
Melipat kedua tangan ke belakang, lalu berjalan santai di atas rerumputan dan akar-akar pohon. Sembari bersenandung kecil, Vil tersenyum tipis seakan dirinya perempuan paling bahagia di dunia.
Melangkah tanpa alas kaki, perempuan rambut biru tersebut sesekali melirik ke belakang. Membuka mulut seakan ingin berbicara dengan Odo, namun pada akhirnya hanya melempar senyum hangat tanpa berkata sesuatu.
Angin laut berhembus melewati hutan, membuat dedaunan bergoyang dan menerpa tubuh Vil. Rambut biru miliknya berkibar di antara pepohonan, tampak mengkilap saat terpapar cahaya yang masuk melewati sela-sela daun.
Reaksi yang Vil perlihatkan cukup untuk membuat Odo bingung. Berbeda dengan apa yang dirinya kira, perempuan itu sama sekali tidak menunjukkan gelagat marah atau bahkan tersinggung.
Terus bersenandung bersama suara dedaunan, perempuan rambut biru tersebut memperlihatkan wajah bahagia. Meraih daun yang berguguran dan mengumpulkannya, lalu melemparnya ke udara sekaligus.
Odo senang melihatnya tidak marah. Namun, pada saat yang sama rasa cemas tidak bisa lepas dari benak. Menyadari perasaan Vil dan tetap melakukan kontrak dengan Reyah, tindakan itu sama saja dengan menduakan Roh Agung tersebut.
“Kau baik-baik saja?” Odo mempercepat langkah kaki, segera meraih tangan perempuan tersebut dan menghentikan langkahnya. Sembari menatap cemas ia pun memastikan, “Bukankah itu menyakitkan?”
“Menyakitkan?” Vil menoleh. Sembari melempar senyum penuh kebahagiaan, perempuan rambut biru tersebut dengan tulus menjawab, “Jujur ini memang menyakitkan …. Namun, pada saat yang sama diriku sangat bahagia. Lebih dari rasa sakit yang hanya sebentar itu.”
“Bahagia?” Untuk sesaat, Odo tertegun dan tidak mengerti dasar perkataan tersebut.
“Ya, ini sangat membahagiakan.” Vil meraih kedua tangan pemuda itu. Menggenggam dengan erat, ia dengan senyum lepas menyampaikan, “Ini mengejutkan! Diriku … tak menyangka Odo bisa melihat bangsa Roh dengan cara seperti itu.”
“Apa … yang kau bicarakan?”
Mendengar jawabannya, Odo semakin tidak memahami perkataan Roh Agung tersebut. Sang pemuda mengira telah memahami Vil, namun pada kenyataannya ia sama sekali tidak tahu tentang perasaan perempuan itu.
Melihat tatapan bingung yang pemuda tersebut perlihatkan, Vil seketika langsung tahu bahwa maksudnya tidak tersampaikan dengan baik. Ia hanya bisa melebarkan senyum, lalu menggemgam semakin erat dan menarik napas dalam-dalam untuk sejenak berpikir.
“Tolong dengar ini baik-baik, Odo ….” Vil menatap lurus, memperlihatkan wajah penuh rasa senang dan menyampaikan, “Diriku sangat menyukai Odo. Namun, pada saat yang sama diriku juga paham bahwa kita berbeda. Karena itulah ….”
“Kau senang saat aku memandang Reyah setara dengan manusia?” Odo memastikan.
“Itu benar!” Vil mengangguk tegas. Mendekatkan wajah dan tersenyum lepas, ia dengan girang menyampaikan, “Tak masalah jika Odo dengan orang lain, dari awal diriku memang tidak berharap untuk menjadi satu-satunya! Asalkan bisa bersama⸻!”
“Tunggu sebentar,” potong Odo dengan nada heran. Menghela napas sejenak, pemuda rambut hitam tersebut meluruskan, “Dari awal aku sudah melihat kau setara dengan diriku sendiri. Lalu, dari awal juga aku melihat semua makhluk berakal setara. Asalkan mereka bisa diajak bicara dan berdiskusi, aku tidak akan memandang mereka lebih rendah. Asal mereka memiliki sikap dan perilaku baik, diriku akan menghormati mereka.”
