
Malam menghampiri Kota Rockfield. Bagi mereka yang tidak terbiasa dengan udara di dataran tinggi, dingin yang ada begitu menyengat sampai-sampai merembas masuk ke dalam tulang.
Tidak seperti saat siang, kabut yang sebelumnya menutupi Kota Pegunungan perlahan menghilang dengan seringnya waktu berjalan. Langit terbentang dengan jelas, tanpa awan menutupi dan gugusan bintang dengan terang dapat terlihat di malam musim panas.
Pada salah satu kamar tamu di Kediaman Stein, Odo duduk di atas kursi kayu menghadap ke arah dua perempuan berpakaian piyama yang sudah bersiap untuk tidur.
Kamar tersebut memiliki desain barok dengan dominasi warna cokelat dan krem, memiliki satu ranjang untuk dua orang, kursi dan meja rias, cermin besar di sudut ruangan, dan karpet berbulu di permukaan lantai.
Dalam pembagian yang dilakukan oleh Ri’aima, kamar tidaklah dibagikan satu persatu kepada semua tamu mengingat Mansion Keluarga Stein tidaklah memiliki begitu banyak ruangan. Dalam pembagian tersebut, Canna dan Opium berada dalam satu kamar, lalu Huang bersama dengan Tuannya. Untuk Odo sendiri, ia mendapat kamar terpisah dari mereka karena Ri’aima secara pribadi ingin memberikan perlakukan khusus kepada Putra Tunggal Keluarga Luke itu.
Tetapi, bagi Odo sendiri kamar merupakan hal yang tidak terlalu dirinya butuhkan. Selain karena barang-barangnya bisa disimpan di dimensi penyimpanan, banyaknya keperluan yang harus dilakukan membuat Putra Tunggal Keluarga Luke itu tidak bisa beristirahat dengan tenang.
Sebab itulah, pemuda rambut hitam tersebut sekarang berada di kamar Canna dan Opium. Tidak membiarkan mereka istirahat lebih awal setelah perjalanan panjang, Odo malah mengajak mereka berbincang dan memberikan beberapa penjelasan terkait situasi yang ada.
Apa yang Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut sampaikan mencangkup kondisi pemerintahan Kota Pegunungan yang ada sekarang ini. Selain itu, ia juga menyampaikan beberapa hal terkait rencana Ri’aima dan keikutsertaan dirinya di dalam hal tersebut.
Dari semua penjelasan yang diberikan oleh Odo, Opium yang sudah naik ke atas ranjang dan menutup sebagian tubuh dengan selimut malah berkata, “Eng …, berarti kita masih bisa tinggal di sini sampai beberapa hari ke depan, ‘kan?” Perempuan rambut cokelat kemerahan tersebut tampak sangat kelelahan, sudah siap untuk tidur dengan piyama putih yang sedikit kedodoran pada bagian dada.
Berbeda dengan yuniornya yang sudah berbaring dan siap terlelap, Canna masih duduk di pinggiran tempat tidur dan mendengarkan penjelasan Odo dengan saksama meski wajah sudah tampak sangat mengantuk. Penyihir rambut putih tersebut mengangguk-angguk. Bukan karena paham dengan apa yang Odo sampaikan, namun karena sudah sangat mengantung dan bisa tumbang ke atas tempat tidur kapan saja.
“Begitulah ….” Odo bangun dari kursi, lalu mengembalikan tempat duduk ke depan meja rias dan kembali menyampaikan, “Nanti pagi tolong jelaskan juga ke An dan Huang, soalnya kemungkinan besar aku akan pergi pagi-pagi sekali.”
“Memangnya … Anda mau ke mana?” tanya Canna dengan mata setengah tertutup.
“Kau tidak mendengarkan ku tadi?” Odo menggaruk kepala, menghela napas kecil dan menyampaikan, “Aku harus menjalankan rencana Nona Ri’aima …. Karena itu, ada juga beberapa hal yang harus aku pastikan dulu.”
“Kalau begitu ….” Memaksakan diri meski sudah sangat mengantuk, Canna bangun dari tempat tidur. Ia meletakkan tangan kanan ke dada, lalu dengan tubuh sedikit sempoyongan meminta, “Biarkan saya membantu Tuan Odo dalam rencana tersebut. Anda sudah sangat banyak menolong kami, sekarang ini giliran saya yang membantu ….”
