Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[77] Tanpa sadar dirinya memandang rendah orang-orang (Part 01)


__ADS_3

Jika kita menelusuri ingatan yang tak terhitung jumlahnya, beban yang tidak terkira akan membuat diri kita terhenti. Sampai tanpa sadar senja pun datang.


Lalu seakan terburu-buru dan dikejar malam yang semakin mendekat, mereka akan mulai mencari jalan pintas dimana itu penuh dengan bekas jejak kaki orang-orang pemalas.


Hanya berpikir untuk sampai ke tujuan, tanpa mempertimbangkan hasil dari perjalanan yang ada dan terlalu malas untuk mendapatkan pengalaman penting dalam hidup. Berperang layaknya korban, tidak memikirkan kesalahan apa yang telah mereka lakukan kepada orang lain.


“Apa salahku? Kenapa aku diperlakukan seperti ini! Tidak! Dia yang salah! Dia kejam kepadaku!”


Dengan penuh keangkuhan, bersikukuh bahwa dirinya adalah orang baik dan tidak mau bercermin untuk melihat keburukannya sendiri. Itulah orang-orang malas yang hanya mendambakan hasil, menginjak-injak mereka yang berjuang dari awal dan mencurahkan warktu mereka.


Percayalah, meski napas terengah-engah karena terus berlari di dalam hutan, sisi lain dari tempat gelap tetap akan menunggu. Karena hasil yang didapat sebenarnya tidak akan mengkhianati kerja keras yang dicurahkan.


Jika engkau menaikkan wajah dan melihat apa yang ada di langit, petunjuk telah terbentang luas dalam kilauan titik-titik cahaya di sana. Naik, naik dan teruslah naik. Sampai dunia milikmu terus terbentang luas dan bisa melihat semua kebenaran yang ada.


Angin yang menggoyangkan dedaunan dengan penuh kelembutan, di suatu waktu pun bisa menumbangkan pohon. Tidak ada salahnya memiliki kebaikan dan lembut terhadap orang lain. Selama dirimu percaya, kebaikan itu bisa menjadi kekuatan besar pada saat dibutuhkan.


Itu pesan dariku untukmu yang kelak akan berdiri sampai akhir, terimalah semuanya dan jadikan banyak orang di sekitarmu sebagai rekan. Mereka akan menjadi angin milikmu, menjadi besar dan kuat kelak saat dibutuhkan.


Hati yang keruh dalam keheningan, namun malah tenang saat badai dahsyat menerpa. Kelak dirimu pasti akan memiliki hal aneh seperti itu. Namun, janganlah risau. Itu merupakan tanda bahwa engkau sedang memulai perjalanan baru yang kami dambakan.


Rentangkan peta lebar-lebar, perluas dunia milikmu dan pahamilah. Tidak perlu mengambil jalan yang benar, hanya pilihlah mana yang dirimu inginkan. Kali ini …, kali ini diriku dan mereka sangat berharap tidak ada yang akan menyalahkan dan mengutuk engkau dengan umpatan kejam.


Oh, wahai perwakilan kami yang menanggung segala beban dari Dunia Sebelumnya.


.


.


.


.


Terdiam. Seakan tenggelam dalam pikirannya sendiri di tengah kepentingan, Odo hanya berdiri melamun sembari membawa peta Teritorial Kota Mylta di tangannya. Hari sudahlah sore, awan mendung kembali mengisi langit dan hawa dingin pun mengikuti.


Pada halaman depan Kediaman Luke, beberapa orang berkumpul karena dipanggil oleh pemuda rambut hitam tersebut. Beberapa Shieal seperti Minda, Fiola, Imania, dan Julia, lalu di tempat tersebut juga ada Mavis.


Minda tampak telah menyiapkan bahan-bahan yang Odo minta darinya, meletakkan semua itu di atas bangku taman dan menunggu perintah lain dari sang Tuan Muda. Garam Gunung dan Garam Laut, Rosemary, Salmon yang masih utuh, dan Rosella, itulah bahan-bahan yang tersedia.


Sedangkan untuk Fiola dan Julia, mereka berdua membantu menggambar lingkaran sihir jenis transmutasi dengan kapur pada permukaan jalan batu. Lingkaran sihir tersebut tidak memiliki keunikan atau efek khusus seperti mengubah zat atau senyawa, hanya bersifat untuk transmutasi dasar perubahan bentuk fisik.


Setelah selesai menyiapkan semua yang diperintahkan oleh Odo Luke, mereka semua berdiri dan menatap ke arah pemuda rambut hitam itu dengan heran. Merasa Tuan Mudanya tersebut kembali tenggelam dalam lamunan, Fiola mendekatinya.


