
“A⸻!? Apa yang engkau lakukan?!”
Tentu saja Leviathan langsung panik, angin dingin seakan masuk melalui pori-pori dan menjamah paru-parunya. Putri Naga itu lekas menarik tangan Odo sebelum ranting runcing menusuk lebih dalam, lalu menutup pendarahan pada leher pemuda itu dengan telapak tangan.
Melihat hal tersebut, semua Roh Agung pun ikut terperanjat. Mereka gemetar kacau sampai sekujur tubuh kesemutan, membeku sesaat dalam rasa takut dan cemas yang tidak wajar
Merasakan ikatan dalam kontrak yang terjalin tiba-tiba lenyap, Reyah dan Alyssum langsung meneteskan air mata dengan mimik wajah kacau. Mereka segera tahu bahwa Odo Luke telah tiada, sebab kontrak telah rusak dan diputus secara sepihak.
Pada sisi yang berbeda, rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba menyerang Vil. Layaknya dada dihantam benda tumpul, napas mulai terengah-engah dan raut wajah pun perlahan memucat. Merasakan kesemutan yang semakin kuat pada sekujur tubuh, Roh Agung itu jatuh berlutut dan langsung menggigil ketakutan.
“O-Odo? Ja-Jangan pergi!” Dengan tubuh yang semakin lemas, Vil mengulurkan tangannya ke arah sang pemuda. Meneteskan air mata dalam ketakutan, lalu dengan suara pelan meminta, “Diriku mohon, jangan tinggalkan diriku …!”
“Reyah!” Leviathan segera menyangga tubuh Odo Luke supaya tidak ambruk. Perlahan menyandarkannya ke pohon, Putri Naga itu lekas menoleh dan membentak, “Apa yang engkau lakukan! Cepat pakai sihirmu untuk menyembuhkannya!!”
“Mustahil …! Odo sudah ….”
Reyah jatuh berlutut, air mata mengalir semakin deras dan sampai membuat tatapannya buyar. Seakan tiba-tiba muncul lubang pada dadanya, Dryad itu seketika merasa hampa dan kosong saat mengetahui pemuda itu telah tiada.
“Masih bisa! Denyut nadinya masih⸻!”
Sebelum Leviathan menyelesaikan perkataanya, tiba-tiba denyut nadi pada leher Odo menghilang. Darah hangat masih mengalir keluar membasi tangannya yang mungil, namun denyut kehidupan pemuda itu sepenuhnya lenyap dari genggaman.
Tidak bisa menerima fakta tersebut, Leviathan segera menutup pendarahan pada leher Odo dengan kedua tangan. Berusaha menyumbatnya dengan Mana, lalu lekas menggunakan sihir pemulihan meskipun dirinya tidak terlalu ahli.
Saat melihat tatapan Odo yang berubah kosong, Putri Naga seketika tersentak. Berhenti menggunakan sihir pemulihan, dia mulai gemetar kacau saat paham pemuda itu telah tiada. Daripada kesedihan maupun ketakutan setelah kehilangan, emosi yang langsung mengisi benak Leviathan adalah amarah.
Tekanan sihir terpancar kuat dari tubuh Leviathan, aura biru keputihan mulai berkobar menyelimuti tubuh. Menyala layaknya api, menyerap seluruh kadar air dalam radius beberapa meter dari tempatnya.
Darah milik Odo, embun, kandungan air pada batang pohon, akar, dan daun, semuanya terserap oleh tekanan sihir Leviathan. Memusat pada beberapa titik, menciptakan gelembung-gelembung padatan Mana dengan sifat destruktif.
Tanpa berkata apa-apa, Leviathan mengangkat kedua tangannya dari tubuh Odo. Perlahan menoleh dan memberikan tatapan tajam, dengan jelas amarah tersebut terpusat pada Magda yang sebelumnya menendang pemuda itu.
Meski paham bahwa Odo Luke meninggal bukan karena hal tersebut, Leviathan tetap menyalahkan Elf itu. Membenci, mengutuk, dan murka terhadap perempuan rambut pirang tersebut.
