
Semua proses berlangsung cukup lama, sebab jumlah mayat yang ditemukan dari balik dinding kayu kedua di sarang Goblin sangatlah banyak. Bahkan dari beberapa pemburu yang dipanggil Elulu untuk membantu Odo, itu tidaklah cukup dan sampai harus memberitahukan banyak pihak termasuk Pemerintahan terkait masalah tersebut.
Waktu pun terus berlalu dan hari sudah gelap, beberapa lampu kristal menyala di dalam bangunan-bangunan serta pinggir jalan.
Pada lapangan yang berada di tengah Barak, kain-kain polos digelar untuk meletakan potongan-potongan mayat yang masih dalam proses identifikasi. Sedangkan untuk mayat-mayat yang sudah dikenali identitasnya dengan dibantu kerabat-kerabat yang merasa kehilangan, mereka dibungkus kain putih di pinggir lapangan untuk membiarkan para keluarga berkabung sebelum dimakamkan.
Tangis ⸻ Suasa kesedihan dengan jelas terdengar dari orang-orang yang telah memastikan kematian keluarga mereka. Membuat suasana menjadi sedikit sendu, dipenuhi rasa muram di bawah langit malam tanpa penuh bintang.
Meski dibantu dengan lampu-lampu kristal dan cahaya bulan sabit dari langit cerah, proses identifikasi sama sekali tidak mengalami kemajuan yang berarti sejak tadi sore.
Dari sekian banyak mayat-mayat dan potongan tubuh yang dibawa kembali dari sarang para Goblin, hanya sekitar 12 mayat saja yang berhasil diidentifikasi. Selebihnya benar-benar tidak bisa dikenali karena bentuknya sudah tidak karuan lagi, bahkan ada juga yang hanya tersisa belulang saja.
Orang-orang yang tidak bisa menemukan mayat anggota keluarga mereka hanya bisa menangis pasrah. Di antara mereka masih berusaha mencari meski tidak lagi dibantu oleh para tabib yang menyerah, ada yang protes dan marah kepada para prajurit, lalu ada juga yang hanya menangis menjadi-jadi di antara gelaran kain-kain berisi mayat di lapangan.
Kebanyakan dari mereka adalah para ibu rumah tangga di Kota Mylta yang kehilangan putra atau putri mereka dalam kurung waktu satu tahun lalu. Meski seharusnya telah pasrah dan menerima kematian anak-anak mereka, fakta bahwa putra-putra mereka pulang dalam kondisi tak berbentuk memang tetap mengguncang hati para orang tua tersebut.
Orang-orang yang membantu identifikasi tidak bisa melakukan banyak hal. Baik dari orang-orang Pemerintahan, Guild, Pihak Religi ataupun para tabib, mereka semua hanya terdiam melihat pemandangan penuh kesedihan.
Bagi mereka berusia 20 tahunan ke atas, itu mengingatkan para sukarelawan dengan kejadian mengenaskan beberapa tahun silam. Pada tragedi ketika para bandit masih belum dibasmi dan menyerang desa-desa.
Berdiri di antara semua orang yang membantu identifikasi dan pendataan mayat untuk pemakaman, Siska Inkara hanya bisa menyatukan kedua tangannya dan menjalin jemari. Ia menundukkan kepala, dalam mimik wajah yang tampak ingin menangis dan terus berdoa untuk jiwa-jiwa yang telah meninggal.
Meski dalam benak dirinya masih bertanya-tanya mengapa mayat-mayat tersebut tidak menjadi Undead meski dibiarkan dalam waktu lama, untuk sekarang Pendata Wanita tersebut memilih fokus untuk mendoakan.
“Semoga jiwa kalian tenang di sisi Asmali Oraș, wahai jiwa-jiwa dari semua Jasad di tempat ini. Dewi pasti akan menyambut jiwa kalian. Para Roh akan mengantar sampai kalian sampai di Aliran Kehidupan, wahai para saudara-saudaraku,” ujarnya dengan penuh hikmat.
