Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[88] Dekadensi Kota Rockfield V – Entropi Kota (Part 02)


__ADS_3

 


 


 


“Apakah Anda memiliki alasan khusus?” tanya Odo memastikan. Ia sekilas melirik ke arah Mitranda yang duduk di sebelah sang Owner, lalu dengan nada menekan bertanya, “Apakah itu karena permintaan Nyonya Quidra sendiri?”


 


 


Menggantikan sang Owner, Mitranda Quidra segera menjawab, “Itu benar, Tuan Nigrum. Saya harap Anda mengurungkan niat untuk melibatkan saya ke dalam permasalahan politik di Kota ini.”


 


 


Odo terdiam mendengar perkataan itu. Selama pembicaraan, itu pertama kalinya ia mendengar langsung suara wanita rambut pirang pudar tersebut. Setelah mengamati dengan saksama, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali merasa bahwa para perempuan di daerah pegunungan memang memiliki kecantikan yang tidak biasa.


 


 


Midi Dress berwarna biru navy, bersanding dengan sarung tangan renda hitam dan perhiasan berupa kalung yang melingkar di leher Mitranda yang kurus. Mata sayu menatap dengan begitu anggun, bibir merah menggoda, dan tubuh yang tampak lembut. Semua itu membuat Odo kagum, merasa akan sangat sia-sia jika wanita berkualitas tersebut berakhir selamanya menjadi seorang Bunga Malam.


 


 


Menghela napas dengan berat, Odo Luke memasang wajah sedikit kecewa. Ia menundukkan wajah, lalu dengan nada seakan keberatan berkata, “Sayang sekali. Padahal saya ingin mempermudah rencana ini dan meminta Anda kencan dengan saya.”


 


 


Perkataan tersebut tentu membuat Mitranda terkejut, begitu pula Owner dan kedua perempuan di sebelah Odo. Mengingat pembicaraan yang sedang berlangsung, mereka tidak hal itu akan keluar dari mulutnya.


 


 


Untuk Rosaria dan Ri’aima, mereka berdua awalnya pun mengira kalau Odo ingin akan menawarkan kerja sama untuk mengembalikan status Keluarga Quidra. Tetapi setelah mendengar apa yang dikatakan pemuda itu, mereka secara serentak menatap dengan penuh heran.


 


 


“Eh-Hmm … Kencan? Fuh ….” Mitranda sedikit tertawa, ia segera menutup mulut dengan punggung tangan dan sekilas memalingkan pandangan. Wanita dengan rambut terurai tersebut berhenti memasang mimik wajah tegang, lalu dengan nada sedikit riang berkata, “Anda suka bergurau ternyata. Jangan katakan Anda juga terpikat oleh Bunga Malam ini, Tuan Nigrum?”


 


 


Odo menyandarkan tubuh ke sofa, memasang senyuman terpesona dan menjawab, “Kalau saya berkata iya, apakah Anda mau pergi dengan saya?”


 


 


“Kalau Anda menyewa, tentu saja saya bersedia.”


 


 


Percakapan tersebut sedikit membuat yang lainnya kebingungan, tidak mengerti mengapa pemuda rambut hitam tersebut mengubah topik pembicaraan dengan sangat tiba-tiba. Mereka hanya bisa terdiam heran, tanpa bisa menebak tujuan sejati pemuda itu dan hanya bisa mengira-ngira.


 


 


“Bagaimana kalau saya membuat tawaran seperti ini?” Tidak memedulikan tatapan heran mereka yang lain, Odo menawarkan telapak tangan ke depan, lalu dengan nada terpesona ia pun berkata, “Jika saya berhasil mengembalikan Keluarga Quidra, maukah Anda ikut dengan saya?”


 


 


Melihat wajah pemuda itu yang memerah saat berbicara, tentu saja Mitranda mengira bahwa tawaran tersebut bertujuan untuk meminang atau menjadikannya gundik. Ia untuk sesaat terkejut, sedikit memalingkan pandangan ke sudut ruang dan enggan untuk menatap lawan bicaranya. “Mengembalikan …, dalam hal tersebut Anda bermaksud apa?” tanya wanita tersebut sembari melirik.


