Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[89] Dekadensi Kota Rockfield VI – Paradigm (Part 02)


__ADS_3

 


 


 


Berusaha keras untuk melakukan yang terbaik, mencucurkan keringat dan air mata untuk impian yang didambakan.


 


 


Layaknya sebuah pepatah tua, usaha keras membuat seseorang menjadi lebih baik dari hari kemarin. Meskipun terkadang itu mengkhianati, namun hasil yang ada akan cukup untuk membayar keringat yang tercurah.


 


 


Namun ….


 


 


Tidak peduli seberapa keras seseorang berusaha untuk menjadi baik dalam meraih mimpi.


 


 


Tidak peduli seberapa banyak keringat dan air mata yang telah dicurahkan dalam usaha tersebut.


 


 


Ia tetap akan menjadi penjahat dalam cerita hidup orang lain.


 


 


Layaknya dedaunan pada pohon hijau yang akan gugur kelak, hal tersebut tidak bisa dihindari dalam kehidupan.


 


 


Setiap orang tidak bisa selamanya berperan sebagai protagonis, ada kalanya peran antagonis tiba-tiba menghampiri dan dilimpahkan dari kisah hidup milik orang lain.


 


 


Selama masih hidup, setiap orang tidak bisa selamanya menjadi orang baik.


 


 


Ada kalanya ia merebut, ada kalanya ia menyakiti, dan ada kalanya pula ia menghancurkan. Sebab itulah, kebencian dengan pasti tumbuh di hati setiap orang.


 


 


Perbedaan hanya ada pada masalah kadar kebencian masing-masing.


 


 


Oma Stein ⸻ Bahkan untuk orang sepertinya, hal tersebut juga berlaku tanpa sedikitpun pengecualian.


 


 


Ia berpikir bahwa semua hal yang telah dirinya lakukan adalah untuk kebaikan banyak orang, demi keluarganya yang telah tiada dan demi dirinya sendiri.


 


 


Namun, bayaran atas apa yang telah dirinya capai sekarang tidaklah murah.


 


 


Terduduk kurus dan lemas di atas ranjang, pria tua tersebut membuka telapak tangan kiri dan menatap. Mengingat kembali apa yang telah dilakukan di masa lalu, lalu mulai menyesali semuanya ketika senja telah datang.


 


 


Darah yang telah tumpah tidak bisa dikembalikan, kebencian yang telah berkobar tidak akan padam oleh waktu, dan penyesalan dalam hati tidak bisa menghilang begitu saja.


 


 


Terduduk sendirian tanpa ditemani siapa pun, Kepala Keluarga Stein tersebut mulai meneteskan air mata dan merenung. Menyadari semua kesalahan besar yang telah dilakukan di masa lalu dan menyesalinya dari lubuk hati terdalam.


 


 


“Maafkan diriku, Agathe …. Sungguh …. Kenapa bisa diriku menjadi sangat kotor seperti ini? Sejak kapan … orang menyedihkan ini jatuh ke dalam keburukan dan menjadi buta atas segalanya?”


 


 


Mungkin apa yang dirasakan oleh Oma hanyalah emosi sesaat setelah baru sembuh dari sakit berat. Melewati momen hidup dan mati ketika sakit, ia mulai sadar atas semua kesalahan yang telah dilakukan.


 


 


Pria tua itu hanya bisa menyesali, tanpa bisa memperbaiki karena tahu istrinya pasti tidak akan memaafkan.


 


 


Di saat pria tua tersebut sedang emosional, pintu kamar tiba-tiba diketuk dan dari luar pelayan berkata, “Permisi, Tuanku. Nona Ri’aima telah kembali. Beliau menunggu di ruang tamu depan bersama Tuan Muda Baldwin dan Tuan Muda Xavier. Apakah perlu saya panggil beliau ke kamar Tuan Besar?”


 


 


“Tidak perlu ….” Pria tua yang baru saja sembuh tersebut menurunkan kaki ke lantai, lalu mengusap air mata dan menarik napas dalam-dalam untuk menahan perasaan yang terasa sesak di dada. Di bawah paparan sinar lampu kristal di ruangan, ia sejenak duduk di pinggiran ranjang dan mengambil tongkat kayu yang sebelumnya telah disiapkan oleh para pelayan. “Diriku akan menemuinya sendiri,” ujarnya sembari berjalan dengan pelan.


