Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[96] Angelus I – Red Arrival (Part 02)


__ADS_3

 


 


 


 


Malam yang tampak sedikit berawan, menutupi sebagian besar gugusan bintang dan membuat kota tampak sedikit gelap. Hembusan angin terasa lebih dingin dari biasanya, lalu langit seakan memberikan pertanda hujan akan datang sebentar lagi.


 


 


Duduk sendirian pada teras depan Mansion Keluarga Stein, sembari memasang senyum tipis Odo mendongak. Menikmati malam mendung dan udara dingin, lalu sekilas memasang senyum tipis seakan telah mengetahui hal yang menyenangkan.


 


 


“Yah, sepertinya dia berhasil karena kepribadian Oma berubah ….”


 


 


Ucapannya seakan melayang ke langit, lalu hilang ditelan malam. Pada saat yang sama, itu juga terdengar seperti ialah yang telah mengubah kepribadian Kepala Keluarga Stein.


 


 


Berhenti tersenyum, pemuda rambut hitam tersebut pura-pura tidak menyadari kedatangan seseorang yang perlahan mendekat. Hanya diam dengan wajah melamun, lalu sekali menghela napas dan memejamkan mata.


 


 


“Anda sangat tidak pandai pura-pura,” ujar seorang perempuan dari arah pintu masuk Mansion. Segera berjalan mendekat, perempuan itu duduk di pinggiran teras bersama Putra Tunggal Keluarga Luke. Ia memasang senyum tipis, lalu merapikan gaun dan melipat kedua kaki sembari berkata, “Itu benar-benar mengejutkan. Tidak saya sangka Nona akan berani memulai pembicaraan tersebut dan membongkar semuanya.”


 


 


Salah satu Adherents, Sistine, dialah perempuan berseragam pelayan yang mengajak Odo bicara sekarang. Meski mendengarnya dengan sangat baik, Putra Tunggal Keluarga Luke tidak membalas perkataan tersebut dan pura-pura tidak peduli.


 


 


Mengamati, mengawasi, dan menjaga. Sepanjang hari ini, itulah yang Sistine lakukan kepada Ri’aima. Tentu saja, Sistine juga mengetahui hal seperti pembicaraan di toko camilan ataupun kejadian di kamar sang Nyonya Rumah sore tadi.


 


 


Odo memang tidak bisa memastikan dengan jelas dari mana perempuan rambut cokelat kepirangan tersebut mengawasi. Namun, hawa keberadaan dan tatapan dengan jelas terasa selama ia bersama Ri’aima tadi sore. Begitu halus, sangat profesional dalam pekerjaan, dan paham bagaimana cara menahan diri selama tugas.


 


 


Memahami semua itu dan merasakan bahaya dari salah satu Adherents tersebut, Odo tanpa pikir panjang memperlihatkan ekspresi dingin dan memancarkan kewaspadaan. Merasa tidak percaya, sedikit mempertanyakan kembali tujuan para Adherents datang ke Rockfield.


 


 


“Pembicaraan kita waktu itu masih berlaku, bukan?” tanya Odo memastikan.


 


 


“Tuan Odo tidak perlu cemas, saya ke sini hanya untuk melaksanakan tugas dari Yang Mulia. Dari awal, kami tidak benar-benar berada di pihak Nyonya Agathe. Kami mendukungnya hanya karena beliau menguntungkan untuk mencapai tujuan.”


 


 


Saat mendengar hal tersebut, seketika Odo sedikit tersentak. Merasakan tatapan tajam dari berbagai arah, sampai-sampai membuatnya menoleh sekeliling untuk memastikan. Meski hawa keberadaan dengan jelas terasa di sekitar dan tatapan seakan menusuk kulit, namun sejauh mata memandang hanya ada penjaga dekat gerbang dan Sistine.


 


 


Itu membuat Putra Tunggal Keluarga Luke menelan ludah, merasa tidak ingin membuat masalah dengan para Adherents. Terutama untuk sekarang, saat momen transisi rencana yang sedang berlangsung dalam kepentingannya di Rockfield.