“I-Itu bukan salahku!” Magda melangkah mundur dengan wajah pucat. Tubuh gemetar kacau dengan keringat dingin bercucuran, tidak bisa bergerak bebas karena tekanan intimidasi yang diberikan Leviathan. “Lagi pula! Odo dulu yang menyerang Letnan! Kalian juga tadi lihat sendiri, ‘kan?!” ujarnya dengan penuh ketakutan.
“Makhluk rendahan, engkau pikir nyawanya setara dengan kalian?”
Leviathan membuka telapak tangannya ke depan. Mengaktifkan kekuatan Azure El Mar secara terpusat, Putri Naga itu langsung mengakses zat cair dalam tubuh Magda.
“A⸻! Ugh!! A-Apa ini⸻!?”
Sirkulasi oksigen dalam tubuh Magda seketika dikacaukan, lalu aliran darah pun dihentikan dan membuat wajahnya membiru. Tanpa bisa melakukan perlawanan ataupun menggunakan sihir, Prajurit Peri itu mulai kejang-kejang dan jatuh tengkurap. Aliran darah yang terhenti perlahan dialirkan kembali, namun dengan arah yang berbeda untuk merobek pembuluh darahnya.
“Mati! Makhluk tidak tahu diri⸻!”
Sebelum Leviathan sempat menghabisi Magda, tiba-tiba seseorang meraih bahunya dari belakang. Mencengkeram dengan erat, seakan-akan memintanya untuk berhenti sebelum membuat kesalahan fatal.
Meski baru beberapa kali menyentuhnya, Putri Naga itu langsung tahu milik siapa tangan tersebut. Dirinya perlahan menoleh, lalu langsung terbelalak saat melihat Odo Luke masih hidup.
Leviathan seketika menarik tekanan sihirnya, mengambil satu langah menjauh dan gemetar ketakutan seperti sedang melihat hantu. Mulut sedikit terbuka, tangan menunjuk, namun tidak bisa mengatakan apa-apa dan hanya bisa berdiri gemetar.
“Aku senang kau marah untukku, tapi itu sudah berlebihan,” ujar pemuda itu dengan tanpa beban maupun rasa bersalah.
Luka pada lehernya lenyap tanpa bekas, mimisan juga telah berhenti total seakan itu tidak pernah terjadi, bahkan gigi yang lepas sudah tumbuh kembali. Satu-satunya bukti Odo pernah mati adalah noda darah pada pakaian, masih tampak jelas dengan warna merah gelap.
Leviathan segera berbalik dan membisu, tubuh semakin gemetar ketika melihat secuil daging pada ranting yang pemuda itu pegang. Memastikan bahwa kejadian tadi bukanlah ilusi ataupun mimpi, sebuah kenyataan bahwa pemuda itu telah mati dengan menusuk lehernya sendiri.
__ADS_1
Peristiwa itu memang terjadi tepat di depan mata mereka, namun semua Roh Agung yang melihatnya tidak tahu persis kapan Odo bangkit. Mengesampingkan hal tersebut, fakta bahwa Odo masih hidup sudah cukup untuk membuat mereka semua lega.
Menyadari kontrak yang kembali pulih dengan cara yang tidak wajar, untuk sesaat Reyah dan Alyssum saling menatap. Tampak kebingungan, sebab seharusnya kontrak tersebut bukanlah sesuatu yang dapat dikembalikan semudah itu.
Memilih untuk tidak membahas hal tersebut sekarang, Reyah segera bangun sembari mengusap air matanya. Tersenyum lega karena Odo masih hidup, lalu berjalan mendekat untuk memastikannya.
Mendahului mereka semua, Vil langsung bangun dan berlari ke arah Odo. Mendorong Leviathan menjauh, lalu lekas memeluk pemuda itu dengan penuh rasa lega. Menangis lepas layaknya anak kecil, mendekap erat sampai tidak mau lepas.
Odo sempat terkejut, sedikit merasa bersalah dan tatapannya perlahan berubah sayu. Balik memeluk Vil dengan tatapan raut wajah dingin, pemuda itu lekas menatap Reyah dalam hening. Seakan-akan sedang mengingatkan Dryad tersebut untuk segera melaksanakan perintah.
