
Leviathan memberikan tatapan curiga. Paham bahwa pemuda itu masih memegang rahasia besar, lalu memiliki sifat licik yang membuatnya tidak bisa diremehkan atau dipercaya sepenuhnya.
Odo menghela napas panjang saat ditatap tajam oleh Leviathan. Seraya memalingkan tatapan dengan resah, pemuda itu dengan kesal mengeluh, “Asal kau tahu, aku terpaksa kenal dengan kuntilanak itu. Bukan karena ingin!”
“Kunti⸻? Apa?” Mimik wajah curiga Leviathan langsung berubah heran.
Tanpa terlalu memedulikan hal tersebut, Odo lanjut berkata, “Kalau tidak berusaha mengenal ****** itu, aku takkan bisa membuat antisipasi kalau dia mengacau.”
“Ah, diriku sempat lupa ….” Leviathan kembali curiga. Sembari menatap sinis, Putri Naga itu lekas menekan, “Engkau berasal dari tempat yang sama seperti Dewi bedebah itu, ya. Tidak aneh kalau kalian saling mengerti.”
“Sudahlah, kembali ke topik awal.” Odo mengelak dan enggan untuk melanjutkan topik tersebut. Kembali berdiri dan sedikit meregangkan tubuh, pemuda itu lekas menatap lurus lawan bicara seraya lanjut menjelaskan, “Jika memang Helena menggunakan kekuatannya untuk memanipulasi struktur tempat ini, satu-satunya langkah untuk mengatasinya adalah dengan menulis ulang Core Realm.”
“Menulis ulang?” Leviathan sedikit memiringkan kepala dengan bingung.
“Aitisal Almaelumat ….” Odo menggigit ibu jarinya sendiri sampai berdarah. Saat cairan merah mengalir keluar sampai telapak tangan kanan, pemuda itu menunjukkannya ke depan seraya berkata, “Kau pernah dengar itu dari Seliari, kan?”
“Ah, milik Raja Iblis Kuno itu?” Darah tersebut mengingatkan Leviathan dengan malam tragedi, mirip seperti warna Wine merah yang disajikan oleh Raja Iblis Kuno untuk mengutuk Keluarga Naga Agung. Sedikit menajamkan tatapan dan memperlihatkan mimik wajah kesal, Putri Naga tersebut menunjuk lurus seraya berkata, “Kekuatan menjijikkan yang membuat kelurga⸻”
“Tepat sekali ….” Odo menyela tanpa pikir panjang, lalu menutup telapak tangan dan menjilat luka pada ibu jari. Dalam hitungan detik luka tersebut tertutup rapat, hanya meninggalkan bekas darah yang samar pada kulit.
“Odo! Engkau ini!” Leviathan membentak kesal karena disela, merasa tidak dihargai dan lekas melangkah maju. Mendekatkan wajah dan menatap tajam, Putri Naga tersebut langsung menegaskan, “Kenapa engkau seakan tidak peduli dengan tragedi itu? Meski tidak ikut campur secara langsung, pada dasarnya kami hampir punah karena keberadaanmu!”
“Aku tak ingin mendengar ocehan itu lagi.” Odo memalingkan pandangan, sedikit memperlihatkan ekspresi muram dan kembali berkata, “Asal kau tahu, aku masih berdiri di sini dan bicara panjang lebar karena terpaksa. Tolong pahami itu dan berikan saja toleransi, soalnya diriku juga sudah menahan diri dari tadi.”
Odo lekas menatap tajam, memberikan intimidasi kuat seakan muak dengan pembicaraan yang tidak kunjung selesai. Berdecak dengan kesal, pemuda rambut hitam tersebut lekas menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
“Ba-Baiklah ….”
Tidak ada yang khusus dalam tatapan Odo, namun hal tersebut sudah cukup untuk Leviathan mengalah sampai melangkah mundur dengan gemetar. Sang Putri Naga paham bahwa dirinya sudah kalah dari pemuda itu secara psikologis, tidak merasa bisa menang jika beradu intimidasi meski dalam wujud Transformasi Naga.
