
Angin berhembus pelan, menerpa halus dedaunan dengan warna menyimpang pada pepohonan. Membuat rerumputan runcing bergoyang, lalu para Roh Tingkat Rendah terombang-ambing layaknya kapas yang tertiup.
Pohon Suci, itulah bagaimana para penghuni Dunia Astral menyebut tanaman sakral tersebut. Tumbuh paling tinggi sampai melebihi bukit dan pegunungan di sekitar hutan. Menjulang sampai menembus awan, dengan batang yang tampak kukuh dan terus tumbuh besar seiring bertambahnya umur dunia.
Memiliki diameter batang yang sangat tebal, akar-akar Pohon Suci tumbuh sampai keluar dari dalam tanah layaknya ular-ular raksasa. Terletak di tengah-tengah hutan yang memiliki nama pohon tersebut, berperan sebagai jantung ekosistem kehidupan semua makhluk di lingkungannya.
Puluhan sampai ratusan Roh Tingkat Rendah beterbangan di sekitar, layaknya kunang-kunang yang bersinar di bawah paparan cahaya. Beberapa Roh Tingkat Menengah pun berkeliling di dekat Pohon Suci untuk mencari makan, memiliki bentuk hewan-hewan mistis dalam legenda yang sering diceritakan dalam buku dongeng.
Kuda bertanduk, ular derik berekor runcing, kijang berbulu merah, tupai dengan ekor bercahaya, atau bahkan serigala berbulu kemerahan Meski tampak seperti hewan yang bisa saling memangsa satu sama lain, mereka berkeliaran bersama dalam satu lingkungan. Tidak mengonsumsi daging atau yang lainnya, hanya menyerap Ether untuk kebutuhan hidup masing-masing.
Namun, itu bukan berarti para Roh Tingkat Menengah tersebut tidak bisa saling memangsa satu sama lain. Bentuk mereka yang mirip hewan bukan tanpa alasan. Saat para Roh tersebut keluar dari lingkup pengaruh Pohon Suci, insting liar mereka akan kembali dan momen saling memangsa bisa terjadi kapan saja.
Karena itulah, para Roh Tingkat Menengah dikatakan hanya memiliki tingkat kecerdasan yang rendah. Meski bentuk kehidupan mereka telah memiliki Malkuth dan mencapai Hod, secara kecerdasan mereka masih pada tingkat Yedos. Dengan kata lain, kecerdasan mereka masih sebatas hewan yang hanya mengandalkan insting bertahan hidup.
Berbeda dengan mereka yang berkeliaran tanpa memiliki tugas yang jelas, beberapa Roh Tingkat Atas duduk di atas akar-akar Pohon Suci sebagai penjaga ekosistem. Jumlah mereka bisa dihitung dengan jari tangan, memiliki bentuk fisik beranekaragam sesuai dengan peran dan sifat masing-masing.
Ada yang mirip seperti Demi-human yang biasa ditemukan di Dunia Nyata, memiliki unsur hewan pada bentuk dan tampak seperti manusia serigala berbulu lebat. Menjadi perwakilan beberapa makhluk sejenisnya yang tinggal di dalam hutan.
Meski memiliki tubuh yang sangat jelas, Roh tersebut masihlah mahluk astral. Tidak bisa mempertahankan keberadaan jika pergi ke Dunia Nyata.
Untuk para Roh Tingkat Atas lain, mereka ada juga yang memiliki bentuk sangat mirip seperti manusia bertelinga runcing. Berambut pirang, memiliki mata hijau tua, dan mengenakan gaun yang terbuat dari serat berwarna kehijauan layaknya peri hutan.
Pada beberapa sudut pohon, tampak juga Roh Tingkat Atas yang masih mewarisi bentuk mereka saat masih menjadi Roh Tingkat Menengah. Berwujud elang gunung bersayap hijau layaknya daun, lalu ada juga yang tampak seperti kijang dengan tanduk seperti cabang pohon dan memiliki daun.