Berdiri di samping perempuan yang mengenakan pakaian Pendeta tersebut, sang Imam Kota ikut menjalin jemari kedua tangannya dan berdoa, “Semoga jiwa-jiwa kalian tenang dan pergi ke aliran kehidupan dengan damai.”
Meski mendengar suara Andreass di sebelahnya, Siska sama sekali tidak menoleh dan tetap hikmat dalam doa. Perempuan puritan tersebut perlahan mulai menangis tersedu, air mata mengalir membasahi pipinya saat membayangkan akhir hayat anak-anak yang menjadi korban para monster.
Meski dirinya bukanlah seorang Ibu, Siska paham betapa menyakitkannya sebuah kehilangan. Anak-anak yang dirinya rwat mengajarkan arti kekeluargaan kepadanya, membuat perempuan itu bisa berempati dengan para orang tua yang menangis di bawah langit malam.
“Nona Siska, kamu ….”
Andreass menghentikan doanya dan tertegun mendengar suara tangis tersedu-sedu dari perempuan di sebelahnya. Pria rambut pirang dengan potongan pendek tersebut ingin bertanya alasan Siska menangis. Namun saat dirinya paham hal tersebut bukanlah sesuatu yang boleh ditanyakan sekarang, pria paruh baya tersebut hanya menutup mulut dan terdiam.
Berbeda dengan Siska yang merupakan penduduk asli dan telah memiliki banyak kenangan dengan orang-orang yang tinggal di Kota Mylta, Andreass merasa tidak terlalu sedih meskipun dirinya seorang Imam Kota. Rasa iba memang ada padanya, namun kenangan selama satu dekade lebih dengan penduduk kota tidak bisa membuatnya sampai berempati secara penuh.
“Mereka hanya orang lain. Bukan orang puritan ataupun orang yang aku kenal,” itulah yang ada di dalam hati orang buangan dari Keluarga Rein tersebut. Secara tidak sadar, sifat bawaan dari keluarga yang dikenal sebagai Timbangan Kerajaan Felixia memang ada pada dirinya.
Sebuah sikap untuk melihat orang-orang di sekitarnya dengan adil dan dingin, bukan dengan setara. Secara tidak langsung, Andreass hanya bisa membagi hatinya kepada orang-orang yang dirinya anggap bernilai.
.
.
.
.
Selang beberapa menit, di dalam ruang kantor milik Iitla Lots berkumpul beberapa orang-orang penting dari Pihak Pemerintahan. Pada sepasang sofa yang tersedia untuk tamu di depan meja kerja pemilik ruangan, Lisiathus Mylta dan Wiskel Porka duduk saling bersebelahan.
Di hadapan Wakil Walikota dan Walikota Pengganti tersebut, duduk juga seorang remaja perempuan rambut pirang yang merupakan salah satu korban kejadian kali ini. Berada di sebelahnya, sang Ayah dari remaja tersebut duduk menemani putrinya.
Untuk sang pemilik ruangan kerja itu sendiri, Iitla Lots duduk di meja kerjanya ditemani Klein Mial yang berdiri di sebelahnya.
__ADS_1
Suasana terasa tegang. Diam, senyap, dan tidak ada satu pun orang berani untuk terlebih dulu memulai pembicaraan di tengah suasana suram tersebut.
Melihat anak perempuan yang masih gemetar ketakutan di dalam selimut tebalnya, orang-orang di dalam ruangan paham tidak baik untuk langsung membahas masalah politik di hadapan korban kejadian kali ini.
Jessica Karz, itulah nama perempuan yang menjadi salah satu korban selamat dari sarang para Goblin. Ia adalah putri semata wayang dari Keluarga Bangsawan Ksatria Karz, anak semata wayang dari pria bernama Gulito Karz di sebelahnya.
Sama seperti Iitla, Gulito juga merupakan seorang Knight yang bekerja di Barak dan menjabat sebagai Wakil Kepala Prajurit Kota Mylta dalam waktu lama. Dengan kata lain, bisa dikatakan pria rambut cokelat dengan potongan cepak tersebut adalah rekan kerja Iitla dan Klein.
