
Bagi dirinya yang telah melewati banyak momen hidup dan mati, intimidasi dari orang yang jauh lebih kuat bukanlah hal yang baru. Dengan rasa takut yang masih tersisa, Matius berpikir keras dan mencari cara untuk bisa menyelamatkan mereka yang ada di dalam toko atau membuat kedua Elf tersebut pergi tanpa membuat masalah.
Menelan liur dengan berat, Matius sendiri sudah paham bahkan tujuan mereka datang bukan dengan niat damai. Aura sihir dan niat membunuh yang terpancar memberitahukannya hal tersebut. Mempertimbangkan tujuan mereka lebih lanjut, Matius memilih untuk mengulur waktu.
“Memangnya … apa yang ingin kalian berdua lakukan setelah bertemu dengan Tuan Odo? Apa kalian salah satu rekan usaha barunya?”
Matius pura-pura tidak tahu tujuan mereka, mengambil satu langkah mendekat dan memasang mimik wajah ramah seakan memang dirinya orang awam yang bahkan tidak bisa merasakan hawa membunuh atau tekanan sihir.
Magda mengambil satu langkah menjauh dari Totto, lalu lekas menatap ke arah Matius dan membuat pria rambut pirang itu tidak jadi mengambil langkah kedua. Pada saat bersamaan, Ul’ma pun menatap ke arahnya. Namun, tiba-tiba perhatian mereka dengan cepat hilang dan tidak mendekati Matius. Kedua Elf itu pun memutuskan untuk masuk ke dalam toko dan untuk mendapat jawaban yang pasti dari pertanyaan mereka sebelumnya.
Ul’ma memegang gagang pintu dan membukanya, sedangkan Magda segera berbalik dan berjalan mengikuti rekannya tersebut. Tanpa mengetuk pintu sama sekali atau mengatakan sepatah kata pun, kedua Elf tersebut melangkahkan kaki ke dalam toko.
Matius yang melihat itu sempat panik, ingin mencegah mereka dan berpikir untuk menggunakan kekerasan. Tetapi paham bahwa kedua Elf itu berada pada tingkat yang berbeda, ia berhenti sebelum Puddle aktif.
Kedatangan kedua Elf itu tentu membuat orang-orang yang berada di dalam ruangan menatap mereka dengan heran, menatap bingung dan bertanya-tanya mengapa orang luar masuk ke dalam toko meski seharusnya papan tanda tutup sudah dipasang di pintu.
Elulu yang sebelumnya sedang menghitung uang koin segera bangun dari tempat duduk, lalu dengan nada ramah berkata, “Maaf, Nona. Kami sudah tutup. Jika Anda ingin datang dan mencoba menu kami yang sedang populer di kota, Nona sekalian bisa datang lagi besok⸻”
Sebelum Elulu menyelesaikan kalimatnya, aura sihir dan hawa membunuh yang kuat dari mereka membuatnya seketika menutup mulut rapat-rapat. Meski dirinya tidak memiliki pengalaman bertarung hidup mati atau semacamnya, dengan jelas aura tersebut membuat bulu kuduknya berdiri.
Nanra dan Isla pun dibuat tidak bisa bangun dari tempat dan jatuh dalam ketakutan, duduk tanpa bisa menoleh ataupun menggerakan ujung jari mereka. Namun berbeda dengan semua pegawai di dalam ruangan, Canna Miteres sama sekali tidak terpengaruh intimidasi para Elf dan malah menatap balik dengan mimik wajah datar.
“Kalian siapa?” tanya penyihir rambut putih uban tersebut.
Magda dan Ul’ma menoleh ke arahnya, merasakan aura sihir tipis dan tajam yang terpancar dari perempuan rambut putih tersebut. Paham intimidasi tidak efektif terhadapnya, Ul’ma mengubah pola struktur sihirnya sendiri dan mulai mengaktifkan sihir penyerangan.
Tangan kanan terulur ke depan, saat telapak terbuka ia pun merapalkan, “Tuule Nuga!”
Dengan mantra singkat tersebut, Mana miliknya langsung terpusat dan beberapa proses terjadi dengan sangat cepat. Pertama Mana berubah menjadi angin yang berhembus kencang di telapak tangan, lalu mulai memusat menjadi seukuran bola golf. Pada hitungan detik, itu berubah menjadi seperti pisau sepanjang satu meter yang membentang horizontal.
Tampa membiarkan Canna bangun dari tempat duduk, pisau angin melesat kencang ke arahnya dan mengincar kepala. Tanpa rasa takut ataupun cemas, Canna hanya mengangkat jari telunjuknya dan berkata, “Hampa, memusat dan memadat, lalu terurai menjadi kekosongan ….”
