Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[86] Dekadensi Kota Rockfield III – Perih (Part 03)


__ADS_3

 


 


 


 


 


Namun, setelah sampai apa yang saya lihat benar-benar menusuk hati. Tubuh rapuh ini seraya dilemparkan ke langit, lalu dibanting dengan keras ke batu.


 


 


Kota yang sebelumnya dikenal dengan hasil tambang dan keindahan seninya berubah menjadi tempat pertumpahan darah. Mayat-mayat bergelimpangan, memenuhi jalan dan anak tangga. Aroma embun bercampur dengan bau amis, darah mewarnai kota dengan merah pekat di tempat berkabut dan dingin.


 


 


Saat itu saya tidak paham mengapa hal seperti itu terjadi di Rockfield, saya mengira bahwa semua pemandangan mengertikan tersebut adalah bekas pertempuran. Dengan takut, gemetar, dan benar-benar kacau saya berlari sekuat tenaga untuk kabur dari Kota. Hanya berpikir untuk menyelamatkan diri.


 


 


Namun, saat akan melewati gerbang utama saya malah bertemu dengan suami saya. Oma Stein, suami yang saya cari-cari dan menjadi alasan tubuh ini melangkahkan kaki jauh-jauh sampai ke Kota Pegunungan.


 


 


Awalnya rasa senang mengisi, dengan polos diriku yang bodoh ini menghampirinya dan memeluk tubuh orang itu dengan gemetar. Berharap perlindungan, mengharapkan ia mau menenangkan saya seperti halnya waktu kita bersama tersesat di dalam hutan ketika kecil.


 


 


“Kebetulan kau datang, Agathe! Bergembiralah, suamimu ini akhirnya berhasil!”


 


 


Apa yang Oma katakan saat itu benar-benar membuat saya bingung. Saya pun segera melepaskan pelukan, lalu mengangkat wajah dan melihat lurus ke wajah pria yang saya peluk.


 


 


Yang ada di wajahnya bukanlah sesuatu yang bisa saya jelaskan dengan kata-kata positif.


 


 


Kacau, dipenuhi kegilaan dan tatapannya penuh dengan rasa haus darah. Mungkin akan sangat kasar jika saya mengatakan hal tersebut, namun dia benar-benar telah sinting.


 


 


Tanpa berkata apa-apa lagi, Oma menggandeng tangan saya dengan kasar, dengan paksa, dan tanpa mendengarkan.


 


 


Ia terus membawa saya masuk ke dalam Kota. Melewati mayat-mayat yang bergelimpangan di jalan, melangkah di antara aroma amis darah yang menyengat dan pemandangan mengerikan.


 


 


Saya meronta dan berusaha meminta penjelasan darinya. Namun, Oma hanya terus menarik saya dan berjalan menuju pusta Kota.


 


 


Masih jelas ingatan saya tentang wajahnya saat itu, dipenuhi oleh kepuasan dan benar-benar rusak. Benar-benar masuk dalam euforia tertinggi sampai seringai lebar tidak bisa lepas selama membawa paksa tubuh wanita yang rapuh ini.


 


 


Saat dipaksa mengikutinya, saya perlahan-lahan sadar dengan apa yang sebenarnya telah terjadi di Kota Rockfield. Mayat-mayat yang bergelimpangan memang beberapa merupakan prajurit, namun sebagian besar adalah mereka orang-orang dengan setelan formal.


 


 


Dengan kata lain, mereka adalah bangsawan atau kalangan atas.


 


 


Seiring pikiran negatif memenuhi kepala, saya berhenti meminta penjelasan dan mulai meronta untuk kabur sekuat tenaga. Saya bahkan memukul Oma, menggigit tangannya sampai berdarah, dan bahkan menjambak rambut orang itu.


 


 


Namun, seakan tidak peduli ia hanya terus berjalan sembari menggandeng tangan saya dengan erat dan kasar. Saya yang seorang wanita tidak bisa melepaskan hal tersebut, terlebih lagi orang itu memang sudah melatih fisik sebelum pergi dari desa.


 


 


Saat mulai menaiki anak tangga dan semakin dekat dengan balai, saya hanya bisa pasrah. Berhenti meronta dan melawan, layaknya seekor kuda yang mengikuti tuannya saya pun mengikuti orang itu dengan patuh.


 


 


Ah, sudahlah ….


 


 


Tak masalah kalau ini berakhir ….


 


 


Mungkin ini yang Ibunda takuti. Andai saja saya mendengarkan perkataan Ibunda dan tidak membulatkan tekad.


