Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[97] Angelus II – Blue Action (Part 03)


__ADS_3

 


 


 


 


 


 


Tengah malam berdiri dengan tegak, sebagaimana gerbang persimpangan untuk hari berikutnya. Sebelum lembar baru dibuka, pemuda rambut hitam tersebut berdiri di tengah lobi Mansion Keluarga Stein. Memasang ekspresi serius dan menatap tajam ke arah pria tua di hadapannya.


 


 


Oma Stein hanya bisa tertegun, merasakan sesuatu yang mengerikan di balik tatapan hening tersebut. Melangkah ke belakang sampai punggung menyentuh pintu, lalu gemetar tanpa bisa mengatakan apa-apa.


 


 


“Kau baru pulang, Tuan Oma? Sebelumnya sudah ku bilang, bukan? Sebaiknya kau lebih menjaga kesehatan dan tidak boleh terlalu lelah. Kalau sakit, yang susah bukan hanya kau saja.”


 


 


Meski apa yang dikatakan pemuda itu seperti sedang memberikan perhatian, namun di telinga Oma malah terdengar seperti peringatan. Sebuah ancaman yang diberikan oleh Putra Tunggal Keluarga Luke.


 


 


“Saya … baru saja selesai mengurus hasil rapat dengan orang-orang Mylta. Anda tahu mereka datang tadi pagi, ‘kan? Meski pembicaraan tersebut ditangani oleh Tuan Fritz dan Tuan Jonatan, tetap saja saya sebagai Walikota wajib memeriksa hasilnya kembali.”


 


 


Odo tidak terlalu peduli dengan alasan yang pria tua itu katakan. Memberikan tatapan dengan mata setengah terbuka, pemuda rambut hitam tersebut mulai melangkah mendekat. Melebarkan senyum dingin, lalu sejenak menghela napas ringan.


 


 


“Sudahlah, bukan itu yang ingin aku bahas sekarang.” Odo berdiri tepat di hadapan Kepala Keluarga Stein. Memberikan intimidasi kepada pria yang lebih tua darinya, pemuda itu dengan jelas berkata, “Sepertinya …, hubungan kau dengan Nyonya Agathe sudah semakin baik. Paling tidak, kebohongan sudah memudar di antara kalian. Sungguh, semua itu berkat pembicaraan yang Nona Ri’aima bawa kemarin.”


 


 


“Itu …!”


 


 


Seketika Oma tersentak, tanpa suara mulut sedikit terbuka dan ingin menanyakan sesuatu. Namun setelah mempertimbangkan beberapa hal, ia pada akhirnya hanya terdiam dangan wajah pucat.


 


 


Mengingat kembali perkataan Putrinya dalam pembicaraan kemarin, Oma dengan jelas tahu bahwa yang memberitahu rahasia Keluarga Stein adalah pemuda di hadapannya. Entah itu tentang sejarah kelam Rockfield, kekejaman yang ada di masa lalu, ataupun sesuatu yang menimpa Agathe. Putra Tunggal Keluarga Luke tahu semua itu.


 


 


“Kenapa diam?” Odo bertanya dengan pelan. Mendekatkan mulut ke telinga pria yang berdiri dibantu tongkat tersebut, pemuda itu sekali lagi bertanya, “Bukankah kau sudah tahu alasan ku menunggu di sini? Pura-pura bodoh …, kau tidak akan melakukan hal konyol seperti itu, ‘kan?”


 


 


Oma bukanlah pria lemah ataupun pengecut. Ketika masih muda, membunuh menjadi hal yang biasa dan menghadapi monster-monster kuat bukanlah sesuatu yang jarang. Namun saat mendapat intimidasi langsung dari Odo, pria tua tersebut merasakan ketakutan yang nyata dan benar-benar ditundukkan.


 


 


“A-Apa yang Tuan Odo inginkan?”


 


 


Pertanyaan penuh rasa takut itu membuat Odo menyeringai tipis. Mengambil dua langkah ke belakang dan berputar, pemuda rambut hitam tersebut hanya terdiam. Mengamati seisi Mansion yang bisa dirinya tatap, memastikan tidak ada anggota Keluarga Stein yang melihat.


 


 


Meski merasakan hawa keberadaan Adherents di beberapa sudut tempat seperti di bawah tangga dan lantai dua, Odo tidak memedulikan mereka. Kembali berbalik dan menatap Kepala Keluarga Stein, pemuda itu meletakkan telunjuk ke depan mulut.


