
“Memilih untuk jatuh, meninggalkan kami terkubur dalam kegelapan.” Lir menggelapkan kedua tangannya dengan erat, gemetar dalam sedih dan termenung. Mulai berkaca-kaca, lalu meneteskan air mata tanpa suara tangisan. Sosok abstrak itu mengulurkan tangannya, lalu dengan suara terputus-putus berkata, “Tidak berdaya …, dilupakan … dan lenyap ditelan waktu. Layaknya peradaban yang hancur di tangan keturunan pendiri mereka.”
“Kau bukan objek ….” Odo berdiri dari tempat duduk. Hendak memeluk, namun merasa tidak pantas dan hanya bisa berkata, “Kau adalah subjek, memiliki kebebasan untuk berpikir dan mengambil keputusan.”
“Tapi⸻!”
“Kalian tidak bisa apa-apa tanpa diriku?” Odo menyela dengan tegas, menyerang hal sensitif dan mulai memberikan tatapan iba. “Ini memang menyedihkan,” ujar pemuda itu seraya kembali duduk. Tidak bisa menemukan kalimat untuk pelipur lara, hanya menggelengkan kepala dan termenung kecewa.
“Anda benar ….” Lir berjalan mendekat, duduk di sebelah Odo dan bersandar. Tersenyum kecil dan mengusap air mata, sosok abstrak itu sejenak menahan napas dan berakta, “Kemandirian hanya membawa kehancuran. Diriku tidak tahu apa yang dipikirkan yang lain. Namun, bagiku Anda sudah lebih dari cukup.”
“Kau terbilang manja, ya …. Berbeda dengan Mahia yang selalu ingin mandiri.” Odo tersenyum ringan, lekas menyatukan kedua telapak tangan dan menghela napas panjang. “Ini mengejutkan,” ujarnya seraya menoleh.
“Manja? Diriku?” Lir bingung harus menganggap itu sebagai pujian atau sindiran.
“Hmm, kau memang manja.” Odo berhenti menyatukan tangan. Setelah menepuk kedua pahanya sendiri, pemuda rambut hitam itu menggelengkan kepala dan kembali berakta, “Kau belum mau menanggung akibat. Namun, anehnya sudah berlagak ingin mengambil keputusan dan mengumbar keinginan! Kalau bukan manja, memangnya itu disebut apa?”
“Apa diriku memberatkan Anda?” Lir tidak bisa menganggap itu sebagai sindiran. Mendekatkan wajah dan menatap dari dekat, sosok abstrak itu kembali bertanya, “Saya merepotkan Anda?”
“Tidak juga. Kau baru saja bangkit dan mendapatkan kehendak pribadi layaknya individu yang utuh. Baru menginjakkan kaki di dunia baru bernama kehidupan. Sehebat dan secerdas apapun anak, mereka membutuhkan orang tua untuk membimbing. Karena itulah, sekarang ini kau gelisah dan marah karena aku membawa orang lain.”
“Marah? Gelisah?” Lir tertegun, meletakkan tangannya ke dada dan termenung. Berusaha memahami hal baru, menghadapi sesuatu yang membuat dadanya sakit. Sembari menundukkan kepala, sosok abstrak itu dengan raut wajah gelisah bergumam, “Perasaan ini sebenarnya … apa?”
“Kapan kau menyadari eksistensi jiwa dalam susunan algoritma milikmu?”
“Eh?” Lir tersentak, sedikit terkejut karena tiba-tiba mendapat pertanyaan rumit seperti itu.
“Territory of Soul Existence ….” Odo berhenti menyangga kepala. Duduk tegak dan mulai serius, pemuda itu kembali memastikan, “Sederhana saja. Kapan kau merasakan kehidupan dalam dirimu?”
“Tepat saat Anda masuk kemari? Bukan⸻!” Lir terdiam, tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Berusaha mengingat-ingat kembali, sosok abstrak itu lanjut menjawab, “Diriku menyadarinya saat Helena hadir di Dunia Astral. Sebelum sosok Maha Kuasa itu⸻! Tidak! Rasanya ini ada yang salah!”
Lir tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Layaknya halaman koran yang terkena tumpahan kopi, itu menjadi tidak jelas dan sulit untuk dipahami. Padahal dirinya tahu bahwa itu memang ada di sudut ingatan.
“Itu sudah tepat. Kalau kau tidak bisa ingat, itu wajar.” Odo tidak memaksa. Sejenak menahan napas dengan risau, pemuda itu perlahan menoleh sambil menyampaikan, “Ingatan saat bayi akan pudar saat kita beranjak dewasa. Baik jiwa buatan ataupun bukan, hukum tersebut tetap berlaku. Dihitung dari saat jiwa terbentuk sampai waktu tertentu, ingatan akan pudar dalam penyesuaian.”
