
Jawaban tersebut membuat kedua mata Odo terbuka lebar, merasa kalau dirinya telah tertinggal jauh dari langkah yang telah dibuat oleh Dewi Helena. Jika memang sang Dewi Penata Ulang tersebut telah melakukan pergerakan jauh-jauh hari, untuk sesaat dirinya merasa bahwa deklarasi yang dirinya utarakan juga telah diperkirakan Dewi tersebut.
“Begitu, ya …. Kalau belum sempurna memang banyak kelemahan. Aku tidak bisa mengetahui dan memahami hal yang belum aku lihat …. Dia paham hal itu dan mempersiapkannya jauh-jauh hari⸻?”
Odo berhenti bergumam, segera mengerti bahwa sang Dewi telah mempersiapkan semua hal jauh sebelum itu. Bahkan pada saat dunia pertama kali dibentuk kembali olehnya, Dewi Helena sudah mempersiapkan semua hal untuk melawan Odo.
Lebih tepatnya, menjaga jiwanya tetap tidak mengingat asal muasalnya dan membunuhnya. Untuk memastikan pemberian identitas baru tidak diganggu oleh Mahia masih menempel erat di jiwa Odo.
Di tengah suasana yang mulai hening karena pembicaraan terhenti, perlahan pintu toko terbuka dan beberapa orang melangkah masuk ke dalam. Yang berdiri paling depan adalah Arca Rein, penampilannya urakan karena pakaiannya rusak dan pada bagian tubuhnya tampak beberapa memar serta luka.
Segera menatap ke arah Odo Luke, keningnya seketika mengerut dan hatinya dipenuhi rasa heran. Melihat orang yang menyuruhnya menangkap Laura yang hendak menghancurkan kota malah duduk bersama dengan salah satu rekan Elf tersebut, Arca hanya bisa menggelengkan kepala dan sedikit merasa dipermainkan. Sebelum dirinya sempat bertanya, Odo balik menatap ke arahnya dengan senyum kecil.
“Hmm, kau memang bisa diandalkan. Kau berhasil menangkapnya,” puji Odo untuk memulai pembicaraan.
“Tentu saja!” Mengurungkan niatnya untuk marah, Arca memerintahkan kedua Butler di belakangnya untuk membawa Laura yang telah terluka parah dan membaringkannya ke lantai. Dengan nada angkuh Putra Sulung Keluarga Rein tersebut pun berkata, “Dia benar-benar membuatku kerepotan, tak aku sangka Elf dari Moloia memiliki suplai Mana melimpah dengan cara yang unik.”
Melihat kondisi Laura yang sekarat dan berlumur darah, untuk sesaat Odo terdiam dan merasa kalau Arca sangat berlebihan saat menangkapnya. Magda yang melihat pemimpinnya dalam kondisi mengenaskan tidak bisa berkata apa-apa, kehilangan salah satu harapan untuk membalikkan keadaan atau sekadar mencari kesempatan untuk kabur.
“Kenapa jantungnya tertusuk? Meski dia Elf yang bisa mengganti fungsi organ dengan sihirnya, tapi tetap saja bisa mati loh kalau dibiarkan begitu,” ujar Odo sembari bangun dari tempat duduk. Mengambil botol Potion dari dimensi penyimpanan, pemuda rambut hitam itu kembali berkata, “Jangan bilang kalau kalian membawanya terang-terangan di tengah kota dalam kondisi seperti itu?”
“Hmm, tentu saja! Lagi pula, setelah kau selesai dengannya aku berniat mengeksekusi Elf ini untuk kepentingan politik.”
“Memulai perang?”
“Intimidasi, memberikan peringatan kepada Moloia supaya tidak macam-macam.”
“Itu sama saja memulai perang …. Kerajaan kita sedang sibuk dengan Kekaisaran, bukannya lebih bijak kalau kita tidak mencari masalah dengan negeri lain dulu?”
“Tch!” Arca memalingkan pandangan dan melihat mayat salah satu Elf yang tergeletak di lantai, lalu dengan nada sedikit kesal berkata, “Bukannya kamu sendiri sudah memulainya? Kau membunuh Elf itu, berarti kau juga sudah mendeklarasikan perang ….”
