
“Engkau sudah mengklaim tahta itu ….” Jenderal Fai terperangah. Meskipun permukaan kulitnya mengering sampai tidak bisa mengeluarkan keringat, ia malah mendekat dengan wajah kebingungan. Pria rambut hitam itu mengernyit sembari lekas memastikan, “Jika memang dirimu telah mengambil hak tersebut, mengapa engkau mau memihak kami⸻?”
“Kurang! Dunia Astral masih berada di bawah wewenang Dewi Helena!” Odo menyela dengan tegas. Sekilas memalingkan pandangan, ia perlahan menunjukkan ekspresi resah sembari menjelaskan, “Lagi pula, dari awal tempat itu diciptakan sebagai prototipe. Lahan penelitian! Aku tidak bisa menang hanya dengan mengandalkan mereka!”
“Prototipe?” Jenderal Fai memperlihatkan ekspresi bingung, sekilas mengangkat bahu dan menggelengkan kepala. “Maksud dirimu, kami hanyalah kelinci percobaan untuk menciptakan sesuatu?” tanyanya untuk memastikan keraguan.
“Tepat sekali ….”
Odo mengelus kepala Ifrit. Meski hawa panasnya mempengaruhi semua bentuk kehidupan yang ada dalam radius, pemuda itu sama sekali tidak merasakan hal tersebut.
Tahta yang telah diklaim membuat dirinya kebal terhadap segala bentuk kekuatan astral. Tepatnya, pemuda rambut hitam itu memiliki resistensi yang mendekati imunitas mutlak. Berlaku untuk seluruh makhluk astral yang telah mengakuinya sebagai Raja Tanpa Mahkota.
“Sangat disayangkan, Lova! Engkau harus terjebak dalam wujud seperti itu ….” Ifrit menyindir. Dalam wujud burung api, sosok berselimut hawa panas itu mengepakkan sayap dan mulai terbahak. Ia menatap tajam dan lanjut mengejek, “Konyol! Engkau bahkan tidak mendapatkan berkah yang telah kita tunggu-tunggu!”
“Berkah?” Odo sedikit melirik, memukul kepala Ifrit untuk membuatnya berhenti mengepakkan sayap. “Jelaskan! Berkah apa?” pintanya dengan tegas.
“To-Tolong jangan tepuk kepala saya seperti itu, Raja Luke!” Ifrit langsung berhenti menunjukkan sifat angkuh. Ia menundukkan kepala dengan murung, menguncupkan sayapnya dan lekas menjawab, “Berkah yang saya maksud adalah bekal yang Anda berikan! Meski tidak dijelaskan dengan detail, hal tersebut tertulis dalam Catatan Kuno!”
“Ah, dia sangat teliti ….” Odo sekilas memalingkan pandangan. Tidak ingin membahas hal tersebut, pemuda rambut hitam itu segera menatap Jenderal Fai dan memastikan, “Apa hanya kalian yang tersisa? Sudah dibereskan?”
“Hmm ….” Jenderal Fai langsung memahami pertanyaan singkat itu, menjawab dengan berat hati dan mengangguk. Ia perlahan berbalik, menghadap pasukannya sendiri sembari menyampaikan, “Hanya kami yang tersisa, seluruh bandit rekrutan dan prajurit kolot telah dieksekusi di tempat. Meski masih banyak mayat yang bergelimpangan di sana, saya rasa ini sudah selesai.”
“Terima kasih, Jenderal Fai! Pengorbanan kalian pasti kelak akan terbalas!” Odo memperlihatkan ekspresi muram. Seakan memahami perasaan Jenderal Fai, ia sejenak menghela napas sembari bergumam, “Ini memang menyakitkan ….”
“Seakan dirimu memahaminya!” bentak Jenderal Fai. Ia lekas berbalik, lalu menunjuk lurus ke arah Odo dengan wajah murka. “Ingat! Diriku tidak butuh simpati murahan itu!”