 


 


“Kita kesampingkan dulu hal itu ….” Odo menghela napas, melirik ke arah perempuan di sebelahnya dan dengan tegas memastikan, “Kalian sudah memeriksa para pedagang, bukan? Bisa kau laporkan hasilnya sekarang?”


 


 


“Tentang orang-orang Kekaisaran itu, ya? Jujur saja, malah orang-orang Tuan Odo yang terlibat dan berpotensi membocorkan informasi ….” Sistine menghela napas panjang. Sedikit memperlihatkan ekspresi rileks, perempuan itu melepas pita merah dan membuat rambut panjangnya terurai lepas. Sembari memasang senyum tipis ia menjelaskan, “Sebagai ganti memperbolehkan menumpang transportasi, orang-orang Anda sepertinya menjual beberapa informasi kepada mereka.”


 


 


“Mereka?” Odo sedikit mengerutkan kening. Mengingat kembali perkamen yang pernah dibawah oleh An Lian beberapa hari lalu di alun-alun, Putra Tunggal Keluarga Luke segera menarik napas dalam-dalam dan bertanya, “Berarti sudah ada mata-mata atau informan yang menyusup ke dalam kota, ya? Kalian sudah mengidentifikasi siapa dia?”


 


 


“Sudah kami periksa. Namun sayangnya dia hanya pedagang lain, dengan koneksi lebih luas. Sama sekali tidak terlihat dengan militer Kekaisaran.” Sistine menghela napas panjang. Meletakkan pita ke atas pangkuan, ia memasang senyum kesal dan kembali berkata, “Saat saya menguping pembicaraan mereka, katanya sih akan ada orang penting dari Kekaisaran yang datang ke kota kemarin. Untuk menerima informasi dari para pedagang yang menjadi informan, lalu memberikan jaminan kepada mereka supaya bisa menyeberangi perbatasan sebelum perang pecah. Namun, entah mengapa sampai sekarang orang yang mereka tunggu tidak kunjung datang. Menurun rekan-rekan saya, tadi sore bahkan para pedagang itu sedang ribut.”


 


 


“Ah ….” Odo sedikit membuka mulut. Untuk sesaat, kornea mata berubah hijau dan Spekulasi Persepsi mengambil satu kesimpulan. Mengingat kembali orang yang terbunuh saat melatih Ferytan, Putra Tunggal Keluarga Luke sedikit memalingkan pandangan dan menyampaikan, “Sepertinya orang yang mereka tunggu tidak akan datang.”


 


 


“Memangnya kenapa?” Sistine menoleh ringan, lalu menyipitkan mata dan dengan heran bertanya, “Apa para pedagang itu ditelantarkan dan hanya dibohongi? Sengaja dibuat begitu untuk membuat Rockfield ricuh dari dalam, lalu mempermudah penyerangan?”


 


 


“Kau punya pola pikir yang sadis, ya?” Odo mengerutkan kening, sedikit duduk menjauh dan berkata, “Bukan itu. Hanya saja …., mungkin aku sudah membunuhnya.”


 


 


“Huh?” Sistine menatap bingung dengan mata setengah terbuka.


 


 


Menghela napas sekali, Odo memalingkan pandangan ke langit dan menjelaskan, “Waktu aku melatih Ferytan, tanpa sengaja aku membunuh orang yang mungkin para informan itu tunggu. Penampilannya seperti orang Kekaisaran, lalu memiliki liontin khusus.”


 


 


“Liontin? Semacam tanda?” tanya Sistine memastikan.


 


 


“Hmm, mungkin ….”

__ADS_1


 


 


Odo mengaktifkan dimensi penyimpanan pada sarung tangan, lalu mengeluarkan liontin yang sebelumnya ia pungut dari mayat orang kekaisaran. Itu terbuat dari batu giok, berbentuk ukiran Liong.


 


 


Menunjukkan benda itu kepada Sistine, tentu saja itu membuat sang Adherents terkejut saat mengetahuinya. Sedikit menganga dan tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat.