Apapun bentuk para Roh Tingkat Atas yang ada, mereka memiliki tugas untuk menjaga ketertiban di ekosistem tersebut dan mendapatkan kekuatan dari Pohon Suci. Memberikan hukuman kepada para Roh yang membangkang, lalu pada saat yang sama menjaga mereka ancaman yang datang.
Memang tidak jarang mereka berkumpul pada pada satu tempat seperti sekarang ini. Namun, kebanyakan waktu para Roh tersebut dihabiskan di teritorial masing-masing dalam hutan. Entah itu rawa, dekat sungai, atau bahkan dataran tinggi di dekat perbatasan lingkungan Pohon Suci.
Dalam lingkup lingkungan yang ditandai oleh Pohon Suci, sosok yang menjadi penguasa dan berdiri di pucak hierarki adalah sang Dryad. Salah satu Roh Agung yang mengatur Dunia Astral, penguasa semua tumbuhan di alam tersebut.
Sang Dryad yang menjadi perwujudan Pohon Suci, Reiye Reyah.
Berbeda dengan para Roh Agung lain, ia adalah satu-satunya makhluk yang hampir mendekati konsep keabadian di Dunia Astral. Meski wujudnya hancur atau binasa, ingatan dan pengetahuan yang dimiliki selama hidup akan diwariskan ke generasi selanjutnya.
Selama Pohon Suci masih ada, siklus tersebut bisa berlangsung secara terus-menerus.
Dengan kata lain, jika Reyah binasa atau lenyap, Roh Agung selanjutnya akan mewarisi pengetahuan dan ingatan miliknya. Layaknya saat ia mendapatkan warisan pengetahuan dan ingatan sang pendahulu.
Namun, itu bukan berarti siklus tersebut sering terjadi. Dalam satu generasi itu bisa berlangsung sampai ribuan tahun atau bahkan lebih lama.
Layaknya seorang penguasa, sang Dryad duduk di tempat yang lebih tinggi. Bukan pada singgasana layaknya raja-raja umat manusia, sosok tersebut duduk pada salah satu ranting tebal Pohon Suci.
Wujud sang Dryad sangatlah indah bagaikan sebuah mahakarya Dewa-Dewi. Ia mengenakan gaun tipis dari serat berwarna hijau, sedikit transparan dan memperlihatkan lekuk tubuh yang tampak menawan.
Mata hijau yang terlihat sayu dan memikat, rambut hijau yang memiliki warna sama seperti gaun, serta kulit putih cerah yang tampak mulus. Seakan-akan tercipta sebagai makhluk yang mendekati esensi kecantikan sejati, ia begitu indah bahkan di mata para pengikutnya sendiri. Meski sama-sama tercipta dari Pohon Suci dan hidup layaknya saudara.
Sembari mengayun-ayunkan kedua kaki, Reyah bersenandung kecil ditemani Roh Tingkat Rendah yang mengelilingi. Burung dengan warna bulu pelangi hinggap di bahu, lalu mulai berkicau seakan ingin menemani senandung sang Dryad.
Menikmati hembusan angin dari arah Laut Utara, sang Dryad membiarkan rambut hijau miliknya berkibar bebas layaknya dedaunan pohon. Sejenak memejamkan mata, ia pun menghembuskan napas dengan niat menghilangkan rasa resah dalam benak.
Tanduk berbentuk seperti cabang pohon pada kepala Reyah sekilas bersinar, tanda dirinya mendapatkan laporan dari para Roh yang tinggal di ekosistem Pohon Suci. Beberapa dedaunan yang tumbuh pada tanduk gugur, lalu jatuh ke atas telapak tangan kanan sang Roh Agung yang terbuka.
“Kemandirian para Roh adalah sebuah tanda menuju akhir, itulah yang disampaikan para pendahulu dalam Catatan Kuno ….”
Reyah meniup lembut dedaunan di atas telapak tangan, membiarkannya terbang terbawa angin. Sang Roh Agung Pohon Suci tersebut mulai membuka mata, lalu menatap tajam ke arah Laut Utara seraya merentangkan kedua tangan ke depan.
