuda rambut hitam tersebut dengan lesu menyampaikan, “Waktu Perang Besar, dia sempat mau merusuh dan berakhir jadi samsak orang-orang yang sedang bertempur. Awalnya memang dia datang karena dipanggil oleh Penyihir Agung dari Miquator, untuk diadu dengan Raja Iblis Kuno yang hampir bangkit. Tetapi, intinya bukan itu.”


“Intinya?”


“Ya, inti ….” Odo menatap lawan bicaranya dengan senyum lembut. Kembali membuka kedua tangan ke depan, pemuda itu sekali memberikan tawaran seraya menjelaskan, “Pada akhirnya, perang adalah konflik antara negeri. Untuk bisa menghentikannya, kau perlu sebuah negeri untuk melakukan interpretasi. Karena alasan sederhana ini, aku mau menerima tawaranmu meski tahu itu menyusahkan dan kurang efektif.”


“Begitu, ya ….” Meski memahami perkataannya, Leviathan tidak menangkap maksud yang tersirat dalam pernyataan tersebut. Memalingkan pandangan dan kembali meragu, Putri Naga dengan muram bergumam, “Diriku terlalu meremehkan masalah ini.”


“Jadi ….” Odo mengambil satu langkah mendekat. Tidak ingin pembicaraan kembali melebar, pemuda itu dengan nada tegas kembali bertanya, “Apa yang engkau pilih, wahai Putri Naga?”


“Tetap di sini dan melanjutkan pendirian sampai tahap tertentu.” Leviathan meraih tangan kanan Odo. Memasang senyum dengan wajah pucat pasi, Putri Naga berusaha menyembunyikan kegelisahan dengan bertanya, “Engkau masih punya batas waktu, ‘kan? Mari kita selesaikan masalah siklus kelahiran secepatnya! Baru setelah itu pergi ke Dunia Nyata untuk menyelesaikan masalah di sana.”


“Hmm, terima kasih.” Odo berhenti tersenyum. Puas dengan hasil pembicaraan, ia dengan nada ringan berkata, “Keputusan yang tepatt. Ini keputusan yang sangat tepat, Putri Naga.”


\=================================


Catatan :


Full ngobrol ….

__ADS_1


See You Next Time!!


Asli, akhir tahun selalu sibuk memang.


__ADS_2