
.
.
.
.
Gelap dan sunyi ⸻ Keduanya menyatu dalam kesederhanaan. Menciptakan suasana damai yang lembut, menyelimuti hati mereka dengan kehangatan semu. Berganti dingin saat angin malam berhembus, diikuti dengan bisikan halus dedaunan. Mengingatkan mereka akan sesuatu yang kejam, layaknya takdir dan penderitaan.
Tempat itu tidak seperti kilas balik ataupun ilusi dalam mimpi. Meski terasa fana ibarat imitasi belaka, mereka berdua mampu berinteraksi dengan penduduk sekitar.
Sesekali disapa ramah saat berpapasan di jalan, lalu mereka pun membalasnya dengan senyum ringan. Tanpa ada rasa janggal, seolah-olah mereka berdua telah menyatu dan menjadi bagian dari Realm semu itu.
Leviathan terpaku pada desa yang telah mengikatnya dengan masa lalu. Penyesalan perlahan terasa semakin jelas, menyelimuti hatinya dengan kesedihan. Membuat suasana berubah suram, senyap tanpa sepatah kata pun terucap dari mulut mungilnya.
Langkah kaki Putri Naga perlahan semakin lambat, lalu terhenti saat sampai pada sebuah jembatan yang berdiri di atas kanal. Itu terbuat dari kayu, cukup lebar dan tampak kukuh meski sudah tua. Membagi desa menjadi dua pemukiman, antara mereka yang bekerja sebagai petani dan peternak.
“Kenapa berhenti?” Odo bersandar pada pembatas jembatan. Sejenak mendongak dan melihat penerang malam, pemuda rambut hitam tersebut perlahan menajamkan sorot mata. Setelah menghela napas, dirinya kembali menatap Leviathan dan berkata, “Ini hanya rekonstruksi momen yang dibuat dengan sangat nyata. Penduduk sekitar memang bisa melihat kita dan melakukan interaksi, namun itu semua hanya pola algoritme. Kalau kelamaan diam, mereka bisa saja curiga dan melaporkan kita ke penjaga sekitar, loh.
“Tenang saja, desa ini tidak memiliki penjaga ….” Leviathan ikut bersandar pada pembatas. Melihat aliran kanal yang merefleksikan rembulan, Putri Naga dengan lesu menambahkan, “Tempat ini memang perbatasan dan cukup terpencil. Namun, letaknya paling selatan dan tidak berhadapan langsung dengan wilayah Iblis di utara.”
“Iblis sudah muncul di zaman ini, ya?” Odo menahan napas sejenak. Sekilas melirik dan memperlihatkan ekspresi dingin, pemuda itu lekas memastikan, “Apa kalian sedang berperang dengan mereka?”
“Sepertinya kamu salah paham tentang mereka.” Leviathan menoleh. Dengan senyum kecut, wanita rambut perak keabu-abuan tersebut menyampaikan, “Meski disebut Iblis, tidak semua dari mereka jahat dan keji. Mendefinisikan ras seperti itu tidak baik, loh. Kamu harus melihat mereka secara individu.”
“Tidak ada baik-buruk dalam persepsi semacam itu ….” Odo menghela napas ringan. Sejenak menggelengkan kepala dengan resah, dirinya lekas menghadap lawan bicara dan menyampaikan, “Itu sudah mencangkup kodrat. Tidak peduli seberapa baik dan lemahnya karnivor, mereka tetap akan dipandang jahat oleh herbivor. Sifat bawaan, keturunan, dan hasrat bertahan hidup. Saat ditimbang, penilaian terhadap individu takkan ada artinya lagi.”
“Saya rasa itu ada benarnya. Daripada menilai secara individu, kebanyakan dari mereka lebih suka menggeneralisasi. Entah itu menggunakan ras ataupun status dalam hierarki.” Leviathan tidak membantah. Mengingat kembali perbuatan bangsa iblis pada akhir peradaban makhluk primal, Putri Naga tidak ingin membela ataupun meluruskan hal tersebut. Hanya menahan napas sejenak, lalu dengan nada resah bertanya, “Hey, Odo …. Kenapa bangsa Iblis ingin memusnahkan kami, ya? Apakah karena mereka makhluk rapuh? Karena takut ditindas, mereka mengumpulkan kekuatan supaya mampu memusnahkan kami? Membuat siasat, lalu mendatangkan kehancuran⸻!”