Seketika kumpulan udara yang membentuk pisau angin langsung terurai, seakan memang komposisi yang mengikatnya telah dilenyapkan. Saat sampai ke tempat Canna, sihir yang seharusnya bisa memotong balok kayu dengan mudah itu tersebut hanya menjadi angin yang sepoi-sepoi.
“Begitu, ya …. Engkau seorang penyihir. Tak aku sangka keparat itu juga mempekerjakan penyihir sepertimu di tempatnya.” Ul’ma kembali menyiapkan sihirnya, kali ini tidak tanggung-tanggung dan menciptakan dua lingkaran sihir berlapis pada telapak tangan. Menarik napas dalam-dalam, ia memusatkan Mana dan kembali merapalkan, “Kaks! Tuule! Tuule Nuga!”
Serangan sihir serupa kembali dilancarkan. Namun, kali ini dilakukan secara beruntun dan pisau angin dalam jumlah belasan melayang ke arah Canna. Itu melesat pada jeda waktu yang kurang dari satu detik di setiap serangannya.
Paham hampir mustahil untuk menciptakan titik-titik gravitasi dan melenyapkan bentuk pemadatan pisau angin, Canna secepat mungkin mengambil tongkat sihirnya dari balik jubah. Ia langsung mengayunkan tongkat kecilnya ke arah pisau angin datang dan segera menyalurkan Mana sembari merapalkan, “Raskus Punkt!”
Sebuah dinding pelindung gelap yang terbuat dari kombinasi sihir gravitasi dan sihir manipulasi kegelapan terbentuk di depan Canna. Itu memiliki daya sedot yang kuat, lalu membuat pisau-pisau angin yang melayang ke arahnya seketika terserap ke satu titik di dalam pelindung tersebut.
Saat Canna kembali mengayunkan tongkatnya ke kanan, dinding tersebut lenyap dan partikel mana dari sihir yang diserap masuk ke tubuhnya. Melihat hal tersebut, Ul’ma dengan cepat paham bahwa lawannya memiliki atribut kegelapan yang kuat. Salah satu ciri dari sihir atribut itu adalah kemampuan untuk menyerap energi atau kekuatan lawan, lalu menjadikannya milik sendiri.
Magda menepuk pundak Ul’ma, membuat rekannya menoleh dan berkata, “Ada apa?”
“Kau tak perlu meladeni penyihir itu. Dari segi kualitas dan kapasitas Mana kita seharusnya kalah jauh dari Penyihir Miquator. Karena itu ….” Magda perlahan mengangkat gaunnya sendiri, lalu mengambil senjata api yang tersembunyi pada sabuk yang melingkar pada paha. Sembari menodongkan pistol Red 9 di tangannya, Elf rambut pirang panjang sebahu tersebut berkata, “Kita tak perlu berbasa-basi. Kita bunuh saja mereka dan sisakan satu, lalu pancing Odo Luke keluar …. Letnan dan Notmarina memang sudah punya jaminan untuk memancingnya keluar dengan sihir pemusnah mereka, namun itu bukan berarti orang itu sekarang sedang berada di Kota. Tak ada salahnya kita punya pegangan lain.”
__ADS_1
“Hmm, itu benar …. Kita tidak akan membuatnya mati dengan mudah. ******** itu …. Padahal Tuan Putri sudah mempercayainya! Padahal kita berpikir akan memaafkannya atas apa yang telah ia lakukan kepada kita! Tapi …. Tapi!! Keparat itu dengan mudahnya berkhianat dan meledakkan kapal kita di tengah perjalanan!!”
“Kau tak perlu terpancing amarah lagi …. Ini bukanlah misi …, ini hanya hasrat untuk balas dendam. Karena itulah, jangan banyak bicara dan mari akhiri ini.” Perlahan Magda menatap ke arah Canna, lalu memasang senyum pasrah dan dengan nada lemas berkata, “Wahai penyihir menyedihkan yang hanya dimanfaatkan pemuda itu, diriku ini memberikan kesempatan kau untuk pergi. Sebentar lagi kota ini akan hancur, tak sepatutnya orang sepertimu lenyap bersama kota ini.”
“Bicara apa kau?” Canna tidak mengindahkan perkataan tersebut, ia malah mengangkat tongkatnya dan bersiap untuk mengaktifkan sihir. Sembari menyeringai kecil ia pun kembali berkata, “Jika memang kalian berniat menghancurkan Mylta, Tuan kami tidak akan tinggal diam!”
“Begitu, ya ….”
