Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[107] Serpent VII – Saraḷa Aastitva (Part 02)


__ADS_3

 


 


“Lileian? Ah, makhluk kayangan yang juga dikenal orang-orang sebagai The Witch of Orgin itu, ya?” Memahami perkataan tersebut, yang pertama kali terkejut adalah Richard. Ia segera melirik ke belakang dan memastikan, “Sebentar! Dia bisa meretas Realm?! Bukanya sekarang dia masih seorang manusia?!”


 


 


Berbeda dengan pria pirang tersebut, Putri Ulla tidak terkejut dan merasa hal itu sangat mungkin terjadi. Baginya yang pernah bertemu Odo Luke meski hanya sekali, hawa keberadaan yang terasa dari pemuda tersebut memang sangat menyimpang. Baik itu dalam aspek persepsi individu, atau bahkan kemampuan dan pengetahuan.


 


 


“Dalam waktu dan dunia mana pun, para Ilmuwan memang selalu mengarik ….” Tidak terlalu memedulikan Richard yang terkejut, Dewi Helena malah melempar senyum tipis kepada Putri Ulla. Memperlihatkan tatapan tajam seakan mengharapkan sesuatu, ia mengulurkan tangan kanannya ke depan sembari menyampaikan, “Itu persis seperti yang engkau rasakan, wahai gadis kecil yang haus akan pengetahuan.”


 


 


“Huh?” Putri Ulla segera menoleh, tampak terkejut dan keringat dingin mulai bercucuran. Meski pikiran telah menarik kesimpulan, benak perempuan rambut ungu tersebut tidak ingin mengakuinya. “Apa … yang Anda katakan? Saya tidak merasakan apa-apa,” ujarnya dengan gemetar.


 


 


“Saat dihadapkan dengan kebenaran, terkadang rasa takut akan menguasai dan membuat sebagian orang berpaling. Berpikir bahwa ketidaktahuan merupakan sebuah berkah tersendiri. Namun ….” Dewi Helena berhenti mengulurkan tangan. Kembali menyangga kepala dan memalingkan tatapan, perempuan rambut hitam tersebut menyarankan, “Gunakan saja waktumu untuk menerima fakta itu, dirimu masih punya hak untuk memilih.”


 


 


“Dari tadi yang kalian bicarakan?” Richard sedikit kesal karena merasa dikucilkan. Melirik kesal ke arah Helena, dengan nada ketus pria pirang tersebut bertanya, “Memangnya apa yang Putri Ulla sadari? Odo Luke, sekarang ini dia hanya seorang manusia, ‘kan?”


 


 


“Secara fisik Odo Luke masih manusia. Namun …” Helena balik melirik. Memberikan senyum pasrah seakan tidak bisa melakukan apa-apa tentang hal tersebut, ia dengan nada malas menjelaskan, “Sepertinya kehendak Awal Mula sudah menyadari kehadirannya. Kalau tetap dibiarkan begitu saja, kemungkinan besar dia akan menyatu lagi dengan dunia.”


 


 


“Menyatu?” Richard tidak bisa menangkap maksudnya. Sedikit memiringkan kepala dan memikirkannya dalam-dalam, pria pirang tersebut kembali memastikan, “Memangnya kehendak Awal Mula punya manifestasi kesadaran? Itu berkerja layaknya alam, bukan?”


 


 


“Itu salah, Pak Richard.” Putri Ulla menyela. Duduk gemetar sembari menyatukan kedua tangan, perempuan rambut ungu tersebut menundukkan wajah seperti sedang berdoa. Ia menoleh dan memperlihatkan wajah pucat, lalu dengan suara pelan menyampaikan, “Pemuda yang kalian bicarakan tadi, dia sejak awal adalah bagian dari Awal Mula. Layaknya sebuah koin, Singularitas Hidup adalah sisi lain dari Awal Mula.”


 


 


“Huh? Itu tidak mungkin!” Richard merasa itu tidak masuk akal. Segera melirik ke arah Helena, pria rambut pirang tersebut memastikan, “Dia individu tunggal! Bagaimana bisa dia menjadi bagian dari Awal Mula?”


