
“Kau ini …!” Odo tidak terlalu suka dengan tatapan semacam itu. Merasa dipermainkan, meskipun ia tahu sebenarnya Ifrit tidak bermaksud demikian. Segera memalingkan pandangan, pemuda rambut hitam tersebut dengan lantang lekas berteriak, “Vil! Aku kembalikan ini! Terima kasih!”
Odo melemparkan tongkat Veränderung ke arah pemiliknya. Melayang halus tanpa berputar di udara, langsung menuju Vil yang berdiri di dekat pintu utama Mansion.
“Sama-sama⸻! Ach!” Vil tidaklah cekatan seperti Odo. Lepas dari tangkapan, tongkat itu malah jatuh mengenai kepalanya dengan cukup keras. Roh Agung tersebut langsung berjongkok kesakitan sembari memegang kepala, sedangkan tongkat Veränderung jatuh menggelinding di lantai. “Ah, sakit …. Odo, lain kali tolong jangan dilempar begitu. Artefak ini tergolong benda rapuh kalau tidak dialiri Mana,” tambahnya seraya memungut tongkat dan lekas berdiri.
Di tengah pembicaraan, Penyamar yang terduduk di pojok ruangan perlahan siuman. Mimik wajahnya tampak dipenuhi amarah, ia lekas bangun sembari mengatur mekanisme senjata rahasia pada pergelangan tangan kanan.
“Kalian menyebalkan ….!”
Tanpa ragu Penyamar itu kembali membidik Odo, lalu menggerakkan telunjuk untuk mengaktifkan mekanisme pelontar. Sekali lagi menembakkan belati beracun
Namun, Ifrit kembali memancarkan tekanan udara panas dan membelokkan laju belati. Senjata itu menancap pada perabotan kayu di sudut ruangan, hanya melewati sang pemuda tanpa menggoresnya sedikit pun.
“Sialan!” Penyamar tidak berhenti, kembali menyiapkan mekanisme pelontar dan berniat menyerangnya lagi.
“Fu!” Yue Ying segera bangun dan mendekat, lalu dengan mimik wajah cemas ia membujuk, “Tolong berhenti! Mari bicarakan ini dulu⸻!”
“Diamlah!! Nona Muda tidak bergerak bicara!!” bentak sang Penyamar. Ia menatap murka, lalu menodongkan senjatanya ke arah perempuan itu sembari berkata, “Anda seharusnya marah! Bukan malah berlutut menyedihkan! Sialan itu telah membunuh mereka! Kenapa Anda malah menyerah seperti itu! Bukankah kita keluarga?!”
“Bu-Bukan! Saya tidak bermaksud seperti itu⸻!”
“Diamlah!!” bentak sang Penyamar. Ia kembali membidik Odo, lalu dengan tatapan penuh dendam berkata, “Dia harus mati! Aku tidak peduli lagi dengan perintah Kaisar!”
“Raja Luke, apa sebaiknya kita bunuh saja manusia itu?” Ifrit melangkah ke depan Odo. Mengangkat telapak tangan kanan, lalu bersiap menggunakan sihir sembari berkata, “Lagi pula, sepertinya Anda hanya butuh Nona Muda di sana, ‘kan?”
“Kau pandai membaca suasana, ya?” Odo memalingkan pandangan. Sejenak menghela napas, pemuda rambut hitam tersebut kembali menancapkan pedang hitam ke lantai. “Padahal tidak ada yang menjelaskan,” tambahnya dengan nada menyinggung.
“Dari gelagat Anda sudah ketahuan!” Ifrit sekilas melirik. “Jadi, bunuh saja?” tanyanya seraya menjentikkan jari, lalu memperkuat wujud manifestasi dan mengaktifkan Jubah Astral.
Layaknya seorang Adipati Agung, kobaran api mulai menyelimuti tubuh Ifrit dan membentuk sebuah jubah. Udara panas mulai mengkristal, menciptakan sebuah zirah merah yang membalut sekujur tubuhnya. Dimulai dari helm, pelindung dada, tangan, betis, dan bahkan sampai sepatu.
