
“Gawat, kita benar-benar membunuhnya ….”
Perkataan tersebut seakan menjadi sebuah pembuka seri novel misteri, di mana sang pelaku melakukan tindak kejahatan di awal cerita. Badai yang turun serasa ingin mendukung suasana kasus yang ada, diikuti petir yang sesekali menyambar dan menerangi tempat kejadian yang gelap.
Di lembah tanpa penerangan dan diisi oleh gemuruh badai, dua laki-laki itu berdiri di antara mayat-mayat monster. Darah di permukaan tanah dibasuh air hujan, menyingkirkan aroma amis layaknya ingin menghapus jejak-jejak pembantaian yang ada di tempat tersebut.
Berdiri saling bersebelahan, Odo Luke dan Ferytan Loi hanya bisa tertegun melihat hasil yang tidak sengaja mereka dapat selama pelatihan berlangsung. Menatap datar ke arah salah satu mayat yang tergeletak, mereka mulai melirik satu sama lain seakan-akan ingin menyalahkan.
Mayat yang menjadi pokok masalah bukanlah monster, melainkan seorang pria manusia. Terlebih lagi, pria yang telah terbunuh tersebut mengenakan pakaian khas berupa jubah labuh berwarna merah. Tanda bahwa dirinya adalah orang dari Kekaisaran Urzia.
Di tengah hujan deras, Odo bahkan untuk sesaat tidak tahu harus melakukan apa kepada mayat tersebut. Itu benar-benar di luar perkiraannya, bahwa akan menyeret orang luar dan malah membunuhnya selama pelatihan. Meski tidak sengaja, namun kematian pria tersebut memang sebuah fakta yang tidak bisa diubah.
Tepat beberapa belas menit lalu, Putra Tunggal Keluarga Luke masih melatih Ferytan dengan metode seperti yang sama seperti sebelumnya. Memancing para monster, meningkatkan tingkat kesulitan dengan jenis dan jumlah, lalu sesekali membantu pria tua tersebut jika keadaan mendesak.
Tetapi, tepat setelah tingkat kesulitan baru saja dinaikkan, monster yang terpancing oleh aura naga milik Odo malah membawa mayat pria dari kekaisaran tersebut. Dipanggul oleh salah satu Ogre yang datang, sudah tidak bernyawa sebelum sampai di hadapan mereka berdua.
Mengingat siapa yang terus menerus memancing monster dari hutan dalam jumlah yang tidak wajar, kemungkinan besar pria malang tersebut terlibat dalam gelombang monster yang berbondong-bondong datang karena terprovokasi aura milik Odo. Membuatnya tidak bisa kabur dari gelombang monster agresif, lalu pada akhirnya terbunuh.
Berjongkok di depan mayat pria tersebut, Odo mulai memeriksa mayat tersebut. Mencari sesuatu yang bisa dipakai sebagai pengenal, lalu mencari tahu siapa sebenarnya mayat pria itu dan mengapa bisa sampai di Wilayah Luke.
Untuk sesaat Odo mengira bahwa mayat tersebut adalah pedagang, melihat pakaian yang dikenakan dan perhiasan yang dipakai. Namun saat menemukan beberapa lembar talisman pada saku, kesimpulan tersebut pun terbantahkan.
“Ah …, ini benar-benar gawat. Dia seorang Shaman,” ujar Odo sembari menunjukkan lembaran-lembaran talisman yang diambil. Menatap datar ke arah Ferytan, pemuda rambut hitam itu pun bertanya, “Bagaimana ini? Kita sepertinya membunuh orang penting.”
“Ke-Kenapa malah tanya ke saya ….”
Bagi Ferytan yang tidak memahami seberapa penting Shaman di kalangan orang Kekaisaran, pertanyaan itu sangat membingungkan. Namun saat melihat wajah cemas Odo, pria tua tersebut paham bahwa situasi tak diinginkan sedang terjadi.
“Sebenarnya Shaman bukanlah hal yang jarang di Kekaisaran.” Odo membuang kertas talisman yang basah ke tanah. Kembali melihat ke arah mayat pria, pemuda itu kembali menggeledah dan berkata, “Namun, masalahnya kenapa pria ini bisa ada di sini? Meski ada kemungkinan seperti disewa oleh pedagang sebagai pengawal, tetapi ke mana pedagang yang dia kawal?”
“Bisa saja … dia mengorbankan diri untuk melindungi orang yang menyewanya? Supaya yang lain bisa kabur dari serangan serbuan monster yang Tuan Odo pancing ke sini.”
