
Aroma rerumputan yang keluar saat diinjak, bercampur dengan semerbak wewangian manis dari buah-buahan matang pada pepohonan. Diangkut oleh tiupan angin halus, memapar tubuh dan masuk ke dalam hidung dengan lembut.
Berjalan tanpa mengenakan alas kaki, Odo Luke sesekali melihat sekeliling. Mengamati kondisi Dunia Astral, mencari tahu perubahan-perubahan yang dapat dirinya manfaatkan. Baik itu untuk proses perbaikan, atau bahkan menggunakannya sebagai alat negosiasi dengan para Roh.
Semenjak berangkat dari ekosistem Pohon Suci, pemuda rambut hitam tersebut sama sekali tidak menemukan distorsi spasial. Bukan hanya itu saja, tanda-tanda kehidupan Roh Tingkat Rendah pun tidak tampak. Hanya ada beberapa Roh Tingkat Menengah dan segelintir Roh Tingkat Atas, lalu seorang Putri Naga dan Roh Kecil yang menemaninya.
Dalam persepsi Odo Luke, karakteristik Dunia Astral benar-benar telah hilang dari tempat tersebut. Susunan serta struktur Realm telah berubah sepenuhnya, ditata ulang menjadi sesuatu yang sangat berbeda dari basis awal.
Pepohonan tidak lagi memiliki warna aneh, aliran Ether melemah, dan bahkan ciri khusus seperti distorsi spasial telah lenyap. Tidak ada lagi batasan jelas di antara masing-masing ekosistem, hanya ada perbedaan iklim tipis layaknya dipisahkan oleh garis khatulistiwa.
Paham dengan potensi ancaman yang ada dalam perubahan itu, sejenak Odo Luke menarik napas dalam-dalam. Sembari melewati jalan yang dipenuhi semak dan akar pohon, sejenak pemuda rambut hitam itu menajamkan tatapan.
“Kalau orang-orang dari Dunia Nyata tahu masalah ini, mereka pasti akan langsung datang dan merusuh,” gumamnya dengan mimik wajah cemas.
“Hmm, pasti tempat ini akan berakhir menjadi ladang eksploitasi,” sambung Leviathan. Sembari mempercepat langkah kaki dan berjalan di sebelah pemuda itu, sang Putri Naga dengan ketus menambahkan, “Dari dulu ras manusia selalu begitu. Saat mereka punya pengetahuan dan menemukan lahan untuk diolah, mereka akan langsung melakukan eksploitasi. Tanpa memikirkan dampak maupun membuat rencana jangka panjang.”
“Yah, itu sudah menjadi sifat dasar makhluk berakal. Saat sumber daya melimpah, tentu saja mereka tidak akan memikirkan hal menyusahkan seperti itu.” Odo tersenyum kecut. Sembari melirik kecil, dengan nada menyindir pemuda itu membalas, “Bangsa Naga Agung juga melakukan hal serupa, bukan? Memanfaatkan aliran Ether untuk membangun peradaban berbasis sihir, lalu lupa menerapkan pengelolaan radiasi yang mengakibatkan mutasi bawaan.”
“Engkau memang aneh ….” Leviathan memalingkan pandangan. Meraih dedaunan pohon yang dilewati dan meremasnya, wanita muda dengan rambut perak abu-abu tersebut melempar senyum ringan dan bertanya, “Memangnya engkau pernah tinggal di negeri seperti itu?”
“Ya ….” Odo membalas dengan senyum kecut, lalu menatap ke depan dan sejenak menghela napas. Sedikit menurunkan tatapan, pemuda rambut hitam tersebut menjawab, “Dahulu aku pernah menciptakan negeri semacam itu, penuh dengan perbedaan dan sangat kaya akan pengetahuan.”
“Menciptakan?” Leviathan tertawa ringan saat mendengar itu, menganggapnya lelucon ringan yang tidak terlalu penting. Sedikit memelankan langkah kaki dan melempar serpihan daun ke udara, Putri Naga tersebut lekas menggandeng Alyssum dan kembali bertanya, “Bicara soal negeri, menurut engkau bagaimana kalau kita mendirikannya di sini? Bersama anak ini?”
