
Meski dihadapkan dengan keputusasaan dan segudang masalah, beberapa orang berpikir bahwa waktu akan menyelesaikan semuanya.
Entah sesulit apapun rintangan yang menghadang, selama ada waktu kesempatan akan selalu datang.
Terus mencoba ….
Terus melangkah ….
Terus mencari tahu, dan terus menerus mengambil keputusan untuk masa depan.
Tak masalah jika tidak bisa dilakukan sekarang, hari esok masih ada. Jika esok masih belum bisa terselesaikan, lusa masih menunggu dan hari seterusnya pun menanti.
Salah satu hak yang dimiliki manusia adalah waktu untuk berpikir, supaya mereka bisa mengambil keputusan tepat di akhir perjalanan.
Tidak ada harapan di balik hal tersebut, hanya ada satu hal bernama akibat yang menanti. Hasil dari rangkaian waktu dan keputusan yang telah mereka lalui.
Pemikiran seperti itu sangatlah naif. Hal tersebut hanya menunda-nunda. Meski seakan memahami secara rasional, namun pada dasarnya itu merupakan hasil dari hati bernama kemalasan. Salah satu penyakit yang ada pada makhluk berakal.
Sebab itulah, di mata Odo Luke keputusan tersebut tampak sangat naif. Sesuatu yang dipilih oleh Ri’aima, sebuah tindakan yang perempuan tersebut ambil setelah mendengar kenyataan dari sang pemuda.
“Saya akan membicarakannya dengan mereka. Akan saya pastikan mereka berubah, entah berapa lama waktu yang dibutuhkan.”
Layaknya orang kuat yang mampu mengubah orang lain, perempuan itu mengambil keputusan tersebut. Merasa punya banyak kesempatan, sampai-sampai tidak berpikir apa yang akan terjadi jika ia menemui kegagalan.
Odo tidak bisa berkomentar atau mencela pilihan tersebut. Sebab, dirinya juga pernah memiliki pemikiran seperti itu. Merasa kuat dan memiliki banyak pilihan, terus mencoba dan menggunakan waktu yang begitu melimpah di masa lalu.
Namun, pada akhirnya hasil yang didapat adalah salah satu potensi terburuk. Di mana hanya dirinya yang tersisa, lalu berdiri berhadapan dengan sosok yang memulai penderitaannya.
Bahkan sampai sekarang, hasil dari kegagalan tersebut masih menghantui sang pemuda. Dalam bentuk kehidupan kedua, sesuatu yang tidak dirinya harapkan.
Sebab itulah, Odo tidak memiliki hak untuk membantah keputusan Ri’aima. Hanya bisa membiarkan, lalu melihat hasil yang akan timbul setelah keputusan itu berlangsung.
Entah itu akan berlangsung lancar atau tidak, pemuda itu telah memutuskan hanya akan melihat. Sedikit membantu dan tak akan menyetir keputusan perempuan itu.
Pada malam setelah pembicaraan mereka di toko camilan, Ri’aima memutuskan untuk segera membicarakan hal tersebut dengan semua anggota keluarga. Mengenai fakta yang baru dirinya ketahui, dosa-dosa, kebohongan, dan sebuah kebencian yang ada di antara anggota Keluarga Stein.
Perempuan itu menunggu waktu makan malam datang, ketika semua keluarganya berkumpul pada satu tempat. Baik itu kedua Adiknya, Ayah, ataupun sang Ibu, mereka berkumpul di ruang makan untuk mendengarkan pembicaraan Ri’aima.
Pada saat itu, Odo hanya sedikit memberikan bantuan. Memanggil Agathe yang biasanya tidak ikut makan malam, lalu meminta wanita tersebut untuk sekali saja mendengarkan perkataan Putrinya sendiri.
Setelah memerintahkan semua pelayan meninggalkan ruangan, Ri’aima dengan penuh rasa cemas menyinggung hal sensitif yang telah dirinya dengar dari Odo Luke. Apa yang pertama dirinya bongkar adalah kebohongan sang Ibu terkait penyakit mental, dengan jelas melaporkan hal tersebut kepada Oma Stein.
