Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[99] Angelus IV – Magenta Warmth (Part 01)


__ADS_3

 


 


 


Salah satu hal yang paling sulit disembuhkan adalah penyakit hati.


 


 


Entah itu iri, dengki, sombong, amarah, ataupun malas, semuanya merupakan sesuatu yang sulit dihilangkan dari diri manusia. Melekat sangat dalam, bahkan tidak berlebihan jika itu disebut bagian dari kehidupan orang-orang.


 


 


Entah bagaimana cara mereka melihat hal tersebut, apa yang membuatnya sulit diobati adalah karena kebanyakan orang tidak mau menyadarinya. Memandang diri sendiri suci, lalu merendahkan orang lain dan mulai berbicara buruk tentang mereka.


 


 


Menganggap dirinya tidak sombong, tetapi pada kenyataannya melakukan hal sombong. Memamerkan kekayaan di hadapan orang-orang yang membutuhkan, berdalih bahwa itu merupakan sedekah.


 


 


Ketika ada yang lebih unggul, lahirlah penyakit lain seperti iri dan dengki. Perlahan menggerogoti, membuat hati tak bisa merasa puas dan memulai persaingan secara sepihak.


 


 


Merusak diri sendiri, terus bersaing meski paham sudah tidak mampu. Mengorbankan banyak waktu, usaha, dan pikiran untuk perasaan iri dan dengki.


 


 


Pada akhirnya, penyakit hati tersebut membuat mereka memaksakan semua hal sampai di luar batas. Ketika tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan dan kalah, amarah akan tumbuh dan semakin merusak dari dalam.


 


 


Salah satu esensi manusia adalah memandang rendah orang lain.


 


 


Dari dahulu kala sampai sekarang, umat manusia selalu ingin memandang rendah orang lain dan menganggap diri sendiri lebih mulia.


 


 


Ketika moral dan nilai belum menjadi bidang studi, umat manusia telah lama melakukan hal seperti itu. Dalam sebuah perbedaan kasta sosial seperti orang kulit hitam dan kulit putih, kaya dan miskin, kaum sudra dan brahma, lalu budak dan tuan mereka.


 


 


Entah bagaimana seseorang memandang, dari dulu manusia selalu ingin lebih unggul dari yang lain. Meski itu berarti harus merebut hak, lalu menginjak-injak kehidupan orang lain sekalipun.


 


 


Pada dasarnya, itulah satu-satunya hal yang mereka tahu untuk lebih unggul dari orang lain.


 


 


Dalam sekolah, kita diwajibkan untuk mengenakan seragam. Peraturan tersebut ditetapkan untuk mengurangi kesenjangan sosial di lingkungan belajar. Entah seorang anak Walikota atau Petani, mereka akan mengenakan seragam yang sama.


 


 


Meski perbedaan bisa terlihat pada cara mereka mengenakan seragam tersebut, namun tetap saja peraturan itu dibuat untuk mengurangi kesenjangan sosial yang ada. Menanamkan pembelajaran kepada anak-anak bahwa mereka setara dalam menuntut ilmu.


 


 


Namun, di sisi lain di sekolah juga menerapkan sistem peringkat dalam belajar. Sebuah metode yang diterapkan oleh guru dan sekolah, untuk menilai kualitas murid-murid mereka. Sebuah cara untuk membuat status antara anak berprestasi dan yang tidak berprestasi menjadi terlihat jelas.


 


 


Entah bagaimana setiap orang melihat hal tersebut, sejak di bangku sekolah setiap anak telah diperkenalkan dengan lingkungan sosial secara nyata.


 


 


Perbedaan, Ketidaksetaraan, lalu Persaingan untuk mendapatkan posisi terbaik.


 


 


Jika tidak berusaha, sudah sewajarnya akan tersingkir.


 


 


Jika tidak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan, tentu saja guru tidak akan mau melirik.


