
Musim panas ⸻ Waktu penuh keringat lengket, mempererat persahabatan, dan menjelajah ke pelosok tempat untuk menambah pengalaman bagi kaum muda. Saling bergandengan tangan dengan erat, sembari tersenyum bersama melewati kesulitan.
Lalu, pada akhirnya hasil memuaskan akan didapatkan mereka. Sebagai balasan atas semua usaha serta keringat yang sudah dicurahkan. Seperti itulah seharusnya musim panas berlangsung, penuh dengan kebersamaan dan kehangatan.
Namun, apa yang mungkin bisa dicapai dalam musim panas tidak pernah menyentuh kehidupan Ri’aima. Layaknya cahaya matahari yang terhalang kabut saat pagi datang ke Kota Pegunungan, kehidupan perempuan rambut biru pudar tersebut pun tidak akan tersentuh oleh kehangatan musim panas. Entah itu dulu ataupun sekarang, itu tidak berubah sama sekali.
Sembari melangkahkan kaki menuruni anak tangga di jalan utama Kota Rockfield, Putri Sulung Keluarga Stein tersebut kembali mengingat masa kekanak-kanakan. Ketika dirinya masih lugu dan naif, juga masih bergantung kepada orang tua yang tidak pernah menaruh harapan kepadanya.
Tidak pernah diharapkan oleh kedua orang tua, tersingkirkan dalam keluarga dan hanya bisa berpasrah dalam fakta bahwa dirinya adalah perempuan yang tidak diinginkan. Bagi Oma Stein yang merupakan Ayahnya sekaligus Kepala Keluarga Stein, anak laki-laki adalah hal yang sanga didambakan. Karena itulah, sebagai anak pertama dan perempuan Ri’aima dipandang tidak berarti sejak masih kecil.
Meski Kerajaan Felixia adalah Matrilineal yang mengatur keturunan berdasarkan garis keluarga Ibu, namun sistem tersebut hanya berlaku ketat untuk Keluarga Felixia saja. Namun bagi sebagian besar bangsawan yang ada di Kerajaan, anak laki-laki adalah sesuatu yang dijunjung tinggi sebagai pewaris dari keluarga.
Memang ada beberapa bangsawan yang tidak terlalu memedulikan jenis kelamin dalam pewarisan. Namun, itu hanyalah terbatas bagi mereka bangsawan yang ikut dengan Keluarga Felixia ketika pembentukan Kerajaan. Bagi bangsawan yang dulunya masuk ke dalam Kerajaan Vasal, mereka sampai sekarang dengan teguh masih memegang erat cara pandang bahwa pewaris keluarga haruslah laki-laki.
Sebab itulah, Ri’aima yang merupakan anak perempuan tidak diharapkan oleh Oma Stein. Bahkan karena cara pandang yang ada, sang Ibu pun tidak terlalu memberikan perhatian kepadanya. Smpai-sampai Ri’aima sendiri tidak pernah secara langsung merasakan kasih sayang kedua orang tua.
Semua kebutuhan dan barang-barang yang diinginkan memang terpenuhi, bahkan Ri’aima memiliki kebebasan yang lebih jika dibandingkan perempuan dari keluarga bangsawan lain. Meski seorang perempuan, ia pun diperbolehkan untuk mengasah ilmu pedang lebih dalam dan bahkan berlatih di barak yang kebanyakan diisi oleh para pria.
Meski seorang perempuan dari kalangan bangsawan dan keluarganya tidak memiliki kewajiban untuk melahirkan orang yang kuat, Ri’aima benar-benar dibiarkan merusak kedua tangannya dengan pedang.
Tidak memiliki bakat dalam ilmu pedang, hanya rata-rata, dan waktu serta usaha yang diluangkan pun tidak ada yang menjamin akan terbalas. Sepenuhnya Ri’aima memahami hal tersebut, namun perempuan itu tetap menyibukkan diri dengan ilmu pedang dan tidak mendalami politik.
Ia mengira tidak akan pernah terjun ke dunia para bangsawan yang busuk, sebab itulah pengetahuan tentang tata cara melakukan lobi, menyusun strategi politik, psikologi dan filosofi manusia, serta membaca gestur orang lain tidak dirinya pelajari semasa kecil. Satu-satunya pengetahuan miliknya yang bisa digunakan untuk politik adalah pembentukan koalisi, sebuah fakta tentang kuantitas bisa mengalahkan kualitas.