“Bukan itu yang diriku maksud!” Vil segera menjauhkan wajah, lalu memasang mimik wajah kesal karena maksudnya tidak kunjung tersampaikan.
“Bukan?” Odo sedikit memiringkan kepala, lalu dengan penuh rasa heran kembali memastikan, “Lantas apa yang kau ingin katakan?”
“Odo … melihat diriku berbeda dengan Fiola dan Julia, bukan?” Vil menatap tajam. Tidak lagi menggunakan alasan dalam perkataannya, perempuan rambut biru terebut dengan tegas menyampaikan, “Itu sangat membuat diriku tidak nyaman! Rasanya … seperti diskriminasi ….”
“Diskriminasi? Berlebihan sekali kau bicaranya⸻”
“Itu tidak berlebihan! Itu menyakitkan!” Vil menyela dengan kesal. Kembali mendekatkan wajah, perempuan rambut biru tersebut menyampaikan, “Diriku sangat senang saat tahu bukan begitu! Ternyata … selama ini Odo menganggap diriku sama dengan yang lain. Itu bukan diskriminasi, cara Odo memandang bukan untuk merendahkan atau membedakan ….”
Perkataan yang Vil gunakan terlalu berkelit, sampai-sampai Odo terdiam sesaat dan butuh waktu untuk memahaminya. Saat sadar maksud yang ingin disampaikan Roh Agung tersebut, ia perlahan melebarkan senyum dan hanya menatap dengan hangat.
Itu membuat perempuan rambut biru tersebut menjauhkan wajah, lalu melepaskan kedua tangan Odo dan melangkah mundur. Tersipu malu dengan wajah memerah, memalingkan pandangan seraya berusaha menutupi pandangannya sendiri.
Apa yang ingin Vil sampaikan sangat sederhana, ia hanya senang saat tahu bahwa Odo melihatnya dengan cara yang sama dengan yang lain. Tidak spesial karena dirinya adalah Roh Agung, namun karena telah ada ikatan tersendiri di dalamnya.
“Kurasa itu kurang tepat ….” Odo meraih tangan kanan perempuan itu. Memasukan jarinya ke dalam sela-sela tangan sang Siren, ia dengan senyum tipis menyampikan, “Aku melihat kau sebagai dirimu sendiri, jadi jangan bandingan dirimu dengan Reyah atau orang lain.”
Untuk sesaat, Vil membeku di tempat dengan kedua mata terbuka. Bingung harus membalas dengan kalimat seperti apa, pada akhirnya ia hanya menundukkan kepala dengan wajah penuh rasa malu. Bercampur sedikit sesal karena telat menyadari hal tersebut.
Di tengah pembicaraan dan suasana tersebut, Laura dan Magda secara kompak batuk kecil. Merasa benar-benar tidak dipedulikan dan dianggap udara mereka berdua orang tersebut.
“A⸻?” Odo segera melepaskan tangan Vil. Segera menghadap ke arah mereka, Putra Tunggal Keluarga Luke sejenak menarik napas dalam-dalam. Berusaha untuk bersikap tenang dan tidak membahas hal sebelumnya. “Maaf, aku sampai lupa dengan kalian berdua,” ujarnya seraya meletakkan tangan kanan ke depan dagu.
Melihat gelagat grogi dari sang pemuda, Laura menyipitkan mata dan menyindir, “Benar-benar gigolo, ya? Kamu bahkan berhasil menggoda dua Roh Agung sekaligus.”
Kedua alis Odo berkedut, tatapan berubah datar, dan mimik wajah pun seketika berubah pasrah. Tidak memiliki kalimat untuk membantah hal tersebut, pemuda rambut hitam itu hanya kembali menarik napas dalam-dalam.