“Huh?” Odo melirik heran saat mendengar ajakan seperti itu, sedikit bingung karena sikap Leviathan yang terkesan acak dan cepat sekali berubah-ubah. “Aku tidak keberatan jika kau ingin membuatnya dengan Alyssum. Hanya saja, bukankah kita seharusnya fokus dulu untuk mengatasi masalah populasi Roh Tingkat Rendah?” singgung pemuda itu untuk menetapkan topik.
“Engkau benar ….”
Leviathan mengerutkan kening. Jauh di dalam lubuk hatinya, sejenak Putri Naga ingin mengesampingkan permasalahan tersebut. Saat diingatkan kembali seperti itu, suasana hatinya seketika menjadi keruh. Merasa sedikit muak dan lelah, lalu pada akhirnya menghela napas panjang dalam risau.
Kesunyian mengisi perjalanan mereka, melewati pepohonan dengan akar-akar besar yang tumbuh mencuat dari dalam tanah. Diiringi hembusan angin lembut yang terasa hangat, sedikit berbeda dari sebelumnya karena berasal langsung dari mentari.
Saat langkah kaki mulai memasuki hutan di sekitar ekosistem Laut Utara, udara hangat dan lembap menyambut mereka dengan hambar. Terasa lengket ketika menyentuh kulit, lalu sedikit asin saat masuk ke dalam mulut.
Seperti halnya perubahan yang terjadi pada ekosistem Pohon Suci, tempat tersebut pun tampak sangat berbeda dari ingatan Odo. Meski seharusnya Laut Utara telah porak-poranda karena pertarungan sebelumnya, namun bekas-bekas kehancuran, pencemaran radiasi, atau bahkan pemusnahan massal tidak tampak pada tempat itu.
Seakan petaka yang sebelumnya melanda tempat tersebut hanyalah ilusi, hutan di sekitar Laut Utara terlihat utuh dengan beberapa perubahan yang jelas. Kehilangan karakteristiknya sebagai Dunia Astral, meski begitu tampak rapi sama seperti ekosistem lainnya.
Pepohonan normal tanpa karakteristik unik maupun warna aneh, alang-alang dengan bunga seperti bulu putih, lalu komposisi Ether di udara yang hampir tidak bisa dirasakan alirannya. Diisi oleh berbagai macam tanaman tropis, didominasi oleh beberapa jenis kepala yang biasa tumbuh di daerah pesisir.
Berbeda dengan ekosistem Pohon Suci yang masih dihuni oleh beberapa Roh Tingkat Menengah dan Tingkat Atas, di sekitar tempat tersebut sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan selain tumbuhan. Terasa sangat sunyi, hanya terdengar suara dedaunan yang saling bergesekan karena tiupan angin.
__ADS_1
Dalam kesunyian singkat sebelum sampai ke garis pesisir pantai, Putri Naga sedikit melebarkan senyumannya kepada sang pemuda. Menatap dari samping dengan dingin, lalu tanpa ragu langsung bertanya, “Ngomong-omong, engkau berjuang sejauh ini demi siapa?”
“Mengapa kau yakin kalau aku bertindak demi orang lain?” Odo tidak goyah ataupun menoleh, menganggap itu hanyalah keisengan Leviathan dan mulai melebarkan senyum palsu. Sedikit melirik tanpa memperlambat langkah kakinya, pemuda rambut hitam tersebut kembali menegaskan, “Kau menganggap diriku Iblis, bukan? Sangat tidak masuk akal untuk makhluk seperti diriku punya landasan semacam itu.”
“Entahlah, apa benar begitu …?” Leviathan berhenti menatap. Sedikit mendongak dan membiarkan wajahnya terpapar sinar mentari yang masuk melalui sela dedaunan, wanita muda tersebut dengan tegas berkata, “Lebih mudah berjuang demi seseorang daripada untuk sesuatu.”