 


 


“Menyeberang dari Dunia Sebelumnya ….” Helena menghela napas ringan. Sejenak memejamkan mata, sang Dewi dengan nada pasrah menjelaskan, “Perpindahan jiwa dari Dunia Sebelumnya ke Dunia Selanjutnya tidak sesederhana itu. Kalau proses tersebut benar-benar penyeberangan, mengapa diriku bisa bangun lebih awal dan dia masih belum bangkit? Kenapa bisa informasi dalam jumlah yang sangat banyak bisa ikut terbawa? Seharusnya itu semua lenyap dalam Api Penyucian.”


 


 


“A⸻!” Richard langsung memahami maksudnya. Saking terkejut, mobil yang disetir pria rambut pirang tersebut sempat oleng lagi dan hampir keluar dari jalur. Tubuh gemetar penuh rasa takut, keringat dingin pun bercucuran tidak henti-henti. “Berarti … dia telah menyatu?” tanyanya memastikan.


 


 


“Mungkin ….” Helena memalingkan pandangan. Tidak yakin dengan hal tersebut, ia sejenak menghela napas dan hanya bisa menerka, “Lagi pula, metode perpindahan yang digunakan dia juga sangat rumit. Kemungkinan besar prosesnya adalah penyatuan, pembongkaran, lalu peleburan dan penyatuan kembali.”


 


 


“Maaf, aku tidak paham!” Richard langsung mengerutkan kening saat mendengar penjelasan tersebut. Setelah menghela napas panjang dan berusaha menenangkan diri, ia segera melirik kecil dan meminta, “Supaya orang bodoh seperti diriku bisa paham, tolong gunakan kalimat yang lebih sederhana.”


 


 


“Entah mengapa engkau terdengar seperti meremehkan masalah ini ….” Helena membunyikan lidah, berusaha menahan rasa kesal karena nada bicara Richard. Sembari mendongak dan memperlihatkan mimik wajah sedikit bingung, perempuan rambut hitam tersebut memastikan, “Untuk bisa ikut menyeberangi ke Dunia Selanjutnya, engkau tahu bahwa diriku sempat menyatu dengan jiwanya, bukan?”


 


 


“Hmm ….” Richard mengangguk. Sembari berusaha mengingat beberapa hal, pria pirang tersebut menjawab, “Sebelumnya engkau pernah membahas itu. Seperti menyusup dalam susunan informasi mikro, lalu menanamkan sebuah identitas dalam susunan jiwa atau semacamnya. Kau yang berada di sini bukanlah Dewi Helena yang ada di Dunia Sebelumnya, melainkan salinan murni sama seperti diriku.”


 


 


“Tepat ….” Helena kembali meringkuk di atas tempt duduk. Memperlihatkan wajah muram dan mempertanyakan identitasnya sendiri, perempuan rambut hitam tersebut lanjut menjelaskan, “Sangat mustahil jiwa bisa bertahan dalam proses Reinkarnasi Dunia, bahkan pemuda itu pun harus kehilangan seluruh ingatannya selama perpindahan. Api Penyucian tidak akan memberikan toleransi kepada siapa pun. Namun, mengapa sekarang diriku masih bisa mengingat semuanya dengan sangat jelas?”


 


 


“Berarti ….” Richard langsung menyadari maksud sang Dewi. Meski ia tidak terlalu tahu tentang Api Penyucian dan Reinkarnasi Dunia, dari alur pembicaraan pria pirang tersebut menebak, “Dia sudah merencanakan sesuatu sebelum melakukan penyeberangan? Tepat setelah Dunia Sebelumnya lenyap, dia ….”


 


 


“Kemungkinan besar dia juga sudah menyadari rencanaku untuk ikut menyeberang. Karena itulah, Mahia dan diriku terlempar dari jiwa pemuda itu saat Dunia Selanjutnya tercipta.”


 


 


Helena menghela napas. Perkiraan itu memang terasa sangat paranoid. Namun, tidak bisa disingkirkan begitu saja mengingat sang pemuda adalah sosok singularitas hidup. Tidak bisa diperkirakan dan benar-benar faktor acak dalam sebuah kalkulasi.