“Bukan!” Odo membantah dengan tegas. Duduk di atas pembatas dan menggantung kedua kakinya ke arah kanal, pemuda itu perlahan menurunkan tatapan dan menjelaskan, “Mereka harus memusnahkan peradaban makhluk primal untuk menurunkan jiwaku.”
“Menurunkan kamu? Dari mana? Untuk apa?” Leviathan kembali menoleh, menatap pemuda itu dengan heran dan lanjut bertanya, “Kenapa bisa itu ada hubungannya dengan kemusnahan peradaban kami?”
“Pemusnahan adalah proses. Mungkin ini terdengar kejam, namun itu hanyalah tahap kecil dari sebuah ritual panjang.” Odo menarik napas dalam-dalam. Sejenak memejamkan mata, ia lekas mendongak dan melihat gugusan bintang. Sembari memasang senyum sedih pemuda itu pun menyampaikan, “Dibandingkan umat manusia, kalian sudah memenuhi peran khalifah dengan sangat baik. Memimpin dunia ini meski terlahir dalam keterbatasan, ancaman, dan batasan yang tidak masuk akal.”
“Jika kamu menyebutnya seperti itu, berarti segala kejadian di semesta ini hanyalah proses semata. Tidak ada hasil ataupun buah yang dapat diambil manfaatnya. Tidak ada gunanya kita hidup, penuh kesia-siaan dan tidak berarti.” Leviathan menggerutu kesal. Merasa dipermainkan, Putri Naga sedikit menyenggol pemuda itu dan meluruskan, “Lagi pula, makhluk primal bukanlah pemimpin. Kami lahir bukan sebagai pemimpin.”
“Tidak ada yang lahir sebagai pemimpin, mereka tumbuh sebagai pemimpin.” Odo sedikit menoleh, melempar senyum lembut sembari berkata, “Dalam persepsi apapun, kalian adalah khalifah zaman ini. Paling tidak …, kalian telah diakui oleh Awal Mula untuk mengemban peran tersebut.”
“Awal Mula, ya?” Leviathan sejenak membisu. Berhenti bersandar dan melangkah menuju sisi lain jembatan, wanita rambut perak keabu-abuan tersebut menyampaikan, “Dulu Ayunda juga sering membicarakan hal itu. Tentang awal dari segalanya, sesuatu yang memberi kita akal dan luhur. Entitas sekaligus akar dunia ini, konsep eksistensi kehendak semesta.”
“Kalian sudah bisa memahami itu dalam tingkat pengetahuan ini, ya? Luar biasa ….” Odo naik dan berdiri di atas pembatas. Berbalik menghadap Leviathan, pemuda itu sekilas melempar senyum tipis dan bertanya, “Apa kakakmu pernah belajar filsafat?”
“Apa hubungannya dengan filsafat?” Leviathan menoleh. Menatap bingung dengan sorot mata tajam, wanita itu dengan tegas balik bertanya, “Untuk mempelajari akar dunia, memangnya kita perlu belajar hal semacam itu? Bukankah kebenaran hanya bisa didapat dengan ilmu pengetahuan yang jelas? Bukan perkiraan dan mengada-ada, bukan?”
__ADS_1
“Memperjelas ilmu pengetahuan hanya dilakukan oleh orang dungu.” Odo menghela napas panjang. Segera turun dari pembatas, dirinya langsung berjalan mendekat dan berdiri di hadapan Putri Naga. Sembari mendekatkan wajah, pemuda itu dengan nada tegas menyampaikan, “Supaya tidak dikucilkan dari masyarakat, para cendekiawan mengolah pengetahuan mereka agar dapat dipahami oleh orang banyak. Itulah yang disebut ilmu terapan.”
“Ilmu terapan?” Leviathan melangkah mundur sampai menyentuh pembatas. Keringat sedikit keluar, wajahnya memucat dan ritme pernapasannya mulai terganggu.
