
Harmoni ombak laut menerpa karang dan bebatuan tebing, diiringi hembusan angin kencang yang membawa awan mendung. Memberikan kesan suram, mencekam, dan juga sunyi layaknya sebuah tempat terbengkalai.
Memendam warna kelabu yang tak jauh berbeda, permukaan teluk pun dipenuhi kesan tidak terurus yang kuat. Sangat jauh dari persepsi tempat yang indah, bahkan tampak seperti stigma dari bekas kekacauan yang terjadi di masa lampau.
Sinar purnama memapar bekas-bekas kehancuran yang ada, dengan jelas memperlihatkan puing-puing yang diselimuti lumut biru pudar. Pada beberapa sudut tempat tersebut, tanaman merambat tumbuh pada tebing, bebatuan karang, dan pilar-pilar batu di teluk. Memiliki gradasi warna tajam di tengah bekas kekacauan yang mengelilingi.
Layaknya tempat yang ditelantarkan, Laut Utara benar-benar tampak seperti sebuah situs arkeologi yang terkikis oleh ombak. Perlahan tanda-tanda peradaban sirna seiring berjalannya waktu.
Tidak seperti tempat kekuasaan para Roh Agung lain yang lekat dengan unsur alam, Laut Utara memiliki beberapa bangunan kuno layaknya sebuah peradaban manusia. Sebagian besar tenggelam di dalam laut, lalu sebagian lagi tampak di permukaan dan menyatu dengan tebing di pesisir.
Namun, sebagian telah menjadi puing-puing dan selebihnya tidak terawat. Tebing-tebing yang diukir pada bebatuan telah hancur, ditumbuhi lumut liar dan terumbu karang berbentuk aneh seperti sisik. Sepenuhnya menjadi sebuah peninggalan masa lalu yang perlahan lenyap tersapu abrasi ombak.
Berbeda dengan teritorial atau ekosistem yang diatur oleh Roh Agung lain, tempat tersebut memiliki aliran Ether yang sangat tidak stabil. Hal itu membuat komposisi Mana semua makhluk di sana menjadi tidak teratur, bahkan sampai mengakibatkan efek menyimpang seperti energi kehidupan mereka bocor keluar dari tubuh astral.
Karena hal tersebut, hampir tidak ada satu pun Roh Tingkat Rendah dan Menengah di Laut Utara yang tersisa. Sejak kepergian sang Siren sebagai perwakilan mereka, Laut Utara menjadi tempat yang tidak bersahabat dan bahkan tidak lagi melahirkan bentuk kehidupan baru untuk penerus.
Di tempat itu sekarang hanya tersisa para Roh Tingkat Atas yang sekarat, mempertahankan kehidupan mereka dengan garis kehidupan yang tipis. Terus berusaha menjaga bentuk yang sudah tidak stabil, meski mereka paham sudah tidak lagi memiliki Tuan untuk dilayani.
Bentuk tubuh astral mereka berubah menjadi kacau, bermutasi karena penyimpangan Ether yang memenuhi udara, dan menjadi sosok yang tampak menjijikkan. Begitu menyimpang, sangat berbeda dengan kesan indah yang seharusnya dimiliki oleh Roh Laut.
Setelah melewati salah satu distorsi spasial untuk sampai di tempat tersebut, Odo dan rombongan segera terdiam tanpa bisa berkomentar saat melihat pemandangan yang ada di teluk. Laut Utara sangat berbeda dengan apa yang diceritakan dalam buku-buku dongeng, jauh dari kata indah ataupun nyaman.
Berbeda dengan tempat lain, rembulan selalu bersinar di atas Laut Utara tanpa bisa membuat refleksi pada permukaan air yang bergelombang. Memapar hampir seluruh tempat di teluk, lalu dengan jelas memperlihatkan bentuk mengenaskan dari tempat yang dulunya dikisahkan dengan sangat indah dalam beberapa dongeng.
Beberapa Putri Duyung yang dahulu terlihat cantik, sekarang malah tampak mengenaskan. Kulit mereka yang dahulu kala terlihat putih cerah berubah kehijauan, rupa cantik menjadi seperti ikan dengan mulut moncong, dan insang terbuka lebar pada kedua sisi perut layaknya monster laut.