 


 


Andai saya menyerah dan mau menjadi wanita biasa yang hidup di keluarga bangsawan. Andai saja, andai saja ….


 


 


Saat itu, saya hanya bisa berandai-andai dengan pasrah. Mengira pada akan dibunuh seperti para bangsawan lain di kota, menyerah pada kenyataan dan rela untuk menyerahkan nyawa ini.


 


 


Saya berharap saat itu adalah sebuah akhir. Ya, akhir dari kisah wanita bodoh dan menyedihkan ini.


 


 


Sayangnya takdir memang selalu ingin terus bermain, membuka tirai panggung diorama dari boneka-boneka yang telah rusak ini. Seakan para dewa menertawakan perasaan rela wanita menyedihkan dan tidak berdaya ini, mereka menyiapkan hal yang lebih buruk dari sebuah akhir tragis.


 


 


Sesampainya di balai kota, saat itu di sana dipenuhi oleh banyak orang. Berjibun-jibun, berdiri di lahan luas tersebut dan perhatian tertuju pada satu titik.


 


 


Saya langsung menutup kedua mata rapat-rapat, berpaling dan tidak ingin mengetahui apa yang terjadi di tempat itu.


 


 


Suara ramai merambat ke dalam telinga, membuat saya tahu bahwa tempat itu benar-benar penuh dengan ujaran kebencian dan murka.


 


 


Meski tidak membuka mata dan melihat secara langsung, saya tahu bahwa mereka yang berada di sana sangatlah anarkis.


 


 


Entah apa yang saya pikirkan, tangan kecil ini malah dengan erat menggenggam tangan orang itu. Tanpa tahu apa yang akan diperlihatkannya di depan, saya seakan meminta perlindungan dengan menggenggam erat tangan orang itu.

__ADS_1


 


 


Ia langsung menarik tubuh saya, memegang pundak dan dari dekat berbisik, “Lihatlah, Istriku. Dengan begini Rockfield menjadi miliki kita! Kita adalah penguasa di sini!”


 


 


Suaranya suami saya saat itu terdengar bagaikan iblis. Saya segera menggelengkan kepala dengan takut, bersikukuh untuk tidak ingin membuka mata dan membisu. Itulah yang saya lakukan saat mendengar perkataan tersebut.


 


 


Oma mulai kencang meremas pundak saya, lalu dengan suara dingin kembali berbisik, “Buka matamu dan bergembiralah, lihat mereka semua ….”


 


 


Itu sangat menyakitkan, tenaganya begitu kuat untuk ditahan tubuh kecil wanita ini. Dengan terpaksa dan dipenuhi rasa takut, saya perlahan membuka mata dan menatap apa yang ingin ditunjukkan oleh suami saya.


 


 


Tentu itu bukanlah kerangka bunga atau sebuah kado kejutan⸻


 


 


Tidak, saat itu memang hal tersebut adalah sebuah kejutan. Kejutan yang membuat jiwa ini melayang ke langit dan merasakan penderitaan luar biasa. Begitu hancur sampai kedua kaki tak bisa berdiri dan terjatuh berlutut.


 


 


Di atas panggung kayu, mereka meregang dengan menyedihkan.


 


 


Ayahanda, Ibunda, Ayunda, semuanya ….


 


 


Mereka semua ….


 


 


Orang-orang yang saya cintai ….


 


 


Telah dieksekusi.


 


 


Kepala Ayahanda tergeletak di atas lantai, sedangkan tubuhnya masih terpasung di alat pemenggal. Darah segarnya mengalir, membasi sebagian panggung dengan warna merah


 


 


Ibunda telah ditelanjangi di pojok panggung kayu. Tubuhnya terlihat penuh bekas sayatan benda tajam, berwarna merah pekat dan benar-benar rusak sampai tulang pada beberapa bagian tubuh terlihat jelas. Kedua tangan rapuh wanita itu patah dan bengkok ke arah yang salah, lalu mata kanannya pun telah hilang dari kelopak dan tampak telah membusuk.


 


 


Berbeda dengan Ibunda yang disiksa terlebih dulu sebelum dibunuh, Ayunda bernasib lebih mengenaskan. Tubuhnya terpotong-potong menjadi belasan bagian, lalu ditusuk dan digantung menggunakan galah yang berjejer di bagian belakang panggung. Bahkan, saya sempat tidak mengenalinya sampai melihat kepala Ayunda yang tertusuk galah. Darahnya masih segar menetes, bola mata indah wanita itu keluar dari rongga dan hampir copot.