“Kita lanjutkan.” Odo lekas membuang jauh-jauh wajah suramnya, berganti dengan senyum dingin layaknya sebuah topeng keramik. Tidak mengungkit hal sensitif, pemuda rambut hitam tersebut lanjut menjelaskan, “Jika memang struktur Realm telah dimanipulasi, kita hanya perlu mengubahnya dengan Aitisal Almaelumat. Seharusnya kau sudah tahu caranya, bukan? Saat mendengar cerita Seliari tentang diriku, paling tidak hal semacam itu sempat terpikirkan olehmu.”
“Memang! Melakukan sesuatu pada Core Realm adalah penyelesaian tercepat.” Leviathan tidak membantah seakan memang punya rencana yang serupa. Sedikit mempertimbangkan permasalahan yang ada, Putri Naga tersebut dengan ragu menyampaikan, “Karena itulah, diriku meminta Reyah dan Vil untuk melacak aliran Ether yang tersisa untuk mengetahui lokasinya. Namun ….”
“Sampai sekarang belum ketemu? Tidak ada aliran yang jelas sehingga lokasi Core Realm tidak kunjung diketahui …, benar?” Odo sedikit tersenyum meremehkan, segera paham bahwa posisinya juga ikut berubah saat Dunia Astral mengalami Restorasi.
“Sayang sekali pencariannya belum kunjung membuahkan hasil, sangat memalukan padahal diriku sudah menuntut banyak hal dari engkau. Bahkan ….” Sekilas menoleh ke arah Vil, dengan mimik wajah sedikit berharap Leviathan lekas memastikan, “Kalian tadi belum juga menemukannya, ‘kan?”
“Maafkan saya. Meski sudah dibantu oleh Roh Tingkat Atas lainnya, tetap tidak ada ….” Vil memalingkan pandangan. Sembari memegang tongkat Veränderung erat-erat dengan kedua tangan, Siren tersebut kembali menyampaikan, “Sejauh observasi, memang masih ada beberapa aliran Ether di dalam laut. Namun, itu sangat tipis dan tidak merata layaknya serat. Sangat sulit untuk melacak sumbernya. Mungkin saja … Reyah bisa mendapatkan hasil yang berada.”
“Tenang saja!” Odo bertepuk tangan sekali. Melempar senyum hangat yang terlihat palsu dan mencurigakan, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Saat perjalanan kemari aku sudah melacaknya. Setelah Reyah, Laura, dan Magda sampai, kita bisa langsung berangkat ke tempatnya.”
“Sungguh?!” Vil langsung senang mendengar itu, tidak curiga dan sepenuhnya percaya.
Berbeda dengan Roh Agung tersebut, Leviathan hanya memberikan tatapan sinis. Sedikit memasukkan bibir ke mulut seakan sedang menahan cemooh supaya tak keluar, tampak sangat ingin mengutarakan keraguannya.
“Untuk apa aku bohong …?” Odo memalingkan pandangan karena tatapan sinis Leviathan. Sedikit mengusap kening yang terasa lengket, pemuda rambut hitam tersebut lekas mengubah topik dengan berkata, “Sudahlah! Mari lanjut ke kemungkinan berikutnya! Kalau memang terbukti Realm ini murni mengalami Rekonstruksi Dunia, cara yang kita bahas tadi bakal hangus.”
“Sebentar!! Hangus?!” Leviathan langsung panik, segera paham bahwa rencananya juga bisa hangus karena punya hubungan erat dengan Core Realm. Tanpa pikir panjang Putri Naga itu langsung berjalan mendekat, menarik kerah rompi lawan bicaranya dan bertanya, “Kalau memang hanya Rekonstruksi Dunia, berarti seiring berjalannya waktu kondisi Dunia Astral akan kembali seperti semula, ‘kan?! Siklus kelahiran Roh Tingkat Rendah akan kembali normal! Lalu! Distorsi Spasial muncul lagi dan⸻?!”
__ADS_1
“Baik itu Distorsi Spasial maupun warna hue saturation pada tumbuhan, semua itu hanyalah buatan di Dunia Astral ini. Bukan fenomena alami ….” Odo menggenggam erat kedua tangan Leviathan. Menatapnya dari dekat, pemuda rambut hitam tersebut dengan kuat menegaskan, “Semuanya hanyalah buatan!”
