Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[81] When they don't want to pass a path full of puddles (Part 01)


__ADS_3

 


 


 


 


Dunia bukanlah tempat yang indah seperti yang mereka harapkan.


 


 


Meski begitu, setiap orang yang lahir di dunia tak bisa memilih saat mereka datang. Tanpa mereka sadari, setiap orang telah ada di dunia dan terjebak dalam kerangka bernama takdir selama hidup mereka.


 


 


Di lain sisi dunia juga penuh dengan hal yang tidak pasti, banyak sesuatu yang menyedihkan dan membuat kita menangis sampai air mata kering. Paling tidak, banyak orang yang mempercayai ketidakpastian tersebut.


 


 


Memang tidak semua hal yang ada di dunia buruk, ada kebahagiaan dan kepuasan yang bisa mereka dapat. Namun …, tidaklah semua orang bisa mendapatkannya.


 


 


Terkadang kerja keras mengkhianati, terkadang harapan malah menjatuhkan orang-orang ke dalam keputusasaan, dan ambisi serta kewajiban pun hanya berakhir menjadi sebuah penderitaan bagi mereka.


 


 


Kehidupan di dunia bagaikan sebuah labirin semak berduri dari sebuah istana megah. Hanya satu hadiah yang bisa mereka dapat, hanya satu puncak yang bisa mereka capai. Karena itulah, setiap orang saling menjatuhkan untuk sampai ke tempat tersebut.


 


 


Meskipun sang Dewi paham semua itu merupakan esensi dari dunia yang sudah ada sejak dulu, ketika sadar dirinya tetap membangun ulang dunia. Tanpa ragu ataupun menunggu, tanpa sejenak membiarkan Awal Mula mengumpulkan bentuknya kembali untuk mempersiapkan dunia selanjutnya yang lebih matang.


 


 


Meski sang Dewi mengerti bahwa dunia hanya akan memisah individu satu dengan lain dan membuat perbedaan di antaranya menjadi nyata, dirinya tetap menatap ulang dunia yang tidak sempurna tersebut.


 


 


Dengan penuh kesedihan, ketakutan dalam prosesnya, dan penyesalan akan apa yang dirinya lakukan di masa lalu, ia terus membangun dan mengatur ulang semua konsep yang ada. Sampai semuanya kembali menjadi seperti apa yang dirinya tahu dari Dunia Sebelumnya.


 


 


Mengambil zat dari Awal Mula, mengolah gumpalan gas raksasa menjadi bintang, lalu menjadikan pasta-pasta nuklir yang tercipta dalam kehampaan sebagai fondasi sumber energi dunia. Lalu pada akhirnya, ia pun membentuk dunia dari konsep, hukum, dan subjek pertama sampai kelompok terakhir untuk dunia barunya.


 


 


Saat sang Dewi ditanyakan para ciptaannya mengapa dirinya menciptakan dunia, ia hanya akan diam dan tersenyum. Namun, jauh di dirinya ia telah meyakini. Sang Dewi tidaklah mengharapkan sebuah keindahan ataupun kesempurnaan pada dunia tersebut, bukan sebuah keharmonisan ataupun kesenangan yang memotivasinya untuk menata ulang dunia.


 


 


Apa yang sang Dewi harapan dari dunia hanya satu, yaitu ….


 


 


 


 


ↈↈↈ


 


 


 


 


Pagi hari yang sama di akhir pekan. Seakan semua insiden kemarin hanyalah sebuah kembang api yang meledak dan menghilang dengan cepat, kondisi yang tampak di Mylta dengan cepat pulih dan kegiatan perekonomian berjalan normal sebagaimana mestinya.


 


 


Para pedagang berjualan di Distrik Perniagaan, para pengrajin membuat kerajinan di bengkel dan galeri mereka, serta orang-orang dari luar kota pun masih tampak lalu-lalang seperti biasanya.


 


 


Meski di permukaan tampak damai dan tidak ada kecemasan yang terlihat jelas, namun memang insiden penyerangan monster dan ditangkapnya penyusup dari Moloia yang terjadi kemarin memang meninggalkan rasa cemas di hati masyarakat.


