Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[98] Angelus III – Grey Duty (Part 03)


__ADS_3

 


 


Esensi berbisnis adalah mencari laba, memperkaya diri dengan usaha dan waktu seminimal mungkin. Untuk bisa melakukan bisnis seseorang harus kuat mengambil hak orang lain, sebab itulah sesungguhnya di dalam hal tersebut tidak ada satu pun niat baik.


 


 


Ketika mereka mengetahui hal itu, sebagian orang di masyarakat akan menganggapnya buruk dan kejam. Mulai menyuarakan rasa tidak suka, bahkan sampai pada tingkat menyebarkan kebencian. Karena itulah sebuah estetika dalam bisnis dibuat.


 


 


Estetika, sebuah cabang dari filsafat yang menelaah dan membahas seni, keindahan, serta tanggapan masyarakat terhadapnya. Dengan kata lain, estetika dalam bisnis adalah sebuah opsi untuk menyembunyikan esensi asli dalam berbisnis dengan memperhatikan pandangan masyarakat terhadap bisnis itu sendiri.


 


 


Perusahan melakukan hal-hal baik seakan merangkul masyarakat, lalu melakukan Tanggung Jawab Sosial sebagaimana sebuah organisasi berdiri. Ikut membangun infrastruktur seperti jalan dan bangun, menyumbang dalam kegiatan sosial, memberikan santunan kepada anak yatim, dan lain sebagainya.


 


 


Apapun itu, semua estetika yang membuat perusahaan terlihat baik merupakan tabir untuk menutupi keburukan yang ada. Pada akhirnya, bisnis adalah sebuah metode untuk mengolah hak orang lain dan mengaturnya sesuai kehendak pemilik bisnis.


 


 


Hal tersebut juga berlaku di Mylta, kota pesisir yang sekarang ini mengalami progresif perekonomian secara pesat sejak awal tahun. Menarik banyak pedagang dari berbagai negeri, lalu menodong mereka untuk melakukan bisnis dalam bermacam aspek dan memutar roda perekonomian.


 


 


Menjadi salah satu sendi perputaran yang ada di Mylta, perusahaan Ordoxi Nigrum memulai kegiatan operasionalnya sejak matahari terbit. Entah itu menjalankan toko makanan yang sudah terkenal sejak awal tahun, pabrik pengolahan hasil laut di dermaga, atau bahkan berbagai macam proyek pembangunan yang baru benar-benar berjalan sejak minggu kemarin.


 


 


Meski sang Walikota dan beberapa pejabat penting di Mylta sedang pergi melakukan ekspedisi, Kota Pesisir terus mengalami perkembangan yang tak terhentikan. Ramai dipenuhi pedagang, sebagaimana fungsi salah satu pusat perekonomian di Wilayah Luke.


 


 


Entah itu transaksi kecil sampai besar, dalam bentuk apapun semua orang dengan jelas berusaha mencari peruntungan di tempat tersebut. Pembangunan tampak dilakukan pada beberapa sudut perkotaan, tanda fisik bahwa ekonomi Mylta dengan jelas mengalami peningkatan.


 


 


Wagon dan gerobak penuh barang lalu-lalang dari dermaga ke pusat kota, memperlihatkan transaksi dagang yang sedang berlangsung padat. Tidak terbatas hanya dari jalur darat, pedagang yang tertarik dengan progresif Mylta juga berdatangan dari seberang laut. Seakan-akan tempat tersebut telah menjadi magnet tersendiri bagi mereka.


 


 


Pada salah satu sudut Distrik Perniagaan, di sanalah toko perusahaan Ordoxi Nigrum berdiri. Memiliki tiga lantai dan menjadi bangunan paling tinggi di tempat tersebut, lalu juga merupakan tempat yang sedang naik daun sejak pertama kali dibuka.