Di tengah suasana suram tanpa ada yang berani memulai pembicaraan, Gulito Karz memeluk putri satu-satunya yang gemetar. Dengan penuh kelembutan ia berkata, “Tenang saja, Jessica … Ayah ada di sini. Kamu sudah baik-baik saja ….” Meski dipeluk dan diberikan kalimat penenang, perempuan yang usianya sudah menginjak 19 tahun tersebut tidak berhenti gemetar. Tetap ketakutan dan dibayang-bayangi momen ketika dirinya disetubuhi oleh para Goblin.
Tubuh remaja itu menggigil, tatapannya seperti orang mati, dan bibir keringnya terus komat-kamit mengucapkan sesuatu dengan volume lirih namun dengan intonasi cepat. Dari mimik wajah yang tampak padanya, trauma berat memang benar-benar menghantam remaja tersebut.
“Pak Gulito, saya turut menyesal atas apa yang menimpa Nona Jessica. Siapa yang menyangka kalau putri Anda yang hilang awal minggu ini ditemukan di sarang Goblin,” ujar Iitla untuk membuka pembicaraan.
Mendengar perkataan tersebut, Gulito berhenti memeluk putrinya dan perlahan menoleh. Menatap datar ke arah rekannya tersebut, ia dengan suara lemas berkata, “Asalkan dirinya kembali itu sudah cukup …. Putriku ini adalah satu-satunya anggota keluarga saya yang tersisa, peninggalan dari mendiang istriku. Selama Jessica kembali, itu sudah cukup untukku.”
Apa yang menjadi balasannya membuat Iitla terdiam, kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pembicaraan ke arah masalah yang harus segera dibahas. Di tengah suasana yang kembali dingin tanpa satu pun orang yang berbicara, tiba-tiba pintu ruang kantor tersebut terbuka.
“Kalian semua di sini rupanya,” ucap Putra Tunggal Keluarga Luke setelah melangkah masuk. Melihat memindah dan mengamati siapa saja yang berada di dalam ruang kerja Kepala Prajurit, Odo dengan segera menghela napas dan kembali berkata, “Pendataannya hampir selesai. Dari semua mayat yang ditemukan, hanya sekitar 12 saja yang sudah berhasil diidentifikasi. Kata orang-orang dari Pihak Religi dan para tabib, sebaiknya kita segera mengadakan upacara pemakaman untuk mereka. Takutnya ada penyakit yang bisa menyebar memalui udara atau kontak fisik.”
Ucapan yang dilontarkan Odo secara frontal membuat semua orang menatap ke arahnya, merasa pemuda rambut hitam tersebut tidak peka dengan suasana yang ada di dalam ruangan. Namun dengan hal tersebut, Iitla kembali memiliki kesempatan untuk membuat alur pembicaraan.
Kepala Prajurit tersebut bangun dari tempat duduknya, menatap lurus ke arah Odo dan berkata, “Kalau begitu, sebaiknya kita⸻!”
“Apa kita tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau ada keluarga yang baru saja datang dan ingin mencari mayat anggota keluarga mereka?” sela Wiskel Porka sembari bangun dari tempat duduk.
Merasa tidak ada waktu untuk berdebat dengan pria tua tersebut, pemuda yang mengenakan pakaian kotor dan belum mandi tersebut langsung memancarkan aura mengintimidasi ke penjuru ruangan. Membuat semua orang diam di tempat tanpa terkecuali, bahkan perempuan yang sedang gemetar ketakutan pun terdiam karena hal tersebut.
Sadar telah sedikit berlebihan sampai mengintimidasi salah satu korban kejadian kali ini, Odo segera menghilangkan pancaran intimidasi. Semua orang segera menarik napas lega, namun remaja perempuan yang menjadi korban malah tambah ketakutan dan mulai menatap ke arah Odo seakan memendam kebencian kepadanya.
Mendengar perkataan itu, Lisiathus Mylta bangun dari tempat duduk dan berkata, “Baik! Mari kita segera mulai persiapan pemakamannya.”
“Tu-Tunggu sebentar! Kalian berdua!” ujar Iitla yang cemas kehilangan kesempatan untuk menyampaikan masalah penting.