 


 


“Tentu saja mencangkup semuanya. Martabat, harta, kediaman, dan nama Keluarga Anda.”


 


 


Mitranda memberikan tatapan datar setelah mendengar hal tersebut.


 


 


Berbeda dengan wanita rambut pirang di sebelahnya, sang Owner bertambah heran karena arah pembicaraan semakin berubah dari tujuan awal.


 


 


Untuk Ri’aima dan Rosaria sendiri, kedua perempuan itu tampak sedikit terkejut karena perkataan Odo terdengar terlalu berat. Mereka sudah tahu bahwa Putra Tunggal Keluarga Luke ingin mengembalikan gelar bangsawan Keluarga Quidra, namun tidak dengan hal-hal seperti martabat dan harta.


 


 


“Maaf, Tuan Nigrum ….” Tidak percaya hal tersebut, Mitranda memasang mimik wajah sedih dan dengan sangat tegas meragukan, “Anda hanya seorang pedagang, tolong jangan hancurkan hidup Anda hanya untuk hal seperti itu. Tolong menyerah saja dan pilihlah jalan yang lebih pasti. Tuan Nigrum masih muda ….”


 


 


“Saya lihat, sepertinya Nyonya Mitranda meremehkan saya.” Odo menyeringai tipis. Sembari menurunkan kedua tangan ke atas pangkuan, pemuda rambut hitam tersebut kembali berkata, “Tolong terimalah tantangan dari pemuda yang masih hijau ini. Jika saya berhasil melakukan hal tersebut, Anda harus pergi dengan saya.”


 


 


“Huh, terserah Tuan saja. Saya sudah memperingatkan.”


 


 


“Terima kasih banyak atas kesempatan yang Anda berikan, Nyonya.” Odo menurunkan kaki kanan dari atas kaki kiri, lalu menundukkan kepala dengan maksud menghormati. Kembali duduk dengan tegak, pemuda rambut hitam tersebut segera meminta, “Untuk bisa mewujudkan hal tersebut, bolehkan saya meminta sesuatu kepada Nyonya?”


 


 


“Meminta?” Mitranda sedikit bingung, lalu sembari menatap datar ia pun berkata, “Akan saya dengarkan dulu permintaannya.”


 


 


“Supaya gelar Quidra kembali, tentu saja harus ada orang yang menerimanya.” Odo sedikit memasang wajah muram dan berempati, lalu dengan nada sedikit sedih melanjutkan, “Sayang disayangkan di keluarga Nyonya tidak ada pria yang bisa menerima hal tersebut. Karena itulah, saya ingin Nona Racine menerima gelar tersebut.”


 


 


“Begitu rupanya, saya mulai paham tujuan Anda.” Mitranda seketika terlihat kecewa. Dengan nada kehilangan rasa tertarik, wanita rambut pirang tersebut berkata, “Anda bermaksud menikahi Putri saya dan mendapatkan gelar Knight itu. Sungguh tidak tahu diri, padahal Anda hanya seorang pedagang.”


 


 


“Nyonya! Saya tidak akan meminta hal tidak tahu diri seperti itu!” ucap Odo dengan tegas. Ia menatap dengan mimik wajah yang tampak tampak tersinggung, lalu seraya menaikan volume menegaskan, “Anda hanya perlu setuju kalau Nona Racine menerima gelar tersebut! Tanpa harus menikah dengan siapa-siapa!”


 


 


Perkataan itu kembali membuat Mitranda bingung. Jika memang gelar yang dibicarakan adalah Baron atau jabatan yang berkaitan dengan administrasi, hal tersebut masih masuk akal untuk diserahkan kepada seorang perempuan. Namun, dalam pembicaraan yang dibahas sekarang adalah Knight ⸻ Gelar yang mengharuskan pemegangnya memiliki kapabilitas yang cukup untuk melindungi banyak orang.