Magda langsung menarik pelatuk dan menembakkan proyektil dari pistolnya. Pada saat yang bersamaan, Canna segera memasang sihir pelindung yang sama seperti saat dirinya menghalau sihir angin. Namun, proyektil yang melesat bukanlah sihir dan itu merupakan objek fisik. Dengan mudahnya proyektil menembus sihir tersebut dan langsung mengenai pundak kanan Canna.
Itu membuat sang penyihir menjatuhkan tongkat sihirnya, melangkah mundur sampai pinggangnya menyentuh meja. Darah bercucuran ke lantai, wajahnya seketika memucat dan menunjukkan ekspresi paham bahwa senjata api merupakan musuh alami para penyihir. Ia seakan dipaksa merasakan pelajaran dasar seorang penyihir bahwa senjata api merupakan musuh bebuyutan para penyihir.
Memastikan tembakan pertama berhasil menembus perisai yang terbatas untuk menghalau serangan berbasis Mana, tanpa ragu Magda menarik pelatuk berkali-kali. Itu butuh sampai tujuh kali tembakan untuk membuat Canna tumbang dan terkapar di lantai dengan bersimbah darah.
“Sialan ….” Dengan kesadaran yang hampir hilang, Canna menyalurkan Mana ke penjuru tubuhnya yang terluka dan berusaha memulihkan diri. Sembari mengerutkan kening dan berusaha untuk kembali bangun, penyihir rambut putih itu berkata, “Kalian orang-orang Moloia! Benar seperti rumornya, kalian ingin memulai perang! Jangan pikir setelah ini kalian bisa pergi hidup-hidup!”
Melihat penyihir itu masih bisa berbicara meski tujuh proyektil bersarang pada tubuhnya, Magda melangkah mendekat dan kembali menodongkan senjatanya. Kali ini lurus terarah ke kepala, dari dekat dan tidak mungkin meleset dari jarak tersebut.
“Siapa juga yang ingin keluar hidup-hidup?” ucap Magda sembari tersenyum tipis.
“Tunggu!”
Sebelum Magda menarik pelatuk untuk menghabisi penyihir tersebut, Matius yang sebelumnya berniat mencari bantuan masuk ke dalam ruangan setelah mendengar suara tembakkan. Ia paham itu tindakan yang bodoh karena kemungkinan menang melawan mereka sangatlah tipis. Namun, dalam hati pria itu ada beberapa alasan yang membuatnya tidak lari.
Magda menoleh, pindah menodongkan pistolnya ke arah Matius dan berkata, “Bodoh sekali, padahal aku sengaja membiarkan buruh sepertimu hidup. Ul’ma, ayo urus dia dulu….”
Saat kedua Elf tersebut lengah dan meremehkan, Matius segera mengaktifkan Puddle dan mengumpulkan air bercahaya yang keluar dari pori-porinya ke telapak tangan. Dalam kesempatan yang ada, ia langsung melemparkannya ke arah Ul’ma.
“Hmm?” Bola air yang melesat ke arah Ul’ma terlalu lambat, bahkan Elf tersebut bisa dengan jelas tahu itu mengincar bagian kepalanya. Sembari membuka telapak tangan ke depan ia dengan geram berkata, “Itu … terlalu lemah untuk sebuah sihir, kau meremehkan kami atau memang bodoh?”
Dengan sihir angin, Ul’ma memotong bola air tersebut menjadi dua bagian. Air pun menciprat ke dinding dan lantai di dekatnya, lalu di sekitar tempatnya berdiri juga.
Dari awal hal tersebutlah yang Matius incar. Memanipulasi air bercahaya yang terpencar tersebut, pria rambut pirang itu langsung membuat genangan air di bawah kaki Ul’ma. Itu dengan cepat menggenang, membuat salah satu Elf itu langsung tenggelam setinggi mata kaki ke dalam air yang terhubung langsung dengan dimensi semu.
Merasakan firasat buruk terhadap genangan air yang menggenang kaki rekannya, Magda dengan segera menggenggam tangan Ul’ma dan menariknya. Tepat seperti yang dirinya rasakan, genangan bercahaya tersebut tiba-tiba mulai meredup dan fungsi teleportasi dengan cepat aktif.
Meski Ul’ma bisa ditarik keluar genangan dan kakinya terangkat, namun untuk kedua sandal dan jempol kaki kanannya terlambat. Pada detik itu juga, jempol kaki kiri pun terpotong oleh dimensi semu yang tercipta dari genangan air bercahaya. Tertelan hilang dan dipindahkan ke tempat lain bersama dengan kedua sandalnya.