Mendengar itu, Odo sedikit menyipitkan mata dan merasa kalau perempuan rambut putih tersebut terlalu memaksakan diri. Berjalan menghampiri dan berdiri di hadapan Canna, Odo langsung menyentil kening perempuan itu dan membuat tubuhnya jatuh ke atas tempat tidur.
“Istirahatlah, cukup sampaikan hal sebelumnya kepada An atau Huang. Kau tak perlu memaksakan diri,” ujar Odo dengan tatapan datar.
Mendengar hal tersebut, Canna hanya bisa terdiam. Ia menutup wajahnya dengan lengan kanan, menyembunyikan ekspresi wajah yang perlahan ingin menangis. Meski perempuan rambut putih uban tersebut bukanlah seorang manusia murni dan memiliki sirkulasi Mana yang lebih baik dari manusia pada umumnya, namun ia tetaplah memiliki batasan stamina dan tidak bisa terus memaksakan diri untuk bergerak.
Memahami dan merasakan keterbatasan tersebut secara langsung, Canna merasa kecewa pada dirinya sendiri karena tidak melatih tubuh fisik dan mengembangkan stamina untuk bisa lebih berguna bagi Odo. “Meski diriku memiliki banyak waktu dan lebih diberkahi dari yang lain, mengapa selalu saja seperti ini? Kenapa diriku selalu menyusahkan Ayahanda?” benak perempuan rambut putih tersebut dalam rasa sesal.
Menyadari perasaan Canna dari gerak bibirnya, Odo hanya terdiam dan tidak berkata apa-apa lagi kepada perempuan itu. Sesaat menatap ke arah Opium, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut meletakkan telunjuk ke bibir dan dengan gerak mulut menyampaikan, “Aku titipkan dia kepadamu.”
Setelah menyampaikan hal tersebut, tanpa sepatah kata lagi Odo berjalan keluar. Meninggalkan kedua penyihir beristirahat dan tidak menyampaikan tujuan sesungguhnya ia ikut campur urusan Keluarga Stein.
.
.
.
.
Langkah kaki yang tegas dan tanpa kesan ragu, memperlihatkan gestur tubuh layaknya seorang pria dengan martabat tinggi. Di atas lantai marmer pada salah satu lorong di Kediaman Baron Stein, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut berjalan dengan wibawa yang memancar kuat. Berselimut karisma sampai-sampai membuat beberapa pelayan yang sempat berpapasan dengannya menunduk, memberikan rasa hormat yang begitu tinggi dan dipaksa merasakan perbedaan kasta yang ada.
Tidak memedulikan pelayan yang sesekali ditemui selama berjalan di lorong, Odo hanya menatap lurus dan melangkahkan kaki menuju lobi. Ia sekilas melirik ke arah lampu kristal dan ornamen yang ada di sepanjang lorong, merasa kalau Keluarga Stein memang memiliki barang-barang unik meski terbilang tidak terlalu kaya untuk kasta keluarga mereka di ranah Bangsawan Baron.
Perisai perak berhiaskan batu Ametis di bagian tengah, pedang bertahtakan Citrine, piring tembaga dengan Carnelian berjejer melingkar di pinggirannya, lukisan berbingkai batu Agate, dan Onyx yang menempel pada tempat lampu kristal. Melihat semua ornamen yang ada di sepanjang lorong tersebut, Odo tidak berkomentar banyak tentang selera orang memiliki semua barang-barang tersebut.
Itu terkesan bermewah-merah, bahkan sangat berlebihan untuk kalangan bangsawan tingkat Baron. Mengingat kembali arsitektur kediamannya sendiri, Odo pun menghela napas dan merasa kalau setiap orang memang memiliki selera yang berbeda-beda.
“Berbeda dengan Ibu yang suka mengumpulkan buku, aku rasa di sini mereka lebih suka mengoleksi permata. Terlebih lagi ….” Odo menghentikan langkah kaki sejenak, menoleh ke arah lukisan sang Nyonya Rumah dengan bingkai berhiaskan batu permata yang mirip dengan nama wanita tersebut. Sembari mengulurkan tangan dan menyentuh permukaan bingkai, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali bergumam, “Batu agate. Nama tersebut diambil dari bahasa Yunani Kuno di Dunia Sebelumnya, memiliki arti baik. Tetapi, kenapa malah kesan itu sama sekali tidak ada padanya?”
