
Jendela sedikit bergetar teterpa angin, suara hujan deras terdengar jelas sampai ke dalam ruangan. Kilatan petir sesekali terlihat, meski gorden telah diturunkan dan pintu-pintu tertutup rapat. Layaknya sebuah pancaroba yang sedang lewat, badai yang datang seakan membawakan sebuah pertanda.
Ruang tamu Kediaman Irtaz. Pada tempat tersebut, para tamu yang telah menunggu akhirnya bisa bertemu dengan sang Kepala Keluarga. Duduk dalam satu meja yang sama, menatap satu sama lain untuk melakukan pembicaraan demi mencapai kepentingan masing-masing.
Lampu kristal menyala pada langit-langit dan dinding. Desain arsitektur bergaya barok tampak begitu kental di tempat tersebut, dengan tambahan beberapa furnitur seperti jajaran lemari buku, ornamen berupa piring hias, dan beberapa zirah perak yang dipajang pada sudut ruangan.
Setelan formal seragam pejabat, terdiri dari jas hitam dengan tambahan aksen garis warna biru di sekitar kerah dan kancing, itulah penampilan Fritz Irtaz sekarang. Ia juga mengenakan sarung tangan kulit, celana hitam sebagai bawahan, dan tetap memegang tongkat meski sedang duduk di atas sofa.
Di dalam ruangan dengan kesan barok tersebut, Kepala Keluarga Irtaz hanya terdiam sembari menatap para tamunya. Melihat datar anak kecil yang duduk di antara Ri’aima dan Rosaria, Fritz untuk sesaat merasa heran karena tidak tahu dengan tamu tambahan tersebut.
Pria tua itu sekilas melirik ke arah pelayan yang sebelumnya menyampaikan kedatangan tamu, lalu menatap dengan setengah mata terbuka seakan ingin memarahi. Hal tersebut membuat sang pelayan yang berdiri di belakang sofa tersentak, segera menundukkan kepala layaknya ingin meminta maaf.
“Sudahlah, kita langsung mulai saja.” Fritz menghela napas ringan. Pria tua rambut uban tersebut menatap ke arah para tamu, lalu tanpa membuang waktu langsung bertanya, “Kita punya waktu sampai hujan reda, kenapa tidak segera memulai pembicaraannya? Atas keperluan seperti apa Anda sekalian mendatangi kediaman pria tua ini?”
“Pertama-tama ….” Ri’aima bangun dari tempat duduk, langsung membungkukkan tubuh di hadapan Kepala Keluarga Irtaz dan menyampaikan, “Saya ingin meminta maaf atas perlakukan adik saya tempo lalu. Sebagai perwakilan Keluarga Stein, saya sangat menyesali perbuatan tersebut.”
“Tidak masalah, anak itu memang temperamental. Sepertinya memang didikan Tuan Oma kurang tepat untuk memanjakan anak itu.” Fritz memasang mimik wajah datar, menatap seperti orang yang kehilangan harapan dan berhenti untuk bermimpi. Sejenak memejamkan mata dan menarik napas ringan, pria tua itu tanpa ragu menekan, “Apa yang ingin saya dengar bukanlah permintaan maaf Nona, namun alasan kedatangan kalian ke tempat saya. Terlebih lagi ….”
Fritz membuka mata, menatap lemas sang Pendeta Wanita yang hanya diam dalam pembicaraan yang baru saja dimulai. Seakan menyadari tatapan tersebut, Rosaria berhenti menggandeng anak perempuan yang duduk di sebelahnya.
“Kami di sini hanya untuk menyampaikan sesuatu.” Rosaria meletakan tangan kanan ke dada. Memasang senyum hangat dan memperlihatkan keramahtamahan, sang Pendeta Wanita kembali berkata, “Ini ada kaitannya dengan wacana yang Tuan Jonatan tawarkan kepada Anda.”
Mendengar hal tersebut, Fritz Irtaz langsung tersentak. Merasa kekurangan informasi dan tidak baik untuk langsung mengambil kesimpulan, pria tua tersebut kembali menatap ke arah Putri Sulung Keluarga Stein dan berkata, “Nona Ri’aima, duduklah dulu dan mari kita mulai pembicaraannya.”