“Hmm ….” Odo menundukkan wajah, mempertimbangkan pembicaraan tersebut dengan baik-baik dan tidak lagi menganggapnya gurauan. Paham dengan maksud Putri Naga, pemuda rambut hitam itu lekas membalas, “Kau benar sekali. Daripada berjuang mati-matian untuk mencapai sesuatu, lebih mudah jika kita melakukannya demi seseorang. Namun, tujuan dan hasilnya bisa menjadi abstrak tergantung untuk siapa kita berjuang.”
“Jadi, untuk siapa engkau berjuang?” Leviathan kembali menoleh. Melempar senyum dingin penuh rasa sedih, dia memperlihatkan ekspresi muram layaknya musim gugur. Segera meraih tangan pemuda tersebut dan menatap matanya dalam-dalam, tanpa ragu maupun gentar wanita muda tersebut kembali bertanya, “Diriku ingin percaya keputusan Ayunda. Wahai anak manusia, untuk siapa engkau terus melangkah sampai sejauh ini?”
Odo sedikit menoleh, membalas dengan senyum kecut tanpa bisa menjawab langsung. Pemuda rambut hitam itu tiba-tiba berhenti melangkah dan menarik napas dalam-dalam, membuat sang Putri Nada dan Alyssum ikut terhenti.
Sejenak memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, senyum dinginnya perlahan berubah hangat seperti musim semi. Ia membuka kedua mata layaknya bunga yang mekar, lalu menatap halus dengan penuh kelembutan.
“Aku ingin melihat orang yang kucintai bahagia, karena itulah diriku sanggup berjuang dan pergi sampai sejauh ini ….” Odo berhenti tersenyum. Memperlihatkan mimik wajah seakan ucapan tersebut hanyalah gurauan, pemuda rambut hitam itu melanjutkan jawabannya dengan bertanya, “Jika diriku menjawab seperti itu, apakah kau akan percaya?”
Leviathan tidak bisa membalas, untuk sesaat membisu dengan mata terbuka lebar. Bersama dengan Alyssum yang digandengnya, Putri Naga tidak percaya bahwa jawaban seperti itu akan keluar dari mulut sang pemuda. Apalagi dengan ekspresi penuh rasa bangga dan bahagia seperti itu, meskipun hanya sekilas saja.
ↈↈↈ
Persepsi realitis dan pola pikir rasional, kedua sifat tersebut tertanam kuat dalam diri setiap makhluk primal. Layaknya binatang yang hidup dengan mengandalkan insting, manusia bergerak mengikuti perasaan, entitas yang lahir dari kehendak Awal mula tersebut mengambil keputusan berdasarkan akal mereka.
Sebagai bangsa yang mengutamakan pengetahuan dan martabat, makhluk primal atau bisa juga disebut Naga Agung cenderung memiliki pemikiran tajam. Meski perasaan dan insting mereka sangat kuat, pemikiran rasional selalu menjadi komponen yang paling dominan.
Tetapi, dalam sebuah ketentuan pasti ada sebuah pengecualian. Persepsi realistis dan pola pikir rasional tersebut bukanlah hal mutlak bagi mereka. Karena itulah, terkadang ada beberapa makhluk primal yang terlahir dengan sifat menyimpang.
Memiliki insting yang lebih dominan, perasaan, atau bahkan terlalu realistis dan rasional dalam menghadapi permasalahan. Oleh karena itu, secara sifat pada dasarnya makhluk primal tidak jauh berbeda dari umat manusia.
Tiap individu memiliki karakteristik, pola pikir, dan sudut pandang yang beragam. Berbeda-beda, khas, independen, lalu saling terhubung dalam tatanan sosial dan sistem kemasyarakatan yang disetujui bersama.
Hal tersebut juga berlaku untuk Leviathan. Meskipun dirinya merupakan hasil dari rekayasa genetik dan sedikit berbeda dengan makhluk primal lain, wanita muda tersebut tetap memiliki persepsi realistis dan pola pikir rasional yang kuat.
Namun, untuk beberapa alasan perasaan cenderung lebih dominan dalam dirinya. Layaknya wanita yang terjebak dalam sifat remaja, sikap labil terkadang muncul dan membuatnya tidak bisa lagi menilai keadaan dengan kepala dingin.