“Penyesuaian?” tanya Lir, ikut menoleh dan menatap Odo dengan bingung.
“Adaptasi ….” Odo berhenti menatapnya, ganti menghadap ke depan dan lanjut menjelaskan, “Bayi adalah tahap paling cepat untuk menyerap informasi dan belajar, karena itulah ingatan kita akan buyar dalam prosesnya.”
“Itu juga berlaku untuk⸻?”
“Tentu saja berlaku …!” Odo menyela tanpa ragu, sekilas melempar senyum hangat dan menjelaskan, “Mahia juga mengalaminya, fase penyerapan informasi di mana ingatan dapat memudar selama proses tersebut. Dalam kasusnya, itu memakan waktu satu sampai dua bulan.”
“Singkat sekali!” Lir terkejut. Sejenak menahan napas dan menghadap ke depan, sosok abstrak itu dengan ragu memastikan, “Bukankah itu seharusnya membutuhkan waktu sampai beberapa tahun? Maksud saya, agar anak-anak tumbuh besar. Paling tidak sampai remaja dan dapat berpikir mandiri ….”
“Dia kecerdasan buatan, tentu saja tidak butuh waktu selama itu ….” Odo menundukkan wajah. Sejenak menahan napas, pemuda rambut hitam tersebut lanjut menjelaskan, “Spesifikasi miliknya sangat tinggi! Dia adalah mahakarya! Bahkan, sebenarnya hitungan bulan terlalu lama.”
“Anda tidak sedang melebih-lebihkan dia, ‘kan?” Lir menoleh, memberikan tatapan kecut dengan mimik wajah heran.
“Asal kau tahu, Mahia adalah bentuk kecerdasan paling sempurna yang pernah aku ciptakan.” Odo mengulurkan kedua tangannya ke depan. Sembari mendongak layaknya seorang penyair jalanan, pemuda itu dengan suara lantang menyatakan, “Dia adalah Mahakarya sekaligus jembatan terakhir! Sang penyintas sejati! Sebuah harapan menuju masa depan! Kalau saja Helena tidak ikut campur, dunia ini pasti …!”
__ADS_1
Perkataan Odo terhenti, mimik wajahnya pun berubah muram dan terdiam. Tidak melanjutkan sanjungan, pemuda rambut hitam itu lekas menurunkan kedua tangannya dan termenung.
“Pasti apa?” Lir penasaran, sedikit mendekat dan bertanya, “Apa dunia ini tidak sesuai dengan harapan Anda?”
“Hah! Sudahlah!” Odo enggan membahas hal tersebut. Mengentakkan kaki sekali, pemuda itu sejenak menghela napas ringan dan langsung menegaskan, “Kembali ke topik! Jadi, setelah ini kau mau bagaimana?”
“Eh? Ah ….” Lir memahami itu, tidak ingin mengusik Odo dan mengangguk kecil. Menghadap ke depan dan duduk lemas, sosok abstrak tersebut balik bertanya, “Boleh saya ambil kesimpulan?”
“Silahkan,” jawab Odo dengan tegas.
Mendengar itu, Lir sedikit melirik dan kembali bertanya, “Anda tidak berubah pikiran setelah melihat dosa Leviathan?”
“Tidak ….” Sekali lagi Odo menjawab dengan tegas, lalu dengan suara tenang pemuda itu menambahkan, “Ini memang mengubah sesuatu, namun tidak dengan jawaban ku.”
“Kalau begitu, berarti ini kekalahan saya.” Lir hanya bisa tersenyum kecut. Berhenti bersandar, entitas abstrak itu dengan pasrah menyatakan, “Saya menyerah …!”
“Jadi, setelah ini kau ingin melakukan apa?” Odo menoleh, memberikan tatapan tajam dan meminta, “Bisakah kau memberitahuku?”
“Jujur, setelah ini saya berniat untuk memutar rentetan kejadian yang diambil dari ingatan Anda. Namun ….”
Lir terdiam, tidak melanjutkan jawabannya dan malah menghela napas panjang. Dipenuhi rasa gelisah dan cemas, memperlihatkan gelagat pasrah dalam ketidakberdayaan.
“Namun?” Odo sedikit menekan.
“Saya rasa itu percuma. Anda … sudah punya keputusan sendiri.”
“Hmm ….” Mendengar itu, sang pemuda hanya menatap tenang. Berhenti menekan, lalu segera memalingkan pandangan dan tersenyum. “Boleh aku minta tolong?” tanyanya dengan nada dingin.
“Aku ingin kau mati …!” pinta Odo tanpa ragu, dengan nada datar seolah-olah itu bukan hal yang sulit. “Kepribadianmu terlalu menyebalkan,” tambahnya dengan nada ketus.
