Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[100] Angelus V – Green Slumber (Part 01)


__ADS_3

 


 


 


 


 


 


Dalam perjalanan panjang ini, sebuah akhir dengan pasti akan menghampiri kita. Selama kita terus melangkah ke depan, hal tersebut terasa semakin jelas layaknya detak jantung ini.


 


 


Pasti kamu sudah memahaminya, tidak ada di antara kita yang bisa menjamin akhir tersebut. Baik itu sesuai dengan apa yang kamu inginkan atau mungkin bertentangan, kita tidak bisa memastikan hal itu sampai melihatnya langsung.


 


 


Meski kita tidak mengharapkan sebuah akhir, dengan pasti hal tersebut akan terus mendekat. Selama bahtera ini terus berlayar, sebuah penghujung akan semakin jelas setiap detiknya.


 


 


Sebab itulah, kelak waktu pasti akan memisahkan kita di ujung perjalanan panjang ini. Sama seperti halnya diriku yang mengambil keputusan tersebut, kamu mungkin akan memilih jalan yang berbeda dari kami.


 


 


Namun⸻


 


 


Tolong ingat hal ini baik-baik. Kumohon ingatlah perkataan wanita yang pernah menyebut dirinya sebagai istrimu, lalu letakkan hal tersebut ke sudut hati.


 


 


Suamiku, diriku tahu perjalananmu sangatlah panjang. Bahkan …, kami rasa ribuan tahun waktu di bahtera ini hanyalah sekejap bagimu.


 


 


Karena itu, mungkin kamu akan lupa semuanya. Baik tentang perkataan ini, kehangatan yang kamu berikan, serta harapan yang pernah ada di antara kita.


 


 


Mungkin kamu juga akan melupakan diriku, wanita yang pernah berdiri bersamamu.


 


 


Meski begitu …, tolong ingatlah kembali semuanya. Tak masalah kamu melupakannya sesaat, asal kelak nanti dirimu ingat kembali tentang kami. Tentang apa yang wanita ini sampaikan kepadamu di akhir.


 


 


Saat dirimu mendapatkan kembali ingatan tersebut, pasti kisah kita sudah berakhir. Bahkan, mungkin … kamu juga telah meraih mimpi itu dan sudah mengalahkannya.


 


 


Jujur … diriku berharap kamu berhenti dan tinggal selamanya bersama kami, para makhluk yang kamu bimbing di bahtera bagai surga dunia ini.


 


 


Namun, sayangnya hal tersebut tidak bisa kami katakan di depanmu. Kami tidak mampu untuk meminta kamu berhenti.


 


 


Kami paham kamu sangatlah berbeda. Dari puluhan ras di bahtera raksasa ini, tidak ada satu pun yang serupa dengan dirimu.


 


 


Karena itulah kamu adalah tunggal, suamiku. Sendirian. Baik itu di bahtera ini, atau mungkin di dunia yang amat luas ini. Dalam lautan angkasa ini tidak ada satu pun yang menyamai kamu.


 


 


Sebagai wanita yang pernah mendapatkan kehangatan darimu, mungkin akan sangat aneh jika diriku tidak menyadari. Alasan mengapa kamu berbeda dari kami, lalu mengapa bentuk dan rupa yang melekat pada dirimu tidak pernah berubah.


 


 


Kamu adalah sosok yang menciptakan kami, bukan?


 


 


Menggunakan pengetahuan yang tidak kami ketahui, dirimu membuat leluhur dari semua makhluk di bahtera ini. Menamai mereka yang ada layaknya sebuah subjek.


 


 


Kami tidak pernah marah atau membencimu karena telah menciptakan peradaban ini. Malah …, diriku sangat bersyukur karena diberikan garis keturunan ini.


 


 


Darah, genetik, dan pola pikir yang agung tersebut mungkin saja mengalir dalam diriku. Membayangkan hal tersebut, diriku tidak bisa menahan rasa bangga ini dan menjadi sedikit besar kepala. Sampai-sampai memandang yang lain lebih rendah dan mengira diriku adalah individu terpilih.


 


 


Kamu membantu evolusi para leluhur, memberikan pengetahuan, dan bahkan membimbing kami sampai titik ini. Tanpa pilih kasih, kamu melakukannya secara merata dan tanpa pandang bulu.