Tentu saja itu membuat sang Kepala Keluarga terkejut, benar-benar tidak sadar bahwa Istrinya tersebut pura-pura terkena penyakit mental. Namun, hanya ekspresi terkejut saja yang tampak pada wajah pria tua tersebut saat mendengarnya. Tidak ada marah, kecewa, ataupun merasa dikhianati.
Dengan penuh rasa lega, pria tua itu malah melempar senyum hangat kepada Agathe dan berkata, “Syukurlah kamu baik-baik saja, Istriku ….”
Di sisi lain, Baldwin dan Xavier malah terkejut bukan main. Awalnya mereka menganggap perkataan Ri’aima hanya sebatas bualan konyol. Namun setelah melihat perubahan ekspresi sang Ibu, kedua anak Keluarga Stein tersebut baru sadar bahwa selama ini Ibu mereka telah berbohong.
Mereka langsung mengajukan banyak pertanyaan, bangun dari tempat duduk dan menghampiri Agathe. Tetapi, wanita rambut biru pudar tersebut hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan anak-anaknya. Sama sekali tak memberikan penjelasan, hanya memasang mimik wajah kosong dan perlahan berubah kesal.
Di tengah rasa terkejut kedua adiknya, Ri’aima tanpa pikir panjang kembali mengungkap rahasia sang Ibu. Berkata bahwa alasan Kepala Keluarga jatuh sakit bukan karena sisa-sisa kekuatan Raja Iblis Kuno seperti yang dibicarakan, melainkan disebabkan oleh racun yang diberikan Agathe.
Tentu itu membuat Baldwin dan Xavier terbelalak, merasa tidak terima karena kakak perempuan mereka seenaknya menuduh seperti itu. Membentak kasar, lalu meminta pembelaan kepada ibu mereka untuk membantah perkataan tersebut.
Namun seakan sudah pasrah dengan semuanya, Agathe pada akhirnya membuka mulut di hadapan mereka semua. Menatap ke arah sang Kepala Keluarga, lalu dengan jelas berkata, “Itu benar seperti ucapan Ri’aima, engkau sakit karena racun. Saya yang meracuni engkau! Ini sungguh memuakkan, saya benar-benar berharap engkau tetap sakit dan mati saja waktu itu. Kenapa …, kenapa semuanya harus berakhir seperti ini?”
Itu benar-benar membuat semua orang di dalam ruangan terkejut. Baldwin dan Xavier berhenti membela, sedangkan Oma Stein terbelalak karena mendengar isi hati Istrinya tersebut. Bahkan untuk Ri’aima sendiri, ia tidak mengira bahwa sang Ibu akan mengaku seperti itu.
Kepala Keluarga Stein tahu bahwa Agathe sangat membencinya. Namun, itu bukan berarti Istrinya tersebut pernah memperlihatkan kebencian sejelas itu. Terutama saat di hadapan anak-anaknya sendiri.
Menjadi dingin menjadi pilihan wanita tersebut dalam mengekspresikan kebencian. Tidak menyembunyikan rasa benci, namun pada saat yang sama tidak berusaha untuk menunjukkannya. Hanya bersikap dingin kepada keluarga.
Karena itulah, saat mendengarkan ucapan yang dipenuhi kebencian tersebut, Oma Stein hanya bisa terbelalak dan gemetar. Benar-benar terkejut saat sang Istri tanpa ragu mengungkapkan kebencian di depan keluarganya sendiri.
Mungkin jika yang mendengar itu adalah Oma Stein sebelum sakit, mungkin ia akan langsung murka dan memaki sang Istri. Mengajukan cerai atau bahkan sampai memukul wanita tersebut di depan anak-anak.
__ADS_1
Namun, anehnya sekarang dalam hati sang Kepala Keluarga hal seperti itu tidak ada. Jangankan murka, bahkan rasa kesal sama sekali tidak muncul dalam benak.
Hanya lega yang mengisi, lalu kepala berusaha memahami alasan di balik perbuatan sang Istri. Seakan-akan sifat dan kepribadian telah berubah sepenuhnya, tepat setelah dirinya siuman beberapa hari lalu.
“Mengapa … engkau melakukan itu, Istriku?”
Satu pertanyaan tersebut terucap dari mulut Oma. Bukan dengan amarah, melainkan diisi oleh rasa ingin tahu dan murni berharap penjelasan dari sang Istri.
