
ↈↈↈ
Semua hal yang telah terjadi adalah kenangan, tidak ada yang perlu disesali dari hal tersebut. Cukup anggap itu sebagai pelajaran dalam hidup, lalu ambillah langkah menuju masa depan.
Meski jalan yang dilewati adalah kolam lumpur tanpa kejelasan.
Entah mendung ataupun cerah, hari esok pasti datang tanpa diundang. Mengetuk pintu kenyamanan, lalu menerobos masuk sebelum kita siap untuk membukanya.
Karena itulah, jangan pernah mencoba untuk berhenti melangkah. Dalam akhir perjalanan panjang itu, sebuah makna pasti akan lahir dalam kehidupan ini.
Diselimuti keheningan, suara denging perlahan-lahan meresap ke dalam kepala. Memberikan getaran yang terasa lembap dan panas, layaknya uap air sedang menjamah pikiran buram.
Panas keluar dari telinga, mulut, dan hidung. Mata pun terasa terbakar, membuatnya terpaksa membuka mata dengan berat dan menatap ke depan. Dalam pandangan buram layaknya kaca yang tertutup embun.
Saat itulah, semua indra sang pemuda perlahan pulih. Tanpa cacat, sepenuhnya kembali tanpa kurang sedikitpun. Bahkan terasa lebih lengkap dari sebelumnya.
Seakan serpihan jiwa yang hilang telah kembali, itu membuatnya melupakan rasa sakit dalam benak. Bahkan sensasi basah pada kedua kaki pun luput dari persepsinya.
Kedua mata hanya terbuka lebar, sesuatu yang ada di hadapannya tidak masuk ke dalam kepala untuk dicerna oleh pikiran. Pemuda itu hanya berdiri dalam tatapan kosong seakan-akan memandang tempat yang sangat jauh.
Dalam ekspresi kecewa, pemuda bernama Odo Luke tersebut membuka kedua tangan seakan hendak menerima sesuatu. Berharap tanpa tahu apa yang diinginkan, hanya menatap sedih dengan rasa hampa.
Saat angin menerpa dan membuat gelombang kecil pada genangan, sesuatu yang dirinya sadari adalah sensasi pada kedua kaki. Dingin dan basah, lalu sedikit beraroma seperti rerumputan meski warnanya jernih kebiruan.
Pada detik itu sang pemuda tersadar, bahwa dirinya sedang berdiri di atas genangan air setinggi betis. Lalu, di sekelilingnya hanya ada genangan air yang sangat luas. Seakan-akan tempat tersebut adalah danau dangkal tanpa ujung.
Sedikit menoleh ke arah kanan, sebuah pohon besar yang pemuda itu kenal masih berdiri dengan kukuh. Meski pada beberapa titik ada bekas kebakaran dan gosong, warna hitam yang tampak hanyalah noda kecil.
Kedua tangan diturunkan, mulut sedikit terbuka dan ingin berkata sesuatu. Namun, suara tidak keluar dan pikirannya pun terhenti. Tidak ingin tahu, hanya berharap semuanya adalah mimpi yang kelak akan berakhir.
“Aku adalah Odo Luke,” gumamnya dalam sendu. Sedikit menyipitkan mata dan menundukkan wajah, ia menghela napas ringan dan kembali berkata, “Kali ini aku yang mendapatkan peran itu, ya? Ini memang terlalu menyedihkan, persis seperti yang kamu katakan waktu itu. Dunia tidak tercipta dari kehormatan, kebencian, atau bahkan cinta …. Tempat ini hanya penuh dengan hal menyedihkan.”
Perkataannya terdengar sangat abstrak dan tidak lengkap. Suara langkah dalam genangan air membuat Odo berhenti bergumam dan mengangkat wajah, lalu melempar senyum sinis seakan tidak senang dengan pertemuan itu.
“Mengapa engkau memasang wajah seperti itu, Odo?” ujar gadis yang menghampirinya. Rambut perak kebiruan tampak seperti lautan, terurai lurus tanpa ikatan sampai ujungnya hampir menyentuh genangan air. Berhenti di hadapan sang pemuda, ia lekas mengulurkan tangan kanannya sembari dengan lembut berkata, “Syukurlah dirimu baik-baik saja ….”
“Kau Seliari, ‘kan?” tanya Odo memastikan. Tatapannya dipenuhi kebingungan, tampak seperti orang tua yang baru saja bertemu dengan kenalan masa muda.
“Benar sekali, ini Seliari.” Gadis bertanduk tersebut meletakkan telunjuk ke pipi dan berpose layaknya seorang idola. Sedikit membungkukkan tubuh ke depan dan mengangkat panggul, gadis naga tersebut menggerakkan ekornya sembari menggoda, “Putri Naga nan cantik jelita! Mempesona sampai ujung dunia! Rekanmu yang paling setia!”
