Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[91] Dekadensi Kota Rockfield VIII – Merasakan (Part 01)


__ADS_3

 


 


Saat tubuh saling bersentuhan dalam pelukan hangat, untuk pertama kalinya rasa sakit tersebut bisa dimengerti.


 


 


Tidak bisa memiliki, tanpa bisa dimiliki ⸻ Sebuah fakta bahwa hati ingin selalu bersama, namun tubuh paham tidak bisa melakukannya. Saat itulah rasa sakit di dada menjadi jelas.


 


 


Layaknya sedang dirantai kencang dari belakang, tekad tak bisa bergerak dan hanya membantu di tempat. Penyair dari masa lalu pernah berkata, tidak ada yang lebih menyakitkan dari menahan perasaan. Hasrat adalah bagian peting dari seorang individu, sebab itulah menahan hasrat juga berarti membuang identitas.


 


 


Di mata perempuan rambut biru pudar tersebut, lampu kristal pada langit-langit tampak lebih pudar dari biasanya. Dunia seakan menjadi monokrom, dipenuhi satu warna kusam dan tampak hampa.


 


 


Berbaring lemas di atas ranjang, tanpa mengganti pakaian dan menutup sebagian wajah dengan kedua lengan. Layaknya bunga yang dibuat ke pinggir jalan, sorot mata dan wajah Ri’aima tanpa begitu lesu.


 


 


“Kenapa saya menyampaikan hal seperti itu? Sejak kapan perempuan lemah ini berani besar kepala dan berkata seperti itu? Padahal … semuanya benar. Ya, itu tepat seperti kata Tuan Odo. Aku hanya bergantung kepadanya.”


 


 


Di dalam kamar tanpa sedikitpun dekorasi ataupun barang-barang feminin, untuk pertama kalinya Ri’aima merenungkan hal semacam itu. Layaknya seorang perempuan biasa, ia kasmaran dan bimbang pada perasaannya sendiri.


 


 


Memikirkan kembali perkataan Odo tentang ketergantungan, Putri Sulung Keluarga Stein perlahan mulai setuju dengan cara pandang tersebut. Itu memang bukan pertama kalinya Ri’aima merasakan cinta dalam dada. Tetapi, apa yang dirinya rasakan sekarang memang sedikit berbeda dari apa yang telah ia ketahui.


 


 


“Kalau tidak salah, Iota juga pernah meragukan perasaan ini.” Ri’aima berhenti menutup wajah, lalu merentangkan kedua tangan ke samping dan kembali bergumam, “Katanya, apakah ini benar-benar cinta atau hanya rasa kagum? Meski ragu, kenapa dia mau menjadi kekasihku dan bahkan menyatakan perasaan kepada diriku? Kenapa … kamu pergi sebelum diriku ini tahu jawabannya, Iota?”


 


 


Mata mulai berkaca-kaca. Merasa bodoh dengan semua hal yang ada, air mata pun mengalir membasahi pipi perempuan rambut biru pudar tersebut. Muak, kesal, merasa tidak berguna, dan terbuang. Itu semua bercampur aduk di dalam benak, lalu membuat Ri’aima kembali menutup wajah dan menangis tersedu.


 


 


“Saya sudah tidak tahu lagi! Memangnya … apa yang harus saya lakukan?!”


 


 


Untuk pertama kalinya, Ri’aima merasa seperti wanita murahan. Belum genap satu tahun setelah kekasihnya meninggal saat Insiden Raja Iblis Kuno, ia sekarang malah langsung mengejar pria lain dan bahkan mengungkapkan perasaan dengan tanpa rasa malu.


 


 


Hati merasa buruk, kotor, dan seperti jalang yang tidak tahu diri. Berhenti menutup wajah dan duduk di atas tempat tidur, ia menarik selimut untuk menyela air mata yang mengalir. “Diriku tak punya hak untuk menangis,” benak Ri’aima sembari meneguhkan hati.


 


 


Perempuan itu paham telah telanjur memulai. Karena itulah, apa yang harus dilakukan hanya menjalani semua itu sampai akhir. Meski tahu ada sebuah kesalahan dalam perasaan di benak, Ri’aima memilih untuk tetap memegang hal tersebut sampai akhir.


