Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[117] Flamboyan Akhir Zaman VI – Inkarnasi (Part 02)


__ADS_3

Kebaikan atau keburukan merupakan perfektif, sedangkan hari esok yang lebih baik adalah prospek. Setiap orang memiliki visi mereka masing-masing. Karena itulah, hitam tidak selamanya menjadi hitam.


Manusia merupakan makhluk yang kompleks. Hati selalu memilih sebelum pikiran rasional mengambil keputusan. Suka, benci, iri, dan marah⸻ Ada berbagai macam faktor yang dapat mendorong mereka dalam mengambil pilihan.


Terkadang mereka menyesali tindakan dan keputusan yang telah diambil. Suka membanggakan diri, membandingkan pencapaian, mengeluh dengan apa yang dimiliki, dan sukar untuk bersyukur.


Lebih mementingkan kebutuhan tersier daripada primer, mengharapkan pengakuan dari orang lain dan haus pujian. Tanpa benar-benar memahami dirinya sendiri dan hanya terlena.


.


.


.


.


.


Puluhan kilometer dari Kota Rockfield, tempat yang sebelumnya menjadi lini belakang Pasukan Kekaisaran.


Kamp yang beberapa saat lalu memblokir rute perdagangan itu kini telah rata dengan tanah, kobaran api membakar pagar kayu, tenda kulit, dan puluhan mayat dalam lubang yang menganga. Tanpa ada satupun yang selamat dari kubu mereka.


Layaknya dibelai oleh kebohongan, angin dingin menerpa pria berparas tua itu dengan lembut. Diselimuti omong-kosong yang terucap dari mulut Putranya sendiri, Odo Luke.


Pemuda rambut hitam itu hanya ingin mengulur waktu, memulai pembicaraan sensitif dan menanyakan hal-hal aneh. Diawali dari topik Prajurit Elit yang dipimpin oleh Dart Luke, kemudian membahas penyihir yang memiliki paras seperti Mavis, dan dilanjutkan dengan isu persiapan perang di Ibukota.


Odo sendiri tidak terlalu peduli dengan semua itu. Daripada ingin mengetahui langkah Raja Gaiel untuk menghadapi ramalan Orakel, pemuda itu lebih memilih fokus dengan masalah yang ada sekarang. Menjauhkan Pasukan Ordo Biru dari Kota Rockfield, mengulur waktu supaya Pasukan Kekaisaran dapat mundur tanpa ada pertumpahan darah lagi.


“Hmm, jadi Ayahanda kemari karena ramalan tidak jelas itu?” Odo sekilas melirik ke arah gerobak perbekalan, lalu kembali menatap lawan bicaranya sembari lanjut bertanya, “Raja Gaiel memang sangat seenaknya, memerintahkan seorang Marquess untuk melakukan pekerjaan kasar seperti ini. Menyuruh Ayah bolak balik antar wilayah hanya karena cemas dengan hal semacam itu.”


“Ayah rasa, kecemasan Raja Gaiel cukup masuk akal. Lihatlah!” Dart lekas berbalik, lalu menatap markas lini depan Pasukan Kekaisaran yang telah diratakan. Ia sejenak menahan napas dengan resah, kemudian mengangguk ringan dan lanjut berkata, “Mereka benar-benar melakukan invasi melalui Wilayah Luke! Berani sekali, bukan?!”


“Ini bukan invasi, hanya kamuflase ….” Odo berhenti membual. Tidak ingin melanjutkan kebohongan, ia dengan tatapan serius langsung menyampaikan, “"Mereka hanya ingin membawa diriku ke hadapan Kaisar.”


“Untuk apa? Kau tadi sempat menyinggung itu, namun ….” Dart Luke kembali menghadap lawan bicaranya, memberikan tatapan bingung dan sedikit menyipitkan mata. “Memangnya apa yang dia inginkan dari engkau, wahai Putraku?” tanyanya dengan cemas.


