Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[112] Flamboyan Akhir Zaman I - Solemnly Swear (Part 01)


__ADS_3

Meletakkan tangan ke depan mulut, menatap tajam dengan mata kemerahan. Dipanggil oleh petang, diculik pergi menuju kegelapan yang menyesatkan.


Iblis merupakan cerminan kejahatan⸻ Mereka membisikkan kalimat manis layaknya nektar, menutup mata dan telinga anak-anak dengan lembut, lalu mendekatkan mulut dan menghasut.


Berkata dengan hangat bahwa semuanya baik-baik saja. Tidak menegur ataupun mengingatkan, hanya membiarkan anak-anak itu jatuh ke dalam kegelapan. Sampai kelak berubah menjadi penghuni malam layaknya mereka.


Begadang, mendatangkan penyakit dan kantuk di siang hari.


Menjebak orang-orang dalam kegelapan, hidup layaknya kelelawar menyedihkan dan mulai berkata, “Malam kita sibuk.”


Mata memerah, tubuh menjadi kurus, dan senyum pun perlahan lenyap ditelan kekosongan. Hilang tenggelam dalam malam panjang yang menyesatkan.


Pada akhirnya, sosok yang mereka sebut Iblis takkan pergi saat pagi tiba. Dia bersemayam di dalam hati dan pikiran seseorang, lalu menggerogoti jiwa dan raga anak-anak dalam wujud orang dewasa.


Mengubah mereka menjadi iblis lain, kelak dipanggil oleh malam dan mulai keluyuran untuk mencari mangsa berikutnya. Sekali tertanam, siklus keburukan itu akan terus berputar tanpa akhir yang jelas.


Menyebar layaknya virus, merusak seperti kanker. Menghancurkan organ-organ penting dalam masyarakat, kemudian berakhir meruntuhkan moral mereka.


Lalu, pada puncaknya sebuah regresif peradaban akan terjadi.


Bukan karena bencana alam ataupun krisis iklim, melainkan oleh orang-orang mereka sendiri. Sebuah kebobrokan yang tidak dapat dipisahkan dari makhluk sosial.


Flamboyan yang menyesatkan orang-orang di malam hari. Sosok iblis yang tersenyum dalam kegelapan, lalu menatap tajam dengan mata merah mereka. Melambaikan tangan dengan ramah sembari berkata semuanya masih baik-baik saja.


Konsep kejahatan yang menular⸻


.


.


.


.


.


“Kisah selalu terjadi di masa lampau ….”


Dalam kegelapan, suara sang Perawan bergema mengantarkan sebuah pesan. Cahaya kebiruan dari kobaran api di lantai, mewarnai tempat itu dengan kesedihan dan tekad.


Namun, anehnya tempat tersebut terasa sangat senyap⸻ Hanya terdengar gema suara tetesan air, padahal tidak ada satupun sungai atau danau di sana. Sepenuhnya berupa daratan gersang, dipenuhi oleh kobaran api kering yang menyala-nyala.


Tubuhnya ringkih, penuh retak, dan kulitnya tampak membiru saat terpapar sinar dari kobaran api. Ia bukanlah mortal, makhluk primal, atau bahkan penduduk kayangan⸻


Perawan (Bikir) itu hanyalah makhluk rapuh yang dikutuk untuk meratapi kesepian.


Terlahir tanpa jasad, berupa kesadaran tunggal yang merangkak keluar dari kegelapan Laut Primordial. Ia terkadang bersinar kekuningan ataupun biru cerah, kemudian berubah putih pucat saat mencapai puncaknya.


Pada akhir umurnya, Perawan itu akan padam menjadi arang hitam dan lenyap dalam dentuman besar. Hancur menjadi butiran debu kosmik, lalu terlahir kembali saat waktunya tiba.


Tetapi, seluruh makhluk memandang gadis itu dengan cara yang berbeda.


Dia dikenal sebagai Awal Mula, akar dan pangkal dari segala semesta dan konsep yang ada di dalamnya. Bentuk tunggal dari sebuah awal.


Initial Knowledge⸻ Pengetahuan pertama yang muncul dalam kehampaan.


Menjadi sumber cahaya bagi seluruh kehidupan, awal dari sebuah keyakinan. Disembah oleh makhluk lain, dipuja oleh suatu bangsa, lalu diagungkan oleh keturunan mereka.


Dikenal sebagai The Originator, merujuk pada arti pencipta dan pencetus. Sosok yang melahirkan berbagai macam pengetahuan dan konsep ke seluruh semesta.


Mengetahui apa yang sedang terjadi, apa yang akan terjadi, apa yang sudah terjadi, dan apa yang seharusnya terjadi. Kemahatahuan sejati, berkobar dari ketidaktahuan dunia.