“Aku tidak sedang bersimpati ….” Odo sejenak menahan napas, lalu balik menatap dengan sorot mata hampa. Seakan dirinya telah melewati situasi serupa, pemuda rambut hitam itu perlahan melebarkan senyum kaku sembari menyampaikan, “Jangan besar kepala, Nak! Jika berat, cobalah untuk bergantung kepada orang lain. Terkadang kalimat sederhana mampu menyelesaikan masalah, menyembuhkan rasa sakit dalam hati.”
“Diamlah, kita di sini bukan untuk membicarakan hal itu!” Jenderal Fai memalingkan pandangan, segera berbalik dan menjauh dari Odo. Setelah berdecak kesal, pria rambut hitam itu dengan gelisah bergumam, “Apa-apaan dia! Ini melebihi perkataan Kaisar, dia seakan mampu menggambarkan esensi jiwaku hanya dengan beberapa kalimat ….”
“Mari persingkat ini! Ifrit ….” Odo melirik ringan, perlahan menyipitkan mata dan meminta, “Tolong awasi mereka, pastikan supaya tidak bertemu dengan subjek yang berpotensi membahayakan pasukan! Antar sampai keluar dari Wilayah Luke ….”
“Sebentar, Raja Luke!” Ifrit mengepakkan sayapnya, turun dari lengan pemuda itu dan terbang beberapa meter di udara. Sembari memperlihatkan tatapan tajam, sosok berselimut hawa panas tersebut segera memastikan, “Engkau berniat membawa mereka juga? Bukankah kita sudah tidak punya banyak waktu?”
“Mereka?” Jenderal Fai menoleh, memperlihatkan tatapan bingung sembari ikut memastikan, “Maksud kalian Yue Ying?! Mereka yang menyusup ke Kediaman Keluarga Stein masih hidup, ya?!”
“Masih ….” Odo menatap datar, sedikit mengerutkan kening dan berdecak. “Kau tidak memeriksa⸻!?”
“Tidak sempat! Mereka langsung mengusir kami!” bentak Jenderal Fai. Sembari mengelus dada, ia dengan napas lega bergumam, “Syukurlah, anak itu masih hidup ….”
“Ah! Tapi seluruh prajurit yang berjaga di luar Mansion telah dibunuh oleh Vil!” Odo mengangkat telunjuknya ke depan. Sembari memalingkan pandangan, tanpa rasa bersalah pemuda itu menambahkan, “Aku juga membunuh dalang yang menghasut kericuhan di Kota Rockfield, orang gendut yang tampangnya seperti pedagang. Dia penting?”
“Mao Lie, ya?” Jenderal Fai memalingkan pandangan. Ia tidak memperlihatkan ekspresi sedih, namun malah mengendus ringan dan berkata, “Tidak apa! Bajingan itu pantas mati! Dia penghasut rendahan! Kalau bukan karena kebaikan Kaisar, babi itu pasti sudah dieksekusi karena pernah menyulut perang sipil di utara!”
“Dunia ini pun punya banyak orang yang sulit bernapas, ya? Padahal nilai dan norma yang diterapkan masih belum terlalu kompleks ….” Odo bertepuk tangan sekali, sekilas memalingkan pandangan dan lanjut bergumam, “Ini tidak aneh juga, sih. Sejak agrikultur diterapkan dalam masyarakat, manusia memang telah berubah menjadi makhluk rumit.”
“Hmm?” Jenderal Fai langsung menoleh, sedikit memiringkan kepala dan mengernyit. “Apa yang Anda bicarakan?” tanyanya dengan heran.
__ADS_1
“Bukan apa-apa, aku tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini ….” Odo mengulurkan tangannya ke depan. Sembari memperlihatkan senyum hangat, ia dengan niat membantu menawarkan, “Bagaimana kalau aku menyelamatkan mereka? Kalian bisa pergi dulu sampai perbatasan Wilayah Luke, atau menunggu di sekitar Lembah Gersang.”