 


 


“I-Itu tanda Keluarga Li!” Sistine langsung mengambil liontin tanpa rantai tersebut, lalu segera memeriksanya dan berkata, “Tidak salah lagi, ini tanda Keluarga Li. Salah satu dari 12 Komandan Zodiak, perwakilan sang Naga Liong!”


 


 


“Keluarga Li, ya?” Odo pura-pura tidak tahu. Sedikit memberikan tatapan tajam, ia dengan niat mengusik memastikan, “Kau memiliki pengetahuan yang sangat luas, ya? Bagaimana bisa kau tahu itu dari salah satu Keluarga Komandan Zodiak?”


 


 


“Kenapa Tuan menatap seperti itu? Asal Anda tahu, kami para Adherents tentu saja memiliki pengetahuan tentang musuh untuk jaga-jaga.” Sistine balik menatap kesal karena merasa digoda. Setelah mengembalikan liontin tersebut kepada Odo, perempuan rambut cokelat kepirangan itu dengan serius bertanya, “Yang lebih penting, kenapa orang dari Keluarga Li juga ikut perang? Bukannya mereka sudah diruntuhkan oleh Kaisar, lalu sistem militer diganti oleh Jenderal Empat Arah?”


 


 


“Mungkin itu karena Kekaisaran ingin menumpuk kekuatan mereka kembali, untuk peperangan jangka panjang yang akan segera datang.” Odo memasang senyum tipis, menatap lurus perempuan yang duduk di sebelah dan menyampaikan, “Kau tahu, Sistine. Dua orang Kekaisaran yang datang bersamaku, mereka itu berasal dari Keluarga Qibo. Salah satu Keluarga Komandan Zodiak, perwakilan Ular Tua.”


 


 


Mulut Sistine seketika menganga. Atmosfer santai di sekitarnya seketika hilang. Setelah mengikat kembali rambut dengan pita, perempun itu segera berdiri dan menatap ke arah Odo dengan penuh rasa cemas.


 


 


Sedikit mengangkat gaun seakan ingin mengambil senjata rahasia di baliknya, ia dengan gemetar bertanya, “Ke-Kenapa Anda membiarkan musuh masuk ke sini?! A-Apa Anda berkhianat?”


 


 


“Seharusnya kau yang paling tahu kalau itu sangat tidak mungkin, bukan? Aku dari Keluarga Luke, mana mungkin melakukan hal seperti itu,” jawab Odo datar.


 


 


Menarik napas dan menenangkan diri, Sistine menurunkan gaun dan menatap pucat. Memikirkan orang-orang dari Kekaisaran yang sedang dibicarakan berada di dalam Mansion, ia perlahan mengangkat tangan kanan untuk memberikan tanda kepada rekan-rekannya yang bersembunyi.


 


 


Namun sebelum perempuan itu bisa memberikan tanda secara penuh, Odo langsung bangun dan menahan tangan kanan Sistine sebelum terangkat. Melangkah maju dan mendekatkan mulut ke telinga, Putra Tunggal Keluarga Luke berbisik, “Tenang saja, aku punya alasan. Mari duduk dan dengarkan dulu ….”


 


 


“Sungguh?”


 


 


“Hmm, sungguh ….”


 


 


 


 


Setelah Odo melepaskan tangannya, Sistine menghela napas ringan dan kembali duduk di pinggiran teras. Memasang mimik wajah kesal, tampak didominasi oleh rasa gelisah seakan cemas terhadap keselamatan anggota Keluarga Stein.


 


 


“Tolong cepat jelaskan, jangan cuma berdiri saja ….”


 


 


Mendengar perkataan itu, Odo melebarkan senyum gelap. Setelah duduk dengan kedua kaki selonjor ke depan, Putra Tunggal Keluarga Luke menggoda, “Meski sebelumnya bicara seakan tidak peduli Keluarga Stein, kenapa sekarang kau gelisah? Apa kau cemas saat tahu mereka bisa saja dalam bahaya?”


