Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[103] Serpent III – Bay Leaf and Bittersweet (Part 05)


__ADS_3

 


 


 


 


Menutup kedua telinga, lalu perlahan memejamkan kelopak mata dan terdiam. Meski telah membatasi kedua indra, sensasi tidak nyaman dari permukaan pasir pantai terasa sangat jelas memalui kaki tanpa alas. Aroma laut yang bercampur dengan bau tidak sedap menusuk hidung sampai ke otak, membuat sang pemuda membuka mata dan berhenti menutup telinga.


 


 


Ia ingin berhenti, mengikuti saran Laura dan Magda untuk menunda penaklukan, lalu pulang dan tidur di atas ranjang yang hangat. Melupakan semua masalah yang ada dan kabur dari sebuah ketetapan yang dibebankan kepadanya.


 


 


Namun, pemuda rambut hitam tersebut tidak bisa melakukannya. Ia tidak bisa mengambil pilihan tersebut dan menjadi seorang pengecut. Hanya ada satu jalan baginya, lalu itu bukanlah sesuatu yang mengizinkannya berhenti atau berpaling dari masalah.


 


 


Suara lonceng pertanda seakan bertentang di dalam kepala, menggema lantang dan mendorongnya untuk terus maju menuju masa depan.


 


 


Nama Odo Luke telah diberikan kepadanya. Karena itulah, sang pemuda hanya akan menjalani peran tersebut dalam kehidupannya kali ini.


 


 


Saat dirinya mengangkat pedang hitam ke depan dan perlahan menariknya dari sarung kayu, aura mengerikan langsung terpancar kuat dari bilah berwarna hitam tersebut. Meski berada dalam kegelapan malam, pancaran dari bilah seakan menjadi sesuatu yang lebih gelap dari hitam.


 


 


Saat pedang tersebut sepenuhnya ditarik dari sarung, hal tersebut juga menjadi tanda bahwa rencana penaklukan telah dimulai. Pancaran dari bilah yang membuat suhu udara naik menjadi isyarat bagi semua yang mengikuti penaklukan Leviathan, lalu menggerakan mereka secara serempak.


 


 


Dalam penaklukan terdapat dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Odo, Vil, dan Reyah yang berada di garis pantai sebagai lini depan. Mereka memiliki peran untuk memancing Leviathan naik ke permukaan, lalu menahannya selama mungkin.


 


 


Untuk kelompok kedua terdiri dari Laura dan Magda, berperan sebagai eksekutor dengan sihir Parva Nuclear. Mereka akan siaga di tempat menembak yang terletak tidak jauh dari garis pantai, lalu merapalkan mantra sembari bersembunyi dari Leviathan yang ditahan oleh kelompok pertama.


 


 


Peran sebagai eksekutor tersebut hanya sebuah alternatif. Seperti yang disampaikan Odo selama diskusi, kunci dari penaklukan Leviathan telah diubah menjadi negosiasi. Pembicaraan secara setara untuk mendapatkan kesepakatan bersama.


 


 


Sihir yang disiapkan dan semua jebakan yang dibuat hanya berlaku sebagai antisipasi jika negosiasi tidak berhasil. Mencoba menghabisi Leviathan dengan kekerasan, lalu jika tetap tidak berhasil maka kedua Elf tersebut bisa kabur kapan saja.


 


 


Namun, kemudahan tersebut tentu tidak berlaku untuk Reyah dan Vil. Jika rencana penaklukan Leviathan gagal, kedua Roh Agung itu tidak akan kabur dan akan menetap sampai titik darah penghabisan.


 


 


Bagi kedua Roh Agung tersebut, kegagalan juga berarti sebuah bencana bagi Dunia Astral. Leviathan kemungkinan besar akan menunjukkan murka kepada bangsa Roh, lalu mendatangkan banjir besar yang menenggelamkan semuanya. Sebagaimana dongeng menceritakan Pemusnah Peradaban tersebut, sang Sea Serpent akan berusaha memusnahkan peradaban yang ada di Dunia Astral.