 


 


Saat itulah rasa benci mulai tumbuh pada jiwa ini, mengutuk takdir saya sendiri dan semua orang di Kota Rockfield. Jauh dari dalam lubuk hati, saya berharap Iblis yang sesungguhnya datang dan membinasakan semua orang di Kota terkutuk ini.


 


 


 


 


Namun, hal tersebut tentu tidak menjadi kenyataan. Mulut saya saat itu hanya bisa menganga, tidak bisa berkata apa-apa setelah melihat hal mengerikan tersebut.


 


 


Apa yang bisa wanita lemah ini lakukan saat itu hanyalah menangis, jatuh dalam keputusasaan dan meringkuk tidak berdaya.


 


 


“Sayang sekali mereka berakhir seperti itu. Ibu Mertua, Ayah Mertua, Kakak Ipar, semuanya sangat disayangkan. Oh, sungguh menyedihkan sekali Agathe!”


 


 


Mendengar suara Oma, apa yang mengisi hati saya saat itu hanyalah kebencian mutlak. Perlahan mengangkat wajah, saat itu saya dengan jelas melihatnya tersenyum lebar layaknya seorang pemenang.


 


 


“Sayang sekali adikmu tidak ikut dipajang. Yah, bisa gawat kalau kita melakukan itu kepada anak-anak! Bangsawan lain bisa-bisa memusuhi ku saat memimpin!”


 


 


Ia mengatakan itu dengan wajah yang begitu puas, seakan menertawakan kematian orang-orang dari Keluarga Swirea. Terbahak di antara kerumunan, lalu kegirangan dengan penuh kegilaan.


 


 


“Saya bersumpah akan membuatmu menderita! Akan saya pastikan bedebah sepertimu mati dengan sangat sengsara, Oma!”


 


 


Meski saat itu perkataan tersebut terlontar dari mulut saya, orang itu sama sekali tidak berhenti tertawa. Ia malah membungkuk dan mendekatkan mulut ke telinga saya, lalu dengan dingin menyampaikan, “Kau adalah istriku! Keluarga Stein hanya tersisa diriku, sedangkan Keluarga Swirea hanya tersisa kau! Mulai sekarang, mari buat keturunan dan teruskan keluarga kita, wahai Istriku.”


 


 


Setelah itulah, kehidupan penuh penyiksaan batin dimulai. Harus tinggal satu atap dengannya, di Kediaman Swirea yang penuh kenangan masa kecil saya.


 


 


Tanpa memiliki hak untuk mengakhiri nyawa.


 


 


Tanpa kebebasan.


 


 


Tanpa cinta.


 


 


Dan hanya dipenuhi kebencian serta dendam.


 


 


Harus menanggung kewajiban untuk mengandung anak dari orang yang saya benci, ditiduri berkali-kali dalam paksaan, dan dikurung dalam penjara bernama Kediaman Bangsawan.


 


 


Layaknya marionette, di dalam rumah hanya bisa mengikutinya dan dianggap seperti piaraan. Demi melanjutkan darah Keluarga Swirea, saya hanya bisa menjadi wanita penurut dan diam tentang semua kebusukan Oma.


 

__ADS_1


 


Saya mengetahui fakta di balik Eksekusi Keluarga Swirea beberapa tahun setelah menjalani kehidupan dalam kekangan. Awalnya saya mengira kalau itu hanyalah serangan yang dilakukan oleh Oma dan para pengikutnya, lalu menghasilkan tragedi pembantaian tersebut.


 


 


Namun, itu salah besar. Tragedi tersebut hanyalah sebuah hasutan Oma kepada para penduduk, menyulut masyarakat dan melakukan provokasi secara domino.


 


 


Dengan memanfaatkan kebencian yang ada di dalam hati semua penduduk Kota Pegunungan terhadap pemerintah Miquator, Oma Stein benar-benar berhasil menyulut api kekacauan.


 


 


Menjadi Keluarga Swirea sebagai kambing hitam, lalu memanfaatkan fase transisi kekuasaan yang sedang terjadi untuk melakukan aksinya.


 


 


Karena pihak Miquator sendiri sudah menyetujui penyerahan Kota Pegunungan kepada pihak Kerajaan Felixia, mereka telah menarik personel militer dari dalam Kota sebagai bentuk penyerahan.


 


 


Namun, itu malah menjadikan Rockfield rawan akan kekacauan karena masuk dalam kondisi kekosongan kekuasaan. Memanfaatkan jeda beberapa hari sebelum pemerintah dari Keluarga Rein datang, Oma segera menjalankan rencana dan berhasil memicu kekacauan.