Selain para Duyung yang kehilangan bentuk indah mereka, Roh Tingkat Atas lain juga telah mengalami perubahan bentuk dan menjadi makhluk-makhluk menyimpang di Laut Utara. Namun, semua penyimpangan tersebut memiliki satu kesamaan yang jelas.
Mereka semua perlahan berubah menjadi mirip naga, seakan-akan berusaha beradaptasi dan meniru makhluk terkuat yang tinggal di Laut Utara. Sebuah insting bertahan hidup yang dimiliki oleh semua makhluk, mimikri ekstrem terhadap bentuk kehidupan yang lebih kuat.
Sea Swine dulunya memiliki bentuk seperti gabungan babi dan ikan. Namun karena penyimpangan yang ada, sisik naga mulai tumbuh dan sirip menghilang sehingga berubah menjadi mirip seperti Sea Serpent gemuk.
Di sisi lain, Sea Rhino juga mengalami perubahan yang serupa. Tubuh seperti badak dan ikan berukuran empat meter berubah menjadi mirip ular naga, sirip menghilang dan sisik reptil tumbuh di sekujur tubuh.
Polypus juga tidak luput dari perubahan yang ada. Makhluk yang dulunya memiliki bentuk lobster raksasa dengan delapan kaki dan sepasang capit raksasa tersebut sepenuhnya berubah. Seluruh kaki dan capit menghilang, lalu hanya menyisakan sungut pada bagian kepala dan menjadi tidak bisa bergerak di daratan karena cangkangnya sendiri.
Dalam sekali lihat, Odo langsung paham bahwa semua perubahan itu disebabkan oleh pengaruh Ether tidak murni yang tersebar di penjuru Laut Utara. Bukan karena ekosistem tersebut ditelantarkan sang perwakilan, namun pengaruh dari entitas lain yang membuat Ether menjadi tidak stabil.
“Apa tempat ini telah memilih Leviathan?” gumam Odo ringan. Pemuda rambut hitam tersebut berjalan ke ujung tebing, lalu menatap ke bawah untuk mencari informasi lebih dalam.
Tempat tersebut benar-benar berbeda dengan apa yang dirinya bayangkan, begitu kacau dan sangat jauh dari kata layak huni. Sedikit cemas dengan perasaan Vil saat melihat kampung halamannya berakhir mengenaskan seperti itu, Putra Tunggal Keluarga Luke segera menoleh.
__ADS_1
Namun saat dirinya hendak bertanya atau berusaha menenangkan, Vil sama sekali tidak mengubah ekspresi wajahnya. Tetap tenang dan tersenyum tipis, lalu berjalan mendekati Odo dan meninggalkan kedua Elf yang masih terkejut dengan kondisi Laut Utara.
“Apa Odo cemas?” Vil berdiri di sebelah Odo, menatap ke bawah dan melihat para Roh Tingkat Atas yang dulu pernah melayaninya di masa lampau. Seakan tidak peduli, perempuan rambut biru tersebut menyampaikan, “Saat memutuskan untuk pergi ke Dunia Nyata, diriku sudah tahu bahwa Laut Utara akan berakhir seperti ini. Ini sama sekali membuatku terpukul atau menyesal.”
“Sangat kacau,” ujar Odo dengan dingin. Ia perlahan menoleh ke arah Vil di sebelah, lalu dengan nada sedikit risau memastikan, “Apa kau tidak mempermasalahkan hal itu? Tempat ini kampung halaman kau, bukan?”
“Sama sekali tidak ….” Vil balik menatap. Di dalam paparan angin laut yang berhembus kencang dan mengibarkan rambutnya, Roh Agung tersebut dengan jelas menyampaikan, “Saat diriku pergi, mereka memutuskan tidak memilih penguasa baru untuk perwakilan selanjutnya. Mereka bilang hanya diriku yang pantas memimpin tempat ini. Sungguh …, mereka sangatlah bodoh. Padahal masih banyak jalan untuk selamat, namun mereka malah memilih kehancuran seperti ini.”