“Engkau tidak akan kabur, ‘kan?” Jenderal Fai meragukan, sekilas mengangkat kedua alis dan memastikan, “Berikan jaminan! Coba yakinkan diriku, Keturunan Luke!”
“Bagaimana dengan Ifrit?” Odo lekas menunjuknya, perlahan melebarkan senyum kecut dan lanjut bertanya, “Dia bisa menjadi jaminan, ‘kan?”
“A⸻!” Sosok berselimut hawa panas tersebut terkejut, langsung mengubah bentuknya menjadi humanoid dan mendarat. “Anda menggadaikan saya?!” tanyanya sembari mendekat.
“Jangan cemas, aku tidak akan mengingkari kerjasama ini.” Odo mengangkat kedua tangannya, melangkah mundur dan berkata, “Lagi pula, aku juga ingin pergi ke Kekaisaran untuk bicara dengan gadis itu. Ada yang perlu diluruskan.”
“Akh! Dirimu sangat menyebalkan, Raja Luke! Tolong hargai⸻!”
“Iya, iya, aku paham!” Odo mendorong Ifrit menjauh. Ia lekas menatap Jenderal Fai, lalu memperlihatkan ekspresi ramah sembari kembali bertanya, “Bagaimana? Bisa, ‘kan?”
“Tidak cukup,” jawab pria rambut hitam itu dengan tegas.
“Hey! Ingin dibakar, ya⸻!?” Ifrit sempat murka, hampir menyemburkan api dari telapak tangan dan hendak membakar Jenderal Fai bersama seluruh pasukannya.
“Tenanglah sebentar, aku sedang bernegosiasi ….” Odo langsung membungkam Ifrit sebelum keadaan bertambah keruh. Menariknya menjauh, lalu lanjut bertanya, “Lantas apa yang kau inginkan? Jangan bilang kau juga ingin kembali dan meninggalkan pasukan⸻!”
“Itu …!” Jenderal Fai menunjuk ke arah pedang hitam yang tertancap. Sembari memperlihatkan ekspresi datar, pria rambut hitam tersebut lekas menegaskan, “Berikan pedang itu sebagai jaminan! Jika bersedia, engkau tidak perlu mengutus Ifrit untuk mengawasi kami.”
“Kau tahu apa itu, ‘kan?” Odo mengernyit. Segera melepaskan Ifrit, ia berjalan mendekati Jenderal Fai dan lekas memastikan, “Yakin? Itu yang kau minta sebagai jaminan? Kalau entitas yang bersemayam di dalamnya bangun, kalian bisa dilahap⸻!”
“Naga Hitam, bukan?” Jenderal Fai tidak gentar dengan ancaman semacam itu. Ia sekilas memperlihatkan tatapan datar, kemudian memalingkan wajah dan bergumam, “Tak perlu cemas, diriku paham risikonya ….”
“Baiklah, jika memang itu yang kau minta ….” Odo kembali mengulurkan tangan kanannya dan menawarkan, “Sepakat?”
Odo tidak membalas ataupun mempertanyakan perkataan itu, hanya memperlihatkan tatapan datar dan memasang senyum palsu.
Setelah berjabat tangan, pemuda rambut hitam itu perlahan memperlihatkan wajah aslinya. Senyum menyimpang layaknya sosok iblis yang telah berhasil menjebak mangsanya.
ↈↈↈ
Kebanyakan orang terlalu memandang rendah kehidupan. Mengayunkan pedang keegoisan, menundukkan orang lain dengan kekuatan dan perkataan memaksa. Membuat mereka menahan napas dalam penindasan. Menggunakan ketakutan sebagai instrumen.
Daripada mengulurkan tangan untuk menolong, mereka lebih suka menodongkan pedang dan mengancam. Menuntut sesuatu dan menyalahkan seseorang. Menekankan hierarki, berkata bahwa dirinya adalah yang paling berkuasa.
Hal tersebut pun berlaku untuk mereka. Pada kediaman Keluarga Stein, tepatnya lobi Mansion, situasi yang membuat napas terasa sesak berlangsung.