“Membunuh dan eksekusi itu berbeda ….” Odo berjongkok di depan Laura yang terbaring dengan kedua tangannya terikat ke belakang. Membuka penutup Potion, ia pun mulai meminumkannya dan kembali berkata, “Biarlah, ini kesalahanku karena tidak memberikan perintah yang lengkap ….”
“Jadi, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa kita diserang para Elf dari kerajaan Moloia?” tanya Arca sembari melirik tajam ke Odo.
“Sebelum itu, boleh aku bertanya sesuatu? Apa hanya Elf ini yang kalian tangkap? Seharusnya ada satu lagi,” ujar Odo dengan nada datar.
“Eh? Ya, hanya dia yang aku lawan …. Jangan bilang! Aku melewatkan satu lagi!?”
Odo terdiam sesaat. Setelah meminumkan Potion, ia kembali memasukkan botol ke dalam dimensi penyimpanan dan berdiri. Perlahan berbalik, pemuda rambut hitam itu dengan sorot mata tajam menatap Magda yang terduduk gemetar.
“Di-Diriku tidak tahu …,” ujar Magda gemetar.
“Kau tak perlu berbohong, di mana rekan kalian yang satu lagi? Di mana Notmarina Clienta?” tanya Odo dengan jelas.
Paham bahwa informasi tentang para Prajurit Peri yang melayani Tuan Putri Ulla telah diketahui pemuda itu, Magda langsung menundukkan kepala dan berkata, “Be-Benar! Diriku tidak tahu ….”
“Ah, biarlah …. Lagi pula Elf bernama Notmarina Clienta itu mungkin sudah mati.”
“Eh …?”
Mendengar itu, Magda seakan dadanya ditusuk dengan belati. Harapan dan rencana terakhir yang tersisa benar-benar runtuh, membuat wajah Elf tersebut pucat pasi dan perlahan menoleh dengan penuh rasa putus asa.
“Sebelah Selatan Gerbang Utama Kota Mylta, di sekitar hutan …. Apa kalian bodoh menyuruh rekan kalian siaga di tempat seperti itu setelah penyerangan para monster? Aku tahu kalian ingin menjadikan Elf itu sebagai rencana cadangan kalau Laura gagal mengaktifkan Parva Nuclear, tapi tetap saja kalian terlalu ceroboh pada banyak hal.”
“A⸻! Kenapa bisa kamu … tahu itu?”
“Entahlah, kenapa menurut kau kenapa?”
Meski hanya diberikan kalimat yang abstrak, Magda bisa membuat kesimpulannya sendiri. Ia dengan perlahan dan pasti mulai mengerti kenapa bisa tadi siang terjadi kejadian yang aneh seperti penyerangan para monster. Itu bukanlah hal yang alami karena pada dasarnya monster selalu menghindari pemukiman besar, dengan kata lain pasti ada yang menyebabkannya secara sengaja.
Memikirkan beberapa hal yang ada, ia dengan penuh rasa tidak percaya bertanya, “Apa kamu …. bahkan bisa mengendalikan para monster?”
“Entahlah, pertanyaan itu akan aku jawab setelah pemimpinmu puluh. Kita akan bicara dan nanti aku akan menilainya, apakah kalian pantas dibiarkan hidup atau aku serahkan saja nasib kalian kepada Arca ….”
Mendengar apa yang dikatakannya tentu saja Arca tidak setuju. Ia mendekat ke arah Odo sembari bertanya, “Memangnya kamu ingin menggunakan mereka untuk apa? Jangan bilang kamu juga ingin mempekerjakan mereka seperti dua orang Moloia yang pernah kamu tangkap itu?”
__ADS_1
“Ya, kau benar …..”
Seketika Arca muak mendengar itu, ia langsung menarik kerah Odo dan menatap dari dekat. Dengan nada dipenuhi amarah ia berkata, “Odo! Apa kau buta? Mereka jelas-jelas ingin membumihanguskan seisi kota ini dan kau masih ingin menggunakan mereka?! Kita tidak tahu mereka akan berkhianat kapan ⸻!?”