Namun, dalam penerapannya tidaklah semudah di buku pelajaran. Setiap orang memilih kubu karena alasan mereka masing-masing. Entah itu didasari oleh psikologi ataupun kondisi, Ri’aima tidak bisa memahaminya.
Karena itulah, dari semua pejabat lama yang ada di Kota Pegunungan hanya beberapa saja yang bisa dirinya gandeng. Selebihnya, sebagian besar menyerah dan beberapa bahkan ada yang berpindah pihak dengan menyetujui petisi untuk menurunkan Keluarga Stein dari status penguasa.
Sembari terus melangkah tanpa memiliki keteguhan dalam hati, Ri’aima untuk sesaat kembali teringat dengan pembicaraannya bersama Odo. Itu membuat langkahnya terhenti, lalu memikirkan pemuda itu lebih dalam. Bukan tentang rencana yang telah diberikan, namun tentang Odo dalam lingkup individu.
“Meski dia jauh lebih muda dari saya, kenapa Tuan Odo bisa berpikir setajam itu? Apa karena dia tidak terbebani dan bisa berpikir dengan jernih? Atau ….”
Dalam lamunan, perempuan rambut biru pudar tersebut menundukkan kepala dan sedikit menepi ke pinggir jalan untuk membiarkan orang-orang lain lewat. Di sepanjang jalan yang mengarah ke Kediaman Stein itu kebanyakan diisi oleh rumah-rumah dari para pejabat, baik itu lama ataupun baru. Saat malam tempat tersebut memang sering diisi oleh gelandangan, namun ketika pagi pemandangan suram benar-benar terhapus dan hanya ada kemegahan yang mengisi.
Beberapa pejabat yang baru berangkat dan lewat melihat ke arah Putri Sulung Kediaman Stein berdiri tersebut. Dengan tatapan heran, tentu saja mereka sedikit heran karena menemui perempuan rambut biru pudar tersebut berdiri di pinggir jalan seperti itu. Tetapi, dari semua orang yang lewat tidak ada satu pun dari mereka yang menanyakan kondisi atau sekadar menyapa.
Menyadari tatapan dingin mereka, Ri’aima kembali melangkahkan kaki dan lanjut menuruni anak tangga untuk pergi ke balai. Menghela napas ringan, sorot mata perempuan rambut biru pudar tersebut berubah muram dan wajahnya seakan dipenuhi rasa muak.
“Untuk apa saya berusaha sekeras ini? Memangnya usaha saya akan terbalaskan?” benak Putri Sulung Keluarga Stein. Ia sesekali melirik ke arah para pejabat di sekeliling yang baru berangkat, merasa benci dengan mereka yang begitu mudahnya berpindah pihak meski selama bertahun-tahun disokong oleh Keluarga Stein.
Di tengah hatinya yang keruh, tanpa sadar Ri’aima telah sampai di balai kota dan kedua kaki menginjak permukaan lahan luas penuh lantai marmer tersebut. Ia untuk sesaat kembali terhenti, perlahan mengangkat wajah dan merasa kagum dengan pemandangan indah yang ada.
Kerumunan orang yang lalu-lalang, infrastruktur yang terawat, dan arsitektur yang megah. Ri’aima kembali diingatkan, bahwa dirinya memang pernah merasa bangga sebagai Putri dari keluarga bangsawan yang memimpin Kota Pegunungan.
Meletakkan tangan ke ujung gagang pedang di pinggang, perempuan rambut biru pudar tersebut berusaha menegakkan posisi berdiri dan berjalan dengan bangga. Tanpa mempedulikan tatapan atau pendapat orang lain terhadap dirinya, perempuan itu memutuskan hanya perlu menjalankan kewajibannya sebagai seorang bangsawan.
“Itu benar, Tuan Odo sudah berjanji akan mengembalikan kondisi Kota dan mempertahankan Keluarga Stein. Meski ini hanya sebuah ketergantungan sepihak, itu tidak masalah. Ayahanda juga pernah bilang, bergantung pada yang kuat dan meniru mereka bukanlah hal yang salah. Itu merupakan insting bertahan hidup ….”
