Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[79] True, Truth, Turn (Part 06)


__ADS_3

 


 


 


 


“Bagaimana caranya? Selain tangan yang ada di lantai ini, kita tidak bisa menyerangnya. Kalau sialan itu kabur menggunakan kekuatannya, kita bisa gawat ⸻” Magda sesaat terdiam, merasa kalau membiarkan Matius kabur juga bisa membawakan keuntungan untuk tujuannya. Sembari tersenyum tipis ke arah rekannya, perempuan itu dengan mimik wajah licik berkata, “Mungkin membiarkannya kabur juga pilihan bagus. Kita bisa memancing Odo Luke kemari …. Kalau pria itu kabur ke tempatnya, pasti Putra Tunggal Keluarga Luke itu akan datang.”


 


 


“Ah, ide yang bagus.” Ul’ma tertawa ringan layaknya seorang iblis, lalu sembari menyeringai gelap ia pun berkata, “Kalau begitu, akan aku potong tangannya dan biarkan dia kabur.”


 


 


Tanpa bisa bergerak dari tempat saat sihir untuk menyerap darah orang-orang di ruangan aktif, Ul’ma membuka telapak tangannya ke arah tangan yang berada di atas permukaan kayu. Ia membagi aktivasi sihir, lalu mulai mengumpulkan Mana dan bersiap untuk memotong tangan Matius yang terkunci menggunakan sihir angin.


 


 


Namun di tengah situasi tersebut, dari pintu toko yang terbuka melangkah masuk pemuda yang kedua Elf tersebut cari. “Bisa kalian berhenti bermain-main dengan pegawaiku?” ujarnya sembari mengambil sebilah pedang Gladius dari dimensi penyimpanan.


 


 


Saat kedua Elf tersebut mulai menoleh dan menangkap Odo secara visual dengan mata mereka, pemuda rambut hitam itu menggunakan Langkah Dewa dan seakan tiba-tiba menghilang ia langsung berdiri di antara mereka. Memegang pundak kanan Magda, Pemuda itu seketika melakukan akses menuju sirkuit sihirnya. Secara satu pihak dan paksa, Odo Luke lalu membatalkan sihir pengunci yang Elf itu pasangkan kepada Matius.


 


 


Terbebas dari sihir yang membuat tangannya terjebak, Matius segera menarik masuk kedua tangannya dan menyelam sepenuhnya di dalam dimensi semu. Menyadari ada hal yang janggal dari sentuhan pemuda itu, Ul’ma segera menurunkan tingkat manifestasi Prajurit Peri dan membuat salib di belakang tubuhnya berubah kembali menjadi sayap tujuh warna.


 


 


Merasakan hawa membunuh dan mewaspadai pedang pada tangan kanan Odo, dengan cepat Ul’ma meloncat menjauh sampai punggungnya menyentuh dinding ruangan.


 


 


Tidak seperti rekannya tersebut, Magda yang telah disentuh Odo sama sekali tidak bisa bergerak dari tempat. Berdiri membatu, tanpa bisa menggerakkan ujung jarinya sedikit pun. Sentuhan yang Odo berikan tidak hanya mengganggu sirkulasi Mana dalam tubuhnya, namun juga mengaktifkan beberapa sihir yang pernah pemuda itu tanamkan kepadanya saat pertama kali menyerang Kota Mylta.


 


 


“Apa Putri itu tidak memberitahu kalian?” Odo mengangkat tangannya dari Magda, lalu menoleh dan menatap tajam Ul’ma di pojok ruangan. Sembari menodongkan pedangnya ke depan ia pun berkata, “Kalau kalian melakukan hal bodoh lagi, tidak ada kesempatan yang kedua …. Aku seharusnya sudah bilang ke Tuan Putri itu kalau sihir yang aku tanamkan bisa saja aktif saat melakukan kontak denganku, bukan? Huh, biarlah …. Sebelum mati, jawaban pertanyaanku. Untuk apa kalian menyerang Mylta? Seharusnya aku sedang beraliansi dengan putri kalian untuk mencegah peperangan ….”


 


 


“Beraliansi?” Kening Ul’ma seketika mengerut kencang sampai otot-ototnya tampak di permukaan kulit. Mimik wajahnya pun dipenuhi amarah dan dengan lantang membentak, “Yang benar saja! Kau telah mengkhianati kami!!? Kau menenggelamkan kapal kami di tengah laut! Padahal Tuan Putri sudah sangat percaya, tapi kau malah mengkhianatinya!!”


 


 


“Hah?” Odo sedikit memiringkan kepalanya, lalu dengan bingung bertanya, “Apa yang kau bicarakan? Menenggelamkan?”


 


 


“Jangan pura-pura bodoh!! Kekuatan itu …manifestasi petir di langit itu! Tidak salah lagi itu adalah sihir yang kau gunakan untuk mengalahkan kami!! Tepat saat kami hampir sampai di Tanah Air, kau mendatangkan badai dan menenggelamkan kapal kami!!”