 


 


“Kalau tidak salah, kau ingin melakukan penebusan? Asalkan mendapatkan maaf dari Nyonya Agathe, Tuan Oma rela melakukan apapun.”


 


 


Pria tua tersebut seketika gemetar, merasa Putra Tunggal Keluarga Luke lebih berbahaya daripada yang dirinya kira. Mengangkat wajah dan menatap dengan wajah pucat pasi, dengan penuh rasa cemas Oma Stein bertanya, “Kenapa bisa … Tuan Odo mengetahui itu? Apa Anda mendengarnya dari Ri’aima?”


 


 


“Kau tidak berhak bertanya di sini ….” Odo menurunkan telunjuk dari depan mulut. Menatap datar dan sedikit memperlihatkan ekspresi kesal, pemuda rambut hitam tersebut dengan tegas memastikan, “Apa kau bersungguh-sungguh ingin melakukan penebusan dosa? Atau hal tersebut hanya bualan saja supaya bisa lolos dari pembicaraan itu?”


 


 


“Tentu saja saya bersungguh-sungguh!!” Oma meletakkan tangan ke depan dada. Memperlihatkan ekspresi penuh rasa bersalah yang tulus, pria tua tersebut dengan lantang menegaskan, “Saya sudah bertekad akan menebus semua kesalahan di masa lalu! Entah itu kepada orang-orang di kota ataupun keluarga saya sendiri! Terutama …, kesalahan yang saya perbuat kepada Agathe.”


 


 


“Hanya itu?” Odo membunyikan lidah, merasa terlalu banyak dosa yang pria tua tersebut perbuat sebelum jatuh sakit.


 


 


“Apa … yang Anda maksud?”


 


 


Oma Stein benar-benar terlihat bingung, merasa tidak ada lagi dosa besar yang telah dirinya lakukan. Menurunkan tangan dari depan dada, pria tua tersebut terdiam dan berusaha untuk merasakan kembali rasa bersalah dari masa lalu. Namun, tetap saja ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Putra Tunggal Keluarga Luke.


 


 


“Lily’ami ….”


 


 


Nama yang keluar dari mulut pemuda itu membuat Oma Stein gemetar. Bulu kuduk seketika berdiri tegak, kedua mata terbuka lebar, dan mulut langsung terbuka. Mengingat kembali dosa besar lain yang pernah dirinya lakukan, Kepala Keluarga Stein langsung menjatuhkan tongkat dan berlutut lemas.


 


 


Meletakkan kedua tangan ke kepala, lalu bersujud dengan penuh rasa bersalah yang luar biasa. Menjerit tanpa suara, pria tua tersebut membentur-benturkan kepala seakan ingin menyiksa dirinya sendiri sebagai bentuk penebusan.


 


 


Nama anak perempuan yang disebutkan oleh Odo benar-benar membuat mental pria tua itu runtuh, layaknya susunan menara kartu yang tertiup angin. Darah mengalir di lantai, tanpa ada niat berhenti Oma terus membenturkan kepala.


 


 


“Kenapa …. Kenapa diriku melakukan hal sekejam itu?! Padahal anak itu tidak bersalah!! Dia darah dagingku sendiri! Kenapa ... hal seperti itu …? Kenapa diriku bisa melupakan dosa sebesar itu dengan mudah …?!”


 


 


Air mata mengalir, bersama darah yang keluar dari kening Oma. Ia menatap dengan penuh rasa bersalah, seakan-akan ingin meminta pertolongan dari pemuda di hadapannya. Meminta pengampunan dari orang yang tidak ada kaitannya dengan dosa tersebut.


 

__ADS_1


 


“Anak itu …, apa dia benar-benar anakmu⸻?”


 


 


“Dia Putriku!!” Oma tanpa ragu menegaskan. Memegang kepala dengan kedua tangan, ia memperlihatkan mimik wajah frustrasi dan kembali berkata, “Anak itu …, dia adalah Putriku. Lily’ami adalah nama yang diriku berikan kepadanya ….”


 


 


Odo mendengar dan memahami seberapa besar rasa bersalah yang pria tua itu rasakan. Namun, ekspresi wajah Putra Tunggal Keluarga Luke sama sekali tidak berubah. Hanya menatap dingin, tanpa senyum atau niat untuk merendahkan.


 


 


“Dia masih hidup,” ujar pemuda rambut hiram tersebut dengan singkat.


 


 


Terbelalak mendengar itu, Oma segera bangun dan melangkah ke depan. Tidak memedulikan rasa sakit yang menjalar dari kaki sampai pinggang. Kepala Keluarga Stein tersebut langsung memegang kedua pundak Odo, lalu dengan penuh rasa berharap menatap.


