Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[82] Every path has its puddle (Part 05)


__ADS_3

 


 


 


 


Langkah di antara semak-semak, menyembunyikan suara dan wujud dalam kabut. Mengintai sarang yang terletak di aliran sungai, Odo menunggu momen layaknya serigala pada musim gugur. Hawa keberadaan benar-benar dirinya hilangkan, bahkan binatang-binatang seperti burung dan kadal berkeliaran di sekitarnya tanpa memedulikan keberadaan pemuda itu.


 


 


Sarang monster yang Odo incar kali ini adalah milik para Ogre, dibangun menyatu dengan sungai dan mereka pun membendung sebagian aliran air yang ada untuk memudahkan menangkap ikan. Sebuah bangunan dari kayu dan batu berdiri di dekat sungai sebagai gudang pos jaga, memperlihatkan sebuah tanda bahwa mereka memiliki kecerdasan yang sedikit lebih tinggi dari kata primitif. Tak jauh dari sungai, berjejer juga bangunan yang bentuknya serupa.


 


 


Meski secara keseluruhan bangunan yang ada di tempat tersebut tidaklah terlalu kukuh dan bahkan tampak rapuh jika dibandingkan dengan bangunan dari peradaban manusia, namun itu sudah cukup untuk mereka berlindung dari hujan dan badai. Tentu mereka juga tidak menggunakan paku untuk menyatukan kayu ataupun mortar untuk menyatukan batu, hanya dengan lumut, akar, dan tanaman merambat saja mereka merekatkan komponen bangunan.


 


 


Mengamati struktur sarang yang terkesan terbuka, sarang tersebut hanya memiliki kurang dari sepuluh bangunan dengan bagian tengah terdapat sebuah tempat api unggun seperti lingkup perkemahan. Sarang tersebut tidak ada token atau tanda-tanda khusus untuk membatasi teritorial mereka, seakan memang para monster bertubuh besar tersebut tidak takut untuk diserang oleh kawanan lain.


 


 


Layaknya Ogre pada umumnya, mereka memiliki badan kekar dengan otot-otot besar. Meskipun mereka menutupi tubuh bagian bawah dengan kain dari kulit hewan, bentuk tubuh mereka masih memancarkan aura kuat seakan mereka adalah petarung alami yang besar di alam. Tinggi rata-rata Ogre dewasa di sarang tersebut antara tiga sampai empat, ada pula yang masih remaja yang tingginya tidak lebih dari dua meter.


 


 


Dari perawakan yang khas, mereka memiliki kulit hitam pekat dan gading yang mencuat ke atas dari mulut mereka. Selain itu, di antara para Ogre ada juga yang memiliki rajah berwarna merah dengan pola unik, tanda bahwa Ogre tersebut merupakan monster mutasi tingkat lanjutan.


 


 


Meski dikatakan mutasi, mereka tidak memiliki organ tambahan seperti mutasi pada umumnya. Apa yang berubah dari mereka adalah kemampuan untuk merasakan Mana, lalu mengubahnya menjadi aura dan melapisi tubuh mereka dengan itu untuk meningkatkan kekuatan fisik.


 


 


Di antara Ogre yang memiliki rajah, ada satu yang berbadan paling besar dan memiliki rajah dengan pola paling besar di punggung. Garis-garis merah pada tubuh Ogre tersebut tidak lagi membentuk pola yang abstrak, namun tampak seperti struktur sihir untuk penyokong aktivasi sihir.


 


 


Melihat pola rajah unik dan aura yang terpancar dari tubuh Ogre itu, Odo segera tahu kalau monster tersebut telah memasuki Tahap Mutan Awal. Mempertimbangkan beberapa hal dan kemungkinan yang ada, Putra Tunggal Keluarga Luke itu pun segera mengerti kalau menyerang secara sembrono ke arah sarang mereka bisa berbahaya. Terlebih lagi dalam kondisi dimana dirinya tidak bisa dengan bebas menggunakan sihir.


 


 


“Jumlah mereka memang tidak lebih dari sepuluh ekor, namun apa-apaan kawanan ini? Mereka seperti kelompok petarung, bahkan untuk betina dan anakkannya.”


