
Matahari perlahan terbit, membawakan hari baru dan kabut pun ikut datang untuk menyelimuti Kota Pegunungan. Embun segar menempel pada dedaunan dan kelopak bunga di taman Kediaman Stein, tampak segar disapu hembusan udara sejuk yang bertiup halus.
Permukaan susunan batu yang basah tampak mengkilap terkena sinar mentari yang remang-remang sampai ke daratan, sedikit membawa kehangatan untuk Kota yang sebagai besar waktunya tertutup kabut.
Ketika sebuah lembar baru dari dunia baru saja dimulai, Odo Luke kembali ke kediaman tersebut setelah semalaman berkeliling Kota Rockfield. Pemuda rambut hitam itu menyapa ramah kedua penjaga di gerbang, lalu dengan santai melangkahkan kaki di atas jalan susunan batu yang sedikit berlumut.
Setelah melepaskan semua kancing rompi merah yang dikenakan dan meregangkan tubuh dengan merentangkan kedua tangan ke atas , Putra Tunggal Keluarga Luke itu menaikkan rambut poni dan memasang mimik wajah serius. Wajah ramah yang ia pakai untuk menyapa penjaga seketika lenyap, berganti dengan mimik kesal yang tampak begitu kental.
Kornea mata biru pemuda itu untuk sesaat berubah hijau, tanda Spekulasi Persepsi aktif dan sebuah kalkulasi telah diproses. Perlahan ekspresi kesal mulai pudar, berganti menjadi wajah ramah yang dirinya perlihatkan sebelumnya. Menghentikan langkah kaki sebelum naik ke atas teras, Putra Tunggal Keluarga Luke menatap lurus perempuan yang telah menunggu kedatangannya.
Rambut biru pudar yang khas, kulit seputih salju, dan mata biru yang tampak terang. Perempuan itu adalah Putri Tertua di Keluarga Stein, Ri’aima. Dengan penampilan yang tidak jauh berbeda dari kemarin, hari ini pun dirinya mengenakan seragam pemerintahan.
Rok hitam pendek, baju hitam dengan kancing besar berwarna keemasan, dan kaus kaki hitam panjang sampai lutut dengan pita merah di ujung. Tidak seperti perempuan dari kalangan bangsawan pada umumnya, Ri’aima mengenakan sepatu kulit tinggi yang biasa dikenakan oleh pria untuk memudahkan saat bergerak.
“Anda semalam pergi ke mana saja, Tuan Odo? Sarapan sudah lama selesai, loh.”
Meski perempuan itu berkata dengan nada ramah, rasa cemas tidak bisa disembunyikan wajahnya. Ia sedikit berkeringat meski udara dingin, lalu sorot mata pun tampak takut akan sesuatu. Seakan-akan Ri’aima memang tidak ingin Odo tahu tentang sesuatu di Kota.
“Sudah selesai, ya ….” Odo hanya memasang senyum ringan, lalu berjalan menaiki teras dan kembali berkata, “Di sini mulai sarapan cepat sekali, ya …. Kalau di Kediaman Luke, sarapan biasanya dimulai pukul delapan sampai sembilan.”
Ri’aima untuk sesaat menatap datar dan terdiam. Mulutnya sesekali terbuka dengan gelisah dan tampak ingin menanyakan sesuatu. Namun, pada akhirnya perempuan itu terlalu takut untuk memastikan.
“Kalau Tuan Odo ingin sarapan, saya bisa meminta pelayan untuk membawakannya ke kamar Anda.”
“Tidak usah ….” Putra Tunggal Keluarga Luke menatap datar, begitu dalam dan memancarkan aura yang samar-samar memancarkan rasa kesal. Setelah menghela napas sekali, ia menggaruk bagian belakang kepala dan mengungkap, “Aku keluar semalam untuk mencari informasi. Ada banyak fakta yang baru aku ketahui, salah satunya adalah tentang petisi lain yang juga dibuat oleh kubu pejabat baru. Kata orang-orang, mereka … ingin menurunkan Keluarga Stein dari status penguasa kota.”
Ri’aima seketika gemetar, wajahnya semakin memucat dan tidak berani menatap langsung mata Odo. “A-Apa yang Anda katakan?” ujarnya dengan penuh rasa cemas.
