
Kediaman Keluarga Baron Stein. Lampu-lampu kristal pada dinding berpijar dengan redup, seakan-akan mereka sengaja ingin membawakan kesan suram di dalam ruang tamu tersebut. Meski dekorasi yang menghiasi tempat mencerminkan kemegahan dan kemewahan, namun aura negatif lebih mendominasi. Begitu menakan dan canggung sampai-sampai semua orang di sana tidak bisa merasa nyaman.
Tidak lebih dari lima belas menit yang lalu, Ri’aima selesai memilihkan kamar untuk para tamu dan memberikan arahan kepada para pelayanan untuk mengantar orang-orang yang datang bersama Odo ke dalam.
Atas pembicaraan yang telah ia lakukan bersama Odo sebelum mengajaknya datang ke Kediaman Stein, Ri’aima pun tak lupa mengingatkan para pelayan yang bekerja di Mansion untuk memperlakukan orang-orang yang datang layaknya tamu kehormatan. Karena itulah, pelayan memperlakukan para tamu tersebut sebagaimana mestinya mereka memperlakukan tamu bangsawan.
Setelah selesai mengurus beberapa hal yang diperlukan untuk orang-orang Odo dan memberikan arahan tambahan kepada para pelayan Kediaman Stein, Ri’aima sendiri kembali ke ruang tamu depan di lobi untuk memulai pembicaraan penting yang dijanjikan.
Namun, Ri’aima seketika terdiam sebelum sampai ke tempat. Tepat setelah kembali ke ruang lobi, perempuan rambut biru pudar tersebut membisu saat melihat Odo Luke hanya duduk di sofa yang berseberangan dengan anggota dua Keluarga Stein lain. Ri’aima untuk sesaat menurunkan kedua alis dan memberikan tatapan datar ke arah mereka, lalu dalam benak bertanya-tanya mengapa sang Adik tampak lebih senyap dari biasanya.
“Mereka sama sekali tidak memulai pembicaraan?” benak perempuan rambut biru pudar tersebut. Dengan langkah kaki penuh rasa cemas, ia pun berjalan ke arah ruang tamu tempat Odo, Agathe, dan Baldwin berada. Saat sampai dan berdiri di dekat Putra Tunggal Keluarga Luke duduk, Ri’aima segera menoleh ke arah sang Adik sembari bertanya, “Tidak biasanya kamu diam seperti itu?”
“Tch!” Baldwin membunyikan lindah dengan cukup keras, lalu pemuda dengan perawakan kurus tersebut bersandar pada tempat duduk dan mulai menyangga kepala menggunakan tangan kanan. “Tidak juga, diriku hanya sedang malas bicara,” ujarnya tanpa menatap sang Kakak.
Itu cukup membuat Ri’aima heran. Setelah menghela napas kecil, perempuan rambut biru pudar tersebut pindah menatap ke arah Agathe. Melihat sang Ibu sama sekali tidak memperlihatkan reaksi meski Putra dari Penyihir Cahaya berada di hadapannya, mimik wajah Ri’aima sedikit berubah sedih dan kembali menghela napas ringan.
Perempuan rambut biru pudar tersebut pindah kembali menatap ke arah sang Adik, lalu sembari memasang senyum menggoda bertanya, “Apakah benar seperti itu, Baldwin? Bukannya kamu sedang merasa malu atas tindakanmu sebelumnya?”
Baldwin Stein tidak meladeni gurauan sang Kakak, pemuda dengan perawakan kurus tersebut hanya memalingkan pandangan ke sudut ruang dan sedikit melirik ke arah sang Ibu, Agathe Stein, yang duduk pada sofa yang sama dengannya.
Ri’aima merasa kalau Adiknya juga merasakan hal yang sama, berharap kalau Ibu mereka pulih dari kondisi tersebut setelah melihat Putra Tunggal Keluarga Luke. Paham tidak mendapatkan hal yang diharapkan, perempuan rambut biru itu hanya memasang wajah cemberut dan sesaat melamun.
Ia segera menggelengkan kepala dan paham tidak baik memikirkan hal lain sekarang. Sembari menoleh ke arah pemuda yang duduk di sebelahnya, Ri’aima memasang senyum palsu yang biasa digunakan oleh kalangan bangsawan.