“Berhenti berlagak sombong, Siluman!!” Penyamar tidak bergeming sama sekali. Ia malah tersenyum lebar, lalu dengan suara lantang langsung menghina, “Kau hanyalah budak kami! Bawahan manusia! Beraninya kau menghalangi diriku, huh!?”
“Uwah ….” Odo menyipitkan tatapan. Mencabut pedang dari lantai, pemuda rambut hitam tersebut kembali melumuri bilahnya dengan darah. Sembari menatap sinis, ia dengan nada kesal berkata, “Dia sudah kehilangan akal.”
“Diam kau⸻!”
“Kau yang diam!” Odo langsung melemparkan pedang hitam.
“Ugh⸻! Akh!” Pedang hitam menghunjam perut Penyamar, menahannya ke dinding layaknya sebuah pasak. “Sialan! Sialan! Dasar bedebah!!” teriak pria itu seraya berusaha melepaskan diri.
Namun, gagang pedang langsung mengeluarkan panas saat disentuh. Membakar telapak tangan, lalu membuatnya berteriak kesakitan dan meronta-ronta. Hanya dalam hitungan detik, stamina pria itu mulai habis. Napasnya terputus-putus, lalu wajah pun perlahan berubah membiru karena pendarahan parah.
“Bagus, kau sudah mau diam ….”
Odo menjentikkan jari, lalu mengaktifkan Aitisal Almaelumat pada darah yang menyelimuti pedang hitam. Susunan informasi mulai masuk ke dalam tubuh Penyamar, lalu langsung memodifikasi jaringan otaknya. Mengubah beberapa aspek persepsi, kepribadian, dan bahkan sampai ingatan. Dalam hitungan detik, pria itu pun pingsan dengan mulut mengeluarkan busa.
“Fu!?”
Yue Ying segera mendekat, terlihat panik dan bingung harus melakukan apa. Ia sempat memegang gagang pedang dan hendak mencabutnya, namun langsung dilepaskan karena tangannya terbakar.
“Tenang saja, Nona. Dia hanya pingsan.” Odo mendekat, lalu mencabut pedang tersebut sembari berkata, “Setelah siuman, Anda bisa membujuknya supaya lebih kooperatif.”
“Eh?” Yue Ying segera memeluk sang Penyamar, lalu membaringkan pria itu ke lantai sembari berkata, “Membujuk? Anda ingin apa memangnya⸻?”
“Baiklah!” Odo pura-pura tidak dengar, ia segera berbalik sembari berkata, “Mari kita selesaikan ini dulu!”
“Hmm?” Ifrit tidak membalas, ia malah terlihat bingung karena tidak paham dengan maksud Odo. “Sebenarnya apa yang Anda bicarakan, Raja Luke?” tanyanya seraya menonaktifkan Jubah Astral.
Dalam hitungan detik, zirah dari hasil kristalisasi langsung hancur menjadi butiran debu. Saat jubah di punggungnya lenyap, Ifrit sepenuhnya kembali ke bentuk semula. Wujud humanoid yang tampak seperti pria tanpa busana.
“Apakah dia perlu disembuhkan juga?” Vil menyela pembicaraan. Sembari menunjuk pria yang terkapar di dalam ruang tamu, Siren itu dengan nada datar lanjut bertanya, “Dia sekarat, loh …. Apa tidak perlu ditolong?”
“Ah, Jonatan? Ya, tolong sekalian sembuhkan dia!” Odo berusaha mengganti topik pembicaraan. Memikirkan hal lain, pemuda itu lekas menatap para Elf di dekat pintu utama. “Laura, Magda! Bisakah kalian kemari sebentar? Tolong bantu Vil merawat semua orang yang terluka! Tanyakan ke dia jika butuh sesuatu!” pinta pemuda itu dengan nada sedikit gugup.
“Eh?” Magda terlihat enggan, tidak bergerak dari tempat dan ingin berjongkok di sudut ruangan. Sembari mengerutkan kening dan menatap pucat, Elf rambut pirang itu malah membalas dengan bertanya, “Membantu dia?”
“Kamu yakin dia tidak akan menyerang kami?” Laura meragukan. Memperlihatkan reaksi menolak, lalu berjalan maju sembari menggosok hidungnya sendiri. “Kamu mengendalikan dia, bukan?” tanyanya untuk memastikan.