“Entahlah, waktu itu dia hanya berkata ingin membawa diriku ….” Odo sekilas memalingkan pandangan, terpaksa kembali berbohong karena tahu jawaban tersebut akan berakhir buruk. “Kaisar Leben tidak menjelaskan apa-apa,” tambahnya dengan nada resah.


Dart tahu Putranya sedang berbohong, namun dirinya memilih untuk tidak mendesak dan hanya menghela napas. Pria berparas tua tersebut sekilas melirik ke arah Mili Eywa, lalu menunjuk penyihir itu supaya tidak menggunakan sihir pendeteksi kebohongan. Menginginkan ruang privasi dalam pembicaraan.


“Tuanku, saya sadar ini memang tidak sopan! Namun! Putramu sangat mencurigakan!” Mili tidak menahan diri. Tanpa memedulikan suasana yang ada, penyihir rambut pirang itu dengan tegas lanjut menekan, “Omong kosong yang sangat jelas, pembicaraan sepele, dan gestur tubuh yang dipenuhi kegelisahan. Dia terlihat seperti sedang mengulur waktu!”


“Tutup mulutmu⸻!!”


“Tidak apa, Ayahanda. Perempuan itu benar ….” Sebelum tekanan sihir dan amarah Dart meluap, Odo bertepuk tangan sekali untuk mengurai ketegangan. Pemuda rambut hitam itu perlahan melebarkan senyum menyimpang, memperlihatkan ekspresi tenang sembari lanjut berkata, “Aku memang sedang mengulur waktu.”


“Lihat! Dia mengakuinya!” Mili langsung menunjuk, memperlihatkan ekspresi kesal sembari menegaskan, “Meskipun dia Putra Anda⸻!”


“Aku bilang tutup mulutmu ….” Dart kembali menegaskan, memancarkan tekanan sihir secara terpusat dan mengintimidasi Mili. “Kau tahu! Wahai Putri dari Keluarga Eywa! Diriku bukan amatiran, tentu saja aku menyadarinya,” ujar pria berparas tua itu dengan tegas. Sekilas iris matanya berubah keemasan, aura biru tua pun merembes keluar layaknya asap pekat.


“Sa-Saya paham ….”  Mili langsung berlutut, wajah penyihir rambut pirang itu seketika memucat. Tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar, pikiran seketika buyar, dan mulai menyesal karena sempat besar kepala. “Saya tidak bermaksud menyinggung Anda,” ujarnya lirih.


“Ternyata Ayah tipe atasan yang pemarah, ya? Tidak mengejutkan, sih ….” Odo menyinggung secara frontal, sedikit memiringkan kepala sembari menambahkan, “Nanti kalau ditusuk dari belakang bakal repot, loh.”


“Sebelum ditusuk, aku akan memenggal kepala mereka lebih dulu ….” Dart menatap lawan bicaranya dengan tajam. Sembari berjalan mendekat, pria berparas tua itu lekas memastikan, “Apakah kau pernah ditusuk dari belakang? Siapa yang melakukannya?!”


“Orang terdekat, hanya itu yang bisa aku sampaikan.” Odo seketika menajamkan tatapan. Sembari menodongkan pedang hitam, ia dengan mimik wajah cemas lanjut berkata, “Oke! Berhenti! Ayahanda membuatku takut ….”


“Jangan risau, Putraku! Kau tak perlu menjawab pertanyaan tadi!” Dart kembali meningkatkan tekanan sihir, menggunakan teknik pemadatan Mana untuk menciptakan pedang gladius. Digenggam erat dengan tangan kanan, memancarkan aura tipis berwarna keemasan yang bercampur dengan biru tua. “Aku tahu apa yang Kaisar inginkan darimu,” tambahnya seraya berhenti melangkah, lalu segera memantapkan kuda-kuda dan bersiap menyerang.


“Akh! Serius?!” Odo melebarkan kaki kiri ke belakang, memusatkan titik berat dan sedikit menurunkan posisi tubuh. Sembari meningkatkan sirkulasi Mana untuk meningkatkan kekuatan fisik, pemuda rambut hitam itu mulai memasang kuda-kuda serupa. “Lagi-lagi berakhir begini!! Kenapa orang militer seperti kalian susah sekali diajak bicara?!” ujarnya dengan kesal, perlahan menurunkan posisi tubuh untuk mempersempit celah.