 


 


Jika tidak bisa bersosialisasi dengan baik, perundungan dan pengucilan tidaklah aneh untuk terjadi.


 


 


Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Untuk kedua kalinya, hal tersebut sama sekali tidak salah untuk umat manusia. Sejak dahulu kala sampai sekarang, peraturan tidak tertulis tersebut selalu ada di lingkungan masyarakat.


 


 


Baik untuk orang dewasa ataupun anak-anak, mereka sudah seharusnya menyadari hal itu. Menghadapinya dengan baik-baik, lalu menerima hal tersebut sebagai fakta dalam kehidupan.


 


 


Bukan malah berpaling dan mengutuk takdir mereka sendiri, lalu mengeluh tanpa ujung dan terus membandingkan diri sendiri dengan yang lain.


 


 


Sesungguhnya, orang-orang seperti itu hanyalah pemalas. Sosok benalu yang enggan untuk berusaha. Sebuah cara berpikir yang sangat merusak, penyakit hati.


 


 


Perbedaan membuat semuanya menjadi jelas, setiap orang harus memahami hal tersebut dengan sungguh-sungguh. Garis antara batas kemampuan, harta, dan relasi menjadi bisa dipahami.


 


 


Perbedaan sesungguhnya bukan untuk saling merendahkan, melainkan untuk saling mengenal satu sama lain. Layaknya sebuah puzzle raksasa dalam dunia ini, saling mengisi satu sama lain untuk menyelesaikan masalah yang ada.


 


 


Ketidaksetaraan bukan digunakan untuk menindas, melainkan memberi setiap orang kesempatan untuk saling mengulurkan tangan.


 


 


Bergandengan, membuat lingkaran besar yang kukuh. Supaya ketika salah satu dari mereka melewati lubang dan terperosok, yang lainnya bisa segera menolong.


 


 


Lalu, persaingan bukanlah sesuatu yang melahirkan konflik. Ketika seseorang keluar sebagai pemenang, memang hal tersebut membuat perbedaan dan ketidaksetaraan menjadi semakin jelas.


 


 


Tetapi, sesungguhnya persaingan adalah sesuatu untuk melahirkan perkembangan. Tanpa hal tersebut, umat manusia akan menjadi malas dan pada akhirnya stagnan menuju kehancuran.


 


 


Entah itu perbedaan, ketidaksetaraan, ataupun persaingan, semuanya tercipta bukan tanpa alasan. Bagaikan sebuah pisau, semua itu tergantung bagaimana cara umat manusia menggunakannya.


 


 


Ketahuilah bahwa satu tentara sudah cukup untuk menghancurkan sebuah negeri, namun untuk membuat negeri kuat butuh ribuan bahkan sampai jutaan tentara.


 


 


Ketika ada satu orang dalam kelompok melanggar ketentuan dan kesepakatan yang telah disetujui oleh semuanya, maka kelompok tersebut akan dicap buruk oleh yang lain.


 


 


Pada akhirnya, umat manusia bukanlah hewan. Meski mereka memiliki banyak sekali esensi buruk, manusia diberikan kemampuan untuk menekan semua itu. Entah itu dengan menggunakan hukum, nilai, ataupun moral, mereka punya sesuatu untuk menahan hasrat binatang.


 


 


Menjadikan manusia tetap menjadi seorang manusia.


 


 


Tetapi⸻


 


 


Semua itu pada akhirnya hanyalah idealitas. Sebuah gambaran sempurna yang dibuat oleh seseorang, lalu diteruskan sampai semua orang mendengarnya. Dari masa lalu untuk masa depan.


 


 


Kenyataannya dunia tidaklah seindah itu. Persaingan melahirkan perbedaan, lalu perbedaan pada akhirnya menciptakan ketidaksetaraan. Kembali ke awal, pada dasarnya ingin berdiri di atas orang lain dan lebih unggul merupakan esensi manusia.