“Aku tidak bisa mengelak.” Berjalan menuju salah satu pohon di dekatnya, Odo sejenak terdiam dan kembali menatap mereka berdua. Sembari bersandar, ia melihat kedua tangan ke depan dan dengan tatapan datar bertanya, “Selain membahas hal seperti itu, apa kalian tidak punya sesuatu untuk ditanyakan?”
“Benar juga.” Laura sedikit tersinggung karena pertanyaan itu. Perlahan ekspresi wajahnya berubah serius, lalu dengan tatapan penuh curiga memastikan, “Alasan kami tidak bisa menggunakan Manifestasi Peri …, itu karena ulah kamu? Sejak Pohon Suci memancarkan aura aneh, seketika struktur sihir kami tidak bisa diaktifkan.”
“Hmm, itu ulah ku.” Odo menjawab singkat. Ia menunjuk ke arah mereka, lalu sembari melebarkan senyum menambahkan, “Sekarang aku adalah penguasa hutan Pohon Suci. Memutus koneksi sihir milik kalian bukanlah hal yang sulit, terutama jika itu berkaitan dengan Ether yang ada di tempat ini.”
“Berarti ….” Wajah Laura sekilas memucat. Memperkirakan beberapa hal lain, ia dengan penuh rasa ragu memastikan, “Sekarang ini kamu setara dengan Dryad itu? Bisa memanipulasi hutan, lalu ingin menggunakan kekuatan tersebut untuk mengalahkan Leviathan?”
“Separuh perkataanmu salah.” Odo membuka kedua telapak tangan, lalu menatap malas seraya menyampaikan, “Pertama, aku menginginkan kekuatan dan wewenang Pohon Suci bukan untuk bertarung.”
“Huh?” Magda tampak heran. Berbeda dengan rekannya yang cenderung sabar selama pembicaraan, ia langsung resah dan berjalan mendekat. Menunjuk sang pemuda dari dekat, Elf tersebut dengan kasar bertanya, “Lalu, untuk apa kau mendatangi makhluk mengerikan seperti itu?! Bahkan sampai membahayakan nyawa kita semua?!”
“Membahayakan nyawa?” Odo menatap datar. Tanpa niat merendahkan, ia dengan sedikit kesal membalas, “Jika sudah takut saat berhadapan dengan Reyah, mungkin kau akan mengompol saat bertemu Leviathan.”
“Sialan!” Magda langsung mendorong Odo, menahan pemuda itu ke pohon dengan lengannya. “Jangan bercanda! Kita setuju ikut karena terpaksa! Jika tidak memiliki rencana yan matang, jangan salahkan kami kalau senapan akan membidik kamu dari belakang nanti!” ancam Elf tersebut dengan cemas.
__ADS_1
“Magda, hentikan sekarang juga!” Laura melarang.
“Apa Letda tidak kesal dengannya?!” Magda menatap tajam. Sembari melotot, ia dengan suara lantang mengungkit, “Dia orang yang membunuh salah satu rekan kita! Alasan kita di untuk mencegah konflik dengan Moloia, kita terpaksa! Namun, kenapa harus mempertaruhkan nyata untuk sialan ini?!”
“Diriku juga kesan.” Laura sedikit memucat. Sembari menunjuk, Letda tersebut dengan penuh cemas menyampaikan, “Namun, bukan itu masalahnya sekarang.”
Sebelum Magda menyadarinya, Vil telah berdiri di belakang Elf tersebut. Menyentuh punggungnya dengan telapak tangan, lalu memperlihatkan mimik wajah sangat kesal. Dipenuhi tatapan gelap dan nafsu membunuh yang jelas.
Sembari menyiapkan sihir, Roh Agung tersebut meminta, “Tolong lepaskan Odo. Jika tidak ….”
“Jika tidak apa?! Huh⸻?!”
Magda benar-benar terbawa emosi dan tidak memperhatikan lawannya. Sebelum Elf tersebut mengelak atau menyerang, zat cair di dalam tubuhnya dimanipulasi. Meski itu bukan darah dan hanya cairan pencernaan, namun dampak yang diberikan cukup parah.
