Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[115] Flamboyan Akhir Zaman IV – Pedang Kerajaan (Part 03)


__ADS_3

“Benar juga! Ini aneh!” ujar pemanah dari lini belakang. Ia berdiri membelakangi mereka, lalu menyandarkan punggung dan menahan barikade supaya tidak terdorong lagi. Sembari menyiapkan busur, pemanah itu dengan suara lantang lekas bertanya, “Hey! Hey! Pak Komandan! Bukankah sekarang! Seharusnya! Jenderal Yue! Datang membawa Walikota Rockfield, ‘kan?! Untuk digunakan sebagai sandera!”


“Rencananya sih begitu! Kita akan menyerbu dengan kekuatan penuh setelah dapat konfirmasi dari Jenderal Yue. Namun, kondisi ini …!” Komandan Peleton tidak bisa menjawab dengan tegas. Sembari menahan arus balik bersama yang lain, ia dengan ekspresi ragu bergumam, “Apa sebaiknya kita mundur dulu?”


“Bodoh! Kalau kita mundur, pasukan yang ada di belakang tidak bisa maju!” ujar salah satu Komandan Regu. Tidak menyerah dan berniat menerobos arus balik, ia dengan suara lantang menegaskan, “Tugas kita adalah menyerang! Untuk rencana yang lain itu bagian Jenderal Yue! Kita harus bertahan! Kita harus percaya kepadanya!”


“Tapi! Ini tidak sesuai rencana! Kita harus menyusun ulang formasi!” Komandan Peleton semakin ragu. Meski arus balik berhasil ditahan, ia langsung tersentak saat melihat pasukannya dibantai oleh Argo Mylta. “Kita mundur saja,” ujarnya lirih.


“Sudahlah! Dasar pengecut! Seharusnya aku yang dipilih menjadi Komandan Peleton! Bukan pengecut sepertimu!”


Komandan Regu membanting tombaknya. Ia segera menghunuskan pedang, kemudian tanpa ragu langsung menebas prajurit yang hendak kabur. Arus balik seketika terhenti, seluruh Prajurit Kekaisaran yang melihat tindakan tegas itu tercengang.


“A-Apa yang kau lakukan!” Komandan Peleton segera mendekat. Dengan tatapan murka, ia langsung menodongkan tombak sembari memperingatkan, “Bedebah! Mereka rekan kita! Beraninya kau menyerang⸻!”


“Rekan?!” Komandan Regu menatap tajam. Ia menyarungkan pedang dan merentangkan kedua tangan, kemudian dengan suara lantang mengumumkan, “Kita datang untuk menaklukkan kota ini!! Pengecut seperti kalian bukanlah rekan kami! Sekarang angkat senjata kalian! Atau akan aku habisi di sini! Kalian masih punya biji, ‘kan?! Huh?!”


Mendengar provokasi tersebut, beberapa prajurit yang sebelumnya berniat kabur mulai mengangkat senjata mereka. Meski merasa terhina, orang-orang itu kembali termotivasi untuk mengikuti perang. Berbalik menuju barak dan berniat menyerbu dengan formasi frontal.


“A-Apa yang kamu lakukan?!” Komandan Peleton mulai kehilangan kendali atas pasukannya sendiri. “Kita harus menyusun ulang rencana! Kita harus mundur dulu!” bujuknya dengan suara gemetar.


“Kita habisi orang tua gila itu!” Komandan Regu tidak memedulikan hal tersebut. Kembali menghunuskan pedang, ia dengan suara lantang memerintahkan, “Kita harus mengulur waktu sampai Jenderal Fai pulih! Maju!!”


“Serang!!!”


“Oooooh!!”


“Serbu!!”


Pasukan Kekaisaran di sekitar gerbang menyerbu secara serempak. Tidak lagi mendengarkan perkataan Komandan Peleton, sepenuhnya diambil alih Komandan Regu. Menyerang tanpa mempertimbangkan formasi ataupun kekuatan lawan.

__ADS_1


“Aku rasa di kota ini banyak sekali orang tua gila!” ujar seorang penombak yang ikut menyerbu. Ia tampak cemas, sekilas melirik ke arah orang yang memberikan perintah sembari bergumam, “Kita akan baik-baik saja, ‘kan?”


“Entahlah ….”