Menatap ke arah Kepala Prajurit tersebut, Odo secara frontal berkata, “Anda mau mengatakan apa, Pak Iitla? Aku masih ada keperluan di lapangan …. Anak buahmu dan orang-orang yang ikut membantu masih butuh pengarahan.”
Apa yang dikatakan Odo membuat Iitla dan orang-orang di tempat tersebut seperti pejabat yang hanya bisa memerintah dari balik meja, menjadi sebuah sindiran yang secara tidak langsung menggores harga diri mereka. Tanpa membiarkan satu pun orang di dalam ruangan berkata lebih cepat darinya, Odo kembali menyampaikan, “Kalau Anda ingin membahas tentang dampak kejadian kali ini, nanti aku akan meluangkan waktu setelah persiapan pemakaman selesai.”
“Eh?” Iitla tertegun. Ia merasa pemuda itu bisa membaca isi kepalanya, membuat pria tua tersebut sedikit kagum sekaligus takut terhadap Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut.
“Anda sudah memikirkan hal itu juga?” tanya Wiskel Porka.
“Tentu saja! Aku … juga tak ingin proses progresif kota ini terhenti.” Odo menggaruk bagian kepala dengan kedua tangan, memasang mimik wajah kesal dan mengeluh, “Meski aku paham akan ada dampaknya, tapi siapa yang menyangka kalau akan sebesar ini. Sungguh, hal ini menyebalkan!”
“Dampak?” tanya Lisia dengan bingung.
“Hah? Kau tak paham?” Mendengar pertanyaan tersebut dari seorang Wakil Walikota, Odo segera menurunkan kedua tangan dari belakang kepala. Sembari menunjuk Lisia, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut berkata, “Karena kejadian ini Kota Mylta bisa saja kembali ke situasi seperti dulu! Rute perdagangan bisa terancam dan dicap tidak aman lagi, lalu kota perlahan mengalami regresif! Paham tidak? Ancaman monster dalam persepsi orang luar Mylta sama saja dengan para bandit!”
Lisia menganga, baru benar-benar menyadari hal tersebut dan langsung melangkah menghampiri Odo. Sembari berdiri di hadapannya, perempuan rambut merah itu berkata, “Itu tidak boleh terjadi! Kalau Mylta kembali ke situasi tersebut, tak ada jaminan orang-orang dari luar akan memberikan kepercayaan mereka lagi!”
“Karena itu aku sedang memikirkannya!” bentak Odo dengan kasar. Pemuda itu menatap dengan sorot mata tajam, kembali menggeruk kepala dengan dua tangan dan menyalahkan, “Jujur aku heran kenapa kalian tidak bisa bekerja dengan benar! Andai pihak pemerintah bisa memperkirakan hal ini dan melakukan antisipasi, pasti⸻!”
“Kenapa kamu malah menyalahkan saya!” Lisia yang juga terbawa emosi menunjuk lurus pemuda di hadapannya, lalu dengan penuh rasa kesal balik membentak, “Memangnya siapa yang bisa memprediksi kejadian seperti ini! Saya bukan Orakel!”
“Meski bukan, kalian punya kewajiban untuk menjaga keamanan rute dan para penduduk!” Odo menepis tangan Lisia yang menunjuk ke arahnya. Dengan mimik wajah yang tampak semakin kesal, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut kembali menyalahkan, “Karena kerja tidak becus kalian, aku harus menata ulang semua rencana yang ada! Kau tahu, Lisia! Aku tak punya banyak waktu lagi di kota ini! Jangan buat aku terus mengusap bokong kalian!”
__ADS_1
“Siapa juga yang meminta Tuan Odo membantu kami! Lagi pula, kenapa juga Anda suka sekali mengusik sistem pemerintahan kota! Anda bukan siapa-siapa di sini!”
Perkataan tersebut sangat mencerminkan seorang yang masih muda dan begitu labil, tanpa dipikirkan dua kali sebelum dilontarkan kepada lawan bicaranya. Seketika suasana di dalam ruangan seketika menjadi senyap, orang-orang yang mendengar pembicaraan merasa mereka terlalu terbawa emosi sampai mengucapkan kalimat yang tidak seharusnya perlu digunakan.