 


 


“Apa Ibunda juga pernah merasakan hal seperti ini? Beliau … menikah dengan Ayahanda karena paksaan, ‘kan? Apa … pada akhirnya saya akan berakhir seperti itu? Menyerah pada perasaan ini, lalu dipaksa menikah dengan pria lain yang tidak saya suka? Sebagaimana nasib para perempuan yang lahir di kalangan bangsawan.”


 


 


Berpikir dan terus berpikir, lalu pada akhirnya mulai membaringkan tubuh di atas tempat tidur. Perlahan memejamkan mata, pasrah tanpa bisa mendapatkan jawaban yang jelas. Tenggelam dalam lelap, berpaling pada kenyataan, dan melarikan diri dari semua masalah.


 


 


Menyalahkan bahwa hal tersebut tidak bisa dimungkiri, Ri’aima menyerah untuk memikirkannya dan benar-benar memasrahkan diri pada rasa lelah. Dengan sangat pasti, kesadaran mulai pudar dan ia pun tenggelam dalam tidur lelap.


 


 


Berharap saat bangun nanti perasaan yang bercampur-aduk tersebut hilang bersama pagi.


 


 


ↈↈↈ


 


 


Malam yang sama, sebelum hari berganti dan kesunyian mengisi Kediaman Keluarga Stein. Pada kamar yang dipinjamkan kepadanya sebagai tamu kehormatan, Odo hanya duduk di pinggiran ranjang sembari memikirkan rencana yang perlu direvisi.


 


 


Mengingat kembali banyak perubahan yang harus dibenahi, pemuda rambut hitam tersebut memasang mimik wajah resah dan perlahan menyipitkan mata. Berbaring ke atas tempat tidur dan merentangkan kedua tangan, ia sejenak menatap langit-langit dan bergumam, “Apa perlu aku main kasar, ya? Namun, mempertimbangkan kausalitas, risiko yang ada terlalu tinggi.”


 


 


Tatapan Odo dengan cepat berubah tajam, merasa bahwa menjalankan rencana dengan kasar juga tidak akan berhasil. Mengingat sekarang ia tidak bisa menggunakan pengaruh Keluarga Luke dengan bebas, ia paham bahwa terburu-buru bisa merusak susunan yang telah dibangun sejauh ini.


 


 

__ADS_1


“Soal duel …, jujur saja aku ragu si Prajurit Elite itu mau meladeni ku. Bisa saja dia mengelak, lalu berkata itu tidak masuk akal untuk menyerahkan gelar Knight dengan cara seperti itu.”


 


 


Odo kembali duduk di pinggir tempat tidur, lalu membuka telapak tangan dan sesaat mengaktifkan dimensi penyimpanan. Untuk sesaat, ia berpikir untuk mengambil alat sihir dan melakukan metode yang sama seperti saat di Kota Mylta.


 


 


Memancing para monster untuk menyerang, lalu membiarkan Ferytan berkontribusi langsung kepada Teritorial Rockfield dengan menyelamatkan Kota. Setelah mendapat nama di masyarakat, pria tua tersebut bisa menyerahkan pencapaian kepada Keluarga Quidra.


 


 


Meski telah memiliki alur rencana yang sesuai, namun Odo memilih untuk mengurungkan niatnya. Ia paham dengan kondisi kota sekarang. Jika Rockfield diserang monster dalam jumlah banyak dan terjadi kekacauan, tidak ada jaminan pemerintah kota bisa mengatasinya. Mengingat kondisi politik yang ada, cara tersebut hanya akan menimbulkan konflik lain dan terjadi ajang saling menyalahkan antara kedua pihak.


 


 


Saat memahami rencana itu bukanlah pilihan terbaik, Odo mengurungkan niat tersebut dan segera menutup telapak tangan kanan. Meletakan kedua tangan ke pangkuan, memasang wajah kesal dan menghela napas panjang.