“Aku tahu risikonya ….” Odo melepaskan tangan Arca dari kerah, mengambil satu langkah ke belakang dan dengan mimik wajah lelah berkata, “Aku tahu itu, bahkan lebih darimu. Tapi tetap saja, sekarang ini aku masih perlu tenaga tambahan. Kita benar-benar kekurangan orang dan masih banyak hal yang perlu diselesaikan dalam waktu yang terbatas.”
“Memangnya kamu ingin menggunakan mereka untuk apa …? Kalau memang sampai seperti itu kamu perlu tenaga kerja, kenapa tidak gunakan saja wewenang milikmu? Kamu seorang Viscount, bukan? Mudah untukmu mencari orang-orang berkualitas …. Tak perlu sampai menggunakan orang berbahaya seperti mereka.”
“Kalau begitu, apa kamu punya orang yang bisa bergerak bebas di Dunia Astral? Sekarang ini aku sedang membutuhkannya ….”
“Dunia …. Astral?”
Arca tidak mengerti kenapa tiba-tiba Odo membicarakan itu, hal tersebut terasa sangat tidak ada hubungannya dengan masalah yang ada sekarang. Kening Arca yang sebelumnya mengerut mulai kendur, tampak begitu bingung dan tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin pemuda rambut hitam itu lakukan.
“Dalam waktu dekat, aku berniat untuk melakukan ekspedisi penaklukan Leviathan. Karena itulah aku perlu Elf yang memiliki konsep dua alam, Dunia Nyata dan Dunia Astral. Kau paham kalau makhluk Dunia Nyata akan langsung terdistorsi saat masuk ke Dunia Astral, bukan?”
“Tu-Tunggu sebentar? Penaklukan Leviathan?” Tentu saja apa yang dikatakan Odo benar-benar membuat Arca terkejut, begitu pula kedua Butler dan Elf yang ada di tempat tersebut. Dengan penuh rasa heran Putra Sulung Keluarga Rein itu pun bertanya, “Ke-Kenapa sekarang malah ingin melawan Serpent Pemusnah Peradaban itu? Untuk apa?”
“Aku perlu kekuatannya, hanya itu ….” Odo tidak menjelaskan lebih lanjut, ia segera berjalan ke arah meja dan duduk berhadapan dengan Magda. Sembari meletakkan siku ke atas meja dan menyangga kepala, ia dengan nada datar berkata, “Apa yang aku perlukan untuk memastikan kemenangan adalah mereka, lebih tepatnya kemampuan mereka menggunakan senjata api yang dikombinasikan dengan sihir.”
“Bicara seakan itu mudah …. Berbeda dengan Naga Hitam, Leviathan itu ….”
“Ya, aku tahu. Meski sesama Naga Agung, tingkat kekuatan mereka sangat berbeda.” Odo berhenti menyangga kepala, menoleh ke arah Laura yang masih terbaring di lantai dan kembali berkata, “Karena itulah aku perlu persiapan matang. Untuk itu, aku ingin memanfaatkan semua yang ada di tanganku. Setelah berbicara dengan mereka selesai, aku akan menilai mereka pantas atau tidak ….”
“Tapi …, Odo ….”
“Ya, aku tahu. Mereka bisa saja menolak ….” Odo kembali menatap ke arah Arca, lalu dengan seringai tipis berkata, “Jika seperti itu, aku akan setuju untuk mengeksekusi mereka untuk kepentingan politik seperti yang kau katakan.”
ↈↈↈ
Waktu berlalu dan hari pun berganti. Pada dini hari sebelum matahari terbit, pembicaraan yang Odo lakukan bersama dua Elf yang berhasil ditangkap baru saja selesai. Itu memakan waktu sedikit lebih lama dari perkiraan karena menunggu Laura siuman.
Hasil dari pembicaraan yang mereka lakukan persis sesuai dengan apa yang Odo inginkan di awal, berupa sebuah keputusan bahwa Laura dan Magda tidak akan diserahkan kepada Arca untuk dieksekusi. Melainkan mereka akan bekerja untuk Odo dengan beberapa ketentuan yang ditekankan.
Dalam pembicaraan, tentu saja Odo tidak memberitahu alasan utama kenapa perahu milik Putri Ulla ditenggelamkan dan menjadi sasaran oleh makhluk ilahi. Dirinya hanya menegaskan bahwa sihir manifestasi ilahi tersebut adalah milik salah satu putri dari Dewi Angin Iratia dan Dewi Petir Baraq, lalu hanya memberikan beberapa penjelasan abstrak dengan dalih tidak terlalu tahu tentang permasalahan tersebut.