Pusing sampai tanah yang dipijak terasa bergelombang, lalu keseimbangan pun seketika hilang. Mual langsung menguasai sampai-sampai pandangannya memudar.
Saat hendak menyerang dan mengayunkan tangan kiri ke belakang, tubuh Magda sepenuhnya kehilangan keseimbangan. Kaki kanannya ditendang ringan oleh Vil, lalu terjatuh dengan mudah.
“Tenanglah ….” Odo menghela napas ringan setelah terlepas. Sedikit cemas dengan kerja sama tim saat melawan Leviathan nanti, pemuda itu bertepuk tangan satu kali untuk memulai peninjauan. Ia segera menatap ke arah Laura dan menyampaikan, “Kita sebaiknya bicara dulu baik-baik. Aku paham kalian marah, tapi tolong mengerti kalau aku tidak sedang menyindir atau merendahkan.”
“Ugh⸻!” Magda hampir muntah. Berusaha mencegah cairan meluap keluar, perempuan rambut pirang tersebut segera berdiri dan menutup mulut rapat-rapat. “Sialan,” ujarnya setelah menelan kembali isi perut yang hampir dimuntahkan.
“Baiklah, mari kita bicara dulu dan tinjau ulang tujuan kita datang ke Dunia Astral ini.” Laura berusaha mewakili rekannya, berbicara dengan tenang dan memahami situasi. Lekas menghampiri Magda dan menariknya mendekat, Letda tersebut dengan nada sedikit resah menyampaikan, “Rasa cemas dan kesal Magda juga saya rasakan, jadi tolong pahami itu dalam pembicaraan ini.”
“Tentu saja.” Odo mengangguk sekali. Memberikan tatapan tenang dan berusaha tidak memancing masalah, pemuda rambut hitam tersebut segera bertanya, “Lantas apa yang ingin kalian tanyakan?”
“Pertama, apa yang kamu maksud tidak ingin menggunakan kekuatan Pohon Suci? Bukankah kau datang ke sana karena butuh itu untuk melawan Leviathan?”
Pertanyaan tersebut cukup membuat Odo senang, karena tidak langsung mengarah pada hal yang vital. Sembari mengacungkan telunjuk ke depan pemuda itu menjawab, “Untuk mengajukan penawaran kepada para Roh yang tinggal di Laut Utara”
“Penawaran?” Laura tampak bingung, sedikit mengerutkan kening dan menatap tidak percaya.
“Itu benar.” Menurunkan telunjuk, pemuda rambut hitam tersebut mulai menjelaskan, “Ini untuk membujuk mereka, semua Roh yang tinggal di Laut Utara. Mungkin kalian belum mengetahuinya, kondisi Laut Utara sekarang ini telantar. Mereka kemungkinan besar sedang sekarat, sebab tidak ada yang menjadi penghubung dengan kehendak lautan.”
Laura dan Magda tidak terlalu mengerti dengan apa yang Odo maksud. Namun, mereka tahu bahwa itu sedikit mirip dengan kondisi para Roh di lingkungan Pohon Suci. Saling terkiat satu sama lain, lalu sangat bergantung pada pohon sakral melalui sang Dryad.
“Lalu ….” Laura menatap tajam. Ingin mendapatkan kejelasan, ia tanpa ragu langsung menekan, “Apa hubungannya dengan wewenang Pohon Suci? Kenapa kamu harus mendapatkannya?”
“Sederhana.” Odo kembali mengacungkan telunjuk ke depan. Seraya melempar senyum ringan dan berusaha tenang, ia tanpa ragu menyampaikan, “Tanpa wewenang, perkataanku tidak akan didengarkan mereka. Perkataan bangsawan lebih didengar daripada orang tanpa status, di Dunia Astral juga berlaku demikian. Karena itulah, aku membutuhkan wewenang untuk membujuk Roh yang tinggal di Laut Utara.”