Nama memang tidak selalu mencerminkan sifat seseorang, itulah kesan yang Odo rasakan dari Agathe Stein. Sang Nyonya dari Mansion tempatnya berada sekarang. Menghela napas dan berhenti menyentuh bingkai lukisan tersebut, pemuda rambut hitam itu kembali melangkahkan kaki dan pergi menuju lobi.
Sepanjang lorong, Odo kembali menyadari sesuatu dari semua ornamen yang ada di Kediaman Stein. Hampir dari semua permata yang terpasang adalah batu kuarsa, dari yang paling biasa dipakai sebagai perhiasan sampai yang langka dengan nilai tinggi.
__ADS_1
Setelah jenis Korundum seperti Ruby yang merupakan mineral katalis untuk mempercepat sihir, Kuarsa sendiri memiliki sifat khusus lain seperti medium Mana yang baik. Sebab itulah, batu Kuarsa sendiri kerap dipakai dalam alat-alat sihir setelah Kristal Sihir. Terutama oleh para penyihir dari Miquator yang memiliki metode pembuatan alat sihir yang khas.
Merasa ada kaitannya dengan aura yang terasa aneh dari Kediaman Stein sejak pertama kali masuk, Odo segera melihat ke kanan dan kiri sembari mencari sirkuit atau pola sihir yang mungkin ada di sepanjang lorong. Tetapi, bahkan setelah dirinya sampai ke lobi hal seperti itu tidak ditemukan.
“Ya, mungkin saja hawa tidak menyenangkan ini disebabkan oleh hal lain. Terkadang insting ku juga salah dalam menilai sesuatu,” gumam Odo sembari menghela napas.
Tidak seperti sebelumnya, lobi tampak sepi dan hanya ada beberapa pelayan yang masih tampak membersihkan ruangan dengan mengepel lantai. Setelah melihat itu Odo lekas memeriksa alas kaki, sadar bahwa yang membuat ruangan kotor adalah para tamu yang tadi siang baru saja datang. Tentu saja itu juga termasuk dirinya.
Menoleh ke belakang, ia seketika menurunkan alis setelah melihat jenak tapak sepatu yang sedikit membekas pada permukaan lantai lorong. “Kalau diingat-ingat, aku belum mandi atau bahkan mengganti pakaian, ya? Tubuhku memang tidak mengeluarkan bau, tapi untuk pakaian yang terkena debu dan kotoran bagaimana?” gumam Odo sembari mengangkat ketiak.
Mencium aroma yang samar-samar tidak sedap, pemuda rambut hitam tersebut mengerutkan kening dan kembali bergumam, “Tanah …. Meski tak ada bau kecut, tapi memang ada aroma tanah.”
Odo menurunkan ketiak, menghela napas sejenak dan memasang mimik wajah lesu. Sembari kembali melangkah ke arah pintu utama Mansion untuk pergi, Odo menggunakan Aitisal Almaelumat untuk memanipulasi aroma tanah yang menempel pada pakaian. Ia mengubahnya menjadi tanpa bau, lalu menghilangkan zat dan bakteri yang menempel untuk menghindari terciptanya aroma tak sedap lain.
Setelah Odo melewati ruang tamu depan dan hampir sampai ke pintu utama, dari lantai dua turun sang Nyonya Rumah pemilik Kediaman Stein. Suara keluar dari sepatu hak tinggi wanita itu saat melangkah, cukup keras dan sedikit menggema di dalam ruangan yang sunyi.
Itu cukup untuk menghentikan Odo, membuat Putra Tunggal Keluarga Luke itu menoleh dengan sorot mata datar dan menatap ke arah sang Baroness, Agathe Stein.
Pakaian yang dikenakan Agathe berbeda dari yang terakhir kali Odo lihat. Empire Waist Dress dengan dominan warna biru navy, berhiaskan renda pada sekitar dada dan lengan, lalu memiliki lipatan-lipatan pada bagian pinggang sampai ujung bawah. Tidak mengenakan rias tebal ataupun perhiasan, wanita itu memang masih terlihat sangat muda di usianya yang sudah senja.
Melihat penampian tersebut Odo memasang wajah suram, dirinya paham bahwa gaun seperti itu bukanlah sesuatu yang dikenakan saat ingin tidur. Mengingat waktu yang sudah mulai larut malam dan kebanyakan orang di Kediaman Stein sudah tidur, Putra Sulung Keluarga Luke itu paham tujuan di balik penampilan Agathe.