 


 


“Sebentar! Terlempar dari jiwanya bersama Mahia? Kalau tidak salah, Mahia itu A.I ciptaan dia, bukan?” Richard kembali bingung saat berusaha memikirkannya. Berhenti melirik dan memperlihatkan mimik wajah seperti orang paling dungu di tempat itu, dengan nada meremehkan pria pirang tersebut lekas meminta, “Tolong jelaskan supaya aku paham, dong!”


 


 

__ADS_1


“Hah, cara bicaramu menyebalkan ….” Untuk sesaat Helena menggertakkan giginya. Menggaruk bagian belakang kepala dan memalingkan pandangan, perempuan rambut hitam tersebut lekas menjelaskan, “Intinya dia dari awal sudah memasang proteksi saat akan menyatu dengan Awal Mula. Pada saat Dunia Selanjutnya tercipta, proteksi tersebut aktif dan memisahkan diriku serta Mahia dari jiwanya.”


 


 


“Memisahkan?” Penjelasan itu sedikit mengusik Richard. Sembari memikirkan beberapa hal lain, pria pirang tersebut kembali memastikan, “Bukankah jiwa kalian sudah menyatu sepenuhnya? Memangnya bisa dipisah?”


 


 


“Tentu saja bisa, konsepnya sederhana seperti menimpa informasi yang telah ada dengan data simpanan ….” Helena memperlihatkan mimik wajah kesal. Saat membicarakannya seperti sekarang, ia baru menyadari sesuatu yang penting dan lanjut menjelaskan, “Itu seperti mengganti blok informasi lama dengan yang baru. Karena tidak dibutuhkan, susunan entitas milikku dan Mahia dibuang dari Awal Mula layaknya sampah.”


 


 


“Sebentar!” Richard semakin bingung. Sedikit pucat dan samar-samar bisa menebak jawabannya, ia dengan cemas mematikan, “Kalau dia telah menyatu dengan Awal Mula, lantas Odo Luke itu sebenarnya siapa? Bukankah kau bilang bahwa Odo Luke itu adalah dia?”


 


 


“Entahlah, tanyakan saja itu kepada Mahia ….” Helena menyangga kepala dengan punggung tangan. Memperlihatkan mimik wajah seakan tidak peduli, perempuan rambut hitam tersebut malah mengeluh, “Meski struktur pemanggilan Devolusi dibuat olehku, eksekutor ritualnya adalah anak itu! Lagi pula, sejak awal diriku juga ragu dengan hipotesis serpihan jiwa dan reinkarnasi! Dia itu tunggal, tidak mungkin jiwanya bisa terpencar!”


 


 


“Lah, kalau ragu kenapa dilakukan?” Richard sedikit kesal mendengar keluhan itu. Menurunkan kedua alis dan mengerutkan kening, ia secara dengan ketus menyinggung, “Kau inkarnasi Kemahakuasaan, bukan?! Lakukan sesuatu! Hapus atau ciptakan saja sesuatu untuk mengatasinya!”


 


 


“Diriku memang mahakuasa, namun bukan Mahatahu!” Helena benar-benar tersinggung. Menurunkan kedua kaki dari tempat duduk dan sedikit membungkukkan tubuh ke depan, ia memegang pundak Richard dari belakang dan menyampaikan, “Bocah itu, Mahia sengaja membuat alur sendiri dan menggunakan para iblis untuk menjalankan ritual pemanggilan. Kalau diriku tidak ikut campur, bisa-bisa Dunia Nyata direset kehendak Awal Mula ….”


 


 


“Ah ….” Richard memperlihatkan mimik wajah enggan saat dipegang Helena, tampak sedikit jijik dan tubuhnya menjadi tegang. Sembari tersenyum kaku, pria pirang tersebut kembali menyinggung, “Apa karena alasan itu kau sengaja menjatuhkan hukuman palsu dan menurunkan dua Dewi⸻”


 


 


“Itu bukan hukuman palsu ….” Helena mengangkat tangannya dari Richard. Kembali duduk tenang di belakang, perempuan rambut hitam tersebut mengelak, “Mereka benar-benar melanggar pantangan langit. Sangat penting membuat batasan supaya kehendak Awal Mula tidak mengincar kayangan.”