 


 


Odo mengeluarkan pedang Gladius dari dalam dimensi penyimpanan, mulai bergerak di antara semak-semak dan melihat gelagat para Ogre sembari mencari celah untuk memulai serangan pembuka. Saat dirinya sedikit memutar, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut seketika terhenti ketika melihat wagon yang telah rusak parah di dekat salah satu bangunan kayu.


 


 


Dari bekas kayu patahan kayu, itu terlihat masih berwarna sedikit lebih terang tanda bahwa wagon tersebut baru saja dihancurkan dan waktu tidak terlalu begitu lama sejak pemilik aslinya diserang. Sedikit geser melihat ke sebelah kanan dari wagon tersebut, terdapat barang-barang hasil jarahan para Ogre yang diletakkan begitu saja di ruang terbuka.


 


 


“Ah? Bukannya itu ….”


 


 


Mata Odo tertuju pada dua topi kerucut yang tergeletak di atas tanah dan jubah ungu yang sudah compang-camping, merasa kenal dengan barang-barang itu dan membuatnya merasakan firasat buruk. Wagon dengan barang-barang khas Kekaisaran seperti perhiasan dan kerajinan keramik, kain bermotif bunga, dan barang yang biasa dikenakan oleh penyihir.


 


 


Mengingat kembali beberapa hal sebelum dirinya berangkat dari Kota Mylta, Odo seketika mengerutkan kening dan bergumam, “Ini sudah hampir satu minggu sejak hari pertama aku berangkat, ‘kan? Kalau dihitung waktu tempuh yang ada, memang ada juga kemungkinan hal itu terjadi. Ugh, aku berharap itu bukan milik mereka ….” Meski berkata seperti itu, pemuda rambut hitam tersebut sudah mendapatkan kesimpulan dari apa yang terlihat.


 


 


Setelah menghela napas panjang, ia memutuskan berhenti memakai trik kecil untuk menghabisi kawanan Ogre di tempat tersebut. Putra Tunggal Keluarga Luke itu keluar dari semak-semak, lalu berjalan dengan menggenggam pedang dengan erat dan mulai meningkatkan suhu bilahnya dengan Hariq Iliah sampai menyala merah.


 


 


Kekuatan sihir yang terpancar dari pemuda itu membuat para Ogre di sarang tersebut bereaksi, hampir semua monster dalam kawanan itu menatap ke arah Odo dengan ekspresi terkejut. Seakan mereka telah terbiasa mendapatkan serangan, beberapa Ogre langsung merespons dengan mengambil senjata mereka masing-masing dan beberapa yang lain bersiap untuk bertarung menggunakan tinju.


 


 


Salah satu Ogre yang berada paling dekat dengan Odo langsung menyerang ke arahnya. Seraya berlari, monster berbadan besar tersebut mengangkat kapak perang dengan tongkat yang terbuat dari kayu dan kepala kapak dari besi tajam.


 


 


“Kalian menjarah dan bisa menggunakan senjata ….”


 


 


Saat kapak diayunkan ke arahnya dengan cepat, Odo mengangkat pedangnya ke depan setinggi dada secara diagonal. Lalu, ia pun melebarkan kaki kanan ke belakang dan membuat posisi tubuh sedikit turun. Kapak besar berayun dan hanya sedikit menyerempet rambut Odo karena perbedaan tinggi badannya dengan monster tersebut.


 


 


Berada dalam posisi titik buta Ogre, pemuda rambut hitam itu tidak memberikan waktu untuk monster tersebut mengangkat kembali senjatanya. Memusatkan panas pada satu sisi mata pedang, ia langsung menebas leher monster tersebut dari bawah dan menghabisinya.


 


 


Satu tebasan pada titik vital langsung membuat Ogre tersebut tumbang ke belakang, terkabar di atas tanah berbatu dengan darah mengalir deras dari lehernya. Segera fokus ke depan dan memasang kuda-kuda, Odo menyeringai kecil dan kembali berkata, “Kalian mirip bandit, ya? Apa kalian belajar dari para bandit yang dulu ada di sekitar sini?”