“Kau punya cara pandang yang sangat hijau ….” Perkataan yang terdengar sangat naif tersebut membuat Odo mengerutkan kening. Setelah menghela napas ringan, pemuda itu berhenti menggeledah dan berkata, “Itu tidak masuk akal. Orang yang dekat dengan sihir akan selalu mementingkan nyawa mereka karena pengetahuan, lalu meletakan nyawa orang lain dalam prioritas yang lebih rendah. Dengan kata lain, Shaman akan kabur jika nyawanya terancam dan dengan mudah menelantarkan klien mereka.”
“Jika dipikir-pikir lagi, itu memang benar juga.” Ferytan jongkok di dekat Odo. Sembari ikut menggeledah dan mencari barang yang bisa digunakan sebagai petunjuk, pria tua itu kembali berkata, “Mereka bukan seorang ksatria, jadi saya rasa hal tersebut sangat wajar⸻”
“Hmm, apa ini?”
Odo menemukan sesuatu dari pakaian mayat yang dirinya geledah. Itu adalah sebuah liontin batu giok dengan rantai tembaga yang patah, berbentuk ukiran Liong, seekor ular naga tak bersayap dalam jenis Lindworm.
Sedikit teringat dengan alasan An Lian dan Huang Xian melakukan perjalanan menuju Kekaisaran, untuk sesaat Odo merasakan sebuah hubungan pada hal tersebut. An Lian berasal dari Keluarga Qibo yang melambangkan ular dari 12 Komandan Zodiak yang ada. Melihat alasan keturunan yang dibuang dipanggil kembali oleh kekaisaran, ada juga kemungkinan bahwa keluarga lain dalam 12 Komandan Zodiak juga mendapat panggilan yang sama dari sang Kaisar.
Setelah Odo mengamati kembali pria yang telah menjadi mayat tersebut, ia segera tahu sebuah kejanggalan yang ada. Tetapi, tetap saja untuk menguak fakta dari orang mati memanglah sulit.
“Apa orang ini sudah sampai lebih dulu ke Ibukota Kekaisaran, lalu mendapatkan perintah untuk mencari keturunan yang lain? Atau … dia malah memang dari awal berasal dari Kekaisaran, lalu datang untuk melakukan sesuatu di sini karena perintah dari sang Kaisar? Atau bisa jadi dia seorang mata-mata yang dikirim oleh pasukan kekaisaran? Mengingat perang yang bisa terjadi kapan saja, mengirim pengintai memang strategi dasar untuk memenangkan medan pertempuran dan meningkatkan keunggulan pasukan ….”
Odo bergumam dan terus bergumam. Sembari menatap liontin yang dipegang, Putra Tunggal Keluarga Luke sejenak mengerutkan kening dan merasakan sebuah kejanggalan lain. Tidak ingin membuang banyak waktu, ia segera membuang rantai dan memasukkan batu giok ke dalam dimensi penyimpanan untuk diperiksa nanti.
Melihat kegelisahan Odo, Ferytan yang juga bingung pada akhirnya bertanya, “Apa kita akan membiarkan mayat ini di sini? Besok kita akan berlatih di sini lagi, bukan?”
“Tenang saja, aku akan mengurusnya. Untuk besok, sepertinya kita perlu pindah ke tempat lain supaya tidak memancing kecurigaan. Bisa saja ada pengintai lain yang datang ke tempat ini besok.”
Odo menggigit ujung sarung tangan kanan, lalu melepaskannya dan membuat rajah yang bertuliskan angka 100 dalam bilangan romawi terlihat. Meletakan telapak tangan ke kening mayat pria kekaisaran tersebut, secara langsung pemuda itu menggunakan Aitisal Almaelumat dan mengakses otak mayat tersebut.
Layaknya listrik yang menjalar ke seluruh otak, itu merambat ke beberapa bagian dan menjangkau Hipokampus, bagian dari otak besar yang berfungsi sebagai pembentukan, pengaturan, dan penyimpanan memori atau ingatan jangka panjang.
Membaca permukaan ingatan, menganalisa, dan membuat kesimpulan. Karena otak telah mati dalam waktu yang cukup lama, beberapa ingatan yang ada di dalamnya pun menjadi tidak stabil dan sebagian besar telah lenyap. Namun, apa yang tersisa sudah cukup untuk membuat Odo memahami siapa pria tersebut.