 


 


Meski seharusnya ia baru saja siuman beberapa jam lalu, Oma Stein pulih dengan sangat cepat. Selain semua benjolan pada tubuh yang telah menghilang dan proses pengelupasan kulit selesai, ia pun sudah bisa berjalan sendiri meski masih harus menggunakan tongkat.


 


 


Bahkan, untuk siku kanan yang mengalami pembusukan paling parah pun sudah tertutup sepenuhnya. Ia sudah bisa mengangkat kembali tangan kanan, meski masih sulit untuk memegang benda atau menulis.


 


 


Saat hampir sampai di depan pintu, Kepala Keluarga Stein memerintah, “Bukan pintunya.”


 


 


Pelayan di balik pintu segera mematuhi perintah tersebut, lalu menyingkir dari hadapan sang Tuan Rumah. Membungkukkan kepala dengan hormat, ia menunggu pria tua tersebut berjalan lebih dulu dan mengikuti di belakang untuk mengawal.


 


 


“Apa pemuda itu datang bersamanya?” tanya Oma sembari sekilas menoleh ke arah pelayan yang menjemputnya tersebut.


 


 


“Belum, Tuanku. Tuan Odo tidak kembali bersama Nona Ri’aima. Menurut beliau, Tuan Odo sendiri masih ada urusan di kantor pemerintahan. Seperti yang telah Tuan dengar dari pelayan lain, Nona juga telah membuat koalisi dengan beliau untuk mengembalikan pengaruh Keluarga Stein di kota. Kemungkinan Tuan Odo sendiri sedang mengurus hal tersebut di balai kota, Tuanku.”


 


 


“Hmm ….” Mendapat jawaban seperti itu, dengan cepat Oma Stein paham dengan apa yang sedang dilakukan Putrinya bersama Putra Tunggal Keluarga Luke. Sebagai orang yang telah memimpin Kota Pegunungan selama tiga dekade, ia memiliki banyak pengalaman dan paham dengan pola pikir berbagai jenis orang. Karena itu, Kepala Keluarga Stein dengan cepat membuat kesimpulan, “Apa dia ingin Ri’aima menjadi Kepala Keluarga Stein selanjutnya dan menjadikannya Walikota? Odo Luke, apa yang sebenarnya orang itu inginkan dari Keluargaku.”


.


.


.


.


 


 


Berpikir keras untuk mencari tahu, memperkirakan keadaan, dan beberapa kali mengajukan pertanyaan tentang Odo kepada pelayan yang menjemputnya. Meski dirinya baru saja sembuh dan beberapa saat lalu air mata sempat menetes karena penyesalan, sifat Oma sebagai seorang pemikir sama sekali tidak hilang. Memahami semuanya secara logika, lalu mengambil beberapa kesimpulan untuk diseleksi.


 


 


Namun, semua itu Oma pikirkan bukan untuk dirinya sendiri. Melainkan demi Keluarga Stein yang dirinya perjuangkan sejak muda.


 


 


Karena itulah, ketika dirinya sampai di lobi dan melihat sang Putri Sulung duduk pada tuang tamu depan bersama adik-adiknya, semua pikiran dan kesimpulan yang ada di kepala Oma seketika runtuh.


 


 


Layaknya kartu yang disusun rapi menjadi rumah, itu dengan mudah hancur tertiup angin bernama penyesalan. Seperti halnya rasa sesalnya kepada Agathe, Kepala Keluarga Stein juga merasakan hal serupa kepada Ri’aima.


 


 


Meski Ri’aima adalah anak pertama dan Putri satu-satunya di Keluarga Stein, Oma tidak pernah sekalipun berharap ke padanya. Hanya meletakan perempuan rambut biru pudar tersebut ke sudut ruangan, layaknya benda tidak diinginkan dan dibiarkan berdebu.


 


 


“Ri’aima, engkau tidak perlu melakukan apa-apa untuk keluarga ini. Kau hanyalah perempuan, buang pedangmu dan jadilah perempuan biasa di keluarga ini. Ayah tidak berharap engkau bisa meraih sesuatu untuk keluarga ini.”