“Semuanya sudah siap, Tuan Odo. Sekarang apa lagi yang Anda perlukan?”


Odo sedikit tersentak dan menurunkan peta yang dirinya pegang dengan kedua tangan. Ia menggulung peta yang terbuat dari perkamen tersebut, lalu memasukkannya ke dalam saku celana. Menatap dengan mimik wajah yang tampak sedikit ling-lung, pemuda itu sejenak menarik napas dalam-dalam dan berusaha fokus.


“Kita tunggu sebentar lagi. Kalau tidak ada kendala, seharusnya dia akan kembali sekarang ini,” ucap Odo sembari memalingkan pandangan ke arah teras Mansion. Angin sore berhembus cukup kencang, membawa hawa dingin dan membuat rambutnya berombak. Sembari kembali menatap Fiola, Odo memasang senyum tipis dan berkata, “Tunggu sebentar lagi, ya?”


“Saya tidak keberatan. Tapi ….”


Fiola menoleh ke arah Mavis yang berdiri di dekat lingkaran transmutasi di tengah jalan taman, merasa tidak enak jika membiarkan Marchioness terus berada di luar pada waktu sore yang cukup berangin.

__ADS_1


Mendengar pembicaraan dan ditatap oleh mereka berdua, Mavis sedikit memasang wajah cemberut. “Kalian tak perlu memperlakukan diriku seperti orang sakit terus. Lagi pula, memangnya siapa yang kamu tunggu, putraku?” tanyanya heran.


“Matius. Seharusnya dia akan pulang hari ini, tentu dengan bahan yang aku perlukan.”


Odo menghela napas ringan, berjalan ke sudut jalan taman dan berjongkok di depan salah satu bunga morning glory yang kuncup saat sore hari. Menyipitkan mata dalam keheningan, terdiam dan hanya menatap dalam-dalam bunga bisa memiliki makna janji yang akan dipegang teguh tersebut. Seakan-akan dirinya sedang meneguhkan keputusan dalam hati.


Mavis ingin bertanya bahan apa yang telah Odo minta dari Matius. Namun saat melihat ekspresi putranya tersebut, wanita rambut pirang itu hanya terdiam dan berjalan ke sebelah Fiola.


Di tengah suasana senyap yang tidak sampai dua menit tersebut, orang yang mereka tunggu akhirnya tiba. Di depan Mansion, keluar genangan air bercahaya yang dengan cepat memunculkan Matius Mitus menggunakan kekuatan Puddle miliknya.


Pria rambut cokelat dengan mata Heterochromia tersebut masih menggunakan pakaian yang sama seperti sebelum pergi ke Ibukota, berupa seragam yang sering digunakan oleh para pegawai Ordoxi Nigrum. Ia juga membawa sebuah stoples berisi air, karung dengan bahan-bahan tambahan untuk ritual dan untuk toko, serta sebuah perkamen yang merupakan peta dari Ibukota Kerajaan Felixia.


Melihat kedatangan pria tersebut, untuk sesaat hampir semua orang di tempat tersebut terkejut. Bukan karena kehadirannya, tetapi lebih seperti tidak percaya dengan semua rencana yang telah Odo Luke susun dengan rapi sejak beberapa hari lalu.


“Apa kau mendapatkan semuanya?” Odo berhenti berjongkok dan berjalan menghampiri Matius. Sembari mengulurkan tangan untuk meminta barang yang diperlukan, pemuda itu kembali bertanya, “Apa si Raja itu juga meminta kau untuk melakukan sesuatu dengan kekuatanmu?”


“Persis seperti yang Tuan Odo sampaikan ….” Matius menurunkan karung kain yang dirinya pinggul ke jalan, lalu berjongkok dan mencari bahan yang Odo minta sebagai prioritas untuk dirinya cari selama berada di Ibukota Kerajaan Felixia. Sembari menyerahkan sebuah tanduk berwarna hitam dari dalam karung dan stoples air kepada Odo, ia kembali berkata, “Silahkan, Tuan. Ini tanduk Drake yang Anda minta. Ternyata di sana banyak yang jual bahan-bahan langka seperti ini, ya. Meski harganya cukup mahal sih ….”


“Terima kasih …. Untuk peta dan bahan lain, kau boleh membawanya ke gudang toko untuk disimpan.” Odo menerima tanduk dan stoples tersebut, lalu langsung berbalik ke arah Fiola dan berkata, “Kita akan memulai ritualnya, cepat masuk ke dalam lingkaran!”


“Tunggu sebentar!” Fiola menatap curiga, merasa tanduk Drake yang dibawa Odo melambangkan suatu hal negatif. “Memangnya untuk apa tanduk itu? Dan juga, air itu kalau dilihat-lihat ternyata Air Suci, bukan? Jangan bilang kalau itu dari Danau Millia?” tanya Huli Jing tersebut dengan nada menekan.