Saat Ri’aima hampir sampai di Gereja Utama, ia melihat seorang perempuan dengan pakaian biarawati berdiri layaknya sedang menunggu. Ia tampak sedikit berbeda dengan biarawan atau biarawati lain di sekitar gereja, tampak tidak sedang sibuk bekerja dan hanya berdiri menunggu. Di antara lalu-lalang yang ada, perempuan dengan pakaian biarawati itu melihat ke kanan dan kiri seakan-akan sedang mencari seseorang di antara keramaian.
Saat melihat wajah perempuan itu dan tahu bahwa dia adalah Rosaria, Ri’aima segera menghampiri. “Maaf membuat Anda menunggu, Nona Rosa. Sudah menunggu lama?” sapanya dengan ramah.
Namun saat Ri’aima melihat mimik wajah Pendeta Wanita tersebut yang tampak sangat mengantuk, niat berbincang dengan ramah seketika berubah menjadi bingung dan heran. Ia sampai menghentikan langkah sebelum sampai di hadapan Rosaria, lalu menurunkan kedua alis dengan sorot mata datar.
“Ah, akhirnya Nona Ri’aima sampai juga.” Rosaria memasang senyum lemas. Sembari berjalan mendekat, perempuan dengan mata biru indah tersebut kembali berkata, “Kalau Anda datang, berarti Tuan Odo berhasil membujuk Anda, bukan? Mari masuk ke dalam supaya kita bisa melanjutkan pembicaraan.”
“Nona Rosa kenapa?” Ri’aima sedikit cemas, segera mendekatinya dan memegang kedua sisi pundak Pendeta Wanita tersebut dan memastikan, “Anda kurang tidur, ya? Atau belum sarapan?”
“Dua-duanya, Nona. Saya belum makan dan belum tidur dari malam.”
Jawaban tersebut langsung menuntun Ri’aima kepada satu kesimpulan. Sembari mengerutkan kening dan menelan ludah dengan berat, perempuan rambut biru pudar tersebut kembali memastikan, “Apa … Anda berdiskusi dengan Tuan Odo?”
“Hmm, itu benar.” Rosaria menarik napas dalam-dalam dan berusaha menahan kantuk. Sembari memberikan senyum ramah layaknya orang puritan pada umumnya, perempuan dengan pakaian biarawati tersebut berkata, “Beliau mendatangi saya tadi malam dan menjelaskan banyak hal, tentu saja juga tentang rencana Nona Ri’aima.”
__ADS_1
“Semalaman?”
“Itu benar, semalaman.”
Ri’aima sedikit merasa janggal. Kalau memang Odo telah berdiskusi dengan Rosaria semalaman, mengapa pemuda rambut hitam tersebut tidak tampak mengantuk ketika kembali ke Kediaman Stein. Mengarik napas dalam-dalam dan menyingkirkan rasa penasaran tersebut ke sudut kepala, Ri’aima kembali fokus dengan biarawati di hadapannya.
“Kalau begitu, bukankah Anda sebagainya istirahat dulu daripada menunggu saya?” Ri’aima mengangkat tangan dari kedua pundak Rosaria, lalu sembari menatap cemas perempuan rambut biru pudar tersebut berkata, “Saya bisa mendatangi Anda nanti ….”
Mendengar perkataan itu, mimik wajah ramah Rosaria seketika berubah datar dan tatapan pun menjadi tajam. “Memangnya Nona Ri’aima sekarang memiliki waktu?” tanyanya dengan suara pelan.
Perkataan tersebut membuat Ri’aima tersentak sampai-sampai mengambil satu langkah ke belakang. Meski telah lama mengenal Pendeta Wanita tersebut, itu pertama kalinya ia melihat Rosaria memasang ekspresi serius.
“Nona Rosaria benar ….” Putri Sulung Keluarga Stein meneguhkan hati kembali, lalu sembari menatap lurus berkata, “Baiklah, kita akan berbicara di mana? Saya rasa di gereja bukan pilihan tepat karena terlalu ramai.”
“Tidak apa-apa ….” Rosaria berbalik, lalu sembari berjalan ke arah gereja berkata, “Kita bisa menggunakan ruang pengakuan dosa.”
.
.
.
.