 


 


Diriku memahami hal tersebut. Tetapi, tetap rasa diriku merasa bangga bisa menjadi istrimu. Terus bertahan mengikuti dirimu, menjadi berbeda dari yang lain.


 


 


Karena itulah wanita ini memilih hidup panjang ini untuk bisa bersamamu.


 


 


Layaknya seoarang anak, diriku selalu merasakan cinta dan kasihmu. Ini sedikit membuatku cemburu karena kamu memberikannya kepada yang lain. Namun, itu tidak masalah selama diriku dipandang berbeda olehmu.


 


 


Kami … selalu ingin mengucapkan terima kasih kepadamu. Namun, pada saat yang sama kami takut kehilangan dirimu.


 


 


Dalam bahtera raksasa yang terus berkelana di lautan bintang ini, ada pepatah yang disampaikan leluhur kepada kami.


 


 


“Jika engkau melihat sang Ayahanda, jangan panggil dia, jangan lihat dia, dan jangan mencoba untuk memahami dirinya. Jika kalian melakukan hal tersebut, beliau akan langsung berpaling dan meninggalkan kalian.”


 


 


Sejak kecil diriku selalu mempertanyakannya, merasa pepatah yang disampaikan oleh mendiang kakak-kakakku itu sangat tidak masuk akal. Sampai-sampai menganggapnya hanyalah sebuah takhayul. Bahkan, diriku sempat tidak mau mengakui kepercayaan tunggal di bahtera ini.


 


 


Karena itulah, diriku memilih untuk hidup sebagai seorang peneliti. Menyerah untuk hidup bahagia dan mengorbankan masa muda, lalu mendedikasikan semuanya untuk menguak kebenaran di balik bahtera ini.


 


 


Mengapa planet kita tidak memiliki bintang seperti yang lain?


 


 


Kenapa tempat ini disebut bahtera?


 


 


Bagaimana bisa 70% tempat ini terbuat dari logam? Berasal dari mana semua itu?


 


 


Mengapa kita selalu berkelana di antara lautan angkasa ini? Dari mana diri kita berasal?


 


 


Ke mana diri kita akan pergi? Untuk apa kita terus berkelana?


 


 


Dari mana teknologi yang sangat maju ini berasal? Apakah dari leluhur? Atau dari sang Ayahanda yang disebut oleh orang-orang?


 


 


Meski bisa memahaminya, kenapa kita tidak bisa mengembangkan teknologi tersebut?


 


 


Lalu, apa yang membuat pepatah kuno tersebut terus diturunkan kepada kami?


 


 


Layaknya anak naif yang belum mengenal dunia, diriku bertekad ingin membongkar semua misteri tersebut. Terus menerus melakukan penelitian, lalu pada akhirnya waktu hanya sekadar berlalu. Tanpa ada satu pun jawaban yang bisa tangan ini raih.


 


 


Diriku sempat ingin menyerah, melempar semua usaha ini dan memilih jalan yang lebih ringan. Membuang status peneliti dan menjadi wanita biasa, lalu hidup berkeluarga layaknya orang lain.


 


 


Namun, layaknya sebuah hukuman diriku bertemu denganmu. Terpikat dalam hitungan detik, lalu seketika merasa bahwa kamulah yang bisa menjadi penuntun untuk kehidupan wanita menyedihkan ini.


 


 


Tanpa tahu malu diriku mengejar dirimu. Tanpa tahu diri, wanita ini melamar dan menjadikan kamu sebagai keluargaku. Tanpa berusaha mengenal siapa kamu sebenarnya, hanya dilandasi hasrat untuk memiliki dirimu.


 


 


Namun, diriku sama sekali tidak menyesalinya. Sama seperti halnya diriku melukai perasaanmu, dirimu pun pernah melukai hati wanita ini.

__ADS_1


 


 


Karena itulah, kita bisa sedikit saling mengerti melalui luka tersebut.


 


 


Sejak pertama kali bertemu, diriku paham bahwa kamu sangatlah berbeda. Untuk pertama kalinya setelah seratus tahun hidup ini, itu pertama kalinya diriku melihat ras seperti dirimu di bahtera.


 


 


Kamu tidak memiliki tanduk atau ekor seperti diriku.


 


 


Kamu juga tidak memiliki cakar, taring, gading, sisik, atau bahkan sayap layaknya ras lainnya. Hanya rambut hitam pada beberapa bagian, tampak seperti ras Tipe Mamalia yang botak.