“Engkau ingin pergi ke mana, wahai Putra sang Penyihir Cahaya?” tanya wanita rambut biru tua tersebut setelah menuruni anak tangga terakhir. Menurunkan gaun yang sedikit dirinya angkat selama menuruni anak tangga, wanita dengan gelar bangsawan Baroness tersebut kembali bertanya, “Apakah engkau ingin mengurus rencana yang Ri’aima bicarakan? Atau mungkin memenuhi kepentingan pribadi?”
Sorot mata Putra Tunggal Keluarga Luke berubah dingin, benaknya dipenuhi rasa tidak suka bercampur benci terhadap sifat dan kepribadian wanita rambut biru pudar tersebut. “Ah, dia memang seorang pembohong ulung,” itulah yang dikatakan oleh wajah Odo saat melihatnya. Dipenuhi rasa jijik, ia memandang rendah wanita yang telah menelantarkan kewajiban dan melemparkan semua itu kepada anak-anaknya.
“Wanita hina ….”
“Mavis Luke juga berkata seperti itu saat pertama kali bertemu dengan diriku.” Agathe tersenyum tipis. Bukan dengan rasa angkuh ataupun bangga pada dirinya sendiri, namun bersama dengan ekspresi sedih yang tampak begitu jelas. Sembari kembali berjalan mendekat dan meletakan tangan kanan ke depan dada, wanita rambut biru pudar tersebut bertanya, “Apakah sehina itu sampai engkau yang merupakan putranya juga berkata demikian?”
“Aku tidak tahu apa yang Bunda katakan kepadamu, namun sekarang kau memang terlihat hina di mataku.” Odo berbalik dengan cepat, menghadap wanita tersebut dan sembari menatap tajam berkata, “Kau telah meninggalkan kewajiban dan berpura-pura sakit jiwa, lalu menyerahkan semua itu kepada anak-anakmu itu …. Meski tahu situasi Rockfield sedang seperti ini, kau ⸻”
“Terus kenapa?” potong Agathe dengan tegas. Ia berdiri di hadapan Odo dengan mimik wajah tidak peduli atas semua masalah yang ada, lalu balik menatap tajam dan dengan penuh rasa kesal menyampaikan, “Engkau tahu, Putra sang Penyihir Cahaya. Diriku sangatlah benci kota ini …, begitu pula Keluarga Stein!”
Odo untuk sesaat memasang ekspresi bingung, merasa heran mendengar perkataan tersebut keluar dari mulut sang Nyonya Rumah. Menggunakan Spekulasi Persepsi secara terpusat, ia pun mencari tahu mengapa bisa seorang wanita yang seharusnya menyokong Keluarga Stein malah membenci tempatnya sendiri.
Putra Tunggal Keluarga Luke itu mengingat-ingat latar belakang Agathe, nama keluarga wanita itu sebelum berubah menjadi Stein, dan alasan mengapa gelar Baroness bisa dimiliki olehnya yang merupakan istri dari seorang Baron. Semua infomasi terkait wanita rambut biru tersebut Odo dapat dari arsip yang pernah dirinya baca di Kediaman Luke, begitu pula beberapa rumor aneh terkait pernikahannya dengan Oma Stein.
“Begitu, ya ….” Odo menghela napas kecil setelah menyadari sesuatu, lalu berhenti menatap hina dan sembari wajah lesu berkata, “Kehidupan bangsawan memang bisa menjadi sangat busuk. Ini pelajaran baru bagiku ….”
Agathe seketika merasa heran. Bukan disebabkan oleh perkataan aneh yang keluar dari mulut Odo, namun karena pemuda itu berhenti menatap hina. Sembari menurunkan tangan dari dada, wanita dengan mata hijau zamrud tersebut bertanya, “Apa … yang telah engkau sadari? Apakah engkau juga akan langsung tahu seperti Penyihir Cahaya waktu itu?”
“Aku tidak tahu apa-apa ….” Odo mengerutkan kening, lalu dengan nada sedikit geram menyampaikan, “Entah apa yang kau rasakan ketika menikahi Oma Stein ataupun seberapa dalam kebencian yang dirimu pendam, aku tidak tahu hal tersebut. Namun, ada satu hal yang pasti ….”
“Yang pasti?”