Meski bukan akhir pekan, gereja masihlah tampak ramai sebagai pusat peribadatan. Para biarawan dan biarawati lalu-lalang bersama anak-anak yatim piatu, begitu pula beberapa jamaah taat yang datang untuk berdoa di tempat tersebut. Di antara ramainya gereja yang juga berfungsi sebagai tempat penampungan anak-anak buangan, mereka berdua menggunakan ruang pengakuan dosa sebagai tempat pembicaraan.
Ri’aima duduk di bagian ruang untuk sang pengaku, sedangkan Rosaria berada di bagian untuk pendengar pengakuan dosa. Hanya dengan dibatasi tirai kain tipis berwarna hitam, mereka menatap satu sama lain dan memulai pembicaraan.
“Untuk membuka, saya terlebih dahulu akan menjelaskan rencana Tuan Odo.”
Melalui bagian bawah tirai yang membatasi, Rosaria menyodorkan perkamen berisi daftar pejabat lama yang beberapa di antaranya telah ditandai dengan tinta. Ri’aima pun menerima lembar daftar tersebut, lalu memeriksa sekilas dan tampak bingung dengan isinya.
“Ini daftar pejabat lama, ‘kan? Dan nama-nama yang ditandai ini, apa kita harus menyingkirkan mereka?”
“Menyingkirkan, ya …. Perkataan Nona Ri’aima sangat berbahaya.” Suara Rosaria terdengar cemas. Setelah menghela napas ringan, Pendeta Wanita tersebut lanjut mulai menjelaskan, “Itu adalah daftar orang yang harus Anda ajak kerja sama. Menurut Tuan Odo, dari lima belas nama yang ada di sana, Anda paling tidak harus bisa mengajak tiga saja. Terutama Nona Racine yang menjadi prioritas.”
“Racine?” Ri’aima kembali memeriksa perkamen yang dipegang, lalu mencari nama tersebut dan memastikan, “Racine Quidra? Bukannya beliau putri mendiang Pak Huqin?”
“Itu benar, dia adalah putri Kepala Prajurit sebelumnya.”
“Bukannya Nona Racine bukan seorang bangsawan atau bahkan dari kalangan pejabat? Meski Keluarga Quidra adalah salah satu Knight di Kota ini, tetap saja yang mendapatkan gelar itu adalah Pak Huqin dan itu belum diwariskan kepada Nona Racine.”
“Apa Anda cukup dekat dengan Nona Racine?” tanya Rosaria memastikan.
“Saya tidak dekat dengan Nona Racine, namun dengan kakaknya, Tuan Iota. Kami waktu kecil sering bermain bersama ….” Ri’aima menundukkan wajah dan kembali memasang wajah sedih karena mengingat hal yang tidak ingin diingat. Menarik napas dan menyeka mata sebelum air mata mengalir, perempuan rambut biru tersebut melanjutkan pembicaraan dan berkata, “Kalau tidak salah, gelar Knight Keluarga Quidra tidak segera diwariskan karena Calon Pewaris juga meninggal dalam insiden tersebut, ‘kan? Tuan Iota sebagai ahli waris meninggal dunia, karena itulah butuh pengesahan dari jabatan yang lebih tinggi untuk pertimbangan pemberian gelar kepada Nona Racine.”
“Itu benar ….” Rosaria sedikit cemas dengan nada sedih yang digunakan Ri’aima selama berbicara. Paham bukan saatnya mengusik masalah pribadi lawan bicaranya, Pendeta Wanita tersebut kembali menjelaskan, “Dalam kasus tersebut, ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi pada Keluarga Quidra. Pada kemungkinan terburuk, bisa saja gelar Knight mereka sepenuhnya diambil dan diberikan kepada Keluarga yang lebih layak.”
“Hmm, saya mulai melihat arah pembicaraan.” Ri’aima mengangguk kecil. Sembari menyangga dagu dengan punggung tangan kanan, perempuan rambut biru pudar tersebut berspekulasi, “Berarti alasan Tuan Odo ingin mengajaknya adalah untuk mengembalikan gelar tersebut, bukan? Kalau Nona Racine mendapatkan gelar Knight Keluarga Quidra, kita akan memiliki kekuatan untuk menekan Prajurit Elite.”