 


 


“Asal Anda tahu, Putri saya sama sekali tidak bisa memegang pedang. Satu-satunya keahlian yang ia miliki hanyalah melukis. Dia tidak bisa melindungi orang lain.”


 


 


“Hal tersebut tidak bisa saya bantah ….” Perkataan itu sangat masuk akal untuk dijadikan alasan menolak. Telah mempertimbangkannya sebelum mengajukan permintaan, Odo segera mengacungkan telunjuk ke depan dan kembali berkata, “Karena itulah! Saya akan mencarikan orang lain yang cocok untuk menggantikan Nona Racine dalam tugas tersebut!”


 


 


“Huh?” Mitranda mengerutkan kening, bertambah bingung dengan perkataan yang bertolak belakang tersebut. Meski dirinya memperlihatkan ekspresi tidak tertarik, wanita rambut pirang tersebut tetap bertanya, “Jika seperti itu, bukannya orang-orang dari pemerintahan akan berpikir bahwa lebih baik jika menyerahkan saja gelar Knight tersebut ke orang itu?”


 


 


“Tentu saja tidak!” Odo menepuk lutut dengan kedua tangan, lalu dengan nada penuh semangat menyampaikan, “Tugas Knight tidak selamanya harus mengangkat pedang dan menghadapi bahaya secara langsung! Ada kalanya ia berdiri di belakang layar dan menyusun strategi untuk melindungi orang-orang!”


 


 


“Asal Tuan tahu, Putri saya juga tidak bisa melakukan hal tersebut.”


 


 


“Namun Nyonya bisa, bukan?”


 


 


Perkataan tersebut membuat Mitranda tersentak, seketika paham maksud yang ingin disampaikan oleh pemuda rambut hitam itu. Sembari melebarkan senyum dan memperlihatkan mimik wajah kembali tertarik dengan tawaran, wanita rambut pirang tersebut memastikan, “Anda bermaksud menjadikan Putri saya hanya sebagai penerima gelar Knight? Sedangkan untuk tugas dari gelar tersebut, semuanya dikerjakan oleh orang-orang di dalam Keluarga Quidra?”


 


 


“Itu benar.” Odo bertepuk tangan satu kali, lalu kembali menurunkan kedua tangan ke atas pangkuan dan berkata, “Nyonya Mitranda sudah biasa membantu mendiang Tuan Huqin selama bekerja, tentu saja Anda bisa melakukan hal tersebut dengan mudah.”

__ADS_1


 


 


“Saya paham dengan tujuan Anda. Namun ….” Mitranda kembali memberikan tatapan curiga, lalu seraya menunjuk ke depan ia pun bertanya, “Siapa yang ingin Anda masukan? Memangnya ada orang kuat yang mau bekerja seperti itu? Memagang pedang dan melaksanakan tugas Knight untuk melindungi, tanpa diberi gelar tersebut?”


 


 


“Dalam masalah itu, tolong percaya saja kepada saya.” Odo menyeringai kecil dengan rasa percaya diri. Sembari mengacungkan telunjuk ke depan, ia pun meminta, “Nyonya tinggal setuju saja dalam rencana ini. Meskipun gagal, Anda tidak akan terbebani atau merugi. Namun jika berhasil, gelar Keluarga Quidra kembali kepada Anda.”


 


 


“Memang benar, selama tidak ada perjanjian tertulis saya tak akan terbebani apa-apa.” Mitranda masih memberikan tatapan curiga. Dalam penawaran, semakin menguntungkan maka akan semakin berisiko. Tetapi, selama pembicaraan lawan bicaranya sama sekali tidak menyebutkan risiko tersebut. Ingin menyelidiki lebih dalam, wanita rambut pirang pudar tersebut meletakkan kedua tangan ke atas pangkuan dan menambahkan, “Namun, itu juga berarti untuk Anda, bukan? Keuntungan yang Anda dapat dalam rencana ini apa? Mengapa Anda ingin membantu saya?”