 


 


Vil dan Reyah sudah tahu risiko tersebut saat Odo membicarakan penaklukan Leviathan. Meski mereka sangat paham dengan semua akibat yang ada jika rencana gagal, kedua Roh Agung itu tetap memilih untuk membantunya.


 


 


Keduanya memang memiliki alasan yang berbeda-beda untuk membantu, namun secara garis besar Reyah dan Vil punya satu kemiripan rasa dalam hal tersebut.


 


 


Mereka ingin berguna untuk Odo Luke, membuktikan bahwa kontrak yang telah terjalin bukanlah sebuah kesalahan. Pantas dipertahankan dan layak untuk diperjuangkan sampai akhir.


 


 


“Kita mulai ….” Odo melepas sarung tangan kanan, lalu memasukkannya ke dimensi penyimpanan pada sarung tangan kiri.


 


 


Pemuda itu mengangkat pedang hitam ke depan dengan tangan kanan, lalu menodongkan ujung tajamnya ke arah laut dan mulai mengaktifkan Hariq Iliah untuk memuai aktivasi. Sirkuit Sihir sekunder mulai menyalurkan Mana ke sekujur tubuh, beresonansi dengan pedang dalam genggaman dan membuat senjata itu menyala merah darah.


 


 


Di dalam malam gelap, garis-garis merah mulai menjalar dari dada ke seluruh tubuh pemuda rambut hitam tersebut. Menyalurkan Mana berwarna merah darah, lalu secara penuh terserap ke dalam pedang hitam yang dipegangnya.


 


 


Api menyala terang pada mata pedang, sepenuhnya membakar senjata dan tangan kanan Odo dengan merah darah yang membara. Layaknya sebuah lilin yang terbabar pada sumbu, bilah perlahan meleleh dan memancarkan percikan api ke sekitar.


 


 


Sebagian lelehan jatuh ke atas permukaan pasir, lalu sebagian lagi mulai bergerak dengan sendirinya menyelimuti tangan kanan Odo. Saat gagang kayu yang terbuat dari batang Pohon Suci sepenuhnya terbakar, lelehan pedang hitam tersebut langsung menerkam tangan pemuda rambut hitam itu.


 


 


Layaknya lintah yang kehausan dan ingin menghisap darah, lelehan pedang membakar pakaian dan lengan Odo. Mencengkeram kencang sampai bunyi tulang patah terdengar jelas, lalu menusuk masuk melalui kulit sampai ke nadi dan sirkuit sihir.


 


 


Darah menetes, rasa sakit menjalar ke sekujur tubuh Odo dan membuat kesadarannya seakan-akan melayang ke langit. Tetapi seakan lelehan pedang itu memiliki efek anestesi, rasa sakit dengan cepat lenyap. Berubah menjadi seperti obat epinephrine yang terasa menjalar melalui tangan, lalu meresap masuk sampai ke sirkuit sihir sekunder dan Inti Sihir.


 


 


Kesadaran Odo dipaksa naik sampai tingkat tertinggi, detak jantung semakin kencang, dan napas menjadi terengah-engah. Namun, pada saat yang sama pikirannya terasa sangat jernih dan bisa berpikir lebih cepat dari sebelumnya.


 


 


“Penyelarasan dimulai, sinkronisasi ditetapkan. Kalkulasi batas waktu, diketahui. Ditetapkan batas akhir, sesuai.”


 


 

__ADS_1


Saat Odo menjatuhkan gagang yang sudah menjadi arang, seketika kekangan pada pedang hilang sepenuhnya menghilang. Lelehan bilah tersebut langsung meremukkan tangannya dalam hitungan detik, meledak hancur dalam sekejap. Membuat darah dan daging beterbangan, lalu semuanya berceceran di atas pasir bersama lelehan pedang bersuhu tinggi.


 


 


“Odo?!”


 


 


“Apa yang dirimu lakukan?! Pedangnya lepas kendali?!”


 


 


Vil dan Reyah benar-benar terkejut saat melihat tangan Odo meledak. Mereka segera mendekat, lalu untuk sesaat melupakan rencana dan ingin menghentikan pemuda rambut hitam tersebut.