“Hmm ….” Odo mengangguk, lalu mengangkat tangan kanan dan meletakkannya ke leher Agathe seperti ingin mencekik wanita rambut biru pudar itu. Sembari menatap sedih sang pemuda pun berkata, “Seorang Ibu tidak boleh membenci anaknya sendiri. Jika kau tidak menginginkan mereka, jangan lahirkan! Kau seharusnya mampu untuk itu ….”
“Wanita tidaklah kuat, begitu pula diriku lemah ….” Agathe hanya tersenyum pasrah tanpa berusaha menyingkirkan tangan Odo. Wanita rambut biru pudar tersebut sejenak memejamkan kedua mata, lalu dengan suara lemas kembali berkata, “Tidak seperti Penyihir Cahaya yang menjadi panutan banyak perempuan, wanita di hadapan engkau ini sangatlah rapuh dan tidak berdaya. Bahkan untuk melahirkan anak pun saya tidak bisa memilih.”
Odo perlahan mulai mencekik Agathe, perkataan tersebut membuatnya teringat dengan kehidupan di Dunia Sebelumnya. Pola pikir orang lemah dan tidak berdaya, sebuah cara pandangan yang kebanyakan para bunga malam miliki.
Saat melihat Nyonya mereka dicekik, beberapa pelayan yang sedang membersihkan tempat tersebut sempat terkejut dan ingin menolongnya. Namun saat merasakan nafsu membunuh dan intimidasi yang begitu kuat dari Odo, mereka seketika membatu di tempat dengan tubuh gemetar. Tanpa bisa pergi menolong ataupun berteriak untuk meminta bantuan orang lain.
__ADS_1
“Apa kau sangat benci dengan Oma Stein?”
Odo berhenti mencekik, mengangkat tangannya dari leher Agathe dan sedikit menghela napas. Dalam hitungan detik, ia menurunkan pancaran intimidasi kepada para pelayan yang ada di tempat tersebut dan membuat mereka kembali bisa bergerak.
“Tentu saja saya benci ….” Agathe memasang ekspresi hampa, lalu ia pun meletakkan kedua tangan ke lehernya sendiri seperti hendak mencekik. Sembari menatap lurus lawan bicaranya, wanita rambut biru pudar itu menyampaikan, “Daripada diriku mati tua bersama tua bangka itu, mati di tangan engkau mungkin lebih menyenangkan.”
“Aku tak mau membuat masalah dengan Ri’aima.”
Mendengar itu, Agathe menunjukkan ketertarikan dan segera menurunkan kedua tangan dari leher. Sembari memasang mimik wajah heran ia pun bertanya, “Bukan Keluarga Stein, namun malah Ri’aima. Apakah engkau sangat tertarik dengan Putriku?”
“Tidak juga ….” Odo menghela napas ringan, lalu sembari berbalik ke arah pintu kembali berkata, “Aku akan pergi keluar. Jika ada sesuatu yang kau sampaikan, cepat katakan! Jangan buang waktuku!”
“Untuk sekarang tidak ada ….” Agathe memasang senyum tipis, meletakkan tangan kanan ke depan bawah bibir dan berkata, “Saya hanya ingin menyapa Tuan Odo dengan benar. Asal engkau tahu, diriku ini juga merupakan salah satu perempuan yang mengagumi Penyihir Cahaya.”
“Hah?” Odo terhenti saat memagang gagang pintu, lalu menoleh dengan sorot mata heran dan bertanya, “Kau pikir aku akan percaya? Sudahlah! Bukannya kau akan kerepotan kalau ada orang lain yang tahu?”
“Tahu apa?”
“Kau tidak gila!”
“Ah ….” Agathe tersenyum tipis seakan menertawakan, lalu sembari menurunkan tangan kanan menyampaikan, “Semua pelayan yang bekerja di kediaman ini tahu hal tersebut, hanya Putra dan Putriku saja yang tidak tahu itu ….”
Odo benar-benar mengerutkan kening, ia langsung mengetahui penyebab dari tidak nyamannya suasana di dalam Kediaman Stein saat pertama kali masuk. Aura penuh tipu muslihat, kebohongan yang kental, dan dusta yang dianggap biasa. Hawa di dalam Mansion terasa seperti sebuah sarang laba-laba, memikat dengan keindahan namun dipenuhi sebuah tipuan yang menjerat.