 


 


“Kau sengaja membuat larangan untuk dilanggar mereka, ‘kan? Tak perlu mengelak ….” Richard langsung menyadari hal tersebut dari nada bicara sang Dewi. Kembali tenang dan memperlihatkan wajah muram, ia dengan tegas menyindir, “Dahulu juga banyak pemimpin egois yang melakukan hal semacam itu, menetapkan larangan menyusahkan supaya bisa mengeksekusi pengganggu.”


 


 


“Cara bicara yang engkau gunakan …, itu sengaja supaya diriku jengkel?” Helena sedikit mengerutkan kening. Seraya menyangga kepala dengan punggung tangan, ia dengan nada menekan kembali memastikan, “Bukankah engkau terlalu kekanak-kanakan?”


 


 


 


 


“Engkau ini ….” Helena hanya bisa tertegun, paham bahwa entitas bernama Richard tersebut benar-benar sangat mirip dengan versi aslinya.


 


 


“Tenang saja. Meski kau tidak berdaya sekarang, aku tetap akan mematuhi skenarionya.” Richard berhenti tersenyum. Memikirkan kembali permasalahan yang ada, ia sedikit melirik sembari menyampaikan, “Lagi pula, untuk itulah aku diciptakan ….”


 


 


“Baguslah engkau paham batasannya.” Helena hanya bisa tersenyum kaku, paham bahwa keberadaan Richard seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja.


 


 


Sebelum pembicaraan terhenti karena kehabisan topik, Richard menggeser pandangan ke arah perempun yang duduk di sebelahnya. Menurunkan kedua alis dan menatap tajam, pria pirang tersebut lekas bertanya, “Jadi, mengapa hal yang kita bicarakan itu bisa membuat Putri Ulla ketakutan? Bahkan sampai berdoa seperti orang beriman, padahal dia ateis.”


 


 


“Engkau masih belum paham?” Helena sedikit menyipitkan tatapan, sedikit memperlihatkan mimik wajah mengasihani dan meragukan kecerdasan Richard.


 


 


Melirik dan paham dianggap bodoh oleh sang Dewi, pria rambut pirang tersebut malah menggoyangkan kepala ke kanan dan kiri. Memperlihatkan gelagat meledek, lalu dengan nada meremehkan kembali bertanya, “Makanya aku bertanya~! Oh~! Wahai Dewi Mahakuasa~!”


 


 


Mulut Helena sedikit terbuka, ingin menjawab namun lekas muak karena sikap Richard. Tidak ingin diremehkan, ia memusatkan untuk tidak menjelaskan dan hanya berkata, “Pikiran saja sendiri, diriku kehilangan minat.”


 


 


“Hmm ….” Richard tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Mencari alternatif dengan cepat, ia segera melirik ke sebelah dan bertanya, “Apa kamu tahu, Nona Ulla?”


 


 


“Eh? Itu …. Sebenarnya saya juga tidak terlalu paham.” Putri Ulla tertegun. Berhenti menyatukan tangan dan menoleh, perempuan rambut ungu tersebut menjawab, “Kalau semua perkiraan tersebut benar, kemungkinan besar semua ini sudah direncanakan oleh entitas yang lebih tinggi dari kalian semua.”


 


 


Richard memiringkan kepala, tidak paham dengan penjelasan tersebut. Benar-benar merasa seperti orang bodoh di antara kedua perempuan di kendaraan itu, keningnya berkedut dan memutuskan untuk berhenti bertanya.


 


 

__ADS_1


“Diorama di dalam diorama ….” Saat pria rambut pirang tersebut hendak diam dan fokus menyetir, Dewi Helena kembali membuka topik pembicaraan dengan berkata, “Kalau spekulasi yang kita bicarakan tepat, kemungkinan besar tindakan yang diriku ambil selama ini adalah sebuah kodrat. Garis yang sudah ditentukan oleh entitas lain.”


 


 


“Serius?” Richard memperlihatkan wajah terkejut. Namun, dalam benak ia sudah lelah dengan pembicaraan karena tidak terlalu paham dengan topiknya.


 


 


“Untuk apa diriku bergurau.” Helena menyadari itu dengan cepat. Perempuan rambut hitam itu pun menghela napas, berniat untuk segera mengakhiri pembicaraan.