 


 


“Kami butuh mereka, Anda seharusnya paham itu!” Sistine menatap tajam pemuda di sebelahnya. Sembari menyipitkan mata, ia dengan tegas bertanya, “Alasan apa yang membuat Anda membiarkan orang-orang dari Keluarga Qibo itu? Jika penjelasan Anda tidak bisa meyakinkan saya, sekarang juga para Adherents akan menyeret mereka meski harus menumpahkan darah di Mansion ini!”


 


 


“Jujur tidak ada alasan khusus ….” Odo menganggap remeh ancaman itu. Layaknya sedang memancing sesuatu dari Sistine, pemuda rambut hitam tersebut kembali berkata, “Aku membawa mereka hanya karena ingin Canna dan Opium bisa pulang ke Miquator dengan selamat.”


 


 


“Huh? Hanya itu?!” Bagi Sistine, alasan tersebut sangatlah tidak penting dan sama sekali tak memiliki kaitan dengan ancaman perang yang ada. Kembali bangun dan berdiri di hadapan pemuda rambut hitam tersebut, perempuan itu dengan kesal membentak, “Yang benar saja! Meski Anda berhasil mencapai hasil yang luar biasa dan memuat momentum pemulihan militer, tetap saja kota ini masih sangat rapuh! Kenapa Anda mau mengambil risiko untuk hal seperti itu!?”


 


 


“Aku punya rencana sendiri ….” Odo meletakan telunjuk ke depan mulut. Sembari melebarkan senyum licik, pemuda rambut hitam tersebut dengan senang berkata, “Jika memang mereka ingin informasi, bagaimana jika kita berikan saja itu kepada mereka?”


 


 


“Maksud Tuan Odo … informasi palsu?”


 


 


Sistine dengan cepat menangkap maksud Odo. Namun setelah memikirkan beberapa cara dalam penerapannya, ia merasa hal tersebut sangat sulit. Pedagang adalah orang-orang dengan koneksi informasi yang luas. Memalsukan sesuatu di antara mereka hampir mustahil, sebab para pedagang memiliki mobilitas informasi yang tinggi dan bisa dengan mudah mengetahui sumber dan kebenarannya.


 


 


“Tepat sekali, aku akan memalsukan infomasi.” Odo menurunkan telunjuk sebelum Sistine menanyakan keraguannya. Berhenti tersenyum dan menatap serius, Putra Tunggal Keluarga Luke menunjuk ke depan dan menjelaskan, “Menyembunyikan informasi sangatlah mustahil bagi kita. Mereka pedagang, punya banyak mata dan telinga. Karena itulah, satu-satunya cara adalah dengan manipulasi informasi.”


 


 


“Bagaimana?” Sistine sekilas mengangkat kedua sisi pundak. Menatap mata setengah terbuka, perempuan itu meragukan, “Seperti yang Anda katakan, mereka adalah pedagang. Punya banyak koneksi dan bisa mengetahui kebenaran informasi dengan mudah. Di kota yang sedang tertutup seperti Rockfield, bahkan mungkin mereka tak perlu sampai satu hari untuk membongkar semua berita palsu.”


 


 


“Sederhana ….” Odo meletakkan telunjuk ke kening, lalu setelah melebarkan senyum tipis menjelaskan, “Pertama kita giring pemerintah Rockfield untuk membuat sebuah strategi perang dengan matang, lalu biarkan itu sampai ke telinga para pedagang. Setelah informan di antara pedagang tersebut melapor ke pasukan Kekaisaran, kita harus memaksa pemerintah untuk mengubah strategi perang tersebut dan merombak semuanya dari awal.”

__ADS_1


 


 


“Saya sedikit paham maksud Anda. Para pedagang pasti ingin segera menyebrangi perbatasan dan pulang. Setelah menjual informasi, mereka pasti akan segera menuntut alat mobilitas untuk bisa kembali secepatnya. Tepat setelah mereka semua mendapat itu dan pergi, saat itulah pemerintah Rockfield harus mengubah strategi perang mereka. Apa benar seperti itu?”