Odo balik melempar senyum yang sama, mereka menatap satu sama lain tanpa satu kata pun keluar dari mulut. Setelah Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut sedikit menggeser posisi duduk dan mempersilahkan, Ri’aima pun baru duduk sembari merapikan roknya supaya tidak terlipat.
Odo tidak segera memulai pembicaraan, ia kembali menatap ke arah Agathe dengan rasa penasaran yang kuat. Tatapan yang tampak kosong, mimik wajah yang mencerminkan kehampaan perasaan, dan hanya terdiam dengan menutup bibir merah rapat-rapat tanpa sedikitpun niat ingin berbicara. Melihat semua itu dari Nyonya Rumah Kediaman Stein, bahkan orang selain Odo pasti akan merasa janggal dan paham kalau wanita tersebut mengalami gangguan mental.
Melihat tatapan tajam Odo yang terarah kepada Ibunya, Ri’aima paham bahwa Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut sudah mulai menyadari sesuatu. Mengerti tidak bisa mencegah hal tersebut terbongkar jika ingin menggandeng Odo ke pihaknya, perempuan rambut biru tersebut tidak berusaha mencegah.
Sembari merapikan rambut poni, Putri Sulung KeluargaStein itu menggelengkan kepala dengan ringan dan berusaha menyingkirkan rasa cemas. Ia segera memindah tatapan ke arah Baldwin dan bertanya, “Apa Xavier sudah kembali ke kamarnya?”
“Ya, dia sudah pergi ke kamar!” Baldwin merasa sedikit kesal dengan basa-basi yang dimulai sang Kakak. Pemuda dengan perakan kurus tersebut berhenti menyangga kepala, lalu sembari duduk tegak dan menatap tajam berkata, “Bukannya Ayunda sendiri yang menyuruhnya? Sudah! Mulai saja pembicaraan kalian! Diriku lelah menunggu!”
__ADS_1
“Kamu sendiri dari tadi hanya diam ….” Ri’aima memasang senyum tipis, lalu sembari merapikan rambut yang menutupi telinga ia kembali berkata, “Seperti biasa mulutmu kasar dan suka bicara seenaknya.”
Meski pembicaraan tidak penting antara kakak dan adik tersebut dimulai, Odo tetap belum memulai pembicaraan dan hanya menatap datar sang Nyonya Rumah. Tatapannya begitu tajam dan dalam, terasa dingin dan sedikit tersirat intimidasi di dalamnya. Dari ekspresi yang tampak saat dirinya menatap, pemuda rambut hitam itu seakan tidak menyukai Agathe.
“Tch!” Odo membunyikan lidah, lalu menoleh ke arah perempuan yang duduk di sebelahnya dan bertanya, “Nona Ri’aima …. Sebelum kita memulai pembicaraan, bolehkan aku bertanya sesuatu dulu?”
Ri’aima sedikit tersentak seakan dirinya tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut. Suasana hati yang sebelumnya diisi dengan rasa ingin bercanda dengan Adiknya seketika sirna, tubuh perempuan rambut biru tersebut mulai gemetar dan takut kalau orang dari keluarga bangsawan lain mengetahui lebih lanjut terkait kondisi Ibunya.
Tidak bisa menahan rasa takut yang ada, benak Ri’aima pun diisi rasa tidak percaya dan pada akhirnya berkata, “Ka-Kalau soal Ibunda, saya tidak bisa menjawabnya sekarang. Maafkan saya, Tuan Odo.”
Mendengar jawaban perempuan rambut biru tersebut, Odo sesaat memejamkan mata untuk sesaat dan tidak melanjutkan pertanyaan. Sebagai anak yang juga memiliki seorang ibu dengan kondisi khusus, Odo paham bahwa hal seperti itu sangatlah sensitif dan akan sangat tidak menyenangkan jika orang lain mengusiknya.
“Baiklah, kalau begitu mari kita langsung mulai pembicaraannya.”
Odo berhenti menatap lawan bicaranya, lalu mulai mendongak ke atas dan melihat langit-langit kubah dengan hiasan lukisan yang seakan menceritakan sebuah pertempuran. Menyandarkan tubuh ke sofa untuk sedikit rileks dengan pembicaraan, ia pun sejenak memejamkan mata dan membisu.