“Pada dasarnya ilmu pengetahuan itu tidak memiliki manfaat ataupun arti, kitalah yang memberikan manfaat dan arti tersebut dengan melakukan penerapan. Untuk menyelesaikan masalah, membangun peradaban dan teknologi, atau bahkan menguak kebenaran.” Odo mengangguk sekali. Berhenti memberi tekanan, pemuda itu sekilas memalingkan pandangannya dengan lembut dan berkata, “Pengetahuan yang sesungguhnya itu tidak pernah memiliki wujud dan selalu abstrak, hanya berupa informasi dalam pikiran dan terus berkembang. Tanpa bisa diikuti oleh perkembangan peradaban.”
Topik pembicaraan yang tiba-tiba berubah membuat suasana menjadi sedikit canggung. Baik Odo maupun Leviathan, mereka tidak mengira obrolan ringan tersebut bisa menjadi berat dengan begitu cepat.
“Ki-Kita kesampingkan itu dulu ....” Hanya karena perubahan ekspresi, Leviathan langsung merasa janggal dan cemas. Itu benar-benar membuatnya gemetar, lalu bulu kuduk pun ikut berdiri saat kulit tertiup angin dingin. “Ada yang aneh! Kesan? Ya, kesan! Berubah lembut dan ramah? Dia? Kenapa bisa begitu?!” benaknya dengan pucat, sekilas berpaling untuk menyembunyikan mimik wajah.
“Ini sifat bawaan.” Meski sudah disembunyikan, Odo tetap menyadari kecemasan tersebut. Menjentikkan jari sekali, pemuda itu melempar senyum angkuh sembari menyampaikan, “Tolong jangan cemas kalau aku tiba-tiba jadi ramah, ini sifat bawaan.”
Leviathan ingin bertanya. Namun, nalurinya memberikan peringatan keras supaya tidak melanjutkan topik tersebut. Di balik pertanyaan yang tersangkut pada tenggorokan, ada jawaban yang bisa menghancurkan mentalnya dalam sekejap.
“Su-Sudah saya bilang, kita kesampingkan dulu persoalan itu!” Leviathan mengelak. Memalingkan pandangan, lalu malah berkacak pinggan dan menegaskan, “Kita harus keluar dari tempat ini dulu! Saya cemas meninggalkan Alyssum bersama mereka! Terutama dua Elf aneh itu!”
“Kau sangat dekat dengannya, ya? Padahal baru kenal ….” Odo menyipitkan tatapan. Sekilas menjulurkan lidah layaknya sedang meledek, pemuda itu dengan nada menekan kembali bertanya, “Apakah dia terlihat mirip dengan seseorang? Contohnya seperti kenalan⸻?”
“Diam!” Leviathan membentak. Sembari menunjuk lurus pemuda itu, Putri Naga dengan tegas memperingatkan, “Sekali lagi menyinggungnya, kepalamu akan ku ledakan pada saat itu juga!”
“Ah, aku rasa itu tidak mungkin.” Odo menyeringai tipis. Tanpa rasa takut, pemuda itu mengangkat tangannya dan ikut menunjuk. Bukan ke arah Leviathan, namun seorang gadis yang sedang melihat mereka dari ujung jembatan. “Dia benar-benar mirip seperti Alyssum, ya? Kenalan? Atau malah sahabatmu?” ujarnya dengan remeh.
“Kamu⸻!” Leviathan terhenti, kaki yang separuh diangkat untuk menendang kembali turun. Dengan wajah pucat dirinya perlahan menoleh, tidak bisa berkata apa-apa saat melihat gadis tersebut. “Dia masih …? Tidak mungkin …! Kenapa bisa dia masih hidup?” ujarnya sembari melangkah mundur, dengan rasa bersalah yang menyelimuti batin.
“Benar-benar mirip, ya? Takdir memang unik.” Odo meloncat mundur untuk menjaga jarak dari Leviathan. Bersandar pada pembatas, pemuda itu sekilas menoleh ke arah gadis di ujung jembatan seraya bertanya, “Apa kau membunuhnya? Dia sumber penyesalanmu, ‘kan?”
Perkataannya yang histeris seakan merusak susunan Realm semu tersebut. Tiba-tiba seluruh tempat dipenuhi kegelapan dan berubah hitam pekat, seolah-olah mereka ditendang keluar dari susunan konstruksi dunia. Langit, tempat berpijak, bentuk objek, seluruhnya berubah hitam layaknya sebuah layar digital yang dimatikan secara paksa.