“Saat para Roh Agung mulai meragukan pencipta mereka, dikatakan itulah salah satu tanda kemandirian tersebut bermula. Lalu, apakah benar sikap menyimpang Roh Agung Laut Utara adalah tanda-tanda akhir yang sudah semakin dekat? Atau malah akhir tersebut baru saja dimulai sekarang? Saat semua Roh Agung membangkang, itu akan ….”
Reyah meletakan kedua tangan ke atas pangkuan, lalu sejenak terdiam tanpa bisa menemukan jawaban atas keraguannya sendiri. Entah itu memang benar atau tidak, ia sama sekali tidak peduli dengan hasil yang ada.
Asal bisa melaksanakan kewajibannya sebagai penjaga Pohon Suci, hal tersebut sudah cukup untuk Reyah. Selama ribuan tahun berlalu sejak pertama kali terbangun, Roh Agung tersebut tidak mengharapkan hal lain.
__ADS_1
Tetapi, sejak Reyah mengenal Odo Luke rasa tersebut perlahan berubah. Hasrat ingin melihat hal baru mulai tumbuh, lalu melangkah keluar ke Dunia Nyata untuk merasakan sesuatu yang berbeda.
Itu bukan berarti dirinya benar-benar tertarik dengan Putra Tunggal Keluarga Luke. Namun, hal tersebut lebih cenderung seperti Reyah ingin meniru mantan penguasa Laut Utara. Mengambil jalan yang berbeda dan melanggar kodrat yang ditetapkan kepada para Roh Agung.
Kebenaran dunia yang pernah Odo Luke sampaikan, fakta yang tidak pernah dirinya bayangkan, atau bahkan kontrak yang sudah dijanjikan. Seakan-akan tidak sabar menunggu untuk melihat hal-hal baru, sang Reyah perlahan melebarkan senyum.
Tawa kecil keluar dari mulut. Seraya menyandarkan tubuh ke Pohon Suci, Dryad tersebut pun bergumam, “Kemandirian tidaklah buruk. Paling tidak, diriku merasa bahwa itu adalah langkah baru untuk bangsa Roh menuju jalan yang baru.”
Ia sejenak terdiam. Perlahan tanduk ranting yang ada pada kepala melapuk, lalu hancur menjadi partikel cahaya dan melayang ke udara. Menyatu kembali dengan Ether yang memenuhi udara di sekitar Pohon Suci.
“Hierarki dibuat oleh sang Dewi sudah sangat tua ….” Reyah mulai bangun, berdiri di atas cabang dan melihat datar ke bawah. Mengamati para Roh yang sedang melaksanakan peran mereka masing-masing dalam lingkup lingkungan Pohon Suci, Dryad tersebut pun kembali bergumam, “Beliau hanya memilih untuk mencintai negerinya sendiri, karena itulah sihir kontrak roh dibuat. Pada dasarnya keberadaan Roh hanya ada untuk dikontrak oleh para penyihir di kota itu.”
Apa yang dikatakan Reyah bukanlah sindiran, itu adalah fakta tersembunyi yang tidak diberitahukan kepada para Roh. Bahkan dari semua Roh Agung di Dunia Astral, hanya segelintir saja yang paham makna dari keberadaan mereka.
Tugas, Kontrak, dan Kewajiban. Ketika bentuk kehidupan di Dunia Astral mendapatkan sebuah kecerdasan, paling tidak salah satu dari ketiga hal tersebut pasti muncul dalam diri mereka. Entah hal sepele atau bahkan dalam lingkupan luas, para Roh akan langsung tahu apa yang seharusnya mereka lakukan selama menjalani kehidupan.
Sebuah sistem hierarki yang membatasi imajinasi, mengatur secara sempurna karena hal tersebut tertanam pada mereka bahkan sebelum mendapat kecerdasan. Karena itulah, setiap Roh seharusnya tidak bisa membantah peran mereka atau bahkan mempertanyakannya.
Namun, dalam sebuah tatanan pasti selalu muncul sebuah kasus pengecualian. Itulah mereka yang disebut dengan kemandirian yang menyimpang.