 


 


Tepat beberapa belas menit sebelum toko dibuka, setiap pegawai Ordoxi Nigrum telah mempersiapkan semua keperluan yang ada untuk kegiatan operasional mereka. Dari tempat untuk konsumen memesan, bungkus daun, bahan makanan siap masak, dapur, sampai pagar antrean di depan toko pun mereka siapkan.


 


 


Bahkan sebelum toko tersebut dibuka, beberapa orang telah mengantre di luar sejak dini hari. Dengan rapi berbaris di dekat pagar yang telah ditata, lalu sedikit tidak sabar menunggu toko buka.


 


 


Para pengantre kebanyakan mengenakan pakaian tebal, lalu menutupi wajah dengan tudung. Meski menyembunyikan wajah, namun perawakan yang ada sangat jelas menunjukkan bahwa mereka adalah para prajurit dari barak. Sengaja mengantre pagi-pagi buta karena selalu kehabisan menu yang disajikan oleh tempat tersebut.


 


 


Pada lantai dua toko Ordoxi Nigrum, seorang pemuda rambut pirang membuka pintu dan keluar dari ruangan. Sembari menuruni anak tangga di samping bangunan, ia sejenak menghela napas panjang dan tampak sangat kelelahan.


 


 


Kantung mata menghitam, wajah tampak pucat, dan terlihat tidak bersemangat. Layaknya seorang karyawan kantoran yang baru saja pulang dari lembur, penampilannya sedikit dekil dan rambut sangat urakan. Tentu saja pemuda itu juga belum mandi dan mengeluarkan aroma tak sedang dari tubuhnya.


 


 


“Pada pedagang sialan itu! Serakah juga ada batasnya! Sampai kapan diriku harus meladeni mereka! Aku ini Putra Sulung dari Keluarga Rein, anak dari seorang Count! Masa harus mengurusi rakyat jelata dan serakah seperti mereka!”


 


 


Keluhan tersebut keluar cukup keras, sampai-sampai terdengar oleh beberapa orang yang sedang mengantre di bawah. Membuat mereka menoleh, lalu memberikan tatapan sangat heran kepada pemuda itu.


 


 


Arca Rein, itulah nama pemuda rambut pirang kecokelatan tersebut. Putra Sulung Keluarga Rein, sekaligus sosok yang ditakuti oleh para bangsawan di wilayahnya. Namun, untuk beberapa alasan dirinya malah harus melakukan pekerjaan Manajer Utama di Perusahaan Ordoxi Nigrum.


 

__ADS_1


 


Setelah menuruni anak tangga, pemuda yang mengenakan jas kurus berwarna merah tersebut kembali menghela napas. Ia menatap ke arah seorang pegawai yang hendak membalik papan tanda buka toko, lalu dengan ketus bertanya, “Kalian baru mau buka, Elulu?! Waktu rasanya berlalu sangat lambat, ya! Sudah berapa hari si sialan itu pergi?!”


 


 


Ditanyai dengan nada kasar perempuan rambut cokelat kepirangan tersebut lekas mengerutkan kening. Ia sejenak mengurungkan niat untuk membalik papan, lalu melipat kedua tangan ke depan dan menatap datar.


 


 


“Tuan Arca, ini di depan toko! Tolong jangan keluar dengan penampilan seperti itu. Asal Tuan tahu, Anda terlihat sangat dekil! Sana kembali ke penginapan dan mandi! Kalau benar-benar masih lelah, Tuan bisa pakai kamar mandi di dalam.”


 


 


Arca tidak merespons, pikirannya terlalu penat dan tidak bisa mengolah informasi dengan baik. Meski ia dengan jelas mendengar apa yang dikatakan oleh Elulu.


 


 


Semalaman ia begadang, memeriksa selusin laporan dan tumpukan dokumen dari berbagai macam kerja sama yang telah terjalin. Tentu saja itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan setiap malam, meski pemuda itu sudah terbiasa mengurus tumpukan dokumen.