 


 


Para monster langsung terprovokasi meski mereka tidak paham dengan apa yang Odo ucapkan. Dua Ogre lain menerjang dengan penuh amarah ke arah pemuda rambut hitam tersebut, benar-benar memperlihatkan ekspresi wajah layaknya monster tanpa akal pada umumnya. Satu dari kedua Ogre tersebut membawa gada batu sebagai senjata, lalu satunya lagi tidak membawa senjata dan hanya bermodalkan tinju.


 


 


Melihat reaksi barbar tersebut, Odo menyeringai kecil seakan menikmati pertarungan. Menggunakan kaki, ia segera mengangkat kapak batu yang tergeletak di tanah dan menjepitnya dengan lengan kanan. Kembali merendahkan posisi tubuh dan memutar tombak ke belakang pinggang, Odo memegang kapak dengan tangan kiri dan sembari memanfaatkan momentum langsung mengayunkannya ke arah Ogre yang membawa gada.


 


 


Panjang kapak dengan tongkat tentu memiliki keunggulan dalam jarak, membuat Ogre tersebut tidak bisa mengelak dan menerima telak serangan tersebut. Namun, kekuatan ayunan dan tingkat ketajaman mata kapak tidak bisa membelah tubuh monster itu dan hanya menancap dalam pada bagian pinggang. Membuat Ogre itu seketika berlutut dan menjatuhkan senjatanya.


 


 


Berhasil menghentikan satu Ogre, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut melepaskan kapak dan fokus pada Ogre satunya yang menerjang dengan tangan kosong. Awalnya Odo mengira kalau serangan yang akan datang hanyalah pukulan biasa mengandalkan kekuatan fisik. Namun saat melihat aura berkumpul pada tangan Ogre yang mengepal, ia mengurungkan niatnya untuk menahan serangan dengan pedang.


 


 


“Dia bisa mengontrol Mana, benar-benar seperti petarung,” benak Odo sembari mengubah posisi tubuhnya dengan melebarkan kaki kanan ke samping. Ia kembali memanfaatkan perbedaan tinggi badan yang ada, lalu bergerak ke kiri menghindari pukulan Ogre tersebut yang cenderung mengincar kepala dan bagian tubuh atas karena ukurannya.


 


 


Setelah dengan sempurna menghindari pukulan, Odo langsung memotong otot lengan kanan Ogre tersebut dan melumpuhkan monster tersebut. Tetapi, seakan tidak peduli dengan rasa sakit monster itu langsung memutar tubuhnya 360 drajat. Dari titik buta Odo, monster tersebut langsung mengayunkan tangan kiri untuk mengincar kepala Odo.


 


 


Menyadari ayunan tangan yang datang dari pergerakan Mana Ogre tersebut, pemuda rambut hitam itu langsung mengangkat pedang di lajur serangan yang datang dan memegang tangan kanannya sendiri. Sembari memantapkan kuda-kuda, ia hanya berdiri tanpa menghindar dan mulai memejamkan mata.


 


 


Ayunan tangan sekuat tenaga tidak terhentikan, membuat tangan berlapis aura tersebut langsung menghantam mata pedang yang menyala. Suara ciprat darah terdengar, sensasi daging terpotong dirasakan Odo dengan jelas melalui pedangnya. Saat ia kembali membuta mata dengan begitu tenang, tangan Ogre itu sudah putus dan terlempar ke atap bangunan kayu.


 


 


“Ugh! Auakhkk!!!”


 


 


Ogre tersebut melangkah mundur, benar-benar dipermalukan karena tinju kedua tangannya benar-benar tidak berguna melawan seorang manusia yang hanya mereka anggap sebatas mangsa. Tidak membuang celah yang ada, Odo segera mengangkat pedang dengan posisi ujung menghadap ke depan dan langsung menusuk jantung Ogre tersebut untuk menghabisinya.


 


 


Tidak berhenti di situ, ia langsung berlari ke arah Ogre yang sebelumnya terkena serangan kapak dan langsung menghabisi monster tersebut dengan sekali tebas pada bagian leher. Semua Ogre yang melihat pergerakan cepat Odo langsung gemetar, sadar kalau pemuda tersebut sangat berbeda dengan manusia-manusia yang pernah mereka serang.