 


 


“Huh? Badai ….?” Odo benar-benar tidak paham dengan apa yang Elf itu katakan. Dituduh seperti itu, ia hanya bisa memalingkan wajahnya dan berpikir kenapa bisa para Prajurit Peri menyimpulkan hal seperti itu adalah ulahnya dan malah memutuskan untuk menyerang Mylta. Kembali menatap ke arah Ul’ma, pemuda rambut hitam tersebut kembali bertanya, “Kalau kalian membuat kesimpulan seperti itu, berarti apa yang terjadi kepada Tuan Putri?”


 


 


“Tuan Putri … dia meninggal. Saat badai, tubuhnya terlempar ke laut …. Kami sudah mencarinya berhari-hari, tapi⸻”


 


 


“Itu mustahil.”


 


 


“Apa? Jangan membual lagi! Mana mungkin aku percaya⸻!!!”


 


 


“Itu memang tidak mungkin. Kalau Putri kalian mati, mana mungkin salah satu rekanmu masih bisa menggunakan Parva Nuclear. Dia …, Elf bernama Laura itu sedang mempersiapkan itu di langit kota Mylta, ‘kan? Kalau memang Putri Ulla sudah meninggal, tidak mungkin sihir itu bisa aktif.”


 


 


“Apa … yang kau bicarakan?”

__ADS_1


 


 


Ul’ma dibuat terdiam, tidak mengerti kenapa bisa Odo Luke bisa mengatakan hal seperti dengan sangat meyakinkan. Meski dirinya tidak tahu tentang persyaratan pengaktifan Parva Nuclear, namun memang ada beberapa kemungkinan terkait pembatasannya.


 


 


“Aku pernah mendengar itu dari Rhea.” Odo menurunkan pedangnya, menyembunyikan tangan kiri ke belakang pinggang dan mulai menyusun pengaktifan Aitisal Almaelumat untuk menyerang. Sembari mengulur waktu ia menjelaskan, “Beberapa sihir dan senjata kalian ada yang memiliki proteksi. Di antaranya, ada juga yang memiliki protokol pengaktifan sangat rumit dan hanya bisa diizinkan oleh anggota kerajaan. Seharusnya kalau Elf di atas sana masih bisa menggunakan sihir semacam itu, berarti izin yang Putri Ulla berikan kepadanya saat dulu melawan diriku masih aktif.”


 


 


“Apa yang membuatmu yakin kalau izin semacam itu akan hilang kalau Tuan Putri meninggal. Bisa saja … izin yang diberikan bisa berlaku permanen selama tidak dibatalkan?”


 


 


“Entahlah. Aku tidak tahu ….”


 


 


“Huh, dasar pembohong! Kau pikir aku akan percaya⸻!”


 


 


“Tidak, ini sudah cukup.”


 


 


Pembicaraan yang Odo lakukan hanyalah untuk mengulur waktu selesai, waktu yang tercipta sudah lebih dari cukup untuk memberikannya kesempatan menyusun dan mengumpulkan Aitisal Almaelumat pada tangan kirinya. Sebelum Ul’ma bisa bereaksi, pemuda rambut hitam tersebut menggunakan Langkah Dewa dan langsung mengurangi jarak yang ada.


 


 


Odo dalam hitungan detik berdiri di hadapan Ul’ma, membuat Elf tersebut terkejut dan mengaktifkan sihirnya untuk menyerang. Namun lebih cepat daripada pergerakan Ul’ma, Odo langsung mencengkeram wajahnya dengan tangan kiri dan mengaktifkan Aitisal Almaelumat yang telah disiapkan.


 


 


Pada saat itu juga, susunan informasi yang ada di kepala Ul’ma dibaca oleh Odo. Layaknya arus listrik statis, semua informasi milik Elf tersebut bergerak masuk ke dalam kepala Odo melalui kontak fisik yang dilakukan.


 


 


 


 


Tepat sebelum tubuh Ul’ma tersebut ambruk ke belakang, Odo mengangkat pedangnya dan dalam sekali ayunan pedang memenggal kepala Elf tersebut. Dengan sangat rapi, tepat pada bagian leher.


 


 


Tubuhnya ambruk ke belakang dengan sangat ringan, mewarnai dinding dan lantai dengan merahnya darah. Sedangkan kepalanya masih Odo cengkeram, lalu saat berbalik pemuda itu pun melemparkannya ke arah Magda.


 


 


Menggelinding dan menggelinding, lalu berhenti saat menyentuh kaki Magda. Meski rekannya telah dihabisi, mimik wajah sedih atau marah tidak tampak padanya. Hanya ketakutan dan rasa menyesal yang terlihat darinya.


 


 


“Ada apa? Apa kau tidak berteriak dan ingin membalaskan dendam? Sama seperti saat Tuan Putrimu mati?”


 


 


Provokasi yang Odo berikan tidak membuat Magda mengubah ekspresi wajahnya. Pemandangan kematian rekannya membuat Elf tersebut kembali mengingat pada sebuah trauma, tentang apa yang terjadi pada saat dirinya bersama rekan-rekannya terkurung di Dunia Kabut yang Odo ciptakan saat melakukan manifestasi dewa.


 


 


“Ke-Kenapa … kau tidak langsung membunuh diriku? Kenapa … malah engkau malah membunuh Ul’ma dulu? Seharusnya kau bisa lebih dulu⸻?”


 


 


“Kau terlihat lebih mudah diajak bicaranya daripada Elf yang sudah menjadi mayat itu. Lalu, untuk kesalahpahaman yang ada ….” Odo sesaat berhenti berbicara, merasa percuma melanjutkan topik tersebut saat dua Elf lainnya tidak ada di tempat. Setelah menghela napas ringan dan menatap tajam lawan bicaranya ia pun kembali berkata, “Kurasa itu sudah tidak penting lagi. Kalau memang yang menenggelamkan kapal kalian itu menggunakan kekuatan yang sama seperti yang pernah aku gunakan, berarti itu memang ulah sang Dewi …. Aku rasa itu bayaran yang diminta Helena dari Lileian …. Tak aku sangka dia sudah membuat langkah sebelum diriku mendeklarasikan permusuhan.”


 


 


Dalam ketakutan, Magda berusaha mencerna perkataan Odo. Namun semakin dalam dirinya memahami maksud pemuda itu, ia malah semakin bertambah bingung karena itu seakan lawan bicaranya tersebut ingin berdiskusi dalam jangka waktu yang tidak singkat. Meski seharusnya Odo Luke sudah tahu bahwa Parva Nuclear sedang dalam proses pengaktifan di langit Mylta.


 


 


“Apa … dirimu yakin ingin berdiskusi dan meyakinkan ku sekarang? Meski paham tidak punya banyak waktu yang tersisa, dirimu ingin meyakinkan diriku?”

__ADS_1


 


 


“Ah ….”


 


 


Odo sedikit memalingkan pandangan, paham mengapa Elf tersebut itu bingung. Mengesampingkan rekan Magda yang telah terbunuh, memang dari awal para Prajurit Peri datang dengan niat bunuh diri bersama Kota Mylta dan Odo.


 


 


Melihat pemuda itu sama sekali tidak panik atau cemas meski telah sadar bahwa Parva Nuclear telah dalam proses pengaktifan, Magda hanya bisa merapatkan bibir dan menatap pucat. Merasa seperti dipermainkan dan tekadnya diinjak-injak seakan tidak berarti.


 


 


“Ada apa?” tanya Magda dengan rasa gelisah yang mulai menguasai. Bersama dengan ketakutan yang perlahan terkikis, ia mengambil satu langkah maju dan kembali bertanya, “Kenapa kamu hanya diam? Apa dirimu sama sekali tidak khawatir kalau Kota Mylta rata dengan tanah? Atau memang dari awal dirimu tidak peduli? Ya, layaknya Tuan Putri Ulla yang dirimu khianati!”


 


 


“Aku sudah menyerahkan kedua rekanmu kepada Tangan Kananku. Untuk sekarang, kau tak perlu cemas. Kota ini tidak akan tiba-tiba diledakkan. Karena itu, mari duduk dan bicara. Apa kau tidak merasa nyaman karena ada mayat rekanmu di sini?”


 


 


“Menyerahkan? Tangan Kanan?”


 


 


Untuk sesaat Magda tidak paham dengan apa yang dikatakan Odo. Tetapi saat dirinya mengingat kabar angin yang ada di antara masyarakat Mylta saat menyusup melalui kekacauan di gerbang kota, seketika kedua matanya terbuka lebar dan tubuh pun gemetar.


 


 


\===============================


Catatan:


 


 


Yeah, tak semudah membalikkan tangan. Kalau ada yang ingin mencegah perang, pasti ada yang mengharapkan perang.


 


 


 


 


Yo, terima kasih sudah menunggu. Dari tanggal 30 bulan 10, baru bisa update lagi. Kalau ada yang tanya kenapa bisa lama gak update, yang gabung di grup pasti tahu.


 


 


Lalu, saya juga sedang sibuk karena Pandemi ini …..


 


 


Baik ekonomi, kesehatan, kesibukan, dan kehidupan, banyak yang perlu diurus dulu. Mungkin update selanjutnya bakal lama lagi ….


 


 


Untuk penutup update kali ini akan saya katakan …..


 


 


HILANGLAH CORONA SIALAN!!!!! LENYAP DARI SEMESTA INI!!!


 


 


See you Next Time!


Doakan saja Author masih hidup dan sehat selalu supaya bisa garap nih Novel.


Author gak kehabisan ide, tapi waktu dan stamina.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2