Beralih dari penjelasan kesalahpahaman yang ada, Odo langsung mengutarakan ancaman atas tindakan yang dilakukan Laura dan rekan-rekannya dengan menyerang Kota Mylta. Meski itu sudah sebagai dibayar dengan kematian rekan-rekannya, konsekuensi dari penyerangan kali ini tetap bisa menjadi masalah diplomatik dan menjadi pemicu perang yang cukup kuat.
Karena itulah, eksekusi yang Arca ajukan juga bisa dengan jelas menjadi deklarasi peperangan secara utuh tergantung kondisi politik yang ada di Moloia saat ini. Meskipun kedua Elf yang merupakan Pasukan Peri dari unit khusus tersebut datang tanpa perintah langsung dari Raja Moloia sekalipun.
Dengan ancam tersebut, Laura dan Magda dengan berat hati mengangguk dan setuju untuk membantu Odo dalam rencananya. Tentu saja dengan beberapa kondisi untuk menjamin mereka tidak berkhianat di tengah rencana.
Salah satu dari kondisi tersebut adalah dengan membuat kedua Elf tersebut meminum darah Odo, untuk menanamkan Aitisal Almaelumat dan memastikannya bisa membunuh mereka kapan saja dengan cara menghentikan detak jantung serta metabolisme tubuh secara penuh.
Selain itu, kondisi yang dipaksakan adalah pembatasan Akses Dunia Astral memalui kemampuan manifestasi mereka. Dengan adanya pembatasan menggunakan darah Odo di dalam tubuh Laura dan Magda, penggunaan Manifestasi Peri yang menjadi suplai Mana eksternal akan sangat dibatasi. Dengan kata lain, kemampuan sihir Magda dan Laura akan setara layaknya orang-orang Moloia pada umumnya.
Memiliki kapasitas Mana yang kecil, kepekaan dan kecocokan sihir yang rendah, dan tidak bisa menggunakan sihir dengan leluasa seperti biasanya. Tanpa seizin Odo, bahkan mereka hampir tidak bisa menggunakan sihir seperti Elf pada umumnya.
Setelah pembicaraan selesai, Odo sendiri memerintahkan Arca untuk membawa Laura ke kantor pemerintah Kota Mylta dan dilaporkan sebagai penyusup. Ini menjadi hal yang sebenarnya tidak diinginkan oleh Odo. Namun karena sudah terlalu banyak saksi mata yang melihat Laura datang ke Mylta, melaporkannya sebagai penyusup menjadi hal yang masuk akal untuk menyamarkan tujuan asli para Elf tersebut datang ke Mylta.
Dengan dilaporkannya Laura, tentu saja Arca pun bisa meminta hak atas pengawasan dan bisa menjamin keselamatan Elf tersebut di penjara sebelum nanti akan dibebaskan sementara saat Odo menjalankan rencananya dalam waktu dekat.
Sedangkan untuk Magda, Odo lebih memilih untuk membiarkannya bersembunyi di toko dan meminta Matius serta Totto sementara mengawasinya. Setelah Arca kembali dari kantor pemerintahan nanti, ia akan membawa Magda ke Penginapan Porzan dan disembunyikan sampai rencana Penaklukan yang Odo bicarakan dimulai.
Karena ada kemungkinan sebuah tuduhan baru seperti yang menyebabkan penyerangan para monster adalah para Elf tersebut, Odo juga memberikan saran kepada Arca untuk membuat kebohongan bahwa Laura adalah mata-mata dari Moloia untuk mencari informasi sebelum peperangan.
Dengan adanya sebuah ancaman baru dan memperjelas potensi perang, persepsi pihak pemerintahan akan digiring dan berpindah dari mengadili mata-mata yang telah tertangkap menjadi mempersiapkan kekuatan untuk potensi perang yang ada. Dengan kata lain, pengadilan terhadap Laura yang ditetapkan sebagai penyusup akan ditunda sehingga Odo mendapatkan waktu untuk mempersiapkan hal lain sebelum memulai rencana penaklukan Leviathan.
