Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[98] Angelus III – Grey Duty (Part 01)


__ADS_3

 


 


 


 


Ahli dari masa lalu pernah berkata, kenangan adalah sesuatu yang membentuk kepribadian seseorang. Memberikan pengaruh atas pertumbuhan seorang individu.


 


 


Entah itu dalam ingatan tentang hal buruk, baik, pengetahuan, atau bahkan peristiwa sepele sekalipun. Semua hal tersebut akan mempengaruhi pola pikir seseorang.


 


 


Namun, tidak selalu apa yang diingat dari sebuah peristiwa akan sama untuk setiap individu. Saat dua anak kecil duduk menonton sebuah perkelahian di pinggir jalan, mereka bisa menangkapnya dalam berbagai macam persepsi.


 


 


Satu anak bisa menganggap bahwa kekerasan adalah hal buruk. Namun, anak satunya bisa juga menganggap itu adalah hal menyenangkan karena bisa mendudukkan orang lain dengan kekuatan.


 


 


Apapun itu, pada perkembangan tersebut orang tua tidak bisa mengendalikan anak-anak mereka dalam aspek persepsi. Apa yang bisa dilakukan hanya melarang sang anak melihat hal buruk tersebut, untuk mencegah pola pikir negatif tumbuh.


 


 


Meski sudah dijelaskan bahwa kekerasan adalah hal buruk, anak terkadang menangkap hal yang berbeda. Dalam kebaikan sekalipun, terkadang anak-anak malah menangkap dengan cara buruk. Meski dirinya tumbuh di lingkungan yang terjaga.


 


 


Sebab itulah, pada dasarnya kenangan atau pengetahuan tidak sepenuhnya mempengaruhi kepribadian seorang anak. Melainkan sifat dasar pada jiwa dan akal mereka masing-masing.


 


 


Tidak terbatas untuk anak-anak, kasus tersebut juga berlaku pada orang dewasa. Mereka yang telah memiliki bentuk kepribadian paten cenderung akan memegang teguh cara pandang, lalu memiliki sifat sukar untuk berubah. Semakin dewasa kepribadian seseorang, maka ia akan semakin keras kepala dan berpikiran sempit.


 


 


Semua hal tersebut juga berlaku untuk Odo Luke. Kenangan-kenangan kental dari Dunia Sebelumnya, sesuatu yang mengikat pemuda itu pada sebuah kewajiban yang harus dipenuhi. Meski sekarang telah memiliki nama, lingkungan, dan bentuk kehidupan yang berbeda, kenangan yang terus timbul ke permukaan seakan mempengaruhi dari dalam.


 


 


Namun, semua itu bukan berarti mengubah kepribadian Odo Luke secara mendasar. Ingatan hanya mempengaruhi tindakan yang pemuda rambut hitam tersebut ambil sekarang. Menuntun dirinya sendiri menggunakan sesuatu yang disebut pengalaman, supaya tidak menyesal di kemudian hari dalam bentuk kenangan yang telanjur ada.


 


 


Perpustakaan Sihir, Luke Scientia ⸻


 


 


Sebuah tempat berbentuk menara yang memiliki 12 lantai, berisi ratusan rak, bahkan sampai ribuan buku sihir. Memiliki desain arsitektur klasik, lalu dari lantai dasar bisa langsung melihat langit-langit kubah sebab pada bagian tengah berongga.


 


 


Tiap lantai dihubungkan oleh anak tangga, lalu kristal-kristal sihir terpasang pada setiap sudut sebagai sumber pencahayaan. Lantai terbuat dari keramik alam, sedangkan dinding memiliki struktur formula sihir untuk mempertahankan Roh Agung penghuni perpustakaan.


 


 


Dalam bangunan menara yang berdiri kukuh di sebelah Mansion Keluarga Luke, Odo duduk pada sebuah kursi kayu. Berada di lantai satu perpustakaan, lalu pada meja di hadapannya tersaji camilan kue kering yang belum tersentuh.


 


 


Sinar dari lampu-lampu kristal memapar seisi ruangan, tidak peduli itu pagi ataupun malam. Aliran-aliran Ether di udara tampak begitu halus, lalu sesekali berubah menjadi Mana saat diserap roh-roh tingkat rendah yang melayang-layang di udara.