“Itu benar. Karena itulah, Nona Racine dari Keluarga Quidra menjadi tujuan utama hari ini.”
Mendapat kesimpulan tersebut, Ri’aima merasa sedikit janggal karena hal itu tidaklah cukup untuk memenangkan lajur politik yang ada di Kota Pegunungan. Meski Keluarga Quidra kembali mendapatkan gelar Knight mereka, itu masih kalah jauh dengan status Prajurit Elite yang sekarang ini menjabat sebagai Kepala Prajurit dan memiliki wewenang dari Raja Gaiel.
“Apa dengan hal tersebut kita bisa menang melawan Prajurit Elite itu?” tanya Ri’aima meragukan.
“Sebaiknya Anda coba singkirkan dulu pemikiran menang dan kalah.” Rosaria sedikit membuka tirai hitam yang ada di antara mereka, lalu sembari melempar senyum kecil kembali menyampaikan, “Percayalah pada Utusan. Anda datang menemui saya karena telah menanam kepercayaan pada beliau, bukan?”
Kata ‘Utusan’ yang digunakan Rosaria ditangkap dalam artian berbeda oleh Ri’aima. Kedua mata perempuan rambut biru pudar tersebut terbuka lebar untuk sesaat setelah mendengar itu. Dalam benak, ia malah mengira bahwa alasan Odo datang ke Kota Pegunungan mamang sebagai utusan yang dikirim oleh Keluarga Luke.
Meski sebenarnya Rosaria menggunakan kata itu dengan maksud lain, Ri’aima benar-benar salah menangkap maksudnya. Dengan nada penuh rasa percaya, perempuan rambut biru pudar itu pun berkata, “Benar juga. Beliau adalah utusan, sudah sewajarnya saya sebagai orang dari Keluarga Stein mempercayainya.”
Rosaria sedikit bingung mendengar jawaban tersebut, merasa kalau Ri’aima salah menangkap maksud perkataanya. Awalnya ia mengatakan hal itu karena ingin menyampaikan kepada Putri Sulung Keluarga Stein bahwa Odo adalah utusan ilahi sama seperti Mavis. Namun saat melihat reaksi salah tanggap tersebut, Rosaria malah tidak meluruskan karena merasa itu tidak perlu.
Memasang senyum tipis, Rosaria sedikit memalingkan pandangan dan sedikit merasa bahwa Ri’aima memiliki cara pandang yang sedikit unik. Setelah menarik napas dalam-dalam dan kembali menatap lawan bicara, Pendeta Wanita itu kembali memastikan, “Apakah Anda sudah bisa menyingkirkan pemikiran tentang menang dan kalah itu? Kalau sudah, saya akan melanjutkan penjelasan rencananya.”
“Hmm?” Ri’aima sedikit terkejut mendengar itu, lalu dengan tatapan datar mengeluh, “Kalau masih ada penjelasan, kenapa tidak jelaskan saja semuanya?”
“Saya diminta Tuan Odo untuk menjelaskannya secara bertahap ….” Rosaria kembali menutup tirai kain untuk menghindari kecurigaan orang lain yang lalu-lalang di dekat tempat pengakuan. Setelah tertawa kecil di balik tirai, Pendeta Wanita tersebut pun kembali menanyakan, “Bukannya Nona sendiri masih ragu? Tuan Odo tidak ingin Nona turun di tengah rencana, karena itulah saya menunggu Anda sepenuhnya percaya pada beliau.”
“Saya percaya, kok ….” Ri’aima menggerutu ringan, lalu sembari mengerutkan kening kembali berkata, “Memangnya hanya dengan mengajak Nona Racine ke pihak kita rencana ini bisa berhasil? Bukannya saya meragukan, hanya saja bukannya tujuan dari rencana ini adalah sepenuhnya menghilangkan pengaruh dari Prajurit Elite yang datang ke Kota? Setelah pengaruhnya hilang, kita bisa mengembalikan pengaruh pejabat lama dan menyeimbangkan Kota.”
__ADS_1
“Hmm? Anda mendengar hal seperti itu dari Tuan Odo?” tanya Rosaria dengan bingung.
“Eh?” Ri’aima ikut bingung, lalu sembari menyipitkan mata memastikan, “Apa Tuan Odo menyampaikan hal berbeda?”