Tanpa bertanya lagi dan lekas mematuhi, Reyah berlutut di depan Laura yang masih terkapar tidak sadarkan diri. Memegang lengan Elf tersebut yang terluka, lalu mulai menyembuhkannya dengan sihir pemulihan.
Magda seketika tercengang saat melihat hal tersebut. Alih-alih membantu sang Dryad untuk mengobati Laura, insting tajamnya malah memberikan peringatan keras untuk berhenti melangkah. Membuat Prajurit Peri itu menoleh ke arah Odo dan terdiam sesaat.
Tanpa sengaja Magda melihat raut wajah pemuda itu, sangat mengintimidasi seolah-olah sedang menekan Reyah untuk menyembuhkan rekannya. Penuh dengan kegelapan, memiliki kesan yang sangat berbeda dari sebelumnya.
“Wajah engkau seram sekali,” ujar Leviathan dengan nada santai. Berusaha untuk tidak memperlihatkan ekspresi cemas, Putri Naga itu segera menyingkirkan pikiran negatif dari dalam benak. Mencubit pipi sang pemuda dan berniat memastikan sesuatu, dengan penasaran Putri Naga lekas bertanya, “Engkau masih Odo Luke, ‘kan? Tadi … engkau mati?”
“Hmm ….” Odo berhenti memeluk Vil. Namun, Roh Agung tersebut tetap mendekap. Meski suara tangisnya sudah mulai meredah dan berubah menjadi tersedu-sedu. “Tadi aku memang mati, kok! Aku tadi menggunakan nyawa cadangan untuk mengatur ulang Daath supaya tidak ditolak tubuh,” jawab pemuda itu seakan tanpa beban.
“Sinting ….” Satu kata tersebut keluar dari mulut Leviathan, bersama dengan mimik wajah cemas dan takut. Berhenti mencubit pipinya dan melangkah menjauh, Putri Naga menghela napas ringan dan lekas berkata, “Meski diriku sudah mendengarnya dari Ayunda, namun tetap saja ini membuat diriku lemas. Rasanya sangat gila, tolong jangan lakukan hal seperti itu lagi!”
Leviathan bersandar pada salah satu batang pohon oak, menarik napas dalam-dalam dan berusaha menenangkan diri. Sembari mendongak dan menutup wajah dengan lengan, Putri Naga itu kehabisan kata-kata untuk mengomentari kegilaan Odo.
“Odo Luke!” panggil Magda dengan kesal. Mengesampingkan niat permusuhannya, Elf tersebut lekas bertanya, “Kenapa kamu tiba-tiba menyerang Letnan?! Memang benar Letnan tadi bertingkah sedikit aneh, tapi kau seharusnya tidak perlu langsung menyerangnya seperti itu?”
“Hmm?” Odo menoleh dengan heran. Sembari berusaha melepaskan pelukan Vil yang semakin kencang, pemuda rambut hitam itu balik bertanya, “Sedikit aneh? Meski Laura tadi hampir membunuhmu?”
“Me-Membunuh?” Magda tidak percaya dengan ucapannya. Memperlihatkan mimik wajah meremehkan, Elf itu langsung menunjuk lawan bicara dan membantah, “Kenapa Letnan ingin membunuh saya? Dia rekan⸻!”
“A⸻!” Magda tersentak. Mimik wajahnya seketika dipenuhi rasa curiga dan ingin menyalahkan. Berhenti menunjuk dan mengepalkan kedua tangan dengan kesal, Elf itu langsung membentak, “Ke-Kenapa kamu bisa tahu itu? Ini pasti ulah kamu, iya ’kan?! Letnan bertingkah aneh pasti karena perbuatanmu!”
“Aku sudah pernah melihat kasus yang serupa. Beberapa kali, bahkan sampai aku muak dengan semua itu,” jawab Odo dengan berat. Tersenyum tipis seakan dirinya enggan untuk menjelaskan, pemuda itu sekilas memalingkan tatapan muram dan lanjut menjawab, “Aku juga pernah merasakannya langsung. Dihadapkan dengan kenyataan yang tidak masuk akal, sangat gila sampai-sampai akal sehat ku runtuh.”