 


 


Entah itu tentang keamanan Mylta yang dipertanyakan ataupun kabar peperangan yang simpang-siur tersebar dari mulut ke mulut, itu dengan jelas membawa suasana tidak menyenangkan di kota pesisir. Untuk menangani masalah tersebut, sebuah ekspedisi pun diumumkan oleh pihak pemerintah sebagai metode untuk mengurangi kecemasan masyarakat.


 


 


Pengumuman tersebut dilakukan di balai kota beberapa saat setelah kegiatan Religi di Gereja Utama selesai, dengan tujuan pokok untuk memberitahu masyarakat bahwa pihak pemerintah tidak akan tinggal diam.

__ADS_1


 


 


Itu juga bisa berarti bawah mereka akan secara aktif mengambil langkah untuk membersihkan rute perdagangan dari para monster dan pada saat yang sama akan menyiapkan diri untuk menghadapi peperangan. Oleh karena itulah, pemerintah memutuskan untuk mengajak beberapa pihak swasta dalam penggolongan dana dan pengadaan logistik mereka.


 


 


Pihak-pihak swasta yang mereka ajak antara lain seperti Sekte Dagang Teratai Danau dan Aliansi Samudera Majal. Untuk Sekte Dagang Teratai Danau yang berasal dari Kekaisaran memang cukup sulit untuk dibujuk dalam kerja sama tersebut, sebab pada potensi peperangan yang akan terjadi saat tidak memungkinkan untuk mereka membantu pihak Felixia.


 


 


Sebab itulah bentuk kerja sama yang terjalin hanya sebatas konsumen dan pembeli, dalam status pihak pemerintahan membeli barang dagangan mereka dalam kuota tertentu untuk keperluan logistik tambahan.


 


 


Berbeda dengan serikat pedagang dari Kekaisaran tersebut, Aliansi Samudera Majal secara penuh menjalin kerja sama dengan pihak pemerintah Mylta. Karena kondisi Kerajaan Ungea dan Kerajaan Felixia sekarang ini memang tidak memiliki kendala, mereka bisa dengan bebas membantu bahkan sampai penyediaan persenjataan serta alat transportasi tambahan seperti kuda ataupun gerobak.


 


 


Tentu saja dalam kerja sama yang disetujui oleh pemimpin Aliansi Samudera Majal, Shihab Jamal Muidin, dengan pemerintahan Mylta memiliki timbal balik yang berbeda dan tidak terbatas dalam hubungan konsumen dan penjual.


 


 


Dari barang-barang yang mereka tawarkan termasuk senjata dan alat militer lain, mereka mendapatkan hak untuk menjadi penyuplai utama persenjataan Mylta. Dengan kata lain, mereka secara tidak langsung akan memonopoli logam yang beredar di kota pesisir. Entah itu yang bersumber dari Teritorial Mylta ataupun kegiatan ekspor-impor yang ada di pelabuhan.


 


 


Bagi Mylta yang tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi senjata secara massal memang hal tersebut cukup menguntungkan. Namun, di lain sisi hal tersebut juga cukup memberikan pengaruh buruk bagi para pandai besi di Distrik Pengrajin sebab harga bahan baku mereka akan dikendalikan oleh pihak luar.


 


 


Mengesampingkan beberapa perubahan yang ada di balik layar kota pesisir, semua itu memang tidak terlalu tampak di permukaan ataupun memberikan pengaruh yang jelas kepada masyarakat kecil. Setiap orang masih bekerja sesuai profesi mereka, tanpa ada kendala atau kehilangan pekerjaan. Bahkan untuk mereka yang tinggal di Distrik Rumah Bordil, tempat para pelacur tanpa penghasilan pasti merajut asa.


.


.


.


.