“Terima kasih banyak ….” Ri’aima segera kembali duduk. Setelah menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk tetap tenang, perempuan rambut biru pudar itu memasang senyum palsu yang tampak begitu jelas di wajah. Sembari mengulurkan tangan kanan ke depan, ia dengan nada ramah berkata, “Tujuan kami datang hanya ingin menyampaikan rencana dan memberitahukan sesuatu kepada Tuan Irtaz, terutama tentang pengembalian gelar Knight Keluarga Quidra dan pemulihan pengaruh Keluarga Stein.”
“Saya mengerti alasan Anda untuk memulihkan pengaruh Keluarga Stein. Namun ….” Tatapan Fritz dengan cepat berubah tajam. Sembari memasang senyum tipis dan sedikit menyipitkan mata, pria tua itu dengan jelas menekan, “Apa hubungannya pengembalian gelar Knight Keluarga Quidra dengan hal tersebut? Beberapa waktu lalu, Tuan Jonatan juga mengirikan persoalan yang sama. Tentang melebur Keluarga Quidra ke dalam Keluarga Irtaz ini, lalu baru diberikan gelar Knight yang sebelumnya ditangguhkan penyerahannya. Tentu saya itu dalam rangka memperbaiki kualitas militer kota.”
Mendengar apa yang dikatakan oleh Kepala Keluarga Irtaz, Rosaria dan Ri’aima seakan dituntut untuk memberikan sebuah tawaran yang lebih menarik. Hal tersebut membuat kedua perempuan itu memasang mimik wajah sedikit terusik, merasa bisa dirugikan dalam pembicaraan jika pria tua itu diteruskan memimpin dalam lobi.
Menggantikan Ri’aima yang kehabisan kata-kata untuk membalas, Rosaria langsung menyela dan bertanya, “Kalau Tuan Irtaz sudah mendapat tawaran tersebut, berarti Anda juga sudah mendengar tentang keputusan duel itu?”
“Duel?” Kepala Keluarga Irtaz sedikit mengerutkan kening, merasa tidak pernah mendengar hal semacam itu dan memastikan, “Duel tentang apa? Bisa Nona Rosaria jelaskan?”
“Kalau Anda soal duel tidak tahu, berarti tentang hal tersebut juga Anda tidak pernah mendengarnya ….” Rosaria meletakan tangan ke pipi, sedikit memalingkan pandangan dan berlagak seperti orang yang lebih tinggi. Sembari memberikan lirikan kecil, perempuan bermata biru terang tersebut berkata, “Tentang Tuan Odo yang datang ke kota ini beberapa hari lalu.”
“Tuan Odo ….?” Sesaat pria tua tersebut butuh waktu untuk mencerna informasi itu. Paham bahwa yang dimaksud adalah Putra Tunggal Keluarga Luke, ia sedikit memucat dan merasa telah tertinggal berita sangat jauh. Sembari menyandarkan tongkat ke tempat duduk, ia sejenak menutup wajah dengan kedua tangan dan berkata, “Maksud Nona Rosaria, sang Pembunuh Naga yang menjadi tunangan Tuan Putri Arteria sekarang berada di kota ini?”
“Itu benar.”
“Untuk apa ….”
“Kepentingan Tuan Odo, hanya beliau sendiri yang tahu.”
“Hmm, saya mulai paham posisi Anda ….” Paham Rosaria tidak ingin menyampaikan alasan kedatangan Odo Luke, Kepala Keluarga Irtaz berhenti menutup wajah. Memperlihatkan ekspresi yang seakan menahan rasa kesal, pria tua tersebut kembali memastikan, “Lalu, jangan bilang kalau duel tersebut disebabkan karena Putra Tunggal Keluarga Luke itu sendiri? Karena beliau ingin berduel dengan Prajurit Elite itu?”
Rosaria berhenti meletakkan tangan ke pipi. Menatap lurus lawan bicara, sang Pendeta Wanita meluruskan kesalahpahaman dan menjawab, “Beliau memang mengingatkan duel dengan Tuan Jonatan, dengan tujuan untuk mengembalikan gelar Knight Keluarga Quidra. Namun, bukan berarti Tuan Odo akan langsung melakukan duel dengan Kepala Prajurit tersebut.”
“Ah, begitu rupanya. Saya mulai paham polanya ….”
Kepala Keluarga Irtaz menundukkan wajah. Sebagai seorang pejabat yang juga mendatangi pesta pertunangan dan pernah melihat langsung Odo Luke, ia samar-samar paham dengan kepribadian Putra Tunggal Keluarga Luke.