Di sisi lain, Agathe seketika malah murka saat mendengar pertanyaan penuh rasa tenang tersebut. Wanita yang biasa selalu bersikap dingin itu langsung menggebrak meja sampai tangannya sendiri sakit, lalu dengan mata berkata-kaca menyerapah.
Menghina sang Kepala Keluarga, membongkar semua kebusukannya, dan bahkan dengan lantang menyatakan bahwa dirinya sangat menyesal telah menikah dengan Oma. Dalam isak tangis, Agathe benar-benar melepaskan semua perasaan yang telah dirinya pendam selama bertahun-tahun. Pada saat itulah, wanita tersebut menyerah pada rencana balas dendamnya.
Mendengar hal tersebut untuk pertama kali, Baldwin dan Xavier hanya bisa terperangah. Tidak menyangka dan terdiam membisu di tempat, lalu perlahan melihat ke arah Kepala Keluarga seakan ingin meminta penjelasan.
Baik itu tentang sejarah kelam Keluarga Stein untuk menduduki Rockfield, kekejaman Oma di masa lalu, atau bahkan apa yang dilakukan oleh pria tua tersebut kepada Keluarga Swirea. Semua itu membuat tubuh Baldwin dan Xavier seakan disambar petir.
Mereka berdua menatap dengan kedua mata terbuka lebar, benar-benar merasa kecewa kepada sang Ayah. Dalam benak, mereka berharap penjelasan Kepala Keluarga bisa membantah semua ungkapan sang Ibu.
Tidak ingin membuat kebohongan lagi dalam keluarga yang sudah rapuh, Oma dengan berat hati membuka mulut. Mengungkap semuanya di depan anak-anaknya, lalu dengan pasrah hanya berharap mereka bisa menerima hal tersebut. Selain membenarkan hampir seluruh perkataan Agathe, pria tua itu juga memberikan penjelasan-penjelasan untuk membuat anak-anaknya mau memaafkannya.
Namun, tentu saja mereka tidak bisa langsung mengangguk begitu saja. Baik itu kekejaman yang telah Oma dan antek-anteknya lakukan untuk meraih jabatan di Rockfield, atau bahkan kekejian yang pria tua itu lakukan kepada Agathe. Semua itu bukanlah hal yang bisa dimaafkan begitu saja.
Sebagai anak, Baldwin dan Xavier tidak bisa begitu saja menerima hal tersebut. Sebagai seorang yang lahir di kalangan bangsawan dan dididik penuh kebanggaan, itu seperti sebuah noda pekat dalam hidup mereka.
Kekecewaan dan amarah, merasa dikhianati ekspektasi mereka sendiri terhadap sang Ayah. Mata sampai berkaca-kaca, wajah memerah dan terlihat seperti ingin menangis karena kekecewaan luar biasa.
Untuk sesaat, mereka berdua bahkan sampai merasa jijik terhadap darah Keluarga Stein yang mengalir di nadi.
Xavier yang biasanya memiliki kesan polos sampai membentak Oma, mengatai pria tua itu keji dan menyebutnya tidak pantas sebagai seorang bangsawan. Mengutarakan kekecewaan dengan menunjuk-tunjuk, lalu menyerapah sampai air liur menyemprot keluar.
Meski ia masih anak-anak, Xavier paham apa yang dilakukan oleh Oma sangatlah keji. Untuk seorang manusia, itu sangat tidak bermoral dan benar-benar melambangkan keserakahan. Sangat berbeda dengan apa yang pria tua tersebut selalu ajarkan kepada mereka, baik tentang kehormatan ataupun kebajikan.
Berbeda dengan Adiknya, Baldwin hanya menatap dalam-dalam sang Kepala Keluarga yang terdiam. Meski dipenuhi kekecewaan, itu tidak membuatnya menyerapah ataupun menghina semua yang pernah diajarkan sang Ayah.
Hina dan menyedihkan, itulah yang Baldwin rasakan. Baik itu Oma ataupun Agathe, ia merasakan hal tersebut kepada mereka berdua. Di mata Baldwin, kesalahan tidak sepenuhnya dibuat oleh Oma Stein. Kondisi yang ada memaksa Ayahnya tersebut melakukan hal seperti itu. Namun, tetap saja kekejian itu bukanlah sesuatu yang bisa dimaafkan begitu saja.