Kebanyakan Roh Agung memiliki kecerdasan yang tinggi, memiliki kemampuan memerintah, dan membuat tatanan untuk lingkungan mereka sendiri. Layaknya apa yang Reyah lakukan dalam ekosistem Pohon Suci.
Meski memiliki kecerdasan yang tinggi, Roh Agung tidak akan pernah bisa melanggar perannya sendiri atau bahkan menelantarkan hal tersebut. Meski mereka memiliki hasrat dan ketertarikan terhadap hal baru, mereka seharusnya tidak akan pernah bisa melanggar kodrat.
Karena itulah, kasus yang terjadi pada pemimpin Laut Utara sangatlah memberikan pengaruh kepada para Roh Agung. Mereka mulai mempertanyakan kebenaran dari penelantaran kewajiban yang ada, lalu tanpa sadar tertarik kepada hal seperti itu.
Meski membenci dan menganggap tindakan Vil Qordelia adalah kejahatan, Reyah secara tidak sadar tertarik dan ingin menirunya. Hasrat ingin mencoba muncul, lalu dengan alasan untuk melaksanakan tugas ia mengajukan janji kontrak kepada Odo Luke.
“Seharusnya benih itu sudah tumbuh ….” Reyah menarik napas ringan. Mengingat kembali anak laki-laki yang pernah mendatangi tempatnya dan mengalahkan Naga Hitam, ia dengan nada sedikit resah berkata, “Semoga saja Alam Jiwa miliknya sudah cukup berkembang untuk membuat kuil. Kalau tidak, mungkin diriku harus menunggu lebih lama lagi sampai benihnya tubuh lebih besar. Diriku sudah tidak sabar.”
Saat sedang bergumam sendiri, tiba-tiba sensor Pohon Suci yang tersebar di penjuru hutan mendeteksi keberadaan yang janggal. Itu membuat Reyah tersentak, tampak sedikit bingung karena kombinasi hawa keberadaan yang terasa sangatlah aneh.
Merasakan sebuah ancaman yang mendekat, Pohon Suci tiba-tiba langsung masuk ke dalam fase siaga. Memancarkan sinyal bahaya kepada semua Roh Tingkat Atas yang berjaga di sekitar, lalu mulai menumbuhkan bunga-bunga di atas permukaan akar raksasa.
Itu mekar dengan cepat, lalu menyebarkan serbuk sari berisi Ether padat untuk menambah kekuatan para Roh. Benar-benar bersiap untuk menghadang ancaman yang mendekati Pohon Suci.
“Eh?” Reyah seketika terkejut melihat reaksi yang diberikan Pohon Suci. Segera meloncat turun, Dryad tersebut segera menghentakkan kaki kanan ke permukaan tepat setelah mendatar.
“Tolong tenang dulu!!” bentaknya tegas.
Gelomang kejut langsung menyebar, mengenai semua Roh yang bersiap untuk bertarung dan Pohon Suci di belakangnya. Hal tersebut membuat kondisi siaga sedikit turun, lalu serbuk yang menyebar pun menipis.
Reyah segera berbalik dan menyentuh permukaan Pohon Suci, lalu berusaha menyalurkan Mana untuk membuatnya tenang. Namun, tetap saja sinyal waspada terus menerus dipancarkan oleh pohon sakral tersebut.
“Sebenarnya siapa yang datang?! Kenapa tiba-tiba Pohon Suci menjadi agresif seperti ini?”
Sebelum sang Dryad mengetahuinya, jawaban dari pertanyaan tersebut datang dengan sendirinya. Dari dalam pepohonan hutan, sosok pemuda rambut hitam melangkah keluar dan bertanya, “Ternyata aku dianggap ancaman oleh Pohon Suci, ya? Atau … dia hanya menjadi agresif karena hutannya pernah dirusak Naga Hitam?”