 


 


Entah bagaimana orang-orang melihatnya, sifat tersebut itu adalah sebuah kenyataan yang tidak boleh dihiraukan.


 


 


 

__ADS_1


 


ↈↈↈ


 


 


Mentari bersinar terang di pagi hari, tanpa sedikitpun awan mendung yang menutupi. Angin laut bertiup sepoi-sepoi, membawakan udara asin ke daratan. Menerpa wajah dan bercampur dengan keringat, lalu membuat kesan lengket para permukaan kulit.


 


 


Putra Tunggal Keluarga Luke melangkah pelan, menuruni anak tangga pada bagian samping bangunan toko Ordoxi Nigrum. Sembari melebarkan senyum tipis, pemuda itu seakan sedang menikmati suara teriakan marah seseorang dari lantai satu.


 


 


Menjadikannya sebuah irama musik, lalu mulai bersenandung kecil dan memperlambat langkah kaki untuk lebih menikmatinya lebih lama.


 


 


Mengikuti pemuda rambut hitam tersebut, Nanra menatap heran dengan kedua alis turun. Dalam benak ia bertanya-tanya mengapa pemuda itu terlihat sangat senang, meski dengan jelas telah mendengar suara murka Arca Rein di lantai satu toko.


 


 


Memperlihatkan ekspresi berbeda, Vil, sang Roh Agung hanya tersenyum ringan sembari merangkul pemuda rambut hitam tersebut dari belakang. Melayang di udara, seakan-akan dirinya enggan menapakkan kaki tanpa alas ke permukaan.


 


 


Ketika mereka sampai di bawah, beberapa orang yang dibuat mengantre lebih lama langsung terkejut. Bagi mereka yang sebagian besar berasal dari barak, tentu orang-orang tersebut dengan cepat tahu siapa pemuda yang baru turun itu.


 


 


“Odo … Luke?”


 


 


Salah satu orang dari antrean menyebut namanya dengan jelas. Namun Putra Tunggal Keluarga Luke tidak memedulikan hal tersebut, tetap menatap ke depan dan berjalan ke arah pintu masuk.


 


 


Namun, Vil yang juga mendengarnya langsung menoleh. Menatap dengan mata keemasan yang terbuka sepenuhnya, seakan-akan memancarkan amarah meski sebenarnya Roh Agung tersebut hanya menatap biasa.


 


 


Menggigil, merasakan hawa mistis yang kuat dan pertanda mengerikan. Bagi mereka yang ditatap langsung oleh mata sang Roh Agung, untuk sesaat tubuh kehilangan kebebasan dan seakan membantu di tempat.


 


 


“Vil, Jangan tatap mereka ….” Odo menegur. Menghela napas ringan tanpa menoleh ke arahnya, pemuda rambut hitam tersebut menambahkan, “Aku sudah mengatur ulang kontrak kita. Basis kau seorang Siren, ‘kan? Kemungkinan efek pemikat milikmu sudah kembali.”


 


 


“Eng?” Vil langsung memperlihatkan gelagat terkejut. Tidak ingat kapan Odo mengubah kontrak yang ada, Roh Agung tersebut langsung memeluk erat pemuda itu dari belakang seperti sedang mencekik. “Hey, kapan Odo melakukannya? Ini merupakan pelanggaran besar, loh. Bagi bangsa Roh, kontrak adalah bagian dari diri mereka dan tidak boleh diubah seenaknya. Apalagi secara sepihak seperti ini,” ujarnya dengan nada sedikit kesal.


 


 


“Tenang saja, aku tidak mengubah isi kontraknya.” Odo sampai di depan pintu toko. Memegang gagang dan perlahan memutarnya, dengan nada santai ia pun menambahkan, “Hanya tingkatannya saja yang berubah. Antara Roh Tingkat Atas dan Roh Agung, itulah dirimu sekarang.”