Di tengah kekecewaan kedua adiknya tersebut, Ri’aima dalam cemas bertanya, “Keluarga Stein adalah pendosa. Ayahanda juga merasa seperti itu, bukan?”
Itu membuat semua orang yang mendengarnya terkejut, seakan-akan perempuan rambut biru pudar tersebut menuntut penebusan dari dosa yang ada. Menyangkut semua orang yang memiliki darah Stein di nadi, ia seakan meminta mereka untuk menebus kesalahan di masa lalu.
Terdiam sesaat, itulah yang bisa Oma lakukan saat mendapat pertanyaan tersebut. Layaknya hawa dingin yang merembas masuk ke dalam dada, bayangan masa lalu menjadi semakin jelas di benak pria tua tersebut.
Momen ketika dirinya memanipulasi orang-orang untuk membantai para pejabat yang tidak mendukungnya, lalu menggiring antek-anteknya untuk mengeksekusi Keluarga Swirea dan dipertontonkan.
Selama hidupnya, itu pertama kalinya Oma memahami arti dari rasa bersalah. Layaknya sebuah gala yang menusuk ke dada, ia merasakan penyesalan yang luar biasa.
Oma tidak bisa menyadarinya sendiri. Karena itu, perkataan Ri’aima seakan membuatnya tersadar dan ditampar rasa bersalah. Layaknya sang darah daging menjadi sosok pengingat atas dosa-dosa yang pernah dilakukan pada masa lalu.
“Keluarga Stein bukanlah pendosa, hanya diriku seorang sang pendosa. Ayah memang melakukan banyak hal buruk di masa lalu, namun semua itu tidaklah salah. Ayah … tidak akan pernah menyesali, karena itu bisa menghina semua nyawa yang telah tangan ini renggut.”
Perkataan Oma memang terdengar seakan ia ingin mengambil seluruh tanggung jawab dan menebus semua dosa. Namun, hal itu benar-benar membuat Agathe naik pitam. Wanita tersebut memang telah menyerah dengan balas dendam, tetapi amarah dan kebencian yang ada tidaklah padam.
Agathe bangun dari tempat duduk, berjalan dengan penuh amarah menuju Oma dan langsung menampar pria tua tersebut dengan keras. Meneteskan air mata, lalu dengan penuh kesedihan berkata, “Diriku takkan pernah memaafkanmu! Oma! Meski berkata seakan ingin menanggung semua dosa, mereka yang telah engkau bunuh tidak akan kembali hidup! Ayahanda! Ibunda! Ayunda! Dan bahkan …, adikku, Imarit ...! Mereka tidak akan pernah kembali lagi!”
Itu benar apa adanya. Meski Oma menanggung semua dosa dan mulai sekarang akan menebus hal tersebut, itu tidak akan membuat semua kesalahan menghilang begitu saja. Layaknya luka duri mawar pada sang gadis, saat ia dewasa itu akan terus membekas kuat pada kulit. Mengingatkan perih di masa lalu, membawanya ke masa kini tanpa dikehendaki.
Meski begitu, Oma tetap tidak memiliki pilihan lain. Tanpa dibantu tongkat, pria tua tersebut berusaha berdiri dan segera memeluk Agathe. Ingin meminta maaf, memohon pengampunan atas dosa-dosa dan hal buruk yang pernah dirinya lakukan kepada sang Istri.
Agathe meronta, berusaha melepaskan dekapan pria yang dirinya benci. Mencakar, menggigit, dan bahkan sekuat tenaga menjambak rambut pria tua itu. Benar-benar tidak sudi saat dipeluk olehnya.