 


 


“Ah! Menyebalkan! Kalau tidak mengantuk dipaksa tidur ya kayak gini! Overthinking melulu bawaannya!”


 


 


Odo bangun dari tempat tidur, lalu sedikit meregangkan tubuh dan menyerah untuk tidur. Sedikit mengerutkan kening dan menatap ke arah pintu kamar, pemuda rambut hitam itu sedikit memasang mimik wajah geram dan bergumam, “Meski secara fisik tidak letih, tapi secara mental aku sudah hampir sampai batas. Rasanya stress sumpah!”


 


 


Meski mengeluh, pemuda itu tetap melangkahkan kaki menuju pintu kamar dan membukanya. Memutuskan untuk tetap bererak dan melakukan tindakan untuk menjalankan rencana yang telah disusun di dalam kepala.


 


 


Melongok ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada siapa-siapa. Berjalan di lorong yang sudah sepi, untuk beberapa alasan Odo malah terlihat seperti pencuri karena mengendap-endap.


 


 


“Kamar Nyonya Agathe kalau tidak salah di lantai dua, ‘kan? Atau dia masih di lantai satu? Semoga wanita itu belum tidur. Besok aku harus pergi pagi-pagi, jadi paling tidak aku ingin bicara dulu dengannya⸻”


 


 


“Anda ingin bicara tentang apa memangnya?” tanya seseorang dari belakang.


 


 


“Eh?”


 


 


 


 


Perempuan dengan mata violet, memakai pita merah besar untuk mengikat kucir rambut cokelat kepirangan dan mengenakan seragam pelayan. Saat menatap lurus, matanya setengah terbuka dan tampak seperti sedang mengantuk.


 


 


Meski berpenampilan layaknya pelayan keluarga bangsawan pada umumnya, perempuan tersebut benar-benar menyembunyikan hawa keberadaan dengan sangat baik. Seakan-akan penampilan pelayan hanyalah sebatas penyamaran.


 


 


“Perempuan ini hebat. Meski sedang tidak fokus, aku benar-benar tidak menyadari kehadirannya. Apa dia punya semacam kemampuan khusus?” benak Odo seraya memasang senyum tipis.


 


 


Ingin menguak lebih dulu informasi tentang pelayan tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke mengacungkan telunjuk ke depan dan mengelak, “Saya ingin bicara lagi dengan Tuan Oma, sepertinya ada hal yang saya lupakan⸻”


 


 


“Anda tidak perlu pura-pura bodoh, Tuan Odo.” Perempuan itu memasang ekspresi sedikit menyindir. Sedikit memalingkan wajah dan memberikan lirikan tajam, ia dengan niat menggoda berkata, “Tuan tidak perlu menjadi pembohong seperti mereka berdua, jadilah diri Anda sendiri dan mari bicara sebentar dengan saya.”


 


 


Odo sedikit terkejut dengan sindiran dalam kalimat itu. Paham bahwa hal tersebut bukan diarahkan kepada dirinya, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan cepat memasang wajah serius dan berhenti mengelak.


 


 


“Bukan hanya Nyonya Agathe, apa kau juga tahu rahasia Tuan Oma?”


 


 


Pertanyaan Odo membuat sang pelayan terkejut. Mengambil satu langkah ke belakang, ia menarik kaki kanan ke belakang dan mulai membungkuk. Gaun perlahan sedikit dinaikkan dengan tangan kiri, lalu tangan kanan diangkat ke depan dada sebagai tanda penghormatan.


 


 


“Sepertinya saya memang telah meremehkan Anda. Tolong maafkan saya, Tuan Odo.”


 


 


Perkataan dan reaksi yang ditunjukkan perempuan itu sedikit membuat Odo heran. Meski Putra Tunggal Keluarga Luke tahu bahwa perempuan rambut pirang itu adalah pelayan kepercayaan Agathe, namun tidak ada alasan untuk perempuan itu memperlihatkan rasa hormat sampai seperti itu.