 


 


Odo meningkatkan ritme gerakannya, tidak menunggu serangan dan segera menerjang ke arah para Ogre yang tersisa. Ia mengincar salah satu Ogre dengan senjata pedang besar, lalu sembari berlari ia membuat suhu tinggi pada bilah pedangnya merata.


 


 


Panik melihat kecepatan Odo yang menekat, Ogre tersebut mengayunkan pedang besar dengan terburu-buru. Memperhitungkan jarak yang ada, pemuda rambut hitam itu pun langsung menghentikan langkah beberapa sentimeter di depan ayunan pedang yang begitu kuat sampai membuat hempasan angin.


 


 

__ADS_1


“Kau takut, ya?”


 


 


Odo meningkatkan suhu pada mata pedangnya, lalu menginjak sisi lain pedang besar yang tertanam masuk ke tanah dan meloncat ke arah Ogre tersebut. Dengan satu tusukan di kepala monster itu pun dihabisi. Saat dirinya berdiri menggunakan pundak monster tersebut sebagai pijakan, tiga Ogre lain mendekat ke arahnya.


 


 


Tanpa ragu sama sekali, Odo melemparkan pedang ke arah salah satu Ogre yang mendekat dan menancap tepat pada bagian dada. Suhu tinggi pada bilah langsung membakar organ dalam monster tersebut dan membuatnya menjerit. Saat berusaha melepaskan pedang yang menancap, itu tiba-tiba meledak karena sihir yang telah Odo tanamkan. Meski tidak menghempaskan tubuh besar Ogre, ledakan membakar dada beserta organ dalamnya dan membuat monster tersebut tumbang.


 


 


Pada saat yang bersamaan setelah melemparkan pedang, Odo meloncat ke udara dan mengambil pedang Gladius lain dari dimensi penyimpanan. Di saat dirinya akan menyerang kedua Ogre lain yang tersisa, Ogre dengan perawakan paling besar yang dari awal tidak bergerak dari tempat tiba-tiba mempersiapkan serangan.


 


 


Ogre itu membuka telapak tangannya ke depan, memusatkan Mana dan langsung menembakkan bola energi panas dengan kecepatan tinggi. Tidak mengira kalau monster tersebut bisa melancarkan sihir sederhana seperti itu dengan persiapan singkat, Odo sama sekali tidak sempat melapisi senjatanya dengan Mana. Ia terkejut, lalu dengan seadanya menepis serangan tersebut dengan ayunan pedang, membuat bilahnya patah dan tubuhnya terpental ke belakang sampai jatuh ke tanah.


 


 


Dua Ogre lain yang berada di dekatnya tentu memanfaatkan kesempatan tersebut, segera meloncat ke arahnya dan menyerang pemuda itu dengan tombak dan tinju.


 


 


“Uwah, ini akibatnya kalau aku bermain-main.”


 


 


Odo memungut batu kerikil dan melemparkannya ke arah Ogre yang membawa tombak, menghantam salah satu mata monster tersebut dan membuat keseimbangannya goyah. Segera bangun untuk menghindari serangan tombak, ia dengan cekatan mematahkan gagang tombak dengan satu ayunan pedang yang sudah rusak. Mengambil patahan tombak yang memiliki bagian ujung besi tajam dengan tangan kiri, Odo pun langsung menggunakannya untuk menusuk leher Ogre tersebut.


 


 


Saat Ogre satunya melancarkan tinju lurus tangan kanan, Odo dengan lentur segera menarik tubuh ke belakang dan menghantam siku monster tersebut dengan lutut kanan. Suara tulang retak dengan jelas terdengar, namun itu tidak cukup untuk membuat Ogre tersebut berhenti.


 


 


Dengan penuh amarah Ogre itu langsung mencengkeram wajah Odo menggunakan tangan kanannya yang sudah retak, lalu membanting tubuhnya ke tanah dengan sangat keras sampai kepalanya mengeluarkan darah. Melihat manusia di hadapannya kehilangan kesadaran, Ogre tersebut tidak berhenti dan mulai menyatukan kedua telapak tangannnya untuk meremukkan tubuh Odo dalam sekali sekarang.