 


 


“Hmm ….” Wajah Odo kembali memerah, lalu dengan nada sedikit canggung berkata, “Jika saya berkata bahwa saya tertarik dengan Nyonya, apakah Nyonya akan percaya?”


 


 


“Te-Tentu saja tidak akan!”


 


 


Mendengar kegugupan dalam perkataan tersebut, Odo sejenak memejamkan mata dan merasa salah satu tujuannya telah tercapai. Kembali membuka kedua mata dan menatap lurus, ia dengan penuh percaya diri menyampaikan, “Anggap saya ini pertaruhan seorang pedagang. Saya telah kehilangan banyak harta untuk bisa sampai di Kota ini, karena itulah saya bertaruh dalam kesempatan yang ada.”


 


 


“Jadi Keluarga Quidra hanya terlibat dalam taruhan Anda, ya?” tanya Mitranda dengan maksud menyindir.


 


 


Menangkap sindiran tersebut dengan serius, Putra Tunggal Keluarga Luke berkata, “Tepat sekali, Nyonya Mitranda dan Nona Racine hanya terlibat. Saya ingin melibatkan kalian berdua dalam pertaruhan ini.”


 


 


Mitranda terdiam dan merasa kalau percakapan yang ada hanyalah sebuah bualan, tanpa bukti kuat atas kapabilitas pemuda itu untuk mewujudkannya. Tetapi, jauh di dalam lubuk hati Mitranda merasa ingin berharap. Dirinya berpikir tidak ada salahnya untuk bertaruh.


 


 


Seperti yang telah diungkapkan oleh pemuda tersebut, jika gagal ia tidak akan mendapat rugi dan bisa berpura-pura tidak terlibat. Menelantarkan dan berlagak seperti orang asing. Selain itu, ia juga tak ingin terus tinggal di tempat prostitusi dan membuat putrinya sendiri menjadi seorang Bunga Malam.


 


 


Menoleh ke arah Badir di sebelah, wanita rambut pirang tersebut menatap seakan ingin meminta persetujuan.


 


 


Sang Owner Galeri Daun Merah menghela napas ringan. Setelah memasang mimik wajah bingung, ia berusaha mengambil keputusan dan segera menyampaikan, “Saya tidak akan melarang. Anda dulu sangat baik kepada saya, karena itulah saya menerima Anda di tempat ini saat tahu Keluarga Quidra sedang terpuruk. Keputusan dan hak tersebut berada di tangan Anda, Nyonya Mitranda.”


 


 


Kembali menatap ke arah pemuda rambut hitam, Mitranda memasang senyum ringan dan berkata, “Saya akan ikut dengan rencana Tuan Nigrum. Tidak ada salahnya bertaruh dengan ajakan Anda. Namun, sebelum itu Tuan harus menjawab satu pertanyaan dari saya dengan jujur.”


 


 


“Hmm, silahkan ….”


 


 


“Anda itu .…” Mitranda seketika memasang mimik wajah serius, menatap tajam dan dengan jelas bertanya, “Putra Tunggal Keluarga Luke, bukan? Sang Pembunuh Naga, Odo Luke.”


 


 


Pertanyaan Mitranda tentu membuat semua orang di dalam ruangan tersebut terkejut, begitu pula Odo sendiri yang dari awal mengira kalau lawan bicaranya tidak menyadari hal itu. Mengingat sang Owner tidak mengetahui identitas asli pemilik Ordoxi Nigrum, ia mengira kalau mereka berdua tidak menyadari rahasia itu.


 


 


Ingin mempersempit kemungkinan yang ada, Putra Tunggal Keluarga Luke untuk sesaat terdiam. Menganalisa dan memilah informasi dari percakapan yang tengah berlangsung.


 


 


 


 


“Tuan, saya meminta Anda menjawab dengan jujur.”


 


 


Odo tertegun, dalam benak merasa diingatkan untuk selalu berhati-hati saat berbicara dengan seorang wanita. Paham mengelak hanya akan membuat suasana menjadi semakin buruk, pemuda rambut hitam itu balik bertanya, “Bagaimana Anda bisa tahu?”