 


 


Persaingan antar pedagang, berbagai macam kerja sama yang dibuat, serta banyak persoalan lain yang perlu dipertimbangkan. Arca memang tidak sendirian mengurus semua itu. Namun, tetap saja sebagai Manajer Utama ia mendapatkan beban yang lebih berat dari pegawai lain.


 


 


Sekte Dagang Teratai Danau dari Kekaisara, lalu Aliansi Samudera Majal dari Kerajaan Ungea. Itulah dua kelompok pedagang luar Kerajaan Felixia yang sekarang ini berinvestasi ke Kota Pesisir.


 


 


Mereka datang dari jalur darat dan laut, tepat setelah mendengar kabar dibukanya rute perdagangan ke Mylta pada awal tahun. Membawa barang dagang masing-masing, lalu mencari peruntungan dengan berbagai cara.


 


 


Mulai menanamkan modal dalam bentuk membuka cabang, serta membentuk koneksi untuk berdagang di dalam Mylta. Lalu, selama beberapa hari terakhir mereka dengan intensif mulai melakukan kegiatan dagang dalam skala besar.


 


 


Selain mereka, Serikat Pedagang Lorian juga ikut serta dalam persaingan yang ada. Sebagai kelompok dari pengusaha serta pedagang lokal, mereka membangun koalisi dengan Ordoxi Nigrum dan berhasil mendominasi perdagangan di Mylta.


 


 


 


 


Tentu saja pencapaian itu tidak semudah membalikkan tangan. Rentetan pertemuan dengan berbagai pengusaha, membuat relasi dengan pemerintah, lalu pada akhirnya mengangkut semua permasalahan ke dalam sebuah rapat besar. Mengundang semua kelompok pedagang ke dalam satu meja, dengan pihak pemerintah sebagai pihak ketiga untuk pembicaraan secara menyeluruh.


 


 


Hasilnya, dalam rapat tersebut Ordoxi Nigrum keluar sebagai salah satu pemenang tuntutan. Mendapatkan privilese berupa pembebasan visa, lalu juga berhasil mempertahankan perusahaannya dan menghindari nasionalisasi yang hendak dilakukan pemerintah Mylta.


 


 


Selain itu, perusahaan milik Odo Luke tersebut juga berhasil memonopoli pelabuhan dan hasil laut Mylta. Meski setelah rapat besar harus melepas sebagai besar kendali yang ada, tetap saja keuntungan yang didapat dari sektor laut tidaklah sedikit.


 


 


Bersama dengan Serikat Pedagang Lorian, perusahaan swasta tersebut benar-benar berhasil menguasai sektor-sektor peting yang ada di Mylta. Menjalankan banyak proyek pembangunan sekaligus, lalu membuka kesempatan kerja kepada masyarakat dalam jumlah yang tidak sedikit.


 


 


Sebab itulah, Ordoxi Nigrum dan Lorian dianggap sebagai pemegang perekonomian Mylta sekarang. Tidak ada yang menyebut hal tersebut dengan jelas, namun kedua kubu dagang lain memandang koalisi tersebut seperti itu. Sebagai pemimpin progresif Mylta.


 


 


Namun, di balik pencapaian yang luar biasa tentu ada tanggung jawab yang besar. Sayangnya pemilik Ordoxi Nigrum sendiri bukanlah tipe orang yang terlalu memikirkan hal tersebut.


 


 


Karena itulah, tanpa pikir panjang Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut melimpahkan semua tugas kepada Arca Rein. Sedangkan dirinya sendiri pergi ke tempat lain dengan alasan ada keperluan yang harus diselesaikan.


 


 


Hasil dari tindakan tersebut adalah stress Putra Sulung Keluarga Rein yang menumpuk. Membuat pemuda itu tidak bisa berpikir jernih, bahkan sampai tidak lagi memedulikan penampilannya sebagai seorang bangsawan.


 


 


Hampir semua tugas memang dipasrahkan kepada Arca Rein. Namun, itu bukan berarti Odo Luke begitu saja melempar tanggung jawab yang ada.