 


 


Itulah yang dikatakan Oma kepada Ri’aima saat berusia enam tahun. Di hadapan Baldwin yang merupakan sang Adik yang lebih muda tiga tahun darinya, Kepala Keluarga Stein dengan jelas menegaskan dan memberikan label tidak berguna kepada Ri’aima.

__ADS_1


 


 


Mengingat penyesalan di masa lampau, langkah kaki Oma terhenti dan tubuh pria tua itu pun enggan untuk bergerak. Bukan karena tidak ingin menemui Putrinya, namun rasa malu dan penyesalan dalam benak lah yang membuat pria tua itu berhenti.


 


 


“Ah, Ayahanda!” ujar Xavier setelah melihat Oma datang bersama pelayan yang menjemput. Putra Bungsu Keluarga Stein tersebut segera bangun, lalu berjalan menghampiri sang Ayah. Sembari memasang wajah sedikit cemas anak itu pun bertanya “Apa tidak masalah Ayahanda berjalan sendiri? Yakin sudah baik-baik saja? Tidak ada yang sakit? Ayahanda tidak akan ambruk tiba-tiba lagi, ‘kan?”


 


 


“Hmm, Ayah sudah baik-baik saja ….” Meski masih sedikit sakit, pria tua itu mengangkat tangan kanannya dan mengelus kepala Xavier. “Engkau tak perlu cemas dan memperlakukan Ayah seperti kakek-kakek,” ujarnya sembari melempar senyum ringan.


 


 


“Hmm, baiklah!” Xavier mengangguk layaknya anak polos.


 


 


Melihat ekspresi wajah Putra Bungsunya, dalam benak hati Oma merasa terselamatkan. Senyuman anak kecil itu sedikit menghapus rasa sesal dan memberi pria tua itu keberanian untuk menemui Putri Sulungnya.


 


 


Setelah mengangkat tangan dari kepala Xavier, Kepala Keluarga Stein berjalan menuju ruang tamu depan bersama dengan putra dan pelayan yang menjemput.


 


 


Setelah pria tua tersebut sampai, Ri’aima dan Baldwin segera bangun. Mereka berdua membungkuk penuh rasa hormat, memberikan rasa syukur mereka kepada sang Ayah.


 


 


“Angkat kepala kalian,” ucap Oma sembari duduk pada sofa yang berhadapan dengan kedua anaknya.


 


 


Mengikuti perintah tersebut, Ri’aima dan Baldwin pun mengangkat kepala dan kembali duduk di sofa. Untuk sang Putra Bungsu, ia berjalan menuju ke belakang sofa kedua kakaknya dan berdiri di sana.


 


 


Tegang, itulah atmosfer yang mengisi di antara mereka. Dari semua orang di tempat tersebut, hanya Xavier sendiri yang paling terlihat bahagia dan sama sekali tidak terbebani suasana yang ada.


 


 


“Penyihir yang dibawa Tuan Odo memang luar biasa. Meski ia sedikit sombong, Nona Penyihir benar-benar bisa menyembuhkan Ayahanda dengan sangat cepat. Bahkan, ramuan yang ia berikan bisa memulihkan Ayahanda sampai seperti sekarang hanya dalam hitungan jam!”


 


 


Ucapan Putra Sulungnya seakan sebuah jembatan untuk Oma dalam pembicaraan. Sedikit memasang senyuman yang jarang ia perlihatkan di hadapan keluarganya sendiri, Kepala Keluarga Stein membalas, “Ini memang luar biasa. Sesungguhnya Ayah sendiri tidak terlalu nyaman saat berurusan dengan para penyihir, namun untuk kali ini sepertinya Ayah memang harus berterima kasih.”


 


 


“Saya juga senang melihat Ayahanda bisa pulih secepat ini,” ucap Baldwin kepada Ayahnya. Sembari menundukkan kepala dengan muram, Anak Kedua Keluarga Stein itu dengan menyesal berkata, “Sayang sungguh merasa menyesal, Ayahanda. Sangat disayangkan saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk Ayahanda ….”


 


 


“Engkau tidak perlu merasa bersalah, Putraku.” Oma menyandarkan tongkatnya ke sofa. Sejenak menarik napas dalam-dalam, pria tua itu kembali berkata, “Ayah pernah memperingatkan engkau untuk selalu berhati-hati dengan penyihir, jadi wajar jika engkau tidak ingin melibatkan mereka.”