 


 


Pertanyaan tersebut juga berarti sebuah pengakuan bahwa apa yang dikatakan Mitranda adalah benar. Namun, di sini lain Mitranda sendiri malah terkejut. Ia awalnya menanyakan hal itu hanya karena spekulasi, tidak benar-benar yakin bahwa pemuda itu adalah Odo Luke.


 


 


“Anda … benar-benar Odo Luke?” tanya Mitranda memastikan.


 


 


Odo tidak menjawab pertanyaan tersebut, hanya melirik ke arah Ri’aima seakan sedang memberikan sebuah tanda kepadanya. Memahami maksud tersebut, Putri Sulung Keluarga Stein sebagai perwakilan angkat bicara, “Itu benar, Nyonya Quidra. Beliau adalah Tuan Odo Luke.”


 


 


Itu benar-benar membuat Mitranda Quidra dan Badir terkejut. Mendengar itu dari Putri Sulung Keluarga Stein, mereka tidak bisa menganggap hal tersebut sebagai gurauan atau bahkan kebohongan.


 


 


Tidak memedulikan ekspresi mereka, Odo sekali lagi bertanya, “Bagaimana Anda bisa tahu, Nyonya Mitranda?”


 


 


“Saya hanya menduganya, Tuan Odo.” Wanita rambut pirang tersebut menundukkan kepala dengan rasa cemas. Berusaha menahan rasa takut, namun tubuh yang mulai gemetar kuat dan mulut pun sulit untuk berbicara. Tanpa bisa mengangkat wajah, Mitranda menarik napas dalam-dalam dan segera menjelaskan, “Saat Tuan Oma Stein masih sehat dan beliau baru pulang dari Acara Pertunangan di Kediaman Luke, saya sempat dipanggil oleh beliau untuk rapat sebagai perwakilan Keluarga Quidra menggantikan mendiang suami saya. Saat itu, Tuan Oma sempat berkata sesuatu tentang Anda ….”


 


 


“Sesuatu?” tanya Odo memastikan.


 


 


“Rupa yang tidak sesuai usia, usaha yang dimiliki di Kota Mylta, dan beberapa hal lain. Saya tidak ingat semuanya, waktu itu Tuan Oma juga hanya sedang mengeluh dan tidak banyak dari kami yang mendengarkan beliau dengan serius.”


 


 


Dari perkataan tersebut, Odo merasa kalau akan ada banyak orang yang menyadari identitasnya ketika nanti datang ke Kantor Pemerintahan. Menghela napas ringan, pemuda rambut hitam tersebut pasrah untuk menyembunyikan indentasi aslinya dari mereka.


 


 


“Setelah Anda tahu identitas saya, apakah Nyonya ingin tetap menerima tawaran ini?” Odo pindah menatap ke arah Badir, lalu dengan tatapan datar kembali bertanya, “Untuk Tuan Badir juga, apakah Anda tetap ingin melanjutkan? Saya paham Anda tidak suka terlibat dengan bangsawan, karena itu saya tidak akan memaksa.”


 


 


“Boleh saya memastikan sesuatu dulu?” tanya Badir sebelum Mitranda memberikan jawaban.


 


 


“Silahkan.”


 


 


“Mengapa Anda menyembunyikan identitas dan berperan seperti pedagang? Jika Anda menggunakan kekuasaan sebagai seorang Viscount, setiap orang di Kota ini pasti tidak bisa melawan. Bahkan saya ….”


 


 


Itu pertanyaan paling normal dari semua kemungkinan yang bisa Odo prediksi. Sebab itulah, pemuda rambut hitam tersebut pun memilih jawaban paling biasa dan berkata, “Saya datang ke sini hanya sebagai pedagang, karena itulah saya tidak ingin menggunakan wewenang saya sebagai seorang bangsawan. Lagi pula, jika saya melakukan hal tersebut bisa-bisa Yang Mulia akan menyita perusahaan saya.”