“Tenang saja, Putraku! Diriku takkan memenggal engkau seperti sebelumnya!”


Dart langsung melesat kencang. Ia menarik pedangnya ke dalam untuk mengumpulkan momentum, kemudian berhenti melangkah dan melancarkan tebasan horizontal. Memanfaatkan titik berat yang dipusatkan untuk menambah kekuatan ayunan.


“Se-Sebentar! Mari bicara dulu, Ayah!”


Odo menahan serangan itu dengan sempurna, menyebarkan kekuatan lawan saat bilah senjata saling bersentuhan.


Pada saat bersamaan, ia juga menggunakan sifat khusus pedang hitam. Menyerap kekuatan sihir untuk mengurai teknik pemadatan Mana milik Dart.

__ADS_1


Sang Marquess tidak mendengarkan bujukan Putranya. Membalik arah tebasan, pria berparas tua itu kembali mengatur posisi titik berat dan memutar pinggan. Melanjutkan ayunan pedang dari sudut yang berbeda.


Odo segera meloncat mundur untuk menjaga jarak, menghindari serangan itu karena paham tidak bisa menahannya dengan baik. Sudut membuat kekuatan ayunan pedang tersebut sulit untuk disebarkan. Sepenuhnya mengincar celah yang tidak bisa pemuda itu tutupi.


“Engkau ingin mengulur waktu, ‘kan?!” Dart kembali memantapkan kuda-kuda. Ia memusatkan Mana pada kedua kaki, lalu menggunakan teknik langkah untuk menghilangkan jarak. Pria berparas tua itu seketika menghilang dari tempat, bergerak dengan sangat cepat dan langsung muncul di hadapan Odo. “Akan ku ladeni!” teriaknya seraya mengayunkan pedang secara vertikal.


“Kita tak perlu bertarung!”


Odo tidak sempat menghindar. Ia segera menekuk lutut kaki kanan, sedikit menurunkan posisi tubuh dan menahan serangan itu. Suara benturan melengking, percikan cahaya pun sempat keluar saat senjata mereka saling berbenturan.


Namun, beberapa detik kemudian teknik pemadatan Mana milik Dart mulai terurai. Komposisi struktur pada pedang gladius itu perlahan rusak, lalu hancur dan pecah menjadi kepingan cahaya keemasan.


“Pedang itu bisa menyerap sihir, ya? Apa kau membuatnya sendiri?” Dart segera mengulurkan tangannya ke belakang, kembali menciptakan pedang gladius lain dengan teknik pemadatan Mana. “Jika iya, engkau luar biasa! Wahai Putraku!” teriaknya seraya melanjutkan serangan, merentangkan kaki kiri ke belakang sembari menusukkan pedang.


“Ini mulai menyebalkan ….”


Odo menyalurkan Mana pada tangan kiri, kemudian mengaktifkan Hariq Iliah dan menciptakan dinding tak kasat mata secara terpusat. Ia segera bangun, menghindari tusukan itu dan langsung memukul wajah Dart dengan keras.


Saat tinju berhasil dilayangkan, pemuda itu melepaskan tekanan udara yang terkompresi. Menciptakan gelombang kejut, menerbangkan tubuh Dart sampai belasan meter ke belakang. Mendarat tepat di hadapan Mili dan beberapa Prajurit Elit lainnya.


“Ya! Ayah sangat paham! Ini memang menyebalkan …!” Dart segera bangun. Meski dirinya tampak sudah berumur, daya tahan pria berparas tua itu sangatlah kuat. Ia hanya mengalami luka lecet di wajah, tanpa patah tulang ataupun memar setelah terpental belasan meter. “Ayah juga tidak ingin melakukan ini!” bentaknya dengan frustrasi.