“Kita akan menguburkannya,” ujar Odo sembari mengangkat tangan dari kepala mayat tersebut. Setelah menutup kedua mata mayat pria itu yang terbuka lebar, Putra Tunggal Keluarga Luke menjelaskan, “Dia orang militer. Sebelumnya aku kira dia seorang pedagang atau pengawal yang disewa pedagang, ternyata dia adalah pengintai yang datang untuk mengamati geografi di sekitar sini. Pasukan kekaisaran sudah masuk ke perambatan, mereka mengirim pengintai supaya nanti pasukan kekaisaran bisa menyesuaikan diri dengan medan yang akan dilalui.”
“Berarti dia tentara?” tanya Ferytan memastikan.
“Kurang lebih seperti itu.” Odo kembali mengenakan sarung tangan. Sembari menunjuk ke arah talisman yang sebelumnya dibuang, pemuda rambut hitam itu meminta, “Bisa kau ambilkan itu?”
“Tentu ….” Ferytan mengambilkan talisman yang telah kotor karena lumpur. Menyerahkan itu kepada Odo, pria tua itu kembali bertanya, “Jika memang pengintai, bukankah yang kita lakukan sudah tepat? Jika pria itu kabur setelah mendapatkan informasi, itu malah akan merugikan Kerajaan Felixia.”
“Memang benar, hasil ini bisa dikatakan tepat.” Odo menerima lembaran-lembaran talisman yang basah. Mengambil salah satu yang tidak terlau rusak, pemuda itu sejenak mengamati dan kembali berkata, “Namun, jujur aku berharap tidak berurusan dulu dengan Kekaisaran sebelum masalah di kota selesai. Aku cemas mereka membuat tindakan aneh setelah tahu salah satu pengintai mereka tidak kembali.”
“Mengapa?”
Odo melirik ke arah Ferytan. Sembari memasang senyum tipis, pemuda itu menyalurkan Mana dalam jumlah sangat sedikit ke dalam talisman dan mengaktifkannya. Dalam hitungan kurang dari dua detik, sihir optik aktif dan membuat pembiasan cahaya di sekitar tubuh. Hal tersebut membuat Putra Tunggal Keluarga Luke menjadi transparan, layaknya benar-benar menghilang secara visual.
“Mereka punya trik semacam ini,” ujar Odo sembari menonaktifkan talisman dan kembali muncul.
“Sihir untuk membuat seseorang tidak terlihat, ya. Kalau digunakan saat tengah malam atau saat kota berkabut, itu memang sangat berbahaya.”
“Begitulah ….”
Setelah memilah beberapa talisman yang masih bisa digunakan, pemuda itu memasukkannya ke dalam dimensi penyimpanan. Untuk dianalisis dan digunakan jika nanti diperlukan.
Segera berdiri dan sedikit menghela napas, ia membuang talisman yang sudah rusak dan segera bertepuk tangan satu kali. Sembari menatap mayat yang terbaring tersebut, pemuda rambut hitam bertanya, “Pak Tua, bisa kau menggali liang lahat? Aku ingin menguburnya.”
“Eh? Apa itu perlu? Bukankah kita sebaiknya membiarkan mayat itu dimakan hewan buas? Atau lebih baik Anda memancing monster lain dan membiarkannya dimakan saja!”
“Dia mati karena terjebak urusanku. Jujur, aku ini tipe orang yang tidak suka membunuh tanpa alasan. Pria malang ini …, dia hanya terjebak. Kuburkan dia.”
__ADS_1
“Ba-Baiklah ….” Ferytan bangun dengan perasaan aneh dalam benak, sedikit tidak menyangka Odo Luke akan mengatakan hal seperti itu. Namun saat ia baru berbaik dan berniat membuat liang lahat, pria tua itu baru mengingat sesuatu yang penting dan bertanya, “Ngomong-omong, skop buat menggali ada?”
“Ah, benar juga. Memang enggak ada.” Odo sedikit memalingkan pandangan. Di bawah deraan hujan, pemuda rambut hitam tersebut merasa tidak memiliki alat seperti itu di dalam sihir spasial. Kembali menatap ke arah Ferytan, ia dengan bingung balik bertanya, “Apa kau punya saran?
“Enggak ada …. Apa mau menggali pakai pedang? Tapi, di sini tanahnya keras loh. Butuh waktu sangat lama nanti. Kita harus segera kembali ke kota, bukan?”