 


 

__ADS_1


“Be-Begitu, ya ….” Badir tidak terlalu paham dengan perkataan tersebut, namun ia merasa bahwa Odo Luke memang cukup dekat dengan Raja Gaiel. Sedikit memalingkan pandangan dan berpikir sejenak, sang Owner kembali bertanya, “Lalu, untuk apa Anda datang ke sini?”


 


 


“Saya tidak berbohong untuk alasan sebelumnya. Rombongan saya telah diserang oleh para monster, kehilangan banyak barang, dan berakhir terseret masalah politik Keluarga Stein. Itu fakta nyata yang ada saat ini.”


 


 


Badir benar-benar merasa heran, dalam benak bertanya-tanya mengapa seorang bangsawan rela bepergian layaknya pedagang biasa dan sampai diserang oleh monster. Merasa akan menyinggung Odo jika bertanya lebih lanjut, pria botak tersebut menarik napas dalam-dalam dan memutuskan.


 


 


“Saya tetap akan setuju dengan tawaran Anda. Meski ini membuat saya gelisah, namun sepertinya Anda tidak seperti bangsawan para umumnya.”


 


 


Odo sedikit memiringkan kepala dan memasang wajah bingung. “Memangnya bangsawan pada umumnya seperti apa?” tanyanya dengan nada heran.


 


 


“Suka merendahkan, tidak menghargai kasta yang lebih rendah, lalu saat merasa orang lain sudah tidak menguntungkan mereka akan langsung disingkirkan.” Badir memperlihatkan mimik wajah muram, lalu seraya menundukkan wajah kembali berkata, “Dulu saat masih muda, saya sering bertemu dengan bangsawan seperti itu. Rasanya sedikit trauma jika berurusan dengan mereka ….”


 


 


“Hmm ….” Odo memalingkan pandangan ke langit-langit ruangan, lalu dengan wajah sedikit bengong bergumam, “Aku memang sedikit aneh, ya. Jika itu memang standar bangsawan pada umumnya, aku memang aneh.”


 


 


Mendengar hal tersebut, Badir seketika cemas dan berkata, “Sa-Saya tidak menganggap Anda aneh, sungguh.”


 


 


“Tak apa, aku tidak tersinggung.” Odo memasang senyum ramah. Meski cara bicara pemuda itu berubah setelah identitasnya terbongkar, namun sikap ramah tersebut sama sekali tidak hilang darinya. Sembari pindah menatap ke arah Mitranda, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut pun bertanya, “Kalau Nyonya sendiri bagaimana? Apa ingin tetap ikut tawaran ku?”


 


 


“Sama seperti Tuan Badir, boleh saya menyampaikan sesuatu?”


 


 


Pertanyaan tersebut terdengar aneh di telinga Odo. Samar-samar bisa memperkirakan hal yang ingin disampaikan oleh Mitranda, Putra Tunggal Keluarga Luke mengerutkan kening dan berkata, “Silahkan saja ….”


 


 


“Sebelumnya saya berkata seakan keberatan jika Anda menikahi Putri saya. Tetapi setelah mengetahui siapa Anda sebenarnya, bolehkah saya menarik perkataan tersebut?”


 


 


“Ah ….” Odo hanya memasang mimik wajah datar.


 


 


Mendengar perkataan wanita itu, Ri’aima yang duduk di sebelah Odo segera berdiri. Mimik wajahnya dipenuhi rasa kesal, merasa muak dengan sikap wanita yang pernah dirinya beri rasa hormat. Seraya menunjuk lurus ke arah Mitrand, Putri Sulung Keluarga Stein langsung mencibir, “Tidak tahu malu! Setelah tahu siapa beliau, kamu langsung mengatakan hal yang tidak tahu diri!!”


 


 


“Ri’aima, tenanglah,” pinta Odo dengan suara lemas.


 


 


Tidak mendengar hal tersebut, Ri’aima berhenti menunjuk dan lanjut memaki, “Saya tidak mengira kalau Keluarga Quidra akan jatuh separah ini! Bukan hanya menjadi pelacur! Kamu bahkan membuang harga diri!!”