Ul’ma terjatuh ke lantai, langsung meringkuk menahan sakit setelah jempol kaki kirinya terpotong rapi. Jeritan tidak keluar darinya, namun malah tatapan penuh amarah yang tampak pada wajah. Seakan-akan dirinya bersumpah akan membuat orang yang memotong jari kakinya membayar hal tersebut.
Magda yang melihat itu sesaat terdiam, dengan tenang menganalisa kemampuan yang digunakan Matius untuk memotong jari rekannya. Paham itu bukanlah salah satu jenis sihir karena tidak tampak tanda-tanda aktivasi sirkuit sihir pada tubuh pria tersebut, dengan cepat Magda menyimpulkan, “Hati-hati, wahai rekanku …. Kemungkinan besar dia adalah Native Overhoul. Dari aktivasi kekuatan dan pola serangan tadi, kemungkinan besar kemampuannya berhubungan dengan dimensi.”
“Ya, aku tahu itu ….”
Tanpa menahan diri lagi dan sepenuhnya berniat untuk membunuh semua orang di ruangan, Ul’ma langsung menggunakan kekuatan manifestasi miliknya dan mengakses Dunia Astral menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perantara. Partikel cahaya tujuh warna mulai berkumpul, membentuk sayap seperti kupu-kupu di belakang punggungnya. Partikel yang juga memiliki sifat anti gravitasi tersebut perlahan membuat tubuhnya berdiri, lalu melayang setinggi beberapa sentimeter dari permukaan lantai kayu.
Partikel yang datang dari Dunia Astral dan muncul di sekitar tubuhnya sebagian berkumpul pada jempol kaki yang terputus. Dalam hitungan detik, kumpulan partikel tersebut masuk ke dalam jaringan sel lukanya dan melakukan stimulasi pemulihan. Itu tidak hanya menutup luka dan menghentikan pendarahan, namun membentuk kembali daging, tulang, kulit serta jaringan saraf dari jari kakinya yang terpotong.
__ADS_1
Dalam waktu yang begitu singkat, secara fisik luar jari kaki yang terpotong tersebut kembali tubuh dengan normal seakan memang tidak pernah terpotong. Melihat hal tersebut, Matius segera paham bahwa menangkap atau mengalahkan mereka adalah hal mustahil baginya.
Memilih alternatif lain, Matius dalam benak memutuskan untuk memindahkan kedua Elf tersebut keluar Kota untuk mengulur waktu dan mencari bantuan. Ia kembali mengaktifkan Puddle dan mengeluarkan air bercahaya dari pori-pori kulit tangannya, lalu mengumpulkannya ke telapak tangan dan melemparkannya ke lantai tempatnya berdiri.
Genangan air seketika terbentuk, lalu tubuhnya pun dengan cepat langsung tertelan masuk ke dalam dimensi semu yang tercipta. Genangan air meresap ke sela-sela lantai kayu, menghilang dari ruang pandang Magda dan Ul’ma.
Paham bahwa genangan air yang bisa melebar dan mengecil tersebut merupakan sebuah dimensi semu yang bisa dengan bebas diakses pemilik kemampuan, kedua Elf itu mulai menganalisis dengan akurat. Mereka perlahan paham kalau kemampuan tersebut lebih cenderung seperti teleportasi molekul daripada sebuah manipulasi dimensi.
Ul’ma yang masuk ke dalam Mode Peri miliknya seketika memasang mimik wajah datar, menebak apa yang sedang diincar pria yang beberapa saat lalu telah memotong jempol kakinya. Menoleh ke arah rekannya, Elf rambut pirang panjang sepunggung tersebut mengangguk satu kali.
“Serius? Kamu ingin menggunakannya di sini?” tanya Magda.
“Tentu, itu lebih cepat. Lagi pula …, kurang dari satu jam lagi kota ini akan menjadi abu.”
Ul’ma mulai menyilangkan kedua lengannya ke depan, mengubah sirkulasi partikel tujuh warna dan perlahan mempengaruhi wujud manifestasi sayapnya. Dari bentuk seperti sayap kupu-kupu, itu dengan cepat berubah menjadi salib di belakang punggung yang bahkan ukurannya sampai menyentuh lantai dan langit-langit ruangan.
Salib tersebut mulai bergetar dalam resonansi tinggi, menimbulkan hembusan angin kuat di sekitarnya dan menciptakan sebuah distorsi ruang secara ringan. Melihat hal tersebut, Nanra, Elulu, Kirsi, Isla, dan para pegawai lain di dalam ruangan perlahan kehilangan kadar air dalam tubuh. Bahkan Ritta, Mattari, dan Sittara yang bersembunyi di dapur pun terkena dampak tersebut.