 


 


Tatapan Oma berpindah ke arah Ri’aima yang hanya terdiam membisu di antara pembicaraan keluarga. Sadar dengan tatapan Kepala Keluarga, perempuan rambut biru pudar itu tersentak dan segera menundukkan kepala.


 


 


“Ma-Maafkan saya jika telah menyinggung perasaan Ayahanda. Saya tahu bahwa Keluarga Stein tidak menyukai penyihir, terutama mereka yang berasal dari Miquator. Namun, saya malah meminta bantuannya karena permintaan Tuan Odo.”


 


 


Perkataan itu adalah sesuatu yang dibuat-buat, sebuah kepalsuan yang dilontarkan oleh mulut manisnya.


 


 


Sebelum diberitahu oleh kedua Adiknya, sebenarnya Ri’aima sendiri sama sekali tidak tahu bahwa Oma Stein telah siuman. Apa yang terucap dari mulut perempuan rambut biru pudar tersebut adalah sesuatu yang disampaikan oleh Canna, tepat sekitar setengah jam yang lalu sebelum bertemu dengan Oma sekarang.


 


 


Karena itulah, Ri’aima sampai sekarang masih bingung harus memasang ekspresi seperti apa karena hanya mengikuti arahan dari Canna.


 


 


 


 


“Kalau tidak salah, Nona Canna berkata ia hanya memberikan ramuan saja. Sedangkan yang sebenarnya menyembuhkan Ayahanda adalah Tuan Odo. Lantas, bagaimana beliau melakukannya? Kapan? Lagipula, bagaimana bisa Tuan Odo masuk ke kamar Ayahanda kalau kedua adikku tidak tahu tentang rencana tersebut?” benak Ri’aima dengan wajah sedikit memucat.


 


 


“Ri’aima,” panggil Oma lemas.


 


 


Dengan rasa cemas masih mengisi benak, perempuan rambut biru pudar itu mengangkat wajahnya yang memucat. Tubuh samar-samar gemetar, lalu tatapan pun dipenuhi rasa takut karena telah berbohong kepada Ayahnya sendiri.


 


 


Melihat hal tersebut, Oma malah merasakan jarak antara Ayah dan Anak. Mengira bahwa Putrinya tersebut merasa enggan kepadanya. Kembali merasakan penyesalan yang ada, pria tua itu pun menundukkan kepala dan berkata, “Maafkan Ayah, Ri’aima ….”


 


 


Perkataan tersebut membuat Ri’aima dan kedua Adiknya terkejut. Untuk pertama kalinya dalam hidup, itu pertama kalinya sang Ayah meminta maaf di hadapan mereka.


 


 


“To-Tolong jangan berkata seperti itu ….” Dengan cepat benak Ri’aima diisi oleh rasa bersalah. “Ke-Kenapa Ayahanda minta maaf? Saya yang seharusnya minta maaf karena tidak mematuhi larangan Keluarga Stein,” ujarnya sembari memalingkan pandangan ke sana dan ke sini dengan bingung.


 


 


“Sebagai seorang Ayah, diriku telah memperlakukan engkau dengan tidak layak. Meski engkau lahir lebih awal, hanya karena seorang perempuan engkau tidak diriku hargai. Sungguh, sebenarnya kenapa diriku ini …. Kenapa dulu diriku sampai melakukan hal seperti itu. Padahal semestinya Keluarga Stein haruslah bisa saling menyayangi satu sama lain.”


 


 


Itu adalah perkataan penuh penyesalan, secara selaras anak-anak Keluarga Stein memahami hal tersebut. Meski mereka sangat jarang melihat sang Ayah memperlihatkan perasaannya sendiri di hadapan keluarga, namun dengan jelas mereka bisa mengetahui hal tersebut.


 


 


Mata yang memerah, kedua alis yang turun, dan mulut yang sedikit mengerut. Seakan menahan kesedihan, pria tua itu benar-benar melepaskan penyesalannya di hadapan mereka bertiga.


 


 


Melihat hal tersebut, bahkan Xavier yang paling suka berbicara pun terdiam. Mengerti bahwa Ayah mereka butuh waktu untuk menenangkan diri setelah sembuh dari sakitnya.


 


 


Mereka bertiga hanya bisa diam dan menunggu, tanpa bisa mengatakan kalimat lembut untuk menenangkan sang Ayah.