 


 


“Ugh ….” Vil menyipitkan tatapan. Meski benak masih berselimut rasa kesal, ia paham dan langsung menerima penjelasan itu. Setelah menghela napas ringan, sang Roh Agung kembali berkata, “Jelas saja dari tadi diriku bisa dengan bebas memakai sihir melayang. Padahal sedang tidak di perpustakaan. Apa tidak masalah Odo mengubahnya seperti itu? Terlebih lagi, kapan Odo melakukannya⸻?”


 


 


Sebelum Roh Agung rambut biru laut tersebut menyelesaikan perkataan, Odo membuka pintu lebar-lebar. Membuat hinaan Arca di dalam luber keluar, sampai terdengar jelas oleh mereka dan orang-orang yang sedang mengantre.


 


 


“Dasar tidak berguna!! Payah! Kenapa kalian tidak bisa sedikit saja meringankan pekerjaanku!! Tidak becus! Sangat tidak becus!!” Arca menghentakkan kakinya ke lantai. Sembari menunjuk para pegawai yang dibuatnya berbaris di sudut ruang, Putra Sulung Keluarga Rein mengganti makian dengan mengeluh, “Akh!! Kenapa juga orang dari Serikat Lorian itu ingin mandiri dan membuat kelompok dagang sendiri! Padahal aku baru saja membuat kontrak dagang dengan mereka! Kalau begini, bisa-bisa orang dari cabang lain di serikat mereka bisa masuk dan bertindak seenaknya!!”


 


 


“Eh?” Mendengar kemarahan tersebut, Vil benar-benar terkejut dan melupakan sesuatu yang ingin ditanyakan. Mendekap ringan Odo dari belakang, Roh Agung tersebut menatap ke dalam toko dengan mata setengah terbuka. Seraya menunjuk orang yang sedang murka, ia dengan nada heran bertanya, “Sedang apa orang itu? Sudah gila, ya?”


 


 


“Siapa yang kau panggil gila, hah!!!” Arca langsung menoleh, menatap tajam dengan mata yang menyala-nyala dipenuhi amarah.


 


 


“A⸻!”


 


 


 


 


Namun, anehnya ombak kemarahan tidak datang. Tepat setelah melihat Odo Luke, amarah yang sebelumnya benar-benar menguasai Arca malah tidak meluap dan seakan lenyap. Wajah pemuda rambut pirang kecokelatan tersebut berubah datar, lalu tatapan menjadi sangat tajam seakan memendam kesal yang terpusat.


 


 


Odo datang pada waktu yang salah, semua pegawai di tempat tersebut secara serempak berpikiran demikian. Membuat mereka memperlihatkan ekspresi cemas, lalu menunjukkan gelagat aneh seperti menepuk jidat, memalingkan pandangan, dan menggeleng-gelengkan kepala.


 


 


Untuk Nanra yang datang bersama Odo, gadis tersebut pura-pura tidak peduli dengan suasana yang ada. Ia berjalan mengendap-endap masuk ke dalam toko, lalu bergabung dengan Elulu dan yang lain dalam barisan di sudut ruang toko.


 


 


Seakan tidak memedulikan suasana yang ada di ruangan, Odo bertepuk tangan satu kali dan memasang senyum lebar. “Apa pekerjaan kalian sudah beres?” tanyanya dengan nada tanpa rasa bersalah.


 


 


Kedua alis Arca langsung berkedut, otot-otot mengencang dan urat di sekitar wajah sampai tampak jelas. Tidak bisa menahan amarahnya lagi, Putra Sulung Keluarga Rein langsung berjalan menghampiri dengan tangan mengepal.


 


 


“Kau ini …, seharusnya ada yang perlu ditanyakan dulu, ‘kan?!”


 


 


Tanpa ragu atau menahan diri, Arca langsung melayangkan tinju ke wajah Odo. Dengan kencang, tepat mengincar tengah wajah dengan akurat.


 


 


Namun seakan telah memprediksi itu, Odo menghindarinya dengan mudah. Hanya dengan memiringkan kepala, ia membuat tinju meleset dan mengenai Vil di belakang.