Menyamakan sikap pemuda yang dibahas dengan Putra Sulung Keluarga Rain, pria tua itu merasakan sebuah kemiripan. Terutama dalam hal rasa keadilan dan pergerakan yang diambil seperti suka menyeleksi para bangsawan yang tidak kompeten.
“Alasan saya datang kemari adalah untuk menyampaikan informasi tersebut, supaya Anda bisa bijak dalam mengambil keputusan,” ujar Rosaria menegaskan inti pembicaraan.
__ADS_1
Mendengar perkataan yang seakan menekankan pembicaraan pada satu titik, Fritz Irtaz perlahan menatap ke arah Ri’aima dan memastikan, “Apa benar Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut ingin mengembalikan pengaruh Keluarga Stein? Tidak menyeleksi dan menggantikannya dengan Keluarga Quidra?”
“Itu benar, beliau sendiri yang berkata ingin membantu Keluarga Stein untuk kepentingannya sendiri.”
Jawaban itu tambah membuat Fritz Irtaz menatap curiga, merasa bahwa Putri Sulung Keluarga Stein terlalu ceroboh dengan menyetujui kerja sama dengan Odo Luke. Dalam suasana hati yang sedikit memanas, dengan nada kasar pria tua itu pun berkata, “Kenapa Nona Ri’aima bisa setuju dengan mudah? Bisa saja itu hanya akal-akalan orang itu saja! Ada banyak kemungkinan dan alasan untuk orang sepertinya menyingkirkan Keluarga Stein! Dia mirip seperti Arca Rein, suka menyingkirkan bangsawan yang tidak disukai dan menggantikannya dengan bangsawan lain! Memilih sesuai selera pribadi orang itu sendiri!”
“Anda berkata demikian karena tidak pernah berbicara langsung dengan Tuan Odo.” Ri’aima sedikit kesal saat mendengar cara bicara pria tua itu. Sembari mengerutkan kening dan mengangkat telunjuk ke depan, ia dengan nada tegas berkata, “Kalau memang Tuan Odo hanya berniat memanfaatkan Keluarga Stein, lantas mengapa beliau mau menyembuhkan Ayahanda?!”
“Menyembuhkan …?” Kedua mata Fritz Irtaz terbuka lebar. Rasa kesal dalam benak seketika berubah menjadi kebingungan, lalu dengan penuh penasaran memastikan, “A-Apa Tuan Oma sudah sembuh?!”
“Hmm ….” Ri’aima mengangguk. Sembari memperlihatkan senyum bahagia saat membicarakan hal tersebut, ia dengan penuh rasa lega berkata, “Ayahanda sudah sembuh, bahkan beliau siuman sejak kemarin.”
“Tuan Oma … sudah sembuh …. Syukurlah …. Tuan Oma. Saya kira … Anda sudah …. Syukurlah beliau tidak apa-apa ….”
Fritz Irtaz seketika berkaca-kaca, memperlihatkan ekspresi bahagia setelah mendengar kabar tersebut. Pria tua itu memang sama sekali tidak meneteskan air mata saat kepergian mendiang istri, atau bahkan saat putranya keluar dari rumah meninggalkannya. Namun saat mendengar Oma Stein baik-baik saja dan telah siuman, dengan mudah air mata mengalir membasahi pipinya yang keriput.
Itu membuat Ri’aima dan Rosaria terkejut, paham bahwa loyalitas Fritz Irtaz terhadap Oma Stein sangatlah tinggi dan telah sampai pada tingkat yang tidak bisa mereka pahami. Kedua perempuan itu saling menatap dengan bingung, tak menyangga kalau pria tua yang terkenal keras kepala tersebut akan meneteskan air mata di hadapan tamu.
Merasa tidak bisa langsung melanjutkan pembicaraan, Ri’aima dan Rosaria lebih memilih untuk diam. Menunggu pria tua tersebut menenangkan diri dan berhenti meneteskan air mata dalam rasa lega yang meluap-luap.
Hal tersebut butuh waktu sampai lima menit. Setelah mengusap air mata dengan sapu tangan yang diambilkan oleh pelayan yang berdiri di belakang sofa, Fritz Irtaz menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk tidak emosional.