Melihat pemimpin mereka dibuat kewalahan, beberapa Prajurit Elite mulai kebingungan. Itu sudah tidak bisa lagi disebut pertengkaran Ayah dan Anak, lebih mirip seperti ajang duel dengan taruhan nyawa. Tiap-tiap serangan yang dilancarkan terasa sangat mematikan.


“Sialan! Apa yang kau bicarakan, Pak Tua!?” Odo semakin muak. Ia melepas batasan kekuatan sihir, memancarkan aura biru gelap yang perlahan berubah menjadi hitam. Sembari mengaktifkan susunan mantra, pemuda rambut hitam itu dengan lantang bertanya, “Apa itu perintah Raja Gaiel?! Kenapa kau patuh sekali kepadanya! Kau punya keluarga dan istri, ‘kan?! Dasar kolot!!”


Odo mengentakkan kaki dan menanamkan lingkaran sihir pada permukaan tanah. Tidak berhenti, ia mengangkat tangan kiri tinggi-tinggi dan menembakkan beberapa bola api ke udara. Berniat untuk menggunakannya sebagai rencana cadangan.


“Itu benar! Diriku memang kolot!” Dart ikut melepaskan batasan kekuatan sihir. Aura tempur berwarna biru cerah mulai menyelimuti tubuhnya, perlahan berubah menjadi keemasan dan mulai bercampur dengan kekuatan suci. Sembari memasang kuda-kuda, ia mengubah gladius di tangan menjadi pedang panjang. “Hanya cara ini yang bisa Ayahmu pikirkan!” tegas pria itu dengan frustrasi.


“Makanya aku mengajak kau bicara, sialan!” Odo berhenti berlagak sopan. Sekilas warna iris matanya berubah menjadi hijau pirus, kemudian darah mulai keluar dari hidung. Setelah mendapatkan hasil kalkulasi ulang, ia sekilas tersenyum ringan sembari lanjut berkata, “Ini bisa diselesaikan baik-baik! Aku tidak ingin melawan⸻!”


“Kalau begitu, buktikan kekuatanmu!”


Dart tidak ingin mendengarkan omong kosong itu lagi. Ia langsung menggunakan teknik Langkah Dewa, bergerak sangat cepat dan menebas pergelangan Odo.


Hampir memutuskan tangan kanan pemuda itu, memaksa dirinya untuk menjatuhkan pedang hitam karena kekuatan genggamannya hilang.


“Berisik! Coba yakinkan diriku dengan kemampuanmu itu!!”


Dart mengangkat pedangnya dengan dua tangan, lalu langsung menusuk lingkaran sihir sebelum semburan api keluar. Menghancurkan struktur mantra dengan menyerang titik rapuh pada deretan Rune, menghapus satu komponen untuk meruntuhkan seluruh susunan.


“Apa⸻!?” Odo sempat terkejut. Setelah kedua kakinya menapak, ia segera memasang kuda-kuda sembari mengernyit. “Ah, aku hampir melupakan itu ….”


Meski disebut Pedang Kerajaan, para Keturunan Luke juga mempelajari ilmu sihir. Tidak hanya untuk diterapkan dalam teknik pedang, namun juga mencari kelemahan dalam sihir itu sendiri.


Pengetahuan tersebut dikembangkan mereka untuk menghadapi para penyihir dari Miquator, terutama selama masa Perang Besar berlangsung.


“Kau terlalu meremehkan diriku!” Dart kembali memasang kuda-kuda, lalu memasuki kondisi rileks ekstrem untuk meningkatkan kecepatan dan akurasi serangan. Sembari bersiap melancarkan teknik tusukan, ia dengan tatapan tajam langsung menegaskan, “Buktikan kepantasanmu sebagai Luke, wahai Putraku!”


“Siapa juga yang ingin menjadi Luke!” Odo melemaskan otot-ototnya. Berbeda dengan Dart, kondisi rileks ekstrem pemuda itu tidak membutuhkan kuda-kuda. Ia hanya berdiri tegak sembari memperlihatkan ekspresi datar. “Bukan pilihan ku lahir di keluarga kalian!” bentaknya murka, lalu menajamkan tatapan dan mulai menggertakkan gigi dengan kencang.