“Bagaimana, ya?” Sesaat Odo merasa ingin menggunakan sihir saja untuk menggali sebuah lubang. Namun mengingat Mana yang bisa digunakan tubuhnya masih sangat terbatas, pemuda itu mengurungkan niat tersebut karena tidak ingin terlalu kelelahan sebelum masalah di kota selesai. Memberikan tatapan datar ke arah pria tua, pemuda rambut hitam tersebut kembali bertanya, “Mau bakar saja apa, ya? Dikremasi ….”
Ferytan seketika memasang mimik wajah datar seakan-akan hal tersebut terdengar bodoh. Setelah menghela napas ringan, ia sedikit memalingkan pandangan menjawab, “Ini masih hujan deras loh, Anda tidak bisa menyalakan api.”
“Hmm, ini mulai menyusahkan.” Odo meletakan tangan ke dagu, sejenak menyipitkan mata dan menghela napas. Setelah dalam benak memutuskan sesuatu, Putra Tunggal Keluarga Luke berkata, “Ngomong-omong, kristal pada mayat para monster belum diambil, ‘kan? Bisa kau bantu memungut semuanya, lalu mengumpulkan mayat mereka ke satu tempat?”
“Hmm, tentu.” Ferytan mengangguk sekali. Menatap dengan bingung, pria tua itu pun bertanya, “Memangnya untuk apa dikumpulkan mayatnya? Jangan bilang mau dibakar semuanya? Sekalian mayat orang Kekaisaran itu?”
“Memang ….”
“Eeeeh?”
Meskipun bingung dan merasa sangat enggan, pada akhirnya Ferytan hanya bisa mematuhi permintaan tersebut. Bersama Odo, pria tua tersebut mulai mengambil kristal dari mayat-mayat monster yang ada untuk disimpan di dimensi penyimpanan milik Putra Tunggal Keluarga Luke.
Menyeret mayat-mayat yang ada ke satu tempat di dekat lereng, mereka menumpuknya supaya tidak terlalu memakan ruang saat dibakar. Tentu, mayat pria dari kekaisaran pun diletakkan dalam tumpukan tersebut bersama para monster.
Setelah semuanya terkumpul, Odo mendekat ke arah tumpukan mayat. Pemuda itu berjalan memutar, lalu beberapa kali meludahi mereka dan menyiram cairan berwarna biru kehijauan yang dirinya ambil dari dimensi penyimpanan. Setelah itu, pemuda rambut hitam tersebut pun berjalan sedikit menjauh.
Ferytan hanya bisa heran saat melihat tumpukan monster tersebut, merasa konyol untuk menyalakan api dan membakar semuanya. Di saat rasa bingung masih mengisi benak, pria tua itu diajak Odo naik ke atas tebing untuk menghindari kobaran api yang akan dinyalakan.
Di atas, mereka sejenak hanya menatap tumpukan mayat di bawah dengan tatapan mengasihani. Terutama pria tak dikenal yang menjadi korban.
Sekilas melirik ke arah Putra Tunggal Keluarga Luke, sang pria tua benar-benar merasa heran dengan apa yang dilakukannya. Ia merasa tidak mungkin untuk membakar mayat dalam jumlah sebanyak itu, terutama dalam kondisi hujan deras.
Tanpa memedulikan tatapan Ferytan yang seakan meragukan, Putra Tunggal Keluarga Luke mengulurkan tangan ke arah tumpukan mayat di bawah. Sejenak menarik napas dalam-dalam, pemuda itu langsung mengaktifkan Hariq Iliah.
Tanpa menggunakan lingkaran sihir, Rune, atau bahkan mantra, gas dengan cepat berkumpul di telapak tangan yang terbuka ke depan dan mulai menciptakan percikan api. Di tengah hujan deras yang turun, api langsung menyembur keluar dari telapak tangan dan langsung menyambar tumpukan mayat. Seakan-akan mengacuhkan logika yang ada, paling tidak itulah yang Ferytan rasakan saat melihatnya.
Tepat setelah api menyambar, sekali lagi fenomena aneh pun terjadi di hadapan pria tua tersebut. Api yang menyambar ke bawah dengan cepat langsung membakar mayat, dalam hitungan detik membarat besar sampai panas yang tercipta mencapai tebing setinggi 14 meter tempat mereka berdua berdiri. Membara tanpa memedulikan hujan deras yang turun, lalu membuat air menguap dalam hitungan detik tanpa bisa memadamkan kobaran.
“A-Apa yang terjadi? Kenapa bisa api bisa menyala di tengah hujan?” ujar Ferytan panik.