“Itu benar ….” Rosaria untuk sesaat berhenti berbicara, lalu mulai sedikit ragu harus menyampaikan atau tidak. Merasa tidak baik menyembunyikan sesuatu selama bekerja sama dengan Putri Sulung Keluarga Stein itu, dari balik tirai kain Pendeta Wanita tersebut dengan jelas berkata, “Tuan Odo berniat untuk menjadikan Anda seorang Walikota. Menggantikan Tuan Oma, Anda akan menduduki penguasa di Kota Pegunungan ini.”
“A⸻!?”
Saking terkejut Ri’aima tidak bisa berkata-kata, mulutnya menganga dan hanya terdiam karena mendengar hal tersebut. Ia sama sekali tidak mengira kalau Odo akan menetapkan tujuan sampai sejauh itu, sedikit heran dan dalam hati bertanya-tanya tentang alasannya.
Dengan suara sedikit berat Ri’aima bertanya, “Mengapa Tuan Odo berpikir seperti itu? Bukannya mengembalikan Kota ke kondisi seperti sediakala sudah cukup?”
“Memang sudah cukup. Namun, untuk itu Nona perlu menduduki posisi tersebut.”
“Mengapa?”
“Entahlah, saya juga tidak terlalu yakin ….”
Perkataan Rosaria terputus. Dari siluet di balik tirai kain tipis, Ri’aima melihat Pendeta Wanita itu bergerak-gerak seperti sedang mencari sesuatu. Setelah mendapatkan barang yang dicari, Rosaria kembali menyodorkan perkamen lain kepada Putri Sulung Keluarga Stein.
“Ini apa lagi, Nona Rosa?” tanya Ri’aima sembari mengambil perkamen tersebut.
“Bukti mobilitas dana yang dikeluarkan Prajurit Elite itu kepada Pihak Religi. Seperti yang Anda lihat, jumlahnya tidak sedikit dan dia meminta kita untuk memberikan penyetujuan penurunan status Keluarga Stein.”
“Sebuah suap, ya ….”
Ri’aima sedikit paham mengapa Prajurit Elite yang masuk ke dalam kubu pejabat baru mengajukan hal tersebut. Meskipun pihak mereka memenangkan petisi dan suara masyarakat terbukti secara syah menuntut penurunan Keluarga Stein, jika itu tidak disetujui oleh Pihak Religi maka proses akan menjadi panjang karena harus menunggu persetujuan Pemerintah Pusat. Namun jika Pihak Religi di Kota Rockfield memberikan persetujuan, proses penurunan akan dilakukan secara religius dan langsung dilakukan oleh Imam Kota.
Namun, saat melihat permintaan dan bukti mobilitas dana tersebut Ri’aima merasa sedikit heran. Untuk seorang Prajurit Elite dan bahkan dibantu oleh para pejabat baru, dana yang dikeluarkan sangatlah banyak dan tidak wajar.
“Apa Nona menyadarinya?” tanya Rosaria.
“Hmm, kemungkinan besar ini dana dari Raja Gaiel.” Ri’aima sedikit kehilangan rasa percaya diri. Jika memang kehendak untuk menurunkan Keluarga Stein dari status bangsawan berasal dari Penguasa Kerajaan Felixia sendiri, ia tidak memiliki keberanian untuk menentang. Sembari menundukkan kepala Putri Sulung Keluarga Stein berkata, “Apa … Yang Mulia berharap Keluarga Stein menyerahkan kekuasaan ini? Daripada kita memperpanjang permasalahan dan membuat masyarakat terombang-ambing, bukannya lebih baik Keluarga Stein turun saja?”
Rosaria dengan jelas mendengar deklarasi kekalahan penuh keraguan tersebut. Tidak membantah atau menghiburnya, Pendeta Wanita itu kembali menyampaikan, “Saya rasa memang benar seperti itu. Melihat kondisi hubungan dengan negeri tetangga saat ini, Yang Mulia tidak bisa membuang-buang waktu dan mengambil risiko. Mungkin … dari pada membiarkan keluarga bangsawan yang tidak bisa menjalankan fungsinya, beliau ingin menyerahkan Kota kepada orang kepercayaannya sendiri.”