Meski Vil benar-benar menyembunyikan perasaannya dalam ekspresi dingin, Odo langsung tahu bahwa perkataan tersebut dipenuhi kebohongan. Paham bahwa ada sebuah penyesalan yang tersirat dalam tatapan Roh Agung tersebut.
Odo kembali melihat ke arah teluk yang merupakan pusat kehidupan Laut Utara. Menatap ke bawah dari tebing, ia sejenak menarik napas dalam-dalam dan menggunakan Spekulasi Persepsi. Mengumpulkan semua informasi yang dirinya tangkap oleh kelima indra, lalu melakukan kalkulasi untuk mencari beberapa kemungkinan yang bisa dicapai tempat tersebut di masa depan.
“Kalau boleh tahu, mengapa kau tidak menciptakan penerus seperti Reyah?” tanya Odo seraya melirik tajam.
“Seperti Reyah?” Mendengar pertanyaan Odo Luke, sang Siren segera menyadari sesuatu yang penting. Ia kembali teringat dengan Roh kecil yang digendong Dryad Pohon Suci, lalu dengan nada sedikit kesal balik bertanya, “Berarti … dia sudah membuat keturunan untuk meneruskan tugasnya? Menggunakan sisa-sia kekuatan Naga Hitam dari tubuh Odo, apa jelmaan pohon itu menciptakan Roh lain untuk antisipasi penyimpangan?”
“Itu adalah salah satu kontrak yang aku buat dengannya.” Odo menjawab singkat, tidak ingin menjelaskan lebih dalam isi perjanjian yang dirinya telah buat dengan Reyah. Namun seakan memiliki tujuan lain, pemuda rambut hitam tersebut malah menyindir, “Sangat berbeda dengan Reyah, ternyata kau lebih labil. Aku sedikit terkejut.”
“Labil?” Vil tidak menangkap sindiran tersebut.
“Ah, maksudku tidak kompeten.” Odo melakukan sindiran secara frontal. Seakan-akan ingin menarik sebuah kalimat dari mulut Vil, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali memancing dengan berkata, “Meski paham punya peran sebagai Penguasa Laut Utara, kau pergi begitu saja tanpa melakukan sesuatu untuk antisipasi atau semacamnya.”
“Kenapa Odo bicara seperti itu?” Vil mulai menyadari sindiran pemuda itu, sedikit terusik sampai keningnya sedikit mengerut.
“Kenapa Odo malah berkata seperti itu?!” Vil sepenuhnya terpancing perkataannya. Sembari menghadap dan menatap tajam pemuda rambut hitam tersebut, dengan nada kesal sang Siren membentak, “Diriku tahu kondisi di sini adalah kesalahanku! Namun! Diriku bukanlah Dryad yang bisa menyalin ingatan dan bentuk fisik kepada Roh perwakilan berikutnya! Siklus hidup setiap Roh Agung berbeda-beda! Odo pikir diriku tidak berusaha melakukan sesuatu untuk para Roh⸻?!”
“Memangnya apa yang telah kau lakukan?” sela Odo dengan dingin. Belum mendapat kalimat yang dirinya inginkan, pemuda rambut hitam tersebut kembali menekan, “Apa yang kau lakukan hanya menelantarkan mereka, lalu hasilnya adalah kondisi Laut Utara seperti sekarang ini. Mengenaskan! Jangan mencari pembenaran dengan merendahkan diri sendiri atau menyalahkan sesuatu, itu menjijikkan ….”
Vil benar-benar tersentak, ia langsung kehabisan kata-kata dan menundukkan wajah dengan kedua tangan mengepal. Frustrasi karena tidak bisa membantah perkataan Odo dan menganggapnya benar, lalu mulai menyesali keputusan yang telah dirinya buat di masa lalu.