 


 


Pada meja bundar yang sama, Mavis Luke duduk berhadapan dengan Putranya tersebut. Tanpa sedikitpun menyentuh camilan yang tersedia, wanita rambut pirang itu hanya diam dengan wajah pucat pasi. Menatap heran sekaligus cemas setelah mendengar penjelasan yang diberikan.


 


 


“Putraku …, sungguh kamu habis baru dari Rockfield?” Dari sekian panjang penjelasan yang Odo berikan, pertanyaan itu keluar dari mulut Mavis. Bersama dengan tatapan penuh rasa cemas yang terpancar, wanita rambut pirang tersebut kembali memastikan, “Terus kamu juga ikut campur masalah politik di sana? Sama seperti kamu ikut campur masalah politik Mylta?”


 


 


Putra Tunggal Keluarga Luke tidak segera menjawab. Dalam penjelasan panjang lebar yang diberikan, ia telah menyampaikan hampir semua kegiatannya di Rockfield selama satu minggu terakhir. Entah itu tentang membantu Keluarga Stein, terlibat urusan politik, sampai melatih seseorang pria untuk duel penentuan masa depan Kota Pegunungan tersebut.


 


 


Meski ada beberapa hal yang tidak disampaikan, apa yang Odo ceritakan bukanlah kebohongan. Itu murni tanpa sedikitpun manipulasi, membuat apa yang diucapkan terdengar sangat nyata di telinga sang Ibu.


 


 


Mengingat duel yang telah Putranya ceritakan, Mavis merasa semakin percaya. Salah satu Prajurit Elite, Jonatan Quilta. Selain muncul dalam cerita yang disampaikan oleh Putranya, nama tersebut juga tercantum pada beberapa surat pemberitahuan yang dirinya urus selama beberapa hari terakhir.


 


 


Dalam rangka peremajaan pejabat pemerintah yang disusun oleh Raja Gaiel, Prajurit Elite tersebut direncanakan akan menjadi Walikota Rockfield menggantikan Keluarga Stein. Namun setelah mendengar cerita yang disampaikan, Mavis segera paham bahwa kemungkinan besar itu gagal mengingat sang Walikota Rockfield telah pulih dan Keluarga Stein kembali berkuasa.


 


 


Bagi Mavis sendiri, hal tersebut terdengar cukup tidak menyenangkan. Mengingat sikap yang diberikan oleh Oma Stein selama acara pertunangan, dalam benak Penyihir Cahaya setuju dengan rencana yang dibuat oleh Raja Gaiel. Secara pribadi, wanita rambut pirang tersebut ingin melihat Keluarga Baron tersebut dibersihkan dari daftar pejabat.


 


 


Dalam mimik wajah bingung, Mavis meletakkan tangan ke depan mulut dan terdiam. Bersandar pada kursi, lalu memikirkan baik-baik situasi yang ada. Dalam benak, Penyihir Cahaya merasa Odo memiliki alasan tersendiri untuk membantu Keluarga Stein. Namun, di sisi lain ia juga cemas karena bisa saja Putranya hanya dimanfaatkan.


 


 


“Tuan Odo yakin sudah melakukan hal yang benar?” Saat Mavis terdiam dan mempertimbangkan situasi, Fiola yang berdiri di belakang majikannya tanpa ragu mengusik bagian sensitif. Sembari menatap tidak percaya dan meragukan, Huli Jing tersebut kembali berkata, “Mungkin Anda tidak tahu, Keluarga Stein itu terkenal licik di belakang dan sering sekali menjagal bangsawan lain. Rumor tersebut memang hanya mencangkup Oma Stein. Namun, tidak kecil kemungkinan kalau anak-anaknya tidak mewarisi sifat licik bedebah itu.”


 


 


Odo terdiam sesaat, segera paham cara pandang yang ada setelah melihat reaksi mereka berdua. Layaknya sudah mengambil keputusan sendiri dari awal, pemuda rambut hitam tersebut tersenyum lebar. Dengan wajah penuh rasa percaya diri, ia sedikit memalingkan pandangan ke lantai dua perpustakaan seakan tidak peduli dengan hal yang sudah berlalu.