 


 


“Sungguh?! Lily’ami benar-benar masih hidup?! Bu-Bukankah dia sudah⸻?”


 


 


“Mati karena dibuang ke hutan?”


 


 


Pertanyaan Odo membuat Kepala Keluarga Stein semakin yakin dengan apa yang disampaikan. Memperlihatkan wajah seakan telah mendapatkan kesempatan kedua, pria tua tersebut kembali bertanya, “Sekarang di mana dia?! Diriku ingin bertemu dengannya! Meski tidak dianggap sebagai ayah, paling tidak … diriku ingin meminta maaf⸻!”


 


 


“Aku tidak akan mengatakannya.” Odo menyingkirkan kedua tangan Oma, membuat pria tua itu hampir terjatuh. Sembari menyipitkan mata, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan ketus balik bertanya, “Setelah bertemu, kau memangnya ingin apa? Apa kau berpikir bisa berperan layaknya seorang ayah setelah semua hal yang kau perbuat kepadanya? Serakah sekali kau ini.”


 


 


“I-Itu ….” Oma tidak bisa berdiri dengan baik tanpa tongkat. Dengan tubuh sedikit sempoyong dan rasa sakit semakin terasa kuat dari kaki, pria tua berlinang air mata tersebut menjawab, “Saya bukanlah sosok ayah baginya. Saya … tidak pantas menyebut diri saya sebagai ayah di hadapannya. Namun, paling tidak … tolong biarkan saya bertemu dengannya. Biarkan saya meminta maaf ….”


 


 


Odo tidak memberikan jawaban atas permintaan tersebut. Menghela napas ringan dan memejamkan mata sesaat, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali bertanya, “Kau melakukannya dengan siapa?”


 


 


“Hmm?”


 


 


“Siapa ibunya?” tanya Odo seraya membuka mata dan menatap tajam.


 


 


Oma Stein sesaat terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut dan kembali gemetar. Seakan-akan sedang kembali diingatkan dengan dosa yang pernah dirinya lakukan di masa lalu.  Tidak segera menjawab, pria tua tersebut malah memalingkan pandangan.


 


 


“Ke-Kenapa memangnya dengan itu? Tuan Odo … tidak punya keperluan dengan hal tersebut, bukan?”


 


 


 


 


Odo bertepuk tangan satu kali. Saat suara masuk ke telinga Oma, pria tua tersebut seketika secara penuh kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Ia dengan sendirinya menghadapkan wajah ke arah lawan bicara, lalu menjulurkan lidah layaknya seekor anjing.


 


 


“Aupa … yuang …?”


 


 


Tidak memedulikan omongan tak jelas itu, Odo kembali bertepuk tangan. Saat suara masuk ke dalam gendang telinga Oma, pria tua tersebut perlahan menutup mulut dan dengan pelan menggigit lidahnya sendiri.


 


 


Odo menyeringai gelap. Sembari bersiap tepuk tangan untuk yang ketiga kalinya, ia dengan jelas bertanya, “Jika tidak ingin bicara, lidah sudah tidak kau perlukan, bukan?”


 


 


“Ba-Buaik! Suaya akan mengjawau!”


 


 


Mendengar jawaban seperti itu, Odo langsung menonaktifkan Aitisal Almaelumat yang tertanam pada tubuh Oma Stein. Ramuan yang dikonsumsi oleh pria tua itu setelah siuman, hal tersebut sebenarnya bercampur darah milik Putra Tunggal Keluarga Luke. Tertanam sebuah manipulasi informasi bersyarat di dalamnya, membuat pemuda itu dengan mudah mengendalikan tubuh Kepala Keluarga Stein.


 


 


“Katakan, siapa ibunya?!” tanya Odo tegas.


 


 


Oma langsung jatuh berlutut setelah terbebas. Tanpa sempat berpikir mengapa sebelumnya tubuh tiba-tiba bergerak sendiri, Kepala Keluarga Stein mengangkat wajah dan menatap pucat. Air mata berhenti mengalir, lalu rasa bersalah pada mimik wajah berubah menjadi kecemasan.


 


 


“Dia …, ibu anak itu adalah seorang pelacur dari sudut prostitusi. Wanita tersebut merupakan Courtesan yang cukup terkena satu dekade lalu. Namanya … Curoli.”