 


 


Tetapi ketika tenang baru mengisi suasana di antara mereka, Ri’aima merasa harus segera membicarakan masalah dan masa depan Rockfield. Ia mengerti bahwa sang Ayah baru saja sembuh. Namun, rasa tanggung jawab lebih dominan pada diri perempuan rambut biru pudar tersebut.


 


 


“Ayahanda, boleh saya menyampaikan sesuatu? Ini tentang kondisi Rockfield sekarang.”


 


 


Ekspresi penuh ambisi Putrinya membuat Oma teringat dengan masa muda, merasa sedikit senang sekaligus takut jika sang Putri Sulungnya tersesat ke dalam keburukan. Menjadi tidak pandang bulu demi memenuhi ambisi, lalu pada akhirnya malah merusak semua hal yang seharusnya dilindungi. Menjadi seperti dirinya di masa lalu.


 


 


“Ayah tidak akan melarang lagi engkau ikut serta dalam politik kota. Namun, Ayah berharap engkau tidak terlalu berambisi. Pahamilah bahwa hal yang perlu engkau prioritaskan adalah Keluarga Stein, bukan hasrat gelap yang ada di dalam benak.”


 


 


Ri’aima tampak bingung mendengar hal tersebut, mulutnya sedikit menganga seakan ingin mengatakan sesuatu. Namun, ia kembali menutup mulut dan hanya menatap heran. Ia mengerti apa yang diucapkan oleh Oma, namun tidak paham mengapa Ayahnya tersebut menyampaikan hal itu sekarang.


 


 


“Saya … paham apa yang Ayahanda sampaikan. Lagi pula, saya sendiri sebenarnya tidak suka dengan politik. Saya mengurus masalah ini karena Baldwin sempat membuat kesalahan dan membuat para pejabat lama kehilangan rasa percaya kepadanya.”


 


 


“Baldwin, ya ….” Oma segera menatap Anak Keduanya tersebut. Mungkin jika itu Oma sebelum sakit, pria tua tersebut pasti akan langsung memarahi tanpa berpikir dua kali. Namun, sekarang ia tidak langsung memarahi dan berusaha memahami sifat anaknya tersebut. Mengingat Putranya itu sangat ingin Ri’aima mendapat pengakuan di Keluarga Stein, Oma hanya bisa menghela napas dan berkata, “Dari dulu engkau selalu berharap Kakakmu mendapatkan tempat di Keluarga Stein. Namun, pahamilah bahwa cara itu salah. Saat engkau turun dari posisi tersebut, hal itu bukan berarti Ri’aima akan menggantikan.”

__ADS_1


 


 


Baldwin segera menundukkan kepala, lalu dengan gemetar menjawab, “Ba-Baik, Ayahanda. Saya menyesal karena telah membuat Ayahanda kecewa.”


 


 


Setelah kembali mengangkat wajah, pemuda rambut cokelat itu seketika tertegun. Bukan karena ditegur, namun karena cara bicara sang Ayah sangat berbeda dari apa yang dirinya ketahui.


 


 


Pada detik itu, Baldwin sadar bahwa Ayahnya telah berubah. Sedikit lebih lembut dan benar-benar melihat anak sendiri.


 


 


Memang dalam hati Baldwin masih belum bisa memutuskan apakah itu perubahan yang baik atau tidak. Namun, ia merasa sedikit senang karena Oma sudah bisa melihat ke arah Ri’aima dan tidak lagi mengesampingkan Kakaknya.


 


 


Oma kembali menatap ke arah Ri’aima, lalu sembari memasang senyum tipis dengan tegas bertanya, “Lalu, hal yang ingin engkau bicarakan … secara spesifik tentang apa?”


 


 


“Ini … tentang Tuan Odo.” Ri’aima sekilas cemas, tampak mulai ragu setelah ditatap lurus oleh sang Ayah.


 


 


Melihat hal tersebut, Oma Stein tersenyum lepas dan menyampaikan, “Selama diriku sakit, engkau adalah satu-satunya orang yang berusaha mempertahankan Keluarga Stein. Baldwin menelantarkan kewajibannya, Agathe jatuh sakit dan tidak bisa melaksanakan hal tersebut. Hanya engkau yang berdiri sebagai pilar di keluarga ini selama Ayah sakit. Karena itulah, katakan dengan rasa percaya diri, Ri’aima. Diriku akan mendengarkan.”