 


 


“Seliari ….”


 


 


Pergerakan Ogre itu tiba-tiba terhenti tanpa melakukan serangan, mulai melangkah ke belakang dan meletakkan kedua tangan ke leher seperti sedang kesulitan bernapas. Monster itu tampak bingung, mulai ambruk dan membentur-benturkan kepalanya sendiri ke tanah dalam kesengsaraan.


 


 


Apa yang diderita monster tersebut adalah serangan dari Odo. Menggunakan Hariq Iliah untuk memanipulasi udara di sekitarnya, Odo secara drastis meningkatkan jumlah oksigen di sekitar Ogre itu dan membuat monster tersebut keracunan udara.


 


 


Tanpa mendapat serangan fisik mematikan, Ogre itu pun berhenti membenturkan kepalanya dan meregang nyawa dengan cepat. Untuk memastikan bahwa monster itu sudah benar-benar mati, Odo segera bangun dan menggorok lehernya dengan pedang yang bilahnya sudah patah setengah.


 


 


“Tinggal satu ….” Odo membuang pedang rusak di tangan, lalu mengambil Gladius lain dari dimensi penyimpanan. Sembari menodongkan pedangnya ke arah satu Ogre yang memiliki perawakan paling besar, Putra Tunggal Keluarga Luke itu pun berkata, “Cepat maju, aku ingin segera memastikan sesuatu!”


 


 


Odo melangkahkan kakinya ke depan. Namun sebelum ia berlari untuk menghabisi Ogre di hadapannya, sorot matanya segera terarah kepada Ogre betina yang memeluk anakkannya di dekat salah satu bangunan kayu. Melihat perilaku tersebut, dalam benak ia merasa kalau para monster tersebut sangat memiliki kemiripan sifat dengan manusia pada umumnya.


 


 


Mereka memang menjarah dan mungkin telah membunuh banyak orang. Namun, manusia pun melakukan hal serupa dan bahkan membunuh sesamanya. Dalam benak, Odo merasa kalau mereka tidaklah salah dan semua yang mereka lakukan hanyalah karena kondisi.


 


 


Meski paham hal tersebut dan merasa kalau para Ogre itu memiliki kemungkinan untuk menjadi makhluk beradab layaknya manusia, ia tetap mengangkat senjatanya dan dalam benak memutuskan untuk menghabisi semuanya.


 


 


“Kalau dunia ini tidak ditata ulang dan dibiarkan terbentuk dengan sendirinya, mungkin kalian lah para monster yang berada di puncak rantai makanan. Yah, kalian bisa berkembang sampai seperti ini juga karena campur tangan dewi itu.”


 


 


 


 


“Lenyaplah, wahai makhluk menyedihkan ….”


.


.


.


.


.


 


 


Aroma darah yang menyengat, semerbak mengalir dalam kabut dan udara dingin. Berdiri di antara mayat-mayat Ogre yang bergelimpangan, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut memasang ekspresi datar dengan pedang berlumur darah di genggaman.


 


 


Pada hadapannya terbaring monster terakhir yang telah dihabisi di sarang tersebut. Bukan Ogre yang telah mencapai Tahap Mutan Awal dan mengetuai sarang, melainkan Ogre remaja yang mati di dalam pelukan induknya. Memalingkan pandangan dari pemandangan menyedihkan itu, ia berjalan melewati potongan-potongan daging dari Ogre pemimpin sarang yang telah dirinya binasakan.


 


 


Merasa pedang yang di genggaman sudah tidak bisa digunakan lagi, Odo melemparkannya ke arah sungai dan segera berjalan ke arah salah satu bangunan kayu di sarang tersebut. Tanpa membuang waktu, ia pun melangkah masuk ke dalam bangunan tanpa pintu itu.


 


 


Seperti yang telah Odo duga sebelumnya, di dalam terdapat beberapa orang yang ditangkap kawanan Ogre. Kedua tangan dan kaki mereka terikat tali dari tanaman merambat, lalu mulut dibungkam menggunakan kain kotor, dan pakaian mereka terlihat compang-camping. Dari semua orang yang ada di dalam, Odo hanya menemukan empat saja di antara mereka yang memperlihatkan tanda-tanda kehidupan.