Setelah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, Odo langsung memulai pembicaraan dengan pertanyaan, “Sejauh yang aku tahu tentang kondisi kota, sekarang ini pemerintah Rockfield terbagi menjadi dua kubu, bukan? Antara pejabat lama dan pejabat baru.”
“Rupanya Anda sudah tahu itu, ya?” Ri’aima segera menoleh ke arah pemuda di sebelahnya, mencondongkan tubuh mendekat dan kembali memastikan, “Apa Anda mendengarnya dari penjaga gerbang atau Pendeta di gereja tadi?”
“Itu memang sudah terjadi sejak tahun lalu. Namun, tidak saya menyangka ternyata banyak yang membicarakan hal tersebut.”
Ri’aima dengan cepat berubah murung mendengar hal tersebut, ia menundukkan kepala dengan muram dan tidak memberikan pendapat atas perkataan Odo. Dalam benak Putri Sulung Keluarga Stein itu, rasa bersalah perlahan menguasai dan mulai menganggap dirinya sendiri tidak layak untuk mengurus Kota Rockfield.
Melihat reaksi Ri’aima yang tampak imut di matanya, Odo sedikit tersenyum tipis dan merasa kalau dorongan kecil tersebut sudah cukup untuk membuat Putri Sulung Keluarga Stein tersebut jatuh. Apa yang dikatakan Odo sebelumnya hanya sebatas spekulasi, dirinya tidak benar-benar mendengar kabar itu dari penduduk kota. Ia mengucapkan hal tersebut di hadapan Ri’aima hanya untuk membuat perempuan itu merasa bersalah, lalu melemahkan pemikiran rasional untuk sementara selama pembicaraan.
“Begitu, ya. Kurang lebih aku paham kondisi Keluarga Stein sekarang,” ujar Odo sembari memalingkan pandangan ke sudut ruangan. Ia sedikit menghela napas, lalu dengan nada seakan tidak peduli kembali berkata, “Jelas saja dari tadi Kepala Keluarga Stein tidak terlihat …. Apa mungkin terjadi sesuatu padanya? Contohnya …. Ya! Seperti beliau terkontaminasi sisa-sisa kabut hitam dari Raja Iblis Kuno?”
“Itu⸻!” Ri’aima dengan cepat mengangkat wajah dan menatap pucat, ia seketika kehabisan kata-kata dan tidak bisa membuat alasan untuk menyembunyikan hal tersebut.
Hanya terdiam tanpa bisa segera membantah, Putri Sulung Keluarga Stein tersebut kembali menundukkan kepala dan mulai gemetar tanpa bisa memberikan kalimat untuk menyanggah.
Ia sekilas menatap tajam ke arah Baldwin dan mengira kalau adiknya tersebut yang telah memberitahu Odo soal masalah itu. Namun saat sang Adik menggelengkan kepala dengan ekspresi yang sama-sama terkejut, Ri’aima baru mengira kalau perkataan Putra Tunggal Keluarga Luke hanyalah sebuah spekulasi semata.
“Tenanglah, diriku …. Ada kemungkinan Tuan Odo masih belum tahu,” benak Ri’aima sembari mengangkat wajah, lalu kembali menatap pemuda di sebelahnya.
__ADS_1
“Nona Ri’aima tidak perlu takut sampai pucat seperti itu, saya tidak akan memberitahukan kondisi Tuan Oma kepada orang lain. Saya datang ke sini untuk menjalin hubungan yang damai, bukan untuk mengancam.”
Perkataan tersebut seakan sebuah sekakmat dalam pembicaraan yang bahkan baru saja dimulai. Dengan dipastikan bawah pemuda rambut hitam itu tahu tentang kondisi Kepala Keluarga Stein, itu sudah cukup untuk membuat Ri’aima kehilangan kesempatan untuk membuat hubungan kerja sama yang setara.
“Kenapa bisa …. Anda tahu hal tersebut?” tanya Ri’aima gemetar.
Odo menghela napas ringan saat menyadari Ri’aima benar-benar cemas. Sembari memalingkan pandangan, pemuda rambut hitam tersebut tidak segera menjawab pertanyaan dan malah terdiam. Mempertimbangkan perasaan Putri Sulung Keluarga Stein itu, Odo sendiri paham bahwa terus menekan tidaklah menguntungkan dalam pembicaraan.