 


 


“Tepat sekali!” Odo bertepuk tangan satu kali. Sembari menunjuk lawan bicara, ia segera melebarkan senyum hangat dan memuji, “Kau memang pandai! Hebat bisa langsung menebak maksudku.”


 


 


“Namun, bukankah ini terlalu besar taruhannya?” Sistine menatap penuh rasa cemas. Memikirkan beberapa potensi kegagalan yang ada, ia sekali lagi memastikan, “Bukannya ada kemungkinan seperti pihak militer Kekaisaran tidak mau memenuhi janji? Atau mungkin pemerintah Rockfield tidak mau mengubah rencana pada momen yang ditentukan? Atau bahkan bisa saja Kekaisaran menyerang lebih awal dan tidak memedulikan para pedagang?”


 


 


“Ya, semua kemungkinan tersebut memang ada.” Odo berhenti memasang senyum. Sudah memiliki gambaran yang kuat dengan tindakan yang akan diambil Kekaisaran, ia dengan rasa percaya diri menjelaskan, “Setelah aku tahu siapa orang yang aku bunuh waktu itu, ini menjadi semakin jelas. Kemungkinan besar mereka sekarang sedang panik dan mengira bahwa Rockfield telah masuk dalam fase siaga, karena mata-mata mereka tidak kunjung kembali. Lalu, mereka mulai mengirimkan mata-mata lain dalam jumlah banyak. Supaya bisa menghubungi informan dan memastikan spekulasi mereka.”


 


 


“Ah, begitu rupanya ….” Sistine mengangkat telunjuk. Seakan telah memahami rencana Odo secara menyeluruh, ia dengan tegas memastikan, “Kita biarkan mata-mata itu menghubungi para informan, lalu membuat mereka mengira bahwa mata-mata pertama yang tidak kunjung kembali mati karena serangan monster. Memanfaatkan laporan informan terkait meningkatkannya pergerakan monster di hutan sekitar Rockfield. Dengan begitu, mereka tetap akan berasumsi bahwa informasi yang didapat dari pedagang sudah akurat …. Namun, bukankah itu pada akhirnya bergantung pada negosiasi pedagang yang menjadi informan?”


 


 


“Memang seperti itu.” Odo tidak bisa mengelak dari hal jelas tersebut. Menghela napas panjang dan menatap ke arah langit mendung, Putra Tunggal Keluarga Luke menjelaskan, “Pada akhirnya kita bergantung pada mereka. Tetapi, bukan berarti kita bisa agresif dalam hal seperti ini.”


 


 


Sistine sedikit tidak suka dengan cara pasif seperti itu. Merasa ada yang berbeda dengan langkah-langkah yang biasa Odo gunakan selama beberapa hari terakhir, perempuan itu memberikan tatapan curiga. Dalam benak merasakan ada sebuah rahasia yang disembunyikan pemuda itu dalam rencana tersebut.


 


 


Sejenak terdiam, Sistine merasa tidak ingin mengusik hal tersebut karena beberapa alasan pribadi. Namun, tetap saja ia merasa cemas dan kembali memastikan, “Kalau tidak berjalan dengan baik, apa yang akan Anda lakukan?”


 


 


“Jalur kekerasan ….”


 


 


Sistine sedikit tersentak. Menoleh dengan mimik wajah tidak nyaman, ia sekali lagi memastikan. “Maksudnya?”


 


 


“Kita tangkap para informan itu, lalu dipenjarakan.” Odo menatap dengan wajah lelah. Sembari meletakkan telapak tangan ke kepala, ia menundukkan wajah dan menjelaskan, “Ini memang memiliki risiko sangat tinggi. Namun jika rencana itu tak berjalan lancar, satu-satunya cara yang tersisa adalah memulai perang lebih dulu sebelum diserang oleh Kekaisaran.”


 


 


“Benar juga, pertahanan terbaik adalah menyerang.”