“Tetap saja itu tidak masuk akal!” Magda kembali kehilangan ketenangan. Meski masih mual karena isi perutnya belum turun, Elf tersebut menunjuk lurus dan memastikan, “Untuk apa kamu melakukan itu?! Memangnya penawaran seperti apa yang ingin kamu lakukan dengan mereka?! Itu memangnya perlu, huh?!”
“Ya, akan sangat marah.” Laura menatap datar dan penuh curiga. Sedikit memalingkan pandangan dan berusaha untuk tetap tenang, Letda tersebut sedikit menyinggung, “Terutama jika itu ulah raksasa petir yang keluar dari langit.”
Odo sedikit terkejut karena Laura masih mencurigainya dalam hal tersebut. Segera memaklumi dan tidak memperpanjang pembahasan yang melenceng, Putra Tunggal Keluarga Luke sejenak terdiam untuk memikirkan kalimat.
“Ehem!” Odo bertepuk tangan satu kali. Sembari menunjuk Laura dan Magda, ia dengan sedikit ragu menyampaikan, “Kurang lebih, itulah alasan ku memerlukan wewenang ini. Kalau bisa, aku juga berharap para Roh membantu kita saat melawan Leviathan.”
Laura menghela napas panjang. Sama seperti Odo, ia juga tidak ingin berlama-lama. Sedikit memalingkan pandangan dan meletakkan tangan dagu, Elf tersebut kembali bertanya, “Ngomong-omong, apa yang akan kamu tawarkan kepada mereka?”
“Sesuatu yang mereka butuhkan.” Odo menjawab secara abstrak.
“Apa itu?” tanya Laura penasaran.
“Entahlah ….” Odo mengangkat kedua sisi pundak, lalu memperlihatkan mimik wajah seperti orang bodoh dan berkata, “Kita akan tahu setelah sampai.”
“Huh, selalu saja begini.” Laura perlahan mulai paham kepribadian Odo, terutama tentang sifat pemuda itu yang suka hal menyimpan rahasia berlapis-lapis. Menatap tajam lawan bicara dan mengerutkan kening, Letda tersebut kembali bertanya, “Boleh kami lanjut ke pertanyaan selanjutnya?”
“Silahkan saja.” Odo bertepuk tangan kembali, lalu sembari tersenyum tipis menyampaikan, “Tanya sebanyak yang kalian inginkan.”
“Kamu … sudah punya rencana untuk mengalahkan Leviathan, bukan?”
Pertanyaan tersebut sedikit membuat Odo tersenyum tipis. Menjentikkan jari dan langsung menunjuk lurus, ia dengan penuh rasa percaya diri menjawab, “Tentu saja sudah.”
“Apa itu?”
“Maaf ….” Odo segera berhenti menunjuk. Menarik napas dalam-dalam, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Aku tidak bisa membahasnya sekarang. Soalnya jika kita gagal membujuk para Roh yang tinggal di Laut Utara, aku berniat membantalkan rencana ini.”
“Eh?” Laura seketika terkejut, tidak menyangka Odo akan mengatakan hal seperti itu dan menyerah dengan mudah. “Kenapa? Bukannya kamu sudah tidak punya banyak waktu?” tanyanya memastikan.
“Kalau aku gagal membujuk dan tetap lanjut, itu sama saja kita datang untuk bunuh diri. Hanya membuang-buang nyawa ….” Odo sejenak menarik napas ringan. Mendongak lurus dan menghembuskan napas ke udara, pemuda rambut hitam tersebut menjelaskan, “Bertarung melawan musuh yang sangat kuat, di medan yang tidak memihak kita, lalu didesak dengan batas waktu. Konyol sekali jika kita terus menerjang semua halangan itu.”
“Be-Benar juga ….” Sekali lagi Lana terkejut dengan perkataan Odo. Sedikit memalingkan pandangan dan merasa salah paham dengannya, sang Letda tersenyum tipis dan berkata, “Paling tidak, kita harus memiliki keunggulan dalam medan.”
Odo kembali menatap lawan bicara. Sembari memperlihatkan mimik wajah malas, ia dengan sedikit enggan bertanya, “Hanya itu yang ingin kalian tanyakan?”