“Eh …?” Wajah Leviathan langsung memucat. Sebagai salah satu makhluk yang pernah tinggal Dunia Astral dalam waktu lama, dirinya sama sekali tidak menyadari atau bahkan memikirkan hal tersebut. “Bu-Buatan? Tidak! Tidak mungkin! Tidak mungkin … semuanya hanya buatan!!” bantah Putri Naga itu dengan gemetar.
“Semua karakteristik yang lenyap selama proses Restorasi hanyalah buatan Helena. Terserah kau untuk percaya atau tidak, tapi itu adalah fakta.”
Meski berkata seperti itu, Odo paham bahwa pernyataan tersebut terlalu keras untuk Leviathan. Sedikit menggeser tatapan kepada seluruh Roh Agung yang berkumpul, mereka pun memperlihatkan ekspresi tercengang dan tampak cemas. Tidak menyangka bahwa seluruh pemandangan yang mereka anggap wajar sebelumnya hanyalah buatan.
Paham perlu memberikan penjelasan kepada mereka, Odo menghela napas ringan dan lekas bertanya, “Pada masa kejayaan makhluk primal, kau pasti pernah dengar bahwa Dewi Helena sempat melakukan eksperimen terhadap Realm, bukan?”
“Hmm ….” Leviathan mengangguk, lalu dengan nada sedikit ragu berkata, “Kalau tidak salah ingat, bahkan karena itu bangsa kami sempat mendatangi kayangan untuk protes.”
“Eksperimen Realm itu salah satunya dilakukan di tempat ini,” jelas Odo singkat.
“Hah?!” Leviathan terkejut bukan main. Memegang kencang kerah pemuda itu, sang Putri Naga langsung mengguncang-guncang tubuhnya dengan kencang sembari bertanya, “Berarti eksperimennya sudah selesai?! Bedebah itu berhasil menguak rahasia struktur Realm?!”
“Kemungkinan besar sudah.” Odo menahan Leviathan supaya berhenti mengguncang tubuhnya. Sembari berusaha melepaskan kedua tangan Putri Naga, pemuda rambut hitam itu lanjut menjelaskan, “Bangsa Roh juga sebenarnya bukan entitas alami di Realm ini.”
“Eh …?” Leviathan langsung lemas saat mendengar itu.
“Untuk kepentingan pribadinya, Helena mempercepat evolusi sebuah unsur kehidupan sampai titik tertentu,” jelas Odo seakan tanpa beban. Berusaha untuk tidak memedulikan ekspresi semua Roh Agung yang juga tampak cemas dan tidak percaya, pemuda rambut hitam tersebut mengangkat tangan sang Putri Naga dari kerah dan lanjut menjelaskan, “Kemudian hasil tersebut digabungkan dengan entitas asli lainnya, lalu terciptalah kehidupan baru yang disebut Roh seperti sekarang. Semua itu diatur dalam sebuah hierarki, diawasi sekaligus dikendalikan oleh seorang Dewi yang sengaja dijatuhkan oleh Helena.”
“Sebentar! Tunggu!” Leviathan semakin cemas. Membayangkan perasaan para Roh Agung saat mendengarkan hal tersebut, ia segera menoleh dengan cemas. Wajah pucat, tatapan penuh rasa cemas, dan mulut yang terbuka seakan ingin membantah namun tidak bisa. Setelah melihat ekspresi mereka semua, Putri Naga segera kembali menarik kerah Odo dengan sangat kencang dan langsung membantah, “Buatan?! Roh?! Mereka semua?! Memangnya bagian mana yang membuat mereka buatan?! Apalagi buatan Dewi sialan itu!!”
“Semuanya ….” Odo berusaha melepaskan tangan Leviathan. Namun, perbedaan kekuatan fisik yang terlalu besar membuatnya menyerah. Menarik napas resah, pemuda rambut hitam tersebut lanjut menjelaskan, “Mereka semua buatan Helena. Kau tahu, bahkan manusia yang ada di Dunia Nyata juga buatan ****** itu. Memangnya kau lupa Dewi itu disebut apa oleh seluruh makhluk?”
