Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[88] Dekadensi Kota Rockfield V – Entropi Kota (Part 03)


__ADS_3

 


 


 


 


 


Tidak seperti hari-hari sebelumnya, hampir semua orang di Kediaman Keluarga Stein dikejutkan oleh pemberitahuan tersebut. Kabar menyenangkan ⸻ Paling tidak itulah yang dirasakan oleh kedua putra di kediaman tersebut, Baldwin dan Xavier.


 


 


Setelah sekian lama terbaring sakit di tempat tidur, akhirnya Kepala Keluarga Stein siuman dan perlahan menunjukkan tanda-tanda akan segera pulih. Memar pada sekujur tubuh Oma Stein perlahan menghilang, daging dan kulit yang sebelumnya membusuk terkelupas, dan ia pun sudah bisa duduk di atas tempat tidur.


 


 


Bahkan, untuk siku kanan yang sebelumnya telah membusuk sampai tulang juga perlahan mulai pulih. Itu sedikit demi sedikit tertutup kembali oleh daging baru, lalu otot dan sendinya juga secara bertahap diperbaiki oleh kemampuan regenerasi alami tubuh pria tua tersebut. Meski ia masih tidak bisa menggerakan tangan kanan dengan baik atau berdiri, namun pria tua tersebut sudah bisa berbicara dengan mulutnya yang kaku.


 


 


Di kamar tempatnya berada, Oma Stein sendiri dirawat oleh beberapa pelayan istrinya. Mereka membersihkan kulit pria tua itu yang mengelupas, lalu menyekanya dengan kain yang dicelupkan air hangat untuk menghindari iritasi.


 


 


Seperti ular yang sedang berganti kulit, itulah kesan pertama yang tampak pada proses pemulihan tersebut. Banyak sekali kulit luar Oma yang mengelupas bersama sel-sel mati di permukaan, lalu digantikan dengan kulit baru yang tampak mulus dan masih muda.


 


 


Proses pengelupasan kebanyakan terjadi pada bagian tubuh yang sebelumnya membengkak, layaknya sel-sel yang ada diperbarui secara penuh. Lalu, bagian sel yang sudah mati benar-benar disingkirkan metabolisme tubuh untuk mempercepat pemulihan.


 


 


Berdiri tidak jauh dari rajang tempat Oma dirawat, Agathe Stein dan kedua Putranya pun berada di kamar tersebut. Mengesampingkan Nyonya Rumah yang hanya menatap datar ke arah sang suami, Baldwin dan Xavier terlihat sangat bahagia saat melihat Ayah mereka telah bangun.


 


 


“Ibunda! Ibunda! Apa benar Ayahanda sudah sembuh?” tanya si anak bungsu, Xavier. Ia menarik-narik gaun Agathe, lalu dengan penuh rasa penasaran kembali bertanya, “Apa benar penyihir yang datang bersama Tuan Odo yang menyembuhkan Ayahanda?”


 


 


Meski mendengar pertanyaan tersebut, Agathe sama sekali tidak melirik dan hanya memasang mimik wajah datar. Tidak memedulikan Putranya, hanya terdiam tanpa berkata apa-apa dalam senyap.


 


 


Paham dengan kondisi sang Ibu, Baldwin segera menggandeng Xavier dan sedikit menjauhkannya. Pemuda rambut cokelat cepak tersebut sedikit memasang mimik wajah bingung karena kehadiran Agathe di ruangan.


 


 


“Kenapa Ibunda ada di sini? Apa … dengan Ayahanda yang sudah siuman, beliau juga ikut pulih?” benak Putra Kedua Keluarga Stein. Setelah menghela napas sekali, sembari menggandeng sang Adik ia pun menoleh ke arah Oma dan dengan ragu bergumam, “Apa Ayahanda benar-benar sudah sembuh?”