Dari gelagat tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke langsung paham bahwa perempuan itu juga tahu. Menghubungkan apa yang dirinya lihat dari Ri’aima dengan informasi yang didapat dari cerita Rosaria, Odo menarik kesimpulan bahwa ide perempuan itu untuk mengajukan petisi hanyalah sebuah jiplakan.
“Hmm, ternyata begitu alurnya. Jika mereka ingin menggunakan petisi, maka kita akan menggunakan petisi juga. Sungguh sederhana.” Odo sekilas mengerutkan kening, lalu menghela napas dan mengeluh, “Jujur, aku mulai menyesal karena kemarin malam setuju rencana Nona.”
Ri’aima menundukkan wajah, merasa menyesal tidak menyampaikan tersebut dalam pembicaraan sebelumnya. Persis seperti yang Odo katakan, rencana petisi memang hanya sebuah tiruan yang dibuat Ri’aima. Karena tidak memiliki ide lain untuk mengatasi gejolak politik di Kota Pegunungan, Putri Sulung Keluarga Stein itu mengambil langkah yang sama untuk melawan kubu lawan.
Memang tidak ada yang salah dengan melawan pedang dengan menggunakan pedang. Namun, dalam dunia politik hal tersebut tidaklah sederhana. Semua yang ada di antara bangsawan bukanlah sebuah permainan papan yang setiap kubu bisa memiliki kesempatan yang sama di awal.
“Maafkan saya, Tuan Odo. Saya tidak bermaksud menyembunyikan hal tersebut ….” Perempuan rambut biru pudar itu mengangkat wajah, lalu menatap lawan bicaranya dengan sangat menyesal dan berkata, “Hanya itu yang bisa saya lakukan. Meski mereka mengambil langkah lebih dulu, saya yakin kita bisa melawan. Meski mungkin akan ada percikan dalam prosesnya, namun saya yakin masalah ini akan selesai jika Tuan Odo mau mengikuti rencana.”
“Rencana apa?” Odo tambah kesal mendengar itu. Ia lekas berjalan ke hadapan Ri’aima, lalu berdiri tegak di depan perempuan itu dan dengan tegas kembali bertanya, “Rencana untuk menjadikan diriku tameng bagi Keluarga Stein? Yang benar saja! Jika seperti ini, itu sama saja aku ikut campur masalah kalian secara langsung! Itu ujung-ujungnya diriku harus dengan tegas memutuskan masalah kalian!”
“Tolong tenanglah, Tuan Odo⸻!”
“Ke mana rasa bangga kau tadi malam! Kau berkata ingin menyelesaikan masalah ini sendiri dan hanya menggunakan kehadiranku saja, bukan?!”
Perkataan tegas Odo membuat Ri’aima tidak bisa membuat alasan. Itu adalah sebuah fakta jelas, situasi yang ada memang seperti membuat Putri Sulung Keluarga Stein tersebut menelan ludahnya sendiri.
Dalam pembicaraan semalam Ri’aima menjelaskan kepada Odo seakan situasi yang ada di Kota Rockfield masihlah dalam kendali, menyampaikan seakan kubu pejabat lama masih memiliki kesempatan mendapatkan pengaruh mereka kembali. Namun, pada kenyataannya tidak seperti itu.
Kubu pejabat baru telah benar-benar menguasai pemerintahan, mengambil alih semua aspek yang ada dan menyingkirkan pejabat lama ke sudut administrasi Rockfield. Kondisi yang ada sudah bukan satu banding tiga lagi, namun hampir menjadi lima banding satu.
Beberapa pihak yang mau memberikan dukungan kepada Ri’aima pun hanyalah sisa-sisa dari pejabat lama, segelintir keluarga pemerintahan yang status mereka akan dicabut jika Keluarga Stein diturunkan. Dengan kata lain, hanya keluarga yang berbagi nasib dengan Stein saja yang mau memberikan uluran tangan.
__ADS_1
“Saya akui hal tersebut memang benar, ini kesalahan saya karena tidak menyampaikan hal tersebut. Saya mengatakan itu hanya ingin mendengar kata setuju keluar dari mulut Tuan Odo ….” Ri’aima menatap dengan gemetar, hatinya dipenuhi rasa cemas dan takut kalau Putra Keluarga Luke itu sekarang keluar dari rencana. Memberanikan diri untuk kembali mengambil risiko, ia pun kembali menyampaikan, “Saya paham telah bertindak licik dan egois! Namun, Tuan Odo …. Saya mohon, tolong jangan keluar dari rencana⸻!”