Akhir pekan yang cerah, awan yang sebelumnya sedikit menutupi langit saat fajar hilang terbawa angin dan pergi ke mana. Sedikit berbeda dengan enam hari sebelumnya, akhir pekan adalah hari bagi mereka orang-orang religius untuk beribadah di Gereja Utama. Itu dimulai saat matahari pertama kali terbit sampai hampir siang, lalu akan dilanjutkan untuk anak-anak yatim dan mereka yang kurang mampu mengikuti kelas umum.


 


 


Bagi kota pesisir memang tingkat buta huruf yang bisa dikatakan tinggi karena mencapai lebih dari 20% dari total penduduk tercatat di sipil, pembelajaran gratis secara umum tersebut sangatlah penting. Jumlah tersebut pun belum terhitung mereka para orang-orang imigran gelap yang tidak memiliki akses pendidikan.


 


 


 


 


Untuk para pegawai Ordoxi Nigrum sendiri, anak-anak dan remaja yang bekerja di sana diliburkan secara penuh dan tidak ikut membantu menyiapkan bahan-bahan operasional toko untuk minggu depan.


 


 


Dalam keluarga Demi-human yang bekerja di tempat tersebut, Mattari dan Sittara libur untuk mengikuti kelas umum di Gereja Utama bersama dengan Nanra dan Kirsi. Sedangkan Totto tetap bekerja untuk membantu Matius mengurus suplai bahan makanan bersama Matius, lalu Ritta pun membantu Isla dan Elulu untuk menyelesaikan pembukuan akhir pekan.


 


 


Untuk beberapa alasan, Ririru Indul Kalama, adik Elulu tidak ikut kelas umum bersama Nanra dan lainnya. Selain karena memang dirinya sudah mendapatkan pendidikan yang cukup dan memiliki kemampuan sastra yang tinggi, ia lebih memilih untuk menemani kakaknya karena cemas setelah tahu kemarin malam Ordoxi Nigrum diserang.


 


 


Meskipun dirinya tidak ada di tempat kejadian dan sudah tidur di lantai tiga bersama dengan Suigin, Ririru tetap cemas karena dirinya sempat terbangun saat orang-orang yang terluka naik ke lantai tiga atas perintah Odo kemarin malam.


 


 


Di dalam lantai satu toko, ruangan tersebut pun telah dirapikan seperti semula seakan serangan para Elf tadi malam tidak pernah terjadi. Lantai telah dipel dan dibersihkan dari darah yang berceceran, mayat telah diambil oleh Pihak Religi untuk dimakamkan, dan bahkan perabotan yang rusak pun sudah dikirim ke tempat Serikat Tukang Kurcaci Merah untuk diperbaiki.


 


 


Layaknya akhir pekan normal pada minggu-minggu biasanya, mereka bekerja seakan semalam tidak terjadi apa-apa. Namun tetap saja, siapa pun pasti takut jika kejadian seperti itu menimpa mereka. Tiba-tiba tempat kerja didatangi orang-orang yang tidak diinginkan, lalu diancam dan hampir terbunuh. Meski semua pegawai Ordoxi Nigrum bekerja tanpa membicarakan kejadian semalam, rasa takut dan tanda tanya besar masih tersisa dalam benak mereka.


 


 


“Kenapa bisa … kalian tidak mempermasalahkan atau bahkan mempertanyakannya? Nyawa kalian baru saja terancam kemarin malam, bukan?” tanya Ririru.


 


 


Di dapur, pada saat semua orang yang berada di toko bekerja dengan tanpa bercakap-cakap seperti biasanya, anak itu tanpa ragu menanyakan hal tersebut kepada Isla. Tidak menggubris adik perempuan Elulu yang sedang bekerja membantunya mengolah bahan-bahan mentah, sebagai orang dewasa Isla sendiri tidak terlalu mengerti mengapa dirinya tak mempermasalahkan hal tersebut.


 


 

__ADS_1


Itu bukan hanya karena selama ini dirinya sudah beberapa kali melewati momen hidup dan mati, namun juga karena rasa percaya kepada pemuda yang dipercayai suaminya. Sembari tetap menggerakkan tangan dan mengolah daging serta bumbu, wanita rambut cokelat keemasan panjang sepunggung tersebut hanya menghela napas kecil. Tanda dirinya enggan membicarakan topik tersebut.