__ADS_1
Sembari melempar senyum kaku, Putri Naga mempertahankan pose tersebut. Tetapi saat melihat mimik wajah Odo yang terlihat benar-benar jijik, ia segera paham bahwa sikap pemuda itu bukanlah gurauan.
“Kenapa … kau bertingkah seperti itu?” tanya Odo sembari melangkah mundur. Tatapan yang dirinya perlihatkan bukan seperti ingin meledek atau bercanda, namun murni bingung seakan-akan dirinya baru kenal dengan Seliari.
“Eh?” Seliari segera berhenti berpose. Mendekat dengan cepat, Putri Naga tersebut menatap dari dekat sembari bertanya, “Engkau benar-benar Odo Luke, ‘kan? Aroma dan bentuk kamu sama, loh! Seharusnya dirimu Odo, bukan?”
“Ini memang aku, Odo!” Pemuda rambut hitam tersebut mendorong Seliari menjauh. Setelah menghela napas ringan, dengan nada resah ia pun berguam, “Kau pikir aku ini Mahia yang menyamar apa?!”
Perkataan yang terlontar spontan itu membuat suasana menjadi hening, sampai-sampai gelombang pada permukaan air berhenti karena mereka tidak bergerak. Sedikit menundukkan wajah dan menatap permukaan, Odo melihat refleksi dirinya di atas genangan.
Sama sekali tidak ada perubahan secara fisik, namun telanjang dada dan hanya mengenakan celana hitam panjang. Bahkan sarung tangan untuk mengakses dimensi penyimpanan pun lenyap.
Sedikit menaikkan tatapan, Odo mulai mengamati tubuh lawan bicaranya. Menatap dari lutut sampai ujung kepala.
Saat itulah, sang pemuda baru menyadari sesuatu. Tidak seperti biasanya, Seliari mengenakan gaun putih yang compang-camping. Tampak memiliki bekas gosong berwarna hitam pekat pada beberapa bagian.
Meski tidak ada luka pada kulit sang Putri Naga itu, namun dengan jelas itu adalah bekas kebakaran. Mengingatkan Odo pada sesuatu, lalu membuatnya segera menoleh ke arah Pohon Besar.
“Tadi terjadi kebakaran di sini,” jelas Seliari setelah membaca reaksi sang pemuda.
Odo balik menatap lawan bicaranya dengan panik. Mulut sedikit menganga dan ingin bertanya, namun pada akhirnya kembali tertutup karena sudah tahu jawabannya sendiri.
“Entahlah ….” Pertanyaan itu membuat Seliari mengangkat kedua sisi bahu. Sembari memalingkan pandangan, ia dengan setengah hati menjawab, “Diriku sibuk memadamkan api. Tempat ini langsung dilahap api tepat saat engkau tersambar petir sampai hangus. Lagi pula ….”
“Lagi pula?” Odo segera mendekat, membuat gelomang pada permukaan air dengan jelas. Menatap cemas dengan wajah pucat, pemuda rambut hitam tersebut memastikan, “Apa kau juga diambil alih oleh Mahia?”
“Diambil alih, ya ….” Seliari memalingkan pandangan dengan muram. “Kalau engkau berkata demikian, berarti memang itu yang terjadi,” tambahnya kurang yakin.
“Apa maksudmu?” Odo segera paham dengan perkataan Seliari. Namun, tetap saja dirinya tidak ingin menelan hal tersebut mentah-mentah.
“Saat tempat ini terbakar, tiba-tiba diriku sesak napas dan pingsan ….” Seliari melirik tajam. Sembari memasang ekspresi dingin, ia dengan nada curiga bertanya, “Engkau tidak sengaja melakukan itu, bukan? Rasanya sangat aneh, seakan-akan dirimu sedang menyembunyikan sesuatu.”
“Tentu saja tidak ….” Dari perkataan Seliari, sang pemuda membuat beberapa spekulasi dan ingin menarik kesimpulan. Ingin mempersempit perkiraan yang ada, ia dengan nada ragu balik bertanya, “Kau melihat kejadian itu, bukan? Atau paling tidak …, tahu apa yang telah terjadi melalui ingatan di Alam Jiwa ini?”
“Tentu saja tahu,” jawab Putri Naga singkat. Ia melipat kedua tangan ke belakang dan berbalik dari lawan biara. Dengan nada sedikit kesal, gadis bertanduk itu melirik tajam sembari menyampaikan, “Diriku sudah melihat semuanya, jauh sebelum dirimu kembali ke Awal Jiwa ini.”
“Hmm?” Odo sedikit terkejut. Berjalan memutar dan berdiri di hadapan Seliari, pemuda rambut hitam tersebut dengan cemas memastikan, “Apa maksudnya? Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?”
“Entahlah ….” Seliari sekilas mengangkat kedua sisi bahu. Sembari memalingkan pandangan dan memasang wajah cemberut, ia menyipitkan tatapan dan berkata, “Kalau dihitung dari waktu setelah diriku bangun, itu mungkin sudah lebih dari dua puluh empat jam.”