Ia secara tidak langsung ikut berperan dalam kelahiran makhluk-makhluk primal. Menyatukan bebatuan angkasa menjadi sebuah planet, lalu menyalakan padatan gas raksasa menjadi gugusan bintang.

__ADS_1


Menyusun segalanya menjadi sebuah rasi, menggerakkan jagat raya dalam putaran menuju akhir. Mengikuti aliran sungai kering setelah dentuman besar.


Kelahiran dan kematiannya menjadi awal dan akhir sebuah jagat raya.


Sang Perawan selalu duduk di sana, pada sebuah tempat gelap di mana semuanya akan berakhir. Ketika awal baru dimulai, ia akan membuka mata dan berbicara. Mengajak sang pemuda untuk bercerita, lalu menciptakan konsep baru untuk dunia berikutnya.


Ia selalu muncul dengan wujud seorang gadis, karena itulah dirinya disebut Perawan. Kulitnya pucat seperti tertutup abu, terbuat dari bahan mirip keramik, dan memiliki retak pada beberapa tempat.


Rambut berwarna hitam layaknya benang senar, terkadang terlihat sedikit kebiruan, dan ada kalanya berwarna putih gading. Bisa saja keriting dan panjang sampai punggung, namun kadang-kadang pendek lurus sampai bahu.


Kecuali wajah dan warna kulit, penampilan sang Perawan tidak menentu⸻


Bahkan, pakaian yang dikenakannya pun beragam.


Ia mengambil konsep dari dunia yang telah berakhir, lalu sedikit diubah untuk diterapkan ke dunia selanjutnya. Meski selalu tampil berbeda, dirinya cenderung mengenakan gaun panjang dengan motif sederhana saat bertemu sang pemuda.


Mangala, The Root of World⸻ Itulah nama pertama yang Perawan dapatkan dari entitas lain. Diucapkan oleh para Makhluk Primal, sosok-sosok perkasa yang tinggal di antara bintang dan kehampaan.


Magdala, Peak of Living Thing⸻ Nama itu diberikan oleh penduduk langit. Entitas yang datang dari luar persepsi Dimensi Utama, kelompok kesadaran individu dari alam lain. Hampir tidak bisa dikategorikan sebagai makhluk hidup, lebih mendekati zat yang memiliki kesadaran dan kecerdasan individu.


Mian, Witch of Purgatory⸻ Disampaikan oleh seorang pemuda dari kalangan mortal. Sosok manusia pertama yang berhasil menginjakkan kaki di akhir dunia, bertemu dengan sang Perawan dan berbicara dengannya.


Maisa, The Vestal of Knowledge⸻ Sebuah nama yang dipaksakan oleh pemuda yang sama, dari kalangan mortal yang berhasil menginjakkan kaki di akhir dunia untuk kedua kalinya. Tidak mengingat pertemuan pertama, hanya duduk dan mendengarkan sang Perawan bercerita. Karena itulah, pemuda itu memberikan nama tersebut secara paksa.


Malar, Maiden of The Primordial Sea⸻ Disampaikan oleh pemuda yang sama, datang untuk ketiga kalinya. Dia tidak mengingat pertemuan sebelumnya, namun mengenal sosok yang dirinya ajak bicara. Nama terakhir yang bisa didapat sang Perawan dari pemuda itu.


Kini⸻


Pada zaman di mana pertemuan suci itu telah dirusak, sang Perawan terduduk sedih dalam kesendirian. Diterangi api penyucian, merenung di antara kutukan dunia yang mendesak dirinya untuk berbuat berdosa. Melanggar sumpahnya sebagai Originator.


“Saat diriku ingin membuktikannya, itu menjadi kenyataan! Sebuah kisah yang akan terjadi, perjalanan menuju akhir yang kita takuti.”


Duduk di atas sebuah batu hitam berbentuk persegi layaknya takhta, sang Perawan memangku kedua tangannya dengan tenang. Termenung sembari memandangi kobaran api yang menyala pada lahan gersang, lalu memperlihatkan wajah sedih seakan merindukan seseorang.


Dari balik jubah abu-abu yang dikenakan, dua pasang tangan lainnya keluar secara bersamaan. Satu pasang mulai menyatukan telapak di depan dada seperti sedang berdoa, lalu satunya lagi membentuk simbol mudra yang terus berubah setiap menitnya.


Rambutnya berkibar lembut dalam keheningan⸻


Bukan karena hembusan angin, melainkan gas dari hasil pembakaran. Saat ada sesuatu yang musnah di tempat lain, itu akan muncul sebagai objek ekskresi di tempat tersebut untuk dimusnahkan. Menjadi kayu bakar bagi api penyucian.


Gumpalan hitam jatuh dari lubang gelap di langit-langit. Kobaran api biru berubah menjadi putih, melahapnya tanpa ampun sampai lenyap tanpa sisa.