“Hebat, kau bisa tahu dengan sekali lihat.”


“Untuk apa?!” tanya Fiola untuk menegaskan.


Odo sekilas memalingkan pandangan, berjalan ke arah Huli Jing tersebut sembari menjelaskan, “Tanduk Drake bisa dipakai sebagai medium yang kuat. Meski hanya satu bagian saja, ini bisa dipakai sebagai manifestasi dari makhluk kuat tersebut. Lalu untuk Air Suci, anggap saja sebagai katalis selama ritual.”


“Medium? Katalis? Memangnya apa yang ingin Anda panggil?” tanya Fiola mencemaskan.


“Aku tidak akan memanggil siapa-siapa. Ritual kali ini sangatlah sederhana, yaitu menjadikan kau Dewi Pseudo untuk bisa meningkatkan sihir pendeteksi.”


Fiola terdiam, menatap tajam dan paham apa yang Odo ucapkan bukanlah sebuah omong kosong. Berusaha untuk mencerna kalimat pemuda itu baik-baik, ia kembali bertanya, “Hanya memastikan, Dewi yang Anda maksud itu bukan hanya kata sanjungan bukan? Yang Anda maksud itu Dewi dari⸻?”


“Tentu saja Dewi dari Dimensi Tingkat Tinggi,” potong Odo. Pemuda itu menawarkan tanduk Drake kepada Fiola, lalu dengan nada serius berkata, “Apa kau takut? Bukannya mencapai keilahian merupakan impian ras Huli Jing? Karena itulah kau mengorbankan ingatan setiap seribu tahun sekali untuk mendapatkan kekuatan?”


Itu terdengar seperti sindiran bagi Fiola. Dengan rasa kesal dirinya mengambil tanduk dari Odo, lalu menarik napas dalam-dalam dan membalas, “Asal Anda tahu, mengorbankan ingatan adalah cara hidup saya! Bukan keinginan saya melakukan hal seperti itu, jadi jangan bicara seolah-olah semua ingatan tersebut tidak berharga.”


“Aku paham, ingatan dari masa lalu itu memang sangat berharga.”


Odo langsung mendorong Fiola, membuatnya melangkah ke belakang dan masuk ke dalam lingkaran transmutasi. Seketika Huli Jing tersebut merasa kesal, menatap tajam sampai sihir transformasinya terlepas secara penuh dan kesembilan ekor rubahnya keluar dari bawah gaun. Telinga rubah pun muncul, bersamaan dengan kornea mata yang berubah pipih seperti hewan liar.


“Anda tak perlu kasar seperti itu⸻!”


Odo segera menyatukan jari tengah dan telunjuknya, lalu langsung mengayunkannya ke atas sembari berkata, “Batas!”


Lingkaran transmutasi berdiameter 3 meter itu seketika aktif, membuat kapur-kapur yang menjadi pembentuknya mulai bercahaya terang dan menjadi tidak bisa dengan mudah dihapus. Sebelum Fiola bisa melangkah keluar, pembatas terbentuk dan mengurung Huli Jing tersebut di dalam lingkaran.


“Odo … apa yang kau lakukan?” Fiola menatap datar. Bukannya langsung menghancurkan pembatas tipis tersebut, dalam rasa kesal ia hanya menatap datar ke arah pemuda rambut hitam di hadapannya.


“Tentu saja membuat pembatas. Dengan menggunakan sihir transmutasi bentuk, aku sedikit menggunakan alkimia untuk mengubah aliran udara dan membuat dinding.”

__ADS_1


Jawaban itu tidak menjawab pertanyaan Fiola, membuatnya semakin kesal dan tanpa pikir panjang langsung mengayunkan salah satu ekornya untuk menghancurkan dinding udara yang mengurungnya. Tetapi saat ekor tersebut menyentuh dinding tak kasat mata, seketika ekor tersebut dengan mudah menembusnya.


Itu membuat Fiola terkejut, lalu ia pun kembali memastikannya dengan kedelapan ekor lainnya. Persis seperti yang dirinya kira, dinding udara sama sekali tidak memiliki fungsi untuk mengurungnya.


“Dinding apa ini? Bentuknya samar dan juga bisa dengan mudah ditembus?” tanya Fiola heran.


Mendengar pertanyaan Fiola dan menatap ke arahnya, Mavis Luke berjalan mendekati putranya sembari menjawab, “Sebuah lambang untuk pembatas dunia. Untuk bisa mencapai Dimensi Tingkat Tinggi, diperlukan singgasana kekuasaan. Karena itulah pemisah diperlukan.” Mavis menoleh ke arah putranya, lalu dengan sedikit penasaran memastikan, “Apa benar seperti itu, Odo?”