“Kalau aku bilang hal ini kepada anak-anakmu, apa yang akan kau lakukan?” tanya Odo sembari menajamkan tatapan.
“Katakan saja ….” Agathe tidak gentar sama sekali, lalu sembari berhenti tersenyum ia langsung mengancam, “Saat itu, akan saya pastikan semua rencana dan kepentingan yang engkau miliki runtuh seketika.”
Mendengar ancaman tersebut, Odo berhenti menyentuh gagang pintu dan berbalik kembali menghadap ke arah Agathe. Ia hanya memberikan reaksi datar, seakan-akan ancaman yang diberikan wanita itu hanyalah sebatas gertakan belaka.
Berusaha menganggap ancaman itu dengan serius, Odo menarik napas dengan berat dan menghembuskannya melalui mulut. “Kau juga sedang merencanakan sesuatu, ‘kan?” tanya Odo sembari memalingkan wajah, melihat ke arah para pelayan yang masih belum bergerak dari tempat mereka. Dengan ekspresi yang berubah kelam, pemuda rambut hitam itu perlahan melirik dan kembali berkata, “Mari kita jaga batasan masing-masing. Aku tidak akan mengganggu rencanamu ataupun berkomentar, karena itu marilah saling kooperatif.”
“Kooperatif?” Agathe memang ekspresi sedikit curiga, merasa kalau pemuda di hadapannya tersebut telah mengetahui banyak hal yang seharusnya tidak boleh diketahui. Sembari memasang senyum tipis, sang Nyonya Rumah memastikan, “Memangnya apa yang engkau tahu tentang diriku, wahai Putra sang Penyihir Cahaya?”
“Entahlah ….”
Odo berbalik, lalu membuka pintu utama dan membiarkan udara dingin dari luar masuk ke dalam. Ia mengambil beberapa langkah keluar dari Mansion dan berhenti di teras. Saat dirinya berbalik dan menghadap ke arah Agathe yang masih di dalam, mata biru pemuda itu seakan menyala tajam di bawah paparan lampu kristal yang redup.
Rambut hitam pemuda itu berkibar, layaknya tirai malam yang begitu pekat dan memikat. Sembari menyodorkan telapak tangan ke arah Nyonya Rumah, Putra Tunggal Keluarga Luke itu dengan jelas menyampaikan, “Aku percaya dengan tekad dan keberanian yang kau miliki, menurut diriku kau juga layak untuk hal tersebut. Sebab itulah, aku tidak akan berkomentar tentang apa yang kau lakukan kepada Oma.”
Wajah Agathe seketika memucat, kedua matanya terbuka lebar dan dengan sedikit panik melangkah keluar dari dalam Mansion. Karena takut para pelayan mendengar hal itu, ia segera menutup pintu rapatrapat.
Berdiri gemetar di hadapan pemuda rambut hitam tersebut, sang Nyonya Rumah memastikan, “Mengapa engkau⸻?!”
Odo langsung mengacungkan jari telunjuk dan menempelkannya ke bibir Agathe, lalu sembari mendekatkan wajah ia pun berbisik, “Lakukan saja apa yang telah kau pilih sampai akhir. Kau sudah merelakan hubungan dengan anak-anakmu, karena itu berbohonglah sampai kau menyelesaikan pilihanmu itu.”
Putra Tunggal Keluarga Luke itu menurunkan telunjuk dari depan mulut Agathe, lalu segera berbalik dan berjalan turun dari teras. Tidak berkata apa-apa lagi, ia pergi menuju gerbang utama Kediaman Stein tanpa berpaling kembali.
Agathe hanya bisa terdiam, ia benar-benar merasa dipukul telak dalam sebuah percakapan. Sebagai perempuan yang biasa mendominasi, itu kedua kalinya dalam seumur hidup Agathe merasa dikalahkan tanpa bisa membalas kembali.
Untuk yang pertama itu terjadi ketika dirinya terpaksa menikahi Oma Stein untuk mempertahankan gelar bangsawan. Itu dipenuhi rasa benci dan bahkan sampai mengutuk takdirnya sendiri karena lahir di kalangan bangsawan.
Namun untuk yang kedua, perasaan aneh mengisi dalam benak Agathe. Ia meletakkan tangan kanan ke dada, lalu sembari tersenyum kecil berkata, “Ia memang Putramu, Nyonya Mavis. Cara pandang kalian sangat mirip ….”
ↈↈↈ
__ADS_1