 


 


Tidak memedulikan kekhawatiran mereka, Odo Luke tetap memperlihatkan ekspresi tenang. Seakan tidak merasakan sakit meski tangannya meledak, ia langsung mengendalikan lelehan pedang yang terpencar.


 


 


Memanipulasi semua bagian yang terpencar, lalu mengumpulkannya menuju tangan kanan yang sebelumnya meledak. Perlahan membentuk ulang bagian tubuh yang hilang, lalu mengambil alih kembali tangan dan lelehan pedang yang sebelumnya lepas kendali.


 


 


Vil dan Reyah seketika terdiam, tidak mengerti apa yang terjadi pada tubuh pemuda tersebut. Namun, mereka tahu bahwa kontrol Mana liar seperti itu bukanlah sesuatu yang bisa bertahan lama. Kekuatan sihir yang bisa melukai pengguna, itu sama saja memegang bara api dengan tangan kosong.


 


 


“Hariq Iliah! Aktivasi penuh!”


 


 


Garis merah pada tangan kanan semakin jelas. Pada saat bersamaan, dengan menggunakan wewenang Laut Utara pemuda itu mengumpulkan Ether dalam jumlah yang sangat banyak. Membuat arah angin di sekitar berubah, berkumpul di sekitar tubuhnya dan menyerap Ether masuk ke dalam garis merah pada permukaan kulit.


 


 


“Teknik Pemadatan Mana, Tangan Naga Hitam!”


 


 


Odo mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi, mengumpulkan Mana yang diserap menggunakan wewenang Laut Utara pada satu titik. Layaknya batu bara yang ditiup angin kencang, tangannya seketika terbakar api merah gelap yang menjilat-lihat ke langit.


 


 


Saat ia mengepalkan tangan, suplai Mana melalui konversi Ether yang berkumpul seketika diputus. Api seketika padam pada saat itu juga. Menyelesaikan proses penempaan tangan berselimut bara tersebut, lalu memperlihatkan salah satu anggota tubuh yang sepenuhnya berubah menjadi hitam.


 


 


Gelap layaknya arang, memiliki garis-garis merah yang menyala terang, lalu memancarkan aura Naga Hitam yang kuat. Tangan kanan Odo benar-benar menyatu dengan pedang hitam yang telah dilebur, terhubung dengan sirkuit sihir sekunder dan menjadi satu dengannya.


 


 


Kedua Roh Agung yang melihat proses tersebut hanya bisa tercengang. Meski memiliki bentuk fisik dan tampak seperti tangan, Vil dan Reyah tahu bahwa itu adalah Mana yang dipadatkan. Dengan kata lain tidak memiliki kulit, daging, darah, ataupun tulang. Hanya berupa Mana yang dibentuk sedemikian rupa menjadi sebuah tangan.


 


 


 


 


Vil mendekat, memperlihatkan mimik wajah cemas dan mengulurkan tangan ke arah Putra Tunggal Keluarga Luke untuk meraihnya. Tetapi seakan ada sebuah dinding tak sakat mata di sekitar pemuda itu, tangan sang Roh Agung terhenti sebelum bisa menyentuhnya.


 


 


“Vil, bersiaplah ….”


 


 


Odo mengayunkan tangan kanan kesamping, membuat kobaran api yang sangat besar dan membakar tangannya sendiri. Dalam hitungan detik kobaran tersebut langsung memadat bersama gas, lalu berkumpul pada satu titik dan membentuk sebuah proyeksi pedang Gladius dengan api bersuhu tinggi.


 


 


Sebuah pedang plasma sepanjang 85 sentimeter, itulah bentuk dari pemadatan api tingkat tinggi yang Odo lakukan. Menyala terang dengan warna merah darah, seakan-akan sebuah matahari digenggam oleh tangannya.


 


 


Meski masih dikuasai rasa cemas, sang Siren mengangguk patuh dengan perkataan Odo dan segera mengaktifkan Inti Sihir. Sekujur tubuhnya seketika memancarkan aura keemasan terang, menyala layaknya rembulan di waktu petang.