 


 


Isla melepaskan celemek dan memutuskan untuk sesaat beristirahat, lalu menghadap Ririru yang terdiam di depan meja dengan telenan dan daun bawang yang belum terpotong. Sembari mengelus kepala anak tersebut, ia dengan halus berkata, “Bukannya kami tidak mempermasalahkan hal tersebut. Namun …, sekarang memang tidak sepatutnya kita membahasnya. Kalau pun Tuan Odo memang tidak peduli dengan kita, beliau tidak mungkin rela datang untuk menolong kami waktu itu, bukan?”


 


 


“Tetap saja …, paling tidak ia seharusnya menjelaskan kejadian tadi malam.” Ririru menyingkirkan tangan Isla yang sedikit kotor karena bahan makanan, lalu menoleh ke arah lawan bicaranya tersebut dan dengan sorot mata tak suka bertanya, “Kenapa bisa orang-orang dari Moloia menyerang tempat ini? Dia pasti mudah untuk memberitahu kita alasannya! Terlebih lagi, ke mana dia sekarang setelah kejadian itu?!”


 


 


Isla sedikit tersentak dan tidak menjawab pertanyaan tersebut. Melihat sorot mata Ririru, dirinya paham bahwa itu bukanlah tatapan seorang anak kecil. Matanya terlihat seperti orang dewasa yang telah banyak melihat hal buruk selama hidupnya dan tidak mudah untuk dibodohi hanya dengan kata-kata manis.


 


 


Mendengar suara adiknya yang sedikit melantang di dapur, Elulu yang sebelumnya sedang menghitung keuntungan akhir minggu dan biaya perbaikan bersama Ritta segera menoleh. Perempuan dengan rambut yang diikat kepang tunggal tersebut lekas menghampiri mereka yang ada di dapur. “Ada apa? Apa ada sesuatu yang kurang di dapur?” tanyanya sembari melongok ke dapur dari meja Counter.


 


 


Mendengar itu Ririru segera menghampiri kakaknya dan menatap tajam melalui jendela di dapur, lalu dengan nada kesal berkata, “Apa Mbak Elulu juga tidak mempermasalahkan itu? Tuan Odo sama sekali tidak menjelaskan apa-apa soal kejadian tadi malam! Seharusnya paling tidak dia bicara⸻!”


 


 


“Riru!” bentak Elulu. Itu membuat adiknya tersentak, langsung membisu dan menundukkan kepala dengan gemetar. Setelah menghela napas kecil, perempuan rambut pirang dengan ikat kepang tunggal tersebut menepuk kepala adiknya sembari berkata, “Mbak paham hal itu, kamu sekarang hanya sedang khawatir. Di dunia ini tidak ada tempat yang benar-benar aman seperti yang kita harapkan, seharusnya kamu juga paham hal tersebut, Adikku. Menurut Mbak tempat ini lebih aman daripada di tempat lain, karena itulah Mbak tidak mempermasalahkan atau mempertanyakan kejadian semalam.”


 


 


Ririru tidak bisa membalas lagi. Ia hanya bisa mengangguk dan berkata, “Baiklah. Jika Mbak Elulu sudah berkata seperti itu ….”


 


 


Untuk sesaat, suasana di toko berubah sedikit canggung karena percakapan tersebut. Mereka yang sebelumnya berusaha tidak ingin mempertanyakan hal tersebut mulai meragukannya, apakah tetap bekerja untuk Odo Luke pantas sampai harus mempertaruhkan nyawa mereka.


 


 


Sebelum Elulu dan adiknya kembali ke tempat mereka masing-masing untuk bekerja, pintu utama toko terbuka dan Arca pun masuk ke dalam. Kantong matanya sedikit menghitam dan tampak mengantuk, mengenakan pakaian yang berbeda dengan kemarin malam dan terlihat sedikit tidak rapi tanda dirinya belum membersihkan badan sejak kemarin.