.
.
.
.
__ADS_1
Dini hari yang gelap, awan tampak bergerak cepat di langit kota pesisir dan seakan membawakan udara dingin yang segar. Pada pertengahan musim panas yang ada, bintang pada dini hari tidak terlalu tampak jelas dan hanya dua bintang yang bersinar terang di waktu fajar.
Berjalan di jalan utama menuju gerbang Kota Mylta, Odo untuk sesaat tersenyum kecil seakan menertawakan. “Kalau dipikir-pikir, bintang fajar di atas sana itu bukan Jupiter atau Venus, ‘kan? Dia membuat replika dunia dengan rapi. Benar-benar imitasi murahan,” gumamnya seakan menertawakan makhluk yang telah menata ulang dunia.
Berhenti tersenyum dan kembali fokus pada kepentingan yang ada, pemuda yang sama sekali belum istirahat dari kemarin itu segera kembali memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah yang ada. Meski Odo bisa saja mengambil jalan pintas seperti menyerahkan kedua Elf yang telah ditangkapnya dan membiarkan mereka dieksekusi, namun dirinya paham hal tersebut terlalu disayangkan untuk membuang Pion berpengalaman hanya untuk memuaskan Arca.
Odo paham bahwa eksekusi satu atau dua prajurit yang menyusup ke Felixia tidak akan segera menyulut peperangan dengan Moloia, sebab negara tersebut sendiri sedang sibuk berseteru dengan Kekaisaran dan Kerajaan Ungea di perbatasan.
“Ah, ini memang sudah tidak bisa diurus olehku. Perdamaian yang ada di Michigan sudah seperti benang tipis yang digunakan untuk mengikat kapal di dermaga. Hanya dengan ombak kecil pasti semuanya akan putus.”
Odo menghentikan langkahnya. Di tengah jalan dimana hanya ada beberapa prajurit yang berjaga dan beberapa bangunan rusak tempat insiden penyerangan, pemuda itu kembali melihat ke arah langit dan bergumam, “Kalau memilih jalur perang, pasti itu sama saja dengan mengikuti keinginan Helena. Itu memudahkannya untuk membunuh diriku dengan cara yang tepat … Benar begitu, Mahia?”
Di tengah gumamnya seakan sedang berbicara dengan langit, seorang perempuan rambut merah berseragam militer menghampirinya. Ia adalah Lisiathus Mylta, Putri Dari Walikota Argo Mylta. “Apa yang Tuan Odo lakukan di sini?” sapanya dengan mimik wajah tampak lelah dan mengantuk. Sembari berdiri di hadapan Odo, perempuan itu sedikit membungkuk ke depan dan dengan sorot mata kesal bertanya, “Kenapa Anda selalu dekat dengan masalah, ya? Padahal baru beberapa jam setelah membuat rencana gila dan tidak manusiawi, Anda sekarang malah sudah membawa masalah lain kepada kami?”
Mendengar itu Odo memalingkan pandangan dan balik bertanya, “Apa itu soal para Elf yang Arca bawa? Apa Tuan Argo yang mengurus mereka?”
“Ayahanda dan Paman Iitla yang mengurus Elf itu …. Hmm, para Elf? Apa ada lagi?”
“Yang sudah menjadi mayat, itu akan dimakamkan, bukan?”
“Ah, kalau malasah itu kami menyerahkannya kepada Gereja Utama. Sebelumnya penyihir dari Lokakarya sempat meminta hak untuk meneliti mayat Elf itu, tetapi karena beberapa hal ujung-ujungnya akan diurus Pihak Religi.”
“Begitu, ya …. Kalau sudah menjadi mayat memang sebaiknya diistirahatkan. Mayat adalah hak rayap dan tanah.”
Mendengar apa yang Odo ucapkan, Lisia melangkah ke salah satu bangunan di pinggir jalan dan bersandar. Setelah menghela napas ia pun bertanya, “Apa kabar yang Tuan Arca sampaikan itu benar? Moloia … ingin memulai perang? Dari musim dingin tahun lalu saya juga sudah samar-samar menyadarinya, namun tidak disangka mereka akan mengirim Elf untuk menyusup ….”