Karena sifat labil itulah, Leviathan menjadi kurang kooperatif terhadap Odo. Meski dirinya sudah menunggu pemuda itu bangun sejak beberapa hari lalu, saat berbincang dengannya perasaan tidak suka malah mengusai. Membuat wanita itu menjadi agresif, lalu pada akhirnya menujukkan sikap permusuhan secara terang-terangan.
Saat hatinya perlahan tenang dan berjalan bersama menuju Laut Utara, Leviathan mulai menyesali tindakannya saat masih di Pohon Suci. Merasa bisa saja pembicaraan waktu itu berlangsung lebih damai, tanpa harus mengumbar kebencian karena dendam yang tidak berdasar.
“Meski Ayunda sudah bilang supaya tidak terbawa amarah, namun diriku malah mengacaukannya ….” Sembari menyusuri hutan di sekitar ekosistem Laut Utara, wanita muda tersebut menghela napas ringan. Seraya melirik kecil dan memasang wajah cemberut, dirinya kembali bergumam, “Ini sungguh sangat sulit.”
“Hmm, sepertinya ini memang sulit.” Odo menangkap perkataan tersebut dengan sudut pandang yang berbeda. Keluar dari hutan dan masuk ke pesisir pantai, kaki pemuda itu menginjak hamparan pasir putih yang halus. Sembari menunjuk lurus dirinya menambahkan, “Lihatlah! Tempat ini sepenuhnya berubah menjadi pantai tropis ….”
Tidak ada hiperbola dalam ucapan pemuda itu. Seakan pantai tersebut terletak pada garis khatulistiwa, langit cerah menyambut mereka tepat setelah keluar dari hutan. Paparan sinar matahari terasa sangat hangat, lalu angin yang menerpa pun terasa sejuk dan sedikit lengket saat mengenai kulit.
__ADS_1
Tepat di batas garis pantai, laut biru terbentang luas sampai ujung cakrawala. Dihiasi oleh beberapa bebatuan karang dan koral, didera oleh ombak-ombak kecil yang tercipta dari hembusan angin kencang. Terlihat indah seakan pantai tersebut adalah tempat konservasi alam untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Namun, pantai tersebut terlalu sunyi untuk disebut tempat pelestarian. Meski kondisi perairan, udara, dan tumbuhan pada ekosistem Laut Utara sangat terjaga, sejauh mata memandang tidak ada satu pun tanda-tanda kehidupan bangsa Roh.
Tentu saja tanda-tanda hewan seperti kepiting, ikan, kerang, atau bahkan burung juga tidak tampak. Sangat sunyi dan hanya diisi oleh gemuruh ombak, lalu sesekali diiringi oleh ramainya suara gesekan dedaunan pohon kelapa.
Saat melihat semua itu secara langsung, Odo Luke seketika tertegun dalam perasaan yang bercampur aduk. Sejenak menarik napas dalam-dalam dan menerima kenyataan yang ada, pemuda itu segera mengambil kesimpulan bahwa Dunia Astral memang telah mengalami Restorasi.
Secara garis besar Restorasi merupakan sebuah proses pemulihan atau pengembalian menuju keadaan semula. Memperbaiki kerusakan, meluruskan kecacatan, lalu menyusun ulang informasi sebagai bentuk nyata untuk mengembalikan Dunia Astral menuju bentuk awal.
Tetapi, proses yang terjadi pada Dunia Astral sedikit berbeda dari Restorasi yang Odo tahu. Lebih tepatnya, ia tidak bisa mengambil kesimpulan pasti karena punya bukti konkrit terhadap hipotesis tersebut.
“Kenapa engkau bengong?” Leviathan berjalan mendekat. Setelah menepuk pundak Odo dari belakang dan membuatnya menoleh, wanita muda tersebut dengan nada sedikit riang mengajak, “Ayo! Seharusnya Vil dan Reyah ada di sekitar sini, mungkin mereka sedang pergi mengurus sesuatu ….”
Meski diajak dengan ramah, Odo Luke tidak langsung bergerak dari tempat. Pemuda tersebut hanya memandang laut dengan wajah pucat pasi, lalu perlahan meletakkan tangan ke depan wajah dan melangkah mundur.