Bagi mereka, beberapa detik itu terasa cukup lama. Sebelum sempat berkedip, seluruh tempat kembali normal seperti semula. Tidak ada perubahan, seakan-akan waktu mereka terhenti dalam momen singkat tersebut.
Baik Odo ataupun Leviathan, mereka berdua sama-sama panik dan bingung. Saling menatap dengan mimik wajah pucat, sejenak menahan napas kecemasan.
Sebelum sempat membicarakan hal tersebut, mereka berdua segera menyadari kejanggalan yang ada. Seperti halnya pemeran pentas yang tiba-tiba diusir dari panggung, mereka tidak bisa lagi melakukan interaksi dengan orang-orang di dalam Realm semu.
Keluar dari persepsi, tidak bisa melakukan kontak ataupun memberikan pengaruh kepada tempat itu. Lebih dari sekadar eksistensi semu ataupun abstrak, namun sepenuhnya berubah menjadi entitas luar.
Hanya dengan melihat ekspresi penduduk desa dan gadis di seberang jembatan, Odo dan Leviathan langsung memahaminya. Tertegun sesaat, terdiam tanpa melakukan apa-apa dan hanya bisa saling menatap. Tahu bahwa kondisi tersebut sengaja diciptakan oleh seseorang dengan tujuan tertentu.
“Kamu ini⸻!” Leviathan langsung mencurigai Odo. Saat melihat raut wajahnya yang juga ikut terbelalak, rasa ingin menyalahkan seketika berubah menjadi takut. “Bukan kamu yang melakukan ini?” tanyanya memastikan.
“Sayang sekali bukan.” Odo menelan ludah dengan berat. Segera melirik tajam, pemuda itu menahan napas sejenak dan lekas menyampaikan, “Dengan baik-baik, Leviathan. Sebenarnya dari tadi aku sudah berusaha mengambil alih Realm semu ini. Namun, baru saja Aitisal Almaelumat dihalau oleh sesuatu dan terpental. Tepatnya, tubuhku dipaksa untuk menonaktifkan manipulasi informasi. Itu yang membuat kita terlempar keluar dari persepsi dunia.”
“Huh?! Apa yang kamu bicarakan?!”
Leviathan semakin bingung. Rasa cemas bercampur dengan kesal, membuatnya mengambil langkah mendekat dan ingin menarik kerah pemuda itu. Namun, langkahnya seketika terhenti saat seorang gadis kecil berjalan melewatinya.
__ADS_1
Melewati ⸻ Lebih tepatnya, menembus tubuh Putri Naga seakan dirinya tidak ada.
Bukan karena bentuk astral atau semacamnya, namun lebih seperti berada di luar jangkauan persepsi Realm semu. Berada dalam tingkat informasi yang berbeda, di luar observasi karena perbedaan letak konstruksi realitas.
“Uwah, kita benar-benar ditendang keluar ….”
Odo segera melihat sekitar, mengamati penduduk desa dan pergerakan mereka. Ingin memastikan sesuatu, pemuda itu lekas memegang pagar pembatasan dan menendangnya sekeras mungkin. Namun, sama sekali tidak hancur ataupun tergores sedikit pun.
“A-Apa yang kamu lakukan, Odo? Kenapa tiba-tiba menendang itu?” Leviathan tampak kebingungan. Ikut mencoba apa yang pemuda itu lakukan, dirinya langsung terkejut karena tidak bisa merusak pembatas kayu. “Ke-Kenapa? Apa yang terjadi? Kita sudah menjadi hantu, ya?” tanyanya dengan cemas.
“Objek masih disentuh, tetapi tidak bisa diubah dengan interaksi sekuat apapun,” gumam Odo dengan bingung. Meninjau ulang informasi yang ada, pemuda itu lekas melihat ke arah gadis yang sebelumnya melewati jembatan. “Dia tadi masih melihat kita, ‘kan?”
Pertanyaan itu adalah sebuah kesalahan. Leviathan langsung teringat kembali dengan gadis tersebut, lekas menoleh dan mencarinya di antar penduduk desa. Menggerakkan mata ke sana kemari, lalu tubuh pun mulai gemetar ketakutan.