 


 


Pada klimaks kekacauan, pembunuhan secara struktural terjadi dan semua orang di Kediaman Swirea dihabisi termasuk para pelayannya. Bukan hanya itu saja, para pedagang, kstaria, dan kalangan konglomerat yang pernah menolak tawaran Oma pun dihabisi.


 


 


Meski terlihat brutal, namun Oma bukanlah orang yang bodoh untuk menyentuh orang-orang pemerintahan Miquator yang masih tertinggal di Kota. Ia telah mengamankan mereka terlebih dahulu, lalu setelah Keluarga Rein sampai menjadikan orang-orang pemerintahan tersebut sebagai alat untuk membuatnya bisa mengusai Rockfield.


 


 


Karena tragedi yang terjadi saat itu, Kota Rockfield secara langsung sempat masuk dalam pengawasan Raja Felixia. Sebab itulah, diterapkannya perlakuan seperti dua kubu di dalam satu Teritorial untuk bisa saling mengawasi satu sama lain.


 


 


Keluarga Luke dimasukkan hanya demi formalitas. Dalam fakta di lapangan, orang-orang yang datang dari Ibukota adalah utusan dari Raja Gaiel sendiri untuk mencegah tragedi serupa terjadi.


.


.


.


.


Sekarang ini, Tahun 2.699 Kalender Pendulum.


 


 


Sudah lebih dari dua dekade berlalu setelah kejadian tersebut. Namun, apa yang ada di dalam benak ini tidak pernah hilang. Kebencian yang memberikan alasan untuk saya terus hidup tak luntur sedikitpun sejak hari itu.


 


 


Saya memang telah menjadi seorang Ibu, melahirkan dua putra dan satu putri untuk orang itu. Tetapi, memang benar dendam tidaklah mudah untuk dilepas.


 


 


Layaknya Oma waktu itu, saya pun pada akhirnya tidak pernah siap untuk berhenti.


 


 


Saya bukanlah Ratu Pertama yang bisa memberikan maaf kepada orang-orang. Bahkan, kepada suami saya sendiri pun saya tidak bisa melakukannya.


 


 


Dendam ini, amarah ini, kebencian ini, semuanya takkan pudar sampai sumpah pada hari itu terpenuhi.


 


 


Pada fajar yang terasa jemu, saya duduk di depan meja rias dan bercermin. Sendirian dalam kamar pribadi, lalu tanpa dibantu satu pun pelayan mulai merias diri.


 


 


Banyak yang telah berubah sejak hari itu. Bukan hanya wajah ini yang semakin menua, namun begitu pula pandangan saya terhadap kehidupan. Sangat menyimpang dan begitu terang, lalu pada saat yang sama begitu suram dan sesat.


 


 


Mavis Luke, sang Penyihir Cahaya ⸻ Ialah satu-satunya orang yang bisa memberi saya sedikit harapan dalam kehidupan yang hanya diisi oleh rasa dendam. Mungkin ini terdengar sangat konyol, namun hanya dengan bertukar kata dengannya saya merasa terselamatkan.


 


 


Beliau benar-benar membuat saya sadar bahwa hidup untuk membalaskan dendam adalah hal yang percuma, tidak berarti dan hanya membawa penyesalan di akhir. Hanya dengan kalimat singkat yang ia berikan kepada saya waktu itu, pandangan wanita tua ini seketika berubah.


 


 


Tetapi, karena itulah saya bisa kembali membulatkan tekad. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang saya cari, sebab itulah tidak masalah jika semuanya berakhir percuma. Nyonya Mavis menyadari hal itu dan pernah memberikan peringatan kepada saya.


 


 


Namun ….


 


 


“Tetap saja saya tidak bisa melepaskan ini …. Maafkan saya, Nyonya Mavis.”


 


 


Sumpah pada hari itu masih hidup sampai sekarang.


 


 


Saya mengutuk takdir ini dan telah bersumpah akan membinasakan Oma dengan cara terburuk yang pernah ada. Semua kebencian itulah yang membuat saya hidup sampai saat ini.


 


 


Selama tua bangka itu masih hidup, tubuh dan jiwa ini akan terus mengutuknya dan membuat orang itu menderita. Menghancurkan semua yang telah ia bangun, membuatnya menyesal karena pernah melakukan hal mengertikan itu kepada saya.


 


 


Berapa lama pun itu tidak masalah, saya akan terus melakukannya. Segala cara akan saya lakukan. Meski harus mengorbankan semua yang dimiliki oleh tangan rapuh ini, saya akan tetap melakukannya. Bahkan meski harus menyeret anak-anak saya sekalipun.


 


 


ↈↈↈ


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2