 


 


“Ugh⸻!”


 


 


Sang Roh Agung langsung tersentak ke belakang, tepat setelah tinju mendarat di wajahnya. Hal tersebut membuatnya melepaskan pelukan dari Odo, lalu terlempar ke belakang dan berputar beberapa kali di udara. Tetapi, ia tidak terjatuh dan tetap melayang di udara.


 


 


Meski tidak sampai berdarah karena wujud tubuh Roh sedikit unik, namun Vil dengan jelas merasakan sakit. Meringkuk di udara, memegang hidungnya sendiri dan menggeram kesakitan.


 


 


“Hmm, ternyata tidak tembus.” Odo menoleh ke belakang, memasang senyum tipis layaknya sedang melihat hasil eksperimen. Sembari meletakan tangan ke dagu, ia dengan penasaran bergumam, “Roh yang telah membuat kontrak ternyata bisa terkena serangan fisik juga, meski itu dengan komposisi mendekati Roh Agung sekalipun. Atau …, Vil hanya tidak sempat mengatur wujud fisiknya?”


 


 


“Hey!”


 


 


Arca memegang pundak Odo, memaksa pemuda itu menatap ke arahnya. Sembari kembali mengangkat tinju, Putra Sulung Keluarga Rein benar-benar tidak akan puas sampai berhasil menghajarnya.


 


 


“Meski seorang Roh, dia juga perempuan. Apa kau tidak merasa bersalah?” tanya Odo tidak peduli.


 


 


“Apa kau tahu alat bernama cermin, sobat?” Amarah Arca seketika memuncak lagi. Gigi menggertak kencang, menahan tinju yang siap dilancarkan kapan saja dari jarak dekat.


 


 


Seakan tidak memedulikan hal tersebut, sekali lagi Odo memprovokasi, “Kau tak perlu marah sampai seperti itu. Memangnya apa yang telah aku perbuat sampai-sampai harus dipukul?”


 


 


“Apa yang kau berbuat …? Serius kau bertanya seperti itu, Odo?”


 


 


Tali tipis yang menahan kesabaran Arca seketika putus. Tanpa ragu, pemuda rambut cokelat kepirangan tersebut melancarkan pukulan kedua. Dengan sangat akurat, dari jarak dekat dan sangat kecil kemungkinan Odo bisa menghindarinya.


 


 


Seakan-akan telah memprediksi hal tersebut, Odo segera mencengkeram tangan kiri Arca yang memegang pundak kanannya. Menekan saraf yang ada di pergelangan, lalu membuat rasa sakit seketika menjalar ke sekujur tubuh Putra Sulung Keluarga Rein.

__ADS_1


 


 


Itu membuat Arca Rein berkedip untuk sesaat. Memanfaatkan hal tersebut, Odo pun menghindarinya dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Membuat pukulan melewatinya tanpa bisa mengenai sasaran.


 


 


Memanfaatkan posisi menyerang yang cenderung tidak seimbang, Odo langsung mendorong tubuh Arca. Membuatnya semakin kehilangan keseimbangan  dan hampir jatuh.


 


 


Untuk menyeimbangkan posisi tubuh, satu sampai dua langkah ke belakang diambil Putra Sulung Keluarga Rein. Namun saat dirinya kembali melihat lawan bicara, Odo Luke telah berjongkok di hadapannya.


 


 


“Kau tahu, Arca. Kekerasan itu kebiasaan buruk, entah itu verbal atau fisik.”


 


 


Odo mencengkeram kaki Arca, tepat pada bagian atas mata kaki. Menekan saraf yang ada di sekitar tempat tersebut, rasa sakit menjalar lagi ke sekujur tubuh Putra Sulung Keluarga Rein. Sampai-sampai pandangannya untuk sesaat buram.