Seakan memang salib besar di belakang tubuh Ul’ma memiliki gaya gravitasi khusus yang hanya menarik kandungan air dari makhluk hidup, semua zat cair dari orang-orang di dalam ruangan terserap ke arahnya. Bahkan, Magda pun harus menyelimuti tubuhnya dengan tabir Mana tipis untuk menghalau efek tersebut.
Kadar air ⸻ Apa yang keluar dari tubuh mereka pertama kali memang adalah keringat, itu melayang ke udara dan terserap menuju salib tujuh warna di belakang Ul’ma. Namun dalam beberapa detik kemudian, darah mulai keluar dari pori-pori, lubang hidung, telinga, dan bahkan mata.
Rasa sakit yang dirasakan membuat mereka yang membeku dalam intimidasi bisa kembali bergerak, segera bangun dari tempat duduk dan berniat kabur dari jangkauan sihir tersebut. Namun itu sudah terlambat, darah yang keluar terlalu banyak dari tubuh membuat mereka langsung lemas dan ambruk langsung ke lantai.
Dari semua orang yang ditetapkan oleh Ul’ma sebagai sasaran utama, Canna yang menderita paling parah. Sebab dari awal dirinya telah terluka, membuat darah dengan sangat mudah keluar dari tubuhnya.
“Keluar kau! Atau mereka semua akan mati!!” ujar Ul’ma dengan lantang.
Matius yang masih berada dalam dimensi semu terus mengawasi, layaknya sedang menyelam di dalam kolam renang besar dengan semua orang bisa berdiri di atas permukaan airnya. Diam-diam membuka penghubung dari dimensi semu berupa genangan air bercahaya, ia menggerakkannya mendekat ke arah Magda untuk menariknya masuk ke dalam dominan kemampuannya.
Tetapi saat dirinya memperlebar genangan air bercahaya di permukaan lantai dan mengulurkan tangannya untuk menarik kaki Magda, tiba-tiba tekanan udara yang begitu kuat malah membuat tangannya terkunci. Rune dengan cepat melingkar ke arahnya, mengunci tangan Matius yang terulur keluar dari dimensi semu tanpa bisa ditarik kembali ke dalam.
“A-Apa yang terjadi?!” benak Matius sembari berusaha menarik tangannya masuk ke dalam dimensi semu.
Magda tanpa ragu langsung menendang tangan matius sampai tulangnya patah, lalu sembari menyeringai lebar berkata, “Akhirnya keluar juga buruh tengik. Dirimu pikir kami akan terkena cara yang serupa?! Dirimu tahu, Native Overhoul kuat saat kekuatan mereka tidak diketahui. Jika kami sudah tahu syarat serta batasannya, membuat antisipasi sangatlah mudah karena mereka hanya punya pola serangan sejenis ….”
Meski Matius dari dimensi semu bisa melihat Magda sedang menatakan sesuatu, namun dirinya tidak bisa mendengar suaranya. Rasa sakit dari tulang yang patah pun membuatnya tidak sempat mengamati gerak bibir untuk mengetahui apa yang Elf itu katakan.
“Sialan …, kenapa tanganku tidak bisa ditarik?”
“Ah, begitu ya?” ujar Magda sembari kembali menginjak kaki Matius dan mematahkan tulangnya.
Tidak adanya respons atau jeritan meski tangan sudah dipatahkan membuat Magda tahu, bahwa memang salah satu batasan dari kekuatan Native Overhoul tersebut juga ada pada akses suara selama pengguna berada di dalam kekuatan yang aktif.
Sembari kembali menginjak tangan Matius dan mematahkan satu persatu jarinya, Elf tersebut dengan penuh rasa senang berkata, “Batasan suara, ya. Hmm …. Kalau kau bisa mengetahui posisi ku, berarti untuk visual tidak ada batasan atau mungkin kau punya semacam Ekolokasi. Apapun itu, semuanya sudah sia-sia sih ….”
Magda berjongkok dan memegang tangan Matius yang keluar dari genangan air bercahaya di atas lantai. Meski dirinya tahu lawannya tidak bisa mendengar ucapannya, perempuan itu tetap berkata, “Salah satu sihir keahlian milik diriku ini adalah sihir unik Pengunci. Memang sederhana dan hanya bisa digunakan sebagai penguatan senjata atau meningkatkan akurasi tembakkan. Namun, dalam situasi seperti ini bisa digunakan juga untuk menangkap.”
“Kau terlalu banyak bicara, bunuh saja dia! Apa yang kau tunggu?” Ul’ma menatap rekannya dengan kesal, mendesak karena paham waktu yang mereka miliki untuk berada di Kota tidaklah banyak.
__ADS_1