“Memangnya apa yang bisa diriku lakukan?” Vil gemetar dalam rasa muak. Meski dirinya telah lama memutuskan untuk melupakan masa lalu, namun perkataan Odo seakan membangkitkan penyesalan dalam lubuk hatinya. Ia segera mengangkat wajah, lalu menatap lurus dan kembali membentak, “Meski memiliki umur panjang, pengalaman yang diriku miliki sangat sedikit! Bagaimana bisa diriku tahu pilihan yang benar sebelum mencobanya?! Memangnya siapa yang ingin membuat kesalahan?! Diriku juga tidak ingin melihat Laut Utara berakhir seperti ini!”
“Apa kau ingin memperbaikinya?” Odo sejenak menutup mata rapat-rapat, lalu melebarkan kedua tangan ke samping dan dengan lantang berkata, “Jika kau mengharapkannya, akan aku ubah Laut Utara menjadi tempat layak untuk para Roh! Paling tidak, mereka yang tersisa tidak akan lenyap begitu saja! Mari kita beri arti untuk penantian panjang mereka!”
“Apa … yang Odo bicarakan?”
Vil sedikit takut saat mendengar perkataan seperti itu. Berbeda dengan awal penyusunan rencana sebelum pergi ke Dunia Astral, Roh Agung tersebut merasa ada hal yang berubah dari Putra Tunggal Keluarga Luke. Terlebih lagi setelah pemuda itu membuat kontrak dengan Reyah.
“Aku bisa memperbaiki kondisi Ether di tempat ini, lalu memaksa kehendak Laut Utara untuk memilih Roh lain sebagai perwakilan berikutnya.”
Odo perlahan membuka mata dan berhenti merentangkan kedua tangan. Seraya melirik ke arah Vil, pemuda rambut hitam tersebut dengan tegas kembali menyampaikan, “Ini akan sama seperti kontrak yang telah aku buat dengan Reyah. Aku bisa menciptakan Roh baru, lalu menunjuknya sebagai perwakilan ekosistem di sini untuk dijadikan penguasa. Jika kau tidak suka cara seperti membebankan tugas kepada kehidupan yang baru saja lahir, kita bisa langsung menunjuk salah satu Roh Tingkat Atas yang tersisa untuk dijadikan Roh Agung.”
Vil hanya bisa terdiam setelah mendengar perkataannya. Sang Siren merasa hal tersebut terlalu indah untuk menjadi kenyataan, sebab ia paham bahwa memperbaiki kesalahan di masa lalu tidaklah semudah membalikkan tangan.
__ADS_1
“Odo datang ke Laut Utara bukan untuk menyelesaikan masalah seperti itu, bukan?” Vil memalingkan pandangan ke arah teluk. Di bawah paparan bulan purnama yang mulai tertutup awan mendung, perempuan rambut biru tersebut menegaskan, “Prioritaskan saja tujuan Odo. Tak perlu memikirkan hal-hal tidak perlu seperti itu.”
“Ini perlu!” tegas Odo. Ia menatap penuh rasa percaya diri, lalu dengan tegas kembali menyampaikan, “Aku membutuhkan medan pertempuran yang mendukung untuk mengalahkan Leviathan!”
Putra Tunggal Keluarga Luke mengulurkan tangan kanan kepada Vil. Tatapan yang dirinya perlihatkan bukanlah iba ataupun empati, melainkan sepenuhnya melihat situasi yang ada hanya sebatas keuntungan belaka.
Tanpa menyembunyikan tujuannya dalam kalimat muslihat, Odo Luke dengan penuh semangat berkata, “Mendapatkan wewenang lain sebagai pendukung, bukalah itu terdengar cukup menggiurkan? Ini bisa meningkatkan potensi kemenangan kita.”
“Sifat asli Odo mulai keluar ….” Vil menghela napas ringan. Paham bahwa kepribadian Odo memang seperti itu saat dihadapkan dengan sebuah keuntungan, sang Siren sejenak menarik napas dalam-dalam dan bergumam, “Ini sangat menyebalkan. Rasanya seperti diriku meniru Dryad itu.”
“Meniru bisa menghindarkan kita dari kesalahan.” Odo bertepuk tangan satu kali. Seraya memalingkan pandangan ke arah bulan purnama, ia dengan nada semangat memastikan, “Apa kau menerima tawaran ku? Kalau iya, mari kita selesaikan ini sebelum Reyah sampai di sini.”