Lalu, setelah itu kobaran Api Penyucian akan kembali menjadi biru.


Melepaskan partikel-partikel keemasan menuju lubang tempat gumpalan hitam itu jatuh, dikirim menuju dunia yang sedang berlangsung di tempat lain.


“Pertemuan kita adalah sebuah keajaiban, bahkan untuk diriku yang mampu mengatur segalanya. Jika mereka menganggap diriku cahaya bagi semesta, maka engkau adalah cahaya bagiku …. Harapan terakhir yang singgah di hati rapuh ini.”


Sang Perawan berhenti berdoa, butuh waktu sampai berabad-abad untuk memahami bahwa itu tidak berguna. Takkan ada yang datang untuk menyelamatkannya, apa yang bisa ia lakukan hanyalah mengambil tindakan dan melangkah.


Keempat tangannya kembali masuk ke dalam jubah, menyisakan sepasang tangan di atas pangkuan. Mengangkat wajah dan melihat lubang hitam di langit gelap, ia mulai melebarkan senyum dingin layaknya seorang penguasa.


“Jadi, setelah sekian lama akhirnya engkau mau bertindak?” Sembari mengangkat kedua tangannya, sang Perawan berhenti tersenyum dan berkata, “Diriku sudah lama menanti.”


Dari penjuru tempat, partikel cahaya kemasan mulai berkumpul di tangannya. Menyinari tempat gelap, dengan memadat dan membentuk sebuah mahkota. Bersinar terang layaknya sebuah mentari, menjamah penjuru tempat gersang, bahkan sampai memadamkan kobaran Api Penyucian dengan pancarannya.


Tempat gelap berubah menjadi keemasan, perlahan ditumbuhi rumput dan tanaman merambat. Pepohonan mengakar dengan cepat, lalu daratan mulai terbelah dan mata air pun muncul di antara hamparan hijau.


Pegunungan mulai timbul dari daratan yang terbentang. Tidak lama kemudian, makhluk hidup bermunculan di sekitar tempat tersebut dan menjadikannya habitat. Dimulai dari mikroba, berubah menjadi ikan, serangga, hewan darat, herbivor, karnivor, aves, dan mamalia.


Dari daratan gelap yang dipenuhi kobaran Api Penyucian, tempat itu berubah menjadi sangat indah layaknya surga. Namun, tetap saja hal tersebut tidak bisa membuat sang Perawan tersenyum bahagia.


Bagi dirinya, semua keindahan itu hanyalah dekorasi. Hanya menghiasi, tidak membebaskannya dari rasa kesepian yang menusuk batin.

__ADS_1


Setelah waktu berlalu, mahkota cahaya perlahan turun ke tangan sang Perawan. Diterima dengan lembut dan penuh kehangatan, lalu diletakkan dalam pangkuan.


“Dunia yang perampas itu ciptakan akan lebur ..., hancur digerus oleh arus kehidupan.” Sepasang tangan lain keluar dari dalam jubah, dengan lembut mengangkat mahkota cahaya dari atas pangkuan. Sembari turun dari batu hitam yang diduduki, perempuan itu melangkah pergi sembari berkata, “Tentu saja, itu akan berbeda jika engkau mengambil mahkota ini dan duduk di singgasana. Menemani diriku dalam lestari pengabdian, Yang Abadi.”


Saat ia menjauh dari batu hitam, daratan mulai bergetar kencang. Gunung-gunung di sudut semesta itu mulai meletus, lalu belasan tsunami besar pun menerjang pesisir. Layaknya terompet sangkakala yang ditiup pada akhir zaman, langkah kaki sang Perawan menjadi pembuka sebuah akhir.


Cahaya seketika lenyap, berubah menjadi kegelapan mutlak tanpa satupun penerangan. Beberapa saat kemudian, Api Penyucian kembali membakar daratan. Disinari oleh kobaran biru pudar, menjadi sumber cahaya di tempat gersang tersebut.


Pada momen itu, semuanya langsung binasa. Tanpa toleransi, setiap kehidupan yang diberikan kepada seluruh makhluk hidup pun dicabut. Kembali menjadi partikel cahaya, lalu diserap masuk ke dalam mahkota yang dibawa oleh sang Perawan.


“Waktu kebangkitan sudah dekat ….” Di antara kobaran api, perempuan tanpa alas kaki itu akhirnya tersenyum dengan bahagia. Penantian panjangnya akhirnya terbalas. “Merangkak keluar dari kegelapan, bangkitlah dan buktikan kepadanya. Berikan ganjaran kepada perampas itu!” ujar sang Perawan seraya membuka kedua telapak tangan. Pada saat bersamaan, sepasang tangan lain pun keluar dari balik jubah.