Mereka menatap dengan sorot mata tajam, dalam benak saling menyalahkan dan mengangkat senjata untuk menundukkan.
“Jangan mendekat!” Jonatan Quilta menodongkan pedangnya ke depan, berdiri menghalangi jalan menuju anak tangga dan lorong utama. Memancarkan tekanan sihir yang kuat, mengintimidasi sembari tetap waspada dan tidak mengambil tindakan gegabah. “Kenapa kalian masih ada di sini?! Jika Tuan Odo sudah kembali, kenapa dia tidak membunuh kalian?!”
Pria rambut merah kecoklatan tersebut baru saja disembuhkan oleh Vil. Tubuhnya masih dipenuhi luka bakar, jemari tangan kiri membiru, dan sebelah mata tertutup darah yang menggumpal.
Seakan tidak memedulikan semua itu, ia tetap berdiri tegak sembari menodongkan pedang pendek ke depan. Senjata pajangan yang diambil dari dinding.
__ADS_1
Jenderal Yue Ying tidak menjawab pertanyaan itu, ia hanya berdiri senyap di dekat pintu utama bersama rekannya. Perempuan rambut merah darah tersebut mulai memperlihatkan gelagat cemas, menggigit kuku jempol dan berjalan mondar-mandir dengan tidak jelas.
Saat menyadari sesuatu, Jenderal Yue lekas menggaruk kepala dan berjongkok. Menjerit dalam senyap, tanpa mengeluarkan suara.
“Tenanglah, Nona Muda. Anda tidak boleh gelisah di hadapan musuh ….” Seorang penyamar bernama Fu mengingatkan.
Ia tidak menurunkan kewaspadaan, menyiapkan senjata pelontar belati dan melirik ke arah Jonatan. “Meski situasi ini dikuasai oleh Roh Agung yang sedang berjongkok di sana, tidak ada jaminan mantan Prajurit Elite itu terus mau patuh. Bisa saja dia kehabisan kesabaran dan langsung menyerang kita,” ujarnya dengan suara lirih.
“Selesai ….” Setelah menyembuhkan Agathe, Vil segera bangun sembari membawa tongkat sihirnya. Ia sekilas membersihkan betis dan paha dari abu hitam yang menempel, lalu melirik ke arah Argo sembari menyampaikan, “Dia sudah melewati masa kritis. Minta orang puritan di sana untuk menjaga kondisinya supaya tetap stabil.”
“Ba-Baik! Terima kasih banyak, wahai Roh Agung yang mulia!” Oma bersujud, dengan tulus memberikan rasa syukur dan meneteskan air mata. “Terima kasih …. sudah menyelamatkan Istri saya!”
“Terima kasih banyak, wahai Penguasa Laut Utara ….” Magdala Soream berlutut. Sebagai orang puritan sekaligus umat yang taat, ia mendefinisikan Vil sebagai entitas suci. Berada satu tingkat di bawah Dewi Kota. “Saya sangat bersyukur Anda mau datang dan menyelamatkan kami!” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
“Pak Soream …!” Berbeda dengan Imam Kota tersebut, Rosaria Aria tidak berlutut ataupun mengucapkan rasa syukur. Hanya memberikan tatapan datar dan menjaga jarak. “Dia sudah keluar,” ujarnya dengan nada cemas. Ia gemetar ketakutan, tidak bisa berbicara dengan lancar selama berada dalam satu ruangan dengan Vil.
Di sisi lain, Roh Agung tersebut tidak terlalu peduli dengan mereka. Ia dengan anggun berjalan meninggalkan ruang tamu.
Berhenti di tengah lobi, Vil sekilas melirik ke arah Jonatan. Memberikan tatapan tajam dengan sorot mata keemasan, sedikit memberikan tekanan dan mengentakkan tongkat ke lantai marmer. Menciptakan suara yang menggema ke penjuru ruangan.
“Turunkan senjatamu, manusia ….”