 


 


Odo sama sekali tidak terkejut, seakan-akan telah mengetahui hal tersebut. Terdiam sesaat dan sedikit memalingkan pandangan, Putra Tunggal Keluarga Luke sekali lagi bertanya, “Aku tidak pernah melihat pelacur dengan ciri-ciri seperti Lily’ami di tempat itu. Kalau dia pernah terkenal satu dekade lalu, seharusnya dia masih bekerja sampai sekarang, bukan? Atau paling tidak ada yang membicarakannya ….”


 


 


“Wanita itu … sudah saya bunuh.”


 


 


Mendengar apa yang Oma katakan, untuk sesaat amarah Odo naik dan membuatnya melotot tajam. Ingin langsung mengambil pedang dari dimensi penyimpanan, lalu langsung memenggal kepala pria tua tersebut.


 


 


Menahan amarah sekuat tenaga, Odo membuangnya dengan hela napas panjang. Ia meletakkan tangan kanan ke kening, sekilas bisa membayangkan apa yang terjadi pada saat itu.


 


 


“Ah …, ini keterlaluan.” Odo menurunkan tangan, lalu menatap rendah pria yang berlutut di hadapannya dan berkata, “Setelah menghamili wanita, kau seenaknya membunuh⸻”


 

__ADS_1


 


“Saya tidak seenaknya,” potong Oma gemetar. Menundukkan wajah tanpa berani menatap langsung lawan bicara, pria tua tersebut menjelaskan, “Wanita itu yang menyeret diriku untuk tidur dengannya. Saat sedang stress dan Agathe tidak mau melayani di ranjang, wanita itu sengaja memberikan minuman dengan kadar alkohol tinggi.”


 


 


“Itu tetap salah kau karena datang ke tempat seperti itu⸻”


 


 


“Bukan itu saja!” potong Oma sekali lagi. Seakan ingin melakukan pembelaan, pria tua itu lanjut menjelaskan, “Meski sudah tahu hamil, jalang itu tidak mau menggugurkan kandungannya. Dia … terus memeras saya, mengancam akan memberitahu semua orang anak siapa yang ada dalam kandungannya. Awalnya saya berpikir untuk membunuhnya langsung. Namun saat dia mulai mengancam, kandungannya sudah besar ….”


 


 


“Jadi, kau tidak bisa membunuhnya dan dengan patuh mengikuti tuntutannya sampai anak itu lahir? Karena takut nama baik Keluarga Stein tercoreng?” tanya Odo memastikan.


 


 


“I-Itu benar ….” Oma menggertakkan gigi dengan kesal. Mengingat momen yang terjadi pada saat itu, pria tua tersebut menceritakan, “Tepat setelah lahir, jalang itu bahkan sudah bersiap untuk kabur. Menyewa banyak pengawal dengan uang yang saya berikan, bahkan sampai menyiapkan tempat di kota lain …. Meski begitu, mereka bukanlah apa-apa dan jalang itu bisa saya bunuh. Namun ….”


 


 


“Kau tetap tidak bisa membunuh Lily’ami, anakmu sendiri. Lalu, pada akhirnya menitipkannya ke keluarga pedagang,” sambung Odo seakan-akan dirinya sudah menebak hal tersebut. Menghela napas sejenak, Putra Tunggal Keluarga Luke mengeluh, “Apapun yang terjadi saat itu, tetap saja ini keterlaluan.”


 


 


“Saya tidak ingin mengelak!” Oma mengambil tongkat yang tergeletak, lalu bangun dan menatap dengan penuh sungguh-sungguh. Sembari meletakkan tangan kanan ke depan dada, ia dengan lantang berkata, “Saya menyesal karena menelantarkan anak itu! Andai saja … waktu itu kondisi lebih baik, mungkin saya bisa menitipkan Lily’ami ke keluarga yang lebih layak.”


 


 


“Kenapa kau tidak coba menitipkannya ke gereja?” tanya Odo memastikan.


 


 


“Di sana … ada orang yang memiliki insting yang sangat tajam. Jika orang itu melihat Lily’ami, pasti ia akan langsung tahu identitasnya ….”


 


 


Odo tahu bahwa orang yang disebut adalah Magdala Soream. Untuk beberapa alasan, orang puritan seperti itu memang memiliki insting yang kuat setelah mendapatkan pencerahan.


 


 


“Ini menyebalkan ….” Odo menghela napas panjang, menggeruk bagian belakang kepala dan dengan ketus bertanya, “Jika aku memberitahu dia sekarang ada di mana, apa kau bisa berjanji tidak akan mencelakakan anak itu?”


 


 


“Diriku berjanji!!”