Di dalam keluarga bangsawan, mempertahankan nama baik dan kapabilitas terhadap kewajiban yang ada sangatlah penting. Pada kondisi dimana Kepala Keluarga dan Istrinya tidak bisa melaksanakan kewajiban sebagai Keluarga Bangsawan yang memimpin sebuah kota, Ri’aima sebagai anak tertua memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kewajiban tersebut.
Karena itulah, menjaga nama baik keluarga sampai kedua orang tuanya pulih menjadi prioritas tertinggi perempuan rambut biru pudar tersebut.
“Aku merasa kau mirip dengan Lisia, hanya itu.”
“Lisia?”
“Hmm, Lisiathus Mylta ….” Odo menatap perempuan di sebelahnya dengan lembut, lalu sembari memasang senyum ramah kembali berkata, “Putri Tunggal Keluarga Mylta itu juga pernah berada di kondisi yang sama seperti kau, harus menggantikan peran orang tua dan terjun ke dunia para bangsawan yang menyusahkan.”
“Anda … dekat dengan Nona Mylta?” tanya Ri’aima memastikan. Perempuan rambut biru pudar tersebut meletakkan telapak tangan ke depan dada, lalu benar-benar menatap mata lawan bicaranya dengan sedikit rasa berharap. Sembari menajamkan sorot mata Ri’aima pun kembali bertanya, “Apakah Anda … datang ke kemari juga ada kaitannya dengan Nona Mylta?”
“Kau memiliki insting yang tajam ….” Odo bertepuk tangan satu kali, lalu sembari melebarkan senyuman menjawab, “Alasan ku datang ke sini memang ada kaitannya dengan perempuan itu. Namun, untuk beberapa alasan mungkin akan berubah.”
“Berubah?” tanya Ri’aima bingung.
“Ya, akan berubah ….” Odo sesaat mengangkat kedua sisi pundak, lalu memasang mimik wajah sedikit resah dan menambahkan, “Seperti yang telah Nona tahu, kondisi di sini tidak memungkinkan untuk menjalin kerja sama. Karena itulah, aku ingin terlebih dahulu menyelesaikan masalah kalian. Sebelum memenuhi kepentinganku di sini.”
Ri’aima hanya menatap bingung setelah mendengar hal tersebut. Ia memang sudah paham bahwa Odo memiliki hubungan yang baik dengan Lisiathus Mylta, namun itu bukan berarti pemuda itu juga memiliki niat yang sama dengan Keluarga Stein.
Setelah tindakan yang diambil oleh Kepala Keluarga Stein saat Pesta Pertunangan di Kediaman Luke, Ri’aima sendiri paham bahwa akan sangat terlihat tidak tahu diri jika dirinya meminta Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut untuk menyelesaikan masalah yang ada di Rockfield.
“Maaf, Tuan Odo ….” Ri’aima menggelengkan kepala, lalu dengan penuh berat hati perempuan rambut biru pudar tersebut menyampaikan, “Saya tidak bisa membiarkan Anda menyelesaikan masalah Keluarga Stein. Ini adalah masalah kami …, dan kami sendirilah yang harus menyelesaikan hal tersebut.”
“Kalau memang seperti itu ….” Odo memasang mimik wajah serius, lalu mulai memberikan tatapan tajam kepada lawan bicaranya dan mendekatkan wajah. “Kenapa kau membawa ku ke sini, Nona Ri’aima? Bukankah kau dari awal ingin menggunakan diriku untuk negosiasi dengan para pejabat baru itu, bukan?” tanyanya dengan nada menekan.
Perkataan tersebut benar-benar sebuah langkah yang kuat dalam pembicaraan, membuat Ri’aima tidak bisa langsung membalas dan terdiam dengan tatapan yang mulai berpaling. Bersamaan dengan tubuh dan suaranya yang mulai gemetar, perempuan rambut biru pudar tersebut pun berusaha membantah, “I-Itu tidak benar, saya mengundang Anda karena rasa hormat terhadap Keluarga Luke. Ba-Bagaimana bisa saya berani melakukan hal tersebut ….”
__ADS_1