“Ah, satu lagi!” Laura mengacungkan telunjuk ke depan. Dengan sedikit ragu, perempuan rambut pirang tersebut kembali bertanya, “Odo …, kamu … membuat kontrak seperti apa dengan Roh Agung dari Pohon Suci itu? Kenapa … dia memakai gaun pengantin dan tiba-tiba muncul anak dari langit?”
“Itu benar!” Magda ikut dalam pembicaraan. Menatap penuh rasa penasaran, Elf tersebut langsung menunjuk dan dengan lantang bertanya, “Memangnya kamu menikah dengannya?! Roh dan manusia?! Lagi pula, bukannya umur manusia akan terkikis banyak kalau membuat kontrak dengan Roh Agung?! Apa itu tidak masalah?!”
__ADS_1
“Serius kalian tanya itu?” Odo sedikit menurunkan alisnya.
“Serius!”
“Serius!”
Magda dan Laura mengangguk secara serempak, benar-benar penasaran dengan hal semacam itu. Meski paham bahwa itu tidak terlalu penting untuk mereka berdua.
“Sederhana ….” Odo perlahan tersenyum lembut. Sembari melipat tangan ke depan, ia dengan penuh rasa lega menyampaikan, “Aku hanya menjadi keluarganya. Sebagai ganti itu, aku boleh menggunakan kekuatannya.”
“Berarti menikah dong!” Magda langsung menyimpulkan.
“Ya, bisa dikatakan begitu. Menikah dengan Roh, sungguh luar biasa.” Laura mengangguk setuju, memperlihatkan mimik wajah heran karena masih sedikit tidak percaya.
“Jadi!” Magda berjalan mendekat. Seakan tidak kapok, ia langsung menunjuk Odo dari dekat dan memastikan, “Roh yang tiba-tiba muncul itu anaknya kalian?! Manusia dan Roh bisa punya anak?!”
Melihat tingkah Elf tersebut, Vil untuk sesaat memperlihatkan mimik wajah kesal. Ia sempat mengangkat tangan kanan, lalu membuat lingkaran sihir untuk membuat Magda benar-benar kapok.
Namun saat melihat Odo menggelengkan kepala, Roh Agung tersebut menurunkan tangannya dan membatalkan sihir. Hanya memalingkan pandangan dengan mimik wajah muram.
“Kenapa kalian antusias soal itu?” Odo balik menatap Magda dengan datar. Sembari meletakkan tangan ke belakang kepala, ia memperlihatkan mimik wajah heran dan kembali bertanya, “Kenapa juga kau bisa tahu kalau itu adalah Roh?”
“Kami ini Elf, dikenal juga sebagai Peri Hutan, loh.” Laura merasa diremehkan. Menunjuk lurus ke arah sang pemuda, ia dengan nada menekan berkata, “Tentu saja kami tahu perbedaan roh dan manusia, meski bentuk mereka sangat mirip sekalipun! Jadi, apa benar itu anak kalian?”
“Hmm ….” Odo sejenak mempertimbangkan, menurunkan tangan dari belakang kepala dan termenung. Merasa tidak masalah menganggapnya sebagai anak, pemuda rambut hitam tersebut menjawab, “Kurang lebih betul.”
“Anak manusia dan Roh, ya?” Laura sejenak terdiam. Sembari meletakkan tangan kanan ke depan dagu, ia dengan penuh penasaran bergumam, “Menarik sekali, itu benar-benar terjadi secara alami.”
“Secara alami?” Odo ikut penasaran. Berjalan menghampirinya karena merasa ada yang janggal, ia dengan nada menekan memastikan, “Berarti ada yang buatan, bukan?”
“Ah, kamu tidak tahu, ya?” Laura menurunkan tangan dari dagu. Sembari menatap lawan bicara di hadapan, perempuan rambut pirang tersebut menyampaikan, “Ras Elf itu sebenarnya tidak bisa melakukan Manifestasi Peri, atau bahkan kembali ke bentuk leluhur mereka. Melalui beberapa eksperimen, berbagai macam jenis Roh ditangkap untuk ditanamkan ke dalam peta genetik Elf dan High Elf. Kami para Prajurit Peri adalah salah satu hasilnya.”