“Tepat sekali. Bunda juga mempelajari metode semacam ini?” tanya Odo sembari mengayunkan kedau jarinya ke bawah. Lingkaran sihir semakin aktif, membuat batas yang semakin tebal namun efek untuk mengurung sama sekali tidak bertambah.


Mavis menghela napas ringan, memalingkan pandangan dan berkata, “Memangnya metode ini ada di buku? Bukannya kamu yang mengembangkannya sendiri?”


“Yah, jujur saja ini hanya asimilasi dari beberapa metode. Intinya membuat sebuah singgasana semu untuk mencapai Pseudo Ilahi.” Odo sesaat menghentikan persiapan, lalu menoleh ke arah Mavis dan bertanya, “Apa tidak masalah jika aku mencobanya?”


“Hey! Paling tidak tanya dulu kepada orang yang ingin Anda jadikan bahan uji coba!” bentak Fiola. Saking kesal karena pendapatnya sama sekali tidak dipedulikan, bulu-bulu kesembilan ekor wanita rubah tersebut sampai berdiri tegak dan mengembang besar.


“Yah ….” Odo perlahan menoleh, lalu sembari tersenyum licik berkata, “Kalau Bunda setuju, ujung-ujungnya kau akan mau, ‘kan?”


“Ugh, anak ini ….” Fiola hanya memasang wajah kecut, merasa kesal namun tidak bisa melakukan apa-apa kepada pemuda tersebut.


“Apa ada risikonya, Odo?” tanya Mavis sedikit cemas.


Mendengar itu, Odo menoleh ke arahnya. Sembari tersenyum lebar ia pun menjawab, “Aku jamin berhasil. Namun …, sekitar 50% ada kemungkinan Fiola tidak bisa kembali lagi ke status Mortal.”


“Eh!!?”


“Hmm ….”


Fiola benar-benar terkejut mendengar hal tersebut, sedangkan Mavis hanya meletakan tangan ke dagu dan mempertimbangkan risiko yang ada.


Tidak ingin menjadi makhluk ilahi sepenuhnya sekarang karena masih memiliki beberapa kepentingan di Dunia Nyata, sang Huli Jing langsung berkata, “Tunggu sebentar! Bukankah 50% terlalu banyak! Itu sama saja taruhan! Anda tak masalah kalau saya menjadi makhluk ilahi sepenuhnya, Nyonya Mavis?!”


Memalingkan pandangan dengan sedikit canggung, Mavis hanya diam dan tidak membantu Fiola untuk menolak keinginan Odo. Merasa ditelantarkan dan majikannya tersebut lebih memilih putranya, seketika Fiola menatap tajam ke arah Odo Luke.


“Kau tak perlu menatap aku sampai seperti itu ….”


Odo berjalan masuk ke dalam lingkaran sihir, lalu membuka penutup stoples yang dibawanya dan meminum setengah isinya. Dalam hitungan detik, air suci yang masuk ke dalam tubuh pemuda itu bereaksi dan stimulasi unsur makhluk ilahi pun terjadi.


Kornea mata berubah keemasan, partikel cahaya mulai berkumpul dan membentuk Halo di atas kepala pemuda rambut hitam tersebut. Bersamaan dengan tanda-tanda manifestasi malaikat yang terjadi, aura kekuatan ilahi yang menyelimuti dirinya mulai menciptakan sepasang sayap putih pada punggungnya.


Melihat manifestasi malaikat dengan mudah Odo lakukan hanya dengan meminum air suci, baik Fiola, Mavis, ataupun semua orang yang melihatnya terkejut. Hawa keberadaan milik pemuda itu dengan jelas berubah, berganti dari mortal menjadi makhluk dari dimensi tingkat tinggi yang terasa mencekam serta memancarkan tekanan kuat di sekitarnya.


\==========================


Fakta 005: Jangan dorong Odo ke laut saat sedang mengaktifkan Spekulasi Perspesi, itu bisa membuatnya gila.


Spekulasi Perspesi membuat kondisi tubuhnya menjadi semacam isolator informasi yang sangat sensitif, sehingga akan sangat fatal jika bernsentuhan dengan air laut dalam jumlah banyak.


Masih tak paham? Silahkan pahami siklus air dulu, berasal dari mana dan berakhir dari mana. Dalam proses tersebut, air laut menampung banyak informasi. Berkaitan juga dengan teori Sup Purba Kala.


Kalau masih tidak bisa membayangkannya, anggap saja seperti barang elektronik yang tidak boleh jatuh ke air.

__ADS_1


__ADS_2