 


 


Perkataan tersebut membuat Ri’aima terdiam. Dalam benak, perasaannya bercampur aduk antara senang dan curiga. Karena sejak kecil tidak pernah mendapatkan kepercayaan dari Oma, perempuan rambut biru pudar itu pun tidak memiliki hal tersebut kepada Ayahnya itu.


 


 


“Itu hanyalah bualan dalam diskusi,” itulah yang ada di benak Ri’aima saat mendengar perkataan Ayahnya. Namun, pada saat yang sama itu memang membuat perempuan rambut biru pudar itu senang. Merasa bangga atas semua hal yang telah dilakukannya selama sang Ayah sakit.


 


 


“Baiklah, Ayahanda ….” Ri’aima meletakkan tangan kanan ke depan dada, lalu menatap lurus sang Ayah dan menyampaikan, “Ini tentang koalisi yang saya bentuk dengan Tuan Odo. Namun, dalam kerja sama ini saya sendiri tidak ingin mengajak Keluarga Luke untuk ikut campur secara langsung. Tuan Odo sendiri berkata kepada saya bahwa beliau tidak ingin melibatkan Penyihir Cahaya. Beliau lebih ingin menggunakan statusnya sebagai seorang Viscount untuk ikut campur masalah ini. Karena itulah, tolong Ayahanda jangan salah paham tentang tujuan Tuan Odo.”


 


 


“Hmm ….”


 


 


Oma bersandar pada sofa, sejenak terdiam dan mencari tahu tujuan Odo Luke ikut campur masalah di Rockfield. Dari informasi yang disampaikan oleh Ri’aima, sang Kepala Keluarga Stein sendiri paham bahwa hal itu sangat masuk akal untuk dilakukan.


 


 


Untuk Odo yang merupakan bangsawan yang baru diberikan gelar, mencari nama baik di kalangan bangsawan lain sangatlah diperlukan. Tetapi, dari perkataan Ri’aima tetap saja ada beberapa hal yang aneh tentang tidak ingin melibatkan Penyihir Cahaya.


 


 


“Apa … ada sesuatu yang tidak Ayahanda sukai dari hal tersebut?” tanya Ri’aima memastikan.


 


 


“Tidak ada ….” Oma kembali duduk tegak, menatap lurus Putrinya dan berkata, “Meski harus melibatkan Keluarga Luke secara langsung, Ayah tidak keberatan. Dari penjelasan Baldwin saat di kamar, Ayah paham bahwa kondisi yang ada sudah diluar kendali Keluarga Stein. Terlebih lagi tentang kehadiran Prajurit Elite itu. Bahkan sebelum Ayah jatuh sakit, semua yang ada sudah terasa sangat aneh.”


 


 


“Aneh?” Ri’aima sedikit memiringkan kepala dengan bingung, lalu dengan penuh rasa penasaran bertanya, “Memangnya apa yang aneh dari hal tersebut? Saat Tuan Huqin meninggal dan posisi Kepala Prajurit kosong, sudah sewajarnya dari Ibukota mengirim pengganti, bukan?”


 


 


“Memang harus ada pengganti untuk posisi tersebut.” Oma memasang senyum kecut, lalu setelah menghela napas ringan kembali menjelaskan, “Namun, mengapa harus Yang Mulia langsung yang mengirimnya? Seharusnya engkau menyadari ini juga, Ri’aima.”


 


 


“Benar juga, kalau dipikir-pikir mengapa harus Yang Mulia yang mengirimkannya?” Saat disinggung oleh sang Ayah, Ri’aima baru menyadari hal tersebut. Dengan kejanggalan yang mulai terasa mencemaskan, perempuan rambut biru puar itu bergumam, “Untuk masalah seperti itu, sewajarnya itu akan diurus Tuan Luke atau Tuan Rein. Lantas mengapa itu disinggung langsung oleh Yang Mulia? Padahal hanya jabatan Kepala Prajurit di sebuah kota.”


 


 


Mendengar gumam Kakaknya, Baldwin ikut penasaran dan bertanya, “Apakah Yang Mulia punya pemikiran sendiri untuk Teritorial Rockfield, Ayahanda?”