Namun, pemuda rambut hitam itu malah memancarkan tekanan sihir yang lembut. Tidak tajam ataupun mengancam, benar-benar berbeda dengan Ayahnya yang sangat mengintimidasi.


“Diriku paham….!” Perkataan itu cukup menusuk hati Dart, membuat pria berparas tua itu sekilas menurunkan tekanan sihir karena ragu. Tetapi, ia segera menyingkirkannya dan memantapkan keputusan. “Ramalan itu benar! Kau harus dihentikan sekarang juga! Kau tidak boleh pergi! Putraku!” ujarnya sembari meluruskan ujung pedang.


“Apa? Memangnya dunia akan kiamat kalau aku pergi, hah?!” Odo mengangkat tangan kanannya ke depan, meningkatkan kemampuan pemulihan dan menyembuhkan pergelangan yang hampir putus. “Konyol sekali! Kolot juga ada batasnya! Kau percaya dengan hal semacam itu?!” lanjutnya dengan kesal, sedikit melipat bibir dan meremehkan.


Odo lekas menjentikkan jari. Seakan mendengar panggilan itu, pedang hitam yang tergeletak di tanah mulai melayang. Seketika terbang kembali menuju genggaman sang pemuda seakan mengikuti kehendaknya.


“Sihir Regenerasi Tingkat Tinggi, Instan Regen?” Mili terkejut saat melihat kemampuan pemulihan pemuda itu. Ia segera bangun, mengangkat tongkatnya ke depan dan langsung menggunakan sihir untuk memulihkan luka Dart. “Maafkan saya, Tuanku. Saya tahu ini tidak sopan, namun … saya harus melakukannya.”


Melihat hal tersebut, beberapa Prajurit Elit yang sempat ragu segera mengangkat senjata mereka. Membentuk formasi tempur dan mengepung Odo Luke, berniat menahannya untuk menghentikan pertarungan itu.


“Jika pergi, kau takkan pernah kembali lagi!” Dart tidak memedulikan mereka, tetap memasang kuda-kuda dan mengarahkan pedangnya ke depan. Mencari celah, berniat mengakhiri pertarungan dengan satu serangan fatal. “Aku tidak ingin melihat Mavis menderita lagi! Dia … adalah⸻!”


“Persetan! Kalian menyebalkan!” Odo menggunakan teknik Langkah Dewa, langsung mendekat dan melancarkan tebasan vertikal. Memaksa Dart masuk ke dalam posisi bertahan. “Kau pikir salah siapa aku harus melakukan hal menyusahkan ini!” bentaknya seraya menendang wajah pria berparas tua itu.


“Tinggalkan saja! “Apa susahnya menyerah?!”


Dart sempat terdorong, keluar dari posisi kuda-kuda dan hampir jatuh. Tidak mundur, ia langsung membalas dengan tebasan horizontal. Mengincar perut Odo yang terbuka setelah melancarkan serangan.

__ADS_1


“Diam! Kau pikir aku ingin terlahir sebagai Luke?!” Seakan telah memprediksi serangan itu, Odo segera melangkah mundur dan keluar dari jangkauan tebasan. Setelah ayunan pedang lewat, ia segera mendekat dan menahan pergelangan Dart supaya tidak bisa melanjutkan serangan. “Seorang anak tidak bisa memilih tempat mereka dilahirkan!!” ujarnya seraya mendekatkan wajah.


“Ka-Kami tidak⸻!” Dart kembali ragu, tangannya gemetar dan kuda-kuda mulai goyah.


Melihat atasannya dalam bahaya, Roland Jakal segera menghunuskan rapier dan menusukkan ke arah pemuda itu. Namun, apa yang veteran perang itu serang hanyalah sebuah mirat. Ilusi optik yang muncul di udara karena gerakan yang sangat cepat.


“Akhirnya ada yang bergerak juga ….”