 


 


Selain mereka, ada beberapa mayat yang sudah dimutilasi dengan sadis. Beberapa bagian tubuh digantung pada langit-langit dan bahkan ada yang masih sedikit mencucurkan darah. Melihat semua itu, Odo segera paham bahwa bangunan yang dirinya masuki adalah dapur para Ogre.


 


 


Dengan sorot mata yang tampak kosong, ia sedikit menggertakkan gigi setelah melihat kedua penyihir yang dirinya kenal berada di tempat tersebut dan masih hidup. Mereka berdua adalah Canna dan Opium. Meski pakaian mereka rusak dan tubuh penuh luka, kedua penyihir itu hanya terikat di sudut ruangan dengan dua orang kekaisaran lain.


 


 


“Apes sekali nasib mereka, kenapa bisa sampai tertangkap Ogre segala. Mereka penyihir Tingkat Expert, ‘kan? Masa kalah sama monster rendahan,” gumam Odo sembari berjalan mendekat dan berjongkok di depan mereka.


 


 


Sembari melepaskan ikatan Canna, ia sekilas melirik ke arah dua orang dengan pakaian khas kekaisaran yang tergeletak tidak jauh darinya. Satu di antaranya adalah perempuan dengan paras wajah pucat cantik gadis kekaisaran, pakaiannya compang-camping dan ada beberapa bekas luka memar pada tangan dan perut. Untuk satunya lagi, ia adalah laki-laki Demi-human tipe serigala yang memiliki genetik hewan yang lebih dominan dan tampak seperti serigala dengan dua kaki dan dua tangan.


 


 


Tidak memedulikan kedua orang kekaisaran tersebut, Odo lanjut melepaskan ikatan Canna dan mencopot kain di mulutnya. Setelah menyandarkan tubuh perempuan rambut putih tersebut ke tembok, ia menekan hidungnya dengan kencang untuk membangunkannya. Reaksi pun terlihat, Canna menggeleng-gelengkan kepala dan mulai kesulitan bernapas.


 


 


“Hey, bangun.” Odo berhenti menekan hidungnya, namun perempuan itu malah tidak segera bangun dan malah bergumam. Paham kalau Canna sedang pura-pura, dengan keras Odo pun langsung menampar perempuan itu dan berkata, “Sialan, bangun cepat!”


 


 


“Eh …?” Canna membuka matanya, menjauh dari Odo dan memegang pipinya sendiri yang memerah. Memperlihatkan sorot mata yang berkaca-kaca, ia dengan gemetar mulai menggerutu, “Sa-Saya hanya bingung mau bereaksi bagaimana? Ke-Kenapa Ayahanda menampar saya …?” Perempuan itu benar-benar menangis tersedu, layaknya gadis cengeng dan mulai meringkuk.


 


 


“Ah, maaf ….” Odo sadar telah melakukan hal berlebihan kepadanya, lalu sembari mendekat menjelaskan, “Aku sedang kesal tadi. Tak ada maksud memarahi, kok. Aku paham kalau kalian tertangkap para Ogre karena sedang sial.”


 


 


“Su-Sungguh?”


 


 


Canna memperlihatkan mimik wajah layaknya anak perempuan yang baru saja dimarahi ayahnya. Saat melihatnya, Odo malah merasa kesal karena ekspresi tersebut sama sekali tidak cocok untuk penyihir sepertinya.


 


 

__ADS_1


“Hmm, sungguh.” Odo memalingkan pandangan, lalu menghadap ke arah Opium dan mulai melepaskan ikatan perempuan itu.


 


 


“Bo-Bohong! Pasti marah! Kalau Ayahanda di sini, berarti sedang melaksanakan rencana itu, ‘kan? Pasti saya mengganggu!”


 


 


Kening Odo mengerut saat mendengar cara bicara Canna yang terdengar seperti anak manja. Menghela napas sekali, Putra Tunggal Keluarga Luke itu pun berkata, “Daripada merengek, bisa kau lepaskan ikatan dua orang di sana? Dari semua orang di rombongan kalian, sepertinya hanya kalian dan mereka yang masih hidup.”