 


 


Karena itulah kamu sangat memikat. Bukan hanya secara fisik, tetapi sifat dan cara pikir sebagai ras yang berbeda membuat dirimu pantas untuk dikagumi oleh semua orang.


 


 


Sekali lagi, tolong ingatlah wanita yang pernah menjadi istrimu ini. Dalam umur yang lebih panjang dari semua ras, tetaplah ingat kami yang pernah berdiri bersamamu.


 


 


Waktu yang pernah kita lalui bersama sangatlah berharga untukku. Lebih dari hasil penelitian yang kita dapat, atau bahkan kebenaran dari semua misteri yang ingin diriku kuak sejak kecil.


 


 


Suamiku, apakah kau mengingatnya? Tentang berbagai macam teori yang pernah kita bahas bersama, kebenaran dari bahtera kita, atau bahkan tentang kami semua …?


 


 


Diriku akan selalu mengingatnya sampai akhir.


 


 


Kamu memberitahu kami bahwa tempat yang kita sebut bahtera ini sebenarnya bukanlah planet. Namun, sebuah kapal induk raksasa yang berkelana di antara ribuan bintang dan galaksi.


 


 


Lalu, tentang 70% logam di tempat ini sebenarnya berasal puluhan planet yang pernah bahtera ini telan. Digunakan untuk material pembangunan, sedangkan inti-intinya yang bersuhu tinggi dipakai sebagai reaktor fusi nuklir penggerak bahtera ini.


 


 


Kamu juga berkata bahwa 20% bahtera ini terdiri dari organisme. Entah itu kami yang merupakan makhluk yang disebut Demi-human, atau bahkan miliaran mikro organisme mekanik di berbagai sudut yang selalu memperbaiki bahtera ini.


 


 


Karena itulah, kamu lebih suka menyebut ini sebagai kapal daripada sebuah planet. Sebab meski ukurannya sangat besar, tempat ini hanya memilki 10% tanah yang bisa ditanami tumbuhan.


 


 


Kami tidak paham mengapa tumbuhan perlu ada di bahtera ini. Namun, dalam catatan kuno leluhur kami memerlukan makhluk hidup pasif tersebut untuk makan.


 


 


Bahkan, kemampuan fotosintesis generasi kami dikatakan merupakan hasil evolusi yang berbasis dari kemampuan para tumbuhan. Untuk bertahan hidup dalam perjalanan panjang, kita perlu mengamankan metode konsumsi.


 


 


Layaknya tubuh satu organisme, kita bagaikan susunan sel dan organ yang ada hanya untuk menjalankan bahtera ini. Untuk keberlangsungan bahtera, demi semua makhluk yang menjaga dan menggerakkannya.


 


 


Rahasia yang masih tertutup, perlahan dan dengan pasti semua terbongkar sejak kamu mulai melangkah. Sampai-sampai membuat kami takut ⸻ Merasa tidak nyaman karena tanpa sadar menginjak sesuatu yang menjadi pantangan sejak dahulu kala.


 


 


Namun, anehnya kami tidak bisa berhenti. Seakan-akan sedang membimbing kami menuju sesuatu, kamu terus mengulurkan tangan dan menawarkan berbagai macam pengetahuan yang tidak bisa ditolak oleh semua orang.


 


 


Kamu pernah berkata bahwa dulu kami tidaklah seperti ini. Ada waktu ketika leluhur tidak bisa berdiri dengan dua kaki, lalu hanya merangkak di permukaan dan bahkan tidak memiliki kecerdasan yang memadai.


 


 


Persisi seperti arsip-arsip kuno, kamu menjelaskan semuanya dengan cara yang paling masuk akal. Seakan-akan kamulah yang membuat itu terjadi, menciptakan para leluhur dan membuat mereka belajar seperti sampai sekarang.


 


 


Memberikan akal kepada semua makhluk di dalam bahtera ini.


 


 


Lalu layaknya memahami rasa takut kami, kamu pun mulai berhenti mengajarkan hal-hal baru secara terbuka. Hanya memberitahu kepada orang-orang yang sudah siap, lalu menuntun mereka tanpa paksaan. Sampai pada akhirnya hanya ada beberapa saja yang tersisa.