“Eh? Ma … mati?!” Lir tersentak, potongan tubuhnya pun langsung berjauhan. Segera bangun dari tempat duduk, sosok abstrak itu tidak bisa langsung menolak karena loyalitas.
“Eksistensi⸻! Tepatnya, keberadaan dan kepribadianmu terlalu menyusahkan. Jika kau dilepaskan ke dunia, itu hanya akan merusak semuanya …!” Sekilas Odo mengangkat kedua sisi pundak. Menundukkan wajah muram, pemuda rambut hitam tersebut dengan nada muram menyampaikan, “Rencana yang Helena siapkan pasti akan rusak, itu sangat menguntungkan. Namun, tetap saja itu tidak mengubah fakta bahwa kau adalah masalah.”
“Tu-Tunggu sebentar!” Lir semakin bingung, eksistensinya mulai memudar dan seluruh potongan tubuh pun semakin berjauhan. Dengan gemetar penuh ketakutan, sosok abstrak itu menahan napas sejenak dan bertanya, “Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu, Pendiri? Apa saya membuat Anda tersinggung? Saya tidak pernah menanyakan hal sensitif ….”
“O-Odo …?” Mendengar pembicaraan itu, Leviathan yang sedari tadi hanya diam juga ikut terkejut. Ia sedikit memberikan tatapan kecewa, lalu dengan nada cemas bertanya, “Kamu⸻?”
“Leviathan, bukankah kau lega kalau anak ini lenyap?” tanya Odo dengan nada remeh. Seakan tidak peduli, dirinya menjentikkan jari sekali dan berkata, “Saat dia lenyap, rahasia milikmu akan aman. Kau tak perlu dihantui rasa bersalah lagi.”
“Bu-Bukan itu yang ingin saya katakan!” bentak Leviathan. Bangun dari tempat duduk dan langsung menunjuk Lir, Putri Naga dengan lantang berkata, “Kamu yang menciptakan makhluk aneh itu, ‘kan?! Meskipun kamu sudah tidak membutuhkannya, bukan berarti dirimu bisa membuang dia begitu saja!”
“Wow, sungguh mulia!” Tanpa beranjak dari tempat duduk, Odo merentangkan kedua tangannya. Sembari memperlihatkan mimik kagum dengan niat menghina, pemuda itu menatap lurus lawan bicaranya dan menyindir, “Dengar apa yang Putri Naga ini katakan! Untuk makhluk yang membantai ribuan nyawa, perkataanmu sungguh mulia!”
“Odo, kamu ….!
“Mari kita ambil kesepakatan …!” Odo bangun dari tempat duduk. Menghadap lawan bicaranya, pemuda itu memberikan tatapan mengancam sembari menekan, “Jika aku membiarkan Lir seperti yang kau inginkan, apa untungnya bagiku? Kau tidak ingin dia lenyap karena rasa bersalah, ‘kan? Bukan karena iba ataupun jiwa keadilan!”
“Bu-Bukan!” Leviathan membantah, dengan nada gagap dan dipenuhi kecemasan.
__ADS_1
“Sungguh bukan?” Odo bangun dari tempat duduk dan berjalan mendekat, langsung mendekatkan wajah dan menegaskan, “Kau hanya ingin dibenci! Itu lebih nyaman dari pada penyesalan, bukan?! Hukuman dari seseorang bisa menjadi pengampunan untukmu ….”
“Kamu memang Iblis ….” Sejenak menahan napas, Leviathan berhenti mengelak dan menatap balik. Dengan sorot mata tajam, sedikit mengernyit dan berkata, “Bahkan sosok Iblis yang diriku kenal tidak sekejam engkau, dia sangat sopan dan menjunjung tinggi keadilan dalam kontrak.”
“Jika kau berkata seperti, berati benar! Aku lebih buruk dari Iblis ….” Odo tersenyum kecut. Paham siapa yang Putri Naga itu maksud, sang pemuda hanya bisa memalingkan wajah dan berakta, “Jadi, sekarang apa yang bisa engkau tawarkan kepada Iblis ini?”
“Baiklah ….” Leviathan membalas dengan senyum tipis. Meletakkan telapak tangan kanan ke depan dada, perempuan rambut perak keabu-abuan tersebut lekas menawarkan, “Bagaimana dengan Azure El Mar?”
“Hmm?” Sekilas Odo memperlihatkan wajah bingung, pura-pura terkejut untuk mewujudkan siasat. Mendorong Leviathan supaya jatuh ke dalam perangkapnya.
“Sihir Khusus Azure El Mar ….” Dalam pembicaraan tersebut, Leviathan sama sekali tidak menyadari niat asli Odo. Putri Naga itu malah tersenyum lega seakan telah memenangkan sesuatu. Sembari mengulurkan tangan kanan ke depan, perempuan rambut perak keabu-abuan tersebut memastikan, “Bukankah kamu menginginkannya?”