 


 


Tidak berhenti hanya di situ, Odo langsung menarik kaki Arca dan membuatnya terjatuh ke belakang. Dengan bagian kepala membentur lantai terlebih dahulu dengan keras.


 


 


“Ugh …! Sialan …!”


 


 


Arca meringkuk, sembari memegang bagian belakang kepala. Saat penglihatan perlahan kembali pulih, Putra Sulung Keluarga Rein tersebut tidak bisa segera bangun karena rasa sakit yang diderita.


 


 


“Lihat, kau jadi sangat rapuh.” Odo berdiri di hadapan Arca, menatap rendah seakan-akan sedang mengajari sesuatu kepadanya. Sedikit membungkuk dan mengulurkan tangan, Putra Tunggal Kelurga Luke menambahkan, “Aku tahu kau sedang kesal. Tapi, berusahalah untuk terus berpikir tenang. Dengarkan perkataan orang lain, dan jangan menyerahkan diri kepada amarah seperti tadi.”


 


 


Mendengar perkataan tersebut, Arca seketika terperangah dengan kedua mata terbuka lebar. Saat rasa sakit mereda, Putra Sulung Keluarga Rein meraih tangan Odo dan segera bangun.


 


 


“Kamu sedang mempermainkan ku, ya?!” tanya Arca ketus.


 


 


“Enggak juga.” Odo melepaskan tangan lawan bicaranya. Mengangkat kedua sisi bahu, ia melempar senyum tipis dan kembali mengelak, “Hanya saran. Anggap saja kali ini adalah ujian dariku, dalam rangka untuk menilai kau pantas atau tidak.”


 


 


“Huh? Apa yang kau bicarakan?”


 


 


Odo tidak memedulikan ekspresi kesal yang mulai tampak kembali pada wajah Arca. Berjalan ke arah salah satu meja di tempat tersebut, ia menarik kursi dari kolong dan segera duduk dengan santai.


 


 


“Waktu pertama kali menemuiku, kau sempat mengetes diriku pantas atau tidak, bukan?” Odo menatap lurus, memperlihatkan sorot mata yang tersirat sesuatu yang dalam. Meletakkan siku dan menyangga kepala, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Ini adalah cara yang aku gunakan untuk memberikan tes, menilai apakah kau pantas atau tidak. Karena itu, mari duduk dan tinjau ulang hasilnya.”


 


 


Arca paham apa yang Putra Tunggal Keluarga Luke maksud. Menarik napas dan berusaha menyingkirkan sejenak amarah yang ada, ia melangkah mendekat dan duduk pada meja yang sama dengan Odo Luke.


 


 


Namun sebelum memulai pembicaraan berlangsung, Vil yang sebelumnya kena pukul langsung melayang cepat ke sebelah Odo. Mendekap Putra Tunggal Keluarga Luke dengan erat dari belakang, lalu menatap lurus ke arah Arca Rein seraya memancarkan aura permusuhan.


 


 


Tatapan tersebut membuat Putra Sulung Keluarga Rein tersentak, untuk beberapa detik kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Gemetar di tempat, tanpa bisa berkedip ataupun mengeluarkan suara.


 


 


Mata Batin Pemikat Laut, itulah salah satu kemampuan yang dimiliki Vil sebagai Siren. Selain suara yang merdu dan bisa menghipnotis hampir setiap makhluk yang mendengarnya, mata keemasan sang Roh Agung memiliki kemampuan untuk memikat alam bawah sadar ketika menatap seseorang. Meski tidak terlalu kuat, itu sudah cukup untuk memberikan intimidasi yang jelas.


 


 


“Vil, hentikan. Tadi sudah aku bilang⸻!”


 


 


“Hmm! Dia berani memukul diriku!” Vil langsung memalingkan pandangan dan berhenti mengintimidasi. Melepaskan dekapan dari Odo dan duduk di atas meja, Roh Agung tersebut melirik kesal ke arah Arca dan kembali berkata, “Siapa sangka diriku akan terkena pukul seperti itu, apalagi oleh manusia sepertinya. Ini menyebalkan.”