“Diriku tahu kamu takkan memaafkan, Agathe. Namun, tolong biarkan diriku ini mengatakannya ….” Oma memeluk semakin erat. Meskipun darah mengalir karena cakar dan gigitan, banyak helai rambut rontok saat dijambak, pria tua itu tetap mendekap erat. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, dalam isak tangis ia pun berkata, “Tolong maafkan pria tua ini, Agathe …. Kumohon. Diriku sangat menyesal telah melakukan hal mengertikan itu kepadamu …. Diriku hanyalah orang lemah ..., hanya cara tersebut yang aku tahu saat itu. Diriku tidak punya pilihan lain waktu itu …! Sungguh diriku minta maaf. Saat itu aku masih kekanak-kanakan …! Aku … tidak bisa menyadari kebaikanmu! Aku tidak bisa menerima keadaan! Aku hanya merengek seperti bocah ingusan! Aku tidak terima dengan semuanya! Aku hanya … tidak ingin berdiam diri ….”
Layaknya anak kecil, Oma benar-benar menangis dari lubuk hatinya yang terdalam. Semua pencapaian dari tumpukan mayat dan dosa tidak lagi dirinya pedulikan, hanya maaf dari sang Istri saja yang pria tua tersebut harapkan sekarang. Memohon ampun, meski paham luka seperti apa yang telah diberikannya kepada Agathe.
“Tidak akan ….” Sekuat tenaga sang Nyonya Rumah melepaskan pelukan suaminya. Menatap berlinang air mata, dipenuhi marah wanita tersebut dengan lantang berkata, “Engkau pikir diriku akan memaafkan?! Hanya dengan perkataan seperti itu, engkau pikir dosa bisa diampuni?! Sampai kapan pun, diriku takkan pernah memaafkanmu!! Bahkan sampai ke liang lahat! Diriku akan selalu mengutuk orang sepertimu!!”
__ADS_1
Tanpa memedulikan anak-anaknya yang melihat, Agathe menutup rapat-rapat hatinya. Meski telah mendengar permintaan maaf tulus dari Oma, wanita rambut biru pudar tersebut sama sekali tidak berniat memberikan kesempatan kedua.
Melihat hal tersebut, untuk pertama kalinya Ri’aima tahu seberapa besar rasa benci sang Ibu terhadap Oma. Tertegun melihat mereka bertengkar, dalam bingung terdiam tanpa bisa mengatakan apa-apa.
Paham bahwa situasi itu terjadi karena pembicaraan yang dirinya mulai, Putri Sulung Keluarga Stein segera bangun dari tempat duduk untuk ambil bicara. Meletakkan tangan ke depan dada, lalu dipenuhi rasa cemas meminta, “Tolong maafkan Ayahanda⸻”
Perkataan terhenti sebelum selesai. Tepat sebelum ia berkata sangat naif dan tidak tahu diri, perempuan rambut biru pudar tersebut mulai memahami rasa sakit yang diderita Agathe. Seluruh keluarga kandung dieksekusi, harus berkeluarga dengan pria yang sangat dibenci, dan menahan semua itu selama hampir dua dekade penuh. Ri’aima merasa kebencian pasti tumbuh selama itu.
Di sisi lain, Baldwin merasakan hal yang serupa. Pemuda kurus tersebut sedikit memahami kebencian sang Ibu, membuatnya tidak bisa berkata naif dan meminta secara egois layaknya seorang anak kecil.
Berbeda dengan kakak-kakaknya yang terdiam, Xavier dengan lantang meminta, “Bunda! Tolong maafkan Ayahanda! Beliau telah mengakui kesalahannya!”
Putra Bungsu Keluarga Stein tersebut berjalan mendekat, berdiri di antara sang Ayah dan Ibu. Sembari meletakkan tangan ke depan dada dan memperlihatkan mimik wajah sedih, Xavier dengan tulus sekali lagi meminta, “Tolong maafkan Ayahanda! Saya memang tidak paham dengan perasaan Ibunda …, namun …, namun … Ayahanda sudah meminta maaf! Paling tidak tolong berikan beliau kesempatan! Demi saya, Putra kalian berdua …!”
Meski sebelumnya Xavier benar-benar menyerapah Kepala Keluarga, ia sekarang malah menunjukkan sikap membela. Itu memang sangat tidak konsisten. Namun, Agathe merasa bahwa seperti itulah seharusnya anak-anak bertindak.
Melihat wajah dan mendengar permintaan Putra Bungsunya, Agathe teringat kembali dengan Oma saat masih kecil. Sosok yang pernah dirinya kagumi saat masih belia, sebuah panutan saat tatapan dipenuhi pria tua itu masih keberanian dan kebebasan. Sangat berbeda dengan sekarang, diisi oleh penyesalan dan rasa bersalah.