 


 

__ADS_1


“Ini memang terdengar aneh. Namun, aku cukup percaya diri dengan kemampuan ku dalam menilai orang lain.” Odo melirik ke arah Mavis dan Fiola. Sembari melempar senyum hangat, ia dengan jelas menyampaikan, “Tuan Oma memang sampah. Namun, aku rasa Nona Ri’aima adalah orang baik. Paling tidak, dirinya punya prinsip sendiri dalam menjalani hidup.”


 


 


“Ri’aima ….” Mavis terpancing dengan nama tersebut. Mengingat-ingat kembali tentang Keluarga Stein, wanita rambut pirang itu memastikan, “Kalau tidak salah, itu nama anak pertama Nyonya Agathe, ‘kan?”


 


 


Kedua mata Odo terbuka lebar saat mendengar hal tersebut. Segera menoleh, ia memasang mimik wajah penasaran dan balik bertanya, “Bunda kenal dengan Nyonya Agathe?”


 


 


“Tentu saja kenal ….” Mavis menurunkan tangan dari depan mulut. Sedikit menghela napas ringan, wanita rambut pirang tersebut menjelaskan, “Putraku, apakah kamu lupa bahwa Bundamu ini adalah seorang Marchioness. Dulu sebelum Bunda jatuh sakit, menghadiri pesta dan acara para bangsawan sudah menjadi seperti sarapan. Meski tidak ingin, kenal dengan wanita-wanita dari kalangan bangsawan seakan menjadi keharusan.”


 


 


Odo memperlihatkan ekspresi seakan baru mengetahui hal tersebut. Tetapi, sebenarnya ia samar-samar telah menduganya setelah tahu Agathe cukup kenal dengan Mavis. Ingin membuat pembicaraan berjalan secara alami, pemuda itu sedikit memalingkan pandangan dalam bingung.


 


 


“Dari cara bicara Nyonya Agathe, kesannya beliau menganggap Bunda sebagai wanita yang dingin, loh. Dihormati banyak wanita, lalu menjadi sosok yang terkesan tidak peduli dengan sekitar.” Odo menatap lurus dengan wajah meledek. Bermaksud bercanda untuk mencairkan suasana, pemuda itu mengacungkan jari telunjuk ke depan dan menambahkan, “Beliau juga menghormati Bunda karena sifat dingin tersebut.”


 


 


“Soal sifat yang dingin, bukankah Agathe itu lebih dingin dari Bunda?” Mavis sedikit memasang wajah cemberut. Merasa tidak nyaman disebut sebagai wanita dingin, ia dengan nada ketus membantah, “Bunda tidak merasa pernah bersikap dingin. Itu hanya perilaku yang sudah sepantasnya diperlihatkan oleh seorang Marchioness! Kesan itu penting dalam dunia bangsawan!”


 


 


“Aku paham, kok ….” Odo memasang senyum tipis. Seakan sedang menggoda Ibunya sendiri, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Bunda bersikap dingin karena pekerjaan, bukan? Kalau bukan, tidak mungkin sekarang Bunda memberikan perhatian kepadaku seperti ini.”


 


 


“Oh, oh ….” Mavis tersenyum tipis. Sembari meletakan siku ke atas meja dan menyangga kepala dengan kedua tangan, wanita rambut pirang tersebut berkata, “Sekarang ini Putraku sudah tahu cara menggoda perempuan, ya? Kira-kira siapa yang mengajarinya selama pergi ke Rockfield?”


 


 


“Tidak ada yang mengajari, kok.” Odo sekilas mengangkat kedua pundak. Dengan tatapan santai, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Aku hanya sedang membandingkan. Setelah berbicara dan melihat Nyonya dari keluarga bangsawan lain, rasanya aku sangat diberkahi karena memiliki Bunda.”


 


 


Mendengar itu, Mavis seketika merasa sangat senang. Namun, pada saat yang sama ia merasa sedikit cemas dengan apa yang Putranya lihat di Keluarga Stein.