“Entahlah ….” Odo tidak menjawab dengan jelas, ia malah menunjuk ke arah Vil sembari berkata, “Tanyakan saja ke orangnya.”
__ADS_1
“Tidak akan!” Vil berjalan memasuki ruang tamu. Sembari melirik, dengan suara berat Roh Agung tersebut menambahkan, “Kalian masih berguna untuk Odo ….”
Meski tampak keberatan, pada akhirnya Laura dan Magda setuju. Mereka berjalan mengikuti Vil, lalu membantu Roh Agung tersebut untuk melakukan pertolongan pertama.
“Baiklah, kalau begitu ….” Odo lekas memalingkan pandangan, lalu melihat ke arah lantai dua sembari berteriak, “Bisakah kau berhenti menonton, Sistine?! Keluarlah kalian semua! Bisa-bisanya para Adherents diam saja saat kekacauan ini terjadi!”
“Kami tidak diam ….” Seorang perempuan dengan seragam pelayan meloncat turun dari lantai dua, ia memanggul Putra Bungsu Keluarga Stein, Xavier. “Daripada keselamatan penduduk kota atau masalah peperangan, kami lebih memprioritaskan garis keturunan keluarga bangsawan,” tambahnya setelah mendarat.
“Kalau begitu, kenapa kalian malah meninggalkan Ri’aima?” tanya Odo sembari menunjuk ke arah tanak tangga, memperlihatkan perempuan rambut biru pudar yang terbaring pingsan di sana. Sejenak menarik napas dalam-dalam, ia lekas memberikan tatapan heran seraya lanjut bertanya, “Dan juga, Baldwin pergi ke mana? Dia tidak ada di sini, ‘kan?”
“Kami berniat mengamankan Nona setelah membawa Tuan Muda pergi,” jawab Sistine dengan nada ketus. Sekilas memalingkan tatapan, ia segera mengangkat telunjuk untuk memberikan tanda kepada para Adherents yang bersembunyi. Menurunkan tangan, perempuan rambut cokelat kepirangan tersebut lanjut menjawab, “Sedangkan untuk Tuan Baldwin, beliau sepertinya sedang berada di barak bersama para pasukan. Saya sudah mengirimkan kelompok untuk menjemput beliau ….”
“Ngapain dia di sana?” Odo menyipitkan tatapan.
“Entahlah, beliau hanya bilang tidak ingin berdiam diri ….” Sistine enggan menjelaskannya secara rinci. Memikirkan alasan lain, Adherents itu dengan nada sedikit ragu menambahkan, “Dia mungkin iri setelah melihat pencapaian Anda.”
“Uwah!” Odo pura-pura tidak menyadari kebohongan itu. Tidak ingin berdebat, ia memperlihatkan reaksi percaya dengan bertanya, “Karena harga diri?”
“Mungkin saja!” Sistine memberikan tatapan tegas.
“Kesampingkan dulu hal itu!” Odo membuka telapak tangan kanan, lalu langsung mendekatkan wajah sembari bertanya, “Daripada kabur, kenapa kalian tidak membantuku?”
Sistine terkejut, langsung melangkah mundur dengan mimik wajah pucat. Tampak tertekan, lalu mulai meletakkan tangan kiri ke belakang. Menggenggam belati yang tersembunyi di balik pakaian.
“Membantu? Maksud Anda, membantu kalian mempertahankan kota ini?” Sistine meragukan tawaran itu. Memperlihatkan gelagat waspada, lalu perlahan menarik belati tempur dari sarungnya. “Anda yakin kita bisa menang?” tanya perempuan itu untuk memastikan.
“Iya …!” Odo menunjuk ke arah Xavier, lalu dengan nada sedikit menekan kembali menawarkan, “Bukankah anak itu juga merasa demikian? Ingin melawan sampai akhir! Karena itulah kau membawanya secara paksa, ‘kan? Bergabung lah dengan ku!”
“Anda sangat teliti ….” Sistine mengurungkan niatnya untuk menarik pisau tempur ataupun melawan. Sejenak menghela napas, perempuan berbalut seragam pelayan itu kembali memastikan, “Memang masih bisa? Meski kabar yang disampaikan mereka palsu, saya barusan menerima informasi kalau gerbang utama sedang diserang! Kekaisaran sudah sampai!”