“Diriku tidak punya pilihan lain.” Vil sekilas mengangkat kedua sisi pundak. Seraya memasang senyum kesal, ia dengan mimik wajah cemberut menggerutu, “Kalau menolak, Odo pasti akan terus menekan dan menyindir diriku, ‘kan?”
“Kau sangat tahu sifat ku.” Odo melempar senyum tipis. Sembari menunjuk lurus ke arah Vil, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Ini bukan berarti aku ingin menguasai Laut Utara, karena itu kontrak yang ada akan dibuat sedikit berbeda. Isinya ….”
“Diriku serahkan semuanya kepada Odo.” Vil tersenyum tipis. Meraih tangan kanan pemuda itu, ia dengan penuh rasa lega berkata, “Diriku adalah Roh milik Odo. Sudah seharusnya kepercayaan ini cukup untuk menyerahkan semuanya kepada engkau.”
“Baiklah, mari kita mulai ritualnya.”
Odo segera melepaskan tangan Vil dan mengambil satu langkah ke belakang. Sekilas melirik ke arah Laura dan Magda yang sedari tadi hanya terdiam, pemuda rambut hitam tersebut melempar senyum tipis sebagai tanda untuk memulai persiapan rencana. Sesuatu yang hanya dibicarakan oleh mereka bertiga.
Mereka berdua segera mengaktifkan Manifestasi Peri, lalu terbang pergi untuk mencari informasi di sekitar ekosistem Laut Utara. Berperan sebagai pengintai dan mencari tahu lokasi pasti dari sarang Leviathan.
Melihat mereka pergi seperti itu tanpa berkata sepatah kata pun, sang Siren segera tahu bahwa Odo memiliki rencana lain yang tidak disampaikan. Ia segera memberikan tatapan sedikit cemas, ingin bertanya namun pada akhirnya kembali menutup mulut karena takut untuk meragukan.
“Tenang saja, mereka hanya aku suruh untuk mencari sarang Leviathan dan beberapa hal lain.” Odo bertepuk tangan sekali untuk mendapatkan perhatian penuh dari Vil. Seraya berbalik ke arah teluk dan menunjuk lurus ke bawah, pemuda rambut hitam tersebut dengan penuh rasa percaya diri berkata, “Mari kita turun dan temui mereka. Untuk memulai ritual, kau harus menjadi Penguasa Laut Utara lagi. Setelah itu, kita bisa menunjuk Roh lain dan memaksa kehendak Laut Utara untuk mengangkatnya sebagai perwakilan.”
“Eh?!” Vil seketika memucat. Sedikit menjauh dan memperlihatkan mimik wajah sangat enggan, Roh Agung tersebut menggelengkan kepala dengan kencang dan menolak, “Ti-Tidak usah, deh! Diriku tarik kembali perkataan tadi! Ka-Kalau dipikir kembali, memang sebaiknya Odo fokus saja dengan tujuan utama kali ini! Odo datang untuk mengalahkan Leviathan, ‘kan? Enggak perlu ikut campur masalah⸻”
“Kenapa malah takut seperti itu?” Odo mengerutkan kening, segera paham bahwa Vil merasa sangat bersalah kepada para Roh yang dirinya tinggalkan di Laut Utara. Tanpa memedulikan hal tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke langsung meraih tangan perempuan itu dan berkata, “Ayolah, kau bukan anak remaja yang tidak bisa meminta maaf dengan benar, ‘kan?”
“Ta-Tapi! Bi-Bisa saja mereka marah! Ini bukan masalah yang bisa selesai hanya dengan minta maaf!”
“Aku tahu! Karena itu kita harus bicara dengan mereka dan memperbaikinya!”
“Tunggu dulu, Odo! Diriku perlu mempersiapkan hati dulu!”
“Kelamaan!”
Tanpa memedulikan kesiapan Roh Agung tersebut, Odo mengajaknya turun ke bawah. Langsung meloncat ke permukaan yang ada di bahwa tebing, untuk menghampiri beberapa Putri Duyung yang duduk-duduk di tempat tersebut.
ↈↈↈ
__ADS_1