
Irama seakan berdengung di dalam kepala, ingin menyampaikan sesuatu bersama kenangan masa lalu yang perlahan naik ke permukaan. Hari yang sudah terlewat tidak akan datang kembali. Pemuda itu memahami hal tersebut dengan sangat baik.
Kehidupan ini bukanlah sebuah cerita di mana mereka bisa menemukan emas setelah melewati jembatan tujuh warna. Meski saling mengerti, memiliki kehendak selaras, dan pernah mengarungi waktu bersama, itu semua tidak menjamin akhir yang ada akan selalu memuaskan.
Pada sebuah kursi kayu, Odo Luke perlahan membuka mata. Memperlihatkan ekspresi seakan ingin meyakinkan diri sendiri dengan semua itu. Keping kenangan masa lalu masih kental di dalam kepala, membuat pemuda rambut hitam tersebut sedikit berkaca-kaca dalam kesedihan yang kuat. Memperlihatkan mimik wajah seakan ingin menangis.
Melihat hal tersebut, mereka yang berada di ruang perawatan itu terkejut. Tidak ada yang menyangka, bahwa Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut bisa memperlihatkan ekspresi seperti itu. Membuat mereka hanya tertegun dalam bingung.
Dalam kesunyian menjelang senja, angin masuk melalui jendela dengan lembut. Membuat gorden bergelombang, lalu menerpa wajah Odo dan membuat rambutnya sedikit berombak. Kesan tenang sangat kental padanya, meski beberapa saat yang lalu amarah adalah hal yang dominan. Sampai-sampai setiap orang yang melihat takut dihajar pemuda itu.
Tetapi setelah orang-orang pergi dari ruangan perawatan tersebut dan hanya menyisakan beberapa saja, Putra Tunggal Keluarga Luke duduk tenang di atas kursi kayu. Tidak mengatakan apa-apa, hanya diam menghadap Jonatan yang belum siuman di atas tempat tidur.
Ruina duduk di sisi lain tempat tidur, bersebelahan dengan Rosaria. Memasang wajah muram, keduanya tampak memperlihatkan ekspresi cemas masing-masing. Tidak saling menatap karena perasaan suram yang bercampur aduk, hanya menundukkan kepala dan saling diam seribu kata.
Bersandar cemas pada dinding ruang perawatan, Ferytan yang juga berada di ruangan itu hanya diam. Pria tua yang telah memenangkan duel tersebut dengan erat menggandeng tangan Lily’ami, lalu memperlihatkan rasa bersalah dan kecemasan atas apa yang telah dilakukan.
Di dekat pintu ruang perawatan yang tertutup, Oma Stein berdiri menghalangi pintu masuk bersama Ri’aima. Gerakan bola mata kedua anggota Keluarga Stein tersebut memperlihatkan gelagat bingung, seakan ingin bertanya namun tidak bisa menemukan momen yang tepat untuk melakukannya.
Dari sekian banyak orang yang memenuhi ruangan sekitar setengah jam lalu, hanya mereka saja yang tersisa dan masih berkumpul di tempat tersebut. Seakan-akan sedang menunggu penjelasan dari Odo Luke, ingin tahu mengapa sebelumnya pemuda itu memperlihatkan mimik wajah marah meski duel dimenangkan oleh perwakilannya.
Namun, sekarang pemuda itu malah terlihat tidak peduli lagi. Dengan amarah yang dirinya perlihatkan kepada semua orang beberapa saat lalu, ataupun hasil yang didapat dari duel yang telah berakhir.
Putra Tunggal Keluarga Luke hanya duduk diam di tempat. Sesekali memasang senyum tipis, lalu tiba-tiba memperlihatkan wajah sedih. Gelagat tersebut sangat tidak jelas, membuat setiap orang yang melihat pemuda itu tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya.
Di tengah suasana sunyi dan hembusan angin sore, Odo perlahan mengangkat wajah dan menatap ke arah Jonatan Quilta. Seakan sedang bertanya kepada Prajurit Elite yang tidak sadarkan diri tersebut, pemuda rambut hitam itu perlahan membuka mulut.
“Apa kau merasa nyaman seperti itu terus?” Satu pertanyaan itu terucap dari mulut Odo Luke dalam kelembutan. Perlahan melebarkan senyum seraya memperlihatkan mimik wajah menyindir, ia dengan nada sarkasme kembali berkata, “Tentu saja tidak, bukan? Kau takkan puas dengan hasil seperti ini. Hal yang ada sekarang bukanlah sesuatu yang kau harapkan, begitu pula diriku. Buka matamu, raih hal tersebut dengan tanganmu sendiri. Tak ada waktu untuk kita bermalas-malasan, aku menyelamatkan kau bukan untuk melihat pemandangan seperti ini.”