“A-Apa yang kamu bicarakan? Odo Luke, dirimu …?” Magda melangkah mundur. Tatapan yang sebelumnya dipenuhi amarah mulai pudar, berganti dengan bingung dan takut. Tubuhnya perlahan merasakan dingin yang aneh, seperti kegelapan tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam kesadaran. “Kamu masih Odo Luke, ‘kan?” tanyanya dengan wajah pucat.
“Kenapa kau malah bertanya seperti itu?” Odo menyerah untuk melepaskan pelukan Vil. Menarik napas ringan dan menatap lurus Magda, pemuda rambut hitam tersebut dengan nada tegas balik bertanya, “Apakah kau juga melihatnya? Sesuatu yang membuat Laura hampir gila, momen ketika Helena mengaktifkan Kemahakuasaan.”
“Esensi … Kemahakuasaan?” Saat mendengar pertanyaan itu, Magda semakin bingung dan tatapannya pun berubah tajam. Sama sekali tidak paham dengan maksud pemuda itu, sang Elf meletakkan tangan kanannya ke depan dada dan bertanya, “Memangnya apa yang Letnan lihat? Kenapa dia hampir gila hanya karena melihat itu?”
“Sebaiknya kau tidak memikirkannya. Jangan mencari tahu, atau bahkan sekadar membayankan. Itu ….” Odo sekilas melirik ke arah Leviathan. Melihat sang Putri Naga meletakkan tangan ke dagu dan tampak seperti sedang berpikir keras, pemuda rambut hitam tersebut lekas menegur, “Hey! Kau! Dengar perkataanku tadi?! Jangan dibayangkan!”
“Hmm?” Leviathan menurunkan tangan dari dagu. Menjentikkan jari dan mengaktifkan Azure El Mar, wanita muda itu memanipulasi noda darah pada pakaian dan mengangkatnya ke udara. Berubah menjadi gelembung, lalu meletus dan lenyap dibawa embusan angin. “Kenapa itu tidak boleh dibayangkan? Apa esensi Kemahakuasaan tidak boleh diketahui?” tanyanya dengan penasaran.
Melihat mimik wajah Leviathan yang seakan tanpa beban, Odo Luke hanya bisa mengerutkan kening. Semakin mengenal kepribadian Putri Naga, itu sedikit membuatnya teringat dengan Lileian, Witch dari Hutan Pando. Haus akan pengetahuan dan informasi, lalu cenderung apatis terhadap hal yang tidak membuatnya tertarik.
“Saat waktunya tiba, kelak kau akan mengetahuinya dan putus asa.” Odo memutuskan untuk tidak menyembunyikan fakta tersebut. Namun, itu bukan berarti dirinya bisa menyampaikan sekarang. Membiarkan Leviathan untuk mencari tahu sendiri, pemuda itu perlahan mengangkat telunjuk ke depan mulut dan menyampaikan, “Saat kau sudah mengetahuinya, tolong jangan bagikan itu kepada orang lain. Simpan saja untuk diri sendiri dan bangkitlah. Ambil langkah perlahan dan terus maju ….”
Meski pesan tersebut disampaikan dengan cara yang sangat abstrak, Leviathan langsung menyadarinya. Tersenyum ringan dan sedikit memperlihatkan mimik wajah terusik, Putri Naga itu tidak membahas dan hanya memalingkan pandangan.
“A-Apa yang kalian bicarakan?!” Magda tampak kesal saat melihat mereka. Berjalan mendekati Laura dan berlutut di dekat Reyah yang hampir selesai menyembuhkannya, Elf rambut pirang tersebut lanjut bertanya, “Letnan baik-baik saja, ‘kan?! Odo Luke! Kamu tidak melakukan hal aneh kepadanya⸻?”
“Tenang saja, aku hanya menarik Daath yang mencemari Aeons miliknya.” Odo menghela napas ringan. Tidak bisa bergerak karena masih dipeluk erat oleh Vil, pemuda itu sedikit mendongak dan lanjut menjelaskan, “Seharusnya dia akan segera bangun. Aku tidak melakukan hal buruk, kok. Tenang saja! Bahkan kalau beruntung, mungkin sirkulasi Mana miliknya akan meningkat.”