 


 


Jawaban cepat itu membuat Putra Tunggal Keluarga Luke membunyikan lidah. Menghela napas sekali lagi, ia menurunkan tangan dari belakang kepala. Menatap datar seakan tidak ingin menyampaikannya.


 


 


“Anak itu …, Lily’ami sekarang bersama adik dari istrimu ….”


 


 


“Huh?”


 


 


Meski mendengar itu dengan jelas, apa yang dikatakan Odo tidak bisa masuk ke kepala Oma Stein dengan baik. Tidak masuk akal, sangat membingungkan dan membuat tubuh pria tua tersebut kembali gemetar ketakutan. Merasa dihantui dosa masa lalu yang tidak ada habisnya.


 


 


“Waktu itu, apa kau melihat orang yang aku bawa untuk mengalahkan Tuan Jonatan?” Odo perlahan melebarkan senyum dengan wajah hampa. Seakan menikmati penyesalan lawan bicaranya, ia tanpa ragu menyampaikan, “Nama aslinya adalah Imarit Swirea, anak bungsu dari Keluarga Swirea yang telah kau bantai.”


 


 


Fakta tersebut layaknya sebuah tombak bagi Oma, menusuk dadanya dengan keras dan membuat napas terasa sesak. Pikiran negatif seketika menguasai, mengira bahwa Imarit yang menyamar menjadi Ferytan datang untuk melakukan balas dendam.


 


 


Menggunakan Lily’ami, untuk perlahan-lahan menghancurkan Keluarga Stein dan semua pencapaian yang telah didapat. Lalu pada akhirnya, Imarit sendiri yang akan menghabisi Oma setelah kehilangan segalanya.


 


 


“Di-Dia ingin membalaskan dendam? Apa … dia ingin membelaskan dendam kepada saya?”


 


 


“Entahlah ….” Odo tidak memedulikan pertanyaan tersebut, ia malah semakin melebarkan senyum seakan menikmati ketakutan yang Kepala Keluarga Stein perlihatkan. Sembari mengangkat telunjuk ke depan mulut, Putra Tunggal Kelurga Luke bertanya, “Namun jika Tuan Oma bersumpah akan patuh dan setiap kepadaku, akan aku pastikan Ferytan tidak akan melakukan apa-apa kepada Keluarga Stein. Tentu saja Tuan Oma juga ….”


 


 


“Apa … yang Anda katakan?”


 


 


“Sederhana ….” Odo menurunkan telunjuk, berhenti tersenyum dan menatap tajam. Seakan dirinya adalah seorang penghakim, pemuda itu dengan jelas berkata, “Kau akan menjadi budakku. Ini adalah penebusan dosa yang harus kau lakukan. Patuhi, lakukan semua perintah dan tidak mempertanyakan perkataanku. Selama kau memenuhinya, akan aku jamin kau dan Keluarga Stein selamat.”


 


 


Mendengar perkataan seperti itu, persepsi Oma terhadap Putra Tunggal Keluarga Luke seketika berubah penuh. Sifat pemuda itu tidak bisa dijelaskan hanya dengan baik dan jahat, benar-benar menyimpang dari penggolongan tersebut.


 


 


Untuk dikatakan busuk, apa yang Odo lakukan terlalu banyak hal baik di dalamnya. Namun untuk disebut mulia, hal busuk seakan menyelimuti tindakan pemuda itu dengan pekat. Karena itulah, apa yang bisa menjelaskan Putra Tunggal Keluarga Luke hanyalah Keganjilan. Sangat menyimpang dan tidak bisa dipahami dengan jelas.


 


 


Meski tidak bisa mengetahui tujuan Odo secara penuh, pria tua tersebut tidak lagi memiliki pilihan lain. Ia dibuat merasa tidak memilikinya. Tanpa pikir panjang Oma Stein segera mengangguk, sebagai tanda awal bahwa dirinya sudah patuh kepada pemuda tersebut.


 


 


Jawaban tersebut membuat Odo sekilas tersenyum tipis, merasa puas karena mendapatkan satu bidak lain yang bisa digunakan. Meletakkan telapak tangan ke depan mulut, ia perlahan menyeringai lebar layaknya seorang penjahat yang berhasil mencapai tujuannya.


 


 


Namun saat merasakan tatapan tajam dari arah belakang, mimik wajah senang yang disembunyikan seketika runtuh. Berganti rasa kesal, merasa terganggu karena kehadiran Adherents yang sedang mengawasi.


 


 


ↈↈↈ


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2