 


 


“Memangnya … Nyonya Agathe juga sifatnya dingin kepada keluarganya sendiri?” tanya Mavis memastikan.


 


 


“Bukan dingin lagi, itu sudah sampai pada tingkat seperti tidak peduli.” Odo menghela napas. Berusaha untuk tidak berbohong dalam hal tersebut, pemuda itu menyampaikan, “Nyonya Agathe bahkan terkesan seperti benci kepada Tuan Oma, suaminya sendiri.”


 


 


Mavis tersentak setelah mendengar itu, merasa bahwa rumor tentang Keluarga Stein benar apa adanya. Tentang tuduhan kekejaman Oma selama masa transisi kekuasaan, apa yang dilakukan pria tersebut kepada istrinya sendiri, lalu juga tentang status Keluarga Stein yang didapat dari darah yang ditumpahkan.


 


 


 


 


“Hmm, aku menyadarinya.” Odo menyandarkan tubuh ke kursi. Menghela napas panjang dan mendongak, lalu sembari menatap langit-langit perpustakaan pemuda itu dengan jelas menyampaikan, “Namun, tetap saja aku rasa itu keputusan yang tepat. Meski Prajurit Elite yang dikirim Raja Gaiel memiliki kapabilitas dan kredibilitas yang tinggi, ia tetap tidak punya pengalaman sebesar Tuan Oma. Daripada menyerahkan Kota Pegunungan kepada amatir, aku lebih ingin bertaruh kepada yang berpengalaman meski memiliki reputasi buruk.”


 


 


Mendengar pendapat Odo yang telah melihat kondisi Rockfield secara langsung, Mavis malah menangkan hal tersebut dalam artian yang berbeda. Wanita rambut pirang tersebut menatap datar dan dengan heran bertanya, “Serendah itukah kemampuan Prajurit Elite yang diutus Raja Gaiel? Sampai-sampai kamu harus memihak keluarga bermasalah itu?”


 


 


Odo seketika memasang mimik wajah datar. Menatap ke arah lawan bicara, ia dengan nada sedikit resah berkata, “Tidak juga. Selain kuat, Tuan Jonatan juga cukup ahli dalam mengurus politik kota. Hanya saja …, dia kurang paham dengan yang namanya harus mementingkan pengaruh daripada idealitas.”


 


 


Mendengar hal tersebut, Mavis malah memperlihatkan ekspresi bingung. “Dalam memimpin, bukankah idealitas itu menjadi hal yang utama?” tanyanya memastikan.


 


 


“Ya, itu juga merupakan pendekatan lain dalam politik.” Odo memalingkan pandangan. Sedikit memperlihatkan ekspresi muram, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan hal yang berlawanan, “Namun, di sisi lain idealitas hanyalah sebuah alat untuk mendapatkan pengaruh dari masyarakat. Dalam politik, terkadang ada waktu ketika mendapatkan pengaruh harus diutamakan daripada mempertahankan idealitas pribadi. Meski itu sangat melelahkan karena seperti menjilat ludah sendiri.”


 


 


Mavis terdiam mendengar itu, merasa Putranya tersebut memiliki cara pandang tersendiri dalam dunia politik. Telah belajar tentang gelapnya dunia para bangsawan, lalu mengembangkan cara tersendiri untuk menangani sesuatu yang berlawanan dengan cara pandangannya.


 


 


Itu sedikit membuat Mavis senang, sebab dirinya tidak perlu melakukan hal berat seperti mengenalkan kebusukan dunia bangsawan kepada Odo. Namun, sebagai seorang Ibu dirinya juga merasa cemas. Takut Putranya tersebut tercemar dan menjadi orang yang serakah atas kekuasaan.


 


 


“Selama di Rockfield, sepertinya kamu belajar banyak hal.” Mavis melebarkan senyum tipis, bercampur antara rasa senang dan cemas. Duduk tegak dan sedikit memalingkan pandangan ke lantai dua seakan sedang mencari seseorang, wanita rambut pirang tersebut berkata, “Jika memang itu sudah menjadi keputusanmu, Bunda takkan meragukannya lagi. Namun, tolong berhati-hatilah. Kerang yang hidup di air kotor akan menjadi beracun, jika terlalu banyak menyerap apa yang dilihat lama-lama kamu juga akan ikut tercemar.”