 


 


“Ri’aima, tolong tenang,” pinta Odo sekali lagi.


 


 


Sama sekali tidak berniat mendengarkan, Putri Sulung Keluarga Stein tersebut lanjur menghina, “Memang benar, pelacur tetaplah pelacur!! Sebelum dipinang oleh Tuan Huqin, Anda juga sudah hidup tanpa martaba⸻! Kya~!”


 


 


Odo meremas bokong perempuan itu untuk membuatnya diam. Segera menoleh dan memberikan tatapan kesal, Putri Sulung Keluarga Stein dengan penuh rasa malu berkata, “A-Apa yang Anda lakukan? Ke-Kenapa main remas-remas begitu?!”


 


 


“Seharusnya aku yang berkata seperti itu, kenapa kau malah menggila sendiri?” Tatapan datar Odo perlahan berubah tajam. Pada hitungan detik, aura kehadiran miliknya yang begitu kuat langsung mengisi ruangan dan membuat atmosfer terasa berat. “Duduklah dan minta maaf kepada Nyonya Mitranda,” pinta Odo dengan nada menekan.


 


 


“Ba-Baik ….” Ri’aima segera kembali duduk dengan gemetar, memalingkan pandangan dan tidak segera meminta maaf.


 


 


Melihat hal tersebut, Odo sekali lagi menegaskan, “Minta maaf, Ri’aima. Apa kau tidak dengar?”


 


 


“Eng ….” Ri’aima perlahan menatap ke arah Mitranda, lalu menundukkan kepala dan berkata, “Sa-Saya minta maaf, Nyonya Mitranda …. Saya terbawa emosi dan berkata buruk tentang Anda.”


 


 


“Ti-Tidak masalah ….”


 


 


Untuk sesaat, Mitranda dan Badir benar-benar dibuat kehabisan kalimat. Mereka tidak mengira kalau Odo bisa membuat Putri Sulung Keluarga Stein tersebut menundukkan kepala dan meminta maaf. Terlebih lagi, hawa kehadiran mengerikan yang seketika memenuhi ruangan pun membuat kesan ramah pada Odo berubah seketika.


 


 


“Saya juga minta maaf, Nyonya Mitranda.” Odo ikut menundukkan kepala, lalu seraya menurunkan aura intimidasi berkata, “Dalam sebuah kerja sama, saya tidak ingin saling merendahkan. Namun, dari pihak kami malah berkata seperti itu.”


 


 


“A-Anda tidak perlu sampai menundukkan kepala,” ujar Mitranda dengan cemas.


 


 


“Baiklah ….” Kembali mengangkat wajah bersama Ri’aima, Odo menatap lawan bicaranya dan berkata, “Namun, untuk permintaan Anda sepertinya saya tidak dapat memenuhi.”


 


 


“Eh?”


 


 


“Saya sudah bertunangan dengan Putri Arteria. Untuk berpikir memiliki simpanan atau berhubungan dengan perempuan lain, saya rasa itu bukanlah tindakan yang pantas.” Putra Tunggal Keluarga Luke perlahan terlihat muram, lalu dengan nada yang terdengar sedih berkata, “Saya juga tidak ingin melibatkan Nona Racine ke dalam permasalahan para bangsawan yang lebih menyusahkan.”


 


 


Mendengar pemuda yang memiliki hawa kehadiran kuat tersebut muram, Mitranda merasa kalau bangsawan kelas atas pun memiliki permasalahan mereka sendiri. Menyerah untuk mengambil keuntungan lebih banyak, wanita rambut pirang tersebut mengangguk.


 


 


“Baiklah, saya tidak akan menuntut lebih.”


 


 


“Terima kasih, Nyonya Mitranda.”


 


 


ↈↈↈ


 


 


\==========

__ADS_1


Catatan :


Fakta 015: Terilogi yang dimaksud tidak termasuk seri sampingan. Karena itu, Great War Record tidak masuk hitungan. Serta seri lain yang niatnya mau digarap namun malah terbengkalai juga tidak termasuk.


__ADS_2