“Informasi?” Odo sedikit bingung. Sembari memalingkan pandangan ke arah pintu utama Mansion, pemuda rambut hitam tersebut lekas bertanya, “Bukankah dari tadi kamu di sini terus? Itu aneh ….”
“Lihat ini …!” Siesta menyerahkan selembar pesan.
“Hmm?” Odo kembali menghadap ke arah perempuan itu, lalu menerima secarik kertas kecil darinya. “Kenapa terbakar?” tanyanya dengan bingung.
“Burung yang membawa surat itu tertembak jatuh,” jelas Sistine. Sekilas memutar bola matanya ke samping, perempuan rambut cokelat kepirangan itu dengan senyum kecut menambahkan, “Sampai jadi unggas panggang!”
“Tertembak?” Odo mengingat sihir meriam yang direfleksikan ke arah langit-langit Mansion. Sekilas mengangkat bahu, pemuda itu dengan nada ringan berkata, “Maaf, itu tidak sengaja.”
“Kenapa?” Odo tidak terkejut, terlihat tenang meski saran itu cukup bertentangan dengan tujuannya.
Untuk sesaat suasana berubah tegang, mereka berdua saling menatap tajam dalam kesenyapan. Bahkan, para Adherents yang baru turun untuk mengangkat Ri’aima sempat terhenti. Mereka terdiam gemetar karena tekanan yang dipancarkan kedua orang itu.
“Mengapa malah balik bertanya?” Sistine berbicara sedikit kasar. Tidak memedulikan status lawan bicaranya, dengan tegas perempuan itu menjelaskan, “Kalau Tuan Odo sampai tertangkap pasukan Kekaisaran, Anda bisa dijadikan tahanan perang yang sangat merugikan Felixia!”
“Makanya aku tanya kenapa?” Odo berbalik, melihat ke arah Yue Ying sembari berkata, “Tuh, lihat saja Jenderal di sana! Dia bahkan tidak bisa menangkap diriku, apalagi pasukan mereka!”
“Bukan itu yang saya maksud!” bentar Sistine dengan kesal.
“Aku tahu! Kau hanya ingin melaksanakan tugas ….” Odo mengacungkan pedang hitam ke depan. Sembari memberikan ancaman, pemuda itu dengan nada tegas kembali meminta, “Meski begitu, sekali lagi diriku dengan tulus meminta bantuan kalian!”
“Memangnya apa yang bisa kami bantu?” Sistine membalas dengan tatapan tajam, ia tidak merasakan niat membunuh dari ancaman tersebut. Setelah menghela napas, perempuan rambut cokelat kepirangan itu lekas menegaskan, “Asal Tuan Odo tahu! Kami adalah unit yang dikhususkan untuk pengawalan dan penyergapan! Kami sangat lemah dalam pertempuran frontal! Apalagi mempertahankan kota ini dari gempuran ribuan pasukan!”
“Nah, itu yang aku butuhkan.” Odo menurunkan pedangnya. Menangkap balasan itu sebagai jawaban setuju, pemuda rambut hitam tersebut lekas menjelaskan, “Sekarang, mari bantu aku! Selama ada kalian, kita pasti bisa mempertahankan⸻!”
Perkataannya tiba-tiba terhenti, ekspresi panik mulai tampak pada wajah pemuda itu. Seakan-akan dirinya sedang melihat sesuatu yang menakutkan.
“Apa ada yang salah, Tuan Odo?” Sistine ikut panik, merasa cemas karena tidak pernah melihat ekspresi seperti itu darinya.
“Aneh sekali …!” Odo lekas berbalik, melangkah pergi sembari bergumam, “Kenapa mereka sampai secepat ini?”
“Tuan Odo?” Sistine mengikuti pemuda itu dengan cemas, lalu meraih tangannya dan bertanya, “Apa yang terjadi?”
“Maaf …!” Odo lekas menyingkirkan tangan perempuan itu. Sekilas melirik, ia dengan tatapan apatis berkata, “Lakukan saja semau kalian!”
“Eh?” Sistine tersentak, melangkah mundur dan hampir menjatuhkan Xavier.