 


 


“Tentu saja aku akan berhati-hati ….” Odo menatap lawan bicaranya. Menghela napas sekali, pemuda rambut hitam tersebut ikut mencari apa yang Ibunya cari. Melihat ke lantai dua sampai tiga, lalu dengan heran bertanya, “Ngomong-omong, Vil pergi ke mana? Tidak biasanya dia bersembunyi saat tempatnya didatangi tamu begini?”


 


 


“Benar juga ….” Mavis berhenti mencari. Menoleh ke arah Fiola yang berdiri di belakangnya, wanita rambut pirang tersebut bertanya, “Seharusnya Roh Agung tersebut berada di sini, bukan?”


 


 


“Itu benar. Seharusnya ia tidak bisa pergi ke luar perpustakaan, kecuali jika Tuan Odo melakukan sesuatu lagi seperti sebelum-sebelumnya ….”


 


 


Ditatap tajam oleh Huli Jing tersebut, untuk sesaat Putra Tunggal Keluarga Luke tersentak dan berhenti mencari. Balik menatap dengan tatapan datar, ia dengan kesal membantah, “Kali ini aku tidak melakukan apa-apa kepadanya. Lagi pula, seharusnya Mbak Fiola tahu kalau aku baru kembali, ‘kan?”


 

__ADS_1


 


“Benar juga. Lantas, Vil pergi ke mana?” Fiola mendongak, menggerakan bola mata dan melihat memindai setiap lantai yang ada. Tidak menemukan Roh Agung yang dicari, perempuan rambut cokelat gelap tersebut bertanya, “Lagi pula, ada perlu apa Anda mencari Roh Agung tersebut?”


 


 


“Untuk menyelesaikan masalah di Rockfield.”


 


 


Jawaban tersebut membuat Fiola dan Mavis tersentak, secara serempak menatap ke arah pemuda rambut hitam tersebut. Memahami arti di balik perkataan tersebut, mereka menyimpulkan bahwa Odo akan kembali lagi ke Kota Pegunungan. Untuk melibatkan diri dengan peperangan yang ada berlangsung.


 


 


“Mugkin ini hanya kekhawatiran Bunda yang terlalu berlebihan, namun ….” Mavis segera bangun, meraih tangan kanan Odo dan dengan cemas memastikan, “Putraku, kamu tidak bermaksud ingin ikut dalam peperangan, bukan?”


 


 


Gemetar, keringat dingin keluar dari pori-pori. Merasakan semua itu dari genggaman tangan Mavis, pemuda rambut hitam tersebut untuk sesaat terkejut. Paham seberapa besar kecemasan sang Ibu, serta mengerti bagaimana arti dari sebuah perang di matanya.


 


 


Balik menggenggam tangan Mavis, Putra Tunggal Kelurga Luke melebarkan senyum tipis. Mengumpulkan keberanian dalam benak, ia dengan sedikit ragu berbohong, “Tenang saja, Bunda. Aku takkan ikut dalam peperangan. Di sana aku hanya akan membantu urusan administrasi dan pemulihan kota, lalu membereskan apa yang telah kulakukan.”


 


 


Mavis seketika merasa sedikit lega setelah mendengar perkataan tersebut. Berhenti menggenggam tangan Putranya, wanita rambut pirang tersebut kembali duduk dan menarik napas dalam-dalam.


 


 


Namun, di sisi lain Fiola dengan jelas mengetahui maksud lain dari perkataan Odo.


 


 


Huli Jing tersebut membaca permukaan pikiran Odo, lalu tahu bahwa itu hanyalah kebohongan belaka. Meski tidak tahu apa yang sebenarnya pemuda itu ingin lakukan, tetapi dengan jelas Fiola menyadari bahwa ada maksud lain dari tindakan pemuda itu untuk pergi ke Rockfield lagi.