Dengan kepala panas mendengar perkataan perempuan di hadapannya, Odo seketika memberikan tatapan merendahkan. Begitu jijik, kesal, dan menilai rendah perempuan di hadapannya. Ia merasa Lisia tidak ada bedanya dengan orang-orang lain dalam pemerintahan, hanya berlaku sopan dan kooperatif jika mendapat keuntungan saja.
Merasa perkataan Walikota Pengganti tersebut terlalu berlebihan, Wiskel Porka mulai cemas dan segera menghampiri mereka berdua.
Sebagai orang yang berpengalaman dalam bidang pemerintahan dan politik, dirinya sangat paham dampak terburuk yang bisa muncul. Jika Odo benar-benar angkat tangan dari masalah kali ini, hal tersebut akan sangat merugikan pemerintah karena masalah yang ada sudah berada di luar kemampuan mereka.
Dari sudut pandang lain, berhentinya Odo membantu Pihak Pemerintah juga berarti mereka kehilangan kesempatan untuk memperbaiki cara pandang orang-orang dari luar Teritorial Mylta terkait masalah keamanan.
“Tolong tenang dulu, Nona Lisiathus.” Pria tua tersebut memegang kedua sisi pundak Walikota Pengganti tersebut dari belakang, lalu dengan niat membujuk ia berkata, “Tak baik terbawa suasana di saat seperti ini. Saya juga sama seperti Nona, tak ingin kota ini kembali ke situasi itu …. Sebab itu, mari kita dinginkan kepala sejenak dan memikirkan jalan keluarnya baik-baik.”
Lisia menyingkirkan kedua tangan Wiskel dari pundak dengan paksa. Berbalik dan menatap pria tua yang rambutnya sudah menguban sepenuhnya itu, dalam pengaruh emosi Walikota Pengganti berkata, “Diamlah! Tuan Wiskel sendiri salah dalam situasi ini! Kalau saja Anda membahas masalah ini lebih dulu daripada rapat tentang tuntutan para pedagang, mungkin saja kejadiannya tidak sampai separah ini!”
Iitla Lots segera menghampiri mereka setelah yang mendengar perkataan tersebut. Sebagai pemilik ruangan dan penanggung jawab Barak, ia merasa pembicaraan tersebut akan berbahaya jika terus dilanjutkan. “Nona Lisiathus, tenanglah dulu. Kalau Anda berbicara seperti itu, bukankah hal tersebut sama saja dengan Anda mengakui kesalahan? Anda juga setuju soal rapat tuntutan itu harus didahulukan dan telah menandatangani agendanya.”
Lisiathus Mylta tersentak, menatap ke arah sosok yang dulu menjadi mentor ilmu pedangnya tersebut. Diingatkan oleh orang yang dekat dengannya sejak masa kecil membuat perempuan rambut merah tersebut terdiam, mulai merenung dan mengoreksi diri atas apa yang telah diucapkan kepada orang-orang di dekatnya.
Berbalik dan menatap Putra Tunggal Keluarga Luke dengan sorot mata yang tampak bersalah, perempuan yang berusaha menurunkan egonya tersebut berkata, “Tuan Odo, tadi saya tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Saya hanya terbawa suasana⸻!”
“Terserah!” bentak Odo dengan kasar.
Berbeda dengan orang-orang yang ada di dalam ruangan, pemuda itu masih dipenuhi amarah dan sama sekali tidak berniat untuk meredakannya. Sorot mata tajam, gigi yang menggertak dan kening mengerut. Meski memperlihatkan ekspresi yang benar-benar murka, ia tidak sedikitpun memancarkan aura mengintimidasi ke sekelilingnya.
Itu tanda bahwa amarah yang sejak awal pembicaraan dirinya perlihatkan hanyalah sebuah akting.
Sembari mengambil satu langkah mendekat, Wiskel hendak memegang pundak Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut dan berkata, “Tuan Odo, tolong Anda jangan terbawa suasana juga. Anda bukan orang yang mudah marah, ‘kan?”