“Hari itu ….”
Suara pelan keluar dari mulut wanita rambut biru pudar tersebut. Mengingat kembali momen di mana ia pertama kali bertemu Oma, memang pernah ada sebuah rasa hangat dan kasih sayang yang menyelimuti. Memberikan sedikit gambaran masa depan dan harapan, namun pada akhirnya semua itu hancur berkeping-keping karena situasi dan kondisi.
Memang tragedi tersebut bukan sepenuhnya kesalahan Oma, itu terjadi karena situasi dan kondisi yang ada selama akhir masa Perang Besar. Peperangan selalu membawakan kebencian dan kesedihan, lalu dendam setelah semua itu berakhir.
Namun, tetap saja Agathe tidak bisa memberikan maaf. Meski telah mendengar permohonan maaf Oma dan permintaan Xavier, wanita rambut biru pudar tersebut tidak bisa memaafkan. Ia telah bersumpah untuk tidak memaafkan pria tua itu sampai akhir.
Saat melihat ke arah Baldwin dan Ri’aima untuk memastikan, keputusan tersebut seakan kembali diguncang. Agathe paham, bahwa Putri Sulungnya tersebut memulai pembicaraan untuk menyelesaikan perkara yang ada di Keluarga Stein sebelum meledak. Ia juga tahu bahwa Putrinya tersebut mengetahui itu dari Odo Luke.
Benar-benar tertekan, kesedihan dengan jelas tampak pada wajah wanita rambu biru pudar tersebut. Air mata terus mengalir deras membasahi pipi. Menghapus riasan dengan kacau, tidak tahu harus mengucapkan apa lagi. Baik untuk dirinya sendiri ataupun anak-anak, sang Ibu benar-benar berdiri di jalan buntu.
“Penebusan ….” Satu kata tersebut keluar dari mulut Baldwin. Pemuda itu menatap ke arah Agathe, lalu dengan penuh rasa cemas bertanya, “Bagaimana dengan penebusan?! Jika memang Ibunda takkan bisa memaafkan Ayahanda, tolong beritahu kami cara untuk menebusnya! Kami adalah anak dari Oma Stein! Dosa dan kesalahannya adalah kesalahan kami juga! Paling tidak …, saya merasa seperti itu!”
“Apa yang kamu bicarakan, Baldwin! Ini adalah dosa Ayah! Bukan sesuatu yang bisa kamu anggap enteng⸻!”
“Saya tidak menganggap itu enteng!” Untuk pertama kali, Baldwin membentak Ayahnya sendiri. Menatap penuh kesedihan, lalu dengan rasa cemas menyampaikan, “Saya merasa jijik dengan keluarga ini karena Ayahanda! Saya tidak bisa memaafkan diri saya sendiri! Dosa yang Ayahanda lakukan, kesalahan yang diperbuat di masa lalu …. Saya tidak bisa begitu saja berpaling dari semua itu!”
Dari semua orang yang mendengar hal tersebut, hanya Ri’aima yang bisa memahami perasaan Baldwin dengan benar. “Ah, dari dulu dia memang seperti itu,” benak perempuan rambut biru tersebut dalam mimik wajah sedih.
Dari semua orang yang ada, sesungguhnya yang paling memikirkan Keluarga Stein dan benar-benar mencintai mereka adalah Baldwin. Sejak kecil ia selalu menekan kepentingan pribadi dan sifat kekanak-kanakan, namun saat keluarganya disinggung ia akan lepas kendali dengan cepat. Itulah bentuk kasih sayang pemuda dengan perawakan kurus tersebut.
Memutuskan hal yang hampir sama dengan adik-adiknya, Ri’aima menatap lurus ke depan dan berkata, “Saya juga tidak bisa memaafkan Ayahanda. Sama seperti Ibunda, saya menganggap hal tersebut keji dan patut dihukum. Saat mendengar hal tersebut dari Tuan Odo, jujur saya sempat berpikir untuk membongkar semuanya di depan umum dan menghancurkan keluarga ini sebagai bentuk penebusan. Namun, itu salah …. Tidak benar jika kita hanya lenyap begitu saja, itu bukan sebuah penebusan dosa!”