 


 


“Lalu, siapa entitas itu?” Richard kembali bertanya mewakili rasa penasaran Putri Ulla. Sembari melirik ke belakang, pria pirang tersebut memastikan, “Kalau kau bisa tenang, berarti sudah menyusun rencana untuk mengatasinya, ‘kan?”


 


 


“Engkau tidak perlu tahu ….” Helena menatap tajam. Merasa pembicaraan mulai masuk ke hal sensitif, inkarnasi Mahakuasa tersebut lekas menegaskan, “Pahami kodrat kalian! Jangan meminta lebih!”


 


 


“Yah, sayang sekali. Jujur aku mulai penasaran.” Richard berhenti melirik. Menghela napas ringan, ia sejenak menyipitkan tatapan dan berkata. “Mau bagaimana lagi, kita sudah telanjur bahas ini ….”


 


 


“Ini tabu untuk dibahas.” Helena meletakkan kedua tangan ke atas pangkuan. Sembari menundukkan wajah, dalam cemas sang Dewi Penata Ulang bergumam, “Keberadaan bedebah itu dari awal juga sudah tidak masuk akal. Kenapa bisa ada makhluk sepertinya di ujung umur semesta?


 


 


“Makhluk sepertinya …?”


 


 


Richard kembali penasaran, begitu pula Putri Ulla yang juga mendengar gumam tersebut. Mereka berdua melirik ke belakang, lalu menatap dan berharap sang Dewi mau menjelaskannya.


 


 


“Sudahlah!” Helena mengerutkan kening. Dengan mimik wajah kelas, ia dengan lantang menegaskan, “Membicarakannya tabu! Dia bisa ada di mana-mana! Mungkin saja sekarang dia sedang mengawasi kita!”


 


 


“Memangnya siapa⸻?”


 


 


“Jangan dibahas lagi, ini perintah!”


 


 


“Hmm ….”


 


 


Baik Richard ataupun Putri Ulla, mereka berdua berhenti melirik. Tidak mengusik hal tersebut lagi, lalu perlahan menatap ke depan dengan senyap. Meski tidak lagi menanyakan masalah tersebut, namun tetap saja rasa penasaran dengan jelas tumbuh di benak mereka.


 


 


Menyadari hal tersebut, Dewi Helena sekilas melebarkan senyum tipis. Seakan pembicaraan tersebut hanyalah pertunjukan dalam diorama miliknya, perempuan rambut hitam itu perlahan memalingkan pandangan. Tidak bisa menahan rasa senang dan semakin melebarkan senyum gelap, merasa puas karena berhasil menanamkan rasa penasaran tersebut kepada mereka berdua.


 


 


Membuat Putri Ulla dan Richard meragukan eksistensi dan identitas sang pemuda, lalu membuat mereka tidak bisa beralih pihak dengan mudah sebelum mengetahui kebenaran tersebut. Menjebak kedua orang itu untuk terus mendukungnya, itulah tujuan utama dari pembicaraan panjang tersebut.


 


 


Memberikan kebebasan untuk berpikir kritis, menanamkan keraguan atas kebenaran yang ada di depan mata, lalu memberikan mereka jawaban yang salah sesuai dengan keinginannya. Secara garis besar, itulah metode manipulasi yang paling sering Helena gunakan.


 


 


Baik itu di Dunia Sebelumnya ataupun Dunia Selanjutnya, sosok Mahakuasa tersebut selalu menggunakan langkah licik dan sederhana itu. Mengganggu persepsi individu yang ingin dirinya gunakan, lalu perlahan mengendalikan mereka dengan susunan kata memikat layaknya menyampaikan kebenaran.


 


 


Berhenti tersenyum dan memikirkan situasi yang ada baik-baik, Dewi Helena sejenak menarik napas panjang. “Putri Ulla jelas mulai meragukannya, namun kalau si bedebah Richard kemungkinan besar hanya pura-pura,” benaknya seraya menajamkan tatapan.


 


 


“Ini sungguh menyebalkan,” gumam pelan sang Dewi seraya mengangkat kedua kakinya ke atas tempat duduk. Meringkuk seperti bola, lalu memperlihatkan mimik wajah cemberut dan kembali bergumam, “Andai saja Mahia tidak bikin ulah di Dunia Astral, mungkin ini bisa berjalan lebih mudah.”


ↈↈↈ


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2