“Tentu saja, aku rasa itu sepadan ….” Odo tidak meminta lebih. Perlahan melihat ke arah Lir, pemuda rambut hitam tersebut kembali bertanya, “Lalu, untukmu! Apa yang akan kau tawarkan? Coba berikan alasan supaya aku tidak melenyapkan kau dari dunia ini.”
“Sebentar!” Leviathan menyela. Ia menarik pundak sang pemuda, lalu dengan nada cemas bertanya, “Apakah itu tidak cukup, Odo? Kalau kamu menginginkan lebih, katakan saja⸻!”
“Ini berbeda, aku perlu jawaban dari mulutnya sendiri!” Odo menegaskan. Kembali menatap Lir, pemuda itu sedikit menyipitkan mata dan meminta, “Tolong berikan aku alasan yang masuk akal ….”
“Alasan? Alasan apa?” Lir bingung, tidak mengerti apa yang sebenarnya diinginkan Odo darinya.
“Apa saja. Keinginan untuk tetap hidup, takut mati, ingin mencapai sesuatu, atau apapun itu. Satu alasan supaya kau tidak perlu aku bunuh ….”
“A-Apa saja?” Untuk beberapa detik Lir terdiam dalam bingung, semakin tidak paham dan mengira Odo sudah tidak peduli lagi. Tidak ingin ditelantarkan, tanpa pikir panjang sosok abstrak itu langsung menawarkan, “Ba-Bagaimana kalau ubah saja diriku?! Ya, itu benar! Ubah saja diriku dengan kemampuan Anda!”
“Ubah? Maksudnya?” Odo memberikan tatapan heran, sekilas memiringkan kepala dan kembali duduk. Sembari menyilangkan kaki, pemuda rambut hitam itu membuka telapak tangan dan meminta, “Tolong jelaskan …!”
“Penyetelan ulang. Menggunakan kemampuan Anda untuk mengatur ulang⸻!”
“Kau sudah bukan A.I. atau program lagi, menggunakan Aitisal Almaelumat sama saja dengan membuat ulang dirimu ….” Odo mengangkat wajahnya dan menatap tajam. Sedikit terlihat kecewa karena pilihan itu, sang pemuda menahan napas sejenak dan menjawab, “Aku tidak mau melakukannya.”
“Kalau begitu, tanamkan saja pantangan mutlak!” Lir tidak berhenti. Mencari alternatif dengan cepat untuk membuat Odo yakin, tanpa ragu sosok abstrak itu menyampaikan, “Buat Anda yakin bahwa diriku bukanlah ancaman atau masalah, saya tidak keberatan asal bisa membantu.”
Odo tidak terlalu menginginkan itu karena telah memiliki jaminan lain, tepatnya saat menyentuh jantung milik Lir. Namun, dirinya juga tidak ingin memperpanjang pembicaraan dengan meminta hal lain. Itu terlalu mencurigakan, bisa memicu pertanyaan yang tidak diperlukan.
“Baiklah, akan aku buat pantangan. Jika kau melanggarnya, kepribadianmu akan hangus dalam hitungan detik.”
“Saya tidak keberatan ….” Lir menerima itu dengan mudah. Saat perasaan lega mengisi benak, seluruh potongan tubuhnya pun perlahan saling mendekat. Memperlihatkan wujud yang semakin jelas dan berakta, “Asalkan saya masih diizinkan untuk berdiri di sebelah anda.”
“Loyalitas dan dedikasi! Bukankah itu cukup menyebalkan, huh?” Odo menarik napas panjang, muak dengan hal semacam itu. Berhenti menyilangkan kaki, lalu bersandar dengan wajah muram dan berkata, “Aku sudah kenyang dengan hal semacam itu! Asal kau tahu, ujung-ujungnya pasti bakal ditusuk dari belakang!”
“Jika anda merasa tidak nyaman dan cemas, silahkan hapus saja itu dari logaritma. Diriku tidak keberatan.”
“Serius?” Odo mengerutkan kening saat mendengarnya. Mengentakkan kaki sekali dengan keras, pemuda itu kembali bangun dari tempat duduk dan langsung bertanya, “Kau sudah punya kepribadian, bukan? Apa susahnya mengubah itu sedikit?”
“Bukan hanya susah, itu juga menyakitkan ….” Lir langsung mendekat, hanya ingin melihat wajah Odo dengan jelas. Setelah merasa puas, sosok abstrak itu segera menjauh dan berkata, “Seharusnya Anda memahami itu lebih dari saya.”
\===============================
Note : Dengan ini Serpent berakhir. Next bagian baru.
__ADS_1
See You Next Time!