__ADS_1
Itu membuat Odo terkejut. Untuk orang yang pingsan, waktu tersebut bukanlah hal yang aneh. Tetapi, baginya hal itu terasa sangat janggal dan tidak menyenangkan.
Odo memiliki jiwa yang sedikit menyimpang setelah ingatannya perlahan bangkit, dipicu oleh pertemuannya dengan Raja Iblis Kuno. Saat kesadarannya terlempar dari raga, itu secara otomatis akan masuk ke dalam Alam Jiwa ataupun Dunia Kabut.
Karena itulah, seharusnya kesadaran tidak akan pernah berhenti berkerja dalam jangka waktu selama itu. Meski ada jeda selama pergantian Realm melalui perjalanan kesadaran, namun itu hanya terjadi selama beberapa detik saja.
Meskipun ada perbedaan waktu di dalam alam bawah sadar, tetap saja jarak yang ada terlalu lama. Saat Odo mengingat pembicaraan yang telah dilakukannya dengan Mahia, ia juga merasa hal tersebut tidak berlangsung lama.
“Apa Mahia membelokkan persepsi waktuku saat di Dunia Kabut?” gumam Odo cemas. Seraya memalingkan pandangan dan mengambil satu langkah mundur, ia memegang dagu dengan tangan kanan sembari lanjut bergumam, “Atau memang waktu itu jiwaku dibawa ke tempat lain? Tepat saat proses perpindahan, melalui frekuensi tertentu ….”
“Menyedihkan ….” Melihat kegelisahan Odo, sang Putri Naga langsung menatap sinis seraya menyindir, “Engkau bahkan tidak bisa mengendalikannya, ya? Padahal entitas itu adalah ciptaan engkau sendiri.”
“Menyedihkan …?” Dari seluruh kalimat sindiran yang dilontarkan Seliari, Odo malah terpancing oleh satu kata tersebut. Ia segera menatap lurus lawan bicara dan memegang kedua sisi pundaknya.
“Ternyata itu yang terjadi ….” Odo mendekatkan wajah, lalu menatap tajam dari dekat seakan-akan ingin membentak. Sembari menahan luapan emosi yang tidak jelas, pemuda rambut hitam tersebut dengan gemetar memastikan, “Berarti dia masih berada di sana dan belum hancur. Dunia⸻!”
“Dia siapa? Mahia?” Seliari menyela dengan nada kesal. Ia segera menodong Odo menjauh, lalu sedikit mengerutkan kening sembari berkata, “Apa engkau masih dikendalikannya?”
“Maaf ….” Odo menarik napas dalam-dalam, mengambil satu langkah ke belakang dan meletakan tangan kanan ke kening. “Kau tak perlu khawatir, aku tidak dikendalikan,” jawabannya dengan nada lemas.
“Hmm ....” Seliari memperlihatkan mimik wajah tidak peduli. Layaknya ingin membuang topik itu jauh-jauh, sang Putri Naga dengan tegas bertanya, “Setelah ini engkau ingin melakukan apa lagi, Odo?”
“Eh?” Reaksi lawan bicaranya membuat Odo Luke terkejut. Paham banyak hal yang tidak ia ketahui tentang kondisi yang ada, ia segera mendekat sembari bertanya, “Apa semuanya selamat? Meski Dunia Astral telah dibuat porak-poranda⸻?”
Perkataan Odo terhenti. Sebelum ia selesai bertanya, beberapa jawaban mengalir ke dalam kepala layaknya aliran sungai deras. Kepingan-kepingan informasi pun menuntun dirinya menuju sebuah kesimpulan tunggal.
Dalam tenang Odo bertanya, “Tidak hanya menghentikan Mahia, apa Helena juga ikut campur dengan hal seperti itu?”
“Entahlah, siapa yang tahu ….” Seliari tidak menjawab pertanyaannya, hanya melempar senyum sembari berbalik dari lawan bicara. Menoleh kecil dan mengacungkan telunjuk, sang Putri Naga dengan riang menyampaikan, “Engkau akan tahu itu setelah bangun.”
“Huh?” Odo semakin bingung. Tidak memiliki akses informasi dan ingin memastikan spekulasi yang dirinya buat, pemuda rambut hitam tersebut memegang pundak Seliari dari belakang. Memaksanya menghadap dan bertanya, “Apa Vil dan Reyah selamat? Bagaimana dengan para Elf itu?”
“Engkau akan tahu itu secepatnya.” Seliari menyingkirkan tangan Odo dari pundak. Mengangkat telunjuk dan menyentuh kening sang pemuda, dengan lembut Putri Naga tersebut menyampaikan, “Terima kasih sudah memenuhi janji itu ….”
Sebelum Odo Luke tahu apa yang dilakukan Seliari, tiba-tiba genangan air tempatnya berpijak terbuka. Berubah mejadi lubang tanpa dasar dan menjatuhkannya, lalu secara paksa mengusir sang pemuda keluar dari Alam Jiwanya sendiri.
.
.
.
.
__ADS_1