“Rencanamu tidak akan berhasil,” ujar Odo dengan tegas. Ia mengulurkan tangan ke wajah Ri’aima, lalu mengangkat dagu perempuan itu dengan kasar dan kembali menegaskan, “Ini terlalu sulit untuk diwujudkan. Kalaupun berakhir, Keluarga Luke akan berujung turun langsung mengurus masalah kalian ….”
“Tidak masalah ….” Ri’aima berusaha menahan rasa takut, lalu tetap menatap lurus lawan bicaranya. Sembari memasang senyum yang tampak dipaksakan, perempuan rambut biru pudar tersebut berkata, “Jika itu berarti menyelamatkan Keluarga Stein, hal tersebut bukanlah masalah. Meski kehormatan keluarga ini tercoreng, saya tidak keberatan ….”
“Kau tahu, Nona Ri’aima ….” Odo benar-benar murka dalam senyap saat mendengar pemikiran tersebut, tatapannya berubah sangat tajam dan dengan suara serak menegaskan, “Ibuku bukanlah orang yang lembut, dia pasti akan langsung memberikan perintah pencabutan status kepada kalian.”
“Ba-Bagaimana bisa? Jika Anda meminta kepada beliau⸻!”
“Apa yang membuatku harus meminta untuk kelian?” Odo berhenti mengangkat dagu Ri’aima, lalu perlahan mimik wajah murka pemuda itu pun padam. Ia perlahan menghela napas dalam-dalam, lalu sembari masih menunjukkan gelagat kesal dan kembali berkata, “Kalian telah berbohong dan menyembunyikan fakta penting dalam kerja sama. Lantas, apa yang membuat aku harus menolong kalian?”
“Ta-Tapi⸻!”
Ri’aima sesaat ingin mengancam Odo dengan para tamu yang masih tinggal di Kediaman Stein. Namun saat paham hal tersebut hanya akan memperkeruh situasi, perempuan rambut biru pudar tersebut hanya bisa menutup mulut dan memalingkan pandangan dengan bingung.
“Tch! Diam lagi ….” Odo ikut memalingkan pandangan, memasang mimik wajah kesal dan menunjukkan wajah seakan bingung harus mengambil tindakan seperti apa ke depannya. Kembali menatap lawan bicara setelah memutuskan sesuatu, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut berkata, “Ini kesempatan terakhir, Nona Ri’aima. Jika kau ingin mendapat bantuanku, katakan semua yang kau sembunyikan sekarang juga.”
“Apa yang Anda bicarakan …?” Perempuan rambut biru pudar itu menatap dengan wajah pucat pasi, lalu sembari melangkah ke belakang kembali mengelak, “Ba-Bagaimana mungkin saya berani menyembunyikan sesuatu setelah Tuan Odo mengetahui hal tersebut.”
“Lagi? Bahkan setelah semua ini kau masih ….” Odo lekas melangkahkan kaki, lalu berjalan menuju pintu masuk Mansion dan kembali berkata, “Baiklah, aku turun dari rencana ini. Aku dan orang-orang ku akan pergi secepat mungkin. Kau terlalu menyusahkan ….”
“Tu-Tunggu, sebentar Tuan Odo!” Ri’aima segera meraih tangan pemuda rambut hitam itu sebelum masuk ke dalam, lalu dengan tatapan dipenuhi kecemasan berkata, “Saya mohon, jangan pergi dulu …. Tolong dengarkan alasan saya, Tuan Odo. I-Ini memang salah saya karena menyembunyikan hal penting saat ingin menjalin kerja sama dengan Anda. Na-Namun, saya jamin itu tidak akan ada masalah! Anda hanya harus datang ke Kantor Pusat Pemerintahan sembari saya bicara kepada mereka⸻”
“Itu sama saja,” ujar Odo dengan dingin.