“Ini terlalu ekstrem ini disebut Restorasi Dunia.” Odo lekas menurunkan tangan. Sembari melihat sekeliling dan mencari jejak-jejak perubahan, pemuda rambut hitam tersebut kembali bergumam, “Meskipun bedebah itu telah merestorasi Dunia Astral, lantas mengapa perubahannya bisa sampai sejauh ini? Jangan bilang semua perubahan ini adalah bentuk aslinya?”
Melihat gelagat Odo yang tiba-tiba berubah, Leviathan langsung cemas dan segera mengajak Alyssum untuk menjauh. Putri Naga tersebut meningkatkan tekanan sihir dan bersiap untuk menyerang, secara insting tahu bahwa pemuda itu sedang mengalami penyimpangan.
“Odo Luke, pertama-tama tolong tenang sebentar dan jangan berbuat macam-macam ….” Leviathan mengumpulkan Mana miliknya pada telapak tangan, menciptakan sebuah tombak trisula sempurna menggunakan teknik pemadatan. Sembari menodongkan senjata dan menatap tajam, wanita muda itu dengan tegas berkata, “Jika engkau melakukan hal aneh, diriku akan langsung membunuhmu.”
“Hmm?” Odo perlahan menoleh saat mendengar peringatan itu. Sejenak menghela napas dan melempar senyum ramah, pemuda rambut hitam tersebut sedikit memiringkan kepalanya dan berkata, “Tak perlu berlebihan. Benci tidak masalah, hanya saja jangan sampai⸻”
“Jangan bergerak!” Leviathan meningkatkan tekanan sihirnya. Manifestasi senjata trisula yang awalnya berupa padatan Mana biru tua mengalami perubahan, perlahan memiliki bentuk nyata dan berubah menjadi sebuah logam dengan warna keperakan. Sembari mengarahkan tombak itu ke leher Odo, sekali lagi wanita muda tersebut memperingatkan, “Tolong jangan bergerak dan lihat tangan kananmu sendiri …!”
“Tangan kanan?”
Odo lekas mengikuti perkataannya, perlahan menoleh dan langsung terkejut. Tangan kanannya telah berubah hitam pekat layaknya arang, memiliki beberapa garis merah yang terbuat dari sirkuit sihir, dan samar-samar mengeluarkan api merah gelap yang menjilat-jilat.
“Hah?!” Odo segera meloncat ke belakang, menjauh dari Leviathan dan berusaha untuk menekan kekuatan Naga Hitam yang tiba-tiba aktif. Tanpa ragu pemuda rambut hitam tersebut mencengkeram lengan tangan kanannya sendiri, lalu membiarkan tangan kirinya terbakar dan berusaha menghambat aliran Mana supaya tidak menyebar ke seluruh tubuh. “Sialan! Kenapa efek pedangnya tidak direset? Bukannya aku sudah mati?” gumamnya dengan cemas.
“Mati?”
Leviathan tersentak dengan wajah pucat, tangannya gemetar dan teknik pemadatan Mana miliknya sekilas buyar. Namun saat melihat kobaran api semakin membesar dan hampir melahap Odo, wanita muda itu tanpa ragu langsung menyerang dan berniat untuk memotongnya.
“Tunggu⸻!” Peringatan Odo terlambat.
Dalam hitungan kurang dari dua detik, Leviathan langsung menyerangnya. Bergerak dengan lincah dan mendekat melalui titik buta, Putri Naga itu dengan cepat mengayunkan trisula miliknya tepat ke arah tangan kanan pemuda itu.
Seakan menyadari bahaya, tangan kanan Odo memberikan respons dengan sangat cepat. Bergerak mengikuti program pertahanan yang tertanam dalam struktur sihir, tangan kanan hitam itu langsung menangkap trisula dengan mudah.
Meski serangan datang dari titik buta dan benar-benar di luar jarak pandang, tangan hitam tersebut seakan memiliki mata sendiri. Hanya dengan satu genggaman kencang, mata trisula pun langsung meleleh dan hancur terbakar dalam kobaran merah gelap.
__ADS_1