 


 


Sistine mengangguk. Namun, tetap saja ia sedikit tidak suka dengan rencana frontal seperti itu. Sebab gaya bertarung para Adherents tak cocok dengan perang terbuka.


 


 


Kembali menatap lawan bicara, Odo dengan mimik wajah kelam menambahkan, “Bila perlu, kita bisa membuat pemerintah Rockfield menjadikan penangkapan informan dan mata-mata sebagai pelatuk peperangan. Memberitakan itu kepada penduduk sipil, lalu mengumumkan potensi ancaman Kekaisaran yang sedang mengincar mereka.”


 


 


“Bukankah Anda bilang ingin membuat Nona-Nona Penyihir pulang ke Miquator?” Sistine semakin merasakan kejanggalan yang ada dalam rencana tersebut, seakan-akan Odo memang sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. Dengan niat untuk memberikan tekanan dan membuat pemuda itu membongkarnya sendiri, Sistine kembali meragukan, “Jika seperti itu, bukankah akan sangat sulit untuk mereka menyebrangi perbatasan?”


 


 


“Ya, itu hanya kemungkinan terburuk.” Odo menurunkan tangan dari kepala, lalu bertepuk tangan satu kali. Setelah menghela napas panjang, pemuda itu dengan jelas berkata, “Lagi pula, aku punya jaminan lain.”


 


 


“Jaminan lain?”


 


 


Sesaat pemuda itu terdiam. Mendung semakin pekat, lalu angin kencang mengikuti dan gerimis pun turun. Menerpa tubuh mereka yang duduk di pinggiran teras.


 


 


“Hmm, jaminan ….” Mendongak ke langit dan membiarkan wajah didera gerimis, Odo perlahan memasang wajah hampa. Kornea pemuda itu sekilas berubah hijau, lalu dalam suara sedikit serak menyampaikan, “Orang-orang Mylta kemungkinan besar besok akan sampai di Rockfield. Aku bisa menggunakan mereka untuk rencana cadangan lain.”


 


 


“Rencana lain?” Memikirkan beberapa rencana yang mungkin dipakai untuk memanfaatkan orang-orang Mylta, Sistine dengan sedikit penasaran memastikan, “Apa semacam kerja sama militer untuk melawan Kekaisaran? Gempuran dua arah? Suplai persenjataan? Atau bahkan mengalihkan alur peperangan ke kota pesisir?”


 


 


Semua tebakan tersebut salah. Namun, semuanya juga bisa dikatakan benar. Karena tujuan Odo sendiri adalah untuk menggiring pihak Kekaisaran membuat spekulasi seperti itu saat melihat orang-orang Mylta datang.


 


 


Tidak ingin Sistine melakukan hal yang tidak perlu dalam rencana pasif tersebut, Odo meletakkan telunjuk ke depan mulut dan tersenyum. Di bahwa gerimis yang perlahan berubah deras, ia dengan suara lemah berkata, “Itu masih rahasia. Mungkin akan aku beritahu setelah mereka sampai.”


 


 


ↈↈↈ


\================


Catatan Kecil :


Fakta 052 (Jawaban): Pertama adalah karena tingkat informasi yang berbeda, seperti penjelasan contoh terkait tentang dimensi satu hanya garis, dimensi dua memiliki ruang, dan dimensi tiga memiliki volume. Karena itulah, tingkat informasi dalam dimensi yang berbeda membuat kecepatan perkembangan berbeda-beda.


Lalu, juga disebabkan oleh Perkembangan dimensi / Perkembangan Semesta.


Dalam penggambaran, Dimensi awalnya hanya satu pada dunia dan hanya memiliki informasi pada satu tingkat dimensi, lalu berkembang menjadi dimensi dua, tiga, empat, dst.


Dunia yang pertama kali muncul tentu telah berkembang lebih dulu dan mencapai peradaban tertentu dengan tingkat dimensi tertentu. Itulah kayangan.


Perkembangan Semesta ini juga bisa dibahas menurut Teori Big Bang, dimana dalam ledakan besar dunia semakin melebar.


 

__ADS_1


 


__ADS_2