“Lantas …, penebusan dosa yang kalian maksud seperti apa?” Agathe balik bertanya. Menatap ke arah anak-anaknya, wanita rambut biru pudar tersebut dengan pasrah kembali bertanya, “Apa diriku harus mengeksekusi kalian, darah dagingku …? Layaknya Oma mengeksekusi Keluarga Swirea! Atau diriku harus melaporkan semua kebusukan ini kepada semua orang?! Supaya mereka bisa melempari kita dengan batu dan diarak ke tengah kota?!”
Tidak ada di antara anak-anaknya yang bisa menjawab pertanyaan Agathe. Mereka hanya terdiam, sama sekali tak memiliki gambaran jelas tentang penebusan dosa yang mereka ungkapkan.
“Agathe …. “ Di saat semuanya terdiam, Oma Stein membulatkan keputusan dalam benak. Pria tua tersebut menghadap dan tanpa ragu memegang kedua sisi pundak sang Istri, lalu dengan penuh ketegasan berkata, “Diriku berjanji! Akan menebus semua dosa ini dengan kebahagiaan kalian! Jika memang kamu ingin membuat diriku menderita, itu tidak masalah! Diriku akan menerimanya dan diam! Jika kamu menginginkan nyawa ini, sekarang juga akan diriku berikan! Kalaupun kamu ingin membongkar semuanya dan membuat diriku diadili oleh penduduk Rockfield, itu tidak masalah bagiku! Apapun itu! Apapun, apapun …. Apapun asalkan maaf bisa kudapatkan darimu!”
Sang Nyonya Rumah benar-benar gemetar, tidak segera menyingkirkan tangan Oma dan hanya terdiam. Di bawah paparan lampu kristal, air mata berlinang. Tidak bisa menahan perasaan yang bercampur aduk, kedua kaki wanita tersebut pada akhirnya mencapai batas.
Dengan lemas, Agathe jatuh dan terduduk di lantai. Menundukkan kepala, berlinang air mata dan merasa tidak tahu lagi mana yang benar. Jika memang memaafkan Oma adalah pilihan yang tepat, di sudut hati ia tidak bisa melakukan hal tersebut.
“Diriku takkan pernah memaafkanmu, Oma ….” Agathe mengangkat wajah, menatap suami sekaligus orang yang dirinya benci. Dalam tatapan tajam dipenuhi kebencian, wanita rambut biru pudar tersebut berkata, “Namun …, dosa yang engkau perbuat bukanlah hal yang harus ditanggung darah daging kita. Penebusan atau apapun itu, lakukan saja sesukamu. Kelak …, kelak nanti pasti engkau kan kubuat menderita. Itu akan menjadi penebusan dosamu untukku!”
Setelah mengatakan hal tersebut, tanpa memberikan kejelasan yang pasti Agathe berdiri. Tidak berkata apa-apa lagi, lalu setelah menyela air mata segera berbalik. Pergi meninggalkan ruangan tersebut tanpa sekalipun menoleh ke arah Oma lagi.
Meski pembicaraan berakhir sedikit abstrak dan meninggalkan masalah yang belum selesai, namun itu pertama kalinya seluruh anggota Keluarga Stein berbicara lepas. Mengungkapkan isi hati masing-masing, saling melihat mata, tanpa adanya sebuah kebohongan di antara perasaan mereka.
Hasil pembicaraan memang sangat berbeda dengan apa yang Ri’aima harapkan.
Namun, dalam benak ia merasa sedikit lega dengan hal seperti itu. Bisa saling berbicara dari lepas tanpa kebohongan dengan mereka, mengungkapkan segala isi hati meski pada akhirnya Oma dan Agathe tidak bisa saling memaafkan.
Paling tidak, kebohongan di antara mereka telah luntur. Itulah yang Ri’aima rasakan dalam akhir pembicaraan.
ↈↈↈ
\=======================
Catatan Kecil :
Fakta 051 (pertanyaan): Jika memang semakin tinggi tingkat dimensi maka waktu akan semakin lambat, kenapa peradaban dimensi tingkat tinggi lebih maju dari peradaban tingkat di dimensi di bawahnya? (Jawaban di fakta berikutnya).
__ADS_1