“Maaf telah menunjukkan sesuatu yang tidak pantas.” Kepala Keluarga Irtaz memperlihatkan ekspresi yang berbeda dari sebelumnya, tampak sedikit tenang dan samar-samar senyum senang terlihat di wajah. Menatap Putri Sulung Keluarga Stein, ia dengan tanpa niat menekan bertanya, “Berarti … yang menyembuhkan Tuan Oma adalah Tuan Odo, ‘kan?”
“Sayang sekali bukan.” Ri’aima menggelengkan kepala. Sembari memasang mimik wajah sedikit cemas dan tidak percaya, ia menatap lurus ke depan dan menyampaikan, “Yang menyembuhkan Ayahanda adalah penyihir yang dibawa oleh Tuan Odo, namanya adalah Canna Miteres. Seorang Penyihir dari Kota Miquator.”
Itu cukup untuk membuat Fritz Irtaz tersentak. Mengingat Keluarga Stein tidak memiliki sejarah baik dengan para penyihir Miquator, Kepala Keluarga Irtaz merasa bahwa Oma tidak akan senang saat tahu telah menerima bantuan dari seorang penyihir.
Namun mengingat kembali perkataan Ri’aima tentang Oma Stein yang sudah siuman sejak kemarin, pria tua tersebut merasa bahwa hal seperti itu tidak terjadi. Memberikan tatapan cemas dan kedua alis sedikit turun, Kepala Keluarga Irtaz pun memastikan, “Apa … Tuan Oma tidak marah? Seingat saya, beliau itu sangat tidak suka dengan para penyihir. Terutama mereka yang berasal dari Miquator.”
Dari penjelasan Putri Sulung Keluarga Stein, Fritz dengan cepat tahu bahwa Odo Luke juga berada di Kediaman Stein. Memikirkan kembali para tamu yang dibicarakan oleh perempuan rambut biru pudar tersebut, pria tua itu merasa bahwa memang ada sebuah rencana besar yang sedang disiapkan oleh Putra Tunggal Keluarga Luke.
Sejenak terdiam dan mengolah semua hal yang disampaikan untuk membuat sebuah perkiraan, Fritz menemui jalan buntu karena benar-benar kekurangan informasi. Menatap kedua tamu yang duduk di seberang meja, pria tua tersebut kembali merasa bahwa mereka berdua pun tidak tahu secara lengkap tentang rencana yang telah Odo Luke siapkan.
Mengesampingkan masalah tentang Putra Tunggal Keluarga Luke, Fritz malah lebih memilih untuk merasa lega dan kembali berkata, “Kalau Tuan Oma tidak mempermasalahkan hal tersebut, saya sangat bersyukur. Terkadang ada beberapa penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan obat-obatan herbal, terutama seperti wabah yang mungkin disebabkan oleh sisa-sisa kekuatan Raja Iblis Kuno. Itu memang mirip seperti miasma, tetapi efek dan cara penyebarannya sangat berbeda.”
Di tengah pembicaraan Fritz Irtaz dan Ri’aima yang mulai melenceng dari topik, Rosaria segera bertepuk tangan seakan-akan ingin meniru gaya Odo Luke saat melakukan pembicaraan. Itu membuat Putri Sulung Keluarga Stein dan Kepala Keluarga Irtaz menatap kesal, sebab merasa terganggu dengan sikap seperti itu.
“Ma-Maaf menyela pembicaraan kalian, namun bisakah kita kembali ke topik awal?” tanya Pendeta Wanita dengan nada sedikit canggung.
“Sepertinya pembicaraan ini memang sedikit melebar.” Ri’aima mengangguk sekali untuk membantu rekannya. Sembari menatap ke arah Kepala Keluarga Irtaz, perempuan rambut biru pudar tersebut tanpa basa-basi langsung bertanya, “Tuan Irtaz, apakah Anda mau mendukung kami dalam rencana tersebut? Setelah mengembalikan gelar Knight Keluarga Quidra, mereka tentu saja akan membantu Keluarga Stein dalam mendapatkan kembali kendali atas kota ini. Kita akan melawan Prajurit Elite itu dengan jumlah dan suara ….”
“Jika mereka bermain dalam jumlah suara, Nona Ri’aima juga ingin menggunakan cara yang sama. Sangat sederhana namun efektif.” Fritz Irtaz untuk sesaat terdiam, mempertimbangkan dengan baik tawaran tersebut dan mengingat-ingat kembali semua kondisi yang ada. Merasa ingin bertaruh pada hal tersebut meski masih banyak hal yang belum jelas, pria tua itu menatap lawan bicara dan memastikan, “Menurut Tuan Oma sendiri bagaimana? Apa beliau setuju dengan rencana yang sedang Tuan Odo dan Nona Ri’aima jalankan?”