Mendengar suara yang masih dirinya ingat dengan jelas, Reyah seketika tersentak dan menoleh. Melihat siapa yang datang, kedua matanya langsung benar-benar terbuka lebar. Bingung dan cemas mengisi benak, sebab pertemuan tersebut sama sekali tidak disebutkan dalam Catatan Kuno yang ia ketahui.
“Kenapa … engkau ada di sini, Odo?”
Sebelum pertanyaan itu dijawab, Reyah kembali dikejutkan saat melihat orang-orang yang datang bersama pemuda itu. Dua Elf yang sebelumnya dideteksi oleh sensor Pohon Suci, lalu sosok Roh Agung yang dirinya benci juga berada di dekat Odo Luke.
Ekspresi terkejut seketika berubah menjadi amarah. Mengangkat kedua tangan dari batang Pohon Suci, ia segera berbalik dan menatap rendah mereka semua. Tanpa pikir panjang, sang Dryad tersebut pun langsung membuka telapak tangan ke depan.
Sinyal kuat seketika terpancar kuat dari Reyah. Mengikuti perintah yang diberikan penguasa mereka, beberapa Roh Tingkat Atas langsung menyerang tamu-tamu tidak diundang itu. Namun sasaran mereka semua bukanlah Odo Luke, melainkan Roh Agung berambut biru yang melayang di dekatnya.
Kijang bertanduk cabang pohon langsung menyeruduk, melapisi tubuh dengan Mana dan memperkuat fisiknya. Dari sisi lain, elang gunung mengepakkan sayapnya dan menghembuskan angin tajam layaknya celurit yang dilempar.
Dua serangan yang tiba-tiba dilancarkan tersebut membuat Vil terkejut. Ia sempat mengulurkan tangan kanan ke depan dan hendak menciptakan dinding air untuk menahan. Namun karena Ether yang ada di sekitar Pohon Suci tidak memihaknya, sihir tidak bisa diaktifkan dan lingkaran sihir pun rusak.
__ADS_1
Sebelum kedua serangan itu mengenai sasaran, Odo Luke langsung menghadang mereka. Sayatan angin ditepis dengan satu ayunan tangan kanan, lalu serudukan kijang dihentikan dengan satu pukulan vertikal tepat pada bagian kepala.
Kepala kijang bertanduk ranting langsung membentur tanah dengan keras, seketika kehilangan kesadaran. Merasakan hawa berbahaya dari pemuda itu, elang gunung bersayap daun pun segera menjaga jarak. Begitu pula para Roh Tingkat Atas lain yang telah bersiap menyerang kapan saja.
“Tolong tenang dulu, Reyah. Ini aku! Meski terlihat berbeda seperti ini, aku adalah Odo Luke⸻”
“Diriku tahu! Roh Agung mengenali manusia bukan dari wujud fisik mereka ….” Reyah menatap tajam. Seraya berjalan turun dari atas akar-akar Pohon Suci dan berdiri di belakang para Roh Tingkat Atas, Dryad tersebut dengan tegas menyampaikan, “Keberadaan engkau memang sangat berbeda dari sebelumnya. Namun, bukan itu yang membuat diriku menyerang kalian.”
“Lantas mengapa?”
Meski bertanya seperti itu, Odo samar-samar tahu bahwa serangan sebelumnya hanya mengincar Vil seorang. Tanda bahwa para Roh yang tinggal di lingkungan Pohon Suci itu benar-benar ingin menyingkirkannya.
Menatap tajam ke depan, iris mata pemuda itu sekilas berubah hijau terang. Tanda bahwa Spekulasi Persepsi mendapat sebuah kesimpulan yang jelas dari tindakan mereka.
“Engkau tak perlu tahu alasannya ….” Reyah semakin dikuasai amarah dan tidak bisa berkompromi. Melihat makhluk sejenisnya yang meninggalkan kewajiban kembali ke Dunia Astral tanpa rasa bersalah, ia tidak memberikan keringanan dan langsung memerintahkan, “Habisi pembangkang itu! Kalian memiliki hak untuk melakukannya!”
Perintah tersebut membuat para Roh menyerang kembali, secara sekaligus dan memancarkan nafsu membunuh yang sangat kuat. Sepenuhnya mengincar Vil dan benar-benar ingin menghabisinya dengan dalih menghukum.