“Ada apa, Odo? Kenapa kamu terlihat marah begitu?”
Vil segera keluar dari ruang tamu, panik saat mendengar suara bentakan pemuda itu yang terasa menyeramkan. Meninggalkan Jonatan yang belum selesai dipulihkan.
__ADS_1
“Kalian tunggu di sini!” ujar Odo dengan tegas. Menatap ke arah Vil, pemuda rambut hitam tersebut segera menambahkan, “Pastikan tidak ada yang keluar dari Mansion!”
“Memangnya apa yang terjadi?” Vil semakin bingung dan cemas. Meraih tangan sang Pemuda dan menggenggamnya erat-erat, Siren tersebut lekas mendekatkan wajah sembari meminta, “Tolong jelaskan! Jangan buat diriku takut!”
“Kondisi garis depan semakin memburuk,” jelas Odo dengan singkat. Ia menahan napas sejenak, lalu dengan nada cemas menegaskan, “Kita kehabisan waktu.”
“Garis depan?” Mendengar jawaban itu, Vil malah terlihat lega dan mulai mengelus dada. Senyum bahkan sempat tampak pada wajah Roh Agung tersebut. “Syukurlah, ternyata hanya mereka. Saya kira ada sesuatu yang mengerikan telah terjadi,” ujarnya seraya melepaskan tangan pemuda itu.
“Kau …!” Odo sedikit tercengang, namun tidak memberikan komentar ataupun menegur. Segera memalingkan pandangan, pemuda rambut hitam tersebut mengajak, “Ifrit! Ikut aku!”
“Eh?” Ifrit tersentak, ia tidak mengira akan dipilih oleh pemuda itu. “Kenapa⸻!”
“Sudahlah! Ikut saja!” bentak Odo. Sembari berjalan menuju pintu keluar, ia dengan tegas menambahkan, “Lagi pula, kau tidak bisa kembali karena kontraknya hilang, ‘kan?!”
“Ta-Tapi, wujud makhluk astral⸻!”
“Bekal!” Odo kembali membentak. Pemuda rambut hitam tersebut lekas berbalik, lalu menunjuk makhluk astral itu sembari menegaskan, “Aku sudah memberi kalian bekal!”
“Eh?” Ifrit tampak bingung, tidak percaya dengan perkataan itu dan mulai menatap curiga. Sekilas menoleh ke arah Vil, sosok berselimut hawa panas tersebut dengan ketus berkata, “Diriku tidak seperti Siren di sana! Wujud dan raga ku ini adalah padatan energi murni! Tanpa darah, kulit, atau bahkan tulang dan otot!”
“Aku sudah memberikan bekal kepada kalian supaya bisa eksis di Dunia Nyata! Wujud kalian disetarakan!” Odo sekali lagi menegaskan. Berhenti menunjuk, pemuda rambut hitam tersebut lanjut menjelaskan, “Kalian tidak lagi membutuhkan Kontrak Sihir untuk eksis di sini!”
“I-Itu nyata?!” Ifrit menyentuh tubuhnya sendiri, lalu memeriksa sensasi pada permukaan kulit sembari bertanya, “Anda tidak membual soal itu?!”
Ifrit merasakan ada sesuatu yang berbeda. Saat dirinya dipanggil ke Dunia Nyata melalui ritual dan Kontrak Sihir, seharusnya wujud yang termanifestasi adalah bentuk burung api. Hanya berupa fragmen dari seluruh kekuatannya sebagai Roh Agung.
Namun, saat ini Ifrit sepenuhnya datang dengan wujud humanoid. Sama seperti saat dirinya berada di Dunia Astral, hanya saja lebih lemah karena kekuatannya tertahan sampai batas tertentu. Supaya tubuh fisik miliknya tidak kelebihan muatan, lalu hancur atau meledak dari dalam.
“Bedebah, kenapa kau malah menyinggung diriku?!” Odo sedikit kesal karena diragukan. Menghela napas sejenak, ia kembali menunjuk sembari mengancam, “Ingin aku pukul lagi, hah?!”