“Ayahanda berkata tidak akan membantu, namun beliau menyampaikan bahwa rencana ini patut untuk dijalankan. Sedangkan beliau akan menjalankan caranya sendiri untuk mengembalikan pengaruh Keluarga Stein.”
“Seperti itulah pola pikir Oma Stein. Tidak mengikuti alur orang lain, lebih memilih bergerak sendiri dan memanfaatkan kondisi yang ada,” benak Fritz Irtaz saat mendengar hal tersebut.
“Tuan Oma memang dari dulu seperti itu ….” Sejenak terdiam setelah bergumam, Kepala Keluarga Irtaz memalingkan pandangan dan meletakkan tangan kanan ke dagu. Sembari memasang mimik wajah ragu-ragu, ia dengan penasaran kembali memastikan, “Berarti beliau memberikan izin untuk Nona mengambil langkah secara independen, bukan? Dengan Tuan Odo dan tanpa melipatkan Keluarga Stein secara penuh?”
“Itu benar. Untuk Keluarga Stein, saya bisa dikatakan bergerak secara independen tanpa ikut campur Kepala Keluarga.” Ri’aima sejenak menarik napas dalam-dalam. Ingin memanfaatkan ritme pembicaraan yang berlangsung, Putri Sulung Keluarga Stein juga menyampaikan, “Namun dalam beberapa hal, ada kemungkinan adik saya juga akan ikut campur dalam rencana ini.”
“Adik Nona? Orang temperamental itu?” Kepala Keluarga Irtaz memberikan ekspresi meremehkan, memandang sebelah mata karena satu kesalahan yang dibuat Baldwin beberapa waktu lalu.
Ri’aima untuk beberapa detik tersinggung, alis sedikit turun dan memberikan tatapan sinis. Paham tidak boleh terbawa emosi hanya karena hal seperti itu, perempuan rambut biru pudar tersebut membela, “Baldwin waktu itu hanya terbawa emosi sesaat, ia tidak benar-benar membenci Tuan Irtaz atau semacamnya.”
__ADS_1
“Tetap saja …. Memukul orang lain bukanlah hal yang patut dipuji.”
Pembicaraan sesaat terputus karena perkataan tersebut. Itu adalah fakta mutlak. Dalam ranah pejabat, kekerasan memang sangat tidak pantas untuk dilakukan. Merusak citra individu, keluarga, atau bahkan sampai instansi.
Tidak bisa mengelak, Ri’aima hanya bisa menundukkan kepala dan berkata, “Sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan Baldwin. Tolong maafkan adik saya, Tuan Irtaz.”
“Saya sudah memaafkannya. Hanya saja ….” Pria tua tersebut menatap ragu. Sedikit memalingkan pandangan dan menghela napas, ia dengan nada menyindir berkata, “Saya ragu dia akan introspeksi diri dan tidak melakukannya lagi.”
“Saya berjanji Baldwin tidak akan melakukan hal tersebut lagi.” Ri’aima mengangkat wajah. Menatap tajam dan benar-benar membela sang adik, perempuan rambut biru pudar tersebut menyampaikan, “Saya mempertaruhkan Keluarga Stein dan diri saya sendiri.”
Perkataan tersebut dipenuhi keyakinan, Fritz Irtaz memahaminya dengan sangat baik. Tidak ingin memperlebar permasalahan yang sudah lewat, pria tua itu berkata, “Sudahlah, saya sudah memaafkan. Jika dia bisa berubah dan lebih dewasa, itu adalah hal bagus untuk Keluarga Stein. Saya juga senang dengan hal tersebut.”
“Terima kasih banyak, Tuan Irtaz.”
Fritz Irtaz memberikan tatapan datar, merasa bahwa Ri’aima terlalu membela sang adik dalam pembicaraan. Tidak ingin mengusik hal berbau kekeluargaan, pria tua tersebut segera bertanya, “Untuk rencana kalian sendiri, secara spesifik bagaimana? Entah itu tentang duel, pengembalian gelar Knight, atau bahkan membantu Keluarga Stein untuk mendapatkan pengaruh lagi di kota …. Secara sederhana, kalian ingin melakukan apa untuk kota ini?”