“Ka-Kalau begitu, bagaimana kalau kita mengajak Pihak Religi dulu? Kalau Anda yang merupakan Pura Penyihir Cahaya⸻”
Ri’aima seketika gemetar, meletakkan kedua tangan ke kepala dan membungkuk seakan takut dipukul oleh Odo. Melihat hal tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke pun heran. Itu pertama kalinya Putri Sulung Keluarga Stein menunjukkan gelagat seperti perempuan pada umumnya di hadapan Odo. Menunjukkan sisi lemahnya di hadapan orang lain.
“Ka-Kalau memang seperti itu, saya … harus bagaimana? Memangnya saya harus bagaiman? Tolong beritahu saya, Tuan Odo ….”
Ri’aima mulai meneteskan air mata dalam tubuh gemetar. Mengalir melalui pipi, lalu menetes ke pakaian dan lantai. Bentakan Odo benar-benar membuat dinding perempuan rambut biru pudar tersebut runtuh, menyisakan hatinya yang lembut dan rapuh untuk dijamah.
Meski telah melihat Ri’aima menangis dan benar-benar berhasil menyudutkannya, Odo tidak berhenti begitu saja. Ia dengan cepat memasang wajah merendahkan, lalu dengan sarkasme berkata, “Lemah. Jika kau paham tidak mampu, jangan ambil tanggung jawab yang berada di luar kemampuanmu.”
“Saya juga tak ingin ….” Ri’aima seketika kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Emosi, stress, dan kelelahan membuat perempuan itu mengangkat wajah yang berlinang air mata dan menatap lurus Odo. Ia dengan kasar menarik kerah kemeja pemuda itu, lalu sembari mendekatkan wajah berkata, “Memangnya And tahu apa! Anda tidak akan paham hal ini! Saya sudah berusaha sebisa mungkin untuk menyelesaikan masalah yang ditinggalkan Ayahanda! Namun, saya hanyalah perempuan biasa! Saya tidak paham dengan politik! Bahkan kemampuan pedang saya hanya rata-rata! Asal Anda tahu, siapa juga yang mau mengemban masalah ini! Siapa yang mau!! Saya juga ingin melempar ini semua kepada adik-adik saya! Saya juga ingin bersantai dan bertingkah masa bodoh seperti mereka! Tapi …. Tapi! Tuan Odo …, itu tidak bisa …. Mereka terlalu muda untuk memahami tanggung jawab ini. Saya adalah anak tertua di Keluarga Stein, karena itulah … semua ini harus saya emban sampai akhir ….”
Unek-unek yang Ri’aima pendam keluar lepas, bersama air mata dan membuat kedua kaki perempuan tersebut lemas. Melepaskan kerah Odo, Putri Sulung Keluarga Stein itu pun terduduk lemas di atas lantai. Menangis tersedu-sedu, menundukkan wajah dan benar-benar menunjukkan sisi lemahnya.
Para pelayan yang sedang bekerja di sekitar halaman menatap ke arah mereka, tampak cemas dan ingin membantu. Namun, mereka semua paham tidak bisa melakukan hal tersebut. Sebab itulah, mereka terdiam di tempat dan hanya bisa menatap dalam hening.
“Aku tahu semua itu ….” Odo berlutut di hadapan perempuan rambut biru pudar tersebut. Sembari mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Ri’aima, pemuda itu perlahan mengangkat dagunya dan kembali berkata, “Berbeda dengan kau yang memiliki orang lain di keluarga, aku adalah Putra Tunggal. Aku sendirian. Sebab itulah, Aku sangat paham beban tersebut melebihi dirimu.”
“Kalau begitu, tolong … tolong beritahu saya! Apa yang seharusnya saya lakukan? Ayahanda sama sekali tidak mengajari itu kepada saya …. Ia selalu berkata bahwa yang pantas memimpin adalah laki-laki …. Baik Ayahanda ataupun Ibunda, mereka …. Mereka tidak pernah sekalipun menaruh harapan pada saya.”
Odo hanya terdiam mendengar itu. Sembari mengangkat dagu Ri’aima semakin tinggi dan memaksanya bertatapan, pemuda rambut hitam tersebut memasang senyum lebar dan menawarkan, “Serahkan dirimu kepadaku, Ri’aima. Setelah kau berpasrah diri, aku berjanji akan menyelesaikan semua masalah di Kota Rockfield.”
“Serah … kan? Berpasrah diri?”