“Sa-Saya tidak bermaksud!” Ifrit tidak takut, namun ia sedikit merasa tertekan oleh tatapan tajam pemuda itu. Memalingkan pandangan, sosok berselimut hawa panas tersebut berkata, “Saya minta maaf …!”
“Sudahlah! Ayo!” Odo lekas berbalik, lalu berjalan menuju pintu utama sembari berkata, “Vil, kau susul kami setelah selesai memulihkan semua orang! Laura dan Magda! Kalian berjaga di sini! Jelaskan situasi ini kepada mereka setelah siuman!”
“Be-Berjaga?!” Laura yang mendengar itu dari ruang tamu langsung terkejut, dengan panik Elf rambut pirang itu berkata, “Ta-Tapi! Senapan! Kami tidak punya senjata!”
“Itu benar! Kami tidak punya senjata atau kemampuan sihir sehebat kalian!” sambung Magda.
“Ada senjata, kok!” Odo kembali terhenti, menunjuk ke luar sembari berkata, “Ambil tuh tombak dan pedang di depan!”
“Da-Dari mayat?!” Magda tersentak.
“Kalian prajurit, ‘kan? Pakai saja!” Odo segera berjalan keluar, menyalurkan Mana pada bilah pedang hitam dan mengajak, “Ayo kita pergi, Ifrit⸻!”
Perkataannya terhenti. Tanpa sengaja, Odo menginjak Leviathan yang terbaring di dekat pintu utama Mansion. Putri Naga itu masih tidak sadarkan diri, mulai mendengkur layaknya sedang tertidur pulas.
“Ah, kita lupa dengan Leviathan ….” Vil kembali mendekat, menunjuk ke arah Putri Naga itu sembari bertanya, “Kita apakan dia? Odo membawa kadal ini karena butuh kekuatannya, bukan?”
“Vil, tolong jaga dia bersama yang lain!” Odo berjalan melangkah Putri Naga itu. Melewati pintu utama, lalu dengan suara lantang kembali menegaskan, “Jangan biarkan siapa pun keluar dari Mansion! Siapa pun!!”
Ifrit berjalan pergi mengikuti pemuda itu. Setelah mereka berdua keluar, pintu utama ditutup rapat-rapat. Seketika keheningan mengisi ruangan, terasa dingin karena suhu langsung turun drastis.
“Se-Sebentar! Berarti kami juga tidak boleh pergi?!”
Sistine tampak cemas saat menyadari hal tersebut. Ia perlahan melangkah mundur sembari menjaga jarak, lalu berniat membawa Xavier dan Ri’aima pergi.
“Pergi saja, diriku takkan melarang kalian. Lagi pula, Odo juga tidak membutuhkan kalian lagi …. Namun!” Vil dengan anggun mengangkat tangan kirinya ke depan, lalu menunjuk para Adherents sembari memperingatkan, “Tinggalkan gadis yang ingin kalian bawa kabur itu!”
“Baiklah, kami akan meninggalkan Nona Ri’aima ….”
Sistine dengan mudah menuruti tuntutan tersebut. Ia memberikan tanda kepada rekan-rekannya, lalu meminta mereka untuk menurunkan Putri Sulung Keluarga Stein. Membaringkan perempuan rambut biru pudar itu di dekat anak tangga.
“Kalian memang aneh, tidak diriku sangka kalian akan patuh secepat itu.” Vil sedikit terkejut, lekas menurunkan tangannya dan sejenak menarik napas lega. “Atau mungkin kalian hanya tidak peduli?” tambahnya dengan nada penasaran.
“Kami hanya mengikuti urutan prioritas ….” Sistine segera berbalik, lalu menuruni anak tangga dan pergi menuju koridor yang mengarah ke dapur. Sekilas menoleh, ia perlahan memberikan tatapan datar sembari bertanya, “Bukankah kamu juga memilikinya?”
“Benar, diriku juga memilikinya ….” Vil membalas dengan nada datar. Tidak peduli lagi dengan hal tersebut, ia lekas berjalan menuju ruang tamu untuk melanjutkan pertolongan pertama. “Bagiku semua ini tidak penting,” gumamnya dengan mimik wajah malas.
\==============================
Catatan :
__ADS_1
Yeah, mulai.
Baru mulai si Leviathan malah AFK!