Saat keenam tangan diangkat ke atas dan mahkota cahaya dijunjung tinggi, langit petang perlahan terbelah. Layaknya sebuah gerbang raksasa, itu terbuka dan menunjukkan gugusan bintang yang tak terhitung jumlahnya.


Sangat luas dan indah⸻ Seolah-olah itu tidak memiliki batas. Aliran kehidupan yang terus bergerak tanpa bisa dihentikan oleh siapapun. Hanya bisa diubah, lalu diatur oleh seseorang yang mampu menduduki singgasana kehidupan.


“Diriku bersumpah dengan sungguh-sungguh …. Kepada seluruh kehidupan, dan seluruh nyawa yang telah berpulang. Untuk ribuan tahun yang tak terhitung jumlahnya, serta lautan pengetahuan yang lahir dari waktu tersebut.”


Di antara kobaran, makhluk-makhluk kegelapan mulai bangkit. Mereka bukanlah iblis ataupun monster, namun kutukan yang memperoleh kehidupan dari residu semesta sebelumnya.


Serapah⸻ Manifestasi kutukan yang memiliki wujud, sifat, dan kehendak untuk merebut kembali milik mereka.


“Di sini akhir telah dimulai! Pada momen ini diriku mengutuk mereka! Seluruh kehidupan yang berada di luar tatanan sejati ….”


Manifestasi kutukan semakin pekat. Dari partikel hitam, tulang mereka perlahan tercipta dan membentuk kerangka tubuh. Perlahan itu menumbuhkan daging dan otot, lalu darah dan kulit layaknya makhluk hidup yang kukuh.


Namun⸻


Bentuk mereka terlalu jauh dari kata indah, apalagi sempurna. Lebih mendekati Undead dari mayat manusia, hanya memiliki sedikit akal dan hidup mengikuti naluri untuk merebut kembali hak mereka.


Para Serapah itu berkumpul di bawah gerbang menuju dunia lain. Layaknya umat manusia, mereka pun mulai berkomunikasi dan menciptakan bahasa. Menunjuk pemimpin, lalu menciptakan hierarki sederhana dalam sebuah kelompok tunggal.


“Pergilah keluar, capai ‘lah mereka dan rebut kembali milik kalian! Mari mulai perjalanan panjang ini dengan sepenuh hati dan pikiran ….” Salah satu tangan sang Perawan menunjuk gerbang, mengarahkan para Serapah dan berpesan, “Dalam keraguan, ketakutan, dan kesepian. Bangsa kalian ditakdirkan untuk menyusuri kegelapan. Yang Ditinggalkan, seluruh kutukan yang diriku pendam selama ini.”


Tanpa mengeluarkan suara, seluruh Serapah kembali berkumpul untuk membuat gunung dengan diri mereka sendiri. Saling menumpuk tubuh, memanjat dan membuat puncak untuk mencapai gerbang menuju dunia lain.


Tidak ada yang berebut, banyak yang sukarela berada di bawah dan menjadi pijakan. Asalkan ada yang berhasil mencapai gerbang, itu tidak masalah bagi mereka.


Namun, tentu saja hal tersebut tidak bisa dicapai dalam sekali coba. Jumlah mereka sama sekali tidak cukup untuk mencapai gerbang di langit hitam.


Karena itulah, para Serapah itu perlahan mengasah kecerdasan untuk mencapai tujuan mereka. Dimulai dengan mengubah susunan tumpukan tubuh, bahkan sampai berpikir untuk memperbanyak bangsanya sendiri dengan meminta tolong kepada sang Perawan.


Apapun yang mereka usahakan, waktu menjadi satu-satunya jawaban. Hanya waktu yang bisa menjadi penyelamat, lalu memberikan jalan keluar untuk para Serapah itu.


Layaknya makhluk hidup, para Serapah pun memiliki unsur dan faktor pertumbuhan. Bertambah besar dengan menghirup partikel keemasan di udara, dan juga mengonsumsi gumpalan yang jatuh dari langit, berasal dari dunia di luar milik mereka.


Saat waktunya tiba, sang Perawan kembali menunjuk gerbang dengan keenam tangannya. Tersenyum lebar dengan wajar berseri sembari berkata, “Kita akan segera bertemu! Tunggulah, wahai pendampingku tersayang …!”


ↈↈↈ


\======================================


Open Commission :


Terima kasih atas seluruh dukungan nya, para Penikmat.


Terima kasih juga atas komentar, vote, dan share kalian.


Berhubung sudah masuk bulan Ramadhan, Author membuka Commission “Ilustrasi”.



Untuk sample bisa dilihat pada link di bawah ;

__ADS_1


Pembayaran bisa lewat OVO dan Gopay.


Terima kasih.


__ADS_2