 


 


Berbeda dengan adik kecilnya yang sangat senang atas Kepala Keluarga Stein yang telah siuman, Baldwin masih tampak cemas melihat kondisi Ayahnya. Meski Oma Stein sudah bangun dan bengkak pada sekujur tubuhnya perlahan hilang, namun sebagai gantinya pria tua tersebut semakin bertambah kurus.


 


 


Segera pindah menatap ke arah Baldwin dengan penuh rasa penasaran, Anak Bungsu Keluarga Stein kembali bertanya, “Kakanda! Apa benar yang menyembuhkannya Ayahanda adalah penyihir yang datang bersama Tuan Odo? Tolong jawab, Kakanda!”


 


 


Baldwin sempat tertegun saat melihat sang Adik tidak bersikap besar kepala di hadapannya. Menghela napas sejenak dan berusaha memahami situasi yang ada, pemuda rambut cokelat cepak tersebut menjawab, “Kata para pelayan sih memang begitu. Yang meminta untuk menyembuhkan Ayahanda adalah Ayunda, lalu Ayunda sendiri sekarang sedang keluar dan membicarakan beberapa hal dalam koalisi yang telah mereka bentuk.”


 


 


“Koalisi?” Xavier terdiam sesaat. Meski dirinya adalah anak kecil yang baru berusia 12 tahun, sebagai orang yang lahir di keluarga bangsawan Xavier sadah memiliki pengetahuan tentang politik karena didikan ayahnya. “Berarti Ayunda sudah membuat perjanjian dengan Tuan Odo? Sebagai gantinya, Ayahanda disembuhkan oleh Penyihir yang beliau bawa?”


 


 


“Mungkin seperti itu.” Baldwin semakin memegang erat tangan sang Adik Bungsu. Menoleh dan menatap dengan cemas ke arah adiknya tersebut, pemuda rambut cokelat itu tidak bisa lagi berlagak bodoh dan kasar seperti biasanya. Dengan penuh rasa cemas Putra Kedua Keluarga Stein berkata, “Kemungkinan besar kita melewatkan banyak hal semalam, Adikku ….”


 


 


Xavier tersentak, dalam benak merasa tidak berguna sama sekali dan menundukkan kepala. “Maafkan saya, Kak Baldwin. Padahal Ayunda sedang melakukan banyak hal penting, namun saya malah bertindak bodoh dan hanya bisa bertengkar dengan Kakanda,” ujar anak kecil tersebut dengan menyesal.


 


 


“Diriku juga …. Ini serasa diriku tidak berguna. Padahal Ayahanda sudah berharap banyak kepadaku, namun ….”


 


 


Baldwin terlihat lebih menyesal. Sebagai orang yang ditetapkan sebagai pewaris Keluarga Stein, apa yang ia lakukan selama Kepala Kelurga sakit hanyalah membuat masalah dan menjatuhkan namanya sendiri. Memang hal tersebut dirinya lakukan untuk membuat Ri’aima dilihat oleh Kepala Keluarga Stein dan para pejabat di Kota, namun apa yang terjadi malah membuat Baldwin hanya bermalas-malasan tanpa sedikitpun melakukan kewajibannya.


 


 


Di tengah pembicaraan kakak dan adik tersebut, pintu kamar tiba-tiba terbuka dan penyihir rambut putih uban melangkah masuk. Canna Miteres ⸻ Itulah cara penyihir tersebut memperkenalkan diri kepada orang-orang di Keluarga Stein.


 


 


Sembari membawakan sebuah Potion di tangannya, ia berjalan mendekat ke arah Agathe dan berkata, “Silahkan Nyonya Agathe, ini adalah obat yang saya sampaikan sebelumnya. Dengan ini seharusnya Tuan akan segera sembuh. Tetapi, tolong jangan minum sekaligus. Dosisnya adalah dua sendok makan sehari, pagi dan sore.”


 


 


Agathe sama sekali tidak merespons atau bahkan melirik, ia hanya menatap datar ke arah Oma Stein yang tubuhnya sedang dibersihkan oleh para pelayan.