“Memangnya apa yang salah dengan Elf?” tanya Odo heran.
“Anda tidak tahu? Elf yang ada di militer Moloia memiliki kemampuan tempur tinggi. Dalam kemampuan terbang dan sihir, beberapa petinggi militer kita bahkan menyamakannya dengan Penyihir Tingkat Expert. Bahkan … kalau tidak salah, pasukan yang menghentikan perang saudara di Moloia terdiri dari para Elf.”
“Apa mereka sangat hebat?” tanya Odo seakan itu adalah hal yang biasa.
“Tentu saja, kemampuan terbang itu menjadi kunci penting dalam peperangan. Saat Perang di Lembah Gersang Sianama, Felixia merasakan akibatnya sendiri setelah meremehkan itu. Anda seharusnya tahu sejarahnya, bukan? Terlebih lagi, bukannya Anda yang melawan mereka? Seharusnya Anda tahu seberapa kuat para Elf itu!”
Odo hanya mengangguk ringan. Meski dirinya berbicara dan mengikuti pembicaraan Lisia dengan baik, tatapan mata dan mimik wajahnya seakan sedang memikirkan hal lain. Begitu lelah, sorot matanya tampak seperti orang mati, dan ekspresi wajahnya begitu hampa.
Melihat itu Lisia sedikit termenung dan semakin tidak mengerti tentang Odo. Meski dirinya telah beberapa kali setuju dengan rencana gila yang dijalankan oleh Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut, namun tetap saja Lisia tetap tidak bisa memahami tujuan sebenarnya Odo melakukan semua hal itu.
“Tuan Odo, apa Anda melakukan semua itu demi melindungi rakyat Anda? Tuan Odo mengambil keputusan seperti ini demi rakyat Felixia, bukan?”
Pertanyaan itu sedikit mengusik Odo. Berhenti memikirkan hal lain dan fokus berbicara dengan lawan bicaranya, pemuda rambu hitam tersebut dengan ringan berkata, “Tentu saja, memangnya untuk apa lagi? Apa aku terlihat seperti orang ambisius yang haus akan kekuasaan?”
“Saya rasa … tidak.” Lisia menghela napas, tanpa sadar sedikitpun bahwa apa yang dikatakan Odo adalah kebohongan besar.
Tak ingin memperpanjang hal tersebut dan membuat Lisia kembali menanyakan tujuannya yang sesungguhnya, Odo segera menggeser topik dan bertanya, “Bicara soal rencana kita, apa kalian sudah menyiapkan ekspedisi pembasmian monster?”
“Hmm, kalau soal itu sudah kami mulai. Berkat Ayahanda, pihak pemerintahan dengan cepat setuju dan tinggal mencari dana tambahan dari pihak swasta. Jujur saja, kalau bukan kabar soal ancaman perang mungkin menyatukan orang-orang pemerintahan pasti akan lebih lama.”
“Baguslah kalau begitu ….” Setelah tersenyum ringan, Odo kembali melangkahkan kakinya menuju gerbang utama Kota Mylta dan berkata, “Aku akan melanjutkan rencananya. Untuk beberapa hari ke depan mungkin kau tidak bisa menemuiku, jadi kalau ada keperluan bilang saja ke Arca dulu ….”
“Anda … benar-benar ingin melakukannya sendiri? Anda sungguh-sungguh ingin membunuh para monster di sepanjang rute perdagangan sendirian?”
“Itu rencana yang kita sudah sepakati, tentu saja aku akan melakukannya.”
“Anda bahkan belum istirahat, ‘kan? Apa tidak masalah ….”
“Tidak masalah, kalian persiapkan saja ekspedisi itu. Selesaikan paling lama satu hari dan berangkat secepat mungkin ….” Di tengah paparan cahaya bintang dan langit fajar, pemuda itu perlahan berbalik dan menatap dengan sorot matanya yang seakan menyala biru di dalam kegelapan. Sembari tersenyum tipis ia pun berkata, “Cobalah untuk percaya kepadaku, Lisia ….”
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan :
Yo, amat lama tidak bertemu.
Terima kasih sudah mengikuti seri ini meski tidak lagi update secepat dulu karena kesibukan duniawi Author.
__ADS_1