Berbeda dengannya, Odo lekas menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk tetap tenang. Memastikan seluruh indra, menyusun informasi yang tersedia, dan mulai memahami keadaan. Sejenak membuka kedua telapak tangan, pemuda itu langsung terkejut karena tidak bisa lagi merasakan Mana dan Ether.
Firasat buruk menyelimuti. Sejenak menahan nahan napas, Odo lekas menoleh ke arah Leviathan untuk memperingatkan. Namun, itu sudah terlambat. Sebuah momen rekonstruksi telah dimulai.
“Berhenti …! Jangan pergi …! Ini sudah gelap! Kembali lah, Fiona!!”
Seolah-olah dibuat hanya untuk menyerang batin Leviathan, momen dan tempat itu dipilih. Ditata ulang dengan rapi, mendekati sempurna dan mirip seperti dalam ingatannya.
Detik-detik di mana sang Putri Naga membuat kesalahan yang tidak bisa diperbaiki, dosa sekaligus penyesalan batin pertama. Sebuah luka lama yang dipaksa terbuka kembali.
“Tunggu!” Odo segera meraih tangannya, mencegah Leviathan berlari mengejar gadis kecil yang sebelumnya menyeberangi jembatan. “Ini bukan kenyataan! Meski dibuat dengan sangat rapi dan mirip ingatanmu, tempat ini hanyalah imitasi!” ujarnya sembari berusaha menahan Putri Naga.
“Lepaskan!” Leviathan langsung menyikut pemuda itu, tepat pada wajah sampai terdorong ke belakang. “Saya harus mengejarnya!” ujar Putri Naga itu sembari berlari.
“Sebentar! Dengarkan dulu!” Tidak menyerah, Odo langsung meloncat dan menjatuhkan Putri Naga dari belakang. Sembari menahannya dengan berat badan, pemuda itu pun kembali membujuk, “Ini manipulasi psikologi! Dunia ini tercipta hanya untuk mengorek-ngorek lukamu! Jangan terpengaruh! Teguhkan hatimu!”
“Diamlah! Ini bukan urusan kamu!” Leviathan kembali menyikut. Namun, kali ini Odo menghindarinya dan mencengkeram tangan Putri Naga dengan kencang. “Le-Lepaskan!! Diriku harus mengejarnya!”
“Dengarkan aku dulu!” Kekuatan fisik Odo memang kalah jauh. Namun, dirinya berhasil menahan kedua tangan Putri Naga menggunakan teknik kuncian. Menaikkan kaki kanan ke atas punggung Leviathan dan memusatkan berat badan, sekali lagi pemuda itu membujuk, “Sensasi nyata yang indra kita rasakan! Rasa sakit yang engkau dekap di benakmu itu! Semuanya hanya ilusi! Ini hanya permainan pikiran! Jangan terbawa!”
“Permainan? Kamu bilang ini hanya permainan?!”
Leviathan berhenti meronta. Namun, tentu saja dia tidak menyerah begitu saja. Menarik napas dalam-dalam dan meningkatkan sirkulasi Mana, Putri Naga menyiapkan sihirnya untuk menyerang Odo.
“Apa⸻?!” Odo terkejut. Segera melepaskan Leviathan, pemuda itu langsung meloncat ke belakang untuk menghindar. Namun, reaksinya sedikit terlambat. “Kenapa dia bisa menggunakan sihir!?” benaknya sembari meringkuk di udara, memasang posisi bertahan untuk mengurangi dampak serangan.
Tepat saat dirinya masih melayang, gelombang sihir meledak dari arah Leviathan. Menerbangkan Odo sampai beberapa meter, lalu terguling sampai membentur pagar pembatas jembatan.
“Bagimu ini hanyalah permainan! Namun ….” Leviathan segera berdiri. Sekilas menoleh dan memberikan tatapan murka, wanita itu dengan lantang menegaskan, “Penyesalan ini adalah diriku! Entah itu rasa pilu, penderitaan, ataupun rasa sakit yang membuat dadaku sesak! Semuanya adalah milikku! Sesuatu yang membentuk diriku sekarang! Beraninya kamu menyebutnya permainan belaka!”
“Levia⸻!”
__ADS_1
“Diam!” Leviathan berbaik. Tanpa berpaling lagi, dirinya langsung melangkah pergi sembari menegaskan, “Jangan mengikutiku!”