__ADS_1


 


 


Melihat penyihir tersebut menyerahkan obat ke orang yang salah, Xavier melepaskan tangan kanannya dari sang Kakak dan berjalan mendekati perempuan rambut putih uban tersebut.


 


 


Sembari mengulurkan tangan ke arah perempuan dengan topi kerucut di kepalanya tersebut, Putra Bungsu Keluarga Stein tersenyum ramah dan meminta, “Nona penyihir, biarkan kami saja yang menyimpan obat tersebut. Nona penyihir mungkin belum tahu, namun Ibunda sekarang sedang sakit ….”


 


 


“Ah⸻?” Daripada bingung saat mendengar ucapan tersebut, Canna malah terkejut seakan dirinya telah mengetahui itu. Ia mengambil satu langkah menjauh, lalu wajahnya sedikit memucat dan dengan gugup berkata, “Ba-Baiklah ….”


 


 


Penyihir itu sesaat terdiam, merasa sudah melakukan kesalahan dalam rencana yang disampaikan Odo kemarin malam. Mengingat apa yang telah disampaikan oleh Putra Tunggal Keluarga Luke, Canna sendiri berperan sebagai penyihir yang berhasil menyembuhkan Oma Stein atas permintaan Ri’aima. Lalu saat Baldwin dan Xavier datang kamar Kepala Keluarga, dirinya juga memiliki tugas untuk memberikan ramuan milik Odo kepada mereka


 


 


“Silahkan,” ujar Canna seraya menyerahkan ramuan ke pada Putra Bungsu Keluarga Stein. Menatap ke arah anak kecil tersebut, ia segera memasang senyum ramah untuk menghindari kecurigaan dan kembali menjelaskan, “Ingat, Tuan Muda. Tolong minum obatnya dua kali sehari dengan dosis satu sendok makan, pada siang dan sore. Tidak boleh lupa atau bahkan kurang, ya.”


 


 


“Hmm, tentu saja!”


 


 


Setelah menerima ramuan dalam botol kaca tersebut, Xavier segera berjalan menuju ke arah para pelayan yang sedang membersihkan kulit Oma yang mengelupas. Ia dengan penuh semangat menyerahkan ramuan kepada salah satu pelayan yang ada, lalu dengan serius menjelaskan kepada mereka tentang dosis yang ada.


 


 


Untuk sesaat, Oma Stein yang masih lemas menoleh ke arah Putra Bungsunya. Memasang senyum tipis dengan wajah pucat, ia dengan suara lirih berkata, “Xa … vi ….”


 


 


Mendengar suara Ayahnya setelah sekian lama, Putra Bungsu Keluarga Stein langsung menoleh dan menjawab, “Iya, Ayahanda!”


 


 


Oma tidak berkata lagi, pria tua tersebut hanya mengelus kepala Putranya dan tersenyum lega layaknya Ayah yang penyayang. Namun, saat melihat hal tersebut Agathe seketika memperlihatkan ekspresi kesal pada wajahnya.


 


 


Meski hanya dalam sekejap, Baldwin yang berada di dekat sang Ibu dengan jelas melihat hal tersebut. Mimik wajah murka yang begitu gelap, mengandung kebencian yang sangat kuat sampai-sampai membuat dirinya sempat gemetar.


 


 


 


 


“Eh?” Canna tersentak, sekilas memalingkan pandangan dan terdiam. Merasa telah melakukan kesalahan dalam rencana dan membuat Baldwin curiga, penyihir rambut putih uban tersebut mengambil inisiatif dan menjawab, “Saya mendengarnya dari Tuan Odo. Namun, tidak saya kira Nyonya Stein sakit seperti itu.”


 


 


“Seperti itu?” Baldwin menajamkan tatapan.


 


 


Canna segera menundukkan wajah, lalu dengan gemetar menjawab, “Sa-Saya tidak bermaksud menyinggung …. Kata Tuan Odo, Nyonya Stein mengalami gangguan jiwa.”