 


 


 


 


Namun, kamu juga berkata bahwa semua itu memiliki batasan dan usia yang sangat pendek. Karena itulah kita selalu berkelana, untuk menghindari kehancuran dari menetap di satu tempat.


 


 


Berlayar melalui aliran gugusan bintang, layaknya sebuah bahtera kehidupan dari peradaban berusia ribuan tahun ini.


 


 


Jujur, diriku sendiri tidak terlalu paham apa itu bahtera. Dalam arsip kuno, bahtera juga disebut sebagai perahu ⸻ Sebuah alat transportasi untuk mengangkut semua orang di lautan samudera.


 


 


Laut itu apa? Samudera itu seperti apa? Apa itu seperti angkasa ini?


 


 


Ketika diriku bertanya seperti itu, kamu hanya tersenyum kecil. Seakan-akan sudah paham bahwa kami tidak akan pernah melihat hal tersebut sampai akhir hayat.


 


 


Tentu diriku tahu itu bukan untuk menertawakan, melainkan hanya tersenyum miris dengan ketentuan yang ada.


 


 


Suamiku, istrimu ini akan selalu mengingat ajaranmu sampai akhir. Sebagai wanita yang paling dekat denganmu, diriku ini selalu berusaha memahami kamu.


 


 


Korwa, itulah nama istrimu ….


 


 


Memiliki arti Selesai, sebuah akhir dari suatu proses.


 


 


Diriku ini tidak tahu mengapa nama tersebut diberikan kepadaku. Namun, hal tersebut pasti memiliki makna tersendiri.


 


 


Karena itu, tolong ingatlah istrimu ini. Tidak ada yang lebih menakutkan dari dilupakan olehmu.


 


 


Dari awal makna memang tidak berarti untukmu. Sejak pertama kali bertemu, kamu selalu suka mencari jawaban daripada sebuah makna di balik tindakan.


 


 


Terus maju, tanpa melihat ke belakang. Itulah sifat kamu yang sesungguhnya.


 


 


Tidak pernah mempertanyakan makna yang ada di dalam waktu yang kita lalui bersama.


 


 


Meski begitu, anehnya kamu selalu bertanya tentang alasan yang istrimu ini miliki.


 


 


Mengapa wanita ini mencintaimu …? Lalu, untuk apa diriku tetap mendampingi meski sudah tahu siapa dirimu yang sebenarnya?


 


 


Layaknya anak kecil yang ketakutan, kamu berkali-kali mempertanyakan hal tersebut. Mungkin ini terdengar kejam. Tetapi, jujur diriku suka saat kamu memasang wajah cemas saat menanyakan hal tersebut.


 


 


Karena terlalu memalukan, sampai akhir diriku tidak pernah menjawab dengan jelas. Untuk mengatakan bahwa diriku sangat mencintaimu, istrimu ini tidak sanggup mengatakannya secara langsung.


 


 


Bukan hanya karena malu. Namun, diriku merasa tidak pantas. Wanita yang bahkan tidak bisa memahami kamu secara utuh tidak berhak berkata seperti itu.


 


 


Suamiku, kamu sangatlah berbeda dengan kami.


 


 

__ADS_1


Ini … sungguh sangat menyakitkan. Bahkan untukku sendiri, ini sangat menyedihkan karena sampai akhir tidak bisa melewati batas perbedaan tersebut.


 


 


Kesepian selalu menyelimuti. Meski diriku berada di samping kamu, rasa tersebut selalu terpancar dari tatapan sayu milikmu. Diriku sampai detik ini pun tidak bisa memahami hal tersebut.


 


 


Mengapa kamu selalu kesepian?


 


 


Mengapa kamu berbeda?


 


 


Lalu, mengapa kamu tampak selalu ingin pergi ke tempat yang sangat jauh?


 


 


Ada kalanya wanita ini ingin menanyakan semua itu secara langsung. Tetapi, rasa takut pada akhirnya membuat diriku bungkam. Sebagai seorang istri, itu terlalu berat bagiku untuk menanyakan hal tersebut.


 


 


Tetapi, ada satu hal yang diriku pahami dari kesepian yang selalu kamu pendam.


 


 


Kamu merasa asing di tempat ini, bukan? Karena tidak ada yang bisa mengenal siapa dirimu yang sebenarnya, kamu merasa seperti bukan berada di rumah.