Odo tidak pergi terlalu jauh, ia hanya mengambil langkah mendekat dengan sangat cepat. Menyelinap masuk ke dalam celah yang terbentuk setelah serangan lebar, lalu langsung melancarkan tebasan horizontal dan menumbangkan Roland Jakal.


Dart terkejut, begitu pula Prajurit Elit lainnya yang menyaksikan hal tersebut. Meskipun serangan itu sangat mendadak, Jakal adalah seorang veteran perang. Seharusnya ia dapat menghindarinya dengan mudah dan menyerang balik. Namun, kenyataannya pria itu dengan mudah ditumbangkan dengan sekali tebas.


“Tidak mungkin …, Tuan Jakal?” Chastel Fiber gemetar. Sebagai sesama pengguna rapier, kepercayaan dirinya langsung hilang dan mulai melangkah mundur. “Dia menyembunyikan kekuatannya? Ti-Tidak mungkin …!”


“Jangan gentar! Pertahankan formasi!” Luca Sadden mengeraskan suaranya. Memukul tameng dengan pedang untuk menarik perhatian, Wakil Komandan Peleton tersebut dengan lantang menyampaikan, “Tetap fokus! Jangan permalukan diri kalian di hadapan Tuan Dart!”


“Kenapa harus seperti ini?” Dart menonaktifkan teknik pemadatan Mana, kehilangan niat bertarung saat tahu Odo tidak serius saat melawannya. “Mengapa engkau tidak bisa menyerah saja dan kembali?!” tanya pria berparas tua itu dengan tatapan sedih.


“Berisik! Jangan seenaknya!” Odo mengayunkan pedang hitam, membersihkan darah yang menempel pada bilah sembari lanjut berkata, “Kau sudah memilih! Melihat keturunanmu menderita! Ini adalah hasil dari pilihanmu!”


“Bukan! Aku tidak ingin membuat kau menderita!” Dart semakin gentar, aura tempur yang menyelimuti tubuhnya sepenuhnya menghilang. Sembari mengulurkan tangan kanan, pria berparas tua itu berjalan mendekat sembari menyampaikan, “Engkau adalah sumber kebahagiaan Mavis. Aku hanya ingin melihatnya bahagia⸻!”


“Egois sekali! Kau sama sekali tidak memikirkan masalahku!” Odo menghadap lawan bicaranya. Memberikan tatapan tajam, sekilas menggertakkan gigi dan membentak, “Kau tidak mau tahu siapa diriku! Bahkan tidak ingin mengenalku! Apa yang kau inginkan hanya Mavis!”


“Dia adalah Ibumu! Bukankah kau ingin melihatnya bahagia?!”


“Tidak!! Siapa yang ingin melihat pembohong itu bahagia?!” jawab Odo dengan tegas. Sembari menodongkan pedangnya, ia dengan suara lantang lanjut menegaskan, “Apa yang aku inginkan hanyalah melindungi kalian! Kebahagiaan kalian tidak ada dalam prioritasku!”


“A⸻!” Dart terkejut, bingung dengan perkataan penuh kontradiksi tersebut.


“Apapun caranya, meski harus membuat kalian menderita sekalipun!” Pemuda rambut hitam itu tidak menurunkan tekanan sihir. Kembali memasang kuda-kuda, ia dengan nafsu membunuh yang kuat kembali menegaskan, “Diriku pasti akan melindungi kalian!”


“Tidak masuk akal ….” Dart tertegun. Ia tahu tidak ada kebohongan dalam perkataan tersebut. Namun, karena itulah dirinya tidak bisa memahaminya. “Apa yang kau bicarakan? Ma-Maksudmu apa?” tanya pria berparas tua itu dengan bingung.


“Kau takkan paham ….” Sejenak menghela napas panjang, Odo memalingkan pandangan dan mulai menurunkan tekanan sihir. Angin pegunungan menerpa tubuhnya dengan lembut, namun tidak mampu menenangkan suasana hatinya yang kacau. “Kalian takkan mengerti,” lanjutnya seraya menurunkan pedang hitam.