 


 


“Gangguan jiwa terlalu berlebihan, beliau hanya sedang terpukul,” ujar Baldwin.


 


 


“Ma-Maafkan saya ….”


 


 


Baldwin perlahan meletakkan tangan ke depan dagu, lalu setelah menghela napas kecil kembali berkata, “Tidak apa, Nona tidak perlu meminta maaf.”


 


 


“Terima … kasih.” Canna kembali mengangkat wajah, lalu memasang senyum yang tampak sedikit kaku.


 


 


“Ah!” Di saat mereka berdua sedang berbincang, Xavier segera melihat ke arah Kakaknya dan dengan volume tinggi berkata, “Apa Kakanda menjahili Nona Penyihir! Kenapa Kakanda suka sekali melakukan hal tidak berguna seperti itu, sih!”


 


 


Baldwin perlahan menoleh, lalu dengan mimik wajah kesal berkata, “Siapa yang sedang menjahili Nona Canna? Dasar bocah! Ingin diriku jitak kau ini, huh?”


 


 


“Bwee!” Xavier menjulurkan lidah, tidak mengindahkan perkataan Kakaknya dan meledek, “Dasar, Kakanda memang orang dengan pikiran sempit.”


 


 


Baldwin dengan kesal mengangkat tangan yang mengepal. Jika perasaannya sama seperti biasa, Putra Kedua Keluarga Stein itu pasti akan berjalan mendekat dan memukul kepala sang Adik. Namun, rasa menyesal dalam benak membuat rasa kesal dalam benak dengan cepat padam bersama tangan yang diturunkan.


 

__ADS_1


 


“Bald … win ….” Di tengah penyesalan yang kembali mengisi benak Baldwin, Oma Stein mengulurkan tangannya ke arah Putra Kedua Keluarga Stein itu. Memasang senyum tipis dengan wajah pucat, pria tua itu dengan suara lirih kembali memanggil, “Ke …mari …, putra … ku ….”


 


 


Pemuda itu pun berjalan mendekat memenuhi panggilan, lalu dengan dipenuhi rasa cemas berdiri di dekat ranjang Ayahnya. Sembari membungkuk dengan gemetar, ia dengan penuh keraguan membuka mulut dan berkata, “Tolong maafkan saya, Ayahanda. Padahal Ayahanda sudah banyak berharap ⸻!”


 


 


Oma tidak memedulikan hal tersebut, ia hanya ingin mengelus Putranya itu. Dengan lembut dan penuh kasih sayang, ia murni hanya ingin menyentuh darah dagingnya tersebut.


 


 


Pada saat yang sama, Agathe kembali memperlihatkan ekspresi marah. Ia sempat melangkah ke depan dan ingin menyingkirkan tangan pria tua tersebut dari kepala Putranya. Tetapi sebelum dirinya benar-benar lepas kendali, Canna memegang tangan sang Nyonya Rumah dan menghentikannya.


 


 


Agathe tersentak, segera mengurungkan niat dan menoleh ke arah perempuan yang memegang tangannya. Memasang ekspresi sedih dan tidak berdaya, wanita rambut biru pudar tersebut terlihat seperti ingin menangis. Paham bahwa hatinya hanya akan sakit jika terus berada di kamar tersebut, ia segera berbalik dan melangkah pergi.


 


 


“Tu … ng … gu …!”


 


 


Oma segera mengulurkan tangan saat melihat istrinya pergi, memasang mimik wajah sedih seakan-akan dirinya ingin meminta maaf. Namun, suara pelan pria tua tersebut tidak sampai ke hati Agathe. Tanpa menoleh sedikitpun, istrinya meninggalkan ruangan dengan senyap.