Wajah sedih Ri’aima dengan cepat dipenuhi kebingungan. Ia sesaat tidak paham maksud dari perkataan Odo. Bagi perempuan yang hanya berlagak sok cerdas dan kuat tersebut, untuk bisa memahami perkataan itu cukuplah sulit. Terlebih lagi saat perasaannya sangat kacau setelah melepaskan semua kekeruhan hati.
“Percayalah padaku ….” Odo berhenti mengangkat dagu Ri’aima. Sembari memasang senyuman lebar dan hangat, ia melerakkan kedua tangan ke pundak perempuan tersebut dan kembali berkata, “Jangan ragu akan perkataanku dan patuhi. Jika kau melakukan itu, akan aku jamin Keluarga Stein aman dan kota kembali seperti semula.”
__ADS_1
Sebuah perjanjian yang ditawarkan oleh sang Iblis, itulah yang Ri’aima rasakan saat mendengar tawaran Odo. Dirinya tahu bahwa pemuda itu pasti sudah merencanakan sesuatu setelah mencari informasi semalaman di Kota.
Percakapan panjang, kalimat-kalimat yang menekan dan mengekang, serta tingkah yang seakan menunjukkan sedang murka. Ri’aima mulai menyadari bahwa semua itu hanyalah sebuah kepalsuan yang Odo tunjukkan, kebohongan murni yang diarahkan untuk membuat dirinya menangis dan pasrah.
Tetapi ⸻ Meskipun Ri’aima telah menyadari hal tersebut, ia tetap menatap dengan penuh rasa berharap dan ingin percaya. Terlalu lelah dengan semua masalah yang ada, letih dengan tanggung jawab yang dipikul, dan muak dengan orang-orang di sekitarnya. Semua perasaan tersebut bercampur aduk di dalam benak, lalu menuntun perempuan rambut biru pudar tersebut untuk mengangguk.
“Baiklah …, saya ⸻”
Di tengah momen tersebut, Agathe tiba-tiba melangkah keluar dari dalam Mansion dan seketika langsung terkejut melihat kedua orang yang berada di teras. Wanita itu tanpa sadar memberikan tatapan heran, sesaat lupa bahwa dirinya harus berpura-pura gangguan mental di hadapan sang Putri.
Ri’aima yang menghadap ke dalam Mansion tentu saja melihat itu. Meski Odo berlutut di hadapannya dan menghalangi, perempuan rambut biru tersebut sedikit mendongak saat Agathe datang dan melihat ekspresi terkejut pada sang Ibu.
Namun sebelum Ri’aima sempat bertanya atau bahkan mengeluarkan suara, Odo segera berdiri dan menawarkan tangan kepada perempuan rambut biru pudar tersebut. “Mari bangun, Nona Ri’aima,” ujar pemuda itu seakan kejadian sebelumnya tidak terlalu membekas dalam hati.
Dalam bingung Ri’aima hanya bisa meraih uluran tangan tersebut, lalu berdiri dengan wajah bengong harus melakukan apa. Ia sekilas menatap ke arah Agathe, namun dengan segera berpindah ke arah Odo karena secara insting merasa lebih bergantung pada pemuda tersebut.
“Tuan Odo …, Ibunda⸻?”
“Tenang saja, kau sudah setuju dengan tawaran ku ….” Odo mengusap air mata Ri’aima dengan jari telunjuk, lalu sembari memasang senyum ringan kembali berkata, “Aku pasti akan menyelesaikan masalah di Kota Rockfield. Aku berjanji ….”
Setelah mengatakan hal tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke perlahan menoleh ke arah Agathe dan sekilas memasang senyum tipis. Seakan-akan memang dirinya melakukan semua hal tersebut hanya untuk mengejek wanita itu.
Agathe seketika memasang wajah acuh dan sepenuhnya berakting tidak peduli. Wanita dengan Maxi Dress merah tersebut seketika kembali berpura-pura gangguan mental, lalu mengacuhkan Ri’aima dan Odo dengan berjalan melewati mereka. Ia pun berhenti di ujung teras dan terdiam di sana tanpa mengeluarkan satu kata pun.
Melihat hal tersebut, Ri’aima mulai menyadari kejanggalan yang ada. Perempuan rambut biru pudar itu sempat merasa ingin mengajak Ibunya tersebut berbicara, hendak menepuk pundak wanita tersebut dari belakang dan memanggil.