 


 


“Kau tidak apa-apa, ‘kan? Sakitnya terasa?” tanya Odo memastikan.


 


 


“Tentu saja sakit! Memangnya siapa yang dipukul dan tidak merasakan sakit?”


 


 


“Begitu, ya ….” Odo tidak ingin berargumen pada hal tidak penting seperti itu. Menghela napas ringan, ia menatap ke arah Arca dan meminta, “Tolong maafkan saja Arca. Lagi pula, dia tidak bermaksud memukul, ‘kan?”


 


 


“Iya, anak manusia itu tentu saja tidak bermaksud memukul diriku.” Vil mengerutkan kening, lalu menatap kesal ke arah Putra Tunggal Keluarga Luke dan menyalahkan, “Odo yang salah karena seenaknya menghindar.”


 


 


Vil mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya, Roh Agung terlangsung langsung menginjak wajah Odo. Melampiaskan kekesalan dalam benak, ia dengan kasar mencubit pipi pemuda itu menggunakan jari kaki.


 


 


Sangatlah tidak sopan, itulah yang orang-orang rasakan saat melihat tindakan tersebut. Namun karena Vil mengenakan pakaian yang cenderung terbuka dan kedua kaki mulai dibuka lebar, hal itu malah tampak tidak senonoh di mata beberapa orang yang melihatnya.


 


 


“Vil, hentikan! Sopan sedikit ….”


 


 


“Hmm? Sopan? Tak diriku sangka anak durhaka ini akan berkata seperti itu.”


 


 


Vil sama sekali tidak berniat berhenti. Ia malah ingin semakin menggoda Odo, lalu menjepit kepalanya dengan kedua telapak kaki. Meremas-remas, mengok-gosokan jemari, lalu kembali mencubit-cibit.


 


 


Perlahan senyum lebar tampak pada wajah sang Roh Agung, seakan-akan sedang menikmati hal tersebut. Benar-benar senang melihat wajah Odo yang tetap terlihat tenang meski diperlakukan seperti itu.


 


 


Odo berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa kesal. Membuka mulut lebar-lebar, ia langsung menggigiti ke arah telapak kaki kiri Vil. Namun, tentu saja Roh Agung tersebut sudah menyadarinya dan langsung menghindar.


 


 


“Hmm, tidak kena deh,” goda Vil.


 


 


Hal tersebut malah semakin membuat Roh Agung semakin ingin menggoda Odo. Benar-benar tidak memedulikan orang-orang di sekitar yang mulai menatap aneh, Roh Agung tersebut tersenyum semakin lebar dan mulai terengah-engah.


 


 


“Aku sudah memberi kau peringatan,” ujar Odo datar.


 


 


Pemuda rambut hitam tersebut mencengkeram pergelangan kaki kiri Vil. Saat saraf di sekitar mata kaki ditekan, sakit seketika menjalar ke sekujur tubuh Roh Agung dan membuatn kesadarannya untuk sesaat pudar.


 


 


Keseimbangannya hilang, lalu Vil pun jatuh tersungkur ke lantai. Meringkuk kesakitan memegang kaki kirinya yang kesemutan sampai betis. Lalu, mata berkaca-kaca seakan ingin merengek karena rasa sakit yang tak kunjung hilang.


 


 


“Ke-Kejamnya …! Hiks … kejam sekali.” Vil pura-pura menangis, menutup kedua mata dengan lengan dan kembali merajuk, “Padahal diriku hanya ingin bercanda, Odo jahat.”


 


 


“Hmm ….” Odo sama sekali tidak memedulikan itu, hanya menatap datar dan menganalisis dengan dingin. Sembari mengambil kesimpulan pemuda itu pun berkata, “Ternyata titik saraf juga tidak berbeda dengan manusia, padahal kau Roh Agung.”


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2