 


 


Vil meletakan kedua tangan ke depan dada, lalu memejamkan kedua mata dan mulai mengakses senjata sihirnya. Sembari menarik tongkat berwarna keemasan dari dalam tubuh, sang Roh Agung mulai mengaktifkan Inti Sihirnya secara penuh.


 


 


“Dunia jauh dari kesempurnaan, karena itulah konsep kehancuran diberikan kepada mereka untuk mengembangkan dunia ….”


 


 


Tongkat berwarna keemasan sepenuhnya ditarik keluar dari dalam dada. Sembari memegang gagang dengan kedua tangan, sang Siren mengangkat ujung tongkat setinggi mungkin. Pada detik itu juga Moon Stone di ujungnya bersinar terang, memancarkan cahaya putih keemasan dan mempengaruhi frekuensi Ether sampai seluas belasan kilometer.


 


 


“Oh, wahai pengubah struktur dunia, wahai pembaharu segalanya! Logam keemasan dari laut dalam, batu yang mengurung cahaya rembulan! Berikan kejayaan para dewa ke dalam genggaman tangan ini! Veränderung!”


 


 


Mantra tersebut memperkuat efek tongkat sihir tersebut, yaitu mengubah struktur dunia dan mengaturnya sesuai dengan kehendak pengguna. Seketika distorsi spasial sejauh paparan cahaya tongkat menjadi stabil, Ether sepenuhnya diambil alih, lalu langit yang mendung pun berubah sedikit keemasan dan malam seketika menjadi terang seakan-akan pagi telah datang.


 


 


Melihat kekuatan Vil yang sesungguhnya, untuk sesaat Reyah tercengang. Dalam pertarungan hal tersebut memang tidak terlalu berguna. Namun, jangkauan manipulasi Mana dalam skala sangat luas itu memang sangat luar biasa. Bahkan untuk kalangan Roh Agung sekalipun.


 


 


“Dia … bisa mengambil dominasi sampai seluas itu?” benak Reyah seraya melangkah ke belakang. Merasa tidak ingin kalah darinya, sang Dryad segera mengaktifkan Inti Sihirnya dan menyalurkannya melalui sirkuit sihir.


 

__ADS_1


 


Keuntungan wilayah memang tidak memihak Reyah karena berada di Laut Utara. Membuatnya memiliki suplai Mana yang cukup terbatas. Namun, sebagai seorang Dryad dirinya bisa membuat koneksi dengan tanaman di sekitar. Meminjam energi kehidupan mereka dan menjadikannya Ether, lalu digunakan sebagai suplai Mana eksternal.


 


 


Sang Dryad membuka telapak tangan ke arah Odo, lalu mengaktifkan sihir peningkatan untuk pemuda rambut hitam tersebut. Partikel cahaya mulai keluar dari tubuh Reyah, lalu bergerak ke arah sang pemuda dan menyelimutinya.


 


 


“Peningkatan kekuatan fisik! Kelincahan! Resistansi sihir! Kontrol sihir! Suplai Mana eksternal! Lalu, resistansi api⸻!”


 


 


“Resistansi api tidak perlu,” sela Odo sebelum Reyah menyelesaikan sihir peningkatan. Sembari mengambil langkah menuju laut, pemuda rambut hitam tersebut mengobarkan pedang di tangan kanannya. “Siapkan mantra pendukung kalian, lalu tetap waspada dengan jumlah Mana yang kalian miliki,” ujarnya seraya menodongkan mata pedang api ke depan.


 


 


Melihat ke arah yang ditunjuk sang pemuda, Vil dan Reyah langsung tersentak. Mereka seketika gemetar ketakutan, kehabisan kalimat dan benar-benar tidak menyangka ada makhluk seperti itu di Dunia Astral.


 


 


Naga Agung yang telah hidup sejak zaman sebelum Dewa-Dewi berkuasa, disebut sebagai Pemusnah Peradaban dan diceritakan dalam berbagai dongeng sebagai pembawa kiamat untuk negeri laknat dan sombong. Sosok tersebut adalah Leviathan, sang Sea Serpent dan merupakan Putri Kedua dari Dewa Naga Agung.