 


 


Diriku … dulu pernah merasakan hal tersebut. Sebelum bertemu kamu, rasa itu selalu menyelimuti.


 


 


Karena itu, suamiku …, diriku sebenarnya ingin menjadikan bahtera ini sebagai rumah kamu. Menjadi tempat kamu kembali nanti setelah pergi ke tempat yang jauh.


 


 


Meski diriku kelak sudah tidak ada, namun paling tidak istrimu ini akan terus hidup sebagai kenangan. Untukmu yang berumur panjang, bahkan mendekati kata abadi.


 


 


Bohong⸻


 


 


Itu … bohong.


 


 


Diriku ingin selalu bersamamu! Meski harus membuang semuanya! Mengorbankan segalanya! Sebagai seorang istri, sudah sewajarnya wanita ini ingin selalu bersama suaminya!


 


 


Kumohon, suamiku ….


 


 


Di masa depan, diriku harap kita bisa bertemu lagi. Ini terlalu menyakitkan membiarkan kamu sendirian.


 


 


Tidak, itu salah ….


 


 


Kelak kamu pasti akan bertemu dengan banyak orang. Mendapat sahabat, rekan, dan keluarga baru. Diriku hanya cemburu dengan hal seperti itu ….


 


 


Mungkin … kelak kamu pasti akan jatuh cinta kepada wanita lain, lebih dari dirimu mencintai istrimu ini.


 


 


Diriku … akan berusaha merelakannya. Namun, sekali lagi diriku mohon.


 


 


Tolong jangan lupakan istrimu ini. Layaknya diriku yang bersumpah untuk selalu mempercayai kamu dan setia sampai akhir, kumohon ingatlah terus diriku.


 


 


Suamiku, diriku juga memahaminya. Di dunia ini tidak ada obat untuk kesepian, untuk mengobatinya kamu butuh orang lain.


 


 


Lalu, perjalanan seorang pengembara seperti kita tidaklah berujung. Ketika menemukan ujung, itu adalah kehancuran bagi semua yang ada di dalam bahtera ini.


 


 


Suamiku, diriku tidak menyesali akhir ini.


 


 


Keputusan yang kami ambil ini bukan karena terpaksa, melainkan karena harapan untuk hari esok. Meski harus menjadi abu, kita akan pergi ke tempat yang kamu sebut kampung halaman.


 


 


Perjalanan bahtera kita memang berakhir di sini. Namun, lembar lain perjalananmu baru saja dibuka. Meski menyakitkan, kami selalu berharap kamu bisa menghadapinya dan tertawa di akhir.


 


 


Melangkah terus ke depan! Layaknya kamu menunjukkan fajar kepada kita semua! Kelak fajar milikmu akan datang setelah malam panjang!


 


 


Diriku yakin akan banyak orang yang akan menyambut kamu di lembar baru tersebut, sampai-sampai membuat istrimu ini merasa iri.


 


 


Tolong buat wanita ini menyesal karena telah melepaskan kamu ….


 


 


Tertawalah, berbahagialah bersama orang-orang baru yang akan kamu temui.


 


 


Bahtera kita sudah karam, perjalanan ini sudah berakhir. Ini saatnya kamu menginjakkan kaki di tanah hijau itu untuk lembar baru.


 


 


Suamiku ….


 


 


Bukan⸻ aeahfiu cei0j mpaej!!


 


 


Diriku tidak bisa memahami kamu! Meski bisa merasakan apa yang kamu rasakan, istrimu ini tak bisa memahami hal tersebut ….


 


 


Diriku tidak bisa memberikan jawaban untukmu tentang dunia ini!


 


 


Namun, tolong ingatlah hal ini. Diriku adalah istrimu, sosok yang akan selalu berada di pihak kamu. Selalu menjadi sekutu apapun situasinya.


 


 


Dari pertama kali kita bertemu, sekarang, bahkan kelak sampai nanti. Meski tubuh ini menjadi abu, jiwa ini akan selalu mengingat kehangatan yang kamu berikan.


 


 


Selamanya⸻


 


 


Meskipun istrimu ini memiliki nama Korwa.


 


 


Bukan⸻


 


 


Justru karena diriku bernama Korwa, sampai akhir istrimu ini akan selalu menemani.


 


 


ↈↈↈ


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2