 


 

__ADS_1


“Hmm, jadi begitu ….” Odo memasang senyum tipis setelah memahami sesuatu, lalu perlahan menatap datar dan dengan nada menekan bertanya, “Kalau tidak loyal kepada Keluarga Stein, siapa yang sebenarnya kau layani? Dilihat dari gelagat kau selama membuntuti Nona Ri’aima, bukankah itu perintah Nyonya Agathe?”


 


 


“Sudah saya duga, Anda memang menyadari saya. Jelas saja Anda meminta Nona segera pulang ….” Perempuan rambut cokelat kepirangan tersebut berhenti membungkuk hormat. Berdiri tegak dan menatap lurus, ia dengan tegas menyampaikan, “Saya tidak ingin Tuan Odo salah paham, karena itu akan saya katakan ini dengan jelas. Saya memang menghormati Nyonya Agathe dan kehendaknya, namun kami hanya melayani mereka yang memimpin Rockfield.”


 


 


Odo sedikit tidak menangkap perkataan tersebut. Sejenak memejamkan mata, pemuda itu berusaha memperkirakannya dan mengambil beberapa kesimpulan. Saat kembali membuka kedua mata dan menatap, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan jelas memastikan, “Berarti … di mata kau, Oma Stein sudah tidak lagi pantas untuk memimpin Rockfield?”


 


 


“Itu benar, Tuan Odo ….” Pelayan tersebut memberikan tatapan tajam, seakan memiliki rasa benci terhadap Oma Stein. Meletakan tangan kanan ke dada, ia perlahan memasang senyum dingin dan balik bertanya, “Anda sama sekali tidak meragukan atau bahkan mempertanyakan identitas kami, ya? Meski seharusnya sangat janggal untuk para pelayan memiliki kemampuan dan sikap seperti ini.”


 


 


“Tentu aku ingin bertanya soal itu, namun ….” Odo menghela napas sejenak. Memalingkan pandangan dengan resah, pemuda rambut hitam itu kembali berkata, “Kau rasanya tidak akan mau menjawab hal tersebut.”


 


 


Perempuan itu memasang senyum tipis. Menurunkan tangan dari dada dan meletakan telunjuk ke depan mulut, ia dengan penuh rasa senang bertanya, “Dari ekspresi Tuan Odo sekarang, sepertinya Anda sudah menebak siapa kami, bukan?”


 


 


“Ya, kurang lebih aku tahu ….” Odo memasang mimik wajah sedikit resah, lalu menatap datar dan berkata, “Tragedi yang terjadi sekitar tiga dekade lalu. Setelah transisi kepemimpinan dengan cara seperti itu, tidak mungkin pihak Keluarga Kerajaan Felixia hanya diam dan membiarkan Kota Pegunungan jatuh ke tangan Oma Stein begitu saja. Selain membelah kota menjadi dua pihak, Raja Gaiel juga mengirim kalian, ‘kan?”


 


 


“Tepat sekali. Memang persis seperti yang disampaikan Yang Mulia, Anda memiliki kemampuan asumsi yang sangat luar biasa.” Perempuan itu menurunkan tangan dari depan bibir. Sembari kembali meletakkan tangan ke depan dada, ia dengan sopan membungkukkan tubuh dan memperkenalkan diri, “Tolong maafkan saya karena telat memperkenalkan diri. Saya adalah Sistine, salah satu Adherents, pelayan rahasia Keluarga Kerajaan Felixia.”


 


 


“Huh?” Kening Odo mengerut, lalu dengan nada bingung bertanya, “Adherents? Apaan tuh? Kok aku baru tahu, sih?”


 


 


Kembali berdiri tegak dan tertawa kecil, Sistine meletakkan tangan kanan ke depan mulut dan berkata, “Kalau banyak yang tahu, namanya bukan lagi pelayan rahasia.”


 


 


“Tunggu sebentar, kau sedang mempermainkan ku? Tidak pernah aku dengar hal seperti itu! Bahkan di arsip Keluarga Luke tidak ada dokumen yang mengatakan Keluarga Kerajaan punya pelayan rahasia!” Odo menunjuk lawan bicaranya. Memberikan tatapan datar dan sedikit mengerutkan kening, ia dengan tegas meragukan, “Lagi pula, apa yang bisa membuktikannya?