“Eh⸻?!” Leviathan langsung melepaskan Odo, melangkah mundur dan tersandung kelapa sampai terjatuh. “Manusia di Dunia Nyata juga? Engkau sedang bergurau, ‘kan? Kalau mau membuat muslihat, tolong jangan berlebihan dan pakai saja kebohongan yang wajar,” ujar Putri Naga dengan gemetar.
“Asal kau tahu, manusia itu sebenarnya tidak bisa menggunakan sihir.” Odo kembali menegaskan. Tidak memberikan waktu Leviathan untuk menerima fakta tersebut, pemuda itu lanjut menjelaskan, “Mereka juga tidak bisa merasakan Ether maupun Mana. Mereka hanyalah makhluk lemah yang hanya bisa mengandalkan pengetahuan, pengorbanan, dan dedikasi.”
“Se-Sebentar!” Meski masih lemas dan gemetar, Leviathan berusaha bangun. Memahami makna di balik fakta yang disampaikan pemuda itu, Putri Naga tersebut lekas berkata, “Ini terlalu tiba-tiba! Buatan? Semuanya adalah ciptakan Dewi itu? Dirinya memang Dewi Penata Ulang! Namun! Sejauh yang diriku tahu bedebah itu tidak⸻!”
“Semuanya adalah ciptaan Dewi itu.” Odo menegaskan hal tersebut, seakan-akan dirinya tidak ingin menyampaikan fakta tentang Dunia Nyata dan konsep Awal Mula. Berusaha menghindari topik tersebut dan menyembunyikannya dari Leviathan, pemuda rambut hitam itu segera melanjutkan penjelasan, “Tetapi, bukan berarti Helena mampu mengendalikan mereka. Sebagai pemilik konsep Kemahakuasaan, dia memang bisa menciptakan segalanya. Mampu melakukan apa saja! Akan tetapi, Dewi itu takkan bisa memahami seluruh ciptaannya. Karena itulah, selalu terjadi galat dalam struktur yang dia buat.”
“Takkan bisa … memahami?” Leviathan teringat kembali dengan pesan yang disampaikan Seliari, terutama tentang Kemahatahuan yang mungkin telah menyatu dengan Odo Luke.
“Hmm ….” Odo mengangguk. Seraya menunjuk lawan bicara, pemuda itu dengan tegas berkata, “Karena itulah, kejadian-kejadian di luar kehendaknya sering terjadi. Contohnya seperti yang dilakukan para Iblis, makhluk primal, bahkan satu Dewi lainnya yang memilih jatuh dan mulai mencintai Dunia Nyata.”
“Bahkan apa yang terjadi manusia juga?” tanya Leviathan memastikan.
Odo terdiam sejenak tanpa mengubah ekspresi, berusaha tenang dan tetap ingin menyembunyikan fakta tentang Dunia Nyata yang tercipta dari Kehendak Awal Mula. Seraya berhenti menunjuk, pemuda tersebut lekas menjawab, “Kalau yang kau maksud adalah makhluk seperti manusia di Dunia Nyata, jawabannya adalah iya.”
“Mereka … benar-benar bukan manusia, ya?”
Leviathan sangat gelisah dengan hal tersebut. Sebagai salah satu entitas kuno yang dulu pernah hidup berdampingan dengan umat manusia, dirinya sama sekali tidak menyadari kejanggalan tersebut. Merasa bahwa wajar untuk manusia bisa menggunakan sihir seperti makhluk primal, karena mereka juga bisa melakukan hal tersebut sejak lahir.
“Aku tegaskan ini sekali lagi. Umat manusia pada Dunia Sebelumnya tidak bisa mengeluarkan api dari tangan mereka, apalagi loncat sampai setinggi belasan meter. Baik itu sihir ataupun manipulasi Mana untuk penguatan tubuh, mereka sama sekali tidak bisa melakukan hal semacam itu.”
“Hmm?” Leviathan sedikit merasa janggal dengan penjelasannya. Segera menatap tajam lawan bicara, sang Putri Naga mendekatkan wajah dan lekas bertanya, “Kalau mereka tidak bisa melakukan manipulasi Mana, lantas engkau itu apa?”