“Aku hanya mengubah zat cair di dalam mayat menjadi petrol, dengan sedikit perantara petrol murni yang sudah aku siram sedikit ke mereka ….” Odo menonaktifkan Hariq Iliah dan menutup telapak tangan kanan. Segera berbalik dan mengambil langkah, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali berkata, “Ayo kembali ke kota, biarkan mereka terbakar di sana.”
“Ta-Tapi!” Meski Ferytan ingin segera pergi, namun setelah melihat kobaran di bawah ia tetap ragu bahwa itu bisa membuat semua mayat menjadi abu. Sembari menoleh ke arah Odo, pria tua itu dengan rasa tidak yakin berkata, “Meski menyalah besar, saya rasa itu tidak akan bertahan lama dan akan segera padam karena hujan loh!”
“Aku juga menanamkan peningkatan aseton dari perubahan lemak pada mayat-mayat itu. Lagi pula, seharusnya darah yang berubah menjadi petrol sudah cukup⸻”
“A-Apa apinya tidak akan menyebar ke hutan, bukan? Kenapa bisa semakin besar?”
“Entahlah, aku rasa tidak.” Odo kembali melangkah pergi, lalu dengan nada sedikit ketus berkata, “Kalau lama-lama aku tinggal! Kau mau menunggu di sini sampai padam?!”
“Ba-Baik!!”
Apa yang membuat Ferytan merasa tidak ingin segera pergi bukanlah karena para mayat, namun rasa penasaran dengan api yang bisa menyala di tengah hujan deras. Ia memang tahu bahwa minyak bisa menyala meski benda telah disiram air tersebut dahulu. Namun, itu hanyalah sekilas dan tidak akan sebesar kobaran api yang membakar mayat-mayat.
Terlebih lagi, di antara kobaran api merah dan asap hitam yang keluar, kilatan api putih tampak jelas gemerlap di tempat gelap tersebut. Sedikit aneh di mata Ferytan karena tidak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya.
Melirik dan merasa api petrol terlalu berlebihan untuk Ferytan, Odo merasa telah mengambil pilihan tepat seperti tidak menggunakan alkali untuk menyingkirkan para mayat. Sebab jika zat tersebut ditambahkan, kemungkinan besar sebuah ledakan akan bereaksi setelah bersentuhan dengan air hujan.
.
.
.
.
Meski gelap telah menyelimuti dalam malam, tetapi hujan yang turun sejak senja tidak kunjung berhenti. Badai memang sudah berlalu dan berubah menjadi gerimis, namun air yang turun masih cukup untuk membuat jarak pandang terbatas dan membasahi pakaian.
Setelah selesai melakukan pembicaraan, Ri’aima, Rosaria, dan Lily’ami berjalan keluar dari Kediaman Keluarga Irtaz. Mereka tampak senang saat mengingat kembali pembicaraan yang berjalan lancar, terutama untuk Putri Sulung Keluarga Stein. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Kepala Keluarga Irtaz juga akan memaafkan adiknya dengan mudah.
Melangkahkan kaki di jalan utama, kesunyian memenuhi sepanjang mata memandang. Gelap hanya disinari lampu kristal jalan yang bersinar redup, tanpa ada satu pun lentera minyak sebagai penerang tambahan.
Permukaan jalan susunan batu yang bahah mengkilap saat terpapar sinar lampu jalan. Menciptakan refleksi cahaya diri mereka di permukaan, lalu sekilas tampak jelas dan memberikan kesan tenang bagi siapa saja yang melihatnya.
Sembari menggandeng Lily’ami, sang Pendeta Wanita memperlihatkan rasa senang dengan senyuman tipis. Mengingat kembali tugas-tugas yang dipercayakan hanya untuknya seorang, perempuan dengan pakaian biarawati tersebut memperlihatkan ekspresi euforia setelah merasa berhasil melaksanakan hal tersebut.
Tugas itu tentu berkaitan dengan lobi yang telah dilakukannya beberapa saat lalu. Berbeda dengan Ri’aima yang hanya mengetahui permukaannya saja, lobi yang telah dilakukan memiliki tujuan lain.
Salah satunya adalah membuat Fritz Irtaz mengambil spekulasi satu arah, lalu membuat Kepala Keluarga Irtaz tersebut mengira bahwa Odo akan benar-benar bertentangan dengan kehendak Raja Gaiel.
Tanpa sadar, sisi gelap Rosaria tampak dengan jelas pada raut wajah saat hati dikuasai kesenangan. Membuat seringai tipis, merasa begitu puas karena bisa mempermainkan pejabat yang tidak dirinya sukai.