Vil menghadap ke arah pria itu, lalu memalingkan pandangannya dan sekilas menatap Ri’aima yang terduduk di atas anak tangga. Mengamati perempuan rambut biru cerah tersebut untuk memastikan sesuatu.
Duduk tidak terlalu jauh dari mereka berdua, Leviathan yang baru saja siuman masih tampak kebingungan. Ia melihat sekeliling, menunjukkan gelagat gelisah karena sensitivitas indranya terlalu kuat. Dapat merasakan seluruh kematian yang terjadi dalam radius beberapa kilometer.
“Ini … sudah berakhir?” tanya Putri Naga tersebut sembari bangun. Ia segera menuruni anak tangga, lalu berjalan menuju Vil untuk memastikan. “Odo pergi ke mana? Ke-Kenapa tiba-tiba dia memukul kepala saya tadi?! Kenapa semuanya terasa sangat senyap?!”
“Ingatan Naga Agung memang luar biasa. Engkau masih mengingatnya dengan jelas meski sudah dipukul sekeras itu.” Vil mengendus ringan. Berbalik ke arah pintu utama, ia perlahan mengangkat tangannya dan menunjuk. “Odo sedang mengurus hal lain di luar. Seharusnya … dia sebentar lagi akan kembali.”
“Dan dirimu setuju?! Tidak mencegahnya?!” Leviathan seketika marah, ia segera berjalan menuju pintu dan berniat keluar. Berniat mencari Odo untuk memastikan sesuatu. “Kalian gila! Membiarkan monster seperti itu berkeliaran tanpa pengawasan⸻!”
“Berhenti, Putri Naga ….” Vil mengangkat tongkat Veränderung, mengarahkannya ke depan dan segera mengaktifkan Inti Sihir. “Tidak ada yang boleh keluar sebelum ia kembali! Odo telah mempercayakan tempat ini kepada diriku,” ujarnya dengan tegas, perlahan mendekat dan berjalan memutar. Menjaga jarak sembari berusaha membatasi pergerakan Leviathan.
“Engkau serius?” Leviathan seketika terhenti, perlahan melirik tajam dan mengernyit. Namun, ia tidak mengaktifkan Inti Sihir dan berusaha memberikan kompromi.
Tidak ingin melukai orang-orang di dalam Mansion, ia sejenak menghela napas sembari menggelengkan kepala. “Baiklah, mari kita tunggu dirinya! Namun! Sampai kapan? Ada kemungkinan dia kabur dan tidak kembali,” ujarnya dengan ekspresi kesal.
“Kabur?” Vil berhenti melangkah, berdiri di sebelah kiri Leviathan dengan jarak tiga meter. Tidak menurunkan tongkat Veränderung, Roh Agung tersebut sedikit mengangkat alis dan lanjut bertanya, “Untuk apa Odo kabur? Dari apa?”
“Engkau tidak menyadarinya?” Leviathan berbalik, segera mencengkeram tongkat sihir dan menahannya. Sembari berjalan mendekat, Putri Naga lekas menunjuk lawan bicaranya dan menegaskan, “Dia hanya ingin menundukkan Dewi Penata Ulang! Kerajaan ini dan dunia astral hanyalah batu loncatan⸻!”
“Kau tidak sepenuhnya salah, Leviathan ….” Genangan air bercahaya tiba-tiba muncul di atas permukaan lantai, tepat beberapa meter dari pintu utama. Seorang pemuda rambut hitam merangkak keluar dari dalam genangan tersebut, segera berdiri sembari menggelengkan kepalanya. “Aku memang ingin pindah pihak,” tambahnya seraya berdecak ringan.
Saat pemuda itu menjentikkan jari, genangan bercahaya tersebut seketika berubah menjadi partikel Ether. Menyatu dengan udara dan sepenuhnya lenyap. Pakaian yang dikenakan pemuda itu dengan cepat mengering, mengeluarkan sedikit asap putih tanpa ada hawa napas sedikit pun.
\=========================================
__ADS_1
Catatan :
See You Next Time!!