“Tch! Mereka⸻”
“Tunggu!” Odo melarang Vil untuk melawan balik.
Menyingsingkan lengan kanan kemeja tinggi-tinggi, pemuda rambut hitam tersebut segera mengaktifkan rajah Khanda miliknya. Simbol yang melekat pada bahu kanan sampai pangkal lengan tersebut seketika bersinar, langsung terhubung dengan inti sihir melalui sirkuit sihir merah.
Garis-garis merah sekilas menjalar dari simbol Khanda ke penjuru tubuh, memuat informasi dan susunan sihir yang diaktifkan. Lalu, semua itu bergerak mengarah pada bagian dada untuk diproses dalam Inti Sihir.
Gelombang kuat terpancar ke penjuru tempat, layaknya hembusan angin kencang yang bertiup dari pemuda itu.
Dalam hitungan detik, aliran Ether di udara berubah dan diambil alih olehnya. Memanfaatkan hal itu dan menyalurkannya pada rajah, ia dengan segera mengaktifkan salah satu fungsi sombol Khanda tersebut.
“Order ….” Odo menunjuk lurus ke arah Pohon Suci, lalu dengan suara lantang langsung memerintahkan, “Berhenti sekarang juga!!”
Bagi semua Roh yang mendengar suaranya, waktu untuk sesaat terasa berhenti untuk mereka. Bersama dengan hal tersebut, gelombang yang terasa seperti listrik menjalar layaknya merasuki tubuh para Roh. Membuat mereka semua tidak bisa bergerak, dipaksa mengikuti perintah Odo Luke.
Hal tersebut tanpa pengecualian, bahkan Reyah pun seketika membatu di tempat. Mulut bungkam dan tidak bisa bersuara untuk sesaat. Menatap tidak percaya, sang Dryad perlahan membuka mulut dengan paksa.
“Kenapa … engkau memiliki itu? Seharusnya rajah tersebut ….”
“Aku mewarisinya dari Raja Iblis Kuno.” Odo menarik napas dalam-dalam. Segera menggandeng Vil yang juga kebingungan dengan situasi yang ada, pemuda rambut hitam tersebut berjalan ke depan seraya menambahkan, “Dalam Catatan Kuno milik kalian, rupanya hal seperti itu tidak disebutkan …. Ini melegakan.”
Tatapan permusuhan mulai diarahkan kepada Putra Tunggal Keluarga Luke. Tetapi saat pemuda itu mengaktifkan Penglihatan Jiwa dan memancarkan aura mirip Roh Kudus, sekali lagi Reyah dibuat terbelalak.
Apa yang terjadi sekarang benar-benar di luar ramalan, sama sekali tidak disinggung dalam Catatan Kuno atau perkiraan yang dibuat oleh para pendahulu Reyah. Saat terlepas dari pengaruh perintah rajah Khanda, Dryad tersebut hanya bisa tertegun dalam bingung.
“Kenapa …? Bagaimana bisa engkau …?”
Ada banyak pertanyaan yang ingin Reyah berikan. Namun, apa yang keluar dari mulutnya hanya kalimat sederhana. Saking bingungnya dengan situasi yang ada, ia membuka mulut tanpa bisa berbicara dengan benar.
“Kenapa …?” Odo berdiri di hadapan Reyah. Berhenti menggandeng Vil, pemuda rambut hitam tersebut mengulurkan tangan kanan ke depan dan berkata, “Aku di sini untuk memenuhi janji itu. Alam Jiwa milikku sudah siap, mari kita buat kontrak dan bantu diriku mengalahkan Leviathan.”
“Eh?”
Reyah hanya bisa terkejut dengan kedua mata terbuka lebar. Baik tentang apa yang pemuda itu katakan atau minta, ia terlalu bingung untuk memahami situasi yang ada sekarang.
\============================
Catatan :
Angelus selesai!
Next akan ganti judul lagi menjadi ….
See You Next Time!
__ADS_1