Melihat senyum jahat tersebut, Lily’ami yang berjalan di sebelah perempuan itu menatap heran. Tidak takut atau semacamnya, gadis kecil itu malah dengan begitu polos bertanya, “Apa kakak biarawati sedang senang sekali? Saya pertama kalinya melihat kakak tersenyum seperti itu.”
Rosaria tersentak, segera memalingkan pandangan dan berhenti tersenyum. Kembali memasang ekspresi tenang, ia menatap ke arah anak perempuan tersebut dan menjawab, “I-Itu benar, kakak sedang senang. Pembicaraan tadi berjalan lancar dan kemungkinan besar akan membuat tujuan Tuan Odo semakin mudah dicapai.”
“Hmm, begitu ya ….” Anak perempuan itu tidak paham dengan apa yang dikatakan sang Rosaria. Ia hanya mengangguk, lalu kembali menatap ke depan dengan mimik wajah sedikit heran.
Sekilas mendengar pembicaraan mereka, Ri’aima yang berjalan paling depan sedikit menoleh ke belakang. Merasa seperti dikeluarkan dari kelompok, Putri Sulung Keluarga Stein dengan nada menggerutu bertanya “Kalian sangat cepat akrab, ya? Apa yang kalian bicarakan?”
“Tidak ada, kok. Hanya pembicaraan kecil saja.”
Rosaria memasang senyum ramah kepada Putri Sulung Keluarga Stein. Memperlihatkan ekspresi tidak ingin menyampaikan rahasia, lalu perlahan memalingkan pandangan ke samping dan terlihat sangat enggan.
__ADS_1
Memahami hal tersebut, Ri’aima menghela napas dan kembali menghadap ke depan. Berjalan sembari melipat kedua tangan ke belakang, perempuan rambut biru pudar tersebut merajuk, “Ya sudah, jika Nona Rosa tidak mau bilang! Anda memang seperti itu sejak dulu! Ini sedikit menyebalkan, padahal saya menghormati Anda.”
“Saya cukup terkejut mendengarnya. Bukankah Nona Ri’aima tidak suka dengan rakyat jelata?”
“Anda bukan jelata, ‘kan?”
Rosaria hanya bisa tertegun mendengar pertanyaan balik tersebut. Menghela napas sekali dan memasang mimik wajah dingin, ia semakin erat menggandeng Lily’ami dan mempercepat langkah kaki untuk menyusul. Sampai di sebelah lawan bicara, Pendeta Wanita sekilas memberikan lirikan tajam.
“Saya dulunya orang jelata, jadi saya paham bagaimana rasanya direndahkan dan tahu cara untuk menjaga batasan. Nona sendiri, apakah Anda tahu batasannya? Baik untuk diri Anda sendiri ataupun cara berhubungan dengan orang lain.”
Apa yang dikatakan tersebut membuat Ri’aima sedikit tersentak, merasa ada maksud lain di dalamnya dan hal itu berkaitan dengan Odo Luke. Tidak ingin membahas hal seperti itu, Putri Sulung Keluarga Stein sekilas memalingkan pandangan dalam rasa kesal. Merasa sangat terusik.
“Saya memahaminya, batasan-batasan menyusahkan seperti itu. Nona tak perlu mengingatkannya ….”
“Syukurlah jika Nona memahaminya.”
Pembicaraan untuk sesaat terhenti di antara mereka, tidak ada suara selain gemercik gerimis dan langkah kaki mereka di atas permukaan jalan yang basah. Senya, tanpa ada satu pun penduduk sipil yang lalu-lalang dan hanya ada beberapa penjaga pada pos yang mereka temui selama langkah kaki.
Saat sampai di pertigaan jalan menuju gerbang utama, barak, dan balai kota, mereka bertiga sesaat terhenti.
Tanpa sengaja, ketiga perempuan yang hendak pulang tersebut berpapasan dengan Odo Luke dan Ferytan Loi. Kedua laki-laki itu baru saja kembali dari luar kota, dengan pakaian yang tampak sangat kotor, dipenuhi bercak darah dan lumpur.
Untuk sesaat, mereka semua saling menatap. Baik Odo yang datang dengan Ferytan ataupun Rosaria dan yang lainnya, mereka hanya terdiam. Tanpa satu pun kalimat sapaan yang keluar dari mulut. Memasang wajah bingung karena rasa canggung dalam benak masing-masing.