 


 


Meskipun menyadarinya, perempuan rambut cokelat gelap tersebut memilih untuk diam. Daripada mengungkap kebohongan dan membuat majikannya cemas, ia lebih memilih untuk menghanyutkan rasa cemas dalam benak.


 


 


Di tengah keputusan yang Fiola ambil, tiba-tiba Odo Luke menatap lurus ke arahnya. Terdiam tanpa mengatakan apa-apa, seakan ingin menyampaikan sesuatu dalam sorot mata biru miliknya.


 


 


Itu membuat sang Huli Jing sesaat merasakan sesak dalam dada, tidak bisa mengeluarkan suara. Seakan-akan sedang dicegah untuk bernapas lega atas pilihan yang diambil.


 


 


“Mungkin saja Vil malu karena di sini banyak orang ….” Berhenti menatap Fiola, Odo menghela napas ringan dan sejenak memejamkan mata. Tak ingin membuang-buang waktu lebih lama lagi, pemuda rambut hitam tersebut meminta, “Bisa tolong Bunda dan Mbak Fiola pergi dulu?”


 


 


Mavis dengan segera menyadari maksud di balik permintaan itu. Meletakan kedua tangan ke atas pangkuan, wanita rambut pirang tersebut bertanya, “Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan dengan Vil?”


 


 


“Bunda seharusnya sudah menyadarinya ….” Odo membuka kedua mata, lalu melempar senyum ringan dan menjawab, “Aku ingin membawanya ke Rockfield. Jujur saja, aku perlu sihir miliknya untuk beberapa keperluan.”


 


 


“Keperluan apa itu, Putraku?”


 


 


Mavis semakin menyadarinya. Odo memang berkata tidak akan ikut campur dalam perang. Namun, itu tidak berarti pemuda itu takkan ikut membantu dalam peperangan tersebut. Dengan kata lain, pemuda itu bisa saja bergabung dalam peperangan dengan cara berbeda seperti mengirimkan Vil atau membantu dengan sihir jarak jauh.


 


 


“Keperluan perang ….”


 


 


Jawaban itu membuat rasa cemas Mavis menjadi pasti. Memberikan tatapan marah sampai kening mengerut, wanita rambut pirang tersebut dengan tegas melarang, “Tidak boleh! Apapun alasannya, Bunda tidak akan mengizinkan kamu ikut dalam peperangan!”


 


 


“Boleh aku tahu alasannya?” Odo sama sekali tidak mengubah ekspresi tenang meski telah dilarang. Sembari menatap datar dan tidak berniat untuk mundur, pemuda rambut hitam tersebut memastikan, “Apakah Bunda cemas terjadi sesuatu padaku jika ikut perang?”


 


 


“Itu benar! Terlebih lagi ….” Mavis memalingkan pandangan dengan muram. Setelah menghela napas panjang, sang Penyihir Cahaya menyampaikan, “Meski kamu mendapat pencapaian selama peperangan dan itu menjadi kemenangan besar bagi Kerajaan Felixia, apa yang ada setelahnya akan sangat menyusahkan.”


 


 


“Menyusahkan? Maksud Bunda?”


 


 


“Kamu akan diperlakukan seperti Ayahmu oleh mereka.”


 


 


Odo seketika tersentak. Meski tidak dijelaskan secara lengkap, ia tahu apa arti dari diperlakukan seperti Kepala Keluarga Luke. Sebagai Keluarga Pedang Kerajaan, Luke haruslah selalu berdiri di medan peperangan. Menjadi ujung tombak, lalu kekuatan terkuat Kerajaan Felixia.


 


 


Karena itulah, tidak sedikit bangsawan yang ingin memanfaatkan Dart Luke untuk kepentingan mereka. Secara nyata, itu sering terjadi kepada Keluarga Luke sebelumnya selama masa Perang Besar berlangsung.


 


 


Seakan-akan sedang bertaruh dalam perjudian besar, orang-orang seperti mereka akan sengaja menyulut konflik dan pada saat bersamaan akan berinvestasi ke Keluarga Luke. Berharap konflik dimenangkan oleh Keluarga Luke, lalu mereka mendapatkan keuntungan dari kemenangan tersebut.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2