Sesuatu yang terucap itu membuat setiap orang yang mendengarnya bingung, lalu melihat ke arah Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut. Tidak bisa dimengerti, benar-benar aneh dan sekilas membuat mereka berpikir bahwa pemuda itu sudah gila.
Namun, pemikiran mereka seakan dibantah secara tegas dengan apa yang terjadi selanjutnya. Layaknya berusaha memenuhi panggilan sang pemuda, Jonatan Quilta perlahan menggerakan jemari dan membuka kedua kelopak mata.
Tubuh pria itu memang tampak sudah pulih dan tidak ada lagi bekas luka yang tersisa. Namun selama diperiksa oleh Pihak Religi, organ dalam pria tua tersebut dinyatakan masih belum pulih sepenuhnya.
Kecepatan pemulihan luar biasa memang sedang bekerja dalam tubuhnya berkat darah milik Odo. Tetapi, tetap saja itu seharusnya memerlukan waktu paling tidak dua hari untuk memulihkan organ dalam.
Seakan ingin membantah semua perkiraan pulih yang ada, dengan lemas pria rambut merah kecokelatan tersebut duduk di atas tempat tidur. Menatap ke arah pemuda yang memerintahkannya untuk bangun, lalu melempar senyum kecut seakan-akan ingin menyindir.
__ADS_1
“Tentu saja saya tidak akan puas atau bahkan merasa nyaman ….” Pria yang masih sangat pucat tersebut berbicara dengan suara pelan. Napas terputus-putus, terlihat sangat lemas, dan masih belum bisa duduk dengan benar karena tulang belakang masih dalam tahap pemulihan. Namun, ia tetap berusaha kukuh dan kembali berkata, “Saya sangat berterima kasih karena Tuan Odo menyelamatkan saya. Sungguh …, saya hanya bisa bersyukur atas kesempatan kedua yang saya terima ini.”
“Odo …?” Ruina yang baru mengetahui hal tersebut seketika memucat saat mendengarnya. Menoleh ke arah pemuda rambut hitam yang sedang berbicara dengan Jonatan, perempuan rambut ikal tersebut bertanya, “Apa benar … Anda adalah Tuan Odo? Odo dari Keluarga Luke?”
Putra Tunggal Keluarga Luke tidak menjawab pertanyaan tersebut. Fokus dengan lawan bicaranya sekarang, ia mengulurkan tangan ke depan dan menawarkan, “Jika kau benar-benar merasa bersyukur, maka buanglah loyalitas itu dan berikan kepadaku. Berhentilah menjadi pelayan Raja Gaiel, lalu layani aku dengan segenap nyawamu itu.”
Untuk sesaat, suasana berubah menjadi sunyi setelah permintaan itu keluar dari mulut sang pemuda. Baik Jonatan ataupun semua orang yang mendengar pembicaraan, mereka benar-benar tidak menyangka bahwa hal seperti itu akan keluar dari mulut Odo.
“Meski Anda menyelamatkan saya, itu bukan berarti Tuan Odo bisa memiliki kehidupan pria ini ….” Jonatan memberikan senyum lemas. Sembari menundukkan kepala dengan sorot mata yang tampak sangat sayu, ia dengan jelas menjawab, “Saya tidak bisa menyerahkan loyalitas dan harga diri ini kepada Anda.”
“Sungguh?” Odo menurunkan tangan, perlahan memasang wajah sedikit kecewa dan dengan ringan kembali berkata, “Jika kau mau melakukannya, aku berjanji akan memberikan gambaran ideal dunia ini dan kemenangan bagi Felixia. Untuk pemimpin Kerajaan Felixia selanjutnya, apakah kau tidak mau mengabdi kepadanya?”
“Kesetiaan saya hanya untuk Raja Gaiel.”
Jawaban tegas itu membuat Odo memasang senyum tipis, merasakan sebuah rasa senang melihat ada orang yang benar-benar loyal seperti itu. Berhenti menawarkan sesuatu yang sangat memberatkan, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali berkata, “Bagaimana jika aku meminta kau membalas budi?”
“Memangnya … apa yang ingin Anda minta?”