 


 


“Kemungkinan ….” Oma memasang ekspresi tidak suka. Setelah menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk tidak naik pitam, Kepala Keluarga Stein tersebut menyampaikan, “Yang Mulia mungkin ingin mengakhiri kekuasaan Stein di Kota ini.”


 


 


Tentu saja itu membuat anak-anak Stein terkejut, merasa kesimpulan tersebut terlalu berlebihan karena Raja Gaiel hanya mengirim satu orang saja ke Rockfield. Tetapi saat mereka melihat mimik wajah cemas sang Ayah, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menyanggah secara frontal.


 


 


“Kalau memang seperti itu, mengapa Tuan Odo juga datang ke Rockfield? Keluarga Luke cukup dekat dengan Keluarga Kerajaan, ‘kan?” tanya Ri’aima dengan heran.


 


 


Pertanyaan itu membuat Oma kembali mempertimbangkannya. “Kalau memang menggantikan Keluarga Stein adalah keinginan Yang Mulia, seharusnya Odo Luke memihak pejabat baru. Namun, sekarang ini ia malah mendukung Keluarga Stein. Ini … sedikit membingungkan.”


 


 


Melihat sang Ayah tidak bisa mendapatkan kesimpulan, Baldwin menoleh ke arah sang Kakak Perempuan dan meminta, “Kenapa Ayunda tidak beritahu saja kepada kami …, itu … soal rencana yang ingin Ayunda dan Tuan Odo lakukan.”


 


 


Mendengar hal tersebut, kedua mata Ri’aima terbuka lebar. Bukan karena permintaan sang Adik, namun karena pesan yang juga sempat dititipkan oleh Canna sebelumnya. “Kamu pasti akan diminta untuk menjelaskan rencana yang ada, namun jangan beritahu mereka. Sampaikan saja kalau Tuan Odo yang akan menjelaskannya,” itulah pesan singkat yang Canna titipkan kepadanya.


 


 


Tidak ingin mengambil risiko dan lebih memilih percaya kepada rencana yang telah Odo buat, Putri Sulung Keluarga Stein dengan jelas menjawab, “Itu hanya boleh dijelaskan oleh Tuan Odo! Beliau … melarang saya membicarakannya ….”


 


 


“Bahkan kepada kami?” tanya Oma memastikan.


 


 


Mendengar perkataan tersebut, Ri’aima segera menoleh dan memperlihatkan wajah bingung. Ia seketika gelisah antara harus mengikuti rencana Odo atau memenuhi permintaan keluarganya.


 


 


“Ta-Tapi, Ayahanda ….”


 


 


“Baiklah, engkau tidak perlu memasang wajah seperti itu.” Oma berhenti menekan, merasa ingin mempercayai pada Putrinya untuk pertama kali. Sembari tersenyum ringan pria tua itu kembali berkata, “Jika memang itu yang engkau harapkan, Ayah tidak akan menekan. Tapi, apa benar Tuan Odo mau menjelaskan rencananya kepada kami?”


 


 


“Mungkin … beliau mau.” Ri’aima memasang wajah ragu.


 


 


“Hmm, kalau begitu … mari kita tunggu. Apa Tuan Odo akan kembali malam ini?”


 


 


“Kalau itu, saya sendiri tidak tahu.” Ri’aima memalingkan pandangan, lalu dengan wajah gelisah kembali berkata, “Saat berpisah di alun-alun, beliau hanya berkata ingin menyelesaikan masalah di Kantor Pemerintahan.”


 


 


Jawaban tersebut membuat Oma menghela napas. Paham akan menunggu lama, pria tua itu mengambil tongkat dan segera bangun. Sembari menatap ke arah Putrinya, ia pun menyampaikan, “Sembari menunggu beliau kembali, bagaimana kalau kita makan malam dulu? Kebetulan Ayah juga ingin berbicara dengan Penyihir yang dibawa Tuan Odo.”


 


 


“Ba-Baik, Ayahanda ….” Ri’aima menjawab dengan gugup.


 


 


“Kalau begitu, Ayah akan kembali kamar dulu. Setelah persiapannya selesai kalian bisa memanggil Ayah.”


 


 


ↈↈↈ


 


Catatan Kecil :

__ADS_1


Fakta 019: Author dan Ilustrator seri ini sebenarnya satu orang, cuma beda nama samaran doang.


__ADS_2