__ADS_1


 


 


Sebelum pergi, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut telah membuat banyak alur kerja sama dan menyusun agenda. Menata semuanya dengan rapi, lalu dengan jelas memberikan arahan kepada Putra Sulung Keluarga Rein tentang hal-hal yang perlu dikerjakan.


 


 


Tetapi, tentu saja itu terlalu berat bagi Arca karena agenda tersebut disusun berdasarkan stamina yang dimiliki Odo. Dengan kata lain, sangat berat untuk dilakukan sebab hampir tidak memiliki jam tidur yang layak.


 


 


Sampai pada batas kesabaran karena semua tugas yang dilimpahkan, benang tipis yang mempertahankan akal sehat Arca putus. Di depan toko Ordoxi Nigrum, pemuda itu menarik napas dalam-dalam dan mendongak ke langit pagi yang cerah.


 


 


“Padahal ini pagi yang cerah, namun kenapa hatiku sangat suram begini?” benak pemuda itu dengan senyum gelap.


 


 


Ia mengangkat kedua tangan ke kepala, menggaruk-garuk dengan kasar dan mata mulai melotot tajam. Berhenti mendongak dan melihat ke arah perempuan di hadapan, pemuda itu seakan ingin meledakkan semua stress yang ada.


 


 


Lalu⸻


 


 


Arca benar-benar meledak di depan toko.


 


 


“Bedebah kau, Odooooo!!! Sialan!! Sialan kau! Awas saja kalau kembali!! Aku penggal kepalamu!! Keparat! Keparat! Keparat! Orang gila!! Enggak manusiawi! Dasar iblis! Anjing! Babi!! Kijang!! Kambing!! Aaaaa~aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!! Sialan!! Capek banget, Babi!!”


 


 


Melihat pemuda rambut pirang tersebut hilang kendali, Elulu yang berada di hadapannya langsung membuka pintu toko. Sembari berlari ke dalam ia pun berteriak, “Gawat! Tuan Arca akhirnya hilang kendali!! Tutup telinga kalian! Kalau enggak mau kena semprot tuh orang sarkas!!”


 


 


Para pegawai yang berada di dalam toko langsung terkejut. Seakan telah menduga Arca akan lepas kendali karena stress, mereka semua segera menutup telinga dan bersiap dengan hujatan yang akan datang.


 


 


Diperlakukan seperti itu di saat sedang stress, alis Arca langsung berkedut kencang. Menatap ke dalam toko dengan lemas, lalu benar-benar memperlihatkan ekspresi seakan ingin merengek karena dilanda rasa lelah luar biasa.


 


 


“Ke-Kejam sekali kalian semua,” ujar Arca dengan gemetar.


 


 


Mata yang sempat berkaca-kaca seketika berubah tajam, mimik wajah murka pun terlihat dengan jelas. Tanpa pikir panjang ataupun memedulikan konsumen yang sudah mengantre, Arca melangkah masuk ke dalam toko.


 


 


Lalu persis seperti yang dikatakan Elulu, hujan hinaan tidak jelas pun luber dari mulut pemuda itu. Benar-benar melampiaskan stress dengan amarah yang melonjak-lonjak sampai ubun-ubun, menunjuk setiap orang dan memberikan makian kasar tak masuk akal.


 


 


Meski benar-benar marah, anehnya Arca sama sekali tidak melakukan kekerasan fisik kepada mereka semua. Hanya sebatas memaki sekuat tenaga, menyalahkan mereka tanpa pikir panjang, dan menyerapah layaknya orang gila.


 


 


Bahkan, pemuda itu sama sekali tidak merusak properti di dalam toko. Murni hanya melakukan kekerasan verbal, meski secara tidak sadar dirinya paham bahwa mereka tidak benar-benar mendengarkan keramahannya.


 


 


Itu terjadi karena ia hanya ingin marah, bukan memarahi.


.


.


.


.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2