 


 


“Mereka?”


 


 


Canna melihat sekitar untuk mencari orang yang dimaksud Odo. Namun setelah melihat kengerian yang ada di ruangan tersebut, ia malah gemetar dan seketika membisu. Karena setelah bangun benaknya diisi dengan rasa bersalah kepada Odo, ia sama sekali tidak menyadari bahwa tempatnya berada sekarang adalah dapur para Ogre. Ia menahan mual dengan menutup mulut, lalu segera memalingkan pandangan dan mulai gemetar.


 


 


“Jangan lihat mayat-mayat itu terlalu lama, cepat lepaskan dua orang di sana dan ayo kita bawa keluar,” ujar Odo sembari menunjuk dua orang dari kekaisaran yang masih hidup.


 


 


“Ba-Baik ….” Canna melihat ke arah yang ditunjuk, lalu kembali terkejut dan berkata, “Nona An?”


 


 


“Kau kenal dia?” Odo selesai melepaskan ikatan Opium. Tidak membangunkan perempuan itu, ia berdiri dan kembali mengajukan pertanyaan, “Berarti dia satu rombongan dengan kau?”


 


 


“I-Iya. Nama beliau Qibo An Lian,” ucap Canna sembari melepaskan ikatan An.


 


 


Dari nama tersebut, Odo segera tahu kalau perempuan itu bukanlah pedagang. Mengesampingkan informasi yang ada, Putra Tunggal Keluarga Luke itu berjalan ke arah Demi-human tipe serigala dan mulai melepaskan ikatannya.


 


 


“Setelah ini, kita keluar dulu dan pergi dari sarang. Kita bicara nanti saja.”


 


 


“A-Apa Ayahanda sudah mengalahkan para Ogre yang menyergap kami? Me-Mereka bisa menggunakan sihir dan mengendalikan Mana dengan bai⸻!”


 


 


“Kita bicara nanti, kau tidak dengar?” ucap Odo dengan tegas.


 


 


“Ba-Baik ….”


 


 


\================


 


 


Catatan :


 


 


Pada beberapa CH sebelumnya memang sudah pernah dibahas bentuk kehidupan. Tapi, untuk penjelas pojok kali ini akan aku urutkan supaya lebih mudah diketahui. Kurang lebih kategorinya seperti di bawah ini.


 


 


Bentuk Daath (Pengetahuan), Tiga Belas Aeons (Bentuk Kehidupan) :




Malkuth, tubuh fisik. (Basis Hewan mikro)




Yedos, Tubuh Vital. (Basis Diisi Hewan)




Hod, Tubuh Astral. (Basis Diisi Roh)




Netzach, Mental. (Basis Diisi Manusia biasa)




Tiphereth, Jiwa Berakal. (Basis Diisi Manusia bijak)




Geburah, Jiwa Spiritual. Kekuatan Native mulai tumbuh setelahnya.




Chesed, Kesadaran Atom. (Basis Diisi Fase Tahap Dewa-Semu, Deity, Dewa, Dewa Vasal).




Binah, Roh Kudus. (Basis Diisi Fase Dewa Atas)




Chokmah, Sang Putra. (Basis Diisi Fase Dewa Tertinggi)




Kether, Sang Ayah / Ancient of Days (Diisi Basis Pengawas Dunia)




Ain Soph Aur, Ray of Creation. (Pencipta / Awal Mula)




Ain Soph. (Awal Mula)




Ain. (Awal Mula)




Btw, waktu penjelasannya Helena ada yang terlawan, yaitu Tiphereth. Jadi informasi kali ini juga sebagai pelengkap.


Lalu, seperti yang telah dijelaskan, Shift antara tingkatan mungkin untuk terjadi. Bagi tingkatan yang lebih tinggi mudah untuk geser ke tingkatan yang lebih rendah, namun untuk tingkatan lebih rendah akan sangat sulit. Lalu, tidak ada ketentuan pasti bahwa tingkatan yang lebih tinggi membawa sifat dari tingkatan yang di bawahnya.


 


 


See you Next Time!


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2