“Eh? Sirkulasi Mana?” Magda sedikit memiringkan kepala, menoleh bingung karena Odo tiba-tiba mengubah alur pembicaraan.
Sebelum Magda kembali bertanya, Reyah selesai memulihkan lengan kanan Laura yang patah. Tidak lagi memedulikan penjelasan pemuda itu, perhatian Prajurit Peri lekas beralih kepada rekannya. Menatap dengan lega, merasa senang dengan senyum tipis.
__ADS_1
Tidak sampai satu menit, Laura perlahan membuka matanya dan menatap sekeliling dengan bingung. Berusaha mengingat kembali momen ketika kesadarannya melayang, perempuan rambut pirang panjang sebahu itu lekas menatap Odo.
“Ah⸻! Tadi itu!?” Laura segera duduk. Saat baru saja bangun, Prajurit Peri itu segera sadar ada sesuatu yang aneh dalam ingatannya. “Kenapa tadi diriku ketakutan? Memangnya apa yang aneh dari padatan cahaya itu?” gumamnya dengan tatapan bengong.
“Hmm! Sepertinya Daath itu berhasil ditarik semua ….” Odo mengangguk ringan. Melempar senyum dingin, pemuda itu menatap lurus sembari lanjut berkata, “Ada yang terasa janggal tidak? Kalau ada, katakan saja langsung.”
“Odo, tadi apa yang kamu lakukan?” Laura meletakkan tangan kanan ke kepala. Meski tidak ada yang janggal pada tubuhnya, Prajurit Peri itu dengan jelas merasa ada sesuatu yang kurang. Layaknya titik hitam yang tiba-tiba muncul dalam lembar keras putih, itu terasa seperti noda. Sangat mengganggu dan membuatnya kembali bertanya, “Kamu memanipulasi ingatanku?”
“Daath, bukan ingatan ….” Odo menunjuk ringan. Sembari tersenyum sinis, dengan mimik wajah tersinggung pemuda itu lanjut menjelaskan, “Aku menarik pemahaman darimu.”
“Pemahaman?” Laura tidak bisa menangkap maksud pemuda itu. Namun, perasaan lega dengan jelas mulai mengisi benaknya. Layaknya nelayan yang baru saja melewati badai mengerikan, Elf itu perlahan melebarkan senyum senang dan berkata, “Terima kasih. Diriku memang tidak tahu apa yang telah kamu lakukan, tapi … terima kasih banyak.”
“Sama-sama.” Odo membalas dengan senyuman hangat.
Mendengar apa yang dikatakan rekannya, Magda segera bangun dan menatap heran. Tidak mengerti kenapa bisa Laura malah berterima kasih kepada Odo, bingung harus berkata apa pada situasi tersebut.
“Kalau engkau menarik esensi itu, apakah mimisan tadi efeknya?” Seakan tidak ingin membaca suasana yang ada, Leviathan langsung bertanya dan mengusik topik tersebut lagi. Putri Naga berjalan mendekati sang pemuda, lalu sembari berusaha melepaskan pelukan Vil kembali bertanya, “Berarti engkau punya resistensi terhadap informasi tingkat tinggi? Atau memang dari awal engkau sudah memilikinya? Contohnya seperti Kemahatahuan, salah satu konsep paling penting untuk⸻?”
“Lepaskan!”
Vil mengayunkan tangan kanannya dan memukul mulut Leviathan. Membuat ucapan Putri Naga terhenti di tengah, lalu terdorong menjauh dengan luka ringan di mulut.
Seakan tidak ingin masalah tersebut disinggung, Siren itu pun menatapnya dengan tajam dan penuh kebencian. Memancarkan intimidasi, mengisyaratkan permusuhan yang sangat jelas.
“Menyedihkan ….” Meski terlihat menyeramkan, namun tatapan tersebut terlihat seperti orang ketakutan di mata Leviathan. “Kalau memang takut kehilangan Odo, seharusnya engkau berusaha untuk lebih mengenalnya. Bukan pura-pura tidak tahu dan terus bersembunyi di balik kenyamanan seperti itu,” sindir Putri Naga dengan sinis.