__ADS_1
“Dulu aku juga manusia murni, awalnya diriku tidak bisa melakukan hal semacam itu.” Odo sekilas mengangkat kedua sisi pundak. Memalingkan pandangan dan memperlihatkan wajah resah, pemuda itu dengan suara sedikit serak menyampaikan, “Awalnya aku juga tidak bisa mengeluarkan api dan petir dari tangan, atau loncat sampai belasan meter dan sebagainya. Sayangnya, untuk beradaptasi diriku sudah membuang hampir semua batas kemanusiaan.”
“Membuang … batas kemanusiaan?” Leviathan tercengang, tidak pernah memikirkan hal tersebut atau bahkan membayangkan batasan umat manusia.
“Meski umat manusia luar biasa dan potensi, mereka seharusnya tetap mematuhi batasan dan sadar diri.” Odo sedikit memperlihatkan ekspresi menyesal. Bersandar dengan lemas pada pohon kelapa dan menundukkan wajah, pemuda itu dengan lesu menyampaikan, “Modifikasi genetik, itu mirip seperti yang dilakukan Helena untuk menciptakan Roh. Aku memodifikasi bentuk kehidupan ku supaya bisa beradaptasi. Menggabungnya dengan tumbuhan supaya bisa menghemat pangan, binatang untuk meningkatkan daya tahan, lalu serangga untuk menyalin kemampuan bertahan hidup mereka. Bahkan …, sampai mikrooganisme dan virus sempat aku gunakan untuk membuat sistem pertahanan eksternal.”
“Penyatuan bentuk kehidupan?”
Leviathan tidak bisa membayangkan hal tersebut. Meskipun tahu tentang Khimaira yang merupakan makhluk dengan unsur campuran, Putri Naga merasa bahwa penjelasan Odo sangat berbeda dengan itu. Terasa lebih secara mendasar dan rumit, seakan ada kaitannya dengan Sihir Khusus yang dimiliki oleh segelintir Naga Agung.
“Penyatuan, bukan penggabungan ….” Odo memperjelas perkataanya. Menarik napas dalam-dalam dan menatap lawan bicara dengan lesu, pemuda rambut hitam itu tanpa ragu lanjut menyampaikan, “Sampai pada puncaknya, aku menanamkan radiasi serta alat reaktor supaya bisa menggunakan Unfar secara langsung. Dalam bentuk organ tambahan, terletak di sekitar jantung dan dapat berkembang bersama pembuluh darah.”
“Itu … Inti Sihir?”
“Tepat ….” Odo bertepuk tangan pelan. Berhenti memperlihatkan ekspresi dan mulai terlihat hampa, pemuda itu dengan suara lirih berkata, “Menjijikkan, bukan? Tak perlu sungkan dan katakan saja yang kau pikirkan. Soalnya aku juga merasa seperti itu ….”
“Odo Luke, engkau ….”
Pada momen tersebut, Leviathan paham bahwa pemuda itu membenci dirinya sendiri. Hampir melebihi batasan tidak normal, terlihat seperti membantah kehendak pribadi untuk sebuah kepentingan atau ambisi.
“Meski itu untuk bertahan hidup, jujur kalau diingat kembali seperti ini rasanya memang menjijikkan.” Odo menutup mulutnya sendiri, tampak mual dan wajah pun sedikit memucat. Menatap lemas lawan bicara, pemuda itu dengan mimik wajah kesal bertanya, “Untuk apa aku melakukan semua hal mengerikan itu hanya untuk bertahan? Eksperimen manusia, pembedahan hidup-hidup, rekayasa genetik dari janin, pembuahan buatan, mutasi buatan, memangnya semua itu untuk apa?”
“Entahlah ….” Meski tidak tahu apa yang pemuda itu bicarakan, Leviathan merasa sedikit kasihan saat melihatnya seperti itu. Mengambil langkah tegas dan kasar, dengan suara lantang Putri Naga langsung membentak, “Diriku tak ingin mendengar engkau mengeluh lagi! Lanjutkan saja penjelasannya! Tadi engkau sempat bilang kalau ini benar-benar Restorasi Dunia, metode pertama dengan Aitisal Almaelumat akan hangus, bukan?! Apakah dirimu punya alternatif yang bisa digunakan?!”