Odo melangkah mundur dan tidak membiarkan pundaknya dipegang, hanya memberikan tatapan datar dan mulai berhenti menggertakkan gigi. “Aku sudah muak! Mulai detik ini, aku berhenti membantu kalian secara cuma-cuma! Aku tak punya waktu untuk meladeni ketamakan dan tindakan tidak kompeten kalian semua!” ujar pemuda itu kepada mereka.
“Tolong tenanglah!” Iitla ikut melangkah mendekati pemuda itu, lalu dengan mimik wajah sangat cemas membujuk, “Anda tolong jangan lepas tangan seperti itu …. Jujur saja kami sangat berterima kasih kepada Anda! Anda telah menemukan sarang para monster dan memberikan laporan kepada kami dalam masalah ini, itu mencegah situasi ini memuncak dengan cara yang lebih buruk …. Sebab itu, kami masih butuh bantuan Anda sampai akhir!”
“Bantuan?” Odo tersenyum menghina. Mengangkat tangan kanannya dan menunjuk lurus ke arah orang-orang pemerintahan itu di hadapan, ia dengan lantang menuntut, “Kalau begitu, seharusnya kalian harus memberikan bayaran yang sesuai! Aku meminta kompensasi atas jasa yang akan aku berikan kepada kalian mulai saat ini!”
“A⸻!” Wiskel terkejut, ia dengan penuh kecemasan bertanya, “Apa Anda menuntut biaya di situasi seperti ini! Anda juga seorang bangsawan dari Kerajaan Felixia, bukan? Seharusnya kita saling membantu!”
“Saat membantu, bangsawan lain pun meminta bayaran yang setara dengan bantuan yang diberikan. Kau pikir aku tidak memahami hal seperti itu?” ujar Odo sembari menatap rendah.
Menghela napas dengan penuh rasa resah, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut pindah menatap ke arah perempuan rambut merah yang mengenakan seragam kerja pemerintahan.
Seraya memasang senyum yang seakan menyindir, ia dengan nada kasar berkata, “Untuk orang tidak becus sepertimu, tadi kau berani sekali mengatakan hal seperti itu kepadaku, ya? Kalau memang aku dianggap orang luar dan kalian tidak butuh bantuanku, lantas kenapa kalian meminta batuan sekarang? Memalukan sekali ….”
“Sa-Saya tadi terbawa emosi …. Saya tidak bermaksud mengatakannya!” elak Lisia.
Sembari melebarkan senyuman gelap Odo kembali berkata, “Tapi itu yang kamu sebenarnya rasakan, ‘kan? Aku terlalu ikut campur dalam urusan pemerintah dan mengganggu ketenangan yang baru saja kau datang dari fase progresif kota.” Memperlihatkan amarah gelap yang semakin melonjak, pemuda rambut hitam tersebut mengangkat tangan kanannya dan langsung membungkam mulut Lisia dari depan. “Setelah kau berada di posisi nyaman, seakan tidak berguna lagi aku dibuang dan dianggap sebagai hama yang menggagu ketentraman dirimu …. Benar begitu, Lisiathus Mylta?” tanya Odo sembari mendekatkan wajah.
Saat Odo melonggarkan bungkaman, Lisia dengan gemetar menjawab, “I-Itu … tidak benar. Saya tak bermaksud seperti itu ….”
Semua orang yang melihat itu sempat dibuat tegang, mengira kalau Putra dari Dart Luke yang terkenal temperamental akan memukul sang Walikota Pengganti. Namun saat paham hanya dengan dibungkam telah membuat Lisia gemetar ketakutan, mereka sedikit lega karena tidak mungkin seorang pria bermartabat memukul perempuan yang gemetar seperti itu.
\=========
Fakta 003 U: Meski terbilang tubuh Odo normal dan sempurna sebagai manusia, dirinya memiliki sedikit kecacatan berupa tidak bisa mengangkat kaki kiri setinggi pinggang.
__ADS_1
Itu disebabkan oleh beberapa hal yang berkaitan dengan bentuk jiwa di Dunia Sebelumnya, namun secara mendasar itu terjadi karena dirinya dari tidak baik dalam kontrol kaki.