 


 


Canna bukanlah orang yang terlalu peka dalam hubungan. Tetapi setelah melihat reaksi Agathe, ia sedikit mengerti apa yang terjadi di antara suami-istri tersebut. Menarik napas dalam-dalam dan merasa tidak ingin terlibat dalam masalah keluarga yang ada, sang Penyihir segera membungkuk untuk segera pamit kepada orang-orang dari Keluarga Stein di ruangan.


 


 


“Ayahanda, Apakah kamu sudah memprediksi perasaan Nyonya Agathe juga?” benak Canna sembari kembali mengangkat wajah.


 


 


Penyihir rambut memasang senyum ramah, lalu dengan nada formal berkata, “Permisi, Tuan Muda dan Tuan Oma, saya harus pamit dulu. Ada yang perlu saya lakukan ….”


 


 


“Eh, apa itu penting?” tanya Xavier dengan tatapan bingung.


 


 


“Eng ….” Senyum Canna sedikit pudar, merasa tidak nyaman saat berbicara dengan anak-anak. Seraya memalingkan pandangan ke sudut ruang, perempuan rambut putih pudar tersebut menjawab, “Itu cukup penting untuk saya, Tuan Muda.”


 


 


Mendengar jawaban seperti itu, Xavier tanpa pikir panjang kembali bertanya, “Lebih penting daripada menjaga dan memeriksa Ayah saya?”


 


 


Kening Canna seketika berkedut, benar-benar merasa tidak nyaman saat mendengar cara bicara anak bangsawan itu. Ia pindah menatap ke arah Baldwin dengan sorot mata kesusahan, seakan-akan meminta pemuda itu membantunya.


 


 


“Huh ….” Baldwin meletakkan tangan ke kepala sang Adik, lalu seraya dengan kasar mengusap kepalanya menegur, “Kau membuat Nona Canna kesusahan! Kalau memang ada yang ingin ia lakukan, memangnya kita bisa apa?”


 


 


“Ta-Tapi!” Xavier tangan sang Kakak dari kepala, lalu dengan sedikit jengkel berkata, “Bukannya Tuan Odo yang menugaskan Nona Penyihir untuk merawat Ayahanda? Kalau begitu, bukannya ia seharusnya di sini dulu dan memeriksa⸻!”


 


 


“Saya tidak ditugaskan untuk itu,” sambung Canna dengan nada datar. Tatapan ramah yang sebelumnya perempuan itu perlihatkan seketika hilang, berganti dengan soto mata tajam yang tampak dingin. “Tolong jangan salah paham, Tuan Muda. Saya di sini bukan untuk melayani kalian, melainkan karena perintah Tuan Odo,” tambahnya seraga berbalik dari mereka.


 


 


Melihat mimik wajah seperti itu, Baldwin dan Xavier tersentak. Merasa telah memperlakukan orang yang telah menyembuhkan Ayah mereka dengan tidak baik.


 


 


“Tunggu sebentar, Nona Canna. Saya minta maaf atar perilaku Adik saya,” ujar Baldwin seraya berjalan ke arah sang Penyihir.


 


 


Canna terhenti saat membuka pintu. Seraya menoleh ringan, perempuan rambut putih uban tersebut berkata, “Tidak apa, saya tidak marah. Saya hanya ingin mempertegas hubungan yang ada. Soalnya …, ada banyak yang bilang kalau Anda dan adik Anda suka merendahkan orang lain.”


 


 


Setelah melemparkan sindiran tersebut, tanpa berkata apa-apa lagi Canna pergi dari kamar. Meninggalkan Baldwin dan Xavier, membuat kedua anak Keluarga Bangsawan Stein tersebut merenungkan sikap mereka yang sudah terlalu terbiasa untuk besar kepala.


 


 


ↈↈↈ


 


 


Catatan kecil  :


Fakta 016: Vil, Roh Agung di Perpustakaan Sihir Kediaman Luke, dia tidak dianggap sebagai Roh Agung oleh Roh Agung lainnya. Terutama Reyah.

__ADS_1


__ADS_2