 


 


Melihat Elulu berdiri di tempat yang sedikit janggal dari biasanya, pemuda yang kali ini tidak ditemani oleh kedua Butler pribadinya tersebut langsung berjalan ke meja tempat Ritta duduk sembari bertanya, “Sedang membicarakan apa kalian di sana?” Arca duduk di meja yang penuh dengan beberapa perkamen, alat tulis, dan Abacus sebagai alat bantu hitung. Melipat kaki kirinya ke atas kaki kanan, Putra Sulung Keluarga Rein tersebut kembali berkata, “Elulu, duduklah sebentar. Aku mau membahas hasil rapat tadi dengan pihak pemerintah ….”


 


 


Elulu tidak segera memenuhi panggilan tersebut, hanya berdiri di tempat dan menatap dengan penuh rasa heran. Karena pengaruh dari pertanyaan adiknya, keraguan dan rasa penasaran mulai tumbuh pada benaknya tubuh. Hal tersebut tidak hanya dirasakan oleh Elulu, namun semua pegawai yang berada di tempat tersebut.


 


 


Dengan sedikit takut Elulu pun bertanya, “Apa … Anda tidak ingin terlebih dahulu menjelaskan kejadian semalam?”


 


 


“Ah, benar juga ….” Arca sesaat menggaruk punggungnya sendiri, lalu menatap ke arah Elulu dan balik bertanya, “Jadi …, apa kalian sekarang mulai takut dan meragukan tindakan Odo untuk kalian semua?”


 


 


“Kalau kami menjawab tidak takut …, berarti kami bohong. Tetapi jika ditanya ragu atau tidak …, saya secara pribadi ingin percaya bahwa Tuan Odo masih peduli kepada kami.”


 


 


Mendengar hal tersebut, Arca sedikit tertawa kecil dan berkata, “Bagus kalian meragukan kejadian semalam. Berpikir kritis adalah hal baik, teruslah mempertanyakan dan mencari kebenaran …. Yeah, mungkin kalau Odo yang mendengarnya pasti akan berkata seperti itu kepada kalian.” Raut wajah Arca seketika berubah suram, lalu tatapannya pun menjadi tajam dan dengan tegas berkata, “Tapi menurut diriku ini, untuk sekarang aku harap kalian tidak mempertanyakan hal itu ….”


 


 


“Kenapa memangnya …? Apa karena itu hal penting dan kami tidak boleh tahu?”


 


 


“Bukan ….” Arca sekilas mengangkat kedua sisi pundaknya, lalu menurunkan kaki kirinya ke lantai dan dengan nada resah berkata, “Itu karena aku juga tidak tahu apa yang sedang Odo rencanakan kali ini.”


 


 


“Eh, tidak tahu?” Elulu tampak bingung mendengar hal tersebut, dengan segera ia pun menghampiri dan berdiri di dekat meja tempat Arca duduk. Dalam suasana hati penasaran dirinya pun bertanya, “Maksudnya bagaimana, Tuan Arca?”


 


 


“Hmm …?” Arca sekilas melihat sekeliling, mengamati dan tahu bahwa di dalam toko hanya ada Elulu, Ririru, Ritta, dan Isla. Merasa tidak masalah membicarakan hal tersebut kepada mereka semua, Putra Sulung Keluarga Rein tersebut pun menjawab, “Dengar ini baik-baik, jujur saja ada banyak sekali rencana yang telah Odo buat dan aku tidak tahu …, contohnya seperti tadi malam. Lalu …, tadi juga aku sempat mendengar rencana lain yang Odo buat dengan Nona Lisia. Terlebih lagi, sepertinya Odo juga sudah membuat kerja sama dengan pihak Kerajaan Moloia untuk mencegah peperangan sejak musim dingin tahun lalu …. Saat perjalanan ke sini, aku bahkan baru dengar kalau Odo menjalin kerja sama soal pendanaan dengan Aliansi Samudera Majal untuk pembangunan rumah susun untuk pegawai kita.”


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2