“Itu sederhana ….” Odo bertepuk tangan satu kali, lalu meletakkan kedua tangan ke atas pangkuan. Dengan sorot mata tajam, ia dengan gamblang menyampaikan, “Aku menjadi pemenang dalam taruhan kita, hasilnya adalah pengembalian gelar Knight Keluarga Quidra. Namun, itu bukan berarti kejadian kali ini membuat kondisi kota kembali seperti semula. Hasil yang ada hanya akan membuat kondisi berbalik, menjadi dikuasai oleh kubu Pejabat Lama.”
“Aku tidak berharap Keluarga Stein menguasai kota, keseimbangan adalah hal yang diriku harapkan sebagai hasil akhir.” Odo tidak memedulikan anggota Keluarga Stein yang juga berada di ruangan. Memberikan tatapan tajam, Putra Tunggal Keluarga Luke menyampaikan, “Supaya bisa mempersiapkan militer secara penuh, demi menghadapi peperangan dalam waktu dekat. Sebuah keseimbangan diperlukan. Sebab itulah aku tidak membiarkan kau mati. Daripada orang-orang tua yang hanya bisa membual dan rakus dengan kekuasaan mereka, kau lebih berharga. Itulah alasan kau masih hidup sekarang.
“Itu pujian?” Jonatan tersenyum kecut.
Tidak menjawab pertanyaan tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke langsung melanjutkan pembicaraan dan dengan tegas berkata, “Aku ingin kau mempertahankan kekuasaan untuk sementara, sampai Keluarga Quidra siap untuk memimpin militer kota ini. Selama itu, aku juga ingin kau membangun kekuatan militer kota ini. Namun, di sisi lain tidak terlalu ikut campur urusan politik kota yang akan dilimpahkan kepada Keluarga Stein.”
“Jika seperti itu, bukankah Keluarga Quidra nanti malah akan semakin sulit diterima oleh orang-orang militer?” Meski masih merasakan sakit pada perut dan pinggang, Prajurit Elite mencerna perkataan tersebut baik-baik. Dengan niat memastikan, ia dengan nada heran kembali berkata, “Kepercayaan itu penting dalam memimpin, Anda seharusnya paham hal tersebut. Hal tersebut hanya akan membuat masalah di kemudian hari.”
“Saya paham, karena itulah untuk sekarang urusan administrasi militer akan dipegang oleh Keluarga Quidra.” Odo meletakkan tangan ke dagu. Sembari mengangkat kaki kiri ke atas kaki kanan, pemuda rambut hitam itu menyampaikan, “Mengingat mereka sekarang hanya tersisa perempuan, hal seperti memimpin prajurit adalah mustahil. Karena itu, aku ingin mereka memegang administrasi militer. Seharusnya Nyonya Mitranda bisa mengurus hal tersebut, sebab dia juga pernah melakukan hal seperti itu saat mendiang Kepala Prajurit sebelumnya masih menjabat.”
“Lantas, bagaimana untuk Tuan Ferytan yang telah mengalahkan saya?” Jonatan memberikan ekspresi sedikit bingung. Sedikit mengerutkan kening dan merasa sedikit tidak setuju dengan permintaan tersebut, ia kembali memastikan, “Anda tidak akan berkata bahwa dia hanya dipakai untuk memenangkan duel saja, bukan? Tuan Ferytan memiliki potensi dan bisa berguna untuk militer kota.”
“Ini memang sedikit berbeda dari rencana. Namun, aku ingin Tuan Jonatan memasukkannya ke dalam militer dan memberikannya jabatan yang sesuai.” Odo menurunkan tangan ke atas pangkuan, lalu sembari tersenyum tipis menegaskan, “Tentu atas nama Keluarga Quidra.”
“Hmm, sangat masuk akal.” Dengan wajah pucat sang Prajurit Elite tersenyum. Mengangguk sekali, ia pun kembali mengulas, “Masalahnya hanya tinggal bagaimana kubu Pejabat Baru menerima hal tersebut, lalu melihat pergerakan kubu Pejabat Lama setelah perubahan yang akan terjadi ke depannya.”
__ADS_1
Perkataan Prajurit Elite tersebut membuat semua orang di dalam ruangan tertegun, kecuali Odo dan Lily’ami. Entah itu Pejabat Lama ataupun Pejabat Baru, beberapa orang dari kedua kubu tersebut berada di dalam ruangan. Namun seakan tidak memedulikan mereka, Odo dan Jonatan terus melakukan pembicaraan tersebut.
Menarik napas dalam-dalam, Putra Tunggal Keluarga Luke memastikan, “Anda tidak keberatan dengan permintaan ku?”