 


 


“Benar juga, pasti Anda meragukan saya ….”


 


 


Sistine mengangkat gaun pelayan yang dikenakan, lalu menunjukkan sabuk yang melingkar pada paha kanan bersama dengan beberapa belati perak. Meski hanya sekilas, Odo tahu bahwa senjata tersebut sangat mirip dengan senjata yang sering digunakan oleh Fiola. Terutama saat ekspedisi ke Hutan Pondo.


 


 


“Kau … tidak mencurinya dari Kediaman Luke, bukan?” tanya Odo meragukan.


 


 


“Tentu saja tidak.” Sistine menurunkan gaun, lalu menatap sedikit kesal dan dengan cemberut menggerutu, “Lagi pula, siapa orang yang berani menyelinap ke Mansion Keluarga Luke? Tempat itu dijaga oleh para monster berbentuk orang!”


 


 


Odo meletakan tangan kanan ke depan mulut, memalingkan pandangan dan merasa dipaksa paham dengan hal yang tidak ia mengerti. Menggunakan Spekulasi Persepsi secara terpusat dan memastikan identitas Sistine, Putra Tunggal Keluarga Luke tetap tidak bisa mendapatkan jawaban yang pasti karena keterbatasan informasi.


 


 


Ingin memastikan sesuatu, pemuda itu pada akhirnya kembali bertanya, “Berarti kalian ini mirip seperti para Shieal yang melayani Keluarga Luke?”


 


 


“Secara loyalitas memang mirip, namun Adherents dan Shieal adalah dua hal yang sangat berbeda.” Shieal meletakan tangan kanan ke depan dada, lalu memasang senyum bangga dan menjelaskan, “Berbeda dengan Shieal yang diberikan wewenang layaknya bangsawan kelas atas dan pengaruh pada dunia politik, Adherents tidak memilikinya. Kami bergerak dalam bayang-bayang, membersihkan mereka yang mengusik kedaulatan Felixia dan Keluarga Kerajaan.”


 


 


“Ah, mulai sedikit paham.” Odo mengacungkan jari telunjuk ke depan, lalu membuka kedua mata sedikit lebar dan berkata, “Luke adalah Pedang, karena itu Shieal diberikan sebagai pelayan yang berfungsi untuk ikut melindungi dan ikut campur ke ranah politik. Sedangkan untuk Keluarga Kerajaan, mereka memiliki kekuasaan politik yang sangat kuat di Kerajaan, karena itulah Adherents ada sebagai senjata dan melindungi mereka dari pedang-pedang yang tidak terlihat.”


 


 


“Kiasan Anda sangat bagus. Namun, kami tidaklah seindah itu.” Sistine mengangkat jari telunjuk dan tengah, meletakkannya ke leher Odo Luke dan dengan suara menekan menyampaikan, “Kami hanyalah pembersih. Tugas kami hanya menjalankan perintah dari Yang Mulia, lalu melakukan pekerjaan kotor tanpa diketahui oleh khalayak umum. Untuk itulah Adherents ada.”


 


 


Odo tidak terlalu tahu tentang latar belakang para Adherents. Baik itu dalam arsip Kediaman Luke ataupun rumor yang beredar di masyarakat bangsawan, tidak ada satu pun hal yang membahas mereka. Namun, secara garis besar memang orang-orang seperti itu bisa dikatakan melayani Raja Gaiel. Bergerak atas perintah orang nomor satu di Kerajaan Felixia tersebut, lalu membersihkan para musuh dari bayangan.


 


 


“Jika memang benar, Raja Gaiel menyembunyikan mereka dengan sangat rapi. Dari loyalitas dan cara bicara Sistine, mereka juga sepertinya sudah lama terbentuk,” benak Odo dengan tatapan resah.


\=========================


Catatan Kecil:


Fakta 029: Odo enggak bisa berenang! (Alasan ada di Fakta 005) Tapi, dia bisa berjalan di atas air jika menggunakan "koneksi" yang terbuat melalui kontraknya dengan Vil.


 

__ADS_1


 


__ADS_2