Seakan ingin membuat alur berjalan dengan cepat, Odo segera kembali melangkahkan kaki dan berpaling dari mereka. “Kalian baru selesai, ya? Bagaimana hasilnya?” tanya pemuda itu tanpa menjelaskan apa-apa tentang dirinya sendiri yang terlihat sangat kotor.
Ri’aima dan Rosaria saling menatap. Dalam benak mereka merasa bahwa pemuda rambut hitam tersebut tidak ingin membicarakan, tentang apa yang telah dilakukannya dengan Ferytan Loi di luar kota.
Berjalan mengikuti Odo yang berjalan bersama pria tua di belakangnya, mereka hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan tersebut.
Lily’ami melepaskan gandengan Rosaria, lalu segera mempercepat langkah kaki dan meraih tangan Ferytan dengan erat untuk melepaskan cemas. Sang pria tua sekilas menoleh, lalu membisu dalam senyum tipis. Tampak tidak ingin memberitahu alasan mengapa pakaian yang dikenakan bisa penuh bercak darah dan kotor.
“Kenapa diam? Apa pembicaraan kalian tidak berjalan lancar?” Odo bertanya sekali lagi. Ia perlahan melirik kecil ke arah orang-orang yang mengikutinya, lalu memperlihatkan mimik wajah datar.
“Pe-Pembicaraan berjalan lancar, Tuan.” Rosaria memberanikan diri untuk menjawab lebih dulu. Dalam benak Pendeta wanita memang bertanya-tanya mengapa pakaian Odo dan pria tua yang diajak pemuda itu penuh bercak darah. Namun setelah menyingkirkan semua rasa curiga dalam benak, ia dengan tegas kembali menyampaikan, “Semuanya berjalan sesuai rencana Tuan. Kepala Keluarga Irtaz setuju untuk membantu, lalu tidak menolak rencana Anda untuk mengembalikan gelar Knight Kelurga Quidra. Untuk pemberitahuan duel juga tidak ada masalah. Kami memang cukup terkejut karena ternyata Tuan Jonatan telah mengirimkan penawaran kepada Keluarga Irtaz. Namun, setelah pembicaraan Tuan Irtaz lebih memilih agenda Anda.”
“Hmm?” Sembari mulai menaiki anak tangga di jalan yang menanjak, pemuda rambut hitam tersebut menghela napas sekali dan kembali bertanya, “Memangnya apa yang ditawarkan Prajurit Elite itu?”
“Dari apa yang disampaikan Tuan Irtaz, saya rasa itu semacam penggabungan keluarga. Menyerap Keluarga Quidra yang hanya tersisa dua orang ke dalam Keluarga Irtaz, lalu baru dilimpahkan gelar Knight yang sebelumnya ditangguhkan. Dalam prosesnya, saya rasa itu akan menjadi sebuah kontrak pernikahan untuk menyatukan kedua keluarga.”
Odo tidak memberikan reaksi khusus setelah mendengar penjelasan Rosaria. Sejenak mendongak ke langit gelap, pemuda rambut hitam itu merasa pikirannya sedang kosong. Tidak bisa menyusun kembali rencana, lalu dalam benak merasa sedikit hampa karena beberapa alasan.
“Mengingat masa lalu dengan tiba-tiba memang menyebalkan. Apa karena aku dulu pernah tidak sengaja membunuh orang dalam jumlah banyak, jadinya sekarang malah merasakan hal yang sama?” gumam pemuda itu dengan lesu.
Karena suara gemercik hujan, tidak ada satu pun orang yang mendengar suara hati pemuda itu. Lenyap terhapus gerimis yang ada dan seakan lenyap ditelan kegelapan langit.
Merasa percuma menyesali masa lalu yang terkadang menguasai benak, Odo segera menarik napas dalam-dalam dan berusaha fokus. Pemuda itu tanpa pikir panjang menyampaikan, “Hari ini kita pulang dulu ke tempat masing-masing. Untuk Pak Tua, kita akan memulai latihan pagi hari sampai malam seperti ini. Nona Rosaria dan Nona Ri’aima besok coba cari pejabat yang sekiranya mau mendukung rencana kita, namun kali ini jangan sampai kalian membocorkan identitas ku. Terus ajak juga Lily’ami bersama kalian besok.”
Mendengar penjelasan terkait agenda yang akan dilakukan di hari berikutnya, setiap orang yang mendengarkan merasa itu seperti disampaikan dengan setengah hati. Malas terasa dalam nada suara, seakan-akan pemuda itu jenuh dengan permasalahan yang ada.