“Itu karena kau tidak pernah menjelaskannya!” bentak Dart. Ia berhenti mengulurkan tangan, lalu lanjut mendekat sembari memastikan, “Apa yang engkau inginkan? Mengapa kau harus mengambil jalan seperti itu?! Ayah tahu Felixia kelak akan memanfaatkan dirimu! Sebagai Keturunan Luke, kau sangat berbakat! Namun! Ibumu pasti⸻!”


“Aku hanya ingin memulihkan dunia!” Odo menyela. Tidak ingin Ibunya digunakan sebagai alasan lagi, pemuda rambut hitam itu dengan lantang menegaskan, “Mengembalikan dunia ke bentuk yang semestinya! Itulah yang diriku inginkan!”


“Untuk apa?” Dart kembali tertegun. Ia berhenti mendekat, wajahnya pun mulai memucat. “Bagimu, apakah dunia ini terlihat salah?” tanyanya dengan cemas.


“Dunia tanpa adanya Odo, campur tangan Helena, atau bahkan Kehendak Awal Mula!”


“Kau bicara apa?! Kenapa kau sangat ingin menolak dirimu sendiri, Putraku?!”


Odo tidak mau lagi mendengarkan bujukan Ayahnya. Ia segera mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi, lalu kembali mengaktifkan Inti Sihir.


Namun, tekanan yang diberikan pemuda itu tidak sekuat sebelumnya. Hanya menciptakan struktur mantra di udara, lalu mengarahkannya lurus ke langit.


“Bergerak menuju akhir suci!” Pemuda rambut hitam itu menurunkan tangan dengan cepat, menarik bola api yang sebelumnya sempat ditembakkan ke udara. “Maaf, Ayah! Ini perpisahan,” ujarnya dengan lirih. Melepaskan susunan sihir untuk mempercepat akselerasi.


“Apa yang kau bicarakan⸻!”


Bola api jatuh dari langit, langsung menghantam gerobak kayu dengan kencang. Membakar persediaan makanan, minuman, dan perlengkapan perang milik Pasukan Ordo Biru.


Kurang dari lima detik, beberapa bola api kembali jatuh ke arah mereka. Menghantam enam kereta kuda yang terparkir, beberapa Prajurit Elite, dan permukaan tanah gersang.


Meski serangan itu tidak terlalu kuat dan bisa ditepis oleh para Prajurit Elite dengan mudah, namun kerusakan yang ditimbulkan sangat parah. Hampir seluruh alat transportasi mereka rusak, hanya tersisa belasan kuda yang panik karena suara dentuman bola api.


Beberapa kuda yang sebelumnya ditidurkan dengan sihir langsung terkejut saat tubuh mereka tersambar api. Segera bangun, meringkik ketakutan, lalu meloncati kobaran api dan kabur ke arah hutan. Sembari membawa tas kulit milik para penyihir.


“Tunggu⸻!” Mili sempat berlari, namun langsung berhenti karena tahu takkan terkejar. Dengan pasrah perempuan itu berlutut, kemudian memukul tanah dengan kedua tangan sembari berteriak, “La-Laporan saya!! Bohong, ‘kan? Kerja keras saya selama lima tahun!!”


“Ah, maaf ….” Odo memalingkan pandangan, paham dengan perasaan perempuan itu karena pernah mengalami hal serupa. Sembari mengacungkan telunjuk, dengan mimik wajah cemas ia langsung menyampaikan, “Hanya itu yang bisa aku sampaikan, Ayah! Saat kita bertemu lagi, diriku berharap itu bukan di medan perang!”


Pemuda rambut hitam itu bertepuk tangan, segera mengaktifkan Puddle. Layaknya tenggelam, tubuhnya langsung masuk ke dalam genangan air bercahaya pada permukaan tanah. Sepenuhnya lenyap dan berpindah ke tempat lain dalam sekejap.


“Tunggu! Odo!!”


Dart sempat menggunakan teknik Langkah Dewa untuk menangkapnya. Namun, apa yang bisa ia raih hanyalah genangan air. Perlahan menguap dan lenyap sepenuhnya.

__ADS_1


__ADS_2