Odo sedikit terkejut dengan sikap tegas tersebut, tidak mengira Leviathan akan khawatir dan lebih memilih untuk melanjutkan topik utama. Menarik napas dan mengusap wajah dengan lengan, pemuda itu kembali memasang senyuman yang terlihat seperti topeng.
“Ada.” Jawaban tersebut keluar dengan penuh rasa percaya diri. Sembari melebarkan senyum tipis, Odo Luke dengan nada tegas menyampaikan, “Namun, cara ini memakan waktu dan terbilang tidak nyaman. Terutama untuk bangsa Roh.”
“Coba katakan caranya,” tantang Leviathan seraya melipat kedua tangan ke depan.
“Aku bisa menanamkan benih kepada seluruh Roh Agung⸻”
“Mesum!” sela Putri Naga seraya menunjuk kesal. Wajahnya sedikit memerah karena langsung salah paham dengan maksud pemuda itu, lalu dengan gugup menolak, “Enggak boleh! Meski untuk melanjutkan ras, itu terlalu tidak beradab! Dasar primitif!”
Mengikuti kesalahpahaman tersebut, hampir seluruh Roh Agung yang mendengarnya pun langsung menjaga jarak dari Odo. Memberikan tatapan sedikit merendahkan, merasa bahwa saran tersebut terlalu berlebihan untuk masalah itu.
Berbeda dengan Diana dan Alyssum yang memperlihatkan reaksi enggan, Vil sama sekali tidak keberatan dan malah menatap antusias. Merasa bisa bersaing dengan Reyah yang telah membuat kontrak khusus, lalu menciptakan Roh menggunakan komposisi struktur sihir.
“Sebentar!” Apapun pendapat mereka tentang hal tersebut, Odo merasa kesalahpahaman itu bukanlah hal yang baik. Ia segera menunjuk Leviathan dan langsung meluruskan, “Biarkan aku selesai bicara! Dasar kau, jangan bikin yang lain salah paham! Kalau bisa bicara seperti itu, berarti kau sudah menebaknya, ‘kan?!”
“Hmm! Memangnya apa yang engkau bicarakan~?” Leviathan melipat kedua tangan ke belakang pinggang. Sembari memalingkan pandangan dan melangkah menjauh, Putri Naga tersebut kembali menggoda, “Diriku tidak paham~! Coba jelaskan, dong~”
“Uwah!” Odo langsung tersentak, lekas memasang mimik wajah datar dan memperlihatkan senyum jijik. Sembari mengerutkan kening, pemuda itu memandang rendah lawan bicaranya dan berkata, “Enggak ingat umur, kau pikir itu imut?”
“Hey!” Leviathan tersinggung, berhenti menggoda dan langsung memperlihatkan wajah kesal. Sembari menunjuk Putri Naga membentak, “Bukankah umur asli engkau lebih tua dariku? Engkau sudah hidup sejak Dunia Sebelumnya, ‘kan? Tak usah bahas-bahas umur, dah!”
“Eh~? Aku masih remaja, loh. Malah masih bocah~!” Odo memutar bola matanya untuk menghindari tatapan, lalu dengan meledek sepenuhnya mengelak, “Tolong jangan samakan diriku dengan nenek-nenek yang enggak kenal umur, dong.”
“Ugh!” Perkataan tersebut benar-benar menusuk Leviathan, melukai hatinya sebagai seorang perempuan. Mata mulai tampak berkaca-kaca seakan ingin menangis, lalu dengan hati resah dirinya menoleh ke arah Vil dan bertanya, “A-Apakah benar diriku terlalu tidak tahu diri? Tidak kenal umur? Memangnya makhluk-makhluk sekarang sifatnya bagaimana?”
__ADS_1
“Tenang saja, Odo hanya bercanda ….” Vil membalas dengan senyum tipis. Sembari mengacungkan telunjuk ke depan, Roh Agung rambut biru tersebut lanjut menyampaikan, “Diriku punya kenalan Huli Jing yang sifatnya mirip seperti perawan tua, padahal sudah hidup ribuan tahun. Jadi, seharusnya tidak masalah meski Nona Leviathan bertingkah sedikit centil seperti itu.”
“Ce-Centil? Diriku?” Leviathan semakin terpukul saat mendengar pendapatnya.