“Lagi-lagi menyentuh tabu,” gumam Odo setelah memastikan. Mimik wajahnya tampak murka untuk beberapa detik, lalu kembali berubah tenang seakan tidak terjadi apa-apa.
“Tabu?” Untuk sesaat Laura terkejut, gemetar karena mimik wajah tersebut.
“Tidak apa-apa.” Odo melangkah mundur. Segera berbalik dan mulai melangkah, Putra Tunggal Keluarga Luke menyampaikan, “Ngomong-omong, mari kita bicara sambil jalan. Waktu kita terbatas.”
“Ya ….” Laura hanya bisa mengangguk, masih tidak bisa mengerti tentang Odo. Rasa penasaran membuatnya bertanya-tanya, sebenarnya orang seperti apa pemuda tersebut.
“Hmm ….” Mengikut rekannya, Magda pun ikut berjalan. Sedikit memperlihatkan ekspresi muram, lalu menatap ke arah Odo seakan memendam kebencian kepada pemuda itu.
Menyadari bahwa Magda dan Laura memiliki niat tersendiri, untuk sesaat Vil memperlihatkan mimik wajah kesal. Dalam benak, sang Roh Agung memutuskan bahwa mereka berdua adalah buruk. Sesuatu yang tidak boleh lama-lama di sebelah Odo.
“Kalau ada kesempatan, lebih baik diriku singkirkan saja mereka,” benak Vil seraya berjalan cepat, mendahului kedua Elf tersebut.
Sembari melirik ke belakang, Odo Luke sekali lagi menawarkan, “Apa lagi yang ingin kalian tanyakan?”
“Kami lupa menanyakan ini.” Magda menatap tajam. Sembari menunjuk ke depan, ia dengan nada menekan bertanya, “Kenapa si Dryad itu enggak kamu ajak ikut? Kalau dia bergabung dengan kita⸻!”
“Dia ikut, kok.” Odo menyela dengan cepat. Kembali menatap ke depan, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Reyah sedang ada keperluan sebentar. Mungkin setelah selesai bicara dengan Ifrit, dia akan menyusul. Lagi pula, Alyssum juga butuh waktu untuk beradaptasi dan butuh dirinya.”
Mendapat jawaban tersebut, Magda seketika terdiam dan kehabisan pertanyaan untuk memojokkan Odo. Ia menundukkan kepala, lalu memikirkan kembali cara untuk mengusik pemuda itu.
“Diriku ingin tanya lagi. Ini soal batasan kekuatanmu, lalu kontrak apa yang kamu buat dengan Roh Agung nan garang di sebelah.” Sembari berjalan di samping rekannya dan menjaga jarak dari Vil, Laura mengangkat tangan kanan ke depan dan langsung bertanya, “Apa itu boleh?”
“Ah, kalau itu rahasia ….” Odo sama sekali tidak menoleh. Seakan ingin menikmati perjalanan, pemuda rambut hitam tersebut malah menyarankan, “Tanyakan saja ke sebelah, tak perlu malu-malu. Meski galak, kalau sudah dekat Vil baik, kok.”
“Eh?” Laura tersentak, ia segera menurunkan tangan dan berkata, “Enggak jadi, deh ….”
Kebahagiaan, kesedihan, dan kebersamaan. Meski telah berbagi semua itu dan menjalani waktu bersama, tidak ada yang jamin bahwa mereka bisa saling memahami perasaan. Mereka semua memahami hal tersebut, karena itulah kecurigaan masih ada dalam hati masing-masing.
Namun, tetap saja Laura dan Magda telah memutuskan untuk bersama. Paling tidak sampai penaklukan dan rencana yang pemuda itu susun selesai.
\=========================
Catatan :
See You Next Time!!
__ADS_1