“Kalau memang ini kehendak Yang Mulia, lantas bukannya tindakan kita bisa dianggap pemberontakan⸻?”
“Saya tidak peduli!” potong Rosaria dengan tegas. Dari balik tirai kain tipis, matanya menatap tajam dan dengan penuh keyakinan menyampaikan, “Saya ada di pihak Tuan Odo. Entah itu kehendak Yang Mulia atau bukan, saya tidak peduli. Saya akan menjalankan rencana ini dan membuatnya berhasil ….”
Ri’aima sedikit terkejut mendengar perkataan penuh loyalitas tersebut keluar dari mulut seorang puritan. Semakin menundukkan wajah dan mulai murung, Putri Sulung Keluarga Stein hanya terdiam dengan keraguan mengusai benaknya.
“Kira-kira … jika Ayahanda yang menghadapi situasi ini, beliau akan melakukan langkah seperti apa?” gumam Ri’aima dengan murung.
“Tolong jangan manja ….” Mendengar perkataan yang terdengar seperti seorang pengecut itu, Rosaria dengan tegas membentak, “Nona Ri’aima sendiri bagaimana?! Apa Anda ingin diam dan tersingkirkan! Atau maju dan melawan? Tuan Oma ataupun Nyonya Agathe tidak ada di sini! Yang bisa berdiri di Keluarga Stein sekarang dan melawan hanya Nona!”
“Itu … benar. Saya tidak boleh seperti ini ….” Ri’aima mengangkat wajah dan meneguhkan hati sekali lagi. Meski dalam benak masih diisi rasa takut, ia paham harus melakukannya jika ingin melindungi Keluarga Stein. “Tolong lanjutkan penjelasan rencananya, Nona Rosa. Saya berjanji akan naik ke perahu ini sampai akhir!” ujarnya dengan suara tegas.
“Anda terlihat lebih baik,” ujar Rosaria meski tidak melihat wajah lawan bicaranya secara langsung. Setelah menarik napas dalam-dalam, Pendeta Wanita itu pun kembali berkata, “Seperti yang telah saya sebut, Nona Racine adalah kunci penting dalam rencana. Untuk agenda yang harus dipenuhi hari ini, apa yang perlu kita lakukan adalah mengajaknya sebelum siang atau sore nanti. Lalu, baru setelah itu kita bersama Tuan Odo akan pergi ke kantor pemerintahan untuk melakukan lobi.”
“Hmm, jadi apakah Anda punya rencana untuk membujuk Nona Racine? Apa Tuan Odo memberikan saran?”
“Sayang sekali untuk itu tidak ada. Tuan Odo hanya tahu namanya saja, jadi beliau tidak bisa memberikan saran. Bagaimana dengan Nona Ri’aima sendiri, bukannya Anda cukup dekat dengan kakaknya? Apa Anda tahu kepribadian Nona Racine?”
“Kurang lebih ….”
Setelah itu, mereka pun melakukan diskusi sebelum pergi menemui Racine Quidra dan membujuknya. Menguak latar belakang, kepribadian, dan situasi yang ada di sekitar Keluarga Quidra sekarang ini.
Dalam pembicaraan tersebut, Rosaria sendiri baru tahu bahwa Racine Quidra cukup terpukul setelah kehilangan Kakak dan Ayahnya. Bukan hanya itu saja, gosip buruk tentang istri Huqin yang merupakan Ibu kandung Racine pun sempat terdengar di kalangan pejabat Kota.
Meski itu tidak tersebar secara umum, namun kabar tentang Istri mendiang Kepala Prajurit sebelumnya yang melakukan tindakan prostitusi telah beredar. Tidak ada yang tahu pasti gosip tersebut beredar sejak kapan, namun dengan jelas beberapa orang dari kalangan pemerintah dan konglomerat membicarakannya.
Untuk alasannya sendiri, ada beberapa rumor bahwa tindakan yang dilakukan oleh Istri mendiang Kepala Prajurit sebelumnya bertujuan untuk mendapatkan perlindungan. Ada pula kabar yang menyatakan bahwa tindakan prostitusi itu dilakukan hanya untuk menghibur diri.
ↈↈↈ
Catatan Kecil:
Fakta 010: Saat ini, di Benua Michigan, Negara yang paling kuat adalah Moloia.
__ADS_1