Namun, sebelum melakukan itu tangan Ri’aima ditarik Odo. Pemuda rambut hitam itu memaksa sang Putri Sulung dari Keluarga Stein tersebut untuk menghadap ke arahnya, lalu melempar senyum kecil yang tampak palsu.
“Mari kita lanjutkan pembicaraan di dalam. Mungkin Nyonya Agathe hanya ingin mencari udara segar di sini, sebaiknya kita tidak mengganggu beliau.”
Ri’aima menangkap maksud Odo yang tidak ingin berada di tempat tersebut lebih lama lagi. Perempuan rambut biru pudar tersebut mengangguk, lalu ia pun berjalan mengikuti sang pemuda masuk ke dalam Mansion untuk melanjutkan pembicaraan.
Di tinggal sendirian di teras, Agathe yang menyembunyikan wajahnya dari mereka dan benar-benar merasa terkejut. Ia sebelumnya melangkah keluar dari Mansion bukan karena tanpa alasan, atau bahkan tidak tahu Odo dan Ri’aima sedang berada di teras. Saat mendengar suara marah Putrinya di teras, Agathe segera mendatangi dan tanpa berpikir dua kali langsung membuka pintu depan. Karena itulah, sebelumnya wanita tersebut sempat lupa bahwa harus berpura-pura gangguan mental di hadapannya.
“Perasaan apa ini? Saya ….”
Agathe meletakkan tangan kanan ke depan dada, terdiam membisu dengan tampang bingung. Pada saat yang sama, dirinya juga merasa sedikit lega setelah mengetahui Putrinya masih baik-baik saja. Meski pernah berkata rela mengorbankan Putra dan Putrinya demi membalaskan dendam, namun naluri keibuan memang masih tertinggal di dalam benak wanita rambut biru pudar tersebut.
Menyadari perasaan itu dengan jelas, layaknya seorang Ibu dirinya tidak ingin nasib buruk menimpa Ri’aima. Agathe tidak ingin melihat sang Putri jatuh karena cinta, lalu mempercayai lelaki dari keluarga bangsawan lain dan merasakan pengkhianatan. Sang Nyonya Rumah tidak ingin melihat darah dagingnya sendiri bernasib naas sama seperti dirinya saat muda.
“Odo Luke ….” Membulatkan keputusan dalam hati, sang Nyonya Rumah berbalik ke arah pintu Mansion di mana Odo dan Ri’aima telah pergi. Sembari memasang sorot mata datar, wanita rambut biru pudar tersebut mulai mengerutkan kening dan bergumam, “Ternyata kamu sama saja dengan pria bangsawan lain, kamu hanya bisa mementingkan diri sendiri dan menggunakan semuanya …. Baiklah, kalau memang seperti itu cara kamu bermain.”
Salah satu pelayan yang sebelumnya hanya terdiam menghampiri sang Nyonya Rumah. Ia membungkuk hormat kepadanya, lalu sembari memasang wajah cemas berkata, “Tolong maafkan saya, Nyonya. Saya sudah berusaha mencegah Nona Ri’aima dan memintanya masuk, namun ia bersikeras menunggu Tuan Odo …. Kalau saya bisa membujuknya, mungkin Nona ….”
“Ini bukan salah kamu ….” Agathe menghela napas, lalu sembari memejamkan kedua mata kembali berkata, “Saya sudah meremehkan pemuda itu. Setelah pemuda itu pergi tadi malam, saya seharusnya sudah sadar bahwa ia pasti akan mengetahui fakta tersebut. Namun, siapa yang mengira kalau Putra dari sang Penyihir Cahaya akan melakukan langkah yang sangat berani dengan memenangkan hati Ri’aima.”
“Setelah ini, apa yang sebaiknya saya lakukan, Nyonya Agathe?”
“Untuk sekarang awasi mereka ….” Agathe menoleh ke arah pelayan di sebelahnya, lalu sembari menghela napas kecil menambahkan, “Setelah ini, seharusnya mereka berdua akan pergi ke balai kota untuk menemui para pejabat lama dan pejabat baru. Saya rasa, sepertinya pemuda itu juga sudah membuat langkah lagi tadi malam.”
“Sesuai perintah Anda, Nyonya Agathe.”
ↈↈↈ
__ADS_1