Ri’aima terdiam, tidak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut karena dirinya sendiri tidak memiliki gambaran jelas untuk Rockfield. Setelah Keluarga Stein mendapatkan kembali pengaruhnya, perempuan rambut biru tersebut sama sekali tidak memiliki sebuah visi.
Melihat ke arah Rosaria, Ri’aima seakan ingin meminta bantuan. Menyerahkan pertanyaan tersebut kepada rekannya.
Paham dengan hal tersebut, Pendeta Wanita sekilas terlihat enggan. Menarik napas dalam-dalam, ia menatap ke arah Fritz Irtaz dan bertanya “Bolehkah saya menjawab pertanyaan tersebut?”
Sembari mengulurkan tangan ke depan, Kepala Keluarga Irtaz berkata, “Silahkan, Nona Rosaria.”
“Peperangan melawan Kekaisaran, Anda pasti pernah dengar rumor tersebut, bukan?”
Fritz Irtaz dengan cepat menyerigai lebar, memukulkan tongkat ke lantai dan benak segera dipenuhi semangat yang membara-bara. Satu pertanyaan tersebut seakan menjelaskan semua hal kepada pria tua itu, membuatnya langsung mengangguk dua kali dengan sangat yakin.
“Bagaimanapun juga, pemuda itu memang keturunan Luke! Instingnya sangat bagus!” Fritz segera bangun dari tempat duduk. Berdiri dibantu tongkat, ia menatap lurus kedua tamu di hadapannya dan berkata, “Baiklah! Kalau memang untuk Kerajaan Felixia! Saya akan masuk ke dalam rencana kalian!”
“Apa … Anda tidak perlu mendengarkan hal ini sampai selesai?” tanya Rosaria memastikan.
“Tidak usah!” Fritz menyeringai tipis. Seakan telah memahami alur yang ada, pria tua tersebut menghentakkan tongkat ke lantai dan kembali berkata, “Tujuan Odo Luke yang sesungguhnya adalah untuk mempersiapkan peperangan, terutama perang yang akan menerpa Teritorial Rockfield ini. Dari awal, ini memang sangat aneh untuk Yang Mulia Gaiel mengirimkan Prajurit Elite untuk mengisi posisi Kepala Prajurit yang kosong.”
Mendengar kesimpulan tersebut, dalam rasa penasaran Ri’aima pun bertanya, “Berarti … apa yang menjadi tujuan Tuan Odo juga selaras dengan Raja Gaiel?”
“Selaras? Uwahaha!!” Pria tua itu tertawa lepas. Seakan menikmati situasi yang akan terjadi, pria tua tersebut dengan jelas menyampaikan, “Jelas tidak! Odo Luke benar-benar ingin melawan rencana Raja Gaiel, karena itulah dia sekarang berada di pihak Keluarga Stein!”
Dalam suara tawa tersebut, petir bercampur dan membuat Fritz sangat terlihat seperti orang picik. Dipenuhi keserakahan, ingin memanfaatkan semua situasi yang ada demi kepentingannya sendiri.
Meski untuk Teritorial Rockfield, Ri’aima merasa cara yang akan diambil pria tua itu akan sangat salah. Terkesan buta, tidak memandang sekeliling dan hanya bergerak untuk satu tujuan yang belum tentu benar.
Di tengah kesimpulan yang diambil oleh Ri’aima dan Fritz, Rosaria hanya terdiam dan benar-benar tersenyum dalam hati. Ia kembali menggenggam tangan anak perempuan yang sedari tadi hanya diam di sebelahnya, lalu perlahan memperlihatkan rasa senang yang jelas. Seakan-akan spekulasi yang diambil oleh kedua orang tersebut termasuk dalam tujuannya.
“Tuan Odo memang luar biasa, siapa yang menyangka kalau Tuan Irtaz akan mengambil kesimpulan seperti itu. Terlebih lagi, tanpa bertanya secara rinci tentang rencana dan situasi yang ada sekarang,” benak Rosaria seraya memejamkan kedua mata.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan :
Masih Dekadensi Lagi!!
See You Next Time!!
Catatan Kecil :
__ADS_1
Fakta 037: Pada penjelasan fakta sebelumnya, dapat diketahui bahwa bisa saja apa yang ada di dimensi empat (tempat kita), hanyalah sebuah bagian kecil dari dimensi lima yang tidak bisa dibayangkan dengan jelas oleh makhluk dimensi empat.