 


 


Dalam kegelapan malam wujudnya memang tidak tampak begitu jelas. Namun, kilatan petir dan awan keemasan sekilas memperlihatkan bentuknya yang sangat tidak masuk akal.


 


 


Jika dibandingkan dengan saudarinya, Leviathan adalah pohon apel sedangkan Naga Hitam hanya sebatas buahnya saja.


 


 


Sea Serpent ⸻ Sebutan tersebut seakan tidak cocok untuk Leviathan. Layaknya pegunungan yang bergerak di atas permukaan laut, ia menggeliat dan membuat tsunami kecil di sekitarnya. Benar-benar perwujudan dari kehancuran, sangat melebihi julukan Pemusnah Peradaban yang melekat padanya.


 


 


Melihat ke arah Siluet yang bergerak layaknya sebuah pegunungan, Odo dengan jelas menangkap wujud fisik sang Sea Serpent dengan indra penglihatannya. Getaran yang dibuat bersama ombak, suara raungan yang menggema ke penjuru Dunia Astral, dan hawa kehadiran mengerikan.


 


 


Semua informasi itu langsung masuk ke dalam kepala sang pemuda, diproses dalam kalkulasi dan menuntunnya kepada beberapa jawaban. Membuat Putra Tunggal Keluarga Luke gemetar, bahkan sempat melangkah mundur dan meneteskan keringat dingin.


 


 


Secara fisik Leviathan mirip seperti ular gurun pasir, memiliki permukaan kulit kasar namun fleksibel dan tampak tidak rata. Pada kepala terdapat dua tanduk di dekat mata, lalu matanya bersinar violet terang dalam kegelapan. Namun, bukan bentuk Sea Serpent yang membuat Odo ketakutan.


 


 


Ukurannya terlalu tidak masuk akal. Meski merupakan makhluk melata, Leviathan memiliki tinggi lebih dari 340 meter dan lebar kepala sekitar 250 meter. Saat menggeliat di tengah lautan, panjang tubuhnya yang begitu tidak masuk akal pun tampak dalam siluet. Itu bagaikan sebuah pegunungan yang bisa bergerak, memiliki panjang lebih dari tiga kilometer dengan diameter tidak rata.


 


 


“Uwah, apa-apaan itu? Monster kosmik?”


 


 


Odo benar-benar gemetar. Itu bukan pertama kalinya ia melihat makhluk sebesar Leviathan. Namun, tentu saja hal itu akan sangat menakutkan jika menghadapi Naga Agung tersebut tanpa perlengkapan yang memadai.


 


 


Menghirup napas dalam-dalam dan kembali melangkah ke depan, sang pemuda mulai tersenyum dalam kegilaan. Ia paham sangat mustahil untuk mengalahkan makhluk seperti itu. Namun, itu hanya berlaku jika dirinya menerjang dari depan dan hanya mengandalkan kekuatan seperti orang bodoh.


 


 


“Ukurannya bahkan hampir menyamai Raja Iblis Kuno ….”


 


 


Odo berhenti tersenyum. Ia mulai membuat struktur sihir, menyusun beberapa Rune di sekitar bilah pedang dan meningkatkan tingkat kepadatan Mana. Api yang menjilat-jilat liar semakin memusat pada satu titik, menjadikan senjata di tangannya sebuah pedang plasma yang benar-benar sempurna.


 


 


“Kurasa itu tidak benar.” Odo berhenti melangkah. Sembari menodongkan pedang ke depan, ia sekilas tersenyum pasrah dan kembali berkata, “Kalau bisa berdiri, ular laut ini bahkan lebih besar lagi. Ini mengingatkan ku dengan Suja’ul Aqra di ujung dunia. Waktu itu bahkan bahtera ku hampir saja karam. Ah …, sumpah aku kapok lawan hewan melata.”


 


 


 


 


\==============


 


 


Catatan :


 


 


Yeah, mari kita mulai lagi pertarungan Human Size vs Super Massive Entity!!


Tapi setelah satu CH lagi.


Jangan harap epic battle kawan! Ukurannya Leviathan saja sudah enggak ngotak!


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2