Menyerbu bersama yang lain, rekannya juga ikut cemas dan mulai ragu. Padahal sebelumnya ia ikut menghalau pasukan yang hendak kabur dari medan perang. Saat dipikir kembali, keputusan tersebut lebih masuk akal daripada menerjang musuh tanpa rencana.


Sembari memalingkan wajahnya yang memucat, prajurit itu dengan suara terputus-putus berkata, “Ta-Tadi yang melawan Je-Jenderal Fai juga enggak waras! Pa-Padahal sudah ditusuk dan ditebas berkali-kali, tapi bisa gerak macam orang kesurupan! Me-Mereka enggak ada yang normal!


“Ngomong-omong, tuh orang tadi kabur ke mana?” sambung seorang pemanah, ia ikut menyerbu dan menyusul mereka bersama yang lain. Segera menarik busur, prajurit itu bersiap memanah sembari berkata, “Kalau enggak salah! Habis terkena ledakan dia terlempar ke arah barak, ‘kan?! Atau ke mana?!”


“Berhenti ngobrol!” tegur Komandan Regu yang mengikuti mereka dari belakang. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, lalu dengan suara nyaring lanjut berkata, “Orang gila tadi terlempar ke jalan utama! Dia sudah diamankan musuh saat kalian malas-malasan di sini!”


“Eh?! Gawat, dong!” sambung penombak. Ia menoleh dengan cemas, kemudian sedikit menyipitkan tatapan sembari berkata, “Kalau dia sampai pulih⸻!”


“Makanya jangan ngobrol terus! Cepat maju!” Komandan Regu kembali menegur. Ia memukul sang penombak, kemudian dengan kesal menunjuk lurus ke depan sembari menyampaikan, “Kau lihat bangunan tempat gadis rambut merah itu keluar?!”


“Dia dibawa ke sana?!” sambung pemanah. Sembari berlari, ia menarik tali busur dan membidik ke atas. Memperkirakan jarak sasaran dengan menyipitkan mata, kemudian melepaskan anak panah ke langit sembari lanjut bertanya, “Bukankah ini makin gawat?!”


“Apa kita bisa menang?” Pemanah kembali meragukan. Setelah melepaskan busur, ia mengambil anak panah lain dari belakang punggung dan bersiap. Lanjut membidik, kemudian melancarkan serangan sembari berkata, “Kita memang menang jumlah! Namun! Mereka adalah bangsawan!! Memiliki kemampuan sihir tingkat tinggi! Terlebih lagi, mereka berdua seorang Mylta! Pengikut Luke!”


“Jangan mengeluh!” Komandan Regu meningkatkan tekanan sihirnya. Meski tidak terlalu kuat, ia bisa menggunakan Mana untuk meningkatkan kemampuan fisik dan mempertajam bilah pedang. Sembari memasang kuda-kuda, pria dengan perawakan kekar tersebut kembali menegaskan, “Jenderal telah memperhitungkan situasi ini! Kita pasti menang! Selama kita terus menyerang mereka, para bangsawan itu pasti akan kehabisan Mana!”


“Itu benar! Kita pasti menang!” ujar penombak dengan penuh semangat. Ia lekas maju bersama yang lain, lalu ikut mengepung Argo dan Lisia di lini depan. Membentuk formasi empat arah dengan memanfaatkan keunggulan dalam aspek jumlah, berniat menguras stamina lawan dan memisahkan mereka dari pasukan Rockfield. “Pertahankan formasi kalian!  Kepung mereka sampai Jenderal Fai pulih!” teriaknya dengan lantang.


Kurang dari lima menit, belasan Prajurit Kekaisaran berhasil memojokkan Argo dan Lisia. Mengepung mereka dari penjuru arah, kemudian dipisahkan dari pasukan utama supaya tidak bisa meminta bantuan.


“Hah! Mereka tidak sekuat yang terlihat!” ujar seorang Prajurit Kekaisaran yang ikut mengepung. Mengarahkan tombak lurus ke arah Lisia, ia nada meremehkan berkata, “Meski seorang bangsawan, mereka hanya seorang gadis dan pak tua! Lemah⸻!


Pandangan itu terlalu naif. Sebelum menyelesaikan perkataannya, Argo Mylta langsung melesat maju dan menebas leher prajurit itu. Kepalanya tidak sampai terpenggal, namun cukup dalam untuk memotong pembuluh darah dan tenggorokan. Sampai tulang lehernya terlihat.