“Memangnya makhluk purba sepertimu tahu apa?” Vil bersikukuh. Mendekap Odo semakin erat, Roh Agung tersebut menatap tajam dengan mata keemasan dan kembali menegaskan, “Pikirkan saja dirimu sendiri! Tak perlu ikut campur urusan kami!”
“Dirimu benar, wahai Penguasa Laut Utara.” Leviathan menggelengkan kepala dan tersenyum ringan. Berusaha untuk tidak lagi membahas masalah itu, Putri Naga lekas menatap sang pemuda dan kembali bertanya, “Setelah ini kita harus? Oh, wahai calon penguasa kami?”
“Melawak ….” Saat Vil lengah, Odo melepaskan pelukannya dengan paksa. Melangkah mundur untuk menjaga jarak, lalu menarik napas ringan dan meletakkan telapak tangan ke wajahnya sendiri.
“Melawak?” Leviathan tampak sangat bingung saat mendengar itu.
“Enggak, aku hanya ingin mengatakannya.” Odo menurunkan tangan. Melempar senyum ringan dan menunjuk Leviathan, pemuda itu dengan nada datar menyampaikan, “Kita lanjutkan perjalanannya. Tolong jelaskan kepada Reyah, Magda, dan Laura tentang pembicaraan kita waktu di pantai.”
“Mantan Penguasa Pohon Suci itu juga sudah tahu tentang rencananya. Lagi pula, dia setuju dengan tawaran yang diriku berikan sebelum engkau⸻”
“Bukan yang itu!” sela Odo dengan tegas. Sembari melepaskan rompi dan membuangnya begitu saja ke tanah, pemuda itu lanjut menjelaskan, “Tentang bangsa asal usul Roh dan kelakuan Dewi Helena. Kalau mereka ikut dengan rencanamu, mereka juga punya hak untuk tahu. Terutama Reyah ….”
“Hmm, baiklah.” Leviathan sekilas memalingkan pandangan. Melihat wajah Magda dan Laura yang terlihat bingung, Putri Naga lekas menunjuk mereka dan kembali bertanya, “Untuk kedua Elf itu, apa ada sesuatu yang ingin engkau sampaikan? Kalau mereka merusuh terus seperti tadi, bukankah itu hanya akan menghambat kita?”
“Kau dengar katanya?” Odo menatap Laura dan Magda secara bergantian. Sembari membuka telapak tangan, pemuda itu tanpa ragu langsung menawarkan, “Tanyakan saja yang ingin kalian tahu, Putri Naga itu akan menjawab semuanya.”
“Eh? Diriku?” Leviathan terkejut, sedikit memperlihatkan mimik wajah enggan karena dirinya tidak terlalu peduli kepada mereka.
“Hmm, tentu saja.” Tidak ingin membuang waktu, Odo kembali melangkahkan kaki dan melanjutkan perjalanan menuju Lembah Kehidupan. “Tanyakan semuanya sampai kita ke tempat tujuan. Kalau bisa, aku juga akan bantu menjawabnya,” tambah pemuda itu dengan ringan.
Melihat suasana hati pemuda itu yang berubah dengan sangat cepat, semua Roh Agung yang melihatnya tampak heran. Merasakan hal yang sama, bahkan Leviathan sempat berpikir bahwa pemuda itu memiliki kepribadian yang tidak waras.
Berbeda dengan mereka semua, Diana yang sedari tadi hanya memperlihatkan reaksi dingin mulai memperlihatkan tatapan curiga. Bagi Roh Agung seperti dirinya yang mengusai sihir psikis, membaca pikiran seorang mortal tidaklah terlalu sulit. Namun, hal tersebut seakan tidak berlaku untuk Odo Luke.
Suara hati pemuda itu memang bisa terdengar dengan jelas, tetapi isinya terlalu rumit untuk Diana pahami. Selain itu, seluruh isi pikirannya terasa sangat dingin dan sistematis. Seakan tidak ada perasaan dalam benaknya, meskipun mimik wajah pemuda itu berubah-ubah selama pembicaraan.
“Pemuda itu benar-benar manusia? Bahkan Roh Agung tidak sampai sedingin itu,” gumam Diana sembari berjalan mengikuti.
ↈↈↈ
__ADS_1