“Sama sekali tidak.” Meski sedikit tidak setuju, jawaban tersebut keluar dari mulut Jonatan. Menghela napas sekali, pria tersebut kembali berkata, “Saya bukan orang yang tak tahu terima kasih. Namun sebelum benar-benar setuju, boleh saya tahu satu hal?”
“Silahkan ….”
“Kenapa … Anda datang ke kota ini?” Satu pertanyaan itu diajukan secara abstrak. Sembari menyipitkan mata, Prajurit Elite memperjelas, “Untuk apa Anda membuat perubahan sebesar ini di Rockfield? Tuan Odo calon raja di masa depan, bukan? Tidak ada alasan untuk Tuan mengurus hal seperti ini ..., terlebih lagi mengingat Anda yang masih sangat muda. Jika mengesampingkan penampilan Anda sekarang.”
Odo sekilas menggunakan Spekulasi Persepsi. Kornea mata berubah hijau sekilas, tanda bahwa sebuah kesimpulan telah didapat dan tindakan sudah dipilih olehnya.
“Madis Luke ⸻ Kepala Keluarga Luke terdahulu, beliau dikatakan pertama kali terjun ke medan perang saat masih berusia 16 tahun. Kepala Keluarga Luke sekarang, Dart Luke, ia juga telah mengarungi berbagai peperangan sejak usianya belasan tahun. Karena itulah, saya ingin menyaingi mereka dengan merasakan langsung peperangan. Sebagai salah satu orang yang lahir di Keluarga Luke.”
Ia memang seorang Luke, itulah yang dirasakan Prajurit Elite saat mendengar ungkapan tersebut. Paham bahwa pemuda di hadapannya memang mewarisi sifat Dart Luke. Menikmati peperangan, gila dengan latihan pedang, sukar untuk berkeluarga, dan terkenal sangat kuat, itulah persepsi orang-orang terhadap Keluarga Luke sejak dulu.
“Baiklah, jika memang itu adalah hasrat alamiah Tuan Odo.” Jonatan mengangguk. Sembari tersenyum tipis, ia menyampaikan, “Saya tidak memiliki hak untuk melarang. Saya akan setuju rencana Anda dan dengan segenap kemampuan akan membantu. Namun …, tolong ingat bahwa saya bertindak atas nama Raja Gaiel.”
“Tidak masalah. Selama semuanya berjalan lancar, aku tidak keberatan.”
Di dalam ruangan tersebut, hampir semua orang merasa bahwa pemuda itu tidak menyampaikan hal penting lain. Terutama tentang tuntutan kepada pemerintah Rockfield, terkait menjalin kerja sama perdagangan dengan rombongan Mylta yang akan datang dalam waktu dekat.
Kecuali Ruina, Lily’ami, dan Jonatan sendiri, mereka semua merasa bahwa Putra Tunggal Keluarga Luke berbohong tentang dirinya yang ingin merasakan peperangan secara langsung.
Sebab dari semua hal yang dilakukan selama ini, pemuda tersebut hanya melaksanakan rencana untuk mempersiapkan kota dalam menghadapi peperangan. Tanpa ada niat sedikitpun bergabung dalam peperangan tersebut.
Dalam kesenyapan yang mengisi ruangan, tidak ada satu pun orang yang bertanya tentang hal tersebut. Hanya memberikan ekspresi bingung, lalu samar-samar perlahan menganggap apa yang dikatakan Odo adalah benar. Bahwa hal tersebut juga bisa saja menjadi tujuan sesungguhnya pemuda itu.
Mereka tidak mengenal jelas kepribadian Putra Tunggal Keluarga Luke, hanya tahu bahwa pemuda itu memiliki pemikiran yang unik dan pola pikir tajam.
Sebab itulah, spekulasi-spekulasi tentang pemuda itu hanya tambah membuat mereka bingung dan terdiam di tempat. Tanpa ada satu pun yang berani bertanya karena takut membuat pemuda itu marah lagi, sama seperti kejadian setelah duel.
ↈↈↈ
\================
Catatan Kecil :
Fakta 049: Waktu tidak bisa dipisahkan dari ruang. Waktu mirip seperti sebuah kain elastis yang direntangkan, bisa meregang jika sebuah objek bermassa besar diletakkan di atasnya (adanya gravitasi).
Karena itu, waktu pada setiap tempat bisa berbeda-beda tergantung pengaruh gravitasi.
Karena itu juga, semakin dekat sebuah objek dengan pusat gravitasi yang kuat, maka waktu akan semakin melambat.
Karena itulah, hal yang bisa menyebrang melalui dimensi adalah gravitasi.
__ADS_1