__ADS_1


“Jangan lengah!” teriak Komandan Regu. Ia segera melemparkan pedangnya ke arah Argo, menghalau pria tua itu supaya tidak melanjutkan serangan mematikan. “Awasi juga gadis itu! Dia sedang menyiapkan sihir!” tambahnya seraya memungut tombak dari mayat yang tergeletak, kemudian berjalan memasuki formasi untuk mengisi kekosongan.


Argo dengan mudah menepis pedang yang dilemparkan, namun serangan tersebut mengganggu ritme teknik pedangnya. Kehilangan kesempatan untuk menerobos formasi, pria tua itu segera meloncat mundur. Menyusun ulang struktur sihir, kemudian menurunkan pedangnya sembari menarik napas dalam-dalam.


“Putriku, apa kau sudah selesai?” bisik Argo seraya berdiri membelakangi Lisia. Napasnya mulai terengah-engah, wajah memucat, dan keringat dingin pun bercucuran. Sembari kembali mengangkat pedangnya dan memasang kuda-kuda, ia dengan suara lemas bergumam, “Menjadi tua memang tidak menyenangkan …! Bisa gawat kalau kita tidak segera menyelesaikan ini!”


“Saya rasa itu bukan karena usia! Buktinya tadi Tuan Ferytan masih bertarung dengan beringas!”


Lisia melirik tajam. Menarik napas dalam-dalam, ia lanjut menyusun struktur sihir pada pedangnya. Menciptakan konsentrasi Mana pada satu sisi bilah, membentuk plasma yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Cenderung tidak stabil dan mudah meledak.


“Be-Benar juga ….” Argo tidak bisa mengelak. Sembari menepis serangan-serangan musuh yang mengincar Putrinya, pria tua tersebut lanjut bertanya, “Kalau bukan umur, lantas kenapa stamina Ayah terus menurun? Mudah capek seperti ini …. Apa karena baru sembuh⸻?”


“Pola makan Ayahanda yang salah!” bentak Lisia seraya menyelesaikan struktur sihir. Ia menggertakkan gigi dengan kesal, kemudian mengacungkan pedang plasma yang tidak stabil dan bersiap menyerang. Perempuan rambut merah itu segera mencari celah dalam formasi musuh, dilanjutkan dengan memasang kuda-kuda sembari berkata, “Bahkan tadi Ayahanda diam-diam sarapan daging lagi, ‘kan?!”


“A⸻!” Argo tersentak. Tidak bisa berdalih, pria setinggi dua meter lebih itu perlahan memalingkan pandangan sembari berkata, “Ini tidak terelakkan! Pengguna sihir atribut api pasti suka daging, soalnya boros karbohidrat …!”


“Diamlah sebentar, Ayahanda! Fokus!” Lisia berdecak kesal, paham bahwa itu hanya alasan belaka. Tidak bisa menemukan celah untuk menyerang, perempuan rambut merah cerah tersebut mencoba untuk memprovokasi, “Lihat mereka! Diam saja dan tidak berani menyerang! Mengelilingi kita seperti serangga!”


“Sampai kapan kau bisa mempertahankan sihir tersebut, gadis bodoh! Kami akan menunggu sampai kau lelah! Selama itu, pasukan kami akan membantai penduduk kota ini!”


Komandan Regu membalas dengan nada dan ekspresi meremehkan. Sembari menodongkan tombak, ia segera memasang sikap tubuh seperti ingin menerjang. Mengintimidasi lawannya supaya mengambil keputusan ceroboh.


“Beraninya kalian menggunakan penduduk sipil sebagai sandera!” Meski tahu itu hanya gertakan semata, Lisia tidak bisa lagi menahan emosi. “Maju sini! Jangan membual terus! Lawan diriku!” bentak perempuan itu seraya mengangkat pedang plasma tinggi-tinggi, lalu mengayunkannya secara vertikal.


“Tunggu! Jangan terpancing⸻!”


Argo segera menarik pundak Lisia, dengan paksa menghentikan ayunan pedang plasma. Namun, ia sedikit terlambat.


Layaknya semburan gas alam yang disulut api, gesekan udara membuat padatan plasma terlepas dari bilah pedang. Menyembur ke langit, kemudian meledak dahsyat dan menghempaskan semua orang di sekitarnya.

__ADS_1


ↈↈↈ


__ADS_2