Mempercepat langkah kaki di atas anak tangga, Ri’aima berjalan melewati yang lain dan segera menyusul Odo. Berjalan tepat di belakang pemuda itu, Putri Sulung Keluarga Stein dengan tegas bertanya, “Kenapa Anda malah terlihat lesu seperti ini? Bukannya tadi pagi Anda sengat semangat?”
“Tolong jangan menekan seperti itu, Nona Ri’aima. Aku sedikit lelah. Dari kemarin-kemarin diriku belum tidur, lalu tadi aku juga memakai Mana dalam batas tertentu dan itu sangat melelahkan.”
“Kalau soal lelah, saya juga lelah! Ayo semangat sedikit, dong! Paling tidak Anda harus semangat sampai di balai kota⸻!”
Meski Ri’aima berniat untuk menghibur, namun lirikan yang Odo benar-benar terlihat seperti orang mati. Kehilangan rasa semangat, layaknya singa pada usia senja yang sudah tidak peduli lagi dengan kekuasaan.
Untuk sesaat, Putri Sulung Keluarga Stein merasa tatapan tersebut mirip dengan sorot mata Fritz Irtaz yang sering diperlihatkan selama lobi sebelumnya.
Pembicaraan seakan tertutup dengan hal tersebut, membuat kesunyian semakin menguat bersama langkah kaki mereka. Tanpa perkataan, penjelasan, ataupun komunikasi untuk bisa saling memahami satu lain supaya tidak ada kecurigaan.
Saat baru sampai di balai kota dan menginjak lantai marmer, Putra Tunggal Keluarga Luke segera berkata, “Maaf, Nona Ri’aima. Aku tidak bermaksud membuatmu takut atau cemas seperti itu, hanya saja sekarang aku sedang benar-benar lelah.”
Setelah menyampaikan hal tersebut, tanpa menoleh Odo berjalan lebih dulu dan pergi menuju jalan yang mengarah ke Kediaman Keluarga Stein. Meninggalkan Ri’aima yang terhenti bersama yang lainnya.
“Apa sudah terjadi sesuatu?” tanya Rosaria kepada pria tua yang sebelumnya ikut dengan Odo.
Mendapat pertanyaan tersebut, Ferytan yang diminta untuk diam tentang masalah mayat orang kekaisaran hanya bisa memalingkan pandangan. “Saya juga tidak tahu, selama di luar beliau hanya melatih saya melawan para monster. Mungkin itu benar-benar membuatnya kelelahan,” elak pria tua tersebut.
Penjelasan itu tentu sangat tidak masuk akal, terutama saat melihat pria tua yang seharusnya dilatih malah tampak lebih bertenaga daripada yang melatih.
Melihat ke arah Ferytan, Ri’aima juga merasakan hal janggal serupa. Merasa bahwa memang Odo sudah melakukan sesuatu di laur kota dan berniat menyembunyikan hal tersebut rapat-rapat.
Tidak ingin meragukan Putra Tunggal Keluarga Luke, kedua perempuan itu menghela napas secara bersamaan dan berhenti memberikan tekanan kepada pria tua tersebut. Mereka sesaat saling menatap satu sama lain, lalu melempar salam hormat dan segera berjalan pulang ke tempat masing-masing. Meninggalkan Ferytan dan Lily’ami tanpa berkata apa-apa lagi.
“Ke-Kenapa sih mereka? Bukan hanya Tuan Odo, namun orang-orang di sekitarnya juga aneh sekali,” benak pria tua tersebut dengan hela napas panjang. Untuk beberapa alasan, rasa takut muncul dalam benak pria tua itu dan membuatnya menggandeng Lily’ami semakin erat.
“Kakak-kakak itu memang menakutkan ya, Paman?”
Mendengar perkataan Lily’ami, pria tua itu hanya bisa mengangguk ringan. Orang menakutkan bukan berarti haruslah kuat, untuk pertama kalinya dalam hidup Ferytan merasakan hal tersebut secara langsung.
ↈↈↈ
\==========
Catatan Kecil :
Fakta 039: Waktu sebenarnya memiliki beberapa jenis, namun yang biasa kita rasakan adalah waktu persepsi. Seperti di bagian tropis memiliki siang yang hampir setara dengan malam, namun di bagian kutub hampir setiap hari siang atau bahkan setiap hari